Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Gorawangsa


__ADS_3

Gorawangsa langsung menatap tajam ke arah yang ditunjukkan oleh muridnya.


"Dia yang menghajar Guru Mahesa Rangkah sebelum Lembu Sora memenggal kepalanya, Paman Guru.


Bisa di katakan bahwa dia lah penyebab kematian Guru Mahesa Rangkah karena Guru bisa terbunuh oleh Lembu Sora karena luka dalam parah akibat Ajian nya", ujar Jalak Awu dengan menunjuk ke arah Arya Pethak.


"Kurang ajar!


Hei bocah tengik hari ini kau harus membayar kematian kakak seperguruan ku".


Usai berkata demikian, Gorawangsa langsung mengibaskan tangannya pada meja makan yang ada di dekat nya.


Plakkkk!!


Meja makan langsung melesat ke arah Arya Pethak yang baru saja berdiri. Di luar dugaan, Walang Sungsang langsung mencabut pedang nya dan membabatkan pedang nya kearah meja yang melayang ke arah meja mereka.


Blllaaaaaarrr!!


Meja makan itu langsung hancur berantakan berkeping keping terkena sabetan pedang Walang Sungsang. Semua orang langsung berhamburan keluar dari dalam warung makan karena tidak mau terkena serangan nyasar.


Mata Gorawangsa mendelik tajam ke arah Walang Sungsang.


"Pendekar Pedang Lanang..


Beraninya kau ikut campur urusan ku. Minggir! Aku tidak ada urusan dengan mu", hardik Gorawangsa dengan lantang.


"Aku berhutang budi pada nya, Gorawangsa. Sudah sepantasnya jika aku membela nya karena dia ku anggap sebagai teman ku", balas Walang Sungsang sembari menurunkan pedangnya.


"Dasar keparat!


Sudah bosan hidup kau rupanya. Anak murid Padepokan Gunung Arjuna, bunuh mereka semua!"


Mendengar perintah Gorawangsa, puluhan anak murid Padepokan Gunung Arjuna termasuk Jalak Awu menerjang maju ke arah Arya Pethak dan kawan-kawan.


Klungsur langsung menyambar gagang Gada Galih Asem nya, begitu juga Anjani dan Nay Kemuning serta Nirmala. Mereka segera melompat keluar dari pintu samping rumah makan untuk bertarung di halaman rumah makan. 8 orang anak murid Padepokan Gunung Arjuna langsung memburu mereka.


Niken Satyawati langsung mencabut pedang di pinggangnya dan bersiap di samping Walang Sungsang untuk menghadang Gorawangsa. 4 orang anak murid Padepokan Gunung Arjuna langsung melesat cepat kearah mereka sembari mengayunkan pedangnya.


Thhraaaanggggggg thrrriiinnnggggg!!


Bunyi denting pedang beradu terdengar nyaring dari pertarungan Sepasang Pedang Gunung Kawi dan para murid Padepokan Gunung Arjuna.


Whuuthhh whuuthhh!!


Dua bilah pedang mengayun cepat kearah Walang Sungsang. Dengan cepat, Walang Sungsang menangkis sabetan pedang di sebelah kanan dan menghindari sabetan pedang satunya yang mengincar kaki.


Thrrraaannnnggggg!!


Setelah berkelit, Walang Sungsang merubah gerakan tubuhnya dan melesat cepat kearah salah satu lawannya.


Chrraaasssshhh...


Aaauuuuggggghhhhh!!


Lawan yang diincar Walang Sungsang langsung meraung keras saat tebasan pedang Walang Sungsang menebas leher hingga dada kanan nya. Dia roboh bersimbah darah.


Satu lawan menggeram keras sembari membabatkan pedang nya ke arah leher Walang Sungsang. Pria bertubuh kekar itu segera berguling ke lantai warung makan menghindari sabetan pedang sembari mengayunkan pedangnya kearah kaki lawan nya yang lain.


Kecepatan gerak yang di atas rata-rata membuat lawan Walang Sungsang tak sempat menghindar dari serangan Sang Pendekar Pedang Lanang.


Chhrrrraaaaaassss!!


Satu lawan roboh lagi terkapar bersimbah darah. Walang Sungsang segera bangkit dan kembali bergerak cepat ke arah anak buah Gorawangsa yang masih mengeroyok Niken Satyawati.


Di sisi lain, Arya Pethak dengan mudah menghindari sabetan pedang lawan dengan gerakan cepat Ajian Langkah Dewa Angin nya.


