Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Curahan Hati Sang Putri Adipati


__ADS_3

Saat yang bersamaan, muncul tiga orang berpakaian hitam-hitam mendekati mereka berdua.


"Akhirnya terkejar juga, dasar putri bangsawan brengsek. Kerja mu hanya merepotkan orang saja.


Hei kau, cepat kemari!", teriak seorang lelaki bertubuh gempal yang terlihat perampok jalanan.


Mendengar teriakan itu, si gadis muda langsung segera bersembunyi di belakang Arya Pethak sambil mengintip ke arah tiga orang berpakaian hitam-hitam itu.


"Aku tidak mau!


Pokoknya aku tidak mau pulang. Lebih baik aku mati jika harus pulang dan menikah dengan pria bajingan itu", sahut si gadis muda sambil mengintip orang orang itu dari balik punggung Arya Pethak.


"Dasar brengsek! Rupanya kau lebih suka kami seret ya? Baik, aku penuhi permintaan mu putri manja..


Hei kau bocah bau kencur!


Minggir kau, jangan halangi kami untuk membawa gadis itu", ujar si pria bertubuh gempal itu menunjuk ke arah Arya Pethak sembari melangkah menuju ke arahnya. Tangan si pria bertubuh gempal itu langsung meraih pundak Arya Pethak untuk mendorong nya.


Betapa terkejutnya dia saat tarikan tangan nya yang bisa merobohkan bangunan tidak mampu membuat Arya Pethak bergeming sedikitpun.


Pria bertubuh gempal ini langsung melompat mundur beberapa langkah. Dua kawannya kaget melihat itu semua dan segera mendekati nya.


"Ada apa Kakang? Kenapa kau malah mundur dari dekat gadis itu?", tanya seorang kawannya yang heran dengan tingkah si lelaki bertubuh gempal.


"Pemuda itu bukan pria sembarangan, adik. Kalau dia ikut campur urusan ini, takutnya tak semudah yang di harapkan", jawab si lelaki bertubuh gempal itu segera. Ucapan sang kakak seperguruan langsung membuat si adik terperangah tak percaya. Di lihat dari sisi mana pun, pemuda tampan yang menghadang mereka berumur tak jauh dari 2 dasawarsa. Paling jauh lebih satu atau dua warsa tentu saja. Tapi mendengar kakak seperguruan nya sudah begitu pasti tidak main-main lagi. Dua orang berpakaian hitam-hitam itu langsung waspada.


"Hai anak muda, aku peringatkan kau!


Jangan berani untuk ikut campur dalam urusan kadipaten Kalingga. Aku utusan Gusti Pangeran Dwipanggapati, dari Kadipaten Bhumi Sambara adalah orang yang di tugaskan untuk menjaga calon tunangannya. Kalau kau berani macam-macam, pihak istana Kadipaten Kalingga maupun Kadipaten Bhumi Sambara akan memburu mu", si lelaki bertubuh gempal mencoba mengancam Arya Pethak dengan menggunakan nama istana Kadipaten Kalingga dan Bhumi Sambara.


"Huhhhhh..


Kau pikir aku tidak tahu siapa kalian? Mencoba mengelabui ku dengan nama Kadipaten Kalingga dan Bhumi Sambara agar aku menyerahkan gadis ini bukan?


Pergilah kalian jika tidak ingin aku hajar!", Arya Pethak menatap tajam ke arah mereka.


"Kurang ajar!


Kakang, sudah kepalang tanggung sayang untuk di lepaskan. Dia hanya sendiri, kita bertiga. Kita keroyok saja dia", si lelaki bertubuh kekar langsung mencabut golok nya.


"Benar juga omongan mu, Wongso. Ayo kita ringkus mereka berdua", teriak si lelaki bertubuh gempal yang juga ikutan menarik gagang goloknya dari pinggang. Mereka bertiga segera melesat maju ke arah Arya Pethak, menyerang nya dari tiga sisi yang berbeda.


Pemuda tampan tersenyum tipis sebelum menjejak tanah lalu bergerak cepat menyongsong tiga orang berpakaian hitam-hitam itu.


Satu sabetan golok mengarah ke leher Arya Pethak dan dua membabat pinggang serta kaki murid Mpu Prawira itu dengan cepat.


Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh..


Shrraaaakkkkhhhh!!!


Dengan gerakan tubuh yang lincah dan gesit, Arya Pethak menghindari sabetan golok sambil menepuk golok yang mengincar pinggang nya.


Golok berubah arah hingga saling membabat dengan golok kawannya.


