Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Pertarungan Tiga Bidadari


__ADS_3

"Pelankan suara mu, kedengaran Nirmala di celurit leher mu Sur", bisik Arya Pethak sambil tersenyum tipis.


"Hihhh iya ya..


Aku harus mengurangi cara bicara ku jika tidak ingin kena omel Nirmala Ndoro", Klungsur menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Nirmala segera berlari ke arah Klungsur sementara Nay Kemuning dan Anjani mendekati Arya Pethak.


"Akang Pethak teh baik baik saja?", Nay Kemuning melihat sekujur tubuh Arya Pethak.


"Aku baik baik saja, Kemuning..


Kau tidak perlu mencemaskan keadaan ku. Kau sendiri tidak apa apa bukan?", Arya Pethak menatap wajah cantik Nay Kemuning yang terlihat lelah.


"Abdi teh tidak apa-apa atuh Akang..", Nay Kemuning tersenyum manis. Arya Pethak menghembuskan nafas lega lalu menoleh ke arah Anjani.


"Kau tidak terluka bukan Anjani?".


"Kakang Pethak tidak perlu mencemaskan ku. Kroco kroco itu bukan lawan yang perlu Kakang Pethak khawatirkan", Anjani tersenyum penuh arti. Mendengar penuturan dua wanita cantik itu, Arya Pethak tersenyum lega.


Sepasang Pedang Gunung Kawi, Walang Sungsang dan Niken Satyawati, langsung berjalan menghampiri mereka.


"Saudara Pethak,


Aku berhutang nyawa pada mu. Jika nanti suatu saat kau butuh bantuan ku, cari lah aku di Padepokan Gunung Kawi", ujar Walang Sungsang dengan cepat.


"Kau ini bicara apa, Saudara Sungsang?


Sesama pendekar golongan putih kita memang wajib saling membantu. Kau sudah bersedia pasang badan untuk membela ku, itu adalah kehormatan besar buat ku.


Selepas ini kalian mau kemana?", tanya Arya Pethak segera.


"Sebenarnya kami berencana untuk menemui paman guru kami di Pamotan, Saudara Pethak", sahut Niken Satyawati segera.


"Pamotan adalah daerah di timur Tumapel. Masih cukup jauh dari sini.


Hemmmmmmm...


Kalau begitu terimalah ini sebagai bekal perjalanan untuk kalian saudara ku", ujar Arya Pethak sembari mengulurkan sekantong kepeng perak kepada Walang Sungsang.


"Tidak Saudara Pethak, kami masih bisa melanjutkan perjalanan ke Pamotan dengan kemampuan kami sendiri.


Kami tidak ingin merepotkan mu", ucap Walang Sungsang sembari mendorong tangan Arya Pethak dengan maksud agar Arya Pethak menyimpan kembali kantong kepeng perak nya.


"Kalau kau anggap aku saudaramu, terimalah ini Saudara Walang Sungsang..


Ini adalah bentuk bantuan yang ku berikan pada saudara ku", ujar Arya Pethak sembari menyodorkan kantong kepeng perak sedang itu ke Walang Sungsang.


"Tapi..", Walang Sungsang benar benar tidak enak hati.


"Tak perlu tapi-tapian. Terimalah saudara ku. Semoga kelak Dewata Hyang Agung mempertemukan kita kembali", Arya Pethak memasukkan kantong kepeng perak itu ke dalam tangan Walang Sungsang sebelum beranjak ke arah pemilik warung makan yang sedang meratapi nasibnya setelah warung makan tempat usahanya hancur akibat pertarungan.


Arya Pethak memberikan isyarat kepada Anjani untuk mengeluarkan beberapa keping kepeng emas. Setelah Anjani mengulurkan uang itu pada Arya Pethak, pemuda tampan itu langsung mendekati sang pemilik warung makan.


"Kau mau apa lagi, pendekar?


Apa belum cukup kau menghancurkan tempat usaha ku?", ujar si pemilik warung makan dengan ketakutan.


"Maafkan aku Kisanak, aku juga tidak menginginkan hal seperti ini.


Ini kuberikan padamu ganti rugi untuk kerusakan warung makan mu", ujar Arya Pethak sambil mengulurkan 4 kepeng emas kepada pemilik warung.


Lelaki paruh baya itu melebar matanya melihat kepeng emas di tangan Arya Pethak. Dia segera berlutut dihadapan Arya Pethak.