Whuuussshh...


Blllaaammmmmmmm!!!


Dua orang anak murid Padepokan Gunung Arjuna langsung roboh saat Arya Pethak melepaskan Ajian Guntur Saketi setelah menghindari lawan. Mereka langsung terpental menabrak dinding warung makan dengan keras, tewas dengan sebagian tubuh hangus seperti tersambar petir.


Jalak Awu langsung mengayunkan pedangnya kearah leher Arya Pethak. Ambisi balas dendam kematian kawan kawan dan guru nya membuat nya begitu bernafsu untuk membunuh lawannya itu.


Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh!


Dua tebasan pedang beruntun di arahkan ke Arya Pethak.

__ADS_1


Sembari tersenyum, Arya Pethak bersalto ke arah jendela warung makan dan melompat keluar untuk mencari tempat yang lebih lega.


Jalak Awu langsung mengejar Arya Pethak sambil menenteng pedang di tangan kanannya. Dengan cepat, Jalak Awu mengayunkan pedangnya kearah leher Arya Pethak yang baru saja mendarat dari arah belakang.


Whhhhuuuuggghhh...!


Mendadak tubuh Arya Pethak bersinar kuning keemasan saat pedang Jalak Awu membabat leher nya.


Thrrraaannnnggggg!


Mata Jalak Awu melotot lebar saat pedangnya seperti membentur logam keras saat bertemu kulit Arya Pethak. Arya Pethak menyeringai lebar sembari menoleh ke arah Jalak Awu. Seketika itu juga Jalak Awu melompat menjauh dari Arya Pethak namun sekejap berikutnya Arya Pethak yang baru membalikkan badannya langsung melesat cepat kearah Jalak Awu.


Satu hantaman keras di layangkan Arya Pethak ke arah dada Jalak Awu. Kecepatan gerak Arya Pethak yang jauh di atas rata rata membuat Jalak Awu sama sekali tidak punya kesempatan untuk menghindar.


Bhhhuuuuuuggggh!!


Krreeeeekkkkkk!!


Terdengar suara seperti tulang patah dari hantaman keras Arya Pethak. Sepertinya itu suara tulang iga Jalak Awu. Lelaki itu terpelanting ke belakang sembari mulutnya menyemburkan darah segar. Saat Arya Pethak hendak maju, dua orang murid Padepokan Gunung Arjuna melompat ke arah nya sembari membabatkan pedang nya ke arah bahu Arya Pethak.


Thrrraaannnnggggg thrrraaannnnggggg!!


Senyum yang sempat terukir di wajah kedua murid Padepokan Gunung Arjuna langsung lenyap saat senjata mereka seperti membabat batu. Belum hilang rasa keterkejutan mereka masing-masing, tangan Arya Pethak langsung mencekal lengan mereka berdua.


Murid Mpu Prawira itu segera melayangkan tendangan keras beruntun kearah mereka.


Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Dua orang itu segera menjerit kesakitan bergantian saat Arya Pethak bergantian melayangkan tendangan keras nya ke arah rusuk mereka. Mereka tak berdaya untuk melepaskan diri dari cengkeraman tangan Arya Pethak.


Dengan cepat Arya Pethak mengangkat kedua tangan anak murid Padepokan Gunung Arjuna itu tinggi tinggi, lalu menendang dada mereka berdua sekaligus dengan dua kaki nya.


Dhaaaasssshhh Dhhaaaassshhh!!


Dua orang itu langsung terjengkang dan menghantam tanah dengan keras. Dari mulut mereka darah mengalir keluar.


Jalak Awu ketakutan setengah mati. Pria bertubuh kekar itu perlahan mengesot mundur dari tempat jatuhnya. Begitu melihat dua anak murid Padepokan Gunung Arjuna terjungkal, dia segera berbalik arah dan berusaha untuk melarikan diri.


Melihat Jalak Awu berusaha kabur, Arya Pethak menendang gagang sebuah pedang yang tergeletak di tanah.


Pedang melayang cepat kearah Jalak Awu yang tengah berlari menjauh.


Jllleeeeeppppphhh!


Mata Jalak Awu melotot lebar saat merasakan benda dingin menembus punggungnya. Perlahan dia melihat kearah dadanya dan sebuah bilah pedang berlumuran darah menonjol di sana. Jalak Awu kemudian roboh ke tanah. Dia tewas dengan pedang menancap di punggung tembus dada.


