Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Segel Suci Empat Arah Lima Pancer


__ADS_3

Kemunculan Nyi Ratu Bulan Darah mengagetkan semua orang. Namun yang paling terkejut adalah Pendekar Tombak Suci. Sebagai keturunan terakhir para pertapa dari Pertapaan Gunung Penanggungan, Pendekar Tombak Suci yang bernama asli Mayang Koro bertugas menjaga segel suci yang di wariskan Mpu Barada selama puluhan tahun.


****


300 tahun yang lalu..


Nyi Ratu Bulan Darah adalah murid terakhir Ratu Calon Arang, salah satu penyihir terkuat dari daerah selatan yang pernah merepotkan Prabu Airlangga saat berusaha menyatukan kembali kerajaan Medang yang terpecah belah usai Mahapralaya pada masa Prabu Darmawangsa Teguh akibat serangan Aji Wurawari dari Lwaram.


Saat Ratu Calon Arang terbunuh oleh Mpu Barada, 3 murid nya berhasil melarikan diri dan menyebar ke seluruh wilayah Kerajaan Kahuripan. Satu persatu mereka di bunuh oleh Mpu Barada hingga mereka berhadapan dengan murid terakhir yang berjuluk Nyi Ratu Bulan Darah.


Kehebatan Nyi Ratu Bulan Darah nyaris menyamai Ratu Calon Arang dan dia memiliki satu ilmu kedigdayaan yang membuat nya tak bisa mati meski jasadnya sudah di potong potong. Nama ajian itu adalah Ajian Darah Dewa Iblis.


Saat Mpu Barada dan para prajurit Kahuripan menghancurkan sarang penyihir itu di kaki Gunung Kawi, Nyi Ratu Bulan Darah membunuh hampir separuh prajurit Kahuripan yang mengepung tempat itu seorang diri. Sedangkan seluruh pengikutnya sudah habis terbunuh.


Mpu Barada melesat cepat kearah Nyi Ratu Bulan Darah yang memegang sebilah pedang berlumuran darah di tengah ratusan mayat prajurit Kahuripan dan pengikut nya.


"Akhirnya kau turun tangan juga Mpu Barada!


Hari ini akan ku balaskan dendam kematian guru ku Ratu Calon Arang. Pergilah kau ke neraka menemaninya", teriak Nyi Ratu Bulan Darah sambil mengayunkan pedangnya kearah Maharesi dari Gunung Penanggungan itu.


Shreeeeettttthhh...


Dengan gerakan cepat, Mpu Barada menghindar sabetan pedang Nyi Ratu Bulan Darah. Lelaki paruh baya bertubuh kekar itu langsung menyambar sebuah pedang milik seorang prajurit yang tertangkap di tanah.


Sekali hentakan, tubuh Mpu Barada melesat cepat kearah Nyi Ratu Bulan Darah sembari mengayunkan pedangnya ke arah leher penyihir itu. Nyi Ratu Bulan Darah menyeringai lebar melihat serangan Mpu Barada dan dengan cepat menangkis sabetan pedang dengan senjata di tangan kanannya.


Thrrriiinnnggggg!!


Blllaaammmmmmmm!!


Nyi Ratu Bulan Darah terdorong mundur beberapa tombak ke belakang begitu pula dengan Mpu Barada.


Nyi Ratu Bulan Darah langsung melesat ke arah Mpu Barada yang masih berdiri mematung di tempatnya.


"Mampus kau resi keparat!!!", teriak Nyi Ratu Bulan Darah sambil mengayunkan pedangnya kearah leher Mpu Barada.


Shrraaaakkkkhhhh!!!


Mpu Barada menggeser tubuhnya sedikit hingga sabetan pedang Nyi Ratu Bulan Darah hanya menebas udara sejengkal di depan leher Mpu Barada. Tangan kiri resi Pertapaan Gunung Penanggungan yang sedari tadi tersembunyi di balik pinggang nya dengan cepat menghantam dada Nyi Ratu Bulan Darah.


Bhhuuuuummmmmmhh!!!


Nyi Ratu Bulan Darah terpelanting ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Dada perempuan penyihir itu hancur akibat hantaman tangan yang di lambari Ajian Tapak Brajamusti. Nyi Ratu Bulan Darah tewas di tempat.


