
"Bangsat!
Jangan ikut campur urusan ku jika masih sayang nyawa mu. Minggir!", hardik Sawung Alas dengan keras.
"Kalau aku ikut campur, lantas kau mau apa?
Aku cuma tidak suka melihat penindasan terjadi di depan mata ku", ujar Arya Pethak sembari menatap tajam ke arah Sawung Alas dan kawan-kawan nya.
"Bedebah!
Cari mampus kau rupanya!", teriak seorang kawan Sawung Alas yang segera melesat cepat kearah Arya Pethak sambil mengayunkan pedangnya.
Dari belakang sebuah bayangan bergerak cepat ke arah kawan Sawung Alas dan mengayunkan sebuah gada berwarna hitam legam, menghadang sabetan pedang kawan Sawung Alas.
Thhraaaangggggggg!!
Kedua orang itu mundur beberapa langkah ke belakang sembari menatap tajam ke arah lawan.
"Mau main serobot duluan ya?
Bukan hanya Ndoro Pethak saja yang tidak suka dengan orang sok perkasa macam kalian", ujar si bayangan hitam yang tak lain adalah Klungsur.
"Brengsek!
Muncul satu lagi orang yang sudah bosan hidup", teriak Sawung Alas dengan geram.
"Bukan cuma satu, tapi tiga", sahut Nirmala yang sudah menenteng sebilah celurit bersama Nay Kemuning yang berjalan mendekati Arya Pethak dan Klungsur.
"Bajingan!!!
Kalau begitu kalian semua harus mati di tempat ini! Kawan kawan, bunuh mereka semua!", perintah Sawung Alas yang segera melesat cepat kearah Arya Pethak sambil mengayunkan pedangnya. Ketiga kawan Sawung Alas menerjang maju ke arah Arya Pethak dan kawan-kawan begitu mendengar perintah Sawung Alas.
Pertarungan satu lawan satu itu berlangsung sengit.
Shreeeeettttthhh!!
Tebasan pedang Sawung Alas langsung di tangkis dengan Pedang Setan di tangan kanan Arya Pethak.
Thrrriiinnnggggg!!
Arya Pethak menekan Pedang Setan ke arah Sawung Alas. Perbedaan tingkat tenaga dalam mereka terlalu jauh hingga Pedang Setan semakin condong ke arah Sawung Alas.
Dengan cepat Arya Pethak menyapu kaki Sawung Alas. Pria berjambang lebat ini segera angkat kaki kanan menghindari sapuan kaki Arya Pethak. Lalu dengan cepat mengayunkan pedangnya kearah kaki Arya Pethak setelah berputar di belakang tubuh lawan.
Arya Pethak kembali menangkis tebasan pedang Sawung Alas yang mengincar kaki nya.
Thrrraaannnnggggg!!
Tebasan demi tebasan pedang Sawung Alas terus di tangkis oleh Arya Pethak. Satu sabetan pedang Sawung Alas mengarah ke leher lawan. Arya Pethak kembali mengadu Pedang Setan nya dengan pedang Sawung Alas yang mulai terlihat retak.
Sekuat tenaga Sawung Alas mencoba menahan tekanan pedang Arya Pethak. Namun dia terus saja terdesak. Murid Mpu Prawira yang menjadi lawannya itu segera mengayunkan kakinya ke arah dada Sawung Alas.
Bhhhuuuuuuggggh...
Aaauuuuggggghhhhh!!
Sawung Alas terpental mundur beberapa tombak karena kerasnya tendangan Arya Pethak. Ada darah segar keluar dari sudut bibirnya. Dengan geram dia bangkit dan melemparkan pedangnya ke arah Arya Pethak.
Shreeeeettttthhh!!
Dengan mudah Arya Pethak menghindari lemparan pedang Sawung Alas. Namun di sisi lain Sawung Alas justru melebarkan kedua tangan nya ke samping kanan dan kiri tubuh. Kedua tangan nya kemudian menangkup di depan dada. Sinar biru kehijauan melingkupi seluruh tubuh Sawung Alas.
Dengan cepat ia menghantamkan kedua telapak tangan kearah Arya Pethak.
Whhhuuuggghhhh!!
Selarik sinar biru kehijauan menghantam tubuh Arya Pethak.
Blllaaammmmmmmm!!!
