
Arya Pethak tersenyum tipis mendengar suara dari mahkluk bersayap kelelawar yang terbang diatas para pendorong gerobak kayu bertudung hitam yang sudah terpental akibat ledakan dahsyat dari Ajian Tapak Brajamusti. Mata pendekar muda itu menatap tajam ke arah sang mahkluk bersayap.
"Untuk apa kau menyamar sebagai setan, kisanak??
Ilmu meringankan tubuh mu memang tinggi, tapi itu semua tidak bisa mengelabuhi ku", ujar Arya Pethak sembari menatap tajam ke atas dimana makhluk bersayap kelelawar itu masih berdiri.
"Hahahaha...
Sungguh lucu saat manusia menuduh ku menyamar sebagai setan. Aku adalah setan yang menguasai Desa Randublatung ini hai manusia laknat.
Bagaimana mungkin sosok Dedemit Desa Randublatung kau tuduh sebagai orang yang menyamar ha?", hardik sosok makhluk hitam bersayap kelelawar itu dengan keras.
"Awalnya aku hampir percaya kalau kau benar-benar dedemit desa ini, tapi setelah Ajian Tapak Brajamusti mu menghajar gerobak mu yang berisi anglo tanah liat yang kau bakar dengan kemenyan, aku langsung tahu kau adalah palsu", jawab Arya Pethak dengan tenang. Semua orang yang ada di tempat itu yang sempat ketakutan setengah mati dengan munculnya Dedemit Desa Randublatung ini terkejut bukan main.
"Pendekar muda,
Be-benarkah dia dedemit palsu?", tanya Ki Lurah Mpu Paniti dengan terbata-bata.
"Mula nya aku nyaris tertipu dengan lolongan serigala tadi Ki Lurah, tapi setelah gerobak kayu itu terdengar berderit dan menapak tanah, aku mulai curiga. Tidak ada dedemit yang menapak tanah dan derit roda gerobak kayu itu semakin membuat ku curiga.
Makanya tadi aku tidak ragu untuk melepaskan ilmu kesaktian ku pada gerobak kayu keparat itu", jelas Arya Pethak sambil menunjuk ke arah gerobak kayu yang hancur.
"Lalu bagaimana penjelasan mu dengan si demit yang terbang itu, pendekar muda?
Kau jangan asal menebak, bisa bisa demit itu bertambah marah dan membantai para penduduk Desa Randublatung", ujar Jagabhaya yang masih gemetar ketakutan.
"Dia hanya seorang pendekar yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi saja, jagabhaya...
Kemunculan selalu malam dan itu memudahkan penyamaran nya. Karenanya dia mudah mengelabuhi semua orang di desa ini. Dan kalau tidak salah, dia adalah brahmana yang mengutuk desa ini", Arya Pethak mengalihkan pandangannya pada sosok makhluk hitam bersayap kelelawar yang masih terbang di angkasa. Sorot cahaya bulan yang melewati purnama membuat mahkluk hitam itu nampak menyeramkan.
"Hahahaha..
Sungguh sebuah pemikiran yang ngawur. Benar benar tukang mengkhayal tingkat tinggi..
Hai orang orang Desa Randublatung,
Karena hari ini kalian berani menentang ku maka akan ku habisi nyawa kalian semua", ancam makhluk hitam bersayap kelelawar itu dengan lantang. Mendengar itu, seluruh orang di tempat itu merasa ketakutan kecuali Arya Pethak yang masih tersenyum.
"Sudah ketahuan tapi masih juga berani berlagak sombong. Akan ku buktikan bahwa kau adalah penipu.
Dawuk Ireng,
Buat dia turun ke tanah!", teriak Arya Pethak dengan lantang. Dari atas pohon sawo besar di depan rumah kediaman Lurah Desa Randublatung, sesosok makhluk hitam tinggi besar melompat tinggi ke udara dan meluncur turun ke atas makhluk hitam bersayap kelelawar itu dengan cepat.
Huuuuuukkkhhhhh...
Brrruuuaaaaakkkkh!!!
