Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Kisruh Istana Pakuwon Sendang


__ADS_3

Suasana istana Pakuwon Sendang langsung ricuh begitu terdengar suara teriakan keras dari prajurit penjaga. Bunyi nyaring pukulan keras kentongan tanda bahaya yang di tabuh bertalu-talu semakin membuat suasana di dalam istana menjadi kisruh. Para prajurit istana Pakuwon Sendang yang masih asyik bersantai di barak prajurit, langsung bergegas menuju ke pintu gerbang istana yang ada di sebelah timur. Mereka sedapatnya menyambar senjata seperti tameng, tombak dan pedang.


Keributan besar ini juga turut membangunkan Akuwu Surenggono dari tempat peraduannya. Lelaki paruh baya yang memiliki codet luka yang memanjang di pipi kirinya yang memanjang hingga menembus mata kiri, langsung menyambar sebilah keris pusaka yang tergantung di atas meja kecil di kamar tidur nya. Rikmawati, sang selir Akuwu Surenggono segera membenarkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya yang telanjang sembari bertanya.


"Ada apa Kangmas?


Kenapa kau tiba-tiba saja terbangun dan mengambil keris Bluluk Ireng mu?", Rikmawati sang selir sedikit penasaran. Akuwu Surenggono sembari membenarkan pakaian nya, hanya mendengus keras sambil bicara keras, " Ada beberapa kroco kroco yang ingin mampus. Kau diam saja disini".


Selesai berkata seperti itu, Akuwu Surenggono segera bergegas menuju ke arah pendopo Pakuwon Sendang untuk melihat situasi yang sedang terjadi. Sedangkan Rikmawati buru buru memakai pakaian nya sesegera mungkin karena khawatir terjadi hal hal yang tidak diinginkan. Dia merasakan sesuatu yang tidak beres sedang terjadi di istana Pakuwon Sendang saat ini.


Akuwu Surenggono segera menghentikan langkah dua orang prajurit yang hendak menuju ke arah pintu gerbang istana di sebelah timur.


"Hai prajurit,


Katakan apa yang sedang terjadi?", tanya Akuwu Surenggono segera. Dua orang prajurit itu segera menyembah pada Akuwu Surenggono sebelum salah seorang diantara mereka menjawab.


"Mohon ampun Gusti Akuwu..


Ada ratusan orang menyerbu ke arah pintu gerbang istana. Gusti Bekel Nanggala sedang memimpin para prajurit kita untuk menghadapi pasukan itu", jawab sang prajurit Pakuwon Sendang itu segera.


"Kurang ajar!


Berani sekali mereka mengacau di istana ku. Habisi mereka semua, jangan kasih ampun", perintah Akuwu Surenggono dengan keras.


"Baik Gusti Akuwu", usai menjawab perintah Akuwu Surenggono, dua orang prajurit Pakuwon Sendang itu segera menghormat pada junjungan mereka sebelum bergegas menuju ke arah pintu gerbang istana untuk bergabung bersama kawan kawan mereka yang sudah lebih dulu ada disana.


Dari arah samping, muncul Sang Pamegat Istana Pakuwon Sendang, Mpu Kuturan dan beberapa nayaka praja yang lain. Mereka segera membentuk pagar betis di sekeliling tempat pribadi Akuwu Surenggono.


Beberapa saat kemudian, muncul beberapa bayangan berkelebat cepat kearah tempat Akuwu Surenggono berada. Mereka mengenakan penutup wajah yang terbuat dari topeng kayu yang menutupi sebagian wajah. Kedatangan mereka sontak membuat Akuwu Surenggono dan para nayaka praja yang berjaga langsung waspada dan bersiaga penuh dengan senjata terhunus.


"Siapa kalian? Ada urusan apa kalian kemari ha?", hardik Akuwu Surenggono segera. Matanya menatap tajam ke arah sesosok lelaki bertubuh kekar dengan pakaian serba putih yang mengenakan topeng kayu bercat merah.


"Akuwu Surenggono,


Kami kemari untuk menuntut balas atas kematian orang yang kami sayangi. Hutang nyawa di bayar nyawa", ujar si lelaki bertubuh kekar itu sembari memberikan isyarat kepada kawan kawan nya untuk bergerak menyerang.


Mendengar jawaban itu, para prajurit pengawal pribadi Akuwu beserta para nayaka praja Pakuwon Sendang termasuk sang Pamegat Istana Pakuwon Sendang, Mpu Kuturan langsung menerjang maju ke arah para pendekar sewaan Mpu Wikarto dan rombongan Arya Pethak yang juga sudah bersiap untuk bertarung.


