Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Ajian Halimun


__ADS_3

Limbur Wisesa, Nay Kemuning dan Mayangsari terkejut bukan main mendengar syarat yang di ajukan Arya Pethak. Mereka bertiga yang bertahun-tahun lamanya menjadi murid Ki Buyut Mangun Tapa saja tidak berani untuk meminta pendekar tua yang di juluki Si Sesat Tua oleh Resi Jati Waluyo itu. Dan sekarang seorang pemuda yang entah darimana datangnya berani tawar menawar dengan guru mereka.


'Huh cari mati.. Aku yakin guru tak akan semudah itu menurunkan ilmu nya pada kau, Arya Pethak ', batin Limbur Wisesa sambil mencebikkan bibir nya.


"Nay, pemuda ini berani juga ya tawar menawar dengan guru. Ya aku berharap agar guru tidak murka dan menghajarnya sampai babak belur", bisik Mayangsari lirih namun masih terdengar di telinga Nay Kemuning yang berdiri di sebelah nya. Nay Kemuning tak menjawab, cuma sedikit menyesalkan sikap berani Arya Pethak.


Hemmmmmmm..


"Dasar budak tengik!!


Kau berani sekali tawar menawar dengan ku. Apa yang membuat mu begitu yakin aku akan menurunkan Ajian Halimun padamu?", Ki Buyut Mangun Tapa mendengus dingin.


"Saya tidak berani untuk yakin Resi Buyut akan menurunkan ilmu itu pada saya. Tapi jika mewakili Resi Buyut Mangun Tapa tanpa memamerkan kepandaian ilmu beladiri yang dimiliki oleh Resi Buyut, apakah para juri uji kemampuan beladiri itu akan percaya kalau saya adalah murid dari Perguruan Gunung Ciremai, Resi Buyut?", Arya Pethak mengeluarkan alasan nya.


Mendengar itu, kening Ki Buyut Mangun Tapa berkerut sedikit. Dia menyadari bahwa perkataan Arya Pethak ada benarnya juga.


"Alasan mu masuk akal juga, tapi kenapa kau meminta Ajian Halimun dan bukan ilmu kanuragan yang lain?


Coba katakan alasan mu biar aku lebih yakin bila ingin menurunkan ilmu itu kepada mu?", ujar Ki Buyut Mangun Tapa sembari menatap tajam ke arah Arya Pethak.


"Saya telah memiliki beberapa ilmu kanuragan untuk menghancurkan, ilmu kanuragan untuk pertahanan dan gerakan cepat pun saya sudah miliki. Yang kurang hanya ilmu kebatinan tingkat tinggi yang membuat saya berpindah tempat secara cepat.


Karena itu saya memberanikan diri untuk meminta Resi Buyut menurunkan ilmu itu kepada ku", Arya Pethak membungkukkan badannya pertanda dia hormat kepada Ki Buyut Mangun Tapa. Sesungguhnya Arya Pethak melakukan ini semua atas saran Resi Jati Waluyo pada percakapan tempo hari sebelum berangkat ke Galuh Pakuan.


Hemmmmmmm..


"Baiklah aku setuju dengan persyaratan mu, budak tengik. Besok malam kau ikut aku. Sekarang sudah malam waktunya untuk beristirahat ", ucap Ki Buyut Mangun Tapa sambil tersenyum tipis.


Limbur Wisesa, Nay Kemuning dan Mayangsari melotot lebar saat mendengar ucapan Ki Buyut Mangun Tapa. Mereka bertiga seperti tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan mata mereka. Ada rasa tidak rela bercampur iri di hati mereka masing-masing melihat Arya Pethak begitu mudahnya mendapatkan Ajian Halimun dari Ki Buyut Mangun Tapa, tapi mereka juga tidak berani membantah perkataan sang guru.


Malam semakin larut. Udara semakin dingin di lereng Gunung Ciremai seolah ingin membekukan segala sesuatu yang ada disana. Malam itu karena tidak ada tempat lagi untuk Klungsur, terpaksa Arya Pethak dan Klungsur berbagi kamar tidur. Arya Pethak bersemedi di atas ranjang sedangkan Klungsur menggelar tikar daun pandan di lantai untuk merebahkan tubuhnya yang lelah dan mengantuk.


Kokok ayam jantan berkokok lantang dari kandang ayam di belakang rumah Ki Buyut Mangun Tapa, menandakan bahwa pagi sebentar lagi akan tiba. Perlahan mentari mulai menampakkan diri di langit timur, mengusir dingin malam yang menyelimuti lereng Gunung Ciremai.


