Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Batu Inti Naga


__ADS_3

"Aku Arya Pethak, Kisanak..", jawab Arya Pethak sambil membungkukkan badannya.


"Ah seorang pendekar muda yang hebat..


Aku sangat menghargai bantuan yang kau berikan padaku tadi Arya Pethak. Bagaimanapun budi ini harus aku balas. Apa tujuan kalian sebenarnya kemari? Apa kalian juga tertarik dengan Batu Inti Naga yang ramai di perbincangkan orang ini?", tanya Mayang Koro sembari menatap wajah Arya Pethak.


"Kami memang berencana untuk mengambil batu mustika itu, Kisanak.


Hanya karena kegaduhan ini yang membuat kami penasaran untuk melihatnya", sahut Nyi Sawitri alias Dewi Bukit Lanjar sambil tersenyum tipis.


"Oh kalau begitu aku sangat beruntung. Jika sampai kalian tidak tertarik untuk melihat kegaduhan ini, mungkin nyawaku sudah melayang hehehehe..


Aku Mayang Koro bukan orang yang suka berhutang budi. Karena itu ijinkan aku mengantar kalian ke tempat dimana Batu Inti Naga berada yang sebenarnya ", ujar Mayang Koro segera.


"Kami sudah tahu", jawab Arya Pethak dan Nyi Sawitri bersamaan.


"Maksudnya kalian sudah tahu Batu Inti Naga ada di Goa Selomangleng?


Haish lantas bagaimana caranya aku membalas budi baik dari kalian", Mayang Koro langsung menggaruk kepalanya.


"Kisanak,


Kau tak perlu memikirkan nya. Aku tahu kau adalah seorang pendekar yang cukup disegani. Gelar mu adalah Pendekar Tombak Suci bukan?


Jadi mana mungkin kami yang membantu sesama pendekar golongan putih akan mengharapkan imbalan?


Sudahlah, kita berpisah disini saja", ucap Nyi Sawitri sembari tersenyum tipis.


"Tidak bisa!


Aku Mayang Koro akan ikut bersama kalian ke Goa Selomangleng. Sampai aku menemukan cara untuk membalas budi baik kalian, aku akan tetap mengikuti kalian", Mayang Koro bersikeras.


"Haahhh dasar keras kepala..


Baiklah Kisanak, kalau kau benar benar ingin membalas budi kami, tolong sediakan semua kebutuhan kami selama berada di Goa Selomangleng. Aku rasa itu sudah cukup sebagai tanda kau sudah membalas budi baik kami.


Bagaimana? Kau sanggup?", Nyi Sawitri tersenyum simpul.


"Hal sekecil itu bagaimana aku tidak sanggup?


Kalian semua tenang saja. Semua kebutuhan kalian akan aku cukupi. Mayang Koro bukan orang yang suka ingkar janji ", ujar Mayang Koro dengan semangat membara. Mendengar penuturan itu, Nyi Sawitri dan Arya Pethak tersenyum penuh arti.


Saat mereka tengah asyik berbincang, kelompok lain nya mendekat. Salah satu diantaranya adalah kawan Mayang Koro. Lelaki bertubuh gempal itu segera mendekat.


"Mayang Koro,


Pria berbaju hitam yang di bunuh Nyi Sawitri ternyata adalah Akuwu Pakuwon Bandar, Lembu Rungkut.


Dugaan mu tidak meleset ", ujar pria bertubuh gempal itu segera.


"Sudah ku duga..


Awalnya aku curiga dengan ramainya pemberitaan tentang munculnya Batu Inti Naga di Pertapaan Gunung Penanggungan ini. Pasti ada orang yang sengaja memancing di air keruh.


Pengambilalihan beberapa penginapan memang taktik Akuwu Lembu Rungkut untuk memperoleh harta cepat dengan jalan sesat. Dia memang layak untuk mati.


