Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Misteri Gunung Penanggungan


__ADS_3

Arya Pethak menepuk jidatnya sendiri. Dia benar-benar lupa dengan tujuan awalnya ke Padepokan Padas Putih.


"Ndoro Pethak gak lupa, Nini Dewi..


Tapi Ndoro Pethak gak ingat sama sekali", sahut Klungsur sambil menjejalkan pisang rebus yang menjadi cemilan mereka sore itu.


"Itu sama saja Sur, kalau lupa ya pasti tidak ingat.


Majikan dan anak buah nya kog sama saja", gerutu Nyi Sawitri alias Dewi Bukit Lanjar.


"Sama apa nya Nini Dewi?", tanya Klungsur dengan cepat.


"Sama sama geblek", jawab Nyi Sawitri sambil beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Rara Larasati langsung ikut mengekor di belakang guru nya.


Malam datang menyelimuti Bukit Lanjar. Cahaya bulan selepas purnama. Angin dingin berhembus pelan dari puncak Gunung Kelud membuat udara begitu dingin menusuk tulang.


Suara kokok ayam jantan bersahutan menandakan bahwa pagi telah tiba di wilayah Bukit Lanjar. Tempat yang menjadi pendidikan para pendekar selama ratusan tahun itu benar benar dingin karena kabut tebal yang menutupi seluruh tempat itu.


Saat matahari mulai menyeruak di ufuk timur, perlahan kabut tebal mulai menghilang. Suasana dingin berganti hangat karena sinar matahari pagi yang cerah menerobos masuk lewat celah celah awan yang menutupi langit.


Pagi itu, usai mempersiapkan diri, rombongan Arya Pethak bersama Nyi Sawitri dan Rara Larasati berpamitan kepada Kebo Kenanga dan Dadung Winoto.


"Ku harap perjalanan kalian selamat dan tidak ada aral rintangan yang menghadang, Dewi", ujar Kebo Kenanga sang pemimpin Padepokan Padas Putih.


"Terimakasih atas doa mu Kebo Kenanga. Kami mohon diri", usai berpamitan, Nyi Sawitri langsung melompat ke atas punggung kuda nya. Rara Larasati, Arya Pethak, Klungsur dan Anjani segera mengikuti langkah perempuan paruh baya itu. Kemudian mereka segera menggebrak kudanya menuruni jalan ke arah Desa Watugede.


Kebo Kenanga dan Dadung Winoto mengantar mereka sampai pintu gerbang Padepokan Padas Putih hingga mereka menghilang di tikungan jalan.


Usai keluar dari Desa Watugede, rombongan itu segera memacu kuda mereka masing-masing ke arah Utara. Sesampainya di Pakuwon Lantir, mereka beristirahat sejenak untuk mengisi perut mereka. Setelah cukup beristirahat, rombongan Arya Pethak segera menggebrak kuda tunggangan mereka menuju ke arah timur.


Saat hampir senja, rombongan Arya Pethak menghentikan pergerakan nya di tepi sebuah hutan kecil yang menjadi batas wilayah Pakuwon Lantir dan Pakuwon Nangkan.


Mereka segera berbagi tugas. Arya Pethak dan Klungsur mencari makanan, sementara Anjani dan Rara Larasati menyiapkan tempat istirahat sembari mengumpulkan kayu bakar untuk berdiang nanti malam. Sementara itu Nyi Sawitri melesat entah kemana usai turun dari kudanya.


Klungsur menggerutu sambil menendang kayu kering yang dia jumpai.


"Dasar tidak berperasaan. Mentang mentang berilmu tinggi menindas ku seenak jidatnya.


Menyuruh aku cari makanan, di tempat seperti ini, apa yang bisa aku dapat coba?


Ah lebih baik aku mandi saja di sungai itu. Bau badan ku sudah mirip kuda", gerutu Klungsur sambil melangkah menuju ke arah sungai kecil itu.


Dengan cepat pria bogel itu melepaskan baju nya dan menceburkan dirinya ke dalam aliran sungai. Tubuh Klungsur terasa segar setelah berendam cukup lama di kedung sungai kecil.


Tanpa sengaja, Klungsur melihat ikan lele di aliran air yang sedikit kecil. Dengan cepat ia memburu dengan segenap kemampuan nya. Untung sewaktu menjadi abdi di Kepatihan Kadiri dia sering ke sawah bapaknya yang di dekat sungai. Hingga dia cukup mahir untuk menangkap ikan.


Setelah cukup lama, Klungsur bisa menangkap 10 ekor ikan lele yang lumayan besar. Dia dengan cekatan membersihkan isi perut ikan lele yang di dapatnya.


"Nah kalau begini bisa makan malam enak dengan ikan bakar hehehe..


