Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Sayembara


__ADS_3

"Kami ingin kembali ke Kadiri, Gusti Bekel.. Ada tugas yang harus kami selesaikan sebelum kami mulai memulai tujuan kami sendiri", ujar Arya Pethak sambil tersenyum tipis.


Pimpinan prajurit Kadipaten Anjuk Ladang itu mengangguk mengerti.


Bekel Regol yang baru mendengar laporan dari prajurit tentang jati diri para pembunuh bayaran itu nampak berpikir keras.


Tadi baru saja seorang prajurit Anjuk Ladang memberi tahu kepada nya, bahwa pembunuh bayaran ini adalah Kelompok 8 Setan Pencabut Nyawa, satu kelompok pembunuh bayaran yang terkenal di wilayah Kerajaan Singhasari. Dirinya pun belum tentu mampu menghabisi mereka jika hanya mengandalkan kekuatan pribadi nya.


Ada desas-desus yang beredar mengatakan bahwa Kelompok 8 Setan Pencabut Nyawa adalah kelompok yang di danai oleh satu kekuatan besar yang tengah mempersiapkan diri untuk memberontak terhadap pemerintah pusat Singhasari di bawah pemerintahan Prabu Kertanegara. Mereka menciptakan Kelompok 8 Setan Pencabut Nyawa untuk menyebarkan ketakutan di kalangan para pejabat tinggi daerah di wilayah Singhasari.


"Sayang sekali Pendekar Pedang Setan ada urusan. Kalau tidak terburu-buru, saya ingin mengajak Pendekar untuk melihat keramaian di kota Anjuk Ladang ini", ucap Bekel Regol sembari mengelus kumisnya.


"Memang akan ada keramaian apa Gusti Bekel kalau boleh tau?


Sepertinya menarik", tanya Arya Pethak dengan penasaran. Suatu hiburan yang menarik tentu saja tak akan dia lewatkan.


"Sebenarnya ini berkaitan erat dengan suasana di dalam kota Anjuk Ladang, Pendekar.


Baru baru ini Senopati Gagak Rimang terbunuh oleh suatu ilmu hitam. Para brahmana, pertapa dan biksu semuanya mengatakan bahwa Senopati Gagak Rimang di bunuh oleh makhluk ghaib yang di kirim oleh seseorang.


Karena itu jabatan Senopati Anjuk Ladang kosong. Dua Tumenggung yang di bawahnya adalah Tumenggung Kebo Biru dan Tumenggung Jaran Sembrani di calonkan menjadi pengganti Senopati Gagak Rimang yang telah tiada.


Namun, dengan kematian Tumenggung Kebo Biru tentu saja Tumenggung Jaran Sembrani yang menjadi calon tunggal. Ini semakin mencurigakan kami.


Tempo hari, Gusti Adipati Gajah Panggung merencanakan acara sayembara untuk merekrut para pendekar agar menjadi perwira tinggi di keprajuritan Anjuk Ladang yang banyak lowong. Sayembara nya di gelar besok lusa. Kalau Pendekar Pedang Setan tertarik untuk sekedar melihat-lihat suasana, nanti aku temani", Bekel Regol menatap ke arah Arya Pethak berharap pemuda tampan itu mengiyakan ajakannya. Arya Pethak yang paham dengan maksud Bekel Regol tersenyum penuh arti.


"Baiklah, tidak ada salahnya jika kami berhenti satu dua hari di Anjuk Ladang", jawab Arya Pethak segera.


Mendengar jawaban Arya Pethak, Bekel Regol tersenyum senang.


Malam hampir berganti pagi. Arya Pethak dan kawan-kawan nya dengan bantuan dari Bekel Regol berpindah ke sebuah penginapan lain di dekat Alun-alun Istana Anjuk Ladang karena tidak mungkin beristirahat di Penginapan Kembang Sore yang tengah porak poranda akibat pertarungan Arya Pethak dan kawan-kawan nya melawan Kelompok 8 Setan Pencabut Nyawa.


Sepasang mata terus mengawasi pergerakan para prajurit Anjuk Ladang di Penginapan Kembang Sore.


Sinar mentari pagi mulai mengusir gelap malam yang menyelimuti wilayah kota Kadipaten Anjuk Ladang. Meski mendung tebal menggantung di langit, cahaya sang Surya masih mampu menerobos masuk lewat celah celah awan.


****


Di selatan kota Kadipaten Anjuk Ladang.