Tubuh makhluk hitam bersayap kelelawar itu langsung meluncur ke tanah dan jatuh dengan keras saat Dawuk Ireng, genderuwo yang merupakan abdi setia Arya Pethak, menabrak tubuh nya dengan beban berat yang luar biasa.
Usai menjatuhkan demit gadungan itu, Dawuk Ireng langsung menghilang setelah melihat Arya Pethak mengangguk halus kearah nya.
Makhluk hitam bersayap kelelawar itu mencoba berdiri tegak. Saat dia masih kebingungan dengan apa yang telah terjadi, Arya Pethak tiba-tiba muncul di hadapan nya dan melayangkan tendangan keras kearah perut nya.
Dhiiieeeessshh...
Aaauuuuggggghhhhh!!
Si demit jadi-jadian itu langsung terpental ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Bersamaan dengan itu, para penduduk Desa Randublatung dan para pengawal pribadi Raden Wira Ganggeng langsung mengepungnya dengan senjata terhunus.
Sambil mengerang kesakitan akibat tendangan keras Arya Pethak, demit jadi-jadian itu terlihat ketakutan dengan para penduduk yang mengepung nya.
Arya Pethak mendekat sambil meraih tudung kain hitam dan topeng yang menutupi sebagian wajah nya. Begitu wajah nya terbuka, semua penduduk warga Desa Randublatung melotot seakan tak percaya. Semua yang di katakan Arya Pethak benar adanya.
"Dasar keparat!
Jadi selama ini kita ditipu oleh orang ini. Jagabhaya tangkap dia dan ikat si demit gadungan ini", perintah Ki Lurah Mpu Paniti dengan cepat.
Jagabhaya dengan cepat bergerak bersama dengan para pembantunya untuk menahan demit gadungan itu. Melihat itu semua orang mengendurkan kewaspadaan terhadap demit jadi-jadian ini, dan ini tidak di sia-siakan oleh brahmana tua yang kemarin dulu datang ke desa Randublatung.
__ADS_1
Segera dia menghantamkan tangan kanan kirinya kearah dua pembantu Jagabhaya yang hendak mengikat nya.
Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh!!
Oouugghhhh!!!
Dua orang pembantu jagabhaya langsung terpental dan melengguh keras. Si demit yang itu langsung melompat tinggi untuk melarikan diri.
Arya Pethak menggeram keras melihat itu semua dan segera menghantamkan tangan kanannya yang berwarna putih kebiruan kearah demit gadungan. Selarik sinar putih kebiruan seperti petir menyambar ke tubuh sang demit jadi-jadian.
Whhhuuuggghhhh...
Blllaaammmmmmmm!!!!
Demit gadungan itu benar-benar tak menyangka bahwa malam itu adalah malam terakhir dari kehidupan nya. Dia yang sempat bernafas lega usai berhasil melarikan diri, hanya bisa pasrah saat sinar putih kebiruan Ajian Guntur Saketi menghajar tubuhnya. Lelaki bertubuh kurus itu langsung terjatuh ke tanah dan tewas dengan separuh tubuh hangus seperti tersambar petir.
Kejadian ini begitu cepat hingga semua orang benar benar tidak menyangka akan ada hal seperti ini.
Klungsur langsung mendekati mayat demit gadungan itu dan menendang kaki nya untuk memastikan bahwa setan jadi-jadian itu benar benar tewas.
"Ternyata sudah mampus Ndoro", ujar Klungsur sembari mengacungkan jempol nya pada Arya Pethak yang tersenyum tipis.
"Tapi kita jadi tidak tahu apa maksud dia sebelumnya melakukan hal ini, Ki Lurah", ujar Jagabhaya sambil memapah seorang pembantu nya yang di lukai oleh demit gadungan itu.
"Ah itu sudah tidak penting lagi, Jagabhaya..
Sekarang sudah tidak ada lagi demit gadungan yang menghantui para penduduk desa ini. Kini saatnya untuk kembali menata kehidupan para penduduk Desa Randublatung", Mpu Paniti tersenyum lebar.
"Pendekar Arya Pethak,
Kau sungguh luar biasa. Tanpa kepintaran mu, selamanya warga Desa Randublatung akan selalu ketakutan. Mewakili mereka, aku berterimakasih kepada mu", Mpu Paniti membungkukkan badannya pada Arya Pethak.
