Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Ajian Iblis Neraka


__ADS_3

Suara ledakan keras itu langsung membuyarkan pikiran Raden Margapati. Sinar merah darah yang hampir menyentuh pangkal paha nya kembali naik.


Gendrawana langsung melompat dari tempat duduknya kemudian menutup tanda merah di kening Raden Margapati untuk mengunci separuh Ajian Iblis Neraka yang sudah masuk ke dalam tubuh.


Dengan cepat, Gendrawana melepaskan dua jari nya dari dahi Raden Margapati usai ilmu Ajian Iblis Neraka telah terkunci. Tokoh sesat aliran hitam itu menghembuskan nafas lega sambil menyeka keringat yang mengalir dari sudut dahinya. Mengunci Ajian Iblis Neraka yang separuh itu benar-benar menguras tenaga dalam nya.


Raden Margapati membuka mata nya. Putra tiri Adipati Kembang Kuning itu benar benar marah karena ritual persetubuhan setan nya di kacau oleh suara keributan yang terjadi.


"Bedebah!!


Yang membuat keributan di tempat ku harus mati!!", teriak Raden Margapati sambil mengenakan pakaian nya. Pria bertubuh gempal itu segera bergegas keluar dari kamar ritual nya untuk melihat apa yang sedang terjadi. Sedangkan Gendrawana sang guru duduk bersila untuk memulihkan tenaga dalam nya yang terkuras akibat Ajian Iblis Neraka setengah jadi yang telah masuk ke dalam tubuh Raden Margapati.


Suasana di luar puri kecil kediaman Raden Margapati benar benar kacau balau. Para prajurit Kadipaten Kembang Kuning terus mendesak para prajurit Pakuwon Semanding yang tidak menduga bahwa mereka akan di serbu pada malam hari.


Dua pimpinan tertinggi prajurit Kadipaten Kembang Kuning, Senopati Tirtomoyo dan Tumenggung Surontanu terus mengamuk bagai banteng ketaton.


Pimpinan prajurit Pakuwon Semanding, Ki Gelung Pancawara bangkit dari tanah sembari mengusap darah segar yang keluar dari sudut bibirnya yang keriput. Kakek tua itu menatap tajam ke arah Senopati Tirtomoyo yang berdiri tegak di hadapannya.


"Benar benar seorang senopati yang bisa diandalkan kau Tirtomoyo..


Phhuuuiiiiiihhhhh..


Tapi aku belum kalah dari mu. Ayo kita buktikan siapa yang terbaik diantara kita", teriak Ki Gelung Pancawara sambil meludahkan darah di mulutnya. Kakek tua itu segera merentangkan kedua tangannya yang dengan cepat bersilangan di depan dada. Dia bermaksud untuk mengadu nyawa dengan Senopati Tirtomoyo.


Ki Gelung Pancawara adalah seorang pendekar sakti yang pernah menjadi bagian dari pemberontakan Akuwu Semanding, Janggan Manoreh pada Adipati Wiraprabu waktu itu. Hanya saja setelah pasukan Semanding di kalahkan dan Janggan Manoreh terbunuh oleh keris pusaka Adipati Wiraprabu, Ki Gelung Pancawara melarikan diri Kadipaten Kembang Kuning dan memperdalam ilmu kesaktiannya di Gunung Merapi.


Begitu terdengar kabar Raden Margapati diangkat menjadi Akuwu Semanding, Ki Gelung Pancawara datang ke Pakuwon Semanding. Sebagai tokoh tua, dia lah yang membeberkan rahasia Raden Margapati termasuk kematian Janggan Manoreh di tangan Adipati Wiraprabu kala itu yang menyebabkan Raden Margapati menaruh dendam kesumat pada penguasa Kadipaten Kembang Kuning.


Selarik sinar merah kehitaman bergulung gulung di kedua tangan Ki Gelung Pancawara kemudian berkumpul di telapak tangan nya. Dia mengeluarkan Ajian Bola Api Setan andalannya. Dua buah bola sinar merah kehitaman terbentuk di kedua tangan sang kakek tua.