Thhraaaangggggggg!!!


Begitu Arya Pethak mendarat di tanah, dengan cepat dia mengibaskan tangan kanannya ke arah si lelaki bertubuh gempal. Serangkum angin panas menerabas cepat kearah nya.


Whuuussshh!!


Si lelaki bertubuh gempal itu tak siap saat angin tenaga dalam tingkat tinggi menghantam tubuhnya. Tubuhnya terpental dan menyusruk tanah dengan keras. Seteguk darah segar dia muntahkan akibat luka dalam yang di deritanya.


Melihat itu, dua kawannya langsung membabatkan goloknya ke arah kaki Arya Pethak. Dengan cepat Arya Pethak melenting tinggi ke udara menghindari sabetan golok, bersalto di udara kemudian melayangkan tendangan keras kearah bahu dua lawan nya sekaligus.


Bhhhuuuuuuggggh..


Aaauuuuggggghhhhh!!


Dua orang itu meraung keras saat tendangan Arya Pethak menghajar bahu mereka. Dua orang itu langsung terjungkal di dekat si lelaki bertubuh gempal yang sudah lebih dulu tersungkur. Ketiga orang itu segera bangkit kemudian berlari meninggalkan tempat itu sambil mengeluarkan sumpah serapah.


Si gadis muda yang sedari tadi melihat pertarungan antara Arya Pethak dan ketiga pengejar nya menarik nafas lega saat melihat Arya Pethak memenangkan pertarungan itu. Buru buru dia mendekati sang pendekar muda.


"Terimakasih atas bantuan mu pendekar, budi baik ini akan ku ingat selamanya..


Aku permisi dulu", sang gadis muda lantas berbalik arah.


"Tunggu dulu Nisanak..


Kau mau kemana malam malam begini? Selain berbahaya, juga tidak pantas seorang wanita keluyuran malam hari begini Nisanak", ujar Arya Pethak sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


"A-aku tidak tahu lagi harus bagaimana pendekar. Aku bingung dengan keadaan ku", isak tangis si gadis muda itu langsung terdengar.


"Sudahlah semua masalah bisa di selesaikan dengan baik.


Sebaiknya kau ikut aku nanti baru kita pikirkan pemecahan untuk masalah mu. Bagaimana? Kau bersedia?", Arya Pethak menatap ke arah wajah gadis muda yang wajahnya tidak jelas karena sebagian tertutup kerudung hitam yang menyamarkan penampilan nya. Tapi dari jarit dan kemben yang di pakai perempuan muda itu sudah cukup menjanjikan bukti bahwa latar belakang gadis itu bukan perempuan sembarangan.


"Aku tidak boleh membuang waktu untuk tetap di kota ini terlalu lama pendekar.


Ada seseorang yang sudah menunggu ku di tepi hutan kecil sana", ucap si gadis muda itu segera.


"Baiklah kalau begitu. Setidaknya ijinkan aku mengantar mu dengan selamat hingga kau bertemu dengan orang yang kau cari.


Apa kau masih keberatan Nisanak?", Arya Pethak tersenyum penuh arti.


"Aku berterimakasih bila kau bersedia melakukan nya, pendekar.


Mari kita berangkat", ajak si gadis muda itu sembari melangkahkan kakinya menuju ke arah barat. Arya Pethak pun segera melangkahkan kakinya menuju ke arah yang dituju oleh si gadis muda. Mereka berjalan beriringan menuju ke arah tapal batas kota Kadipaten Kalingga.


Begitu sampai di tapal batas, Arya Pethak membuat sebuah obor dari daun kelapa kering yang mereka dapat dari pekarangan yang mereka lalui. Kemudian dia menyulutkan api dari lampu minyak jarak penerangan jalan. Mereka berdua lantas berjalan menembus kegelapan malam.


"Oh iya pendekar, kalau boleh tahu siapa namamu dan dari mana asal mu? Melihat dandanan mu, kau bukan orang Kadipaten Kalingga", tanya sang gadis muda itu sembari melangkahkan kaki di samping Arya Pethak.


"Namaku Arya Pethak, asal ku dari Kadipaten Kadiri. Aku hanya kebetulan lewat daerah sini karena ada urusan ke Gunung Ciremai.


Kau sendiri Gusti Putri Dyah Widowati yang kabur dari istana Kadipaten itu bukan?", tebak Arya Pethak yang terus melangkah menyusuri jalan raya yang menuju ke arah hutan kecil yang memisahkan wilayah kota Kadipaten Kalingga dengan wilayah Pakuwon Bulu.


