Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Pengemis Tapak Darah 2


__ADS_3

Anjani yang mendengar ucapan Nyi Sawitri terkejut bukan main. Dia ingat pesan mendiang Dewi Ular Siluman agar jangan sampai berselisih paham dengan Pengemis Tapak Darah di masa depan karena pendekar tua golongan hitam itu terkenal kejam dan haus darah jika ada masalah dengan nya. Dengan segera, Anjani mendekati Arya Pethak.


"Ndoro Pethak,


Gubar Waseso ini seorang tokoh golongan hitam yang sakti mandraguna. Sebaiknya Ndoro Pethak berhati-hati jika bertarung melawan dia", bisik Anjani segera. Arya Pethak langsung mengangguk mengerti.


Pandangan semua orang langsung tertuju pada kakek tua berpakaian compang camping itu dengan penuh kewaspadaan. Nama besarnya menakuti semua orang yang ada di tempat itu.


"Hahahaha...


Sawitri kau cukup berani juga rupanya. Aku yang hanya kalah seurat saja melawan nenek peyot itu, kau malah berani menantang ku..


Hari ini, akan ku buat kau menyesali keberanian mu memakai nama Dewi Bukit Lanjar. Sepekan yang lalu, Padepokan Bukit Lanjar sudah aku ratakan dengan tanah. Hari ini, akan ku hancurkan nama besar Padepokan Padas Putih hingga dunia persilatan melupakan nama nya.


Bersiaplah untuk menemani nenek peyot itu di neraka, Sawitri!", usai berkata demikian Gubar Waseso alias Si Pengemis Tapak Darah menghirup nafas panjang kemudian dia meninju tanah dengan keras.


Bhhuuuuummmmmmhh!!!


Ledakan keras terdengar dan tanah bergetar hebat seperti gempa bumi dahsyat yang mengguncang dunia membuat seluruh orang hilang keseimbangan.


Dengan langkah kaki cepat bagai kilat, Pengemis Tapak Darah melesat maju ke arah Nyi Sawitri yang menggenggam erat gagang pedang nya.


Satu pukulan keras kearah dada Nyi Sawitri di lancarkan oleh Gubar Waseso. Perempuan paruh baya itu segera menyilangkan pedang nya ke depan dada untuk menahan kerasnya pukulan Si Pengemis Tapak Darah.


Blaaammm!!!


Nyi Sawitri terpental ke belakang. Seteguk darah segar muncrat keluar dari mulutnya. Rara Larasati langsung melesat cepat untuk menghentikan laju tubuh Nyi Sawitri namun tenaga dalam Rara Larasati tak cukup mampu hingga dia ikut terdorong ke belakang dan jatuh ke tanah.


Kebo Kenanga, sang pemimpin Padepokan Padas Putih langsung melesat cepat kearah Gubar Waseso sambil melayangkan pukulan kearah kepala Si Pengemis Tapak Darah.


Whuuthhh...


Sedikit menggeser posisi tubuhnya, Gubar Waseso menghindari pukulan Kebo Kenanga. Dengan cepat, kaki kiri Gubar Waseso menendang ujung tongkat kayu yang di pegang nya. Ujung tongkat yang di pegang tangan kanan Si Pengemis Tapak Darah melesat ke atas menyambar leher Kebo Kenanga.


Shreeeeettttthhh!!


Melihat serangan mematikan itu, Kebo Kenanga langsung merubah gerakan tubuhnya sedikit kesamping. Lehernya selamat dari ujung tongkat Gubar Waseso.


Melihat lawan lolos dari maut, Gubar Waseso dengan cepat hantamkan tangan kiri nya kearah dada Kebo Kenanga. Lelaki paruh baya berbadan besar itu segera menyilangkan kedua tangan nya di depan dada menahan hantaman tangan kiri Gubar Waseso.


Blllaaaaaarrr!!!


