
Perempuan itu segera mengambil beberapa jarum kecil yang tersimpan rapi dalam gulungan kain tebal. Dengan cepat ia menancapkan jarum jarum kecil yang sudah di bakar ujungnya pada api sentir minyak jarak ke beberapa titik nadi.
Uhhhh...
Terdengar dengusan nafas pertanda dia merasakan sakit akibat tusukan jarum kecil. Setelah semua terpasang pada titik nadi yang diinginkan, perempuan cantik berbaju hitam itu segera mengerahkan tenaga dalam nya.
Huooooggghhhh...!!
Perempuan cantik itu muntah darah kehitaman yang merupakan pertanda dia luka dalam yang cukup serius. Namun bersamaan dengan itu, bekas merah kehitaman berkurang sepertiga bagian.
Setelah 3 kali muntah darah, bekas merah kehitaman itu menghilang dari pundak kirinya walaupun masih menyisakan bekas merah muda. Perempuan cantik itu menarik nafas lega.
Gadis itu bernama Ajeng Candrakanti. Dia adalah seorang putri bangsawan Gelang-gelang yang bernama Mahesa Jangkung. Namun gadis itu di tinggal mati kedua orang tua nya yang terbunuh oleh Kelompok Kelabang Ireng yang kala itu merampok rombongan orang tua nya saat baru pulang dari Tumapel.
Selanjutnya, Ajeng Candrakanti di rawat oleh pamannya yang menjadi Akuwu di Cemorogunung.
Suatu hari saat Ajeng Candrakanti berusia sewindu, Pakuwon Cemorogunung di satroni oleh seorang maling sakti yang bernama Juru Langon atau yang lebih dikenal dengan sebutan Maling Sakti dari Selatan. Ajeng Candrakanti di culik lalu di didik dengan semua kepintaran dan ilmu kanuragan Juru Langon termasuk ilmu mencuri nya.
Saat Maling Sakti dari Selatan hendak meninggal karena racun saat bertarung melawan Walang Sangit, dia minta Ajeng Candrakanti yang sudah berusia satu setengah Warsa untuk pulang ke Cemorogunung menemui paman nya.
Ajeng Candrakanti yang sempat lupa tata krama istana harus susah payah mempelajari tentang kehidupan bangsawan.
Usai satu Surya Sengkala, Akuwu Cemorokandang mengijinkan Ajeng Candrakanti berkelana di temani oleh seorang abdi setia yang bernama Wantini setelah tahu Ajeng Candrakanti memiliki kemampuan beladiri yang lumayan.
Ajeng Candrakanti segera duduk bersila untuk menata jalan darah nya dengan tenaga dalam. Wantini yang baru bangun tidur melihat Ajeng Candrakanti bersemedi mengernyitkan dahinya. Tidak biasanya junjungan nya itu bersemedi usai menjadi Walet Merah. Hanya dia yang tahu rahasia kehidupan dua dunia Ajeng Candrakanti. Siang hari menjadi putri bangsawan yang santun, tapi malam hari menjadi buronan di beberapa kadipaten karena mencuri di rumah orang kaya.
Wantini mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan melihat bercak darah kehitaman di dalam wadah bokor kuningan.
"Ndoro Ajeng,
Ndoro luka dalam ya?", tanya Wantini segera.
Ajeng Candrakanti segera memutar telapak tangannya dan memegang kedua dengkul kaki nya lalu membuka mata.
"Iya Tini,
Semalam aku di hadang oleh seorang pemuda di Katumenggungan. Dia mampu menangkal Aji Sirep Megananda ku bahkan mampu mengimbangi ilmu meringankan tubuh ku. Walaupun aku berhasil kabur, tapi dia sempat menghantam ku dengan tenaga dalam nya.
Suatu saat aku pasti bisa membalas perbuatannya ini", jawab Ajeng Candrakanti sambil beringsut dari tempat duduknya.
"Woalah Ndoro Ajeng mbok sudah to..
Saya rasa uang Ndoro Ajeng sudah banyak. Cukup untuk makan dan bersenang-senang seumur hidup. Buat apa menjadi Walet Merah lagi?", ujar Wantini yang ingin Ajeng Candrakanti berhenti dari pekerjaan malam nya.
"Tidak bisa Tini,
Aku harus mengumpulkan duit banyak agar bisa menyewa pendekar tangguh untuk membantu membalas dendam kematian orang tua ku. Dan itu butuh uang yang tidak sedikit.
Tapi selama sepekan ke depan, aku akan beristirahat, tidak akan maling lagi. Aku ingin menyelidiki siapa pemuda yang melukai ku tadi malam", ucap Ajeng Candrakanti segera.