Wajah cantik gadis muda itu terperanjat mendengar ucapan Arya Pethak. Dia segera menghentikan langkahnya dan menatap waspada ke arah Arya Pethak.


"Kalau kau sudah tahu siapa aku, kenapa kau masih membantu ku? Ada tujuan apa kau sebenarnya pendekar?", Dyah Widowati berkata dengan nada suara dingin.


"Tujuan? Tidak ada Gusti Putri..


Guru ku sempat berpesan agar saat berkelana aku membantu orang yang membutuhkan sebagai syarat topo ngrame ku. Itu saja sudah cukup menjadi alasan ku untuk menolong mu", mendengar penuturan Arya Pethak, Dyah Widowati menarik nafas lega. Walaupun belum percaya sepenuhnya, tapi Dyah Widowati tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti langkah Arya Pethak menembus gelapnya malam.


Mereka berdua terus berjalan menuju ke arah barat.


Untuk mengusir sepi sekaligus kebosanan selama perjalanan, Arya Pethak mengajak Dyah Widowati mengobrol. Dari obrolan mereka, Arya Pethak mendengar sebuah kisah menarik.


"Aku adalah putri ketiga dari Adipati Yudhonegoro, pendekar muda.


Banyak orang yang melihat bahwa hidup di istana itu enak dengan segala kemudahan dan kemewahan. Mungkin ada yang demikian, tapi tidak dengan ku. Kanjeng Romo Adipati Yudhonegoro sangat menginginkan putra putri nya mendapatkan pendamping dari putra putri penguasa wilayah lain di negeri Singhasari ini.


Dahulu, ibu ku Dewi Sekarkencana menjadi rebutan antara ayah ku dan Adipati Rajapura yang sekarang, Adipati Tejo Lelono. Dendam kebencian antara mereka berdua mendarah daging hingga Kanjeng Romo Adipati Yudhonegoro tidak mengijinkan siapapun keturunannya untuk berhubungan dengan pihak istana Kadipaten Rajapura.


Aku di jodohkan dengan Raden Dwipanggapati dari Kadipaten Bhumi Sambara. Aku bukan gadis bodoh, terlebih dulu aku mengutus orang kepercayaan ku untuk mencari tahu siapa dan bagaimana Raden Dwipanggapati sebenarnya. Dari dia aku tahu bahwa lelaki itu adalah lelaki bejat yang suka mempermainkan wanita. Aku tidak mau menjadi istri yang seumur hidup harus menderita sakit hati.


Karena itu aku berusaha kabur dari istana Kadipaten Kalingga. Tujuan ku hanya satu, ke rumah saudara ibu ku yang memimpin sebuah perguruan silat di kadipaten Rajapura. Aku tidak mau lagi berhubungan dengan keegoisan Kanjeng Romo Adipati Yudhonegoro meskipun dia di luar dikenal sebagai pejabat yang baik", Dyah Widowati menghela nafas panjang usai menceritakan tentang kisah hidupnya.


"Apakah itu tidak menjadi masalah di kemudian hari, Gusti Putri?", Arya Pethak menanggapi cerita sang putri sambil terus berjalan menuju ke arah tepi hutan kecil.


"Aku tidak tahu, Arya Pethak..


Yang jelas untuk saat ini aku hanya ingin menenangkan pikiran ku disana. Nantinya akan seperti apa, biarlah Sang Hyang Tunggal saja yang tahu", ujar Dyah Widowati yang melangkah beriringan dengan Arya Pethak.


Tak berapa lama kemudian, mereka berdua melihat sebuah api unggun di tepi hutan kecil. Raut wajah Dyah Widowati langsung cerah melihat itu.


"Itu mereka, ayo kita kesana pendekar", Dyah Widowati menunjuk ke arah api unggun. Mereka segera bergegas kesana.


2 orang perempuan dan satu orang lelaki paruh baya nampak duduk mengitari api unggun saat Arya Pethak dan Dyah Widowati.


"Paman Ranggajati, ternyata benar paman menunggu ku disini", teriakan keras Dyah Widowati membuat ketiga orang itu segera berdiri dari tempat duduknya. Dyah Widowati langsung menghambur ke arah lelaki paruh baya itu.


"Ah keponakan ku,


Kau akhirnya datang juga. Aku sudah lama menunggu mu disini", ujar si lelaki paruh baya yang bernama Ranggajati itu dengan senyum terukir di wajahnya yang teduh.


"Aku sudah berjanji untuk datang, pasti akan datang paman..


