Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Selamatkan Rara Larasati


__ADS_3

Melihat Arya Pethak dan Nyi Sawitri maju, Randu Para melirik ke arah Hayam Sangkil yang terikat tak berdaya. Dengan wajah kelam, Randu Para menatap tajam ke arah Hayam Sangkil sembari menghunus goloknya.


"Sekarang kau tidak berguna lagi", setelah berkata seperti itu, Randu Para mengayunkan goloknya ke arah Hayam Sangkil. Pimpinan kelompok rampok itu benar benar tidak menyangka bahwa hidupnya akan berakhir pada hari itu.


Chrraaasssshhh!!


Kepala Hayam Sangkil langsung menggelinding ke tanah usai Randu Para menebas batang leher nya. Tubuhnya ambruk sambil mengejang sesaat sebelum diam untuk selamanya.


Usai menghabisi nyawa Hayam Sangkil, Randu Para melesat ke arah para anggota Kelompok Kalajengking Hitam yang tengah mengeroyok Nyi Sawitri.


Klungsur menoleh kanan kiri mencari sesuatu yang bisa di gunakan sebagai senjata. Mata pemuda bogel itu langsung tertuju pada sebuah batang kayu bakar sebesar betis orang dewasa.


Dengan cepat, Klungsur menyambar batang kayu sepanjang satu depa yang tergeletak begitu saja di sebelah tempat mereka berhenti. Pemuda bogel itu segera berlari ke arah tengah pertarungan, bergabung bersama Randu Para dan Nyi Sawitri yang sudah mengamuk lebih dulu.


Kayu sebesar lengan orang dewasa langsung di hantamkan Klungsur ke arah punggung salah seorang anggota Kelompok Kalajengking Hitam yang mengepung Randu Para.


Bhhhuuuuuuggggh..


Ouuuuggghhhh!!


Si perampok yang terhantam oleh Klungsur langsung terjungkal sambil muntah darah segar. Tulang rusuk nya remuk di hantam Klungsur.


Dari 7 orang yang mengepung Randu Para, satu sudah tumbang. 2 orang langsung mengepung Klungsur usai melihat kawan mereka tersungkur.


"Kakang,


Sepertinya si pendek ini tidak berilmu tinggi. Kita bunuh dia dulu", ujar seorang perampok bertubuh kurus dengan ikat kepala hitam.


"Benar adik.. Kita habisi dulu dia habis itu kita bantu kawan-kawan membunuh orang itu", jawab si perampok bermata juling sembari menunjuk ke arah Randu Para.


Phuihhhh..


"Jangan banyak bacot kalian!


Maju sini biar tak gebuk kepala mu", tantang Klungsur sembari bersiap untuk bertarung. Kesal mendengar tantangan Klungsur, si perampok bermata juling langsung melesat ke arah Klungsur sambil mengayunkan pedangnya.


Whuuthhh..


Klungsur dengan cepat menangkis sabetan pedang si perampok bermata juling menggunakan kayu nya.


Chhreepppppph..


Pedang menancap di batang kayu. Klungsur memanfaatkan kesempatan ini dengan melayangkan tendangan keras kearah perut si mata juling dengan keras.


Bhuuukkkhhh..


Aaauuuuggggghhhhh!!


Si perampok bermata juling meraung keras. Dia terjengkang ke belakang. Saat yang bersamaan si perampok bertubuh kurus langsung membabatkan goloknya ke arah punggung Klungsur.


"Mampus kau!", teriak si perampok bertubuh kurus saat melihat Klungsur tak mungkin lolos dari sabetan golok nya.


Thhraaaangggggggg!!


Mata si perampok bertubuh kurus melebar saat goloknya tak mampu menyayat kulit Klungsur. Pria bogel itu langsung menoleh kemudian mengayunkan kayu di tangan kanannya.


Whhuuuuuuuggggh!!


Si perampok bertubuh kurus itu kaget dan tidak sempat menghindar lagi saat gebukan kayu Klungsur menghantam kepalanya dengan keras.


Prrraaaakkkkkkk!!!


Lawan Klungsur itu langsung tersungkur dengan kepala pecah berlumur darah.


'Untung Ndoro Pethak memberi ku Jimat Lulang Kebo Landoh. Kalau tidak pasti aku sudah mati tadi', batin Klungsur sambil berjalan mendekati si perampok bermata juling yang ketakutan melihat Klungsur yang tak mempan dengan senjata tajam.


"Sekarang susul kawan mu berangkat ke neraka, Kero (juling).


Waktunya kamu mampus", ujar Klungsur sembari menggebukan kayu di tangan nya ke arah si mata juling.


Whuuthhh..


Si mata juling menghindar hingga gebukan Klungsur mengenai tanah di samping nya.