Kebo Kenanga terhuyung mundur beberapa langkah. Melihat itu, Si Pengemis Tapak Darah tak membuang kesempatan. Dia melesat cepat kearah Kebo Kenanga yang kehilangan keseimbangan. Tongkat kayu yang gagangnya terbuat dari besi berukir tengkorak manusia itu diayunkan ke arah kepala Kebo Kenanga.


"Celaka!", ucap Nyi Sawitri yang baru saja bangkit dari tempat jatuhnya bersama Rara Larasati.


Nyi Sawitri yang menggunakan Ajian Sepi Angin, melesat cepat kearah tongkat kayu yang di hantamkan pada Kebo Kenanga sembari membabatkan pedang nya.


Thrrraaannnnggggg!!


Blllaaammmmmmmm!!!


Benturan dua senjata berlapis tenaga dalam tingkat tinggi itu menciptakan bunyi ledakan yang memekakkan gendang telinga. Si Pengemis Tapak Darah terdorong mundur dua tombak ke belakang sementara Nyi Sawitri dan Kebo Kenanga juga terdorong mundur beberapa tombak ke belakang.


"Kebo Kenanga,


Ilmu iblis tua ini tidak bisa di anggap remeh. Kita harus menggabungkan kekuatan jika tidak ingin mati sia-sia", ujar Nyi Sawitri sembari mengusap darah yang keluar dari sudut bibir nya.


Pertarungan di halaman Padepokan Padas Putih ini membuat para murid maupun guru pengajar berhamburan keluar ke halaman. Namun mereka tidak berani untuk membantu menyerang karena Kebo Kenanga sang kepala padepokan yang berilmu paling tinggi pun sampai muntah darah melawan Gubar Waseso.


"Aku setuju pendapat mu, Nyi Sawitri.. Kita tidak boleh gegabah", jawab Kebo Kenanga sambil mengurut dada nya yang terasa sesak.


Di sisi lain Arya Pethak segera menggunakan Ajian Mata Dewa untuk mencari titik lemah kemampuan beladiri Si Pengemis Tapak Darah. Mata pemuda tampan itu bersinar merah redup.


"Iblis tua ini benar benar hebat. Kelemahan nya sangat sulit di cari", gumam pelan Arya Pethak sambil terus menatap ke arah Gubar Waseso.


"Hayo cepat maju kalian semua!


Tunggu apa lagi ha?", tantang Gubar Waseso dengan lantang.


Kebo Kenanga tersulut emosi mendengar ucapan Gubar Waseso si Pengemis Tapak Darah. Dengan cepat ia melesat ke arah iblis tua itu sembari merapal Ajian Tapak Dewa Api yang merupakan ilmu beladiri warisan turun temurun Padepokan Padas Putih.


Tangan kanan Kebo Kenanga berubah warna menjadi merah menyala seperti api yang berkobar-kobar akibat sinar merah yang menyelimutinya.


Di sisi lain, Nyi Sawitri dengan cepat menggunakan Ilmu Pedang Sejuta Bayangan yang pernah menjadi penyebab dia di gelari Dewi Lengan Seribu. Dia segera menyusul Kebo Kenanga menyerang Gubar Waseso dari dua sisi yang berbeda.


Hantaman tangan kanan Kebo Kenanga mengincar dada Si Pengemis Tapak Darah dari depan.

__ADS_1


Whuuussshh!!


Gubar Waseso dengan cepat memapak serangan Kebo Kenanga dengan tapak tangan kiri nya yang di liputi sinar aneh berwarna merah darah.


Selarik sinar merah darah menerabas cepat kearah Kebo Kenanga. Angin dingin berbau amis darah yang menakutkan menyertai sinar yang keluar dari tapak tangan kiri Gubar Waseso. Itu adalah tahap pertama Ajian Tapak Darah Iblis yang dinamakan Tapak Iblis Menghantam Matahari.


Shhhiiiuuuuuuutttt!!


