
Sedikit terburu-buru, Sekarwangi menyambar jun air minum yang terbuat dari batang bambu yang di bersihkan. Dibantu oleh Paramita, Sekarwangi segera meminumkan pil berwarna hitam itu pada Arya Pethak.
Glukk glukk..
Terdengar Arya Pethak menelan pil pahit berwarna hitam itu dengan air minum dari jun bambu.
Melihat Arya Pethak sudah meminum pil berwarna hitam, Mpu Sasi segera memusatkan perhatian pada hawa panas tenaga dalam tingkat tinggi nya. Sedikit menghentak, tangan keriput Mpu Sasi menempel pada punggung Arya Pethak.
Perlahan hawa panas segera mengalir ke dalam tubuh Arya Pethak. Perut Arya mulai seperti di aduk-aduk. Tak berapa lama kemudian Arya Pethak kembali muntah darah kehitaman.
Huuuuooogggghhh!!
Mpu Sasi terus menyalurkan tenaga dalam nya. Berulang kali Arya Pethak muntah darah kehitaman. Setelah muntahan terakhir darah segar yang keluar,itu pertanda Racun Ular Kuning sudah di keluarkan semuanya.
Dengan cepat, Mpu Sasi melepaskan totokan urat nadi dan syaraf Arya Pethak untuk memperlancar peredaran darah guna pemulihan keadaan tubuh.
Meski wajah Arya Pethak masih pucat, namun bibirnya sudah senada tidak kuning seperti tadi. Putra angkat Mpu Prawira itu tersenyum tipis sambil mengangguk lemah pada Mpu Sasi. Karena bagaimanapun juga, Mpu Sasi sudah menyelamatkan nyawa Arya Pethak.
"Sudah jangan banyak bergerak. Tenaga dalam mu masih belum pulih, anak muda.
Butuh sedikitnya setengah pekan agar keadaan mu pulih seperti sedia kala. Racun Ular Kuning memang luar biasa", ujar Mpu Sasi sambil menyeka keringat yang muncul di dahinya yang keriput. Serta merta dia teringat pada Paramita yang tadi menolong Arya Pethak, apalagi beberapa langkah totokan urat syaraf benar benar menghambat Racun Ular Kuning untuk bergerak ke jantung Arya Pethak.
"Gadis kecil,
Kau ini sebenarnya siapa? Darimana kau belajar ilmu totok syaraf?", tanya Mpu Sasi seraya menatap heran kearah Paramita.
"Saya datang dari wilayah selatan,Mpu Sasi..
Kakek ku adalah orang yang mengajari ku tentang ilmu obat dan totok syaraf pada tubuh manusia. Meski belum sehebat kakek ku tapi aku sudah bisa mengobati orang", jawab Paramita yang kelelahan. Upaya pengobatan terhadap Arya Pethak tadi benar-benar menguras tenaga dalam cucu Begawan Tirta Wening itu.
"Siapa nama kakek mu? Kalau dia tokoh besar dunia persilatan pasti aku mengenal nya", lanjut Mpu Sasi yang penasaran.
"Kakek ku bernama Begawan Tirta Wening. Masyarakat luas biasanya memanggil namanya sebagai Dewa Obat dari Selatan", ujar Paramita sambil tersenyum tipis.
"Hah?
Jadi kau cucu si orang aneh itu??", Mpu Sasi nampak terkejut dengan ucapan Paramita yang mengagetkan nya. Tak menduga bahwa dia akan bertemu dengan cucu sahabat lamanya.
"Kakek kenal dengan kakek ku?", Paramita balik bertanya pada Mpu Sasi. Wajah bulat telur nya menatap serius pada Mpu Sasi.
"Bukan cuma kenal tapi kami adalah sahabat baik.
Dulu di dunia persilatan Tanah Jawadwipa ada satu pendekar di masing-masing wilayah yang dianggap sebagai pendekar nomor satu di tempat itu. Ada Mondosio yang berjuluk Dewa Tombak Angin Barat, Mahesa Jenar yang berjuluk Pangeran Sesat Utara, Tirta Wening sang Dewa Obat dari Selatan, Karmapala yang berjuluk Pertapa Sakti Timur dan aku Dewa Golok Awan di daerah tengah.
Haahhhhh, itu cerita lama. Dari semua orang yang aku sebutkan hanya aku dan Tirta Wening saja yang masih hidup saat ini", Mpu Sasi menghela nafas panjang.