"Aku sudah salah sangka kepada mu, pendekar muda. Tolong maafkan aku", ucap si pemilik warung makan sembari menerima kepeng emas sebagai ganti rugi kerusakan warung makan milik nya.


Usai memberikan ganti rugi, Arya Pethak berjalan mendekati Klungsur, Nay Kemuning, Anjani dan Nirmala yang sudah bersiap untuk berangkat melanjutkan perjalanan ke arah barat.


"Saudara Walang Sungsang,


Kami jalan Lebih dulu. Semoga Dewata Hyang Agung mempertemukan kita kembali kelak. Kami permisi", ujar Arya Pethak sambil tersenyum tipis sebelum melompat ke atas kuda nya. Mereka berlima segera memacu kuda tunggangan mereka ke arah barat, meninggalkan Sepasang Pedang Gunung Kawi yang juga bersiap untuk melanjutkan perjalanan mereka.


Melewati beberapa Desa di barat Desa Siganggeng, mereka menyusuri jalan besar yang menjadi penghubung antara Tumapel dan Bedander.


Hutan hijau dan persawahan luas diantara lembah lembah subur lereng Gunung Kawi menjadi pemandangan alam indah yang mengiringi perjalanan mereka.

__ADS_1


Menjelang senja, rombongan itu masih berada di kawasan hutan di selatan Desa Panumbangan.


Hutan jati yang sedang bersemi kembali setelah musim kemarau panjang itu terlihat mulai rimbun dengan dedaunan. Meski tidak selebat biasanya namun cukup membuat suasana sejuk begitu terasa.


Setelah berputar putar mencari tempat untuk bermalam, rombongan Arya Pethak menemukan sebuah gubuk kayu yang cukup bersih di bawah pohon jati yang cukup besar. Sepertinya gubuk ini adalah tempat para peladang beristirahat setelah bekerja. Buktinya masih ada jun bambu betung yang berisi air minum juga beberapa perlengkapan pertanian yang sengaja di tinggal di gubuk kayu ini.


Arya Pethak sendiri segera melesat cepat ke dalam hutan jati itu untuk mencari sesuatu yang bisa di makan.


Dengan lincah, pemuda tampan itu melesat ke dahan pohon besar yang tinggi untuk melihat keadaan sekelilingnya.


Seekor babi hutan terlihat berjalan mendekati liang persembunyian nya. Terlihat hewan liar ini seperti sedang mengendus aroma manusia. Namun saat hewan liar ini tersadar, semuanya sudah terlambat.


Sebuah ranting pohon sebesar jempol kaki orang dewasa melesat cepat menembus perutnya.


Nggguuuiiiikkkk!!!


Babi hutan yang lumayan besar itu langsung melompat kemudian menabrak batu yang ada di dekat nya. Sebentar kemudian dia menggelepar sebelum akhirnya diam tak bergerak lagi.


Arya Pethak tersenyum simpul lalu melayang turun ke arah babi hutan yang lumayan besar itu. Lalu dengan cepat melesat ke arah tempat dimana kawan kawan nya berada.


Malam itu mereka menikmati makan malam dengan menu daging babi hutan panggang.


Keesokan paginya, cuaca mendung membuat udara terasa begitu dingin. Namun tidak menghalangi 5 orang berkuda menggebrak hewan pelari itu menuju ke arah barat. Melewati beberapa desa di sepanjang jalan menuju ke arah Kadiri, rombongan itu sampai di wilayah Pakuwon Ganter. Tempat yang pernah menjadi medan pertempuran antara Pasukan Tumapel yang di pimpin Ken Arok melawan Pasukan Kadiri yang dipimpin Prabu Dandang Gendis atau di sebut juga Kertajaya ini nampak ramai oleh lalu lalang para pedagang dan penduduk kota.


"Tak jauh dari sini, Bukit Kahayunan sudah dekat dari sini.


Sebaiknya kita mengisi perut sebelum naik kesana", ujar Arya Pethak seraya menarik tali kekang kudanya.


Mereka segera bergegas melompat turun dari kuda mereka masing-masing di depan sebuah warung makan yang terletak di ujung pasar rakyat yang cukup ramai. Usai menambatkan kuda mereka di geladakan, Arya Pethak dan Klungsur hendak melangkah masuk ke dalam warung makan namun Anjani langsung menghadang nya.


"Kakang Pethak,


Aku mau membeli sesuatu dulu. Rasanya tidak nyaman jika datang ke rumah orang tua kakang tanpa membawa sesuatu.


Kalian makan saja dulu, tolong pesan kan aku ayam bakar ya Kakang", usai berkata demikian, Anjani melangkah menuju ke arah pasar.