Melihat ilmu kedigdayaan yang di keluarkan oleh lawan, Senopati Tirtomoyo langsung bersedekap tangan sambil memejamkan matanya usai menyarungkan keris di pinggangnya. Senopati andalan Kadipaten Kembang Kuning itu merapal mantra Ajian Tapak Beku nya. Ajian itu sanggup membekukan segala yang di sentuhnya dengan cepat. Udara di sekeliling tubuh Senopati Tirtomoyo menjadi dingin menusuk tulang.


Dengan cepat, Ki Gelung Pancawara melemparkan bola bola sinar merah kehitaman ke arah Senopati Tirtomoyo.


Whuuussshh whuuussshh!!


Dua bola sinar merah kehitaman melesat cepat kearah Senopati Tirtomoyo. Perwira tinggi prajurit Kembang Kuning itu segera menghantamkan tangan kanannya ke arah bola bola merah kehitaman. Selarik sinar putih kebiruan keluar dari tangan Senopati Tirtomoyo dan menabrak bola bola merah kehitaman.


Blllaaammmmmmmm blammmmm!!!


Dua ledakan dahsyat beruntun terdengar. Baik Senopati Tirtomoyo maupun Ki Gelung Pancawara terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. Rupanya tenaga dalam mereka berimbang.


Melihat serangannya di mentahkan, Ki Gelung Pancawara mendengus keras lalu dengan cepat dia menghantamkan bola bola merah kehitaman ke arah Senopati Tirtomoyo bertubi-tubi.


Whuuussshh whuuussshh whuuussshh!!


4 bola sinar merah kehitaman melesat cepat kearah Senopati Tirtomoyo. Perwira tinggi prajurit Kembang Kuning itu gelagapan melihat serangan beruntun dari lawan. Kedua tangan nya dengan cepat menghantam kearah bola bola merah kehitaman.


Whuuutt whuuthhh..


Blammmmm blammmmm!!!


Dua bola sinar merah kehitaman meledak dan hancur saat beradu dengan sinar putih kebiruan dari tangan Senopati Tirtomoyo namun dua bola lainnya terus menerabas cepat kearah nya. Senopati Tirtomoyo melompat menghindari satu bola sinar namun satu bola lagi sudah tidak mungkin di hindari. Senopati Tirtomoyo hanya bisa melindungi tubuh nya dengan tenaga dalam nya saat bola sinar merah kehitaman itu menghantam tubuhnya.


Blllaaaaaarrr!!!


Senopati Tirtomoyo terpelanting ke belakang dan menghantam tanah. Perwira tinggi prajurit Kembang Kuning itu muntah darah segar. Melihat lawannya jatuh, Ki Gelung Pancawara melesat cepat kearah Senopati Tirtomoyo sambil menyeringai lebar. Tangan kanannya dengan cepat mencabut pedang di pinggangnya.


"Terima ajal mu, senopati keparat!


Kepala mu akan jadi tumbal kejayaan Raden Margapati", teriak Ki Gelung Pancawara sambil mengayunkan pedang ke arah leher Senopati Tirtomoyo.


Nyi Sawitri alias Dewi Bukit Lanjar yang baru menebas leher seorang prajurit pemberontak langsung melesat cepat kearah Senopati Tirtomoyo yang terancam nyawanya. Menggunakan Ilmu Pedang Sejuta Bayangan, tangan perempuan paruh baya itu segera terayun cepat kearah Ki Gelung Pancawara.


Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh!!


Dua tebasan pedang Nyi Sawitri menciptakan ratusan pedang ilusi yang berwarna putih keperakan, menerabas cepat kearah Ki Gelung Pancawara. Melihat bahaya menghadangnya, Ki Gelung Pancawara urungkan niat untuk membunuh Senopati Tirtomoyo. Kakek tua itu segera menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara menghindari serangan Nyi Sawitri. Setelah bersalto di udara, Ki Gelung Pancawara mendarat 3 tombak ke belakang. Kakek tua itu mendengus dingin sembari menatap tajam ke arah Nyi Sawitri.