Mendengar cerita dari Mpu Sasi, Paramita langsung mengerti bahwa antara Mpu Sasi dan kakek nya terjalin hubungan baik.
"Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini. Kita tidak bisa merawat luka luka orang orang Kurawan itu jika masih bertahan disini.
Hai orang Kurawan,
Perintahkan kepada para prajurit mu kita agar kita pergi dari sini", Mpu Sasi menoleh ke arah Tumenggung Jaran Gandi yang masih bersemedi untuk mengobati luka dalam nya.
Mendengar teriakan Mpu Sasi, Tumenggung Jaran Gandi membuka mata nya. Punggawa Kadipaten Kurawan itu segera memerintahkan kepada para prajurit nya yang tersisa untuk berkemas.
Arya Pethak yang masih lemah, berkuda dengan Sekarwangi. Gajah Wiru yang masih mampu bertahan memilih berkuda sendiri sedangkan Klungsur bertugas untuk membawa kuda tunggangan Arya Pethak. Mereka di kawal oleh Paramita dan Mpu Sasi bergerak meninggalkan pondok kayu di tengah hutan Kali Mati itu bersama para prajurit Kurawan.
Menjelang sore, mereka tiba di Desa Wadang yang berbatasan langsung dengan hutan Kali Mati. Tumenggung Jaran Gandi segera memerintahkan kepada para prajurit Kurawan untuk menuju ke rumah Lurah Wadang dengan maksud meminta tempat menginap.
Lurah Desa Wadang, Suro Mukti adalah bekas prajurit Kadipaten Kurawan yang sudah mengundurkan diri karena usia nya yang telah lanjut. Dia mengenal baik Tumenggung Jaran Gandi karena dulu pernah menjadi anak buah nya.
Lurah Suro Mukti tergopoh-gopoh menyambut kedatangan Tumenggung Jaran Gandi.
"Loh Gusti Tumenggung,
Ada apa ini? Kenapa Gusti Tumenggung sepertinya terluka dalam begini?", tanya Suro Mukti yang melihat wajah Tumenggung Jaran Gandi yang masih pucat.
"Kami baru di serang anggota Kelompok Kelabang Ireng di hutan Kali Mati, Suro Mukti.
Aku minta bantuan mu untuk kami bermalam sekalian untuk memulihkan tenaga kami", jawab Tumenggung Jaran Gandi segera.
"Suro Mukti adalah abdi Gusti Tumenggung.
Silahkan masuk Gusti. Akan hamba persiapkan tempat untuk bermalam di Desa Wadang. Mohon maaf jika hanya tempat sederhana", ujar Suro Mukti dengan penuh hormat.
Segera rumah Lurah Desa Wadang menjadi ramai. Beberapa dukun dan tabib di datangkan untuk mengobati luka dalam Tumenggung Jaran Gandi dan para prajurit Kurawan serta Arya Pethak dan kawan-kawan nya.
__ADS_1
Di samping itu, kecantikan dua wanita yang bersama mereka membuat banyak pemuda desa berdatangan ke rumah Ki Lurah Suro Mukti untuk sekedar melihat kebenaran omongan orang yang melihat kedatangan Tumenggung Jaran Gandi.
Kecantikan Paramita dan Sekarwangi memang diatas rata rata gadis desa Wadang hingga membuat para pemuda yang datang langsung kepincut dengan mereka. Tak terkecuali putra Lurah Suro Mukti, Lembu Seta dan putra Saudagar kaya Wongsorejo, Mahesa Kingkin. Dua pemuda bersahabat karib itu langsung jatuh cinta pada Paramita dan Sekarwangi saat mereka yang tengah berada di rumah Lurah Desa Wadang melihat dua gadis cantik itu turun dari kuda mereka masing-masing.
Sore itu, usai membersihkan diri di sungai belakang rumah Ki Lurah Suro Mukti, Sekarwangi dan Paramita berjalan pulang sambil membawa bakul bambu yang menjadi wadah pakaian mereka yang baru dicuci.
Tiba-tiba saja Lembu Seta dan Mahesa Kingkin menghadang mereka.
"Hai gadis cantik..
Sepertinya kau kerepotan membawa bakul mu. Sini kami bawakan", ujar Lembu Seta pada Paramita yang berjalan di depan.
"Tidak perlu. Terimakasih atas tawaran nya", jawab Paramita acuh tak acuh.