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan keras kembali terdengar. Pengemis Tapak Darah terdorong mundur beberapa langkah ke belakang, di saat yang bersamaan Nyi Sawitri melancarkan serangannya.


Ratusan pedang ilusi tercipta dari serangan Nyi Sawitri. Gubar Waseso segera putar tongkat kayu di tangan kanannya untuk menangkis sabetan ratusan pedang ilusi.


Saat tongkat menghantam, pedang ilusi Nyi Sawitri hancur namun tidak dengan pedang lainnya. Satu sabetan pedang ilusi berhasil merobek baju di punggung Gubar Waseso yang membuat luka di tubuh kakek tua itu.


"Keparat kau Sawitri!!!", teriak Gubar Waseso sembari melompat mundur beberapa tombak sembari memutar tongkat kayu yang menjadi senjata andalan nya. Segera Gubar Waseso menghantamkan tangan kiri nya yang berwarna merah darah ke arah pedang ilusi Nyi Sawitri yang masih memburunya.


Whhhuuuggghhhh..


Blllaaammmmmmmm!!!


Benturan kedua ilmu membuat Nyi Sawitri terpelanting jauh ke belakang. Pertarungan sengit antara para jagoan dunia persilatan itu membuat orang yang melihat kejadian itu hanya bisa melihat dari kejauhan.


Arya Pethak yang melihat Nyi Sawitri terpental tidak tinggal. Apalagi setelah melihat Gubar Waseso melesat cepat kearah Nyi Sawitri yang baru muntah darah kehitaman. Kakek tua itu berniat menghabisi nyawa Nyi Sawitri secepat mungkin.


Dengan bantuan Ajian Langkah Dewa Angin nya, Arya Pethak melesat ke depan Nyi Sawitri, menghadang serangan Pengemis Tapak Darah dengan Ajian Lembu Sekilan nya.


Blllaaammmmmmmm!!!!


Gubar Waseso terpental ke belakang. Dia yang sedikit kaget karena kehadiran Arya Pethak yang tiba-tiba tidak sempat mengeluarkan Ajian Tapak Darah Iblis dengan kekuatan penuh. Tubuh kakek tua berbaju compang camping itu melayang dan menghantam tanah dengan keras.


Seteguk darah kehitaman dia muntahkan akibat luka dalam yang di deritanya.


Arya Pethak sendiri terdorong mundur sejauh 1 tombak hingga nyaris menabrak Nyi Sawitri yang baru saja berdiri. Meski Ajian Lembu Sekilan sangat ampuh untuk pertahanan, namun karena dasar tenaga dalam nya tak setinggi Pengemis Tapak Darah, Arya Pethak masih memuntahkan darah segar pula.


Gubar Waseso berdiri dari tempat jatuhnya. Lelaki sepuh itu menatap tajam ke arah Arya Pethak. Baru kali ini ada seorang pendekar muda mampu menahan Ajian Tapak Darah Iblis nya dan masih berdiri tegak. Dia tahu bahwa Arya Pethak menggunakan Ajian Lembu Sekilan, salah satu ilmu kanuragan pertahanan tingkat tinggi yang di segani oleh para pendekar dunia persilatan baik dari golongan hitam maupun putih.


"Bocah bau kencur!


Rupanya kau boleh juga. Siapa guru yang mengajari Ajian Lembu Sekilan itu ha?", tanya Gubar Waseso sambil mengusap sisa darah yang keluar dari sudut bibirnya.


Kau berani menipu ku kakek tua. Jangan salahkan aku jika ikut campur urusan mu", jawab Arya Pethak dengan tatapan penuh kekesalan.


"Rupanya kau murid Patih keparat itu. Kebetulan sekali aku ingin sekali menjajal ilmu ini.