Namun suatu keanehan terjadi. Dada penyihir yang hancur itu perlahan tertutup kembali. Tulang dan daging yang berhamburan perlahan menyatu kembali di dada Nyi Ratu Bulan Darah. Perlahan mata Nyi Ratu Bulan Darah terbuka lalu penyihir itu bangkit dan tersenyum lebar ke arah Mpu Barada.


"Kau pikir mudah membunuh ku, resi busuk!


Hahahaha...


Aku tahu ilmu kesaktian mu tinggi, kau bisa membunuh guru ku Ratu Calon Arang dengan tipu daya dan ilmu kesaktian mu. Tapi aku sudah membuat perjanjian dengan Batara Kala. Aku tidak akan pernah bisa mati Mpu Barada hahahaha", Nyi Ratu Bulan Darah tertawa terbahak bahak.


"Perjanjian terkutuk!


Kau menyalahi kodrat mu sebagai manusia dan ingin hidup abadi Ratu Bulan Darah. Aku akan menghentikan sepak terjang mu penyihir laknat", ucap Mpu Barada sambil mengacungkan pedang di tangan kanannya ke arah Nyi Ratu Bulan Darah.


"Coba saja kalau kau mampu, resi keparat!!


Malaikat maut sudah tidak ada urusan dengan ku. Hidupku kekal selamanya hahahaha", ujar Nyi Ratu Bulan Darah sambil menyeringai ke arah Mpu Barada.


Pertapa dari Pertapaan Gunung Penanggungan itu menghirup udara sebanyak mungkin kemudian melesat cepat kearah Nyi Ratu Bulan Darah sambil menghantamkan tangan kiri nya kearah dada Nyi Ratu Bulan Darah.


Shiiiuuuuuuuuttttt!!!


Selarik sinar biru terang melesat cepat kearah Nyi Ratu Bulan Darah. Perempuan penyihir itu dengan cepat menghindar ke samping namun ini yang di harapkan Mpu Barada. Sabetan pedang nya menebas lengan kanan Nyi Ratu Bulan Darah yang memegang pedang.


Chrraaasssshhh!!


Aaauuuuggggghhhhh!!


Tangan kanan Nyi Ratu Bulan Darah langsung terpisah dari badannya. Perempuan sihir itu terhuyung huyung mundur. Mpu Barada langsung menendang potongan lengan kanan itu ke arah para prajurit Kahuripan.


Dhaaaasssshhh!


Para prajurit Kahuripan terkejut melihat ulah Mpu Barada. Mereka bergidik ngeri melihat tangan yang terpotong itu masih bergerak seolah memiliki nyawa sendiri. Namun ucapan Mpu Barada berikutnya membuat mereka mengerti.


"Pegang erat-erat potongan lengan itu, Cepat!


Jangan sampai bersatu dengan badannya", teriak Mpu Barada. Para prajurit Kahuripan dengan cepat langsung memegang potongan lengan itu sekuat mungkin. Sekejap berikut nya, Mpu Barada melesat cepat kearah Nyi Ratu Bulan Darah yang kehilangan lengan kanannya.


Secepat kilat Mpu Barada menebas leher Nyi Ratu Bulan Darah.


Chrraaasssshhh!!!


Kepala Nyi Ratu Bulan Darah langsung menggelinding ke tanah. Mpu Barada dengan cepat menyambar potongan kepala Nyi Ratu Bulan Darah yang masih bisa bicara.


"Resi keparat!


Kau berani memotong-motong tubuh ku. Kalau kau hebat lepaskan aku, ayo kita bertarung lagi", teriak kepala Nyi Ratu Bulan Darah sambil terus mengumpat dan memaki Mpu Barada.

__ADS_1


Tanpa mengindahkan omongan Nyi Ratu Bulan Darah, Mpu Barada kembali mengayunkan pedangnya dan memotong lengan kiri dan kedua kaki Nyi Bulan Darah.


Selepas itu, Mpu Barada menyuruh para prajurit Kahuripan menempatkan potongan tubuh Nyi Ratu Bulan Darah ke dalam 5 peti yang berbeda.


