Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Istana Atap Langit


__ADS_3

Klungsur mengelus kepala nya yang benjol sebesar telur burung dara. Dia benar benar tidak menyangka bahwa Arya Pethak bisa marah juga kepada nya.


"Ndoro Pethak, maafkan Klungsur deh..


Janji gak berani begitu lagi. Aku kapok Ndoro", ujar Klungsur sembari menjulurkan jari kelingkingnya pada Arya Pethak.


"Ah jangan percaya Ndoro..


Pasti besok besok dia seperti itu lagi. Klungsur mana bisa kapok? Kapok nya dia itu kapok lombok, hilang sakitnya kumat lagi kelakuan nya ", sergah Anjani dengan cepat.


"Eh setan betina,


Bisa tutup mulut ndak? Mulut apa kuali bocor sih? Ngomong terus gak berhenti sama sekali ", Klungsur geram di ejek Anjani.


Arya Pethak mendengus dingin sembari melemparkan sabuk Jimat Lulang Kebo Landoh kepada Klungsur. Pemuda bogel itu langsung menangkap sabuk hitam itu segera. Wajah Klungsur langsung berseri-seri.


"Lain kali awas saja kalau kau ulangi. Aku menasehati mu bukan berarti aku bisa kau sepelekan ", Arya Pethak melangkah masuk ke dalam rumah Resi Pucukwesi.


"Aku mengerti Ndoro Pethak, aku mengerti. Klungsur patuh sama Ndoro", Klungsur langsung berlari menyusul Arya Pethak. Anjani pun mengikuti langkah Arya Pethak.


Sore itu, mereka memutuskan untuk bermalam di rumah Resi Pucukwesi, pandita agama Hindu aliran Siwa yang bekerja pada Wado Lingga. Sang pandita tua itu sangat ramah dengan para tamu yang datang ke kediaman nya, hingga semuanya merasa nyaman bermalam di tempat itu.


****


Sementara itu, di Gunung Pojoktiga tepat nya di lereng puncak sisi Utara, terjadi pertemuan besar antara para sesepuh perguruan silat besar yang memiliki nama yang cukup disegani di wilayah Tatar Pasundan.


Tempat itu memang markas besar Perguruan Istana Atap Langit, salah satu aliran putih besar dari wilayah timur Tatar Pasundan. Bersama Padepokan Rajawali Sakti dari Gunung Galunggung dan Puncak Khayangan dari Gunung Gede, mereka memimpin aliran putih di tatar Pasundan. Meski masih ada pendekar tanpa perguruan dan padepokan kecil lainnya, tiga kelompok ini benar benar di perhitungkan oleh semua kalangan. Hanya Perguruan Gunung Ciremai yang berani berurusan dengan Istana Atap Langit di wilayah timur Tatar Pasundan ini.


Ratusan murid utama nampak berlatih di halaman perguruan sore itu. Beberapa murid rendah terlihat hilir mudik menyiapkan segala keperluan untuk para sesepuh perguruan maupun murid langsung dari para sesepuh Istana Atap Langit.


Umbul umbul dari kain biru langit yang di sulam hiasan gapura istana berwarna emas dengan latar belakang bulan purnama yang berwarna kuning berkibar di tiup angin dari puncak Gunung Pojoktiga.


Dhhhaaaaaanggggg!!


Dhhhaaaaaanggggg!!


Dua kali genta berbunyi sebagai tanda latihan sore itu selesai. Para murid langsung membubarkan diri untuk bersiap mandi dan mengikuti semedi raga yang merupakan kegiatan rutin selepas senja di sanggar pamujan Istana Atap Langit.


Istana Atap Langit sendiri memiliki 4 kelompok yang berbeda namun saling melengkapi satu sama lain. Kelompok pertama adalah Istana Tubuh Dewa, yang melatih murid meningkatkan kekuatan otot tubuh dengan keras. Yang kedua Istana Tameng Langit, memusatkan perhatian pada pembuatan senjata sebagai alat bertarung. Kelompok ketiga, Istana Kilat Guntur yang menitikberatkan kepada murid pelatihan ilmu meringankan tubuh dan serangan cepat. Sedangkan kelompok terakhir di sebut dengan Istana Wajra Siwa yang melatih murid menggunakan ilmu ajian kanuragan tingkat tinggi.