"Jangan seperti itu, Ki Lurah...
Kita sesama manusia wajib tolong menolong. Kebetulan aku tidak suka dengan orang-orang yang suka menakuti orang lain untuk kepentingan nya", jawab Arya Pethak sambil tersenyum tipis.
Setelah memerintahkan kepada para warga untuk membereskan mayat demit jadi-jadian itu, Mpu Paniti menyuruh sang jagabhaya dan seorang pembantu nya untuk menyembelih kambing sebagai ucapan syukur malam hari itu juga.
"Giliran berperang enak enakan tidur.. Eh giliran makan, kog bisa melek mata? Hebat banget ini orang", omel Klungsur yang melihat Wide Pitrang sibuk mengiris daging kambing menjadi potongan kecil kecil.
Karena kesal dengan kehadiran Wide Pitrang, Klungsur memilih untuk menyingkir dari tempat pengolahan kambing dan ikut bergabung dengan Arya Pethak nongkrong di depan bersama Lurah Mpu Paniti, Raden Wira Ganggeng dan Bekel Taruna.
Malam semakin larut. Aroma daging kambing yang di bakar benar benar membuat perut Klungsur keroncongan. Tak berapa lama kemudian Wide Pitrang datang bersama beberapa orang termasuk Nay Kemuning dan Anjani yang turut membantu di dapur. Mereka datang membawa ratusan tusuk sate kambing lengkap dengan bumbu kacang nya.
"Mari silahkan semuanya, kita makan bersama", ajak Mpu Paniti yang membuat semua orang tersenyum.
Semua orang yang menikmati sate kambing yang di hidangkan, merasa suka karena masakan ini ternyata enak. Klungsur saja sampai nambah.
"Anjani, ternyata kau pintar juga ya bikin sate kambing. Enak sekali", puji Klungsur di sela sela kesibukan nya mengunyah daging kambing setengah matang itu.
"Eh Sur, bukan aku yang masak ya. Aku cuma membantu mengulek bumbu kacang nya tadi", jawab Anjani yang duduk di sebelah Arya Pethak.
"Lha terus yang bakar siapa? Pasti Nay Kemuning ya?", Klungsur menatap ke arah Nay Kemuning yang juga duduk di samping Arya Pethak, namun perempuan cantik asal Tatar Pasundan ini hanya menggelengkan kepalanya.
"Hampura Akang Klungsur, bukan Nay yang masak.. Nay teh cuma mengiris bawang merah nya saja", jawab Nay Kemuning sambil tersenyum tipis.
"Lantas siapa dong yang bakar sate nya?", Klungsur terus bertanya sembari melahap sate kambing yang ada di piring nya.
"Itu Wide Pitrang yang membuatnya. Aku kagum dengan nya. Ternyata dia pintar bakar sate kambing", ujar Anjani yang langsung membuat Klungsur tersedak seketika.
Walhasil Klungsur tidak jadi meneruskan acara makan sate kambing nya setelah tahu siapa orang yang membuat nya.
Malam segera berganti pagi.
Rombongan orang-orang Kadipaten Kembang Kuning nampak meninggalkan Desa Randublatung usai berpamitan kepada Mpu Paniti. Mereka terus bergerak menuju ke timur menyusuri jalan raya di sepanjang Sungai Wulayu.
Menjelang tengah hari, rombongan itu sampai di sebuah Desa Lwaram. Raden Wira Ganggeng atas usulan Wide Pitrang, memutuskan untuk menyeberangi Sungai Wulayu agar mempermudah perjalanan mereka menuju Ujung Galuh lewat jalur selatan sungai. Di dermaga penyeberangan Desa Lwaram, Raden Wira Ganggeng menyewa perahu penyeberangan yang besar agar bisa membawa mereka kuda mereka.
Sungai Wulayu atau yang kita kenal sekarang sebagai Sungai Bengawan Solo nampak berair keruh kecoklatan saat perahu penyeberangan itu mulai bergerak menyeberang ke wilayah Kadipaten Bojonegoro.