Melihat itu Nay Kemuning dan Nirmala langsung tersenyum lebar dan langsung menatap ke arah Arya Pethak.


"Akang Pethak,


"Sengko juga ikut ja belanja ta'iye Mbuk", Nirmala menyusul mereka berdua. Tiga gadis itu langsung masuk ke dalam pasar, meninggalkan Arya Pethak dan Klungsur di halaman warung makan.


"Dasar perempuan!


Dengar kata belanja langsung lupa segalanya. Benar benar keterlaluan", omel Klungsur sambil melangkah masuk ke dalam warung makan mengikuti langkah Arya Pethak.


"Hati hati kalau ngomong Sur, kedengaran Nirmala bakal jadi masalah.


Sudah kita makan saja dulu, jangan terganggu dengan sikap para perempuan itu", ucap Arya Pethak yang mendekati meja penerima pesanan makanan.


Sementara itu Anjani, Nirmala dan Nay Kemuning berjalan masuk ke dalam pasar. Mereka terlihat memilih beberapa kain dan beberapa potong baju di salah satu lapak dagangan yang di tunggu seorang wanita paruh baya dan dua orang pembantu nya.


"Teh Anjani,


Memang harus na membawa oleh-oleh jika mau ke tempat calon mertua?", tanya Nay Kemuning sembari membolak-balik selendang berwarna hijau muda yang berhias sulaman benang emas.


"Tidak harus Nay..


Tapi itu kadar kepantasan saja kog. Kita akan menjadi bagian keluarga mereka setidaknya kita harus menunjukkan sikap berbakti pada orang tua calon pasangan hidup kita", jawab Anjani yang nampak memilih kain berwarna ungu kehitaman. Sepertinya dia tengah memilih oleh oleh untuk ibu angkat Arya Pethak.


"Betul omongan Mbuk Anjani. Ba'na harus menunjukkan bahwa ba'na layak jadi tu mantu nya, Nay", timpal Nirmala yang ikut melihat kemben berwarna merah yang merupakan warna kegemarannya.


Mereka terus asyik berbincang sembari melihat-lihat baju dan kain di lapak dagangan itu. Tanpa di sadari ada sepasang mata yang terus mengawasi mereka.


Dua orang itu saling berpandangan sejenak sebelum salah seorang dari mereka bergegas meninggalkan tempat mereka mengawasi tiga gadis cantik itu.


Tak berapa lama kemudian, datang 6 orang bersama seorang pria bertubuh gendut dengan perut sedikit buncit.


"Dimana gadis cantik yang kau katakan tadi?", tanya si lelaki paruh baya bertubuh gendut itu dengan senyum mesumnya.


"Disana Juragan...


Itu di lapak dagangan Nyi Karmi", ujar si lelaki yang mengawasi gerak-gerik Anjani, Nay Kemuning dan Nirmala sedari tadi. Rupanya mereka adalah centeng lelaki paruh baya bertubuh gendut yang bernama Kebo Beok itu. Kebo Beok merupakan seorang pedagang kaya raya yang cukup terkenal di wilayah Pakuwon Ganter. Bukan hanya karena dia kaya, namun juga karena sikap nya yang mata keranjang suka menggoda para perempuan cantik. Istrinya sudah 4 namun masih doyan dengan daun muda.


Mata Kebo Beok langsung tertuju pada arah yang ditunjukkan oleh centeng nya itu. Dan benar saja tiga orang gadis muda yang cantik terlihat memilih baju di lapak Nyi Karmi sembari bercanda ria.

__ADS_1


"Wah mereka sangat cantik ya.. Bahkan lebih cantik dari istri keempat ku..


Mereka harus jadi istri istri ku. Ayo kita kesana", ajak Kebo Beok seraya melangkah menuju ke arah lapak Nyi Karmi diikuti 9 centeng nya.


"Selamat siang para bidadari kayangan..


Sepertinya kalian bukan orang Pakuwon Ganter. Darimana asal kalian, wahai para gadis cantik?", sapa Kebo Beok pada Anjani, Nay Kemuning dan Nirmala dengan senyuman genit terukir di wajah.


Nay Kemuning, Anjani dan Nirmala langsung menoleh ke arah Kebo Beok sebentar kemudian saling berpandangan seolah bertanya siapa bajingan tua ini.


"Maaf Kisanak, kami tidak mengenal mu. Sebaiknya kau jangan mengganggu kami", balas Anjani yang segera kembali mengalihkan pandangannya pada tumpukan kain di lapak Nyi Karmi.