Pertarungan sengit pun segera pecah di halaman pendopo Istana Pakuwon Sendang.


Denting senjata beradu bercampur dengan jerit kesakitan dari mulut mereka yang bertarung segera terdengar dari tempat itu. Klungsur yang turut bertarung melawan para prajurit pengawal pribadi Akuwu Surenggono, langsung mengayunkan Gada Galih Asem nya ke arah kepala salah satu prajurit Pakuwon Sendang yang menghadang laju pergerakan nya.


Bhhhuuuuuuggggh..


Aaauuuuggggghhhhh !

__ADS_1


Si prajurit langsung tersungkur ke tanah dengan kepala remuk di hantam Gada Galih Asem. Pertahanan Klungsur yang lowong, membuat salah satu prajurit pengawal pribadi Akuwu Surenggono segera menusukkan pedangnya kearah punggung Klungsur.


"Modar kowe bajingan!"


Thrrraaannnnggggg !!


Mata si prajurit melotot lebar saat melihat senjatanya tidak mempan ke tubuh pria bogel yang baru saja membantai kawannya. Klungsur yang merasakan tusukan pedang ke arah punggung nya dengan cepat berbalik badan dan langsung mengayunkan Gada Galih Asem milik nya ke arah wajah si pembokong.


Brraaakkkk...


Aaaarrrgggggghhhhh !!!


Si prajurit pengawal pribadi Akuwu Surenggono itu benar benar tidak menyangka bahwa nyawanya akan hilang malam itu. Keprukan keras Gada Galih Asem telak menghajar wajah nya. Wajah si prajurit itu langsung hancur, gigi nya rontok terkena gebukan Gada Galih Asem nya Klungsur. Dia langsung tewas dengan darah segar mengalir keluar dari mulutnya.


"Yang modar itu Kowe, bukan aku tolol! ", maki Klungsur setelah melihat lawan nya tewas. Pria bertubuh bogel ini segera melesat cepat kearah Nirmala yang sedang di kepung oleh beberapa prajurit Pakuwon Sendang. Celurit sang gadis hitam manis asal Pulau Madura ini nampak bersimbah darah segar. Dua orang prajurit penjaga istana sudah menjadi korban celurit nya.


"Kau baik baik saja, Nir?", tanya Klungsur segera.


"Bo'aboo..


Sudah tahu sengko di kepung sama ndal begundal ini, masih di tanya baik baik saja? Bagaimana sampeyan ini Kang?", omel Nirmala sembari bersiaga.


"Itu artinya kau masih baik baik saja. Ayo kita cepat selesaikan para cecunguk ini, Nirmala. Denmas Pethak menunggu bantuan kita!", selesai berkata demikian, Klungsur langsung melompat maju ke arah para prajurit Pakuwon Sendang. Melihat itu, Nirmala pun tak mau kalah dan melesat membantu Klungsur yang menerjang maju ke arah lawan.


Chhrrrraaaaaassss..!!


Seorang prajurit penjaga istana yang menghalangi jalan Nay Kemuning untuk balas dendam langsung roboh tersungkur ke tanah dengan kepala menggelinding. Anjani pun yang baru membantai seorang nayaka praja Pakuwon Sendang, langsung menghantamkan tapak tangan kanan nya yang sudah berwarna hijau kehitaman sebagai tanda bahwa Ajian Tapak Ular Siluman sudah di pergunakan oleh Anjani. Sinar hijau kehitaman yang beracun itu dengan cepat menghantam dua orang prajurit yang menyerang Nay Kemuning dari samping.


Blllaaaaaammmmmm !!!


Ledakan keras terdengar dan dua orang prajurit pengawal pribadi Akuwu Surenggono itu langsung terpental dan jatuh menghujam ke tanah dengan keras. Mereka tewas seketika.


"Hatur nuhun Anjani", teriak Nay Kemuning yang tertolong oleh kecepatan serangan Anjani.


"Tetap berhati-hati Nay..


Jangan kendurkan kewaspadaan mu", balas Anjani yang segera bergerak lincah seperti seekor ular ke arah Sekarwangi yang sedang berhadapan dengan seorang nayaka praja Pakuwon Sendang. Mendengar itu Nay Kemuning mengangguk mengerti dan kembali merangsek maju ke arah Akuwu Surenggono yang masih berlindung di belakang para pengawal pribadi nya.


Sekarwangi nampak menahan tebasan pedang besar dari salah satu nayaka praja Pakuwon Sendang yang bertubuh gempal itu dengan Seruling Perak nya yang kini menjadi senjata andalan nya. Dengan lincah putri Patih Pranaraja ini memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kearah perut lawannya.