Pagi itu, Mayangsari sudah menghangatkan air untuk merebus singkong dan pisang untuk sarapan pagi mereka. Tak lupa memetik cabai rawit di kebun kecil di samping halaman rumah. Dengan sedikit gula merah dan garam, Nay Kemuning mengulek bumbu itu diatas lemper batu untuk menjadi pelengkap makan singkong rebus nya. Sedangkan Limbur Wisesa membawa dua jun bambu betung untuk mengisi kebutuhan air dapur.


Anjani pun ikut membantu mereka dengan mengupas kulit singkong yang akan di rebus. Sedangkan Arya Pethak menyusul Limbur Wisesa mengambil air dengan dua jun yang tersisa di dekat dapur.


Klungsur? Haehh, pemuda bogel itu masih asyik bermimpi indah sambil tidur bergelung layaknya seekor kucing manis.


"Hooooaaaahhhmmmmm...


Ndoro Pethak bangun Ndoro, sudah pagi", ujar Klungsur sembari melipat jarit lompong kali selimutnya. Pemuda bogel itu mengucek matanya sambil menguap beberapa kali sebelum melihat ke arah ranjang tidur.


Begitu melihat ranjang tidur sudah kosong, Klungsur langsung keluar dari kamar. Tak disangka malah bertemu dengan Anjani yang baru selesai mengupas kulit singkong dan bermaksud untuk menambah rebusan singkong dengan mengambil beberapa umbi yang ada di dekat kandang ayam.


"Eh Anjani, Ndoro Pethak pagi pagi buta begini kemana? Kog sudah tidak ada di kamar", tanya Klungsur sambil memutar pinggang nya hingga terdengar bunyi kreeekkk.


"Hah, pagi buta?!!


Eh tukang bangkong (terlambat bangun), ayo ikut aku", Anjani menggelandang tangan Klungsur keluar rumah.


"Sekarang lihat itu matahari seberapa tinggi ha? Kita itu numpang tinggal disini, perasaan sedikit dong. Mbok kebiasaan mu bangun terlambat itu di kurangi saat bertamu seperti ini. Jangan sampai di anggap orang tidak tahu diri", Anjani menunjuk ke arah matahari pagi yang sudah bersinar terang di langit. Sambil menggerutu dalam hati, Anjani melengos pergi ke arah tempat singkong berada, meninggalkan Klungsur yang malu karena terlambat bangun. Klungsur langsung bergegas mengambil sapu lidi dan menyapu halaman rumah itu dengan penuh semangat.


Arya Pethak dan Limbur Wisesa melesat cepat dari sendang kecil di bawah pohon beringin sembari membawa jun bambu betung yang terisi air bersih.


Dengan gerakan ringan seperti kapas, dua pemuda itu susul menyusul membawa jun di punggung mereka masing-masing. Dalam hal ini, ilmu meringankan tubuh Arya Pethak jauh lebih unggul dibandingkan dengan Limbur Wisesa.


"Aku akui bahwa ilmu meringankan tubuh milik saudara Arya Pethak jauh lebih baik dari ku", ujar Limbur Wisesa sambil menatap ke arah Arya Pethak yang menuangkan air bersih ke gentong besar penyimpan air dapur.

__ADS_1


"Saudara Limbur Wisesa terlalu memuji..


Kepandaian ku tak lebih baik dari Saudara Wisesa. Saudara tadi terlihat tidak serius beradu kecepatan dengan ku", Arya Pethak tersenyum simpul sembari mengaitkan tali jun bambu ke arah tempat nya di sisi dinding kayu.


"Kau terlalu rendah hati saudara ku.. Setelah Guru nanti menurunkan Ajian Halimun, kau akan menjadi adik seperguruan ku, saudara Pethak", Limbur Wisesa ganti menuangkan air bersih ke gentong.


"Tentu saja saudara Wisesa. Aku akan senang sekali jika bisa memanggil mu kakak seperguruan", jawab Arya Pethak sambil tersenyum tipis.


Pagi itu mereka berkumpul di serambi kediaman Ki Buyut Mangun Tapa untuk sarapan pagi bersama. Selepas sarapan pagi, Ki Buyut Mangun Tapa membawa ke sebuah goa di lereng Gunung Ciremai yang cukup jauh dari tempat kediamannya.


