Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Setan Dari Neraka


__ADS_3

Malam semakin dingin, Anjani semakin memepetkan tubuhnya ke Arya Pethak. Begitu pula Nay Kemuning. Dua gadis cantik itu membuat gerakan Arya Pethak menjadi terbatas.


Ki Lurah Suro tersenyum kecut melihat Klungsur yang duduk di serambi kediaman nya sambil menatap iri pada mereka bertiga.


"Jadi penonton adegan percintaan ya Juragan?", tanya Ki Lurah Suro yang segera duduk di sebelah Klungsur.


"Ah kau mengagetkan ku saja Ki Lurah..


Aku tidak masalah mereka seperti itu. Mereka sudah banyak melakoni adegan hidup dan mati berulang kali bersama Ki.. Wajar saja jika manusia kadang butuh bermanja-manja dengan orang yang di sukai nya", ujar Klungsur sambil menoleh ke arah Ki Lurah Suro.


"Memang juragan sudah lama ikut mereka? Kog sampai tahu tentang hal seperti itu", Ki Lurah Suro duduk bersila di samping Klungsur.


"Ya lumayan lama Ki Lurah..


Setidaknya sudah lebih 1 Warsa aku mengikuti langkah Ndoro Pethak menjelajahi wilayah Kerajaan Singhasari. Hampir 2 warsa malahan.


Dia orang baik Ki.. Tidak pernah marah pada ku meski aku kadang tidak punya aturan atau berbuat semau ku. Dia selalu mengutamakan kepentingan kawan kawan nya, meski kadang itu beresiko pada nyawanya sendiri.


Benar benar pendekar sejati", ujar Klungsur sambil menatap ke arah mereka bertiga yang kelihatan semakin mesra.


Tiba tiba sebuah senyum terukir di wajah Ki Lurah Suro.


"Juragan,


Kalau cuma menonton orang pacaran lama lama bisa eneg loh. Juragan masih punya duit gak?", tanya Ki Lurah Suro sambil tersenyum nakal.


"Masih, lumayan banyak lah..


Ada apa Ki Lurah? Kog senyum mu mencurigakan begitu?", Klungsur menatap ke arah Ki Lurah Suro dengan penuh kecurigaan.


"Hehehe..


Aku punya seorang kenalan perempuan cantik Juragan. Kalau juragan berminat, dia bisa menemani mu semalaman suntuk cukup dengan 5 kepeng perak saja.


Mau tidak?", goda Ki Lurah Suro dengan senyum liciknya.


"Aku ini heran ya Ki Lurah..


Kau ini lurah apa makelar sih? Kog semuanya bisa kau hubungkan dengan duit?", Klungsur mendengus perlahan.


"Kita hidup di jaman susah Juragan. Asal punya duit baru di pandang orang. Ini aku lakukan bukan untukku sendiri tapi juga membantu orang lain. Sama sama untung.


Bagaimana Juragan? Mau tidak? Dia cantik dan bahenol loh hehehe", rayuan setan keluar dari mulut Ki Lurah Suro.


"Ah kau pikir aku lelaki hidung belang ya Ki?


Jelek jelek begini aku masih punya iman, tidak boleh sembarangan. Enak saja mau menyuruh ku dengan wanita seperti itu ", ujar Klungsur sambil kembali menatap ke arah Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning yang masih mesra menatap pemandangan indah malam hari itu.


"Lah daripada cuma kecut melihat mereka bermesraan ya lebih baik sedikit nakal to Juragan..


Sudah ayo berangkat Juragan, daripada nanti keduluan sama orang lain ", ujar Ki Lurah Suro yang segera beranjak dari tempat duduknya.


'Haesh benar juga omongan lurah gemblung ini. Lebih baik aku mencari hiburan ku sendiri', ujar Klungsur sambil mengikuti langkah Ki Lurah Suro yang melangkah menuju ke arah belakang.


"Sebaiknya kita masuk. Udara malam ini semakin dingin ", ujar Arya Pethak yang membuat dua gadis cantik itu saling berpandangan. Ada sedikit rasa kecewa karena tidak bisa berlama-lama bersama dengan sang pujaan hati.


Arya Pethak segera melangkah menuju ke arah rumah Ki Lurah Suro. Nay Kemuning dan Anjani segera menyusul langkah nya. Begitu sampai di dalam rumah, Arya Pethak celingukan mencari sosok Klungsur.


"Klungsur kemana?", tanya Arya Pethak segera.