Seorang lelaki paruh baya bertubuh kekar dengan kumis tebal yang mulai di tumbuhi bulu putih nampak mengerutkan keningnya. Laporan mata-mata yang dia kirim cukup membuat lelaki paruh baya itu terdiam sejenak.


"Jadi benar mereka terbunuh oleh sekelompok pendekar muda?", tanya lelaki paruh baya itu sembari menatap ke arah seorang lelaki bertubuh kurus yang sedang duduk bersila di hadapan nya.


"Benar Gusti Tumenggung,


Saya melihat sendiri, para prajurit pengawal pribadi Tumenggung Kebo Biru menggotong mayat Baung Saketi keluar dari Penginapan Kembang Sore. Menurut yang hamba dengar, mereka berlima sanggup mengalahkan Kelompok 8 Setan Pencabut Nyawa. Para prajurit Anjuk Ladang sama sekali tidak turun tangan menghadapi 8 Setan Pencabut Nyawa", jawab lelaki bertubuh kurus itu sambil menghormat pada lelaki paruh baya berkumis tebal. Lelaki bertubuh kekar itu adalah Tumenggung Jaran Sembrani, pesaing utama Tumenggung Kebo Biru dalam meraih posisi sebagai Senopati Kadipaten Anjuk Ladang. Kematian Tumenggung Kebo Biru memang dia yang mendalangi.


10 hari yang lalu, Tumenggung Jaran Sembrani menemui seseorang di perbatasan kota Kadipaten Anjuk Ladang. Dengan imbalan 200 kepeng emas, dia mengupah Kelompok 8 Setan Pencabut Nyawa untuk menghabisi nyawa Tumenggung Kebo Biru.


Hemmmmmmm...


"Ini tidak akan mudah. Kalau pendekar itu sampai tertarik untuk mengikuti sayembara yang di adakan Gusti Adipati Gajah Panggung, maka dia bisa menjadi batu sandungan buat ku mencapai tujuan akhir.


Aku harus menghubungi guru ku Begawan Pasopati untuk meminta bantuan sekaligus melindungi ku", gumam Tumenggung Jaran Sembrani sambil memelintir ujung kumis tebal nya.


Usai menugaskan kembali telik sandi nya untuk tetap mengawasi gerak-gerik Arya Pethak dan kawan-kawan, Tumenggung Jaran Sembrani mengirim utusan untuk menemui gurunya, Begawan Pasopati di lereng Gunung Wilis.


Diantara 20 tokoh besar dunia persilatan aliran putih, Begawan Pasopati tercatat sebagai salah satu diantaranya. Dia yang terkenal penyayang kepada murid murid nya, sangat ditakuti oleh para pendekar golongan hitam maupun putih. Mereka lebih suka untuk tidak menyinggung atau bermasalah dengan anak murid nya. Selama ini Begawan Pasopati hanya menerima 7 murid termasuk Tumenggung Jaran Sembrani. Dari Begawan Pasopati lah, Tumenggung Jaran Sembrani mempelajari Ajian Panglegur Sukmo yang terkenal sebagai ajian dengan kemampuan kanuragan mengerikan.


Menjelang senja hari, saat Tumenggung Jaran Sembrani baru pulang dari pisowanan agung sekaligus upacara duka cita bagi Tumenggung Kebo Biru, seorang lelaki sepuh berjenggot putih panjang dengan sumping sulur pakis berwarna perak datang ke Katumenggungan. Gerakan nya begitu ringan ibarat kapas tertiup angin membuat Tumenggung Jaran Sembrani langsung menghormat pada Begawan Pasopati.


"Sembah bakti saya Guru Begawan.


Mohon maaf jika murid tidak menyambut baik kedatangan Guru di tempat saya", ujar Tumenggung Jaran Sembrani sambil membungkukkan badannya.


"Bocah edan,

__ADS_1


Kau tetap saja tidak berubah. Jangan banyak bicara. Ada masalah apa kau meminta ku kemari?", tanya Begawan Pasopati sambil mengelus jenggotnya.


"Mohon ampun Guru Begawan,


Saya terus terang saja. Keadaan di istana Kadipaten Anjuk Ladang sedang bergolak. Senopati Gagak Rimang terbunuh dan semalam Tumenggung Kebo Biru baru saja terbunuh. Murid mohon bantuan Guru Begawan untuk sementara melindungi murid dari bahaya yang mengancam", jawab Tumenggung Jaran Sembrani sembari kembali membungkuk hormat kepada Begawan Pasopati.


Heeeemmmmmmm...


"Aku hanya bisa berdiam di tempat mu hanya 3 hari, Jaran Sembrani..