Wantini hanya geleng-geleng kepala saja melihat kekerasan hati Ajeng Candrakanti. Sebenarnya dia sayang pada gadis cantik itu, namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk menahan keinginan majikannya itu.
**
Arya Pethak bersama Tumenggung Jaran Gandi beserta Sekarwangi dan Paramita menghadap pada Adipati Kurawan, Lembu Panoleh saat matahari sepenggal naik di langit.
Diantar dua orang prajurit penjaga gerbang istana Kadipaten, mereka memasuki ruang pribadi adipati yang terletak di belakang balai paseban agung Kadipaten Kurawan.
Seorang lelaki berumur 5 warsa memakai gelung berkonde dan memakai mahkota kadipaten yang berupa emas berbentuk lingkaran dengan satu sulur pakis pada dahi nampak sedang duduk di atas kursi berwarna keemasan.
Pakaian hitam dari sutra hitam dengan sulaman benang emas menambah keagungan lelaki itu yang tak lain adalah Adipati Lembu Panoleh. Meski sudah berumur, namun lelaki penguasa kadipaten Kurawan itu masih tampak gagah.
Di hadapannya, seorang lelaki sepuh berumur 6 warsa dengan rambut yang sudah memutih nampak duduk bersila di lantai sebelah kanan Adipati Lembu Panoleh. Memakai baju putih panjang dengan sulaman benang emas di tepi baju tanpa kerah itu membuat si lelaki tua itu terlihat berwibawa. Dia adalah Patih Lembu Peteng, warangka praja Kadipaten Kurawan.
Di sebelah kiri sang Adipati, seorang lelaki berumur 3 warsa setengah nampak duduk bersila. Tubuh kekar lelaki itu terlihat jelas dari otot otot yang menonjol pada lengan nya. Pria berkumis tebal itu adalah Senopati Dandang Mangore, jagoan andalan Kadipaten Kurawan yang kondang di wilayah itu sebagai perwira berilmu tinggi.
"Begitu lah yang menjadi pemikiran hamba Gusti Adipati.
Kita sebagai wilayah yang berdekatan dengan Gelang-gelang harus bersiap siap untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk", ujar Patih Lembu Peteng sembari menghormat pada Adipati Lembu Panoleh.
"Kita tidak boleh gegabah, Paman Patih. Walaupun kita berdekatan dengan Gelang-gelang, kita tidak boleh tinggal diam jika benar benar Gelang-gelang mempersiapkan kekuatan untuk berperang melawan Singhasari", ucap Lembu Panoleh sambil mengelus jenggotnya yang mulai ditumbuhi uban.
"Hamba dengar, pemerintah Gelang-gelang mendapat sokongan dana dari Kelompok Kelabang Ireng, Gusti Adipati.
Ini yang membuat hamba khawatir karena desas-desus yang beredar mereka memiliki sebuah markas di wilayah kita", sahut Senopati Dandang Mangore seraya menghormat pada Adipati Lembu Panoleh.
Belum sempat Adipati Kurawan itu menanggapi ucapan Senopati Dandang Mangore, dari luar ruang pribadi adipati nampak dua orang prajurit mengawal kedatangan Tumenggung Jaran Gandi beserta Arya Pethak dan kawan-kawan nya.
Dua prajurit Kurawan itu berhenti di luar ruang pribadi adipati sambil mempersilakan Tumenggung Jaran Gandi, Arya Pethak, Sekarwangi dan Paramita masuk ke dalam ruang pribadi adipati.
__ADS_1
Tumenggung Jaran Gandi segera menghormat pada Adipati Lembu Panoleh, begitu juga Arya Pethak dan kedua gadis cantik itu. Usai menghormat, mereka duduk bersila di hadapan Adipati Lembu Panoleh.
" Kau sudah pulang, Dhimas Tumenggung Jaran Gandi.
Hasil apa yang kau dapat dari Anjuk Ladang? Apakah Adipati Gajah Panggung bersedia bekerja sama dengan kita untuk menumpas para perusuh itu?", tanya Adipati Kurawan usai Tumenggung Jaran Gandi duduk di tempatnya.
"Mohon ampun beribu ampun Gusti Adipati.
Anjuk Ladang bersedia untuk berkerja sama dengan kita namun prajurit mereka hanya akan bergerak di wilayah mereka sendiri", lapor Tumenggung Jaran Gandi sembari menyembah pada Adipati Lembu Panoleh.
"Kalau begitu, tinggal kita yang mengejar para perusuh itu hingga ke perbatasan Anjuk Ladang dan Kurawan.
Sisanya biar di bereskan oleh orang-orang Anjuk Ladang", ujar Adipati Lembu Panoleh sembari tersenyum simpul.