"Alah paling juga lagi ada acara dengan Ki Lurah Suro. Dua orang itu kan klop Ndoro", sahut Anjani sambil tersenyum tipis.


"Oh ya sudahlah kalau begitu. Ini sudah malam, sebaiknya kita tidur, besok perjalanan kita masih jauh..


Selamat malam Anjani, Selamat malam Nay Kemuning", usai berkata demikian Arya Pethak melangkah masuk ke dalam kamar tidur nya yang sudah di transfer oleh Ki Lurah Suro.


"Selamat malam Kakang", jawab Nay Kemuning dan Anjani bersamaan. Dua gadis itu langsung berpencar ke arah kamar tidur mereka masing-masing.


Sesampainya di kamar, mereka bertiga terus terbayang bayang kejadian yang baru saja mereka alami. Semua larut dalam pikiran masing-masing.


Thok thookkk thok!!


Ketukan halus terdengar di pintu kamar tidur Arya Pethak. Pemuda tampan itu segera melangkah menuju ke arah pintu. Begitu terbuka, Nay Kemuning berdiri di sana. Arya Pethak sedikit terkejut dengan kehadiran perempuan cantik itu.


"Nay, kog belum tidur?", tanya Arya Pethak sambil mengucek matanya.


"Gak bisa tidur atuh Akang..


Banyak nyamuk. Nay tidur di kamar akang saja", jawab Nay Kemuning yang langsung nyelonong masuk ke dalam kamar tidur Arya Pethak.


HAAAAAHHH??!!


'Aduh apa apaan ini? Tidur di kamar ku?', batin Arya Pethak sambil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal.


Belum sempat Arya Pethak menutup pintu, Anjani muncul di depan pintu kamar nya.

__ADS_1


"Ndoro Pethak,


Aku tidak bisa tidur. Kamar ku panas. Kelihatannya kamar mu dingin. Aku mau tidur disini", Anjani langsung bergegas masuk. Nay Kemuning yang kaget dengan kedatangan Anjani langsung pura pura tidur.


"Oh jadi kau mau main serobot duluan ya Nay?", Anjani langsung kesal melihat Nay Kemuning diatas ranjang.


"Jangan pura pura tidur. Aku tahu kau masih terjaga", mendengar omongan Anjani, Nay Kemuning membuka mata nya pelan pelan sambil tersenyum malu malu seperti kucing manis yang ketahuan mencuri ikan asin.


"Ya Maaf teh..


Soalnya di kamar Nay nyamuknya besar besar. Nay gak bisa tidur atuh", alasan Nay Kemuning.


"Sssssttttttttt jangan ribut..


Ingat kita menumpang bermalam disini. Kalau mau ribut, jangan disini. Di luar sana masih banyak tempat", ucap Arya Pethak yang langsung membuat dua gadis cantik itu terdiam.


"Sekarang aku mau tidur, jangan ada yang berisik" ujar Arya Pethak yang segera melangkah menuju ranjang tidur dan merebahkan tubuhnya. Nay Kemuning mengedipkan sebelah matanya ke arah Anjani. Melihat isyarat itu, Anjani tersenyum simpul dan segera meniup lampu minyak jarak yang menerangi kamar tidur itu setelah mendudukkan dirinya di samping ranjang tidur Arya Pethak.


Hanya sinar rembulan yang menerobos masuk lewat celah celah dinding kayu kamar yang menerangi kamar tidur itu. Udara malam terasa dingin di sekitar kawasan perbatasan wilayah Rajapura dan Kalingga, namun tidak di dalam kamar Arya Pethak.


Pagi segera tiba di wilayah perbatasan wilayah Kadipaten Rajapura dan Kalingga. Cahaya matahari begitu hangat menyinari bumi.


Empat ekor kuda terus berpacu dengan kecepatan tinggi menuju ke arah timur. 4 penunggang nya seolah tak mempedulikan lagi orang yang bersimpangan dengan mereka. Debu beterbangan mengiringi langkah kaki kuda yang berlari kencang kearah kota Kadipaten Kalingga.


Keempat penunggang kuda ini nampak cerah. Entah karena mendapat sesuatu atau karena apa, mereka benar benar terlihat sumringah. Senyum tak lepas dari keempat wajah penunggang kuda itu.


Menjelang tengah hari, mereka telah sampai di kota Kadipaten Kalingga. Usai makan siang dan memberi rumput pada kuda mereka, keempat penunggang kuda itu kembali melanjutkan perjalanan ke arah timur. Satu hal yang mereka sepakati bersama, tiba secepatnya di bukit Tunggul.


