Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Sinar Rembulan


__ADS_3

Anjani langsung melesat ke arah Kekayi sedangkan Nay Kemuning ke arah Banawati. Rasa kesal yang memuncak karena perbuatan mereka kemarin benar benar membuat mereka bertekad untuk menghajar dua wanita dari Lembah Seribu Bunga itu.


Anjani dengan cepat melayangkan tamparan ke arah pipi Kekayi, namun perempuan cantik itu segera menunduk menghindari serangan. Dengan gerakan cepat, Anjani merubah gerakan tangan nya menjadi sikutan ke arah ulu hati lawan dengan tambahan tapak tangan kiri nya untuk menguatkan.


Dhheeepppphh...


Kekayi terhuyung huyung mundur. Dengan cekatan, Anjani melesat cepat kearah kaki Kekayi dan melakukan tendangan menggunting pada kaki Kekayi yang goyah.


Bhhhuuuuuuggggh..


Wanita cantik berbaju merah itu langsung terjatuh tengkurap ke tanah. Anjani tidak membuang kesempatan, langsung mendepak dada perempuan itu dengan cepat.


Dhaaaasssshhh!


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Kekayi menjerit keras. Serangan brutal Anjani yang kalap karena dendam dengan perlakuan yang mereka kemarin benar benar kejam.


Di sisi lain pun, Nay Kemuning langsung bergerak cepat tak memberi kesempatan pada Banawati untuk mengambil nafas. Serangan serangan nya tertuju pada titik-titik mematikan di tubuh Banawati.


Pedang Cambuk Naga yang lentur, berbelok arah saat Banawati berhasil menghindar dari tusukan awal.


Wheeerrrrrr...


Banawati berusaha menjauh dengan bersalto menjauh ke belakang hingga ujung pedang Nay Kemuning menghantam tanah.


Blllaaaaaarrr!!!


Nay Kemuning langsung melesat sembari menyentak Pedang Cambuk Naga hingga pedang memendek untuk serangan jarak dekat. Dengan sepenuh tenaga, Nay Kemuning membabatkan Pedang Cambuk Naga ke arah paha Banawati yang baru saja bersalto. Secepat kilat, Banawati melenting tinggi ke udara namun Nay Kemuning tidak tinggal diam.


Angin dingin berdesir kencang di sekitar tapak tangan murid Perguruan Gunung Ciremai itu. Dia dengan cepat menghantamkan tapak tangan kiri nya kearah Banawati yang masih di udara.


Whhhuuuusssssshhhhhh..


Blllaaammmmmmmm!!!


Banawati menjerit keras saat Ajian Bayu Gunung yang dilepaskan Nay Kemuning menghantam punggung nya. Wanita cantik berbaju merah itu langsung terpental jauh dan menghantam tanah dengan keras.


Huuuuooogggghhh


Dia muntah darah segar sambil berusaha untuk bangkit dari tempat itu. Saat yang bersamaan Kekayi juga di jatuhkan oleh Anjani dengan satu hantaman Ajian Tapak Ular Siluman.


Dua perempuan berbaju merah dari Lembah Seribu Bunga itu langsung merogoh kantong baju nya. Lalu melemparkan bola bola berwarna kuning kearah Anjani dan Nay Kemuning.


"Jurus yang sama tidak akan mempan lagi, bodoh", ujar Anjani sambil melemparkan 2 jarum beracun nya.


Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!!


Dua jarum berwarna hijau kehitaman melesat cepat kearah dua bola kuning yang dilemparkan dua anggota Lembah Seribu Bunga itu. Jarum Penghancur Sukma langsung menembus dua bola kuning dan menancap pada sebatang pohon randu alas yang ada di tepi jalan.


Jlaaarrrr!


Pohon randu alas besar itu berderak saat ledakan kecil itu terjadi. Di bekas ledakan, kulit pohon randu alas gosong seperti habis terbakar.


Melihat itu, Kekayi dan Banawati langsung mengeluarkan Jala Sukma pusaka andalan nya.


Arya Pethak yang baru saja menghajar beberapa orang Lembah Seribu Bunga langsung melesat cepat kearah Anjani dan Nay Kemuning sambil menghantamkan telapak tangan kanan dan kiri nya yang berwarna putih kebiruan saat Kekayi dan Banawati melemparkan Jala Sukma.


Blllaaammmmmmmm!!!