"Cantik cantik tapi galak juga..


Hehehe Nisanak sebaiknya kita berkenalan dulu. Aku orang terpandang di kota ini", ujar Kebo Beok sambil meraih tangan Anjani.


Geram dengan tindakan tidak sopan Kebo Beok, Anjani langsung menarik tangan kanannya dan melayangkan tamparan keras ke pipi gembul Kebo Beok.


Plllaaakkkkk!!


Kerasnya tamparan Anjani langsung membuat Kebo Beok terjungkal ke tanah dengan sebuah gigi tanggal. Mulut Kebo Beok langsung mengeluarkan darah.


"Kurang ajar!


Di kasih hati malah minta jantung. Kalian semua, tangkap mereka biar nanti aku beri pelajaran", teriak Kebo Beok yang membuat 9 centeng nya yang berbadan besar langsung mengepung Anjani, Nay Kemuning dan Nirmala. Keributan itu langsung membuat pasar Pakuwon Ganter kacau balau.


Seorang centeng berbadan besar langsung berusaha meringkus Anjani dari belakang. Namun gadis cantik itu segera menyikut ulu hati si centeng dengan keras.


Bhhhuuuuuuggggh..


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Si centeng berbadan besar langsung terhuyung huyung mundur sambil memegang ulu hati nya yang sakit. Dua orang kawan nya langsung menerjang maju ke Anjani. Gadis cantik itu langsung melawan mereka menggunakan ilmu silat tangan kosong nya.


Hanya dalam dua jurus dua centeng Kebo Beok tersungkur tak berdaya. Si centeng berbadan besar itu langsung mencabut golok di pinggangnya dan melompat maju ke arah Anjani.


Dengan cepat ia membacokkan golok nya ke arah bahu Anjani.


Shreeeeettttthhh!!


Anjani berkelit menghindari tebasan golok ke arah samping lalu dengan cepat menghantam dada si centeng berbadan besar itu dengan keras.


Dhiiieeeessshh..


Si centeng terhuyung mundur. Anjani segera memburunya dengan tendangan keras beruntun kearah perut.


Dhaaaasssshhh Dhhaaaassshhh!


Si centeng berbadan besar itu segera roboh dengan darah segar muncrat dari mulut nya.


Nay Kemuning pun dengan mudah menjatuhkan dua centeng Kebo Beok yang mengeroyoknya. menggunakan ilmu silat Perguruan Gunung Ciremai, dalam 4 gebrakan saja dua centeng Kebo Beok tersungkur sembari mengerang kesakitan.


Sedangkan Nirmala langsung melayangkan pukulan keras kearah seorang lelaki bertubuh gempal yang ingin menangkap nya setelah dia menjatuhkan salah seorang centeng Kebo Beok yang mengepung nya.


Bhhhuuukkkkkhhh..


Oooouuuugggghhhhhh!!


Lelaki bertubuh gempal itu segera terjerembab menghantam lapak buah yang ada di belakangnya. Pertarungan tiga bidadari berbaju merah, hijau kekuningan dan biru itu membuat suasana pasar semakin riuh. Banyak orang yang justru melihat pertarungan mereka sebagai tontonan menarik.


Arya Pethak dan Klungsur sudah selesai makan. Tiga piring makanan yang tersaji untuk Nay Kemuning, Anjani dan Nirmala masih utuh dan nyaris dingin karena terlalu lama di anginkan.


"Mereka sebenarnya kemana sih Ndoro Pethak?


Belanja oleh oleh saja sampai sewindu lamanya", gerutu Klungsur sambil berulang kali menatap ke arah pintu warung makan.


"Perempuan kalau belanja memang selalu seperti itu, Sur..


Kau harus banyak belajar bersabar menghadapi mereka", jawab Arya Pethak sambil tersenyum simpul.


Tak berapa lama waktu berselang, seorang lelaki muda masuk ke dalam warung makan itu dengan nafas ngos-ngosan.


"Ada yang berkelahi di pasar. Tiga orang gadis cantik di keroyok oleh centeng centeng Juragan Kebo Beok", ujar si lelaki muda itu memberitahu kepada seorang kawan nya yang tengah makan di sebelah meja makan Arya Pethak dan Klungsur.


Arya Pethak dan Klungsur langsung saling berpandangan mendengar ucapan lelaki muda itu lalu bersamaan berbicara.

__ADS_1


"Itu pasti mereka!"


__ADS_2