Biarkan saja, kalian tidak usah takut. Jika nanti terjadi masalah terkait dengan kematian Lembu Rungkut, aku akan minta Adipati Matahun untuk bertindak. Adipati Matahun masih keluarga ku", Mayang Koro bersikap seperti biasa saja.


Malam itu mereka segera kembali ke penginapan Ki Murdoyo untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum berangkat ke Goa Selomangleng.


Pagi menjelang tiba. Suasana pagi itu cukup cerah meski mendung tebal masih menggantung di langit.


Menghilangnya Akuwu Lembu Rungkut membuat heboh istana Pakuwon Bandar. Kasak kusuk mulai terdengar di kalangan masyarakat Pakuwon Bandar mengenai berita itu.


Mahesa Danu selaku adik kandung Lembu Rungkut sangat geram mendengar laporan dari para bawahannya, terutama setelah mendengar laporan yang menemukan bahwa Akuwu Lembu Rungkut di temukan terbunuh di Pertapaan Gunung Penanggungan.


"Kurang ajar!!


Pasti pelakunya adalah salah seorang dari para pendekar yang berangkat ke tempat itu tadi malam.


Kerahkan seluruh prajurit Pakuwon Bandar. Tangkap para pendekar yang ada di penginapan. Kalau ada yang melawan, bunuh saja!", perintah Mahesa Danu segera. Mendengar perintah itu, pimpinan prajurit Pakuwon Bandar Hayam Ketawang segera bergerak cepat menuju ke arah penginapan penginapan di kota Pakuwon Bandar.


Pagi itu terjadi keributan di berbagai penginapan di kota Pakuwon Bandar. Para pendekar yang rata-rata tidak merasa berangkat melakukan perlawanan terhadap para prajurit Pakuwon Bandar. Tindakan Mahesa Danu benar benar menimbulkan kekacauan di kota itu.


Mahesa Danu sendiri memimpin para prajurit Pakuwon Bandar sebanyak 100 orang bergerak ke Penginapan Ki Murdoyo.


Para tamu penginapan Ki Murdoyo yang tengah menikmati sarapan pagi terkejut melihat kedatangan Mahesa Danu dengan ratusan prajurit Pakuwon Bandar.


"Mau apa lagi kau, Mahesa Danu? Bukankah kemarin sudah jelas bahwa aku tidak akan menjual tempat ini kepada mu", ujar Ki Murdoyo sambil mendekati sang adik Akuwu Bandar


Phhuuuiiiiiihhhhh..


"Ini tidak ada hubungannya dengan jual beli penginapan mu, Ki Murdoyo..


Tapi semua pendekar yang terlibat dalam pertikaian di Pertapaan Gunung Penanggungan akan di periksa. Kami curiga mereka bersembunyi di dalam penginapan mu ini. Karena itu para prajurit Pakuwon Bandar akan menggeledah penginapan ini", ujar Mahesa Danu seraya tersenyum sinis pada Ki Murdoyo.


"Ah ini hanya akal-akalan mu saja Mahesa Danu. Aku tidak mengijinkan siapapun mengganggu para tamu ku.


Pergi kau dari tempat ku", usir Ki Murdoyo dengan cepat. Mahesa Danu langsung menyambar baju Ki Murdoyo kemudian menarik tubuh Ki Murdoyo hingga ke depan wajah nya.

__ADS_1


"Tidak kau ijinkan atau tidak aku tidak peduli. Minggir kau sana!!!", kata Mahesa Danu sembari melemparkan tubuh Ki Murdoyo.


"Prajurit!!


Geledah tempat ini. Tangkap semua orang yang di curigai. Cepat!!!", perintah Mahesa Danu dengan lantang. Mendengar perintah Mahesa Danu, puluhan prajurit Pakuwon Bandar segera bergerak. Namun belum ada 3 langkah mereka maju, sebuah teriakan menghentikan langkah mereka.


"Berhenti!