Kekayi dan Banawati terpental kembali dan muntah darah segar. Meski Jala Sukma masih utuh usai di hantam Ajian Guntur Saketi namun karena kalah tenaga dalam, dua orang pemimpin Lembah Seribu Bunga itu menderita luka dalam serius.


Tak ingin membuang waktu, Arya Pethak mengheningkan cipta sejenak dengan tangan kanan di depan dada.


Muncul sinar kuning kemerahan dari tubuh Arya Pethak dan sebuah keris dengan pamor yang menakutkan sudah tergenggam di tangan kanannya.


Sekali hentakan, Arya Pethak melenting tinggi ke udara dan mengacungkan Keris Mpu Gandring kearah Kekayi dan Banawati


Whhhuuuggghhhh!!


Sinar kuning kemerahan melesat cepat kearah dua orang Lembah Seribu Bunga itu. Sadar dirinya dalam bahaya, Kekayi dan Banawati menggunakan Jala Sukma untuk melindungi diri mereka dari cahaya kuning kemerahan dari Keris Mpu Gandring.


Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!!


Jala Sukma hancur berantakan bersamaan dengan tubuh Kekayi dan Banawati yang melayang cepat ke belakang dan menghantam pohon dan batu besar. Dua wanita dari Lembah Seribu Bunga itu tewas dengan darah mengalir dari lubang hidung, mata, telinga dan mulut mereka, serta tubuh yang separuh hangus seperti terbakar.


Melihat dua pimpinan mereka tewas, dua orang murid Lembah Seribu Bunga yang sedang menghadapi Klungsur memilih untuk kabur. Mereka segera melompat ke rerimbunan pepohonan hutan yang lebat untuk menyelamatkan diri.

__ADS_1


"Mampus kalian, wanita ******!", ujar Anjani sambil menendang kaki Kekayi yang sudah tidak bernyawa.


"Sabar atuh Teh Anjani..


Mereka mah sudah mati. Tak perlu di hajar lagi", Nay Kemuning menarik Anjani menjauh.


"Sur, periksa tubuh mereka. Periksa barangkali ada sesuatu yang berharga", perintah Arya Pethak pada Klungsur yang langsung membuat si pemuda bogel bergerak menggeledah mayat Kekayi dan Banawati. Dari mereka berdua Klungsur menemukan dua kantong kepeng perak yang lumayan banyak.


Mereka berempat segera melanjutkan perjalanan ke arah timur. Setelah melewati tapal batas Kadipaten Rajapura dan Kalingga, mereka terus bergerak cepat ke timur. Mereka berempat hanya berhenti sejenak untuk memberi makan kuda dan mengisi perut sebentar saja. Melewati beberapa Pakuwon, mereka berempat tiba di wilayah Pakuwon Salaka di barat kota Kadipaten Kalingga.


"Ndoro Pethak, sepertinya kita akan kemalaman di hutan kalau nekat meneruskan perjalanan.


Bagaimana kalau kita bermalam di desa ini saja?", ujar Klungsur sembari menatap ke arah langit barat yang mulai berwarna jingga.


"Aku setuju dengan mu Sur, tapi kali ini kau yang cari tempat menginap nya", Arya Pethak menarik tali kekang kudanya hingga kuda meringkik keras dan berhenti.


"Beres Ndoro, urusan kecil", ujar Klungsur sembari mengacungkan jempol nya.


Malam itu mereka bermalam di rumah kepala desa setelah Klungsur memberikan 10 kepeng perak sebagai biaya makan mereka berempat. Ini diluar pengetahuan Arya Pethak. Tentu saja sang kepala desa langsung mempersilahkan mereka bermalam dan menyembelih ayam untuk mereka. Di hitung darimana pun kepala desa itu tidak merugi sama sekali.


"Kog bisa kepala desa sampai menyembelih ayam untuk kita segala Sur? Kau bilang apa sih pada kepala desa?", Arya Pethak sedikit heran dengan penyambutan kepala desa yang sedikit berbeda.


"Ndoro, jelek jelek begini Klungsur jago kalau urusan ngibul sama orang apalagi cuma seorang kepala desa...


Kecil Ndoro, kecil...", Klungsur dengan besar kepala menyombongkan diri. Anjani sedikit tidak percaya dengan omongan Klungsur, Nay Kemuning yang belum lama mengenal Klungsur langsung memuji.


"Akang Klungsur teh hebat atuh..


Salut abdi mah sama akang", ujar Nay Kemuning sembari mengacungkan dua jempol nya pada Klungsur.


