
"Duh dasar perempuan!
Katanya belanja malah ribut di pasar. Benar benar tidak bisa di biarkan", omel Klungsur yang segera melangkah keluar dari warung makan bersama Arya Pethak untuk melihat keadaan yang di omongkan orang orang.
Kerumunan penonton memadati sekitar 5 tombak jauhnya dari lapak dagangan Nyi Karmi. Mereka tidak berani mendekati takut terkena serangan nyasar.
"Wah para gadis cantik itu benar-benar luar biasa.
Orang orang Kebo Beok bukan tandingan mereka ya. Aku benar benar tidak menyangka", ujar seorang lelaki bertubuh kurus sembari melihat pertarungan para gadis itu melawan para centeng Kebo Beok.
"Iya selama ini mereka suka bertindak seenaknya.
Biar tahu rasa mereka", balas seorang lelaki sepuh yang pernah di pukuli para centeng Kebo Beok tempo hari.
"Benar itu Ki..
Sekarang mereka merasakan di pukuli oleh para wanita. Sakit badan tidak seberapa, tapi malu nya pasti seumur hidup", sahut seorang lainnya.
Arya Pethak dan Klungsur terus berusaha merangsek maju ke arah depan. Setelah bisa sampai di depan, mereka melihat para centeng Kebo Beok tersungkur dengan kepala benjol dan tubuh penuh lebam karena di hajar oleh Nirmala, Nay Kemuning dan Anjani. Di sisi lainnya, mereka bertiga terus memukuli Kebo Beok yang nampak mengenaskan. Bibir nya pecah dan mengeluarkan darah, sedangkan sebelah matanya bengkak.
Pria paruh baya bertubuh gemuk pendek itu tengah berlutut dihadapan Nay Kemuning, Anjani dan Nirmala.
Plllaaakkkkk..
Aaauuuuggggghhhhh!!
Kembali Kebo Beok tersungkur setelah Nirmala menampar keras pipi kanannya. Satu gigi Kebo Beok tanggal dan di ludahkan bersama darah segar bercampur air ludah.
"Ampuni aku pendekar!
Aku kapok! Aku menyesal karena berani mengganggu mu! Ampuni aku...", Kebo Beok menghiba mengharap belas kasihan tiga gadis cantik itu.
"Tadi aku sudah memperingatkan mu baik baik tapi kau masih saja berani bertindak kurang ajar pada kami..
Sekarang kau masih berani untuk melecehkan kami ha?", hardik Anjani.
"Tidak berani tidak berani..
Aku salah, ampuni nyawa ku.. Sebagai tanda permintaan maaf ku, aku mohon terima ini", Kebo Beok mengeluarkan sekantong kepeng perak dan menghaturkan nya pada mereka bertiga.
"Huhhhhh..
Anjeun pikir kami teh tidak punya uang begitu nya. Ingin menyogok kami? Anjeun teh salah besar. Dasar belegug sia!", Nay Kemuning ikut bicara.
"Biar tak celurit saja lehernya Mbuk..
Sepet mata sengko lihat si bengkak ini", sambung Nirmala sembari mengeluarkan celurit nya. Melihat itu, Kebo Beok basah celana nya. Dia mengompol ketakutan. Bayang bayang celurit menebas batang leher nya membuat bulu kuduk Kebo Beok berdiri.
"Ampuni aku, tolong pendekar ampuni nyawa ku..
Semua harta ku boleh kau ambil tapi jangan nyawaku. Aku mohon pendekar aku mohon", air mata Kebo Beok mulai mengucur dari sudut mata nya. Dia benar-benar takut mati.
Tangan Kebo Beok kembali merogoh kantong baju nya dan mengeluarkan dua kantong kepeng perak dengan cepat. Dia berharap bisa menebus dosa nya dengan uang yang dimiliki nya.
__ADS_1
Hemmmmmmm..
Klungsur yang berjalan mendekati mereka, langsung menyambar kantong kantong kepeng perak itu.
"Kalau kalian tidak mau, buat ku saja!", ujar Klungsur dengan cepat. Arya Pethak geleng geleng kepala melihat kelakuan pengikutnya itu.
"Eh siapa bilang kami tidak mau?
Kembalikan uang nya Sur, ini untuk mengganti dagangan para pedagang yang rusak. Cepat berikan", Anjani membuka tangannya, memberi isyarat kepada Klungsur.