Setelah melewati perjalanan berkuda selama 2 hari dua malam, mereka berempat sampai di bukit Tunggul dengan selamat. Untung saja selama perjalanan ini, tidak ada gangguan yang terjadi sehingga perjalanan mereka lancar sampai tujuan. Mereka sampai di Bukit Tunggul saat hari menjelang senja.


Kedatangan Arya Pethak, Klungsur, Anjani dan Nay Kemuning disambut dengan gembira oleh Nyi Sawitri dan Resi Jati Waluyo.


"Arya Pethak,


Waktu kita tidak banyak. Mana Air Mata Suci Bidadari dari Sesat Tua itu?", tanya Resi Jati Waluyo dengan cepat.


Tanpa banyak bicara, Arya Pethak langsung merogoh balik bajunya dan mengeluarkan sebuah botol keramik kecil yang dengan tutup terbuat dari pohon randu. Senyum langsung terukir di wajah Resi Jati Waluyo dan Nyi Sawitri.


Mereka berenam segera bergegas menuju ke kamar Rara Larasati.


Mulut Resi Jati Waluyo langsung komat kamit membaca mantra. Tangan kakek tua itu segera membuka tutup botol keramik. Di bantu oleh Nyi Sawitri, Resi Jati Waluyo meneteskan Air Mata Suci Bidadari ke mulut Rara Larasati.


Tiba-tiba muncul aura ungu kemerahan yang menyeramkan dari tubuh Rara Larasati. Aura itu perlahan mengumpul hingga membentuk bola cahaya merah diatas tubuh Rara Larasati. Kemudian hancur tersapu angin.


Perlahan mata Rara Larasati terbuka. Semua orang terlihat berbahagia melihat sadarnya Rara Larasati.


Akhirnya kau sadar juga nak... Ah Dewata yang Agung, kau benar benar melindungi murid ku", ucapan syukur meluncur dari bibir Nyi Sawitri. Perempuan paruh baya itu benar-benar bahagia.


"I-ini dimana guru? Kenapa kau ada disini?", tanya Rara Larasati yang berusaha bangkit dari tempat tidur nya.


"Nanti aku akan menceritakan semua nya, Laras..


Sekarang pulihkan dulu kekuatan dan tenaga mu. Sekarang kau beristirahat lah", ujar Nyi Sawitri sambil tersenyum bahagia.


Setelah melihat Rara Larasati sadar dari kutuk pasu nya, kecuali Nyi Sawitri, semua orang keluar dari dalam kamar tidur Rara Larasati. Mereka berbincang tentang banyak hal.


****


Di suatu tempat di lereng Gunung Damalung. Di dalam goa pertapaan Gendrawana.


Blllaaaaaarrr!!!


Sebuah kuali berisi darah meledak bersamaan pecahnya aura merah yang keluar dari tubuh Rara Larasati. Seorang lelaki sepuh berjenggot panjang dengan pakaian warna hitam langsung mendengus keras melihat itu semua.


"Bangsat!


Siapa yang bisa melepaskan kutuk pasu ku? Si Tua Jati Waluyo itu juga tidak bisa melakukannya.


Hemmmmmmm...


Aku harus melihatnya", ucap Gendrawana sambil berjalan mendekati satu kuali besar yang berisi darah. Gendrawana segera duduk bersila di hadapan kuali besar sambil menaburkan kemenyan pada anglo tanah liat yang berisi arang yang membara. Asap tebal kemenyan segera muncul dari atas anglo tanah liat.


Mulut Gendrawana komat kamit membaca mantra. Tiba-tiba darah dalam kuali besar bergolak seperti mendidih.


"Kaca Benggala,


Tunjukkan padaku apa yang sedang terjadi?", ujar Gendrawana sambil mengayunkan tangan kanannya ke atas kuali besar yang tengah bergolak..


Sebuah gambar sewaktu Resi Jati Waluyo meminumkan Air Mata Suci Bidadari muncul dalam darah yang bergolak. Tangan Gendrawana mengepal erat melihat itu semua.


"Bangsat!!


Darimana si tua itu mendapat Air Mata Suci Bidadari? Kurang ajar, ini tidak bisa di biarkan..


Aku tidak boleh kalah, aku tidak boleh kalah!!", ujar Gendrawana sambil mendengus keras.