"Eh masih bisa menghindar kau rupanya. Dasar perampok busuk", maki Klungsur sambil mengayunkan kembali kayu sepanjang satu depa itu ke arah kepala si perampok bermata juling. Rasa takut si perampok bermata juling itu benar benar memuncak. Dia berusaha untuk sebisa mungkin untuk menghindari gebukan Klungsur.


Dia berhasil lolos kali kedua, namun sialnya dia tersandung mayat kawannya. Hingga tubuhnya terjungkal.


Klungsur tak menyia-nyiakan kesempatan. Segera dia menghantam kepala sang perampok bermata juling yang tengah terjatuh.


Brraaakkkk!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Si perampok naas itu langsung tengkurap di atas mayat kawannya yang terlebih dulu di habisi Klungsur. Dia mengejang sesaat sebelum akhirnya diam untuk selamanya.


"Modar kamu sekarang!", maki Klungsur sambil menendang kaki mayat si perampok bermata juling untuk memastikan kematiannya.


Usai melihat lawannya tewas, Klungsur segera berlari menuju ke arah Randu Para yang masih berhadapan dengan 2 perampok yang mulai ketakutan karena kawan kawan mereka telah terbunuh.

__ADS_1


Di sisi lain pertarungan, Arya Pethak melesat cepat menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin ke tengah Macan Panuda dan Matswa Salaka.


Dia dengan cepat menghantam dada Macan Panuda dengan Ajian Guntur Saketi. Selarik sinar putih kebiruan seperti petir menyambar ke arah Macan Panuda.


Whhhuuuusssssshhhhhh..


Serangan kilat itu membuat Macan Panuda melompat tinggi ke udara menghindari sinar putih kebiruan yang berhawa panas.


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan keras terdengar saat sinar putih kebiruan Ajian Guntur Saketi menghantam pintu gerbang markas Kelompok Kalajengking Hitam. Pintu gerbang yang terbuat dari kayu gelondongan sebesar lengan orang dewasa itu langsung hancur berantakan.


Arya Pethak tampaknya tidak mempedulikan serangan nya berhasil atau tidak, karena hantaman Ajian Guntur Saketi itu hanya untuk menjauhkan Macan Panuda yang memiliki ilmu kanuragan lebih tinggi dibandingkan dengan Matswa Salaka. Ini terlihat saat Arya Pethak usai melayangkan serangan, langsung berbalik arah menuju Matswa Salaka yang kaget dengan gerakan Arya Pethak.


"Bangsat kau!", teriak Matswa Salaka sambil melemparkan sinar biru kehijauan seperti bola air kearah Arya Pethak. Itu adalah Ajian Banyu Samudra yang bisa membuat lawan terbunuh oleh hawa beku yang di bawanya.


Whuuussshh whuuussshh...


Kecepatan tinggi Arya Pethak membuat pemuda tampan itu dengan mudah menghindari bola sinar biru kehijauan dari Matswa Salaka.


Seperti menghilang, tahu tahu Arya Pethak muncul di belakang Matswa Salaka sembari menghantamkan tangan kanannya yang di lambari Ajian Guntur Saketi.


Matswa Salaka terkejut bukan main. Dengan cepat menyilangkan kedua tangan nya untuk menghadang serangan Arya Pethak.


Blllaaammmmmmmm!!!


Matswa Salaka terpental jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Dia muntah darah segar akibat luka dalam yang di deritanya.


Macan Panuda yang baru mendarat terpana melihat Matswa Salaka, salah satu dari 5 pimpinan Kalajengking Hitam terluka dalam.


'Keparat, pendekar muda ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Dia berilmu tinggi', batin Macan Panuda.


Mulut Macan Panuda langsung berkomat kamit membaca mantra Ajian Harimau Siluman andalannya. Perlahan sosok Macan Panuda berubah menjadi seekor harimau besar yang menakutkan.


Haaauuuuummmmmmm!!


Secepat kilat, Macan Panuda melompat ke arah Arya Pethak dengan maksud untuk menerkam pendekar muda itu.


Namun Arya Pethak dengan cepat menghindari terkaman Macan Panuda dengan melompat ke samping. Macan Panuda merubah gerakan tubuhnya dan kembali melesat cepat kearah Arya Pethak sambil mengayunkan cakar nya.


Shrraaaakkkkhhhh!!


Arya Pethak melompat tinggi ke udara menghindari sambaran cakar harimau besar itu sambil menghantamkan tangan kanannya yang berwarna putih kebiruan karena Ajian Guntur Saketi.


Sinar putih kebiruan seperti petir kembali menyambar ke arah Macan Panuda yang berwujud harimau besar.


Whhhuuuusssssshhhhhh..


Blllaaaaaarrr!!