Usai berhasil mengalahkan Nyi Ratu Bulan Darah, dengan seijin Prabu Airlangga, Mpu Barada membawa potongan tubuh Nyi Ratu Bulan Darah ke pertapaan. Di tengah halaman Pertapaan Gunung Penanggungan, Mpu Barada dengan bantuan keempat Maharesi lainnya membuat lobang sebanyak 5 buah yang menghadap ke 5 penjuru mata angin. Dia menggunakan Segel Suci Empat Arah Lima Pancer untuk mengikat tubuh Nyi Ratu Bulan Darah yang tak bisa mati.


Selanjutnya Mpu Barada menanam potongan tubuh Nyi Ratu Bulan Darah. Kaki di lobang timur, badan di Utara, tangan kanan di selatan dan tangan kiri di lobang barat. Keempat Maharesi terus duduk bersila di atas lobang tempat peti di kuburkan. Mereka terus merapal mantra penyucian jiwa dan puja Dewa Siwa.


Saat memasukkan potongan kepala di lobang tengah, Nyi Ratu Bulan Darah memaki dan mengutuk Mpu Barada.


"Resi busuk, hari ini aku kalah tapi suatu saat nanti aku pasti bebas dari jeratan segel pengunci ini..


Saat itu tiba, akan ku musnahkan seluruh keturunan mu dan Prabu Airlangga. Ingat kutukan ini Mpu Barada!!", ujar Nyi Ratu Bulan Darah.


Mpu Barada lalu menggerakkan jari telunjuknya. Sebuah Arca Dewa Siwa melayang ke tengah lingkaran menjadi penutup segel suci 4 arah 5 pancer yang di gunakan untuk mengekang jasad Nyi Ratu Bulan Darah.


Semenjak saat itu, Nyi Ratu Bulan Darah tersegel di Pertapaan Gunung Penanggungan dan menunggu untuk di bangkitkan kembali.


****


"Celaka!


Nyi Ratu Bulan Darah di bangkitkan. Kita harus menghentikan nya sebelum kekuatan penyihir itu pulih sepenuhnya!!", teriak Pendekar Tombak Suci alias Mayang Koro yang dengan cepat melesat ke arah Nyi Ratu Bulan Darah.


Si bayangan hitam mencoba untuk menghalangi jalan Pendekar Tombak Suci dengan mengayunkan pedangnya namun Nyi Sawitri dengan cepat menangkis sabetan pedang itu.


Thrrraaannnnggggg!!


Si bayangan hitam terpaksa mundur selangkah tak jadi mengejar Pendekar Tombak Suci yang sudah hampir sampai di dekat sosok Nyi Ratu Bulan Darah yang masih dalam tahap penyatuan tubuh.


"Jangan coba-coba untuk menyerang nya.


Kalau kau bersikeras, hadapi dulu aku!", ujar Nyi Sawitri sambil menatap tajam ke arah bayangan hitam di hadapannya. Sinar bulan sedikit menunjukkan bahwa si bayangan hitam ini adalah orang yang memakai topeng kayu bercat merah.


"Phuihhhh..


Kau jumawa juga nenek tua. Aku tidak akan sungkan lagi", ujar si bayangan hitam itu yang langsung bergerak cepat ke arah Nyi Sawitri.


Tak ingin lama-lama bermain, Nyi Sawitri mengeluarkan Ilmu Pedang Sejuta Bayangan andalannya. Satu gerakan cepat dan ratusan pedang ilusi tercipta. Dengan menjejak tanah dengan keras, Nyi Sawitri menyongsong serangan si bayangan hitam dengan ratusan pedang melesat ke arah si bayangan hitam.


Mata si bayangan hitam melebar ketika melihat ratusan pedang melesat ke arah nya. Dia berusaha menangkis bayangan pedang itu sebisa mungkin.


Namun kini dia terkejut saat sebuah pedang dengan cepat menembus dada kanan nya.


Jleeeeppppph!!


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Kalayaksa yang melihat kedatangan Si Pendekar Tombak Suci langsung melesat cepat sembari mengayunkan cakar besi ke arah Mayang Koro.