Murid terbanyak ada di Istana Tubuh Dewa, karena penempaan tubuh mereka tidak mengenal bakat murid. Sedangkan murid Istana Wajra Siwa merupakan yang paling sedikit karena hanya mendidik beberapa puluh murid berbakat.


Di serambi utama Istana Atap Langit yang merupakan tempat berkumpulnya para sesepuh dan pemimpin tertinggi istana, nampak puluhan orang sedang duduk berjajar rapi layaknya pisowanan para penguasa daerah terhadap sang raja.


Sang pemimpin Istana Atap Langit, Linggakancana atau yang lebih di kenal dengan sebutan Raja Istana Atap Langit duduk di kursi pemimpin tertinggi istana. Selanjutnya ada 4 kursi yang lebih rendah yang di duduki keempat sesepuh Istana Atap Langit yang juga merupakan pemimpin keempat kelompok istana. Mereka adalah Ragamulya selaku pemimpin Istana Tubuh Dewa, Ki Buyut Karta selaku kepala Istana Tameng Langit, Jaluwisesa sang pemimpin Istana Kilat Guntur juga Sukmawijaya yang memimpin Istana Wajra Siwa.


Disamping keempat pemimpin, ada beberapa murid utama dari keempat pemimpin. Linggakancana sendiri memiliki 4 murid pribadi yang merupakan calon pemimpin Istana Atap Langit di masa depan.


Linggakancana duduk dengan tenang menatap ke sekeliling nya. Panji-panji Istana Atap Langit nampak menghiasi sudut serambi kediaman utama. Kakek tua berusia 6 Warsa lebih itu terlihat berwibawa dengan jubah berwarna biru langit yang terbuat dari kain sutra halus.


"Saudara sekalian,


Kurang lebih 2 pekan lagi kita akan mengadakan uji kemampuan beladiri para pendekar muda dari seluruh padepokan dan perguruan silat di Tatar Pasundan ini.


Dari pertemuan terakhir kita, semua undangan telah tersebar luas hingga ke Pertapaan Sapta Arga di Gunung Halimun.


Aku ingin tahu bagaimana persiapan kita dalam mengadakan perhelatan besar ini", ujar Linggakancana sambil mengelus jenggotnya yang memutih.


"Istana Tameng Langit melaporkan pada Raja Istana Atap Langit bahwa tempat gladi telah di tata pada tanah lapang di sisi barat. Sedangkan untuk panggung kehormatan dan para penonton, akan mulai kami tata besok", Ki Buyut Karta membungkukkan badannya pada Linggakancana.


"Kami dari Istana Tubuh Dewa, telah menyiapkan bahan makanan untuk para peserta juga tamu kehormatan yang hadir. Jika tidak salah hitung, semuanya mencukupi kebutuhan kita semua", kata Ragamulya sang pemimpin Istana Tubuh Dewa dengan cepat.


"Bagus sekali, semoga tidak mengecewakan bagi para tamu kehormatan kita nanti. Sebagai satu dari tiga perguruan silat terbesar di Tatar Pasundan, kita harus menjaga martabat kita.


Jaluwisesa, Sukmawijaya..


Bagaimana persiapan para peserta dari perguruan kita? Aku ingin perguruan kita menjadi jawara di uji kemampuan beladiri kali ini", ujar Linggakancana sambil menoleh ke arah Jaluwisesa sang pemimpin Istana Kilat Guntur dan Sukmawijaya selaku kepala Istana Wajra Siwa.


"Kami sudah memilih 10 peserta uji kemampuan beladiri ini, Yang Mulia Raja..


3 dari Istana Wajra Siwa, 3 dari Istana Kilat Guntur, 2 peserta dari Istana Tameng Langit dan 2 orang dari Istana Tubuh Dewa", ujar Jaluwisesa sambil membungkukkan badannya.