"Lalu siapa pemuda dan dua gadis di belakangnya itu, Dhimas Tumenggung?", Adipati Lembu Panoleh menatap ke arah Arya Pethak, Paramita dan Sekarwangi bergantian.
"Mereka adalah utusan dari Kadiri, Gusti Adipati. Arya Pethak silahkan kau sampaikan apa yang menjadi tujuan mu kemari", ujar Tumenggung Jaran Gandi yang disambut anggukan kepala dari Arya Pethak.
"Mohon ampun Gusti Adipati.
Hamba Arya Pethak, utusan Gusti Patih Pranaraja dari Kadiri. Kami di utus menghaturkan nawala pada Gusti Adipati Lembu Panoleh", ujar Arya Pethak sambil menghormat pada Adipati Kurawan itu segera. Lalu Sekarwangi memberikan kantong kain berwarna merah pada Arya Pethak, yang selanjutnya menghaturkan nawala itu dengan kedua tangannya.
Senopati Dandang Mangore segera berdiri dari tempat duduknya dan mengambil surat itu dari tangan Arya Pethak kemudian memberikannya kepada Adipati Lembu Panoleh.
Segera Adipati Lembu Panoleh membuka bungkus surat dari daun lontar itu dan membacanya dalam hati.
Wajah sepuh nan berwibawa penguasa Tanah Kurawan itu mengkerut, seperti tengah memikirkan sesuatu yang mengganjal hati. Usai menghela nafas panjang sekali, Adipati Lembu Panoleh berucap dengan berat.
"Akan ku pikirkan dulu masak-masak keputusan ku. Selama kau menunggu jawaban ku, kau boleh tinggal di balai peristirahatan Kadipaten Kurawan, Anak Muda. Segala kebutuhan mu akan aku penuhi", ucap Adipati Lembu Panoleh sembari mengelus dagunya.
"Hamba mengerti Gusti Adipati, namun bila diijinkan hamba dan kawan-kawan ingin tinggal di Katumenggungan saja sembari menunggu jawaban dari Gusti Adipati", Arya Pethak menghaturkan sembah pada Penguasa Kadipaten Kurawan itu segera.
"Boleh saja,
Segala kebutuhan mu dan kawan-kawan mu akan menjadi tanggungan pemerintah Kurawan.
Dhimas Tumenggung,
Aku titip tamu-tamu ku kepada mu ya", ucap Adipati Lembu Panoleh yang segera membuat Tumenggung Jaran Gandi mengangguk mengerti.
Usai menghadap pada Adipati Kurawan, Arya Pethak mohon ijin untuk kembali ke Katumenggungan lebih dulu. Mereka bertiga segera mundur dari ruang pribadi Raja.
Di luar tembok istana Kadipaten Kurawan, Klungsur sudah menunggu kedatangan mereka bertiga.
"Beres, tinggal menunggu jawaban dari Gusti Adipati saja Sur", jawab Arya Pethak sembari mengacungkan jempol tangan kanannya. Ada raut wajah lega dari pemuda tampan itu.
"Kakang Pethak,
Kita jalan jalan dulu ya? Bosan di Katumenggungan terus menerus", pinta Paramita setengah merajuk pada Arya Pethak.
Setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya Arya Pethak menyetujui ajakan Paramita. Mereka berempat segera berjalan kaki menuju sebuah pasar di dekat istana Kadipaten Kurawan.
Di saat yang bersamaan, dua orang gadis yang satu berpakaian mewah dan yang satu berpakaian biasa tampak berjalan di sekitar pasar dekat istana Kadipaten. Mereka yang baru saja berkeliling di pasar besar itu nampak melihat-lihat beberapa dagangan yang di tawarkan oleh para pedagang.
Kota Kadipaten Kurawan memang menjadi salah satu pusat perdagangan yang ramai waktu itu. Banyak pedagang manca daerah yang mengadu nasib di kota yang terletak di utara Gunung Wilis ini. Mereka mencari untung dengan berniaga barang dari luar Kadipaten Kurawan.
Saat asyik memilih baju baju yang di tawarkan oleh seorang pedagang, dua gadis berbeda harga pakaian itu justru menabrak seorang lelaki bertubuh kekar.
Bhuuukkkhhh...
Pemuda kekar yang tak lain adalah Arya Pethak nyaris terjatuh andai Klungsur yang di belakang nya tak menyangga tubuhnya.
"Hai, kalau jalan lihat lihat dong.. Kau buta ya?", hardik Sekarwangi yang geram melihat seorang wanita muda menabrak tubuh Arya Pethak karena berjalan sambil menatap baju yang di tawarkan padanya.
"Aduhh maaf kisanak..