Whuuussshh!!


Serangkum angin dingin yang tajam menderu kencang ke arah Pendekar Tombak Suci. Dengan cepat lelaki itu memutar tombak nya hingga menciptakan perisai angin yang melindungi dirinya. Angin tajam langsung buyar ketika menghantam perisai angin Mayang Koro


Nyi Sawitri segera melayangkan tebasan pedang nya ke arah Kalayaksa. Lelaki setengah siluman yang bertubuh tinggi besar itu langsung melompat menghindari angin sabetan pedang yang mengancam nyawa.


Di sisi lain pertarungan, Arya Pethak terus mengayunkan Pedang Setan ke arah Ki Ajar Pamutih. Namun kakek tua pincang bertubuh kurus itu bukan pendekar sembarangan. Dia terus menerus mampu menangkis serangan Arya Pethak yang bertubi-tubi dengan tongkat kayu di tangan kanannya.


Thhhrriinnngggggg thriiiinnngggggg!!


Arya Pethak mulai tidak sabar karena semakin lama mereka bertarung, maka semakin besar kesempatan Nyi Ratu Bulan Darah bangkit dengan sempurna.


Diam diam dia merapal Ajian Guntur Saketi di tangan kirinya. Lompatan sinar putih kebiruan seperti petir menyambar tercipta di tangan kiri Arya Pethak.


Satu sabetan Pedang Setan mengarah ke kaki Ki Ajar Pamutih. Kakek tua pincang bertubuh kurus itu segera menghentakkan kakinya ke tanah dan melenting tinggi ke udara.


Arya Pethak tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia dengan cepat menghantamkan tangan kiri nya yang berwarna putih kebiruan seperti petir kearah Ki Ajar Pamutih yang masih di udara.


Whhhuuuuuttttthhhh!!


Lompatan sinar putih kebiruan seperti petir menyambar tubuh tua Ki Ajar Pamutih.


Blllaaammmmmmmm!!!


Tubuh tua Ki Ajar Pamutih langsung terpental jauh dan jatuh ke arah jurang yang ada di sisi barat Pertapaan Gunung Penanggungan. Jurang itu sangat dalam, bisa di pastikan siapapun yang jatuh kesana pasti tewas.


Melihat lawan nya tewas, Arya Pethak dengan cepat melesat ke arah pertarungan sengit antara Nyi Sawitri dan Pendekar Tombak Suci melawan Kalayaksa.


Satu sabetan pedang ke arah pinggang Kalayaksa membuat lelaki bertubuh tinggi besar itu harus melompat menjauh menghindari serangan.


"Nyi, bantu aku menyibukkan makhluk hitam itu. Aku akan menghentikan kebangkitan Nyi Ratu Bulan Darah", usai berkata demikian Mayang Koro langsung melesat cepat kearah bekas arca Dewa Siwa yang masih di lingkari sinar merah darah.


Dengan sekuat tenaga dia menghantamkan Tombak Suci nya ke tengah segel untuk memutus sinar merah darah yang terus melingkupi tubuh Nyi Ratu Bulan Darah.


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan dahsyat terdengar. Namun bukannya menghentikan sinar merah darah, justru Tombak Suci Mayang Koro hancur berkeping-keping.


Kalayaksa yang berusaha untuk mendekati terus di halangi oleh Nyi Sawitri alias Dewi Bukit Lanjar dengan serangan pedang nya yang mematikan. Makhluk hitam tinggi besar itu harus pontang panting kesana kemari menghindari ratusan pedang ilusi dari Nyi Sawitri.

__ADS_1


Mayang Koro langsung merapal mantra segel suci empat arah lima pancer. Kedua tangan Mayang Koro mengeluarkan sinar kuning keemasan berbentuk lingkaran yang terarah ke lingkaran terakhir di bantalan kaki bekas Arca Dewa Siwa.


"Pendekar muda,


Bantu aku menutup segel itu dengan menghancurkan lingkaran merah darah itu. Cepatlah, aku sudah tidak kuat lagi!!", teriak Mayang Koro yang memang telah mencapai batasnya.