Kalau kalian masih sayang nyawa!", teriak Mayang Koro yang melangkah dari dalam penginapan. Sedari tadi malam, Mayang Koro memang tidak kembali ke penginapan tempat nya karena takut di tinggal pergi rombongan Arya Pethak.


Semua orang termasuk para prajurit Pakuwon Bandar dan Mahesa Danu segera menoleh ke sumber suara. Melihat kedatangan Mayang Koro dan rombongan Arya Pethak, Mahesa Danu mendengus keras.


"Berani sekali kau menghentikan penggeledahan ini. Memangnya kau siapa?", teriak Mahesa Danu dengan lantang.


Tanpa menjawab pertanyaan Mahesa Danu, Mayang Koro merogoh kantong baju nya dan sebuah lencana perak bergambar tengkorak di atas bulan sabit dia tunjukkan ke depan wajah Mahesa Danu.


"Atas dasar ini. Kau sudah tahu apa artinya ini bukan?", Mayang Koro menyeringai lebar menatap wajah Mahesa Danu.


"Lencana khusus sentana Kadipaten Matahun?


Da-darimana kau mendapatkan benda ini", suara ketakutan terucap dari bibir Mahesa Danu. Pemilik lencana perak itu adalah orang yang tidak bisa di ganggu karena ia adalah kerabat dekat istana Kadipaten Matahun.


"Aku adalah adik Adipati Matahun. Kau sudah paham sekarang?", Mayang Koro mendelik tajam ke arah Mahesa Danu.


HAAAAAHHH??!!!!


"Mohon ampun Gusti Pangeran!


Hamba buta tidak bisa melihat orang besar. Mohon ampuni nyawa hamba", Mahesa Danu langsung berlutut dihadapan Mayang Koro. Dia tahu, satu perintah dari Mayang Koro bisa membuat nya menderita.


Para prajurit Pakuwon Bandar langsung mengikuti Mahesa Danu. Meski hanya menjalankan perintah, tapi jika Mayang Koro tidak terima bisa berakibat fatal.


"Dengar!


Aku tahu kalian memburu para pendekar karena kematian Lembu Rungkut bukan? Kakak mu itu terbunuh oleh makhluk hitam tinggi besar yang menjadi penghuni Pertapaan Gunung Penanggungan.


Itu juga karena kesalahannya sendiri yang bersekutu dengan setan untuk mendapat keuntungan.


Aku sudah menulis surat kepada Adipati Matahun untuk menetapkan pemimpin Pakuwon Bandar selanjutnya.


Sekarang kalian bubar. Jangan menggangguku atau kalian semua akan menanggung akibatnya", ancam Mayang Koro yang langsung membuat para prajurit Pakuwon Bandar dan Mahesa Danu cepat cepat menyembah lalu pergi dari tempat itu.


"Kau hebat juga, Kisanak..


Tak rugi mengajak mu ke Goa Selomangleng", puji Nyi Sawitri sambil tersenyum tipis.


"Urusan kecil begini Nyi Dewi, bukan masalah besar", ujar Mayang Koro dengan cepat.


Jalan yang mereka lalui semakin mengecil hingga hanya menjadi jalan setapak yang membelah hutan lebat. Jalan semakin lama semakin menanjak.


"Aku rasa kuda kita hanya bisa sampai disini Nyi Dewi..


Selanjutnya kita harus berjalan kaki menuju Goa Selomangleng. Goa itu ada di lereng bukit depan sana. Tidak jauh dari sini", ujar Mayang Koro alias Pendekar Tombak Suci sambil melompat turun dari kudanya.


"Baiklah semua nya, kita berjalan kaki dari sini", teriak Nyi Sawitri yang segera membuat semua orang di rombongan itu melompat turun dari kuda mereka masing-masing.


Usai mengikat tali kekang kudanya pada semak belukar yang ada di tempat itu, Arya Pethak segera mengikuti langkah Mayang Koro yang menjadi penunjuk jalan.


Klungsur megap-megap mengatur nafasnya dan menjadi yang paling belakang di rombongan itu.