"Huh dasar mata duitan..
Perempuan sekarang memang susah di percaya", gerutu Klungsur sambil mengulurkan kantong kepeng perak pada Anjani. Perempuan cantik itu tersenyum tipis lalu menoleh ke arah Kebo Beok yang masih bersimpuh di tanah.
"Sekarang kau boleh pergi tapi ingat, jika sekali lagi aku melihat kau kurang ajar pada perempuan lagi, heeemmmm...
Akan ku potong anu mu sebelum melepaskan mu", ancam Anjani sembari membuat gerakan memotong pada jemari tangan kiri nya.
Kebo Beok dengan cepat manggut-manggut sebelum bergegas kabur meninggalkan tempat itu.
Setelah Kebo Beok pergi, Anjani membagi sekantong kepeng perak untuk mengantikan dagangan para pedagang yang hancur akibat pertarungan mereka. Para pedagang semuanya mengucapkan terimakasih banyak pada Anjani.
Nyi Karmi bahkan menghadiahkan beberapa potong kain bagus usai Anjani memberikan 20 kepeng perak untuk kerugian nya.
Para penonton yang memadati sekitar arena pertarungan antara ketiga gadis cantik melawan Kebo Beok dan para centeng nya membubarkan diri setelah tontonan menarik itu selesai.
Arya Pethak dan kawan-kawan nya pun segera meninggalkan tempat itu untuk menuju ke arah Bukit Kahayunan yang ada di barat laut Pakuwon Ganter. 5 orang itu segera bergegas melompat ke atas kuda mereka masing-masing dan menggebrak hewan pelari itu dengan keras.
Bunyi sepatu kuda beradu dengan jalan becek yang menuju ke arah barat laut.
"Kau sedang melihat apa Kang?", tanya seorang perempuan sepuh namun masih terlihat cantik pada lelaki bertubuh kekar yang merupakan suaminya itu. Gurat kecantikan wanita sepuh itu masih terlihat jelas meski kulit nya kini sebagian besar telah keriput.
"Ku mengagetkan aku saja Nyi..
Itu loh burung prenjak kog terus mengoceh saja dari tadi pagi. Apa akan ada tamu yang berkunjung ke kediaman kita ini Nyi?", ujar si lelaki tua bertubuh kekar itu sembari menoleh ke arah istrinya itu.
"Hehehehe dasar lelaki tua..
Burung prenjak memang begitu suaranya dari dulu. Bahkan sebelum kita lahir juga begitu bunyi nya. Kau ini ada ada saja..
Tempat ini begitu jauh dari keramaian. Mana mungkin ada orang yang mau bertamu kemari Kang?
Sudah jangan berpikir yang tidak-tidak Kang. Ayo bantu aku untuk mengangkat jagung jagung itu ke dalam rumah, tubuh tua ku ini sudah tidak sekuat dulu untuk bekerja", ujar perempuan tua itu seraya berjalan ke arah tongkol jagung yang terikat beruntaian di halaman rumah. Lelaki tua itu segera membantu sang istri untuk membawa jagung jagung itu ke dalam rumah.
Mereka berdua adalah Mpu Prawira dan Nyi Ratih, orang tua angkat sekaligus guru Arya Pethak. Dua orang sepuh ini memang sengaja menikmati hari tua mereka di tempat sepi ini agar terhindar dari keramaian dunia.
Di ujung jalan setapak yang menuju ke arah lereng Bukit Kahayunan, Arya Pethak melompat turun dari kudanya karena memang disitulah akhir jalan yang bisa di lalui dengan berkuda. Segera dia menambatkan kuda nya di semak perdu yang tumbuh di sana. Anjani, Nirmala, Nay Kemuning, dan Klungsur segera mengikuti hal yang di lakukan oleh Arya Pethak.
"Dari sini kita akan berjalan kaki. Tidak jauh kog", ujar Arya Pethak sambil tersenyum tipis.
Mereka berlima segera melangkah menaiki tangga tanah menuju lereng Bukit Kahayunan. Setelah cukup lama mendaki undakan, akhirnya Arya Pethak tersenyum simpul melihat dua orang sepuh yang tengah bekerjasama memasukkan tongkol jagung ke dalam rumah.
"Romo, Biyung.... Aku pulang!"