Ini Arya Pethak, pendekar muda yang menolong ku tadi dari kejaran orang orang Raden Dwipanggapati", sahut Dyah Widowati sambil memperkenalkan Arya Pethak.


"Ah pendekar muda..


Aku mengucapkan terima kasih atas pertolongan mu untuk keponakan ku", Ranggajati membungkukkan badannya pertanda dia hormat kepada Arya Pethak.


"Hanya pertolongan kecil saja, Kisanak..


Karena Gusti Putri sudah bersama dengan kalian, aku mohon pamit", Arya Pethak membungkukkan badannya kemudian dia berbalik arah.


"Tunggu Arya Pethak!"

__ADS_1


Mendengar suara Dyah Widowati, Arya Pethak menghentikan langkahnya. Dyah Widowati segera mencabut salah satu tusuk konde emas nya yang berhias burung kemudian ia menyerahkannya pada Arya Pethak.


"Bawalah ini sebagai kenang-kenangan dari ku. Jika kita ada jodoh, pasti suatu saat akan bertemu lagi", ujar Dyah Widowati sambil tersenyum manis.


"Terimakasih Gusti Putri. Aku mohon diri", ujar Arya Pethak yang menerima tusuk konde emas itu kemudian berbalik arah dan melesat cepat kearah tadi dia datang bersama Dyah Widowati menuju ke arah penginapan.


Begitu Arya Pethak pergi, Dyah Widowati segera melompat ke atas kuda yang sudah di siapkan Ranggajati. Mereka berempat segera bergegas meninggalkan tempat itu.


Malam segera berganti pagi.


Rombongan Arya Pethak terus menggebrak kudanya. Selepas meninggalkan Kota Kadipaten Kalingga, mereka bertiga memasuki wilayah Pakuwon Bulu. Tepat tengah hari mereka berhenti di kota Pakuwon Bulu sejenak untuk beristirahat dan memberi makan kuda tunggangan mereka.


Saat hari menjelang sore, rombongan Arya Pethak memasuki wilayah Kota Kadipaten Rajapura.


Di pintu gerbang kota, 4 orang prajurit menghentikan laju pergerakan rombongan Arya Pethak.


"Berhenti kalian!", teriak seorang prajurit penjaga gerbang kota yang membuat Arya Pethak menarik tali kekang kudanya, begitu pula Klungsur dan Anjani. Segera Arya Pethak melompat turun dari kudanya diikuti oleh kedua pengikutnya.


"Siapa kalian? Mau apa di kota ini?", tanya sang prajurit penjaga gerbang kota dengan pandangan menyelidik.


"Saya Arya Pethak, Gusti Prajurit.


Pengelana dari Kadiri, ingin mengunjungi saudara guru di Saunggalah. Apa ada masalah Gusti Prajurit?", Arya Pethak menjawab dengan sopan.


"Semua orang asing yang masuk ke dalam kota Kadipaten Rajapura harus di periksa. Kalian geledah mereka", ujar sang prajurit penjaga gerbang kota berkumis tebal itu segera.


"Jangan sembarangan menggeledah orang jika tidak ingin menerima pukulan ku", teriak Anjani dengan geram.


"Kurang ajar!


Berani menentang prajurit Kadipaten Rajapura sama dengan mencari mati. Kawan kawan, tangkap mereka", teriak sang prajurit yang segera melompat ke arah Arya Pethak, Klungsur dan Anjani dengan pedang terhunus. Ketiga orang kawannya langsung ikut mengepung.


Sang prajurit langsung menebaskan pedangnya kearah Arya Pethak. Pendekar muda itu langsung menggeser tubuhnya sedikit hingga tebasan pedang sang prajurit hanya menebas udara kosong.


Melihat serangan nya berhasil di hindari, si prajurit berkumis tebal itu geram bukan main. Dia segera mengayunkan pedangnya kearah leher Arya Pethak.


Whhuuuuuuuggggh..!!


Arya Pethak hanya berkelit ke samping kanan kemudian mengibaskan tangan kiri nya kearah punggung sang prajurit.


Bhhhuuuuuuggggh..


Ouuuuggghhhh!!


Si prajurit itu langsung terjungkal ke tanah sambil mulutnya mengeluarkan darah segar. Dia segera bangkit dari jatuhnya dan bersiap untuk menyerang lagi ke arah Arya Pethak. Namun sebuah suara langsung membuat nya mematung di tempatnya.


"Apa yang sedang kalian lakukan?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mari kolak pisang nya di hajar lagi..


Hahahaha 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2