Jangan salahkan nasib mu yang buruk karena bertemu dengan ku, Arya Pethak!", ujar Si Pengemis Tapak Darah sambil melesat cepat kearah Arya Pethak. Kali ini dia menggunakan seluruh tenaga dalam nya pada Ajian Tapak Darah Iblis. Tubuh nya di liputi sinar merah darah dan bau anyir darah yang amis.


"Ajian Tapak Darah Iblis..


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt!!!!"


Arya Pethak pun tak mau kalah. Seluruh tenaga dalam nya dia pusatkan untuk pertahanan dengan menggunakan Ajian Lembu Sekilan.


Kebo Kenanga dan Nyi Sawitri saling berpandangan kemudian dengan cepat kedua pendekar golongan putih itu berdiri di belakang Arya Pethak. Dengan cepat mereka menyalurkan tenaga dalam nya pada punggung Arya Pethak.


Nyi Sawitri menggunakan tapak tangan kiri dan Kebo Kenanga menggunakan tapak tangan kanan nya.


Seketika tenaga dalam tingkat tinggi Arya Pethak meningkat 3 kali lipat dari biasanya. Pemuda tampan itu segera menurunkan kedua telapak tangan nya ke depan perut kemudian dengan cepat mengangkat kedua tangannya menyambut serangan Gubar Waseso.


Sinar merah darah membentur sinar kuning keemasan yang menyilaukan mata.


Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!


Akibat benturan itu, Nyi Sawitri dan Kebo Kenanga terpental ke belakang sejauh beberapa tombak. Kedua pendekar paruh baya itu kembali memuntahkan darah kehitaman.


Di sisi lain Gubar Waseso pun mengalami nasib yang sama. Kakek tua bertubuh kurus dengan pakaian compang camping itu terpelanting jauh ke belakang. Gabungan tenaga dalam Arya Pethak, Nyi Sawitri dan Kebo Kenanga membuat tenaga dalam nya berada di bawah angin. Membuat nya muntah darah kehitaman pertanda dia menderita luka dalam yang cukup serius. Namun kakek tua itu segera berdiri.


Arya Pethak yang masih berdiri tegak dengan cepat mencabut Pedang Setan di punggungnya. Secepat kilat dia melesat ke arah Gubar Waseso dengan menyabetkan pedangnya.


Selarik sinar hitam berbentuk bilah pedang yang diikuti angin berbau busuk menerabas cepat kearah Si Pengemis Tapak Darah.


Shreeeeettttthhh!!!


Gubar Waseso yang dadanya masih terasa sesak bukan main, menggunakan tongkat bergagang tengkorak untuk menahan sinar hitam dari Pedang Setan. Tenaga dalam nya yang terkuras untuk mengeluarkan Ajian Tapak Darah Iblis tadi, membuat Gubar Waseso terdorong mundur.


Arya Pethak tidak menyia-nyiakan kesempatan. Hantaman tangan kiri nya yang di lambari Ajian Tapak Brajamusti mengarah pada kaki Si Pengemis Tapak Darah.

__ADS_1


Whuuussshh!!


"Bangsat kau bocah bau kencur!!!", teriak Si Pengemis Tapak Darah yang mendapat dua serangan sekaligus. Dengan menjejak tanah dengan keras, Gubar Waseso melompat tinggi ke udara. Namun itulah yang di harapkan Arya Pethak.


Menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin, Arya Pethak melesat cepat kearah Si Pengemis Tapak Darah yang masih di udara. Sabetan Pedang Setan langsung membabat pinggang Gubar Waseso dengan cepat.


Chhrrrraaaaaassss..


Aaaarrrgggggghhhhh!!


Gubar Waseso menjerit keras. Kakek tua itu segera jatuh ke tanah dengan pinggang nyaris putus. Sambil melotot lebar Gubar Waseso meregang nyawa. Dia tewas bersimbah darah. Hari itu salah satu dedengkot dunia persilatan yang di takuti akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di tangan Arya Pethak.