Arya Pethak segera menyarungkan kembali Pedang Setan ke punggungnya. Kedua tangan nya menangkup di depan dada. Dalam sekejap mata, Keris Mpu Gandring muncul di sana. Arya Pethak dengan cepat melompat tinggi ke udara dan mengayunkan Keris Mpu Gandring. Sinar kuning kemerahan langsung melesat cepat kearah kaki Arca Dewa Siwa yang merupakan kunci segel Nyi Ratu Bulan Darah.


Shiiiuuuuuuuuttttt...


Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!!


Tubuh Nyi Ratu Bulan Darah yang belum terbentuk sempurna langsung meleleh perlahan saat lingkaran merah darah hancur oleh sinar kuning kemerahan dari Keris Mpu Gandring.


Perlahan tubuh Nyi Ratu Bulan Darah yang meleleh, meresap masuk ke bawah kaki Arca Dewa Siwa.


"Tiiddaaaaaakkkkkkkk!!!


Nyi Ratu Bulan Darah, kau harus menghancurkan dunia. Kau tidak boleh kembali ke dunia bawah lagi", teriak Kalayaksa dengan berlutut di depan kaki Arca Dewa Siwa dengan histeris. Hancur sudah harapan nya untuk membalas dendam pada Wangsa Rajasa. Dengan raut wajah murka, Kalayaksa menoleh ke arah ketiga orang yang bekerjasama menghalangi kebangkitan Nyi Ratu Bulan Darah.


"Kalian semua harus mati di tangan ku, bangsat!


Akan ku cabik cabik tubuh kalian", teriak Kalayaksa dengan amarah membara. Kalayaksa lalu melesat cepat kearah Pendekar Tombak Suci dengan ayunan tangan kiri nya yang di lengkapi dengan cakar besi.


Shrraaaakkkkhhhh!!


Mayang Koro langsung melompat menjauh hingga terkaman Kalayaksa hanya menghajar tanah saja.


Sadar mereka semua kelelahan setelah bertarung dan menyegel kembali Nyi Ratu Bulan Darah, Arya Pethak tak membuang waktu lagi. Dia langsung mengayunkan lagi Keris Mpu Gandring di tangan kanannya ke arah Kalayaksa. Selarik sinar kuning kemerahan melesat cepat kearah makhluk hitam tinggi besar itu.


Shiiiuuuuuuuuttttt...


Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!


Kalayaksa terpental jauh dan muntah darah hijau kehitaman. Rupanya Kalayaksa merupakan makhluk setengah siluman. Melihat tubuh Nyi Ratu Bulan Darah yang hancur, Kalayaksa segera berdiri.


"Aku ingat wajah kalian. Suatu saat nanti dendam ini akan ku balas.


Bersenang-senang lah sebelum aku mendatangi kalian", teriak Kalayaksa dengan lantang.


Arya Pethak segera mengayunkan Keris Mpu Gandring di tangan kanannya. Selarik sinar kuning kemerahan melesat cepat kearah Kalayaksa.


Namun di belakang Kalayaksa, muncul sebuah lingkaran hitam. Kalayaksa segera masuk ke dalam lingkaran hitam itu sesaat sebelum sinar kuning kemerahan dari Keris Mpu Gandring mengenai tubuh nya.


Sinar keris pusaka itu lalu menghantam batu besar di samping bangunan lama Pertapaan Gunung Penanggungan.


Blllaaammmmmmmm!!


Melihat lawan nya sudah berhasil kabur, Arya Pethak segera mengembalikan Keris Mpu Gandring ke dalam raga nya. Mayang Koro mendekati Arya Pethak sambil tersenyum simpul.


"Terimakasih atas bantuan mu pendekar muda. Kalau kau tidak membantu ku pasti Nyi Ratu Bulan Darah sudah bangkit dan menjadi malapetaka bagi umat manusia. Aku Mayang Koro.


Siapa namamu, pendekar muda?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Alurnya maju mundur maju ya hehehehe..


Gak apa apa kan yang penting asyik 😁😁✌️✌️


Yuk berteman dengan author di IG author : ebez2812

__ADS_1


Nanti disana kita bisa sharing info seputar spoiler novel , juga banyak hal.


Author tunggu ya 🙏🙏


__ADS_2