"Wahhh galaknya..
Aku suka perempuan seperti ini. Cantik, galak dan menantang", sahut Mahesa Kingkin sambil terus berusaha menghalang-halangi jalan Sekarwangi. Tangan putra saudagar kaya itu mencoba menjawil dagu Sekarwangi namun dengan cepat Sekarwangi menepis tangan kanan Mahesa Kingkin.
"Jangan kurang ajar kau!
Aku benci lelaki yang tidak punya sopan santun dan tata krama", bentak Sekarwangi sambil melotot ke arah Mahesa Kingkin.
Mendengar jawaban itu, Mahesa Kingkin naik darah. Selama ini perempuan di desa itu tidak pernah ada yang berani bersikap kasar ataupun menghinanya. Baru kali ini ada seorang perempuan yang berani merendahkannya.
Saat dia hendak berbuat lebih jauh, tiba tiba muncul Lurah Suro Mukti dari belakang pintu dapur.
"Walah sudah selesai cuci baju nya Nimas?", tanya Lurah Suro Mukti pada Paramita dan Sekarwangi.
"Sudah Ki, baru saja.
Eh Ki Lurah, desa ini ternyata nyamuknya besar besar ya? Dari tadi mengganggu kami terus", ujar Sekarwangi dengan sedikit keras pada bagian nyamuk.
Mendengar ucapan itu, Lurah Suro Mukti langsung paham dengan maksud Sekarwangi karena melihat putranya dan putra teman nya tengah berada di dekat dua perempuan cantik itu.
Seolah tidak tahu apa yang terjadi, Ki Lurah Suro Mukti hanya tersenyum simpul sambil berkata kalem.
"Nyamuk memang mengganggu, Nimas. Jika keterlaluan tepuk saja biar tidak bisa menggangu lagi", Ki Lurah Suro Mukti melirik kearah dua pemuda itu yang segera salah tingkah.
"Oh begitu ya Ki..
Ya sudah kami permisi dulu Ki", ucap Sekarwangi yang segera menarik tangan Paramita untuk pergi dari tempat itu.
"Kalian jangan bikin malu aku. Mereka itu tamu tamu agung dari Kadipaten Kurawan. Kalau sampai mengadu pada Tumenggung Jaran Gandi, bisa di penggal kepala kalian.
Apa kalian mengerti?", hardik Ki Lurah Desa Wadang itu dengan keras.
"Kami mengerti", ujar Lembu Seta dan Mahesa Kingkin bersamaan. Dua pemuda itu menunduk tak berani mengangkat kepalanya.
"Kalau sampai kalian mengganggu mereka lagi, aku pastikan bahwa kalian akan menerima hukuman dari ku.
Sudah pergi sana", usai berkata demikian Ki Lurah Suro Mukti melangkah masuk ke dalam dapur kediaman nya.
"Huh dasar gadis sombong!
Awas saja mereka nanti. Akan ku balas penghinaan ini", ancam Mahesa Kingkin usai Ki Lurah Suro Mukti berlalu.
"Sudahlah Mahesa,
Jangan aneh-aneh. Kau tadi dengar omongan romo ku bukan? Ayo kita pergi dari sini", ujar Lembu Seta sembari menarik tangan sahabat nya itu meninggalkan halaman belakang rumah Ki Lurah Suro Mukti.
Mahesa Kingkin yang pendendam tentu saja tidak akan membiarkan masalah ini berakhir disitu saja. Dia merencanakan sesuatu.
Senja turun melingkupi seluruh wilayah Desa Wadang dengan warna jingga yang menawan. Tak berapa lama kemudian malam menggantikan nya dengan gelap.
Para tamu kehormatan Ki Lurah Suro Mukti baru selesai makan malam. Paramita dan Sekarwangi ikut membantu membereskan bekas dan sisa sisa makanan, membantu istri Ki Lurah Suro Mukti dan para abdi nya. Dua perempuan cantik itu bahu membahu mengangkut piring dan pinggan yang digunakan Arya Pethak dan kawan-kawan untuk mengisi perut mereka.
Sedangkan di serambi, para prajurit beserta Arya Pethak dan kawan-kawan tengah asyik berbincang tentang banyak hal. Meski kondisi tubuh Arya Pethak dan Gajah Wiru masih belum pulih, tapi mereka masih bisa diajak berbicara.
Sementara itu, di salah satu sudut desa Wadang, dua orang tengah gelisah menunggu sesuatu.