__ADS_1


Tangan kakek tua itu segera menyambar sejumput bunga warna warni yang ada di atas tampah. Kemudian melemparkannya ke atas kuali besar yang berisi darah.


Mulut Gendrawana kembali komat kamit merapal mantra. Tiba tiba saja muncul gelembung besar yang naik dari kuali besar nya. Dari dalam gelembung yang pecah muncul sesosok makhluk hitam yang menakutkan. Perlahan makhluk hitam itu segera keluar dari kuali besar dan langsung bersujud di hadapan Gendrawana.


"Sembah sujud hamba pada sang Raja Iblis..


Ada hal apa hingga Raja Iblis memanggil hamba?", ujar makhluk hitam itu segera.


"Branjang Kawat...


Pergi kau ke Bukit Tunggul. Bunuh Resi Jati Waluyo untuk ku sekarang. Cepat!", perintah Gendrawana dengan keras.


Si makhluk hitam menyeramkan yang di panggil dengan sebutan Branjang Kawat itu langsung menyembah pada Gendrawana kemudian berubah menjadi bola api merah menyala yang kemudian melesat cepat kearah Utara.


"Jati Waluyo..


Kau berani mengacaukan harapan ku. Saatnya kau mati hahahahahahaha", tawa Gendrawana lepas bersamaan dengan melesat nya bola api ke arah Bukit Tunggul.


Resi Jati Waluyo, Arya Pethak, Nay Kemuning, Anjani dan Klungsur tengah berbincang di serambi kediaman Resi Jati Waluyo saat angin berhembus kencang dari arah selatan.


Merasakan sesuatu yang tidak beres, tangan kanan Resi Jati Waluyo segera menghitung sesuatu dengan cepat. Seulas senyum tipis muncul di wajah sepuh itu.


"Kalian semua berhati-hati lah..


Sang pemilik kutuk pasu sedang marah karena kita mematahkan ilmu hitam nya", ucap Resi Jati Waluyo sambil berdiri dari tempat duduknya. Semua orang terkejut mendengar ucapan sang resi.


Bersamaan dengan datangnya angin kencang menderu dari selatan, sebuah bola api meluncur ke arah kediaman Resi Jati Waluyo. Melihat itu Resi Jati Waluyo segera berkomat kamit membaca mantra, kemudian melemparkan tasbih kayu stigi di tangan kanannya kearah bola api.


Blllaaammmmmmmm!


Ledakan dahsyat terdengar saat bola api itu menghantam tasbih kayu stigi yang di lemparkan oleh Resi Jati Waluyo. Tasbih kayu stigi dengan biji sebesar buah kelengkeng itu segera berbalik ke arah Resi Jati Waluyo sedangkan bola api berubah wujud menjadi sesosok makhluk hitam dengan mata merah menyala.


"Setan dari neraka!


Tempat mu bukan disini. Ini bukan alam mu", teriak Resi Jati Waluyo sambil menatap tajam ke arah makhluk hitam itu segera.


"Huahahahahahaha..


Alam ku atau bukan, aku hanya pesuruh dari majikan ku. Hari ini kau harus mati!", makhluk hitam itu segera melesat cepat kearah Resi Jati Waluyo. Kakek tua itu segera meletakkan tasbih kayu stigi ke dalam dua telapak tangan nya yang menangkup di depan dada. Mulutnya segera merapal mantra. Selarik sinar kuning keemasan berbentuk lingkaran yang tercipta dari huruf huruf sansekerta membuat perlindungan terhadap serangan makhluk hitam itu segera.


Saat makhluk hitam yang disebut dengan nama Branjang Kawat itu menyentuh nya, dia langsung merasakan kesakitan yang luar biasa.


Blllaaammmmmmmm!!


Branjang Kawat terpental ke belakang. Tiba tiba sebuah sinar kuning keemasan menjulur keluar dari perlindungan Resi Jati Waluyo dan mengikat tubuh Branjang Kawat dengan erat.


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Jeritan keras terdengar dari mulut Branjang Kawat saat sinar kuning keemasan itu semakin erat melilit tubuhnya.


"Ampuni aku ampuni aku!!", teriak Branjang Kawat sambil meronta berusaha melepaskan diri. Sambil tersenyum dingin, Resi Jati Waluyo berucap perlahan.


"Tiada kata maaf bagimu"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan, Semoga amal ibadah puasa yang menjalankan di terima oleh Tuhan YME..

__ADS_1


Aamiin 🤲🤲


__ADS_2