Arya Pethak sendiri langsung muntah darah segar usai mendarat. Dia rupanya menahan rasa sakit saat benturan tadi. Andai saja dia tidak di bantu oleh Nyi Sawitri dan Kebo Kenanga, pasti dia sudah tewas di tangan Si Pengemis Tapak Darah karena perbedaan tingkat tenaga dalam yang mencolok.


Anjani dan Klungsur langsung berlari menuju ke Arya Pethak. Begitu juga Rara Larasati yang langsung mendekati Nyi Sawitri. Anak murid Padepokan Padas Putih pun berani mendekat ke arah Kebo Kenanga usai melihat Si Pengemis Tapak Darah tewas.


Mereka segera di papah ke dalam bangunan Padepokan Padas Putih untuk mendapat perawatan.


Setelah hampir 3 hari, keadaan Arya Pethak, Nyi Sawitri dan Kebo Kenanga berangsur pulih kembali. Segala sumber daya pengobatan di kerahkan Padepokan Padas Putih untuk mengobati ketiga pendekar itu. Mereka sadar bahwa tanpa pertolongan dari Nyi Sawitri dan Arya Pethak, Gubar Waseso alias Si Pengemis Tapak Darah akan memusnahkan Padepokan Padas Putih seperti yang telah terjadi pada Padepokan Bukit Lanjar yang menempati bekas markas mereka dulu.


Di senja hari itu, Arya Pethak, Nyi Sawitri, Rara Larasati, Klungsur, Anjani, Kebo Kenanga dan Dadung Winoto berkumpul di serambi utama Padepokan Padas Putih.


"Aku mewakili seluruh anak murid Padepokan Padas Putih ingin mengucapkan terima kasih kepada mu, Pendekar muda..


Tanpa bantuan mu, mungkin Padepokan Padas Putih akan menjadi sejarah", ujar Kebo Kenanga sang pemimpin Padepokan Padas Putih yang di dampingi oleh Dadung Winoto selaku wakil pimpinan.


"Jangan bilang seperti itu Paman. Ayah ku dulu adalah salah satu murid Padepokan Padas Putih. Sudah selayaknya aku membantu kalian.


Lagipula kedatangan Pengemis Tapak Darah kemari juga karena kebodohan ku. Aku yang seharusnya minta maaf kepada Paman dan Padepokan Padas Putih", jawab Arya Pethak sambil menghormat pada Kebo Kenanga.


"Murid Padepokan Padas Putih? Siapa ayah mu pendekar muda?", tanya Dadung Winoto sembari menatap ke arah Arya Pethak.


"Ayah ku adalah Mpu Prawira. Dulu orang persilatan mengenali nya dengan julukan Si Tapak Kilat", Arya Pethak tersenyum simpul.


Mendengar penuturan itu, Dadung Winoto dan Kebo Kenanga terkejut bukan main. Nama besar Si Tapak Kilat adalah legenda bagi para murid Padepokan Padas Putih.


"Ternyata kau keponakan sendiri. Sungguh pendekar muda yang berbakat. Aku salut pada mu, Arya Pethak", ucap Kebo Kenanga sambil tersenyum tipis.


"Heh, bocah bagus..


Benar luka dalam mu sudah sembuh?", tanya Nyi Sawitri segera.


"Sudah Nini Dewi..


Kenapa Nini Dewi menanyakan hal itu?", Arya Pethak menoleh ke arah Nyi Sawitri alias Dewi Bukit Lanjar. Perempuan paruh baya itu segera menarik nafas panjang sebelum berbicara dengan cepat.


"Dasar bocah nakal, masih muda tapi sudah pikun. Besok pagi kita berangkat ke Gunung Penanggungan.


Apa kau lupa?".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Coba update siang, ya siapa tahu nanti sore mood nulis datang lagi jadi bisa up dua episode untuk hari ini.


Selamat beraktifitas kawan semua 🙏😁👍✌️


__ADS_2