Lobang besar tercipta saat Ajian Guntur Saketi menghajar tanah dan menciptakan ledakan keras. Arya Pethak yang mendarat dengan sempurna, kembali menghantamkan kedua tangan nya yang dilapisi Ajian Guntur Saketi ke arah Macan Panuda.


Whuuthhh whuuussshh..


Dua larik sinar putih kebiruan menyambar tubuh harimau besar jelmaan Macan Panuda. Dengan lincah harimau besar itu melompat menghindari serangan bertubi-tubi dari Arya Pethak.


Namun Arya Pethak yang tidak ingin berlama-lama bertarung, segera menjejak tanah dengan keras. Tubuh pendekar muda itu melesat cepat kearah Macan Panuda.


Segera dia menyambar leher harimau besar jelmaan Macan Panuda kemudian menjepit nya dengan tangan kiri nya sekuat tenaga.


Hauummmm haaauuuuummmmmmm!!!


Harimau besar itu meronta berusaha untuk melepaskan diri dari jepitan lengan kiri Arya Pethak. Tanpa menunggu lama, tangan kanan Arya Pethak segera menghantam kepala si harimau besar.


Brrraaaakkkkkkkk!!!


Kepala harimau besar itu langsung hancur berantakan. Isi kepalanya berhamburan keluar hingga membuat baju Arya Pethak berlumuran otak hancur dan darah segar. Arya Pethak kemudian melemparkan mayat harimau besar yang perlahan berubah wujud menjadi Macan Panuda.


Usai menghabisi Macan Panuda, Arya Pethak berjalan mendekati Matswa Salaka yang terluka dalam parah.


"Kau kau tidak boleh membunuh ku. Kalau kau membunuh ku, seluruh anggota Kelompok Kalajengking Hitam akan memburu mu", Matswa Salaka mencoba menakuti Arya Pethak dengan nama besok kelompoknya.


"Jangan khawatir dengan hal itu. Jika Kelompok Kalajengking Hitam berani mencari ku, akan ku habisi mereka semua nya", Arya Pethak menyeringai lebar. Pucat Matswa Salaka mendengar ucapan Arya Pethak, dia segera mencari cara untuk hidup hari ini. Dia teringat pada omongan Arya Pethak tadi tentang gadis bertubuh Julung Kembang.


"Kau tetap tak boleh membunuh ku. Aku tahu dimana perempuan yang kau cari. Dan juga bocah kecil itu", mendengar suara Matswa Salaka, Arya Pethak segera menghentikan langkahnya.


"Oh jadi kau tahu apa yang aku cari. Cepat katakan dimana Larasati?", hardik Arya Pethak sambil menatap tajam ke arah Matswa Salaka.


"Tapi kau harus berjanji untuk tidak membunuh ku. Baru akan ku beri tahu dimana perempuan itu", Matswa Salaka mencoba untuk tawar menawar nyawa nya dengan keberadaan Rara Larasati dan Seta Wahana.


"Baik, aku berjanji untuk tidak membunuh mu. Sekarang katakan dimana Larasati dan Seta Wahana? Cepat", nada suara Arya Pethak terdengar meninggi. Randu Para, Klungsur dan Nyi Sawitri yang baru menyelesaikan pertarungan mendekati Arya Pethak dan Matswa Salaka.


"Mereka di bawa para anggota Kelompok Kalajengking Hitam di bawah Dadung Amuksa ke Kadipaten Kembang Kuning untuk menjadi persembahan Raden Margapati menyempurnakan ilmu sesat nya.


Mungkin hari ini mereka sudah sampai di Gunung Damalung tempat Raden Margapati bertapa.


Aku sudah memberi tahu semuanya, kau tidak boleh membunuh ku karena kau sudah berjanji", ujar Matswa Salaka sembari menatap ke arah Arya Pethak.


"Aku memang tidak akan membunuhmu, karena aku sudah berjanji pada mu. Tapi mereka tidak.

__ADS_1


Nini Dewi...", Arya Pethak membalikkan badannya dan Nyi Sawitri melesat cepat kearah Matswa Salaka yang terkejut mendengar ucapan Arya Pethak.


Jllleeeeeppppphhh!!


Aaauuuuggggghhhhh!!


Matswa Salaka melotot menahan sakit saat pedang Nyi Sawitri menembus dadanya.


"Kau liciiikkk", ucap Matswa Salaka yang ambruk ke tanah usai Nyi Sawitri sembari menunjuk Arya Pethak. Sesaat kemudian dia meregang nyawa kemudian tewas dengan dada mengalirkan darah.


Usai menghabisi para anggota Kelompok Kalajengking Hitam, Arya Pethak dan kawan-kawan nya menuju ke arah gudang markas Kelompok Kalajengking Hitam kemudian mengambil beberapa kantong kepeng emas dan perak sebagai bekal perjalanan mereka menuju ke arah Kadipaten Kembang Kuning untuk menyelamatkan Rara Larasati dan Seta Wahana.