"Rupanya Dewi Lengan Seribu yang ikut campur urusan ku.


Aku tidak ada urusan dengan mu, Nyi Sawitri. Pergilah dari sini, anggap saja kita tak pernah bertemu. Tapi kalau kau membangkang, jangan salahkan aku bertindak kejam", ancam Ki Gelung Pancawara dengan cepat.


"Huhhhhh iblis tua bangka tak tahu diri..


Kau pikir aku takut dengan gertak sambal mu ha? Kau yang sudah bau tanah sebaiknya bersiap untuk menghadapi ajal, bukan malah ikut campur urusan pemerintahan.


Aku jika bukan karena ada urusan dengan si keparat Margapati juga tidak mau ikut-ikutan seperti ini. Sebaiknya kau minggir atau kau akan menghadap raja neraka lebih cepat dari waktu mu yang sebenarnya", balas Nyi Sawitri sambil menatap tajam ke arah Ki Gelung Pancawara. Mereka memang pernah beradu ilmu beladiri dulu saat terjadi sengketa di pertemuan para pendekar tanah Jawa di Gunung Lawu.

__ADS_1


"Keparat kau berani memaki ku?


Dasar perempuan sinting. Ku bunuh kau setan betina", dengan murka, Ki Gelung Pancawara melemparkan bola bola merah kehitaman ke arah Nyi Sawitri. Bola bola merah kehitaman itu meluncur cepat kearah sang guru Rara Larasati.


Nyi Sawitri langsung mengeluarkan jurus pamungkas dari Ilmu Pedang Sejuta Bayangan. Sekali ayunan, ratusan pedang ilusi tercipta yang merupakan kumpulan tenaga dalam tingkat tinggi melesat cepat kearah bola bola merah kehitaman yang dilemparkan Ki Gelung Pancawara.


Whhuuuuuuuggggh whuuthhh..


Blllaaammmmmmmm blammmmm!!


Bola merah kehitaman langsung meledak saat membentur pedang ilusi Nyi Sawitri. Sisa pedang ilusi lainnya terus meluncur ke arah Ki Gelung Pancawara. Kakek tua itu mengumpat keras sembari melompat ke udara.


"Bangsat kau Sawitri!!", teriak Ki Gelung Pancawara dengan melemparkan bola bola panas membara dari Ajian Bola Api Setan kearah Nyi Sawitri.


Pendekar wanita paruh baya itu kembali mengayunkan pedangnya kearah lawan. Ratusan pedang ilusi melesat cepat kearah Ki Gelung Pancawara yang masih di udara.


Blllaaammmmmmmm!!!


Ki Gelung Pancawara terpental jauh ke belakang. Kakek tua itu jatuh ke tanah dengan puluhan luka menganga lebar di tubuhnya. Dia tewas bersimbah darah.


Malam itu benar benar menjadi malam berdarah. Ratusan mayat prajurit bergelimpangan dimana-mana. Raungan keras dan jerit kesakitan dari mulut mulut prajurit yang menjemput ajal juga yang terluka parah.


Arya Pethak terus mengayunkan Pedang Setan nya ke arah prajurit Pakuwon Semanding yang menghadang di depan nya.


Whhuuuuuuuggggh..


Chrraaasssshhh!!


Kepala prajurit Pakuwon Semanding itu langsung menggelinding ke tanah saat Pedang Setan menebas leher nya. Anjani, Klungsur dan Randu Para membentuk kelompok bersama Raden Wira Ganggeng merangsek maju ke depan puri kecil kediaman Raden Margapati.


Suasana benar benar di luar kendali. Pertempuran malam hari itu berlangsung sengit.


Raden Margapati yang baru keluar dari kamar tidur tempat ritual persetubuhan setan nya, menatap tajam ke arah Raden Wira Ganggeng. Matanya memancarkan aura permusuhan terhadap pangeran Kadipaten Kembang Kuning itu. Akuwu Semanding itu melangkah turun ke halaman kediaman nya.