"Ayo Sur, masak kalah sama perempuan?", teriak Anjani dari atas jalan.


"Dasar sompret!!


Enak sekali kau bilang begitu? Aku tidak terbiasa jalan di tempat keparat seperti ini", Klungsur geram di ejek Anjani. Dia segera menyusul para anggota rombongan yang lain.


Di atas bukit, sebuah tebing batu tinggi di lereng Gunung Penanggungan berdiri. Tepat di tengah nya, sebuah goa menganga lebar layaknya mulut raksasa.


"Kita sudah sampai. Ayo kita kesana", ajak Mayang Koro. Rombongan itu segera bergerak menuju ke mulut Goa Selomangleng. Begitu sampai, Mayang Koro segera menghentikan langkahnya.


"Aku hanya bisa mengantar mu sampai di sini saja, Arya Pethak.


Kau silahkan masuk sendiri. Berhasil atau tidaknya kau mendapatkan Batu Inti Naga itu tergantung pada keberuntungan mu sendiri", ujar Mayang Koro sembari menatap wajah Arya Pethak.


"Lantas bagaimana caranya aku mendapatkan batu mustika itu, Kisanak?", tanya Arya Pethak segera.


"Kau harus bersemedi di dalam Goa Selomangleng ini, Arya Pethak.


Menurut guru ku, untuk mendapatkan batu mustika itu kau harus menemui penjaga Gunung Penanggungan ini lewat semedi yang kau lakukan.


Sebaiknya kau masuk sendiri ke dalam goa ini Arya Pethak. Kami akan menunggu mu di luar goa", sahut Nyi Sawitri alias Dewi Bukit Lanjar sambil tersenyum tipis.


Mendengar penuturan Nyi Sawitri dan Mayang Koro, Arya Pethak mengangguk mengerti. Segera pemuda tampan itu melangkah masuk ke dalam Goa Selomangleng sembari membawa sebuah obor yang di persiapkan sebelumnya.


Melihat Arya Pethak masuk sendirian, Klungsur segera mendekati Nyi Sawitri.


"Kenapa Ndoro Pethak hanya masuk sendiri, Nini Dewi?


Kalau boleh saya ingin menemani nya", ujar Klungsur sembari menatap wajah Nyi Sawitri.

__ADS_1


"Kau memang abdi setia, Klungsur..


Tapi kalau kau masuk, kau hanya akan mengganggu nya bertemu penunggu Gunung Penanggungan. Lagi pula apa kau tidak takut bertemu dengan seekor naga?", Nyi Sawitri tersenyum simpul.


Muka Klungsur langsung pucat seketika saat mendengar ucapan Nyi Sawitri. Membayangkan seekor naga dengan nafas menyemburkan api membuatnya bergidik ngeri.


"Kalau begitu aku tetap disini saja Nini Dewi, menemani Anjani dan Rara Larasati, aku takut mereka kesepian kalau aku ikut Ndoro Pethak", jawab Klungsur dengan cepat.


"Alah gaya mu. Bilang saja kalau kau takut", sahut Anjani sambil mencebikkan bibir nya. Klungsur tak menjawab lagi.


Sementara itu Arya Pethak semakin masuk ke dalam goa. Semakin lama semakin gelap dan dingin. Saat sampai di sebuah ruangan yang luas dengan sebuah batu besar yang rata Arya Pethak berhenti. Obor di tangan kanannya mati.


"Hemmmmmmm..


Mungkin aku di takdirkan bersemedi di sini", gumam Arya Pethak yang kemudian duduk bersila di atas batu.


Perlahan Arya Pethak menutup seluruh panca indera nya kemudian bersemedi mengheningkan cipta pada Sang Hyang Akarya Jagat.


Setelah lama bersemedi, tiba tiba ruangan itu menjadi terang benderang.


Seekor naga berkulit hijau kebiruan muncul dari lorong lain. Naga itu langsung mendekati Arya Pethak yang bersemedi dengan tenang.