Bhhhuuuuuuggggh...


Aaauuuuggggghhhhh !!


Lawan Sekarwangi terhuyung huyung mundur. Perutnya sakit sekali seperti di baru di hantam oleh balok kayu besar. Belum sempat dia berdiri tegak, tiba tiba saja Anjani muncul di sampingnya dan menyabetkan Pisau Dewa Kematian ke arah perut.

__ADS_1


Kemunculan Anjani ini langsung membuat si nayaka praja Pakuwon Sendang mengumpat keras sembari berupaya untuk menghindar. Namun dia terlambat beberapa kejap mata. Pisau Dewa Kematian telah lebih dulu merobek bajunya serta melukai pinggang sebelah kanan nya.


Shreeeeettttthhh..


Aaaarrrgggggghhhhh !!


Si nayaka praja menjerit keras. Rasa panas menyengat dengan cepat menjalar dari luka sayat Pisau Dewa Kematian milik Anjani.


Beberapa saat kemudian ia roboh dengan mulut berbusa putih pertanda bahwa dia keracunan.


Melihat bantuan dari Anjani, Sekarwangi mengangguk tanda terima kasih. Selanjutnya dua orang istri Arya Pethak ini bahu membahu dalam bertahan dan menyerang ke arah para prajurit pengawal pribadi Akuwu Surenggono yang mengepungnya.


Sang Pamegat Istana Pakuwon Sendang, Mpu Kuturan terengah-engah. Baru saja dia menghantam dada Arya Pethak dengan seluruh tenaga dalam nya, namun Arya Pethak yang menggunakan Ajian Lembu Sekilan sama sekali tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri.


"Bajingan keparat!


Ilmu kanuragan apa yang kau miliki ha?", bentak Mpu Kuturan sembari mengatur nafasnya.


"Aku tidak perlu memberitahu mu, orang tua. Kalau kau sayang nyawa mu, sebaiknya kau minggir dari tempat ini sebelum aku berubah pikiran", ujar Arya Pethak dengan tegas.


"Kurang ajar!


Jangan kau pikir karena mampu menahan serangan ku satu kali, kau sudah menang. Aku masih belum kalah!", teriak Mpu Kuturan sembari kembali memutar kedua tangan nya di depan dada. Dua lingkaran sinar merah menyala berhawa panas langsung tercipta. Dengan cepat ia menghantam kedua lingkaran sinar merah menyala itu ke arah Arya Pethak. Lingkaran sinar merah menyala berhawa panas itu segera menerabas cepat kearah Arya Pethak


Whhuuutt Whuuthhh !!


Melihat itu, Arya Pethak menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin menghindari serangan Mpu Kuturan. Segera dia mencabut Pedang Setan di punggungnya dan dengan gerakan cepat yang sulit di ikuti oleh mata biasa, menebas leher Mpu Kuturan.


Chhrrrraaaaaassss!!


Mpu Kuturan yang sama sekali tidak menduga kecepatan tinggi Ajian Langkah Dewa Angin, melihat dunia tiba tiba berputar. Sekejap kemudian tubuhnya roboh ke tanah dengan kepala terpisah dari badan. Dia tewas bersimbah darah.


"Aku sudah memperingatkan mu, orang tua!


Kau saja yang keras kepala", ujar Arya Pethak sambil menatap ke arah mayat Mpu Kuturan. Setelah menghabisi nyawa orang nomor dua di Pakuwon Sendang ini, Arya Pethak mengedarkan pandangannya. Kali ini dia melihat Nay Kemuning yang berhasil bertarung melawan Akuwu Surenggono terlihat sedikit terdesak.


Melihat istrinya dalam bahaya, Arya Pethak tanpa ragu lagi melesat cepat kearah pertarungan mereka berdua dan dengan cepat menangkis sabetan keris pusaka milik penguasa Pakuwon Sendang itu dengan Pedang Setan nya.


Thhhrriinnngggggg !!!


Serangan Arya Pethak begitu cepat hingga keris pusaka Kyai Bluluk Ireng nyaris terlepas dari genggaman tangan Akuwu Surenggono. Penguasa Pakuwon Sendang itu lama mundur beberapa langkah ke belakang sembari menatap tajam ke arah orang yang baru saja membantu Nay Kemuning. Dengan penuh amarah, lelaki bertubuh kekar dengan luka memanjang di wajah sebelah kiri tembus ke mata ini mengacungkan Keris Kyai Bluluk Ireng sembari membentak keras ke arah Arya Pethak dan Nay Kemuning.


"Dasar kurang ajar!


Siapa kau sebenarnya?"

__ADS_1


__ADS_2