Kalau terlalu lama, aku akan gagal mencapai titik tertinggi pertapaan ku di Gunung Wilis. Kau mengerti itu bukan?", Begawan Pasopati menatap ke arah Tumenggung Jaran Sembrani.


"Tiga hari sudah cukup, Guru Begawan. Kalau begitu mari murid tunjukkan tempat beristirahat untuk Guru Begawan", senyum lebar terkembang di bibir Tumenggung Jaran Sembrani. Hadirnya sang guru di kediaman nya semakin membuat kepercayaan diri Tumenggung Jaran Sembrani semakin meningkat. Dia yakin bahwa tak ada seorang pendekar pun yang berani menantang nya dengan keberadaan Begawan Pasopati di sebelah nya.


Keesokan harinya di alun alun Kota Kadipaten Anjuk Ladang.


Para penduduk kota Kadipaten Anjuk Ladang berduyun-duyun datang ke alun alun untuk menyaksikan sayembara pemilihan perwira prajurit Kadipaten Anjuk Ladang yang baru.


Diantara mereka, banyak pendekar dari golongan hitam dan putih ikut meramaikan sayembara itu. Ada yang sekedar ingin menonton, ada juga yang ingin menjadi perwira tinggi prajurit Anjuk Ladang karena tergiur dengan bayaran dan pangkat tinggi.


Mereka yang mendaftar sebagai peserta langsung di layani oleh para prajurit petugas yang berwenang. Usai mendaftar mereka di tempatkan pada sisi barat panggung kehormatan.


Sebuah arena di bentuk oleh para prajurit di tengah alun-alun kota. Sebuah panggung megah dengan berhias aneka umbul umbul, penjor dan hiasan janur kuning berdiri di sisi Utara Alun alun. Ada 6 kursi di panggung megah itu yang nampaknya merupakan kursi untuk para pembesar istana Kadipaten Anjuk Ladang. Beberapa prajurit nampak berjaga jaga di sekitar panggung megah.


Saat matahari sepenggal naik di langit timur, seorang prajurit yang bertugas sebagai penabuh bende langsung memukul bende dengan keras.


Dhiiiiieeeeenngggggggggh!


"Mohon perhatian,


Gusti Adipati Adipati Gajah Panggung dan para pembesar istana Kadipaten Anjuk Ladang memasuki panggung kehormatan!", teriak si prajurit penabuh bende dengan lantang.


Tak berapa lama kemudian, serombongan orang berpakaian bagus layaknya para bangsawan memasuki panggung kehormatan dan duduk di kursi kayu jati yang berukir indah di sana.


Ada Patih Suro Abang, Tumenggung Jaran Sembrani, Begawan Pasopati, Adipati Gajah Panggung, Putri Adipati Gajah Panggung yang bernama Dewi Retno Wulan dan Pangeran Gajah Lembono nampak duduk di atas kursi kehormatan.


"Wahai penduduk Kota Kadipaten semuanya..


Hari ini aku membuka sayembara pemilihan perwira tinggi prajurit Anjuk Ladang untuk mengisi beberapa jabatan kosong yang di tinggalkan oleh para perwira tinggi prajurit terdahulu.


Ayo buktikan kemampuan beladiri kalian dan bergabunglah bersama kami di keprajuritan Anjuk Ladang. Dengan ini aku menyatakan sayembara dimulai!", ucap Adipati Gajah Panggung dengan penuh wibawa. Suara sorak sorai segera terdengar dari para penonton yang memadati tempat itu.


Seorang lelaki bertubuh gempal dengan kepala plontos sembari memegang senjata gada di tangan kanannya melesat cepat ke tengah arena pertandingan. Dia segera membungkuk hormat pada Adipati Gajah Panggung lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.


"Aku Si Gada Bumi, pendekar dari Kadipaten Wengker ingin mencoba kemampuan.


Mari silahkan maju", teriak lelaki plontos itu dengan lantang.


Belum sempat lelaki plontos itu berkata lagi, seorang lelaki bertubuh kurus dengan kumis tipis melesat cepat kearah tengah arena pertandingan.


Chuuiiiiiiihhhh..


"Jangan sombong dulu, pendekar dari Wengker!


Aku Bango Sanggur dari Padepokan Kuning Gading. Mari kita buktikan siapa yang lebih hebat", usai berkata demikian si lelaki bertubuh kurus itu langsung melesat cepat kearah lelaki berkepala plontos itu sembari menyabetkan pedang pendek nya.