Asap tebal menutupi seluruh tempat berdiri Arya Pethak. Kebo Anabrang yang ada di belakang Arya Pethak terkejut melihat itu semua sedangkan Sawung Alas tersenyum penuh kemenangan.
"Mampus kau!"
Namun sesaat kemudian mata Sawung Alas melotot seperti hendak keluar dari rongga matanya. Arya Pethak masih berdiri tegak sembari tersenyum tipis dengan tubuh di liputi oleh cahaya kuning keemasan.
"Mau membunuh ku? Kau masih belum pantas", ujar Arya Pethak sambil menyeringai lebar. Sesaat kemudian kabut tipis muncul di sekitar tubuh sang pemuda tampan. Kemudian tubuh Arya Pethak menghilang dari pandangan mata semua orang.
Sawung Alas kembali terperanjat melihat hilangnya Arya Pethak. Sekejap kemudian dia melotot lebar saat melihat sebuah bilah pedang berwarna hitam legam menembus dada nya dari belakang.
"Kau cu.. curang", ucap Sawung Alas sesaat setelah Arya Pethak mencabut Pedang Setan yang menembus tubuh Sawung Alas.
Pria berjambang lebat itu roboh dan meregang nyawa. Dia tewas bersimbah darah.
Di sisi lain Klungsur yang menghadapi kawan Sawung Alas, hanya menyeringai lebar menatap wajah pucat lawannya yang berkali-kali menusukkan pedangnya ke arah perut nya namun tak mampu menggores kulit.
"Sekarang giliran ku, bangsat!"
Klungsur langsung mengayunkan Gada Galih Asem nya ke arah kepala lawan yang masih tak percaya dengan tubuh Klungsur yang tidak mempan senjata tajam.
__ADS_1
Brrraaaakkkkkkkk!!
Aaaarrrgggggghhhhh!!
Lawannya langsung terjungkal dengan kepala hancur berlumuran darah akibat gebukan gada nya.
Sementara itu, Nay Kemuning juga berhasil merobek perut lawannya dengan Pedang Cambuk Naga nya.
Pria bertubuh gempal itu terhuyung huyung mundur sambil membekap perutnya yang menganga lebar. Tak berapa lama kemudian dia tewas dengan usus terburai keluar.
Satu tebasan pedang lawan berhasil di hindari oleh Nirmala. Secepat kilat gadis cantik berkulit hitam manis itu mengayunkan celurit nya kearah leher lawan.
Chrraaasssshhh..
Lawan yang dihadapi Nirmala sama sekali tidak menduga bahwa dia akan mati di tangan seorang gadis yang baru berusia 3 windu. Lehernya nyaris putus dan darahnya menyembur keluar. Dia tersungkur dengan luka robek pada leher.
Mereka berempat segera berkumpul bersama dan mendekati Kebo Anabrang yang masih terduduk sembari menata nafasnya yang sesak.
"Te-Terimakasih atas bantuan nya Kisanak..
Keluarga istana Kerajaan Singhasari berhutang budi pada kalian", ujar Kebo Anabrang sambil berusaha untuk tersenyum.
"Sudahlah Gusti Perwira..
Bajingan seperti mereka tidak layak untuk hidup di dunia ini. Mari kita beristirahat di sana", ajak Arya Pethak yang segera membantu Kebo Anabrang berdiri. Dengan sedikit tertatih, Kebo Anabrang melangkah ke arah api unggun dengan di papah oleh Arya Pethak.
Anjani yang kebagian merawat Raden Wijaya, rupanya berhasil membuat bocah kecil itu sadar dari pingsannya. Bocah bangsawan itu segera berlari menuju ke arah Kebo Anabrang.
"Paman.. Paman Kebo Anabrang..
Kau tidak apa-apa paman? Apa kau terluka?", tanya Raden Wijaya dengan penuh kekhawatiran.
"Hamba tidak apa apa Raden.. Tanpa bantuan dari mereka mungkin hamba sudah mati di tangan Sawung Alas", jawab Kebo Anabrang sambil tersenyum kecut.
"Paman dan bibi semua nya,
Aku Wijaya mengucapkan terimakasih banyak atas pertolongan kalian semua. Aku berhutang nyawa pada kalian. Kelak saat aku menjadi raja, aku pasti akan membalas budi baik kalian hari ini", ujar Raden Wijaya sambil membungkukkan badannya.
"Seorang calon raja tidak pantas membungkuk hormat kepada rakyat jelata, Raden..