__ADS_1
Begitu perahu penyeberangan mendarat di dermaga penyeberangan wilayah Kadipaten Bojonegoro, Raden Wira Ganggeng mengajak semua orang untuk makan siang sembari menunggu barang bawaan mereka di turunkan dari perahu penyeberangan di sebuah warung makan yang cukup ramai.
Mereka menikmati hidangan makan siang dengan lahap sampai seorang lelaki muda berpakaian mewah layaknya seorang bangsawan masuk ke dalam warung makan bersama 4 orang pengawal nya. Pria yang cukup tampan dengan tahi lalat di pipi kanannya nya itu cukup terkenal di sekitar wilayah itu hingga para pengunjung warung makan memilih untuk menyingkir dari tempat itu karena tidak mau berurusan dengan nya.
Pemilik warung makan menghela nafas panjang saat melihat pemuda itu memasuki tempat jualannya.
'Pasti dia akan bikin ulah lagi', batin si pemilik warung makan.
Pemuda itu adalah Mahesa Rangin, putra kedua Adipati Bojonegoro yang terkenal dengan sikap congkak nya dan sering berbuat semena-mena terhadap rakyat kecil di wilayah Kadipaten Bojonegoro.
Melihat semua orang berhamburan keluar dari warung makan, Mahesa Rangin tersenyum lebar. Namun matanya melebar ketika melihat sekelompok orang masih asyik menikmati makanan mereka tanpa peduli dengan kehadiran nya. Mahesa Rangin segera mendekati mereka dengan penuh kekesalan. Namun mata pemuda itu terpaku pada satu perempuan cantik berkulit putih yang tengah asyik berbincang dengan seorang pemuda tampan berbaju putih di sebelahnya.
"Ehemmm ehemmm...
Apa kalian bukan penduduk Kadipaten Bojonegoro?", ucapan Mahesa Rangin langsung membuat rombongan Arya Pethak menghentikan acara makan siang mereka dan menoleh ke arah sumber suara.
"Kalau kami bukan orang Kadipaten Bojonegoro, lantas apa masalah nya?", kali ini Wide Pitrang angkat bicara.
"Pantas saja kalau kalian bukan orang Kadipaten Bojonegoro. Kalian sama sekali tidak mengerti sopan santun dan adat istiadat kadipaten ini", ujar salah seorang pengawal pribadi Mahesa Rangin sambil tersenyum sinis.
"Heh botak, adat istiadat apa yang kau maksud? Kami disini hanya membeli makanan dan tidak berbuat yang aneh-aneh", Klungsur ikut nimbrung.
"Huhhhhh dasar orang kampung..
Semua orang di Kadipaten Bojonegoro akan selalu memberi tempat bagi Raden Mahesa Rangin jika ingin makan. Kalian seharusnya juga seperti itu, cepat keluar dari tempat ini", balas si pengawal Mahesa Rangin yang berkepala plontos.
"Kalau begitu kami mohon maaf jika kami menyinggung perasaan kalian dan tidak menghormati adat istiadat daerah kalian, Kisanak.
Kalau begitu kami permisi ", ujar Raden Wira Ganggeng sambil berdiri dari tempat duduknya. Saat mereka hendak beranjak dari tempat itu, Mahesa Rangin langsung bicara.
"Tunggu dulu!
Siapa yang menyuruh kalian untuk pergi dari tempat ini? Apa aku sudah mengijinkan kalian untuk pergi?", Mahesa Rangin menyeringai lebar.
"Lantas apa sebenarnya mau mu?", Wide Pitrang mulai gusar karena sikap sombong Mahesa Rangin.
"Kalian boleh saja pergi dari tempat ini, tapi tinggalkan wanita cantik berbaju hijau kekuningan itu disini.
Kalau tidak, jangan harap seorang pun bisa pergi dari sini", Mahesa Rangin mendelik tajam ke arah rombongan Arya Pethak. Mendengar ucapan itu, Wide Pitrang yang sudah naik darah langsung mencabut celurit yang tersimpan di balik bajunya.
"Bangsat! Rupanya kau sengaja mencari masalah dengan kami.
Ayo carok!!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah sholat tarawih bagi yang menjalankan. Semoga ibadah nya lancar sampai lebaran datang.