__ADS_1
Teriakan keras Arya Pethak langsung membuat dua orang tua itu menoleh ke arah sumber suara. Nyi Ratih langsung melemparkan tongkol jagung yang tengah di bawanya dan berlari cepat kearah Arya Pethak.
Perempuan sepuh langsung memeluk tubuh Arya Pethak dan menciumi pipi pemuda tampan itu. Air mata kerinduan segera menetes dari sudut mata tua itu dengan penuh haru.
"Ngger Cah Bagus,
Ini Biyung tidak sedang bermimpi bukan? Kau benar benar pulang putra ku?", tanya Nyi Ratih seakan tak percaya melihat kedatangan putra angkat yang sudah seperti putra kandung nya sendiri itu.
"Iya Biyung..
Ini aku putramu Arya Pethak. Aku kangen dengan biyung", jawab Arya Pethak sambil mendekap tubuh perempuan tua yang pernah menjadi tempat perlindungan nya ketika masih bayi.
"Hadehhh kalian ini..
Kalau berdua begitu seakan tak menganggap aku ada", ujar Mpu Prawira sambil tersenyum tipis mendekati mereka berdua.
"Sembah bakti saya Romo..
Romo sehat sehat saja bukan?", Arya Pethak menyembah pada Mpu Prawira.
"Tentu saja bocah bagus..
Seperti yang kau lihat, aku tetap bugar dan sehat. Oh iya mereka itu teman teman mu?", Mpu Prawira menunjuk ke arah Klungsur, Anjani, Nay Kemuning dan Nirmala yang berdiri mematung melihat pemandangan yang mengharukan itu. Tidak pernah mereka lihat sebelumnya Arya Pethak bersikap seperti bocah manja.
"Maafkan aku Romo, aku sampai melupakan semua teman teman ku karena terlalu senang berjumpa dengan kalian..
Kalian semua kemarilah", Arya Pethak memberi isyarat tangan kepada Klungsur dan yang lainnya untuk mendekat. Mereka berempat segera bergegas mendekati Arya Pethak dan kedua orang tua nya.
"Romo, Biyung..
Perkenalkan ini adalah Klungsur, teman ku yang setia mengikuti ku dari Kadiri. Kalau yang baju hijau kekuningan itu Nay Kemuning Romo, dia gadis dari tatar Pasundan..
Yang baju biru ini Anjani Romo, dia dari Kadipaten Anjuk Ladang. Nah kalau yang baju merah ini gadis dari Kadipaten Songeneb di pulau Madura. Namanya Nirmala", Arya Pethak memperkenalkan kawan kawan nya satu persatu.
"Salam hormat Mpu dan Nyi"
Klungsur, Nay Kemuning, Anjani dan Nirmala membungkukkan badannya pertanda hormat.
"Tak perlu sungkan pada ku, kalian semua..
Kalian adalah kawan seperjalanan putra ku jadi sebagai orang tua nya aku mengucapkan terima kasih atas bantuan kalian selama perjalanan nya", jawab Mpu Prawira sembari tersenyum tipis.
Nyi Ratih yang sedari tadi hanya diam saja terlihat mengerutkan keningnya pertanda dia memikirkan sesuatu.
"Kau kenapa Nyi? Kog sikap mu aneh begitu?", Mpu Prawira menatap ke wajah istrinya itu.
"Dua laki laki dan 3 perempuan ya...
Hemmmmmmm...
Aku penasaran dengan sesuatu Kakang. Sekarang biarkan aku bicara. Aku hanya ingin tahu, diantara kalian bertiga, siapa yang menjadi calon istri untuk putra ku?", Nyi Ratih menatap ke arah Anjani, Nay Kemuning dan Nirmala.
"Saya Nyi"
__ADS_1
Ujar Nay Kemuning dan Anjani bersamaan. Mendengar jawaban itu, Nyi Ratih terkejut begitu pula dengan Mpu Prawira. Mereka berdua segera menoleh ke arah Arya Pethak seakan meminta penjelasan. Arya Pethak malah senyum senyum sendiri tanpa bicara apa pun. Nyi Ratih langsung tahu bahwa Arya Pethak mengiyakan perkataan Anjani dan Nay Kemuning. Nyi Ratih menghela nafas panjang sebelum berbicara.
"Apa kalian sudah yakin?"