"Wira Ganggeng,


Besar sekali nyali mu hingga berani untuk menyerbu kemari ha! Apa kau sudah bosan hidup?", teriak Raden Margapati dengan lantang.


"Margapati orang tak tahu di untung!


Atas nama Kanjeng Romo Adipati Wiraprabu, aku datang kemari untuk menangkap mu atas niat pemberontakan mu. Menyerahlah, dan cukup sampai disini peperangan ini", kata tegas keluar dari bibir Raden Wira Ganggeng.


Jangan jadi dagelan, Wira Ganggeng. Aku hanya ingin menuntut balas kematian ayah ku yang di bunuh Wiraprabu.


Kalau mau menangkap ku, ayo maju dan tangkap aku jika kau mampu", balas Raden Margapati dengan senyum seringai lebar yang menakutkan.


"Keparat! Dasar orang tak tahu di untung!!


Jangan salahkan aku jika berbuat kasar pada orang yang lebih tua!", usai berkata demikian, Raden Wira Ganggeng mencabut keris pusaka di pinggangnya. Lalu melesat cepat kearah Raden Margapati.


Tak mau membuang waktu, Raden Margapati menyongsong serangan Raden Wira Ganggeng yang menusukkan keris pusaka nya ke arah perut Raden Margapati.


Shreeeeettttthhh!!


Raden Margapati berkelit ke samping, sedikit merendahkan tubuhnya lalu menyapu kaki Raden Wira Ganggeng dengan cepat.


Putra Adipati Wiraprabu itu melompat ke atas sambil melompat menjauh. Raden Margapati terus memburu nya dengan serangan mematikan.


Dalam 10 jurus, Raden Wira Ganggeng mulai terdesak oleh Raden Margapati. Ilmu kanuragan nya memang di bawah Akuwu Semanding. 2 pukulan keras Raden Margapati telah bersarang di tubuh Raden Wira Ganggeng.


Sambil mendengus keras, Raden Wira Ganggeng melesat cepat kearah Raden Margapati yang baru saja menjejak tanah usai menghindari sapuan kaki nya. Akuwu Semanding itu tidak bisa menghindar saat keris pusaka Raden Wira Ganggeng menusuk perut nya.


Jleeeeppppph!!


Anehnya, Raden Margapati bukannya kesakitan atau mati tapi justru tersenyum lebar ketika keris Raden Wira Ganggeng menembus perutnya. Secepat kilat, Raden Margapati menghantam dada Raden Wira Ganggeng.


Bhhhuuuuuuggggh..


Oouugghhhh!!!


Raden Wira Ganggeng terpelanting jauh ke belakang. Randu Para dengan cepat menyambar tubuh Raden Wira Ganggeng sebelum menghujam ke tanah.


Huuuuooogggghhh!!


Putra Adipati Wiraprabu itu muntah darah segar. Pukulan keras Raden Margapati telah membuatnya menderita luka dalam serius. Yang lebih mengejutkan, Raden Margapati mencabut keris yang menancap di perutnya dengan senyum lebar. Semua mata membeliak lebar melihat itu semua.


"Wira Ganggeng bocah kemarin sore.

__ADS_1


Kau tidak tahu tingginya gunung dalam nya lautan. Hanya dengan keris rongsokan seperti ini mau membunuh ku, phhuuuiiiiiihhhhh..


Kau belum pantas! Hahahaha....!!", Raden Margapati melempar keris Raden Wira Ganggeng ke tanah sambil tertawa lepas.


"Ilmu sesat...


Dia telah bersekutu dengan iblis dari neraka", gumam Randu Para yang membuat semua orang disitu menatap ke arah Raden Margapati.


"Kalau tidak di musnahkan, dia akan menjadi malapetaka besar di dunia ini. Akan ku coba untuk menghadapi nya", ucap Nyi Sawitri sambil bersiap untuk maju.