"Bagaimana bisa pembagian nya tidak adil seperti itu, Jaluwisesa? Istana Tameng Langit tidak lebih lemah dari Istana Kilat Guntur", Ki Buyut Karta langsung berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Benar, Istana Tubuh Dewa juga sama kuatnya dengan Istana Wajra Siwa yang hanya punya murid sedikit. Kenapa lebih banyak murid mereka yang ikut bertanding?", Ragamulya yang berbadan besar dan berotot beranjak dari kursi.


"Itu karena orang orang hanya punya otot tidak punya otak, Ragamulya", sahut Sukmawijaya sambil membuka kipas nya. Pria bertubuh tegap dengan dandanan bersih dan rapi ini memang kurang suka dengan Ragamulya yang hanya mengandalkan kekuatan tubuh.


"Apa kau bilang? Kau ingin mencoba tinju ku, Sukmawijaya?", Ragamulya mendengus keras sambil bersiap untuk berkelahi.


"Cukup!


Apa kalian tidak memandang ku sebagai Raja Istana Atap Langit ha?", teriak Linggakancana sambil mengetukkan tongkat nya ke tanah. Tiba-tiba saja tanah langsung bergetar seperti terkena gempa bumi. Bangunan berderak hingga membuat semua orang ketakutan.


Ragamulya dan Sukmawijaya langsung terdiam seketika dan segera kembali ke tempat duduk masing-masing.


"Jatah masing masing perguruan adalah sepuluh peserta dan itu sudah peraturan nya. Untuk memupuk rasa keadilan di antara kalian semua, maka masing-masing istana memilih dua murid terbaik untuk ikut uji kemampuan. Sisa dua nya akan diisi oleh murid ku.


Apa kalian mengerti?", Linggakancana menatap ke sekeliling nya.


"Kami mengerti dan patuh pada Raja Istana Atap Langit", semua orang yang ada di situ membungkukkan badannya pada Linggakancana.


Usai pertemuan, Linggakancana memanggil kedua murid pribadi nya di dalam kediamannya. Kedua murid pribadi Linggakancana yang bernama Ewangga dan Ambetkasih rencananya akan menjadi perwakilan uji kemampuan beladiri dari Istana Atap Langit.


"Kalian berdua, tingkatkan pelatihan kalian untuk bersaing dengan para murid Perguruan Istana Atap Langit yang lain. Rebut jawara pertama dan kalahkan seluruh peserta dari perguruan lain..


Yang terutama, aku ingin kalian mengalahkan para murid Perguruan Gunung Ciremai", ujar Linggakancana dengan semangat berapi-api.


"Kami mengerti guru", sahut Ewangga dan Ambetkasih bersamaan. Linggakancana tersenyum puas mendengar ucapan dua muridnya itu. Pandangan Linggakancana menatap ke arah langit senja yang memerah di langit barat. Teringat dia pada peristiwa 2 dasawarsa yang lalu saat di perintahkan guru nya untuk melanglang buana mencari pengalaman di jagat persilatan Tatar Pasundan.


Saat itu Linggakancana muda sempat berseteru dengan Mangun Tapa muda karena salah paham saat melihat putri Mangkubumi Galuh Pakuan di bopong oleh Mangun Tapa muda dalam keadaan pingsan.


"Lepaskan dia, bajingan!


Kau berani sekali berbuat kurang ajar pada putri Mangkubumi Galuh", teriak Linggakancana muda yang baru saja sampai di tempat itu.


"Siapa yang kurang ajar?


Aku baru saja menolongnya dari para perampok ini", sahut Mangun Tapa muda yang masih membopong putri Mangkubumi Galuh Pakuan yang bernama Dyah Ratnasari.


"Dusta!


Jelas jelas kau lah penjahat nya. Kau masih mengelak juga. Letakkan gadis itu kalau kau ingin hidup", Linggakancana muda menatap tajam ke arah Mangun Tapa muda.


Kalau aku bilang tidak ya tidak. Jaga mulutmu jika kau tidak ingin aku hajar", Mangun Tapa muda naik darah karena geram dengan tuduhan Linggakancana muda.


"Bangsat keji!


Kau harus di beri pelajaran", usai mengumpat Mangun Tapa muda, Linggakancana muda melesat cepat kearah sang pemuda yang masih membopong tubuh putri Mangkubumi Galuh Pakuan.