Randu Para langsung melemparkan obor obor api ke atap bangunan markas Kelompok Kalajengking Hitam dan dinding bangunan markas yang terbuat dari kayu.


Dengan cepat api menjalar membakar markas Kelompok Kalajengking Hitam. Asap tebal membumbung tinggi ke udara.


Arya Pethak, Randu Para, Klungsur dan Nyi Sawitri menatap kobaran api yang membakar markas Kelompok Kalajengking Hitam di kejauhan dari atas kuda mereka masing-masing.


"Mari kita tinggalkan tempat ini", ajak Arya Pethak sembari menggebrak kuda tunggangan nya kearah barat. Randu Para, Nyi Sawitri dan Klungsur segera mengikuti langkah Arya Pethak. Mereka berempat memacu kuda mereka di sepanjang jalan raya di selatan Sungai Wulayu.


Di Desa Jati yang memiliki dermaga penyeberangan ke arah Desa Lwaram, mereka menghentikan langkah kaki kuda mereka. Hari telah mendekati senja. Dengan perahu penyeberangan terakhir, mereka menyeberangi Sungai Wulayu.


"Kisanak,


Apa di desa ini ada tempat yang di sewakan untuk menginap? Kami pengelana dari jauh, tidak tahu daerah ini", tanya Arya Pethak dengan sopan pada tukang perahu penyeberangan yang membantu mereka.


"Di desa ini tidak ada tempat untuk menginap, Kisanak. Coba saja kau ke tempat Lurah Desa Lwaram ini, mungkin dia bisa memberi kalian tumpangan bermalam.


Dari sini kalian lurus saja, nanti di kanan jalan ada rumah besar yang ada penjaga nya, itu rumah Ki Lurah Mpu Naya", jawab si tukang perahu sambil mengikat tali perahu pada dermaga penyeberangan.


"Terimakasih banyak atas saran mu Kisanak..


Kami permisi", ujar Arya Pethak yang segera melompat ke atas kuda nya menyusul kawannya yang sudah lebih dulu.


Rombongan Arya Pethak segera menjalankan kudanya menuju ke rumah Lurah Desa Lwaram, Mpu Naya mengikuti petunjuk dari tukang perahu.


Di depan halaman rumah Mpu Naya, mereka menghentikan langkah kaki kuda mereka. Arya Pethak segera melompat turun dari kudanya diikuti oleh Klungsur. Mereka segera berjalan menuju ke arah penjaga rumah sementara Nyi Sawitri dan Randu Para menunggu di jalan.


Singkat cerita, malam itu Arya Pethak dan kawan-kawan diijinkan untuk bermalam di rumah Mpu Naya setelah membayar 4 kepeng perak sebagai ganti makanan mereka.


Malam itu mereka beristirahat dengan tenang sehabis pertarungan yang menguras tenaga.


****


Seorang lelaki muda bertubuh tegap dengan wajah tampan namun terlihat licik tengah duduk bersila di serambi sebuah pondok kayu. Meski pondok kayu ini kecil namun lebih mirip puri kecil dari bangunan istana. Sang lelaki memakai pakaian berbahan kain mahal dengan warna merah dan hitam. Dua orang lelaki yang sepertinya merupakan abdi setia nya tampak duduk dengan tenang, menemani majikan mereka menikmati tuak dari air nira aren. Malam itu begitu dingin di lereng Gunung Damalung, sangat cocok tuak nira aren menghangatkan tubuh.


Dari arah pintu muncul seorang lelaki yang merupakan pengawal pribadi si lelaki tadi. Dia segera berjalan mendekati si lelaki bertubuh tegap itu kemudian segera berjongkok dan menyembah pada nya.


"Mohon ampun Gusti Pangeran..


Rombongan dari Kelompok Kalajengking Hitam sudah sampai. Mereka membawa seorang gadis muda dan seorang bocah lelaki", lapor sang pengawal pribadi dengan cepat.


Mendengar penuturan itu, sebuah senyum terukir di wajah sang pemuda yang segera berdiri dari tempat duduknya.


"Hahahaha, bagus bagus..


Dengan begini pelatihan Ajian Iblis Neraka ku akan segera menuai hasil. Kelompok Kalajengking Hitam benar benar bisa di andalkan", tawa lepas terdengar dari mulut lelaki muda itu yang tak lain adalah Raden Margapati.


Dengan penuh semangat, Raden Margapati sudah bisa membayangkan bahwa saat Ajian Iblis Neraka berhasil dia kuasai, maka tujuan nya akan segera tercapai.


Membunuh ayah tiri nya Adipati Kembang Kuning.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Untung saja ada waktu luang untuk menulis episode selanjutnya di sela sela kesibukan manten.


Selamat siang selamat beraktivitas semua.


__ADS_2