Sudah kewajiban kami untuk membantu setiap orang yang sedang ditimpa kesusahan. Entah itu bangsawan ataupun rakyat biasa", jawab Arya Pethak sambil tersenyum simpul.
"Tidak boleh begitu Paman..
Yang namanya budi baik harus tetap menjadi hutang yang harus dilunasi. Aku bukan orang yang suka ingkar janji", mendengar ucapan Raden Wijaya, semua orang tersenyum simpul. Bocah ini jika kelak benar benar menjadi raja pasti akan menjadi raja yang adil dan bijaksana, batin mereka semua.
Usai makan mereka berbincang hangat tentang banyak hal termasuk bagaimana mereka bisa sampai di kejar kejar oleh para pembunuh itu.
"Aku dengar mereka di bayar oleh Kelompok Kelabang Ireng, suatu kelompok kekuatan besar yang selalu merongrong kewibawaan Pemerintah Kerajaan Singhasari dengan segala macam cara nya.
Meski sudah menjadi buronan, tapi keberadaan kelompok misterius itu sulit sekali untuk di tumpas karena pimpinan mereka, Kumaradewa tidak pernah ditemukan", ujar Kebo Anabrang menutup cerita nya.
Hemmmmmmm..
"Mereka lagi rupanya. Kalau tidak ditumpas mereka akan selalu menjadi duri dalam daging bagi keamanan Kerajaan Singhasari", Arya Pethak menghela nafas berat.
Raden Wijaya yang kekenyangan menguap lebar beberapa kali kemudian merebahkan kepalanya di paha Kebo Anabrang. Dengan lembut, Kebo Anabrang membelai rambut Raden Wijaya sembari tersenyum tipis.
"Aku rela kehilangan nyawa ku agar calon raja ini tetap hidup untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat Kerajaan Singhasari. Aku percaya kelak dia akan menjadi raja yang baik", ujar Kebo Anabrang sambil tersenyum menatap ke arah Raden Wijaya yang tertidur pulas di pangkuan nya.
"Semoga saja dia sesuai dengan harapan semua orang", jawab Arya Pethak yang segera merebahkan tubuhnya di atas kain yang menjadi alas tidur nya.
Malam terus bergerak menuju pagi.
Sinar matahari pagi perlahan mulai tersembul keluar dari sela sela awan hitam yang menggelayut di langit. Suasana pagi itu terasa dingin, karena musim hujan sepertinya akan segera tiba.
Usai membersihkan diri di sungai kecil dekat tempat mereka bermalam, rombongan Arya Pethak bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
"Paman Pethak..
Jika aku boleh meminta, aku ingin paman mengantar ku hingga ke Kotaraja Singhasari. Sekarang aku tidak memegang uang tapi saat aku tiba disana, Kanjeng Romo Lembu Tal akan memberikan upah pada paman", ujar Raden Wijaya dengan penuh pengharapan.
"Bagaimana Kisanak? Jujur aku masih belum pulih sepenuhnya. Jika sampai ada yang mengganggu Raden Wijaya lagi, pasti aku tidak akan mampu membela nya", sambung Kebo Anabrang segera.
"Kami juga ingin melihat keramaian Kotaraja Singhasari. Tidak ada salahnya jika bersama dengan kalian Gusti Pangeran, Gusti Perwira..
Mari kita berangkat sekarang", jawab Arya Pethak yang segera melompat ke atas kuda tunggangan nya.
Mendengar jawaban itu, Raden Wijaya dan Kebo Anabrang tersenyum puas. Setelah Raden Wijaya naik, Kebo Anabrang menyusul di belakangnya. Enam kuda itu bergerak menuju ke arah selatan, menuju Kotaraja Singhasari.
****
Seorang lelaki bertubuh tegap dengan sumping sulur pakis emasnya nampak mondar mandir di serambi Puri Agung. Rambutnya yang berombak dengan kumis tebal nampak bergoyang ditiup angin. Dahi lelaki berusia sekitar 3 dasawarsa lebih sedikit itu nampak mengernyit seperti tengah memikirkan sesuatu yang berat. Ada raut kekhawatiran di wajah tampan nya. Terlihat jelas bahwa dia kurang tidur karena kantong mata nya tampak menghitam.
Dua orang lelaki berpakaian layaknya prajurit duduk bersila di lantai ruangan itu tanpa berani bersuara.