Linggakancana muda langsung melayangkan hantaman ke arah Mangun Tapa muda. Pemuda berambut gondrong itu dengan cepat berkelit menghindar sambil memutar tubuhnya. Akibatnya kaki Dyah Ratnasari yang di bopong nya menghantam punggung Linggakancana muda.


Bhhhuuukkkkkhhh!


Linggakancana muda terjungkal ke depan tapi pemuda itu segera membuat gerakan jungkir balik. Dia segera berbalik badan dan kembali melesat ke arah Mangun Tapa muda sambil menyapu kaki lawan. Mangun Tapa muda angkat satu kaki menghindari sapuan kaki Linggakancana muda, lalu dengan cepat kaki turun dan kaki sebelah kanan menendang ke arah kepala Linggakancana muda.


Dhiiieeeessshh!!


Dengan cepat, Linggakancana muda menyilangkan kedua tangan ke depan kepala menahan serangan Mangun Tapa muda. Kuatnya tendangan Mangun Tapa membuat Linggakancana terdorong mundur beberapa langkah ke belakang.


Murid Istana Atap Langit itu segera berdiri. Dia segera merentangkan kedua tangannya yang dengan cepat segera menangkup di depan dada. Seberkas sinar biru langit tercipta di kedua tangan Linggakancana muda.


"Rupanya kau anak murid dari Istana Atap Langit", ujar Mangun Tapa melihat ilmu kedigdayaan yang di keluarkan oleh Linggakancana.


"Hahahaha..


Kau takut ya? Sudah terlambat untuk menyerah keparat!", teriak Linggakancana muda yang mengumpulkan seluruh tenaga dalam nya untuk mengeluarkan Ajian Tapak Langit.


Phuihhhh..


"Siapa juga yang takut melawan pendekar kacangan seperti mu? Akan ku buat kamu melihat kemampuan ku", Mangun Tapa muda segera meletakkan tubuh Dyah Ratnasari ke bawah pohon rindang yang tak jauh dari tempat itu.


Dengan cepat, Mangun Tapa bersedekap tangan di depan dada. Mata Mangun Tapa tertutup rapat dan mulut pemuda itu komat-kamit membaca mantra. Selarik sinar merah kehitaman menyelimuti seluruh tubuh Mangun Tapa muda. Sebuah bayangan berwujud raksasa berkepala 4 dengan delapan tangan keluar dari tubuh Mangun Tapa. Dia menggunakan Ajian Dewa Neraka.


Linggakancana muda langsung menghantamkan tangan kanannya. Selarik sinar biru langit menerabas cepat kearah Mangun Tapa. Pemuda berambut gondrong dari Gunung Ciremai itu langsung membuka matanya yang berwarna merah menyala sambil menghantamkan tangan kanannya. Bersamaan itu, bayangan raksasa merah melesat cepat kearah sinar biru langit Linggakancana.


Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!

__ADS_1


Linggakancana muda terpental jauh ke belakang. Murid Istana Atap Langit itu langsung muntah darah segar. Saat Mangun Tapa muda hendak melesat, suara Dyah Ratnasari menghentikan langkahnya. Putri Mangkubumi Galuh Pakuan itu rupanya sudah sadar dari pingsannya.


"Sudah cukup,


Tidak perlu bertarung lagi Mangun Tapa", ujar Dyah Ratnasari dengan keras. Mangun Tapa segera mendekat pada gadis cantik itu.


"Gus-Gusti Putri,


Dia men-mencoba berbuat kurang ajar pada mu", ucap Linggakancana dengan terbata-bata. Rasa sesak yang menyerang dada membuatnya sulit bernapas.


"Bicara apa kau? Dia ini adalah orang yang di suruh ayah ku untuk mengawal ku pulang ke Kawali. Kau jangan menuduh yang bukan-bukan..


Mangun Tapa, ayo kita berangkat", mendengar perintah Dyah Ratnasari, Mangun Tapa muda mengangguk mengerti. Sebelum dia dan Dyah Ratnasari melesat pergi, Mangun Tapa sempat tersenyum sinis pada Linggakancana.