Whhhuuuusssssshhhhhh...


Mereka langsung bertarung dengan sengit. Meski tubuh pria berkepala plontos itu besar namun gerakan tubuhnya cepat. Dia mampu mengimbangi serangan lawan yang mengandalkan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi.


Dalam sepuluh jurus, si lelaki bertubuh gempal itu berhasil menjatuhkan Bango Sanggur dengan hantaman gada besar nya. Tubuh lelaki kurus itu terpental jauh dan menabrak dinding pembatas arena pertandingan dengan keras. Dia pingsan setelah muntah darah segar.


Dua orang prajurit langsung menggotong tubuh peserta yang kalah keluar arena pertandingan.


"Ayo siapa lagi yang mau maju?", teriak si kepala plontos sambil memutar gada besar nya.


Seorang lelaki paruh baya yang memakai baju compang camping seperti seorang pengemis langsung melesat cepat kearah Si kepala plontos yang bergelar Si Gada Bumi itu. Di tangan kanannya ada sebuah tongkat kayu yang berwarna hijau.

__ADS_1


"Aku Si Pengemis Baju Rombeng ingin mencoba kemampuan beladiri mu, pendekar Wengker.


Ayo kita mulai sekarang", ujar lelaki yang bergelar Si Pengemis Baju Rombeng itu sambil memutar tongkat nya. Mendengar tantangan itu, Si Gada Bumi langsung melesat cepat kearah Si Pengemis Baju Rombeng.


Dengan cepat dia mengayunkan gada besar nya kearah kepala Si Pengemis Baju Rombeng.


"Pengemis busuk,


Mampus kau sekarang!"...


Bhhuuuuummmmmmhh!!!!!


Meski terlihat seperti orang penyakitan, Si Pengemis Baju Rombeng rupanya memiliki kemampuan beladiri yang tinggi. Dengan cepat ia menghindari gebukan gada yang mengincar nyawanya. Pertarungan antara mereka berlangsung sengit.


Sorak sorai penonton terus membahana. Diantara kerumunan para penonton, Arya Pethak dan kawan-kawan nya di temani Bekel Regol terus menonton jalannya pertandingan.


Hingga tengah hari, puluhan pendekar sudah mengikuti sayembara itu. Mereka rata rata kalah dan terluka meski ada beberapa yang tewas di tangan lawan.


Saat ini di tengah arena tinggal menyisakan seorang pendekar muda bertubuh kekar yang bersenjatakan tombak. Dia baru saja membantai seorang pendekar yang cukup punya nama di wilayah Anjuk Ladang. Semua peserta yang tersisa tidak ada yang berani untuk maju.


"Kalau tidak ada yang berani menghadapi Pendekar muda ini, maka dia yang akan...", belum sempat Adipati Gajah Panggung menyelesaikan omongannya, Tumenggung Jaran Sembrani langsung memotong nya.


"Mohon ampun bila hamba lancang Gusti Adipati.


Ijinkan hamba terlebih dahulu menguji sampai dimana kemampuan beladiri pendekar ini", ucap Tumenggung Jaran Sembrani sambil menyembah pada Adipati Gajah Panggung. Meski merasa kesal dengan ulah Tumenggung Jaran Sembrani, namun karena disitu ada Begawan Pasopati, maka Adipati Gajah Panggung hanya bisa menahan diri.


"Silahkan Tumenggung Jaran Sembrani", titah Adipati Gajah Panggung sambil mengangkat tangan nya. Tumenggung Jaran Sembrani langsung melesat cepat kearah arena pertandingan.


Para penonton pun langsung heboh begitu melihat Tumenggung Jaran Sembrani turun tangan. Bekel Regol yang berdiri di dekat Arya Pethak langsung berbisik pada pendekar muda itu segera.


"Tumenggung Jaran Sembrani benar benar tak mau di geser kedudukannya.


Dia akan menghalalkan segala cara agar bisa menduduki jabatan Senopati Anjuk Ladang", ucap Bekel Regol sembari menatap ke arah arena pertandingan. Arya Pethak tersenyum tipis mendengar ucapan Bekel Regol sambil melihat ke arena pertandingan yang mana Tumenggung Jaran Sembrani dan si pendekar bersenjatakan tombak itu mulai bertarung.


"Sayembara ini semakin menarik"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Selamat malam semuanya..


Maaf baru bisa up lagi sekarang..

__ADS_1


Lagi sibuk benerin rumah makanya telat telat mulu update episode selanjutnya 😁😁✌️✌️


__ADS_2