Ndoro Pethak boleh jago urusan berantem tapi kalau urusan berburu Klungsur jagonya hehe", gumam Klungsur dengan pongahnya. Pria bogel itu dengan cepat berjalan ke arah tempat rombongan Arya Pethak sembari menenteng serenteng ikan lele.


"Nih lihat ini...


Kalau bukan aku yang hebat, kita tidak akan kelaparan malam ini", ujar Klungsur sambil mengangkat serenteng ikan lele nya pada Anjani dan Paramita.


"Wah hebat kau Sur, pintar mencari ikan.


Dulu di Kepatihan sering nyolong ikan di kolam ya?", seloroh Anjani yang membuat Rara Larasati terkekeh geli.


"Sialan, aku tidak pernah nyolong ya di kolam Ndoro Patih Pranaraja..


Tapi kalau ambil diam diam pernah sih", jawab Klungsur yang membuat Anjani tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban abdi setia Arya Pethak itu.


Satu bayangan putih berkelebat cepat dan..


Jleeggg!!


Semua mata melotot lebar melihat Arya Pethak datang dengan memanggul seekor babi hutan yang cukup besar. Muka sombong Klungsur langsung hilang melihat hewan hasil buruan Arya Pethak.


"Nah Sur,


Banyak mana hasil buruan mu di banding Ndoro Pethak?", iseng Anjani menggoda Klungsur yang langsung terdiam seketika.


"A-aku tidak suka daging celeng..


Malam ini aku makan daging ikan lele ku ini. Lebih sehat dan rendah lemak", ujar Klungsur dengan tergagap.


Arya Pethak menguliti babi hutan buruannya di bantu Anjani. Tak berapa lama kemudian, Dewi Bukit Lanjar kembali ke tempat mereka berkumpul dengan membawa buah buahan hutan yang di masukkan ke dalam ikatan kain.


Malam segera turun menggantikan senja. Arya Pethak dan Anjani memanggang daging babi hutan di atas api unggun yang menyala. Sedangkan Klungsur menikmati lele bakar yang dia tangkap di sungai kecil tadi. 4 ekor lele bakar di serahkan pada Nyi Sawitri dan Rara Larasati.


Aroma babi hutan panggang menyebar ke sekitar tempat itu. Klungsur yang baru saja menggasak seekor lele bakar mengendus aroma lezat yang memancing rasa laparnya. Apalagi melihat Arya Pethak mengiris daging paha babi hutan itu, air liur Klungsur langsung menetes.


"Ndoro Pethak,


Boleh minta sedikit daging celeng panggang nya? A-aku masih lapar", ujar Klungsur dengan malu malu.

__ADS_1


"Ambil saja Sur, kenapa harus minta ijin segala? Daging ini memang untuk kita semua kog", jawab Arya Pethak sambil tersenyum tipis.


"Huuuu....


Katanya gak suka daging celeng, eh ternyata di sikat juga", ejek Anjani yang membuat muka Klungsur memerah pertanda malu. Namun pemuda bogel itu tetap mengiris daging celeng panggang di depannya.


Usai menyantap makan malam, Arya Pethak segera merebahkan tubuhnya di dekat batu besar. Anjani sendiri segera mengecilkan api unggun yang masih menyala. Kelima orang itu beristirahat setelah lelah sehabis seharian berkuda.


Pagi menjelang tiba.


Usai merapikan barang bawaan dan membersihkan diri di sungai kecil dekat tempat mereka bermalam, rombongan Arya Pethak meneruskan perjalanan.


Usai melewati Pakuwon Nangkan dan berhenti untuk sarapan, rombongan Arya Pethak lantas bergerak ke timur tepatnya ke arah Pakuwon Bandar yang menjadi pakuwon terakhir sebelum masuk ke wilayah Gunung Penanggungan.


Hari telah sore, sebentar lagi senja menjelang. Saat memasuki wilayah kota Pakuwon Bandar, suasana terlihat begitu ramai. Beberapa penginapan telah penuh oleh orang orang yang bermalam di tempat itu.


Kejadian ini membuat Nyi Sawitri mengernyitkan keningnya. Setahu nya, Pakuwon Bandar biasanya sepi tidak seperti ini. Pasti ada sesuatu yang terjadi, batin Nyi Sawitri.


Perempuan paruh baya itu segera menghentikan langkah kaki kuda nya di sebuah penginapan yang terletak di selatan kota Pakuwon. Kebetulan Nyi Sawitri mengenal baik si pemilik penginapan.


Usai menambatkan kuda tunggangan nya di geladakan kuda, Nyi Sawitri memimpin rombongan memasuki penginapan. Kedatangan Nyi Sawitri membuat si lelaki paruh baya bernama Ki Murdoyo langsung mendekati Nyi Sawitri dan rombongannya.