"Mangun Tapa, nama mu akan ku ingat selama nya", teriak Linggakancana muda sambil mengepalkan erat tangan nya.


Hemmmmmmm...


Linggakancana mendengus dingin saat bayangan masa lalu itu terlintas di pikiran nya.


'Kalau aku tidak bisa membalas sakit hati ku, biar murid ku yang mempermalukan murid mu nanti di uji kemampuan beladiri nanti, Mangun Tapa', batin Linggakancana sambil berdiri dari tempat duduknya. Lelaki sepuh berjenggot panjang itu langsung bergegas masuk ke dalam rumah nya.


****


Pagi hari itu, mentari pagi bersinar cerah di langit timur. Semilir angin kering dari tenggara berhembus mendinginkan suasana. Mendekati musim kemarau, suasana memang lebih panas dari beberapa purnama sebelumnya. Untungnya, banyak pohon besar di kiri kanan jalan penghubung antara Kawadoan Lingga menuju ke arah Kota Kadipaten Saunggalah.


Kadipaten Saunggalah, atau lebih tepatnya Mandala Saunggalah adalah sebuah wilayah negara bagian dari Kerajaan Galuh Pakuan yang kala itu di perintah oleh Prabu Darmasiksa Sanghyang Wisnu. Mandala Saunggalah ini di perintah oleh putra Prabu Darmasiksa yang bernama Prabu Purana.


Kota Manggala Saunggalah ini cukup makmur dengan penduduk yang sebagian besar menjadi petani, peladang, pemburu dan pedagang antar wilayah di Galuh Pakuan yang telah bersatu dengan Sunda di bawah pimpinan Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu.


Selepas meninggalkan rumah Resi Pucukwesi di Kawadoan Lingga, Arya Pethak dan kawan-kawan nya menuju ke arah Manggala Saunggalah. Kali ini perjalanan mereka lancar tanpa mengalami hambatan berarti.


Begitu sampai di Kota Mandala Saunggalah, Aki Soma mengarahkan rombongan itu ke sebuah rumah besar yang di jaga oleh beberapa prajurit. Rumah itu adalah rumah salah satu pejabat tinggi Istana Saunggalah yang berpangkat Nunangganan atau setingkat dengan Tumenggung di kerajaan Singhasari.


Tepat pada tengah hari mereka sampai di sana, Aki Soma langsung melompat turun dari kudanya bersama keempat pengikut nya. Pun Arya Pethak, Anjani dan Klungsur ikut turun pula.


"Aki, jigana tujuan Aki Soma atos dugi na. Hapunten, urang papisah di dieu Aki. Urang bade neruskeun tujuan ka Gunung Ciremai ( Aki, sepertinya tujuan Aki Soma telah sampai. Mohon maaf, kita berpisah disini Aki. Kami akan melanjutkan perjalanan ke Gunung Ciremai)", ujar Anjani berpamitan kepada Aki Soma.


"Ah, lamun kitu wilujeung angkat Eneng Geulis..


Hatur nuhun bantuan na. Aki Soma doakeun, mugi mugi wilujeung dugi tujuan ( Ah kalau begitu selamat jalan Eneng Geulis. Terimakasih atas bantuannya. Aki Soma doakan semoga selamat sampai tujuan)", Aki Soma membungkukkan badannya pertanda dia berterima kasih kepada Arya Pethak, Anjani dan Klungsur.


Tiga orang pengelana dari Kadiri itu langsung melompat ke atas kuda mereka masing-masing, setelah mendapat petunjuk ke arah Gunung Ciremai. Mereka memacu kudanya menuju ke arah barat. Setelah mengisi perut di sebuah warung makan, mereka terus berkuda menuju ke arah kaki Gunung Ciremai.


Saat sampai di Desa Karang Mulya, seorang gadis cantik berusia 2 dasawarsa yang memakai baju hijau kekuningan menghentikan langkah kaki kuda mereka di dekat gapura desa.


"Hai orang asing, berhenti kalian!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Selamat makan sahur untuk yang menjalankan ibadah puasa..


__ADS_2