Mereka segera lahap menyantap makan malam istimewa mereka. Karena masakan yang lezat juga dalam keadaan lapar, satu bakul nasi dan satu ekor ayam habis mereka sikat. Melihat para tamu nya terlihat menikmati makanan mereka, sang kepala desa yang bernama Ki Suro itu langsung mendekati Klungsur.


"Juragan Klungsur,


Bagaimana makan malam nya? Apa cukup memuaskan?", tanya Ki Suro sambil tersenyum dan menggosok-gosokkan kedua tangan nya di depan dada.


"Sangat puas Ki..


Masakan kalian sangat enak. Ayam nya empuk dan nasi nya pulen", jawab Klungsur sembari membersihkan sisa daging ayam yang menyangkut di gigi.


"Kalau Juragan Klungsur puas dan mau ayam lagi, aku bisa siapkan orang untuk memasak nya..


Perkataan Ki Lurah Suro cukup jelas terdengar oleh telinga Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning. Mereka bertiga langsung melotot lebar ke arah Klungsur dengan geram. Mereka benar-benar di tipu oleh Klungsur.


Sadar sudah ketahuan, Klungsur langsung beringsut kabur.


"Itu kita selesaikan nanti dulu Ki lurah, perut ku tiba tiba terasa mules", ujar Klungsur sembari terbirit-birit menuju ke belakang.


Malam semakin larut. Cahaya bulan mendekati purnama msnyinari malam hari yang gelap. Jika biasanya malam terasa menyeramkan, namun jika mendekati purnama begini banyak orang yang duduk duduk di halaman rumah. Anak kecil bermain petak umpet, orang orang dewasa mengobrol dan bercengkrama bersama di bawah sinar bulan.


Di depan rumah, Arya Pethak terlihat duduk sendirian diatas dipan kayu sembari menatap rembulan yang nyaris bulat sempurna. Di temani secangkir wedang jahe dan beberapa potong pisang rebus, pria bertubuh kekar dengan wajah tampan dan senyum yang menawan itu terlihat memikirkan sesuatu.


"Apa abdi teh ngaganggu akang Pethak di dieu?"


Suara Nay Kemuning langsung menyadarkan Arya Pethak dari lamunannya. Pemuda tampan itu segera menoleh ke arah Nay Kemuning yang terlihat cantik dengan baju hijau kekuningan nya malam itu.


"Eh Nay, tidak kog ...


Tapi kau sebaiknya pakai bahasa wetan biar aku paham kau ngomong apa", jawab Arya Pethak segera.


"Jadi Eneng teh di suruh berdiri gitu akang? Tidak di persilahkeun duduk nya?", Nay Kemuning masih berdiri di tempatnya.


"Oh iya maaf.. Silahkan duduk Nay, lupa aku hehehehe", Arya Pethak cengengesan sambil menggeser tubuhnya ke ujung dipan kayu untuk memberi tempat Nay Kemuning duduk. Gadis cantik asal Mandala Saunggalah itu langsung meletakan pantatnya di tempat yang telah di sediakan.


"Akang teh kunanon di dieu? Eh maksudnya Nay, Akang kenapa disini? Ngalamun nya?", ujar Nay Kemuning membuka percakapan.


"Ah tidak Nay..


Aku hanya kangen dengan Romo dan biyung ku di bukit Kahayunan. Meskipun mereka berdua bukan orang tua kandung ku tapi mereka mengasihi ku melebihi putra mereka sendiri.


Aku sangat beruntung bisa di anggap sebagai anak oleh mereka", ujar Arya Pethak sambil tersenyum tipis.


"Akang teh masih beruntung karena masih ada orang yang menganggap akang sebagai keluarganya. Akang tahu sendiri cerita dari Guru mengenai paman tiri ku yang membunuh ayah ibu ku hanya demi kekuasaan?


Harapan ku terbesar adalah bertemu kakek yang mungkin sudah lupa atau bahkan tidak tahu tentang keberadaan cucu nya ini. Kita benar benar bukan orang yang beruntung nya dengan hangatnya kehidupan keluarga", ujar Nay Kemuning seraya ikut menatap sinar bulan yang cerah di langit malam. Setelah itu Nay Kemuning melirik ke arah Arya Pethak, pemuda tampan itu telah mencuri hati nya sejak pertama kali mereka bertemu.


"Selain ayah dan ibu angkat mu, Akang teh merindukan siapa lagi?", kali ini Nay Kemuning menatap wajah tampan Arya Pethak seakan mencari kejujuran dalam setiap omongan Arya Pethak.