"Jadi belum ada kabar sama sekali?", tanya si lelaki bertubuh tegap itu sembari menoleh ke arah dua orang yang sedang duduk bersila di hadapan nya.
"Mohon ampun, Gusti Rakryan..
__ADS_1
Sampai sekarang Kebo Anabrang yang memimpin pengejaran belum juga kembali. Hamba sudah memerintahkan kepada para prajurit lain untuk menyusul mereka di bawah pimpinan Lembu Sora", ujar sang lelaki muda berkumis tipis yang merupakan salah satu pejabat Istana Singhasari dengan pangkat Demung.
Hemmmmmmm...
"Jangan sampai berita ini di dengar oleh Kakang Prabu Kertanegara.. Meskipun Sanggramawijaya itu putra ku tapi dia adalah calon menantu Kakang Prabu Kertanegara sekaligus sebagai calon Raja Singhasari selanjutnya.
Pasti dia akan kecewa sekali mendengar berita penculikan ini, Demung Wira", ujar lelaki bertubuh tegap yang tak lain adalah Dyah Lembu Tal, seorang Rakryan Kanuruhan atau pejabat setingkat menteri yang merupakan saudara sepupu sekaligus bawahan Prabu Kertanegara.
"Hamba mengerti Gusti Rakryan Kanuruhan..
Hamba hanya bisa berdoa semoga Kebo Anabrang dapat segera pulang dan membawa berita baik untuk kita semua", ujar Demung Wira sambil menghormat pada Dyah Lembu Tal.
"Semoga saja begitu..
Ngger putraku Wijaya.. Dimana kamu sekarang Ngger? Romo khawatir dengan mu", Dyah Lembu Tal menatap ke arah langit Utara yang terlihat mendung. Ada rona kekhawatiran yang terlihat jelas dari wajah pembesar istana Singhasari itu.
****
Haaatttcchiihhhh..
Haaatttcchiihhhh....!!!
"Kamu sedang demam Raden?", tanya Kebo Anabrang yang duduk di belakang Raden Wijaya begitu mendengar putra junjungan nya itu bersin bersin.
"Aku tidak apa apa Paman Anabrang..
Sepertinya ada debu yang masuk ke dalam hidung ku. Oh iya paman, berapa lama lagi kita sampai di Kotaraja Singhasari? Sepertinya hari mau hujan Paman", tanya bocah bangsawan berusia 1 dasawarsa itu.
"Setelah melewati Pakuwon Pandaan ini, kita akan sampai di daerah tapal batas Kotaraja Singhasari. Raden Wijaya tenang saja. Tidak lama lagi kita sampai di Kotaraja", jawab Kebo Anabrang sambil terus menggebrak kudanya melewati jalanan berbatu yang menuju ke arah selatan.
Cuaca semakin dingin bersamaan angin dingin bercampur uap air yang berhembus kencang. Semakin lama langit semakin gelap dengan awan hitam tebalnya.
Gluuggguuurrrrr!!!!
Bunyi guntur bergemuruh kemudian diikuti oleh petir menyambar terdengar keras. Tak berapa lama kemudian hujan deras mengguyur.
Arya Pethak segera mengarahkan rombongan ke sebuah rumah kayu yang terlihat di kiri jalan. Mereka segera bergegas berteduh di teras rumah itu.
Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh!!
Mendadak pintu rumah terbuka dan seorang wanita tua dengan sedikit bungkuk terlihat keluar dari dalam rumah bersama seorang gadis. Kebo Anabrang segera mendekat wanita tua itu.
"Mohon maaf Nyi..
Kami menumpang istirahat sejenak di teras rumah Nyi. Selepas hujan reda, kami akan pergi", ujar Kebo Anabrang dengan sopan.
Wajah wanita tua itu mendongak ke arah teman teman Kebo Anabrang sejenak. Mata perempuan tua itu nampak berkilat menatap ke arah Raden Wijaya. Dan ini semua tidak luput dari perhatian Arya Pethak.
"Silahkan saja..
Kalau mau masuk dalam rumah juga boleh. Aku bukan orang yang perhitungan dengan hal seperti ini.
Ayo sini masuk saja", ucap si wanita tua itu sembari berbalik badan dan masuk ke dalam rumah diikuti oleh si gadis muda. Arya Pethak mendengus dingin sembari menatap ke arah wanita tua.
Hemmmmmmm..
'Ada yang tidak beres dengan perempuan tua itu'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hayo siapa dia??
__ADS_1