"Nyi Sawitri? Benarkah ini kau?", tanya Ki Murdoyo si pemilik penginapan sembari menunggu jawaban dari guru Rara Larasati itu.


"Ki Murdoyo rupanya masih ingat dengan aku. Sudah bertahun-tahun lamanya tak bertemu tapi ingatan mu masih tajam juga", Nyi Sawitri tersenyum tipis.


"Bagaimana bisa aku lupakan semua pertolongan mu itu Nyi? Selamanya Nyi Sawitri adalah Dewi penyelamat ku.


Nah tumben sekali kau kemari? Ada apa Nyi?", tanya Ki Murdoyo dengan ramah.


"Aku ingin menginap di tempat mu ini, Ki Murdoyo. Tolong sediakan 5 kamar untuk kami", jawab Nyi Sawitri segera.


"Waduh Nyi, penginapan ku hampir penuh. Hanya 3 kamar yang kosong. Kalau kalian bersedia untuk berbagi tempat tidur, akan ku siapkan kamar kalian", ujar Ki Murdoyo dengan tak enak hati.


Nyi Sawitri segera menoleh ke arah orang orang di belakang nya. Melihat anggukan kepala mereka, Nyi Sawitri segera menoleh ke arah Ki Murdoyo.


"Baiklah,


Daripada kami bermalam di tempat terbuka lagi lebih baik berbagi tempat tidur.


Sebenarnya ada hal yang mengganjal pikiran ku Ki Murdoyo", ucap Nyi Sawitri sembari menatap wajah Ki Murdoyo.


"Apa itu Nyi?", tanya Ki Murdoyo dengan cepat.


"Semua penginapan di kota ini penuh. Padahal dulu tempat ini begitu sepi. Apa sebenarnya yang terjadi di sini?", Nyi Sawitri mengelus dagunya perlahan.


Karena itu banyak pendekar baik dari golongan hitam maupun putih berlomba-lomba untuk mendapatkan nya. Dan ini menjadi berkah tersendiri bagi kami para pengusaha penginapan di kota Pakuwon Bandar ini Nyi. Penginapan kami selalu penuh dengan orang menginap sebelum mencoba peruntungan untuk mendapatkan batu pusaka itu.


Namun aku dengar banyak pendekar yang terbunuh di Pertapaan Gunung Penanggungan karena bertarung melawan makhluk mengerikan itu. Banyak diantaranya yang tidak pernah kembali hidup-hidup", tutur Ki Murdoyo dengan cepat.


Ucapan Ki Murdoyo langsung mengagetkan rombongan Arya Pethak.


'Menurut guru, Batu Inti Naga ada di Gua Selomangleng. Bukan di Pertapaan Gunung Penanggungan. Kenapa batu ini bisa muncul di Pertapaan Gunung Penanggungan?


Hemmmmmmm, aku mencium sesuatu yang tidak beres disini', batin Nyi Sawitri.


"Ya sudahlah, terimakasih atas penjelasan mu Ki Murdoyo. Sekarang antar kami ke tempat beristirahat dulu.


Lainnya biar kami pikir besok pagi", ujar Nyi Sawitri yang segera melangkah menuju ke arah dalam.


Belum genap 2 langkah, sebuah suara berat menghentikan langkah kaki mereka.


"Ki Murdoyo,


Sediakan kamar tidur untuk ku dan 2 kawan ku ini", teriak seorang lelaki berewok dengan badan tinggi besar dengan angkuh dari pintu ruang depan penginapan. Mereka segera menoleh ke sumber suara. Ki Murdoyo dengan cepat mendekati lelaki bertubuh besar itu segera.


"Maaf Mahesa Danu,


Tempat penginapan kami sudah terisi orang semua nya. Silahkan cari tempat lain saja", ucap Ki Murdoyo dengan santun.


"Aku dengar luar tadi mereka baru saja kau beri kamar terakhir.


Dengar Ki Murdoyo, aku berikan harga 2 kali lipat dari yang mereka bayar. Berikan kami kamarnya sekarang", pinta lelaki bertubuh besar yang bernama Mahesa Danu itu sambil melemparkan sekantong kepeng perak kecil ke arah Ki Murdoyo. Dengan cepat, Ki Murdoyo menangkap kantong itu namun segera mengulurkan nya pada Mahesa Danu.


"Maaf Mahesa Danu,


Aku tidak bisa melakukannya. Kau silahkan pergi mencari tempat lain untuk bermalam", tegas Ki Murdoyo sembari berbalik arah. Mahesa Danu yang merasa di remehkan langsung mengayunkan tangan kanannya ke arah belakang kepala Ki Murdoyo.


Whhhuuuggghhhh...


Arya Pethak langsung menangkap pergelangan tangan Mahesa Danu yang hampir saja menghantam kepala Ki Murdoyo. Semua orang terkejut sekaligus geram melihat ulah Mahesa Danu.