"Siapa kau anak muda? Kenapa membuat tempat tinggal ku Sang Naga Api menjadi panas?", tanya naga siluman itu dengan cepat.


Arya Pethak segera membuka mata nya. Dia sedikit kaget melihat sosok makhluk raksasa di hadapannya itu. Segera dia berjongkok dan menyembah pada naga di hadapannya.


"Mohon maafkan hamba, Eyang Naga Api.


Hamba Arya Pethak, dari Bukit Kahayunan. Datang kemari ingin meminta Batu Inti Naga kepada mu", ucap Arya Pethak sambil menghormat pada Sang Naga.


Hemmmmmmm...


"Batu Inti Naga adalah inti dari kehidupan ku. Kalau kau meminta nya, itu artinya kau ingin nyawa ku.


Hanya keturunan Lokapala saja yang berhak untuk mendapatkan nya. Apa kau adalah keturunan Lokapala?", Naga itu mendengus keras.


"Hamba tidak mengerti maksud Eyang Naga Api", Arya Pethak menjawab dengan sopan.


"Akan ku lihat apa kau masih keturunan Lokapala atau bukan. Jika kau keturunan Lokapala, maka akan ku berikan Batu Inti Naga kepada mu. Jika bukan, kau akan ku bunuh", mata Sang Naga Api kemudian bersinar keemasan dan menatap wajah Arya Pethak. Dalam pandangan Sang Naga Api di dahi Arya Pethak muncul sebuah tanda suci yang merupakan anugerah Dewata kepada semua keturunan Lokapala.


"Hahahaha..


Ternyata kau benar benar keturunan Lokapala. Baiklah akan kuberikan Batu Inti Naga kepada mu. Bersamaan dengan lebur nya Batu Inti Naga kedalam tubuh mu, kau akan menerima kekuatan yang luar biasa.


Matamu akan setajam elang, kulit mu sekeras sisik naga, tenaga mu akan berlipat ganda.


Namun ingat, di dalam kekuatan yang besar tersimpan tanggung jawab yang besar pula.


Bersemedi lah, akan ku gunakan kekuatan terakhir ku untuk membawa kau ke alam lain. Disini satu hari akan sama seperti 1 purnama di alam itu. Jika kau berbakat, kau tidak perlu waktu lama", ujar Sang Naga Api dengan cepat.


"Hamba mengerti Eyang Naga Api", jawab Arya Pethak segera. Pemuda tampan itu segera duduk bersila di atas batu. Seberkas sinar keemasan keluar dari dahi Sang Naga Api lalu menyinari tubuh Arya Pethak. Sekejap kemudian Arya Pethak sudah berpindah ke alam lain.


Sang Naga Api lalu meletakkan Batu Inti Naga ke dada Arya Pethak yang selanjutnya Batu Inti Naga melesak masuk ke dalam tubuh Arya Pethak yang tengah bertapa untuk meleburkan Batu Inti Naga ke dalam tubuhnya. Tubuh Arya Pethak di liputi oleh sinar kuning keemasan.


Hari berganti hari. Tak terasa sudah sepekan Nyi Sawitri, Klungsur, Anjani, Rara Larasati, Mayang Koro dan Jalu Langit menunggu Arya Pethak keluar dari Goa Selomangleng. Selama menunggu, Mayang Koro dan Jalu Langit yang mencari makanan untuk mereka semua.


Klungsur mondar mandir di depan mulut Goa Selomangleng. Meski beberapa hari yang lalu omongan Nyi Sawitri membuat nya takut, namun kali ini dia khawatir dengan keselamatan Arya Pethak yang sudah sepekan berada di dalam goa. Klungsur memberanikan diri untuk masuk. Saat hendak melangkah, terdengar suara Anjani menegur nya.


"Mau kemana kau Sur?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Apapun yang terjadi, aku selalu bernyanyi.


Hayuk berteman dengan author di IG author : ebez2812


__ADS_2