"Arya Pethak,


Bertapa lah selama 3 hari disini. Heningkan cipta, rasa dan karsa mu untuk menjernihkan hati dan pikiran mu. Selepas itu, aku akan menurunkan Ajian Halimun padamu sesuai janji ku", ujar Ki Buyut Mangun Tapa dengan cepat.


"Aku patuh pada perintah Guru Resi", Arya Pethak menghormat pada Ki Buyut Mangun Tapa kemudian segera duduk bersila di dalam goa yang tidak begitu dalam. Segera dia bertapa, mematikan semua indra perasa nya dan tenggelam dalam semedi pada Sang Hyang Tunggal.


Usai melihat itu, kabut putih menutupi seluruh tubuh Ki Buyut Mangun Tapa. Bersama dengan desiran angin, Ki Buyut Mangun Tapa menghilang dari pandangan.


Tiga hari berlalu dengan cepat. Selama masa pertapaan nya, berbagai godaan muncul di dalam alam bawah sadar Arya Pethak seperti permintaan tolong Rara Larasati, bayangan wajah Dewi Retno Wulan dari Kurawan, juga panggilan Mpu Prawira dan Nyi Ratih dari Bukit Kahayunan.


Namun keteguhan hati Arya Pethak menggugurkan itu semua. Pendekar muda itu tetap tegak duduk bersila tanpa bergeming sedikitpun.


Tepat pada tengah malam hari ketiga menuju hari keempat pertapaan Arya Pethak, Ki Buyut Mangun Tapa datang sesuai janji nya. Melihat Arya Pethak yang masih tegak dalam semedi tapa brata nya, Ki Buyut Mangun Tapa tersenyum penuh arti.


'Budak tengik ieu hebat pisan euy ( Bocah tengik ini hebat juga ya)", gumam Ki Buyut Mangun Tapa sambil melangkah mendekati Arya Pethak. Tangan kanan Ki Buyut Mangun Tapa langsung di letakkan pada ubun ubun Arya Pethak.


"Arya Pethak, bangun lah dari tapa brata mu", ujar Ki Buyut Mangun Tapa dengan nada suara berat. Mata Arya Pethak perlahan terbuka dan menatap ke arah Ki Buyut Mangun Tapa.


"Jangan banyak tanya..


Tenangkan batin mu, kosongkan pikiran mu. Aku akan menurunkan Ajian Halimun ku padamu ", imbuh Ki Buyut Mangun Tapa sambil tersenyum tipis. Arya Pethak kembali memejamkan matanya, menata pikiran dan panca indera nya.


Begitu kabut putih itu terserap sempurna oleh Arya Pethak, Ki Buyut Mangun Tapa melepaskan tapak tangan kanan nya dari ubun ubun Arya Pethak. Lelaki sepuh berjenggot putih panjang itu langsung menghela nafas panjang, lalu tersenyum simpul menatap ke arah Arya Pethak yang wajahnya sempat memucat akibat hawa dingin luar biasa yang meresap ke dalam tubuh nya. Perlahan wajah Arya Pethak pulih seperti sedia kala.


"Buka mata mu, Arya Pethak", perintah Ki Buyut Mangun Tapa yang segera membuat Arya Pethak membuka mata nya. Pemuda tampan itu segera beranjak dari tempat bertapa nya dan berjongkok di depan Ki Buyut Mangun Tapa.


"Terimakasih banyak Guru Resi sudah bersedia menurunkan Ajian Halimun pada ku", ujar Arya Pethak sambil menyembah pada kakek tua berjenggot putih panjang di depannya itu.


"Budak tengik, ayo kita kembali ke rumah ku. Sebentar lagi ada tamu yang berkunjung ", Ki Buyut Mangun Tapa tersenyum tipis.


Kokok ayam hutan bersahutan menandakan bahwa pagi akan segera tiba.


Ki Buyut Mangun Tapa melangkah keluar dari goa bersamaan kabut putih menutupi seluruh tempat itu, dan bersama angin Ki Buyut Mangun Tapa menghilang.


Arya Pethak segera bersedekap tangan di depan dada. Sekejap kemudian, kabut putih menutupi tempat itu lalu tubuh Arya Pethak langsung lenyap dari pandangan bersama angin yang berhembus.


Setelah Ki Buyut Mangun Tapa sampai di rumah nya, tak selang sekejap mata Arya Pethak muncul dengan cara yang sama. Kedatangan Arya Pethak dan Ki Buyut Mangun Tapa disambut hangat oleh para murid Perguruan Gunung Ciremai dan Anjani, kecuali Klungsur yang masih tertidur pulas di ranjang tidur Arya Pethak.