"Tunggu Nini Dewi!


Biar aku saja yang menghadapi pangeran setan ini. Aku mempunyai sesuatu untuk menghadapi nya", Arya Pethak menahan langkah Nyi Sawitri dengan mencekal lengan kiri perempuan paruh baya itu.


Usai berkata demikian, Arya Pethak melesat cepat kearah Raden Margapati. Tangan kiri nya diliputi oleh sinar putih kebiruan seperti petir yang berhawa panas menyengat. Gerakan secepat kilat yang menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin membuat Raden Margapati tidak bisa berkelit saat tangan kiri Arya Pethak yang menggunakan Ajian Guntur Saketi menghantam dada Raden Margapati.


Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!


Akuwu Semanding itu terpental jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Dadanya hangus terbakar akibat hantaman Ajian Guntur Saketi dari Arya Pethak. Dari tubuhnya muncul sinar merah darah yang menyelimuti seluruh tubuh nya. Perlahan seluruh tubuh Raden Margapati terangkat ke udara. Mata Akuwu Semanding itu lalu terbuka dan berdiri tegak sambil menyeringai lebar.


"Huahahahahahaha, Ajian yang hebat. Tapi menghadapi Ajian Iblis Neraka milik ku, itu bukan apa apa huahahahahahaha...", Raden Margapati tertawa terbahak bahak.


Semua orang terkejut bukan main melihat kemampuan ilmu kanuragan Raden Margapati.


Arya Pethak lalu teringat pada perkataan Sang Naga Api, mata pendekar muda itu langsung terpejam beberapa saat.


Dari dahinya muncul sebuah lingkaran berwarna kuning keemasan. Saat mata Arya Pethak terbuka, manik mata sang pendekar muda berubah warna menjadi kuning keemasan. Dengan di padukan Ajian Mata Dewa, Arya Pethak melihat kelemahan Ajian Iblis Neraka yang separuh tersegel di tubuh Raden Margapati.


Arya Pethak kemudian menyalurkan tenaga dalam nya pada Pedang Setan di tangan kanannya. Pedang itu memancarkan cahaya merah kehitaman.


Telapak tangan kiri Arya Pethak bersinar terang menyilaukan mata. Sekali lagi, Arya Pethak melesat cepat kearah Raden Margapati.


Akuwu Semanding itu tidak mau kecolongan kedua kalinya menyiapkan Ajian Pencabut Nyawa yang menciptakan cahaya kebiruan pada tangan nya.


Tangan kiri Arya Pethak menghantam dada Raden Margapati. Akuwu Semanding itu dengan cepat memapak serangan Arya Pethak.


Whhuuuuunggg...


Blllaaammmmmmmm!!


Arya Pethak melenting tinggi ke udara menghindari gelombang kejut yang tercipta dari ledakan dahsyat akibat dua benturan dua ajian andalan itu. Dengan cepat, Arya Pethak meluncur turun ke arah Raden Margapati yang terpental. Satu sabetan Pedang Setan langsung mengarah ke pinggang Raden Margapati.


Chhrrrraaaaaassss...


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Raden Margapati menjerit keras saat Pedang Setan menebas pinggang nya. Tubuh penguasa Pakuwon Semanding itu langsung putus menjadi dua. Rupanya itu adalah titik kelemahan Ajian Iblis Neraka yang masih separuh terkunci di tubuh Raden Margapati. Putra tiri Adipati Kembang Kuning itu menggelepar sejenak lalu diam tak bergerak lagi. Dia tewas dengan tubuh terpotong menjadi dua.


Dari arah dalam, Gendrawana yang baru saja selesai memulihkan tenaganya terkejut bukan main melihat tewasnya Raden Margapati di tangan Arya Pethak.


Kakek tua berbadan gempal itu langsung melesat cepat kearah Arya Pethak.


"Ku bunuh kau bangsat!!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Sebentar lagi puasa ya? Bila ada salah kata kata dari author mohon dimaafkan.


🙏🙏🙏🙏


__ADS_2