"Jangan jadi pengecut dengan menyerang orang dari belakang, Kisanak.


Jaga sikap mu kalau tidak aku tidak segan segan untuk menghajar mu", ujar Arya Pethak sambil mencekal pergelangan tangan Mahesa Danu dengan kuat. Meski Mahesa Danu mengerahkan seluruh tenaga dalam nya namun dia tak mampu menggerakkan tangan kanannya sedikitpun dari pegangan Arya Pethak.


"Kurang ajar!

__ADS_1


Jangan mentang-mentang kau adik Akuwu Bandar maka kau bisa bertindak sewenang-wenang, Mahesa Danu.


Pendekar muda, tolong lepaskan pegangan tangan mu.


Dan kau Mahesa Danu, sekarang juga keluar dari tempat ini!", teriak Ki Murdoyo dengan lantang. Arya Pethak langsung melepaskan pegangan tangan nya.


"Huhhhhh..


Jangan kira karena kau punya pendekar yang melindungi mu, kau bisa selamat Ki Murdoyo. Hari ini aku mengalah, tapi masalah ini tidak selesai begitu saja.


Ayo kita pergi", ujar Mahesa Danu yang langsung membalik badannya keluar dari penginapan Ki Murdoyo diikuti oleh kedua orang yang bersamanya.


Ki Murdoyo menghela nafas berat setelah mereka pergi. Nyi Sawitri segera menatap wajah Ki Murdoyo yang seperti sedang menyimpan masalah.


"Kenapa wajah mu kusut begitu Ki Murdoyo? Kau menyesal kehilangan uang tadi?", tanya Nyi Sawitri sambil tersenyum tipis.


"Bukan itu masalah nya Nyi..


Mahesa Danu memang sengaja mencari masalah dengan ku. Sudah sepekan ini dia terus saja meminta ku untuk menjual penginapan ini kepadanya. Dia telah membeli 4 dari sepuluh penginapan yang ada di kota Pakuwon Bandar ini Nyi. Sepertinya dia ingin menguasai semua penginapan di tempat ini.


Aku tidak takut kepada nya bila dia hanya mengandalkan kekuatan uang nya sendiri, tapi yang menjadi masalah adalah kakaknya yang menjadi Akuwu di Pakuwon Bandar ini", jawab Ki Murdoyo sembari menghembuskan nafas berat.


Mendengar penuturan Ki Murdoyo, baik Arya Pethak maupun Nyi Sawitri turut prihatin. Namun mereka juga tidak bisa membantu apa apa kecuali jika terjadi penyerbuan ke penginapan Ki Murdoyo oleh anak buah Mahesa Danu.


Nun jauh dari tempat itu, di lereng Gunung Penanggungan.


Sesosok makhluk hitam besar ,tengah berdiri di bawah pohon sawo besar yang ada di tengah bekas Pertapaan Gunung Penanggungan. Sosok itu berdiri seolah menunggu kedatangan seseorang.


Tak berapa lama kemudian sesosok bayangan hitam melesat dari arah barat. Dengan cepat ia mendekati sosok makhluk hitam di bawah pohon sawo. Samar samar terlihat si bayangan memakai ikat kepala biru.


"Semua sudah kau jalankan sesuai perintah ku?", terdengar suara berat dari sosok makhluk hitam itu yang sepertinya tengah memunggungi bayangan yang baru datang. Cahaya bulan yang di muncul di sela awan tebal benar benar membuat pandangan mata terbatas.


"Sudah Gusti...


Semuanya berjalan sesuai dengan rencana Gusti", jawab si bayangan hitam itu dengan penuh hormat kepada sosok makhluk hitam tinggi besar di bawah pohon sawo itu.


"Bagus hehehehe...


Semakin banyak pendekar yang kemari, semakin cepat apa yang aku inginkan tercapai. Kau boleh pergi", ujar sosok makhluk hitam tinggi besar itu sambil mengibaskan tangannya.


Hamba mohon diri Gusti ", ujar si bayangan hitam menghormat pada sosok makhluk hitam tinggi besar itu segera kemudian melesat cepat menuruni jalan dari lereng Gunung Penanggungan. Sosok makhluk hitam tinggi besar itu segera mengepalkan tangannya sebelum berbicara sambil tertawa lepas.


"Hehehe...


Sebentar lagi Nyi... Sebentar lagi kau akan bangkit dari kematian mu hahahaha...


Hahahaha....!!!!!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Apa sebenarnya yang tengah terjadi di lereng Gunung Penanggungan??


Selamat pagi selamat beraktivitas..


Jangan lupa jaga kesehatan agar terhindar dari penyakit ya..

__ADS_1


__ADS_2