Saat matahari sepenggal naik ke langit timur, dua bayangan putih melesat cepat dari bawah. Mereka adalah seorang kakek tua bertubuh gempal dengan jenggot lebat berwarna hitam dan seorang lelaki paruh baya berkumis tipis namun berambut putih.


Dua orang itu adalah adik seperguruan Ki Buyut Mangun Tapa yang bernama Buyut Ragasuci dan Resi Ajimulya. Mereka berdua segera masuk ke dalam serambi kediaman pemimpin tertinggi Perguruan Gunung Ciremai untuk menemui Ki Buyut Mangun Tapa yang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Akang Mangun Tapa,


Bagaimana persiapan murid murid mu yang akan kau bawa ke Istana Atap Langit? Aku lihat ada dua orang 3 orang baru di tempat mu ini", tanya Buyut Ragasuci sambil mengelus jenggotnya yang lebat.


"Hanya empat orang yang akan ikut uji kemampuan beladiri dari tempat ku, adi Ragasuci. Sisanya hanya sebagai penggembira saja.


Tiga murid mu dan 3 murid adik Ajimulya sudah siap bukan?", tanya Ki Buyut Mangun Tapa seraya menghitung sesuatu di tangan kanannya.

__ADS_1


"Murid kami sudah siap dari kemarin Akang Resi. Mereka telah menunggu di Desa Karang Mulya. Kapan pun kau ingin berangkat, tinggal beritahu mereka", sahut Resi Ajimulya dengan penuh semangat.


"Baguslah kalau begitu..


Adik Ragasuci, suruh dua murid mu untuk menjaga kediaman ku ini selama aku mengantar peserta uji kemampuan beladiri", perintah Ki Buyut Mangun Tapa pada Buyut Ragasuci.


"Akang Mangun Tapa tidak perlu khawatir soal itu. Begitu Akang berangkat, mereka akan segera sampai di tempat mu ini", usai mendengar jawaban Buyut Ragasuci, Ki Buyut Mangun Tapa manggut-manggut mengerti.


Setelah kepergian mereka berdua, Ki Buyut Mangun Tapa langsung memerintahkan kepada Nay Kemuning, Limbur Wisesa, Mayangsari dan Arya Pethak untuk bersiap berangkat ke Istana Atap Langit. Anjani dan Klungsur pun ikut berkemas untuk mengikuti langkah Arya Pethak.


Setelah meninggalkan tempat kediaman Ki Buyut Mangun Tapa, mereka segera menuju ke Desa Karang Mulya untuk bergabung bersama para murid Perguruan Gunung Ciremai lainnya yang telah lebih dulu sampai. Rombongan berjumlah 13 orang itu pun mulai bergerak menuju ke arah Gunung Pojoktiga, tempat Istana Atap Langit berada.


"Eneng Nay, Naha da pertandingan na kedah di Istana Atap Langit? Naon Gunung Ciremai henteu sanggem milampah pancen eta? ( Eneng Nay, kenapa sih pertandingan nya harus di Istana Atap Langit? Apa Gunung Ciremai tidak mampu melaksanakan tugas itu?), tanya Anjani yang berkuda di samping Nay Kemuning.


"Abdi Oge henteu ngartos Anjani ( Aku juga tidak paham Anjani)...


Tapi yang jelas mah, karena Istana Atap Langit punya banyak murid juga dianggap sebagai perguruan besar di timur Tatar Pasundan ini", jawab Nay Kemuning dengan cepat.


Klungsur yang berkuda di belakang mereka berdua langsung nimbrung pembicaraan antara mereka.


"Eneng Nay,


Aku kan mau belajar bahasa negeri Sunda nih ajarkan sedikit dong biar aku paham", ujar Klungsur dengan penuh harap.


"Boleh atuh Akang.. Akang Klungsur teh mau tanya apa?", Nay Kemuning menatap ke arah Klungsur. Wajah cantik bulat telur perempuan ini nampak lebih menarik saat angin berhembus perlahan melambaikan rambut panjang nya.


Klungsur menggaruk kepalanya sebelum berbicara.


"Naon artinya apa, Eneng Nay?".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Selamat pagi selamat berhari Minggu..

__ADS_1


Yang menjalani ibadah puasa, tetap semangat ya. Semoga lancar sampai magrib tiba.


__ADS_2