Aku tidak sengaja. Maafkan aku", ujar gadis cantik yang tak lain adalah Ajeng Candrakanti. Wantini yang membawa belanjaan Ajeng Candrakanti langsung mendekat.
"Maafkan majikan saya Kisanak Nisanak..
Dia tak sengaja", Wantini ikut meminta maaf kepada seluruh kawan-kawan Arya Pethak.
"Maaf maaf.. Enak saja kalau ngomong. Lihat itu barang belanjaan Kakang Pethak jatuh dan kotor semua.
Dasar tidak punya otak", maki Sekarwangi sambil terus mengomel.
Mendengar makian Sekarwangi, amarah Ajeng Candrakanti langsung naik. Dia tidak terima dengan ucapan Sekarwangi.
"Hai siapa yang tak punya otak ha?
__ADS_1
Kami kan sudah minta maaf. Kenapa kau masih memaki maki kami?", sahut Ajeng Candrakanti segera. Dia benar-benar geram.
"Kalian yang tidak punya otak. Kenapa? Kau tidak terima ha?", tantang Sekarwangi yang terpancing emosi nya.
"Dasar mulut beracun. Kau layak mendapat pelajaran", usai berkata demikian, Ajeng Candrakanti segera menyambar kain panjang yang ada di pedagang pakaian itu lalu mengebutkannya pada Sekarwangi.
Whhhuuuuuttttthhhh..
Melihat itu, Sekarwangi segera melompat mundur lalu dengan cepat menyambar sapu lidi yang ada di depan pintu lapak pedagang.
Dengan cepat, Sekarwangi mengayunkan sapu lidi kearah kebutan kain Ajeng Candrakanti.
Bllaaaaaaaarrrrrr!
Ledakan keras terdengar dan para pedagang memilih untuk menyelamatkan diri. Mereka berlarian meninggalkan pasar. Klungsur yang melihat penjual jajan kabur meninggalkan tempat itu langsung duduk di depan tampah bambu yang berisi puluhan jajan.
"Lumayan, makan jajan tak perlu bayar", gumam Klungsur sambil menyambar pisang goreng dan kue basah di atas tampah. Dia langsung menggasak jajan itu dengan cepat.
Ajeng Candrakanti dan Sekarwangi sama sama mundur dua langkah. Tangan mereka terasa kesemutan usai benturan tenaga dalam dengan lawan.
Sekarwangi segera melepaskan tali sapu lidi. Menggenggam 10 batang lidi dan dengan tenaga dalam melemparkan lidi lidi itu kearah Ajeng Candrakanti.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg shriingg!!
Lidi melesat cepat kearah Ajeng Candrakanti. Perempuan cantik itu buru buru menyentakkan ujung kain yang di pegang nya hingga ujung kain memapak serangan lidi dari Sekarwangi.
Whuuussshh...
Dasshh dhassh dhaassss!!
Melihat serangan nya tak menemui hasil, putri Patih Pranaraja itu segera melesat cepat kearah Ajeng Candrakanti sembari mengayunkan batang sapu lidi di tangan kanannya kearah Ajeng Candrakanti.
Whhhuuuuuttttthhhh..
Ajeng Candrakanti segera berkelit ke samping kanan menghindari sabetan sapu lidi Sekarwangi lalu Kaki perempuan cantik itu menyapu kaki kanan putri Patih Pranaraja itu segera.
Sekarwangi langsung melompat tinggi ke udara lalu melayang turun sambil menghantamkan tangan kanannya ke arah Ajeng Candrakanti.
Perempuan cantik itu segera menyongsong serangan Sekarwangi dengan hantaman tangan serupa karena dia tidak punya waktu untuk menghindar.
Blllaaammmmmmmm!!
Dua perempuan cantik itu terdorong mundur beberapa tombak. Rupanya tenaga dalam mereka berimbang.
Arya Pethak yang mengamati Ajeng Candrakanti langsung teringat dengan sosok Walet Merah karena melihat tahi lalat di sudut kiri mata Ajeng Candrakanti.
Dengan Ajian Langkah Dewa Angin, Arya Pethak melesat cepat kearah Ajeng Candrakanti yang sedari tadi menahan diri untuk tidak mengeluarkan kepandaian Kanuragan nya. Hanya berjarak 1 langkah, Arya Pethak berbisik lirih.
"Hentikan pertarungan ini, atau semua orang akan tahu bahwa kau adalah Walet Merah", ucap Arya Pethak yang hanya bisa di dengar oleh Ajeng Candrakanti. Perempuan cantik itu terkejut bukan main mendengar suara Arya Pethak.
"Jadi kau orang nya?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
__ADS_1
Ayo yang suka sedekah like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁
Selamat membaca 🙏🙏🙏