"Apa kau yakin mereka akan datang, Bongkeng?", tanya seorang lelaki muda yang tak lain adalah Mahesa Kingkin pada seorang lelaki bertubuh pendek dengan tompel di pipi kiri.
"Pasti datang Ndoro..
Saya sudah membayar mereka mahal sesuai dengan keinginan Ndoro Kingkin", ucap Bongkeng sambil terus menatap kegelapan malam di ujung desa Wadang.
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah mereka. Lalu muncul 4 orang berpakaian hijau tua dari kegelapan malam.
__ADS_1
"Nah itu mereka Ndoro..
Sudah aku bilang, mereka orang-orang yang bisa diandalkan", raut wajah Bongkeng langsung gembira dengan kedatangan 4 orang berbaju hijau tua itu.
"Ki Mojo,
Ini Ndoro Mahesa Kingkin, orang yang menyewa jasa kalian.
Ndoro Mahesa,
Ini Ki Mojo, orang dari Padepokan Gunung Hijau. Nah sekarang apa keinginan Ndoro Mahesa?", tanya Bongkeng usai memperkenalkan diri antara dua orang itu.
"Aku ingin kau menculik seorang gadis di rumah Ki Lurah Suro Mukti, Ki Mojo. Gadis itu selalu memakai baju kuning.
Bawa dia padaku, itu saja tugas kalian. Kalau kalian berhasil, akan ku tambah kepeng perak untuk kalian. Aku tunggu di tempat ini", ujar Mahesa memberi perintah pada pendekar sewaannya itu segera.
Tanpa banyak bicara, Ki Mojo mengangguk mengerti. Lalu dengan cepat mereka bergerak menuju kediaman Lurah Desa Wadang.
Sesampainya mereka disana, mereka melihat keramaian orang di serambi depan hingga memutuskan untuk menghindari dengan memutar di samping kediaman Ki Lurah Suro Mukti. Dengan langkah kaki ringan, keempat orang itu mengendap-endap di samping dinding kayu rumah Lurah Desa Wadang itu.
Dari lobang kayu yang ada, mereka melihat dua orang gadis tengah membersihkan sisa sisa makanan bersama istri Lurah Suro Mukti dan abdi mereka.
Mereka segera bergerak menuju pintu belakang rumah Ki Lurah Suro Mukti. Salah seorang dari mereka langsung menendang pintu belakang rumah Ki Lurah Suro Mukti dengan keras.
Bhhruuuaaaakkk!!
Pintu belakang rumah Ki Lurah Suro Mukti langsung hancur berantakan dan keempat orang berbaju hijau tua langsung menyerbu masuk. Nyi Lurah Suro Mukti yang kaget langsung berteriak minta tolong.
"Toloooonnnnngggg!!
Ada begal masuk rumah", teriak istri Lurah Suro Mukti dengan keras.
Mendengar teriakan itu semua orang di beranda kediaman rumah Ki Lurah langsung berlari menuju ke arah dapur.
Sementara itu Ki Mojo melesat cepat kearah Sekarwangi yang mereka incar. Namun belum sempat tangan kekar Ki Mojo memegang tangan Sekarwangi, sebuah tendangan keras dari Paramita menghentikan langkah Ki Mojo.
Bhhhuuukkkkkhhh!
Auuuggghhhhh!!!
Ki Mojo terpelanting dan tubuh kekar nya menabrak kuali tanah liat hingga menyebabkan kuali bekas memasak itu hancur berkeping keping. Dengan geram Ki Mojo bangkit dan mendelik tajam ke arah Paramita.
"Gadis sial!
Beraninya kau menendang ku. Ku hancurkan wajah mu", Ki Mojo langsung melesat cepat kearah Paramita sambil mengayunkan tangan kanannya yang membentuk cakar.
Belum sempat Ki Mojo mendekat, lagi lagi sebuah tendangan keras menghentikan pergerakan nya.
Dhiiieeeessshh!!
Kembali Ki Mojo terpental ke belakang. Namun kali ini dia tidak menghantam kuali lagi karena salah seorang pengikutnya menahan tubuhnya meski sempat terdorong 2 langkah ke belakang.
Seorang lelaki bertubuh tegap berdiri tegak di samping Paramita dan Sekarwangi. Dengan dingin, dia berucap pada Ki Mojo.
"Mau apa kau?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁
Selamat membaca 😁🙏😁