__ADS_1


"Aku tidak merindukan orang lain Nay, hanya mereka", jawab Arya Pethak sambil kembali menatap ke arah rembulan malam.


"Pacar? Awewe gitu? Tak ada kah?", cecar Nay Kemuning yang mencoba untuk mengorek kejujuran hati Arya Pethak.


"Perempuan ya? Hemmmmmmm...


Mungkin hanya teman teman seperti Paramita dan Sekarwangi saja yang cukup istimewa di hati ku. Kalau lainnya, aku tidak yakin... Tapi aku terikat janji dengan Adipati Anjuk Ladang untuk menikahi putri nya sebagai hadiah sayembara tempo hari. Tapi entahlah aku juga tidak yakin dengan perasaan ku sendiri..


Ehhh, kenapa tiba-tiba kau tanyakan ini Nay?", Arya Pethak segera menoleh ke arah Nay Kemuning yang gelagapan dengan cara pandang Arya Pethak. Gadis cantik itu segera berusaha menata napas nya agar tidak kelihatan gugup.


."Eh itu akang Pethak..


Abdi teh jujur saja nih ya.. Abdi teh suka sama akang Pethak sejak kita pertama bertemu", Nay Kemuning langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan untuk menutupi wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus. Dia merutuki sendiri omongan yang baru saja keluar dari mulutnya.


Sesaat kemudian Arya Pethak menghela nafas panjang sebelum berbicara.


"Nay,


Aku ini bukan orang kaya. Bukan anak pejabat ataupun raja. Aku hanya seorang pendekar biasa yang masih memiliki tujuan yang mungkin sangat berat ke depannya.


Sekarang coba katakan alasan kenapa kau menyukai ku?", Arya Pethak menatap ke arah Nay Kemuning.


"Akang teh baik sama Nay, juga perhatian sama Nay.. Beberapa kali juga Nay di selamatkan oleh Akang Pethak..


Dan yang paling penting teh Akang Pethak itu ganteng hehehe...


Itu teh sudah lebih dari cukup buat Nay suka dan sayang sama Akang", Nay Kemuning tersenyum penuh arti.


Mendengar jawaban itu Arya Pethak terkekeh kecil.


"Sebenarnya yang sayang sama akang teh bukan Nay seorang loh", ujar Nay Kemuning yang langsung membuat Arya Pethak tersentak.


" Maksud mu apa Nay?", Arya Pethak menatap wajah cantik perempuan Tatar Pasundan ini dengan sedikit bingung.


"Teh Anjani. Apa akang juga tidak merasa sayang sama dia?", tanya Nay Kemuning sambil menatap ke arah Arya Pethak.


"Dia merawat ku dengan baik bahkan mengorbankan nyawa nya demi menolong ku. Sungguh suatu kebodohan jika aku tidak menyayangi nya", jawab Arya Pethak dengan menghela nafas panjang.


"Nah kau dengar sendiri kan Teh Anjani?", teriak Nay Kemuning sedikit keras.


Dari belakang muncul Anjani yang sedari tadi hanya diam dan menguping pembicaraan antara Arya Pethak dan Nay Kemuning. Begitu sampai di dekat dipan dekat Arya Pethak, Anjani langsung menunduk.


"Maafkan Anjani jika memiliki perasaan yang lebih terhadap Ndoro Pethak", ujar Anjani sambil menundukkan kepalanya.


Arya Pethak langsung menarik tangan Anjani dan perempuan itu langsung duduk di samping Arya Pethak.


"Kalian berdua memang pintar mengorek isi hati ku", puji Arya Pethak sambil kembali menatap sinar rembulan yang nampak indah di langit.


Mendengar ucapan Arya Pethak, Nay Kemuning dan Anjani langsung tersenyum penuh arti dan saling melirik satu sama lain nya. Perlahan Nay Kemuning menyandarkan kepalanya di bahu kanan Arya Pethak, begitu juga Anjani yang ikut merebahkan kepalanya di bahu kiri Arya Pethak. Mereka bertiga tenggelam dalam keindahan sinar rembulan yang begitu indah di langit.


Rasa bahagia menyelimuti hati Anjani dan Nay Kemuning setelah mengungkapkan isi hati nya pada sang pujaan hati. Hanya satu orang yang yang merana karena tak memiliki pasangan malam itu.


Klungsur.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Selamat berbuka puasa untuk yang menjalankan 🙏😁😁


__ADS_2