Sedangkan Sepasang Pedang Gunung Kawi begitu kompak dalam bertahan dan menyerang saat menghadapi Gorawangsa. Meski tingkat ilmu kanuragan mereka masih di bawah Gorawangsa, namun pasangan pendekar ini mampu mengimbangi permainan silat Gorawangsa yang merupakan salah satu dari sekian banyak dedengkot tokoh persilatan Kerajaan Singhasari.


Sepasang Pedang Gunung Kawi terdorong mundur beberapa tombak ke belakang begitu juga dengan Gorawangsa usai benturan keras senjata mereka yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi.


"Aku akui kalau kalian cukup hebat mampu menahan ilmu kesaktian ku, Sepasang Pedang Gunung Kawi.


Tapi jangan jumawa dulu, kalian belum menang", ujar Gorawangsa sembari menancapkan pedangnya ke tanah.


"Siapa bilang kami jumawa, Gorawangsa?


Meski kami bukan tandingan mu saat bertarung sendiri sendiri tapi kau tak mudah mengalahkan kami saat bersatu. Ayo lanjutkan adu ilmu beladiri ini", ujar Walang Sungsang tanpa mengendurkan kewaspadaan nya terhadap Gorawangsa karena dia tahu tokoh besar golongan abu-abu ini cukup licik.


"Aku tidak akan sungkan lagi, Walang Sungsang!


Akan ku buat kau menyesali keberanian mu", teriak Gorawangsa sembari menangkupkan kedua telapak tangan nya di depan dada. Seberkas sinar merah kehitaman melingkar di kedua tangan Gorawangsa. Hawa panas menyeruak ke udara sekitar tempat itu.


"Ajian Cadas Ngampar!


Yayi Satyawati, berhati hatilah! Setan tua itu licik sekali", teriak Walang Sungsang memperingatkan pasangannya.


Setelah berkata demikian, Walang Sungsang segera merapal Ajian Bayu Arga andalan nya. Angin dingin berseliweran membungkus tubuh pria bertubuh tegap dan berkumpul di kedua tangan Walang Sungsang yang di salurkan pada bilah pedang senjata nya Melihat itu, Niken Satyawati melakukan hal yang sama. Angin dingin berdesir kencang di sekitar bilah pedang mereka berdua.


"Cadas Ngampar...


Hiyyyyaaaaaaaatttttt!!!"


Teriakan keras terdengar dari mulut Gorawangsa bersamaan dengan dua sinar merah kehitaman berhawa panas menyengat yang melesat cepat kearah Walang Sungsang dan Niken Satyawati.


Melihat itu, Sepasang Pedang Gunung Kawi mengayunkan pedangnya kearah Gorawangsa. Dua bilah pedang semu yang tipis berwarna putih keperakan menyongsong cepat kearah Sinar merah kehitaman yang di lepaskan oleh Gorawangsa.

__ADS_1


Blllaaammmmmmmm blammmmm!!


Dua ledakan dahsyat terdengar saat dua ajian andalan itu beradu. Gorawangsa terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. Sedangkan Sepasang Pedang Gunung Kawi terpental jauh ke belakang, menabrak dinding warung makan hingga jebol dan terguling sejauh 2 tombak di halaman. Mereka muntah darah segar pertanda luka dalam serius.


Gorawangsa menyeringai lebar melihat ke arah Walang Sungsang dan Niken Satyawati yang batuk batuk kecil sembari mengurut dada nya yang sesak sembari berjalan mendekati mereka.


"Huhhhhh..


Kemampuan kalian tak setinggi cerita orang yang beredar. Waktunya kalian mampus di tangan ku!"


Setelah berkata demikian, Gorawangsa langsung melompat tinggi ke udara sembari menghantamkan kedua telapak tangan nya ke arah Walang Sungsang dan Niken Satyawati.


Dua larik sinar merah kehitaman melesat cepat kearah Sepasang Pedang Gunung Kawi yang masih terduduk di atas tanah. Niken Satyawati langsung memegang tangan Walang Sungsang. Dia tersenyum manis sembari berkata pelan.


"Kita hidup dan mati bersama kakang".


Setelah berbicara, Niken Satyawati menutup mata nya. Dia pasrah dengan ajal yang sebentar lagi menjemput. Pun Walang Sungsang bersikap sama.


Dhuuaaaaaaarrrrrr!


Ledakan dahsyat terdengar. Walang Sungsang perlahan membuka mata nya. Dia heran masih hidup setelah ledakan dahsyat itu terdengar. Begitu juga dengan Niken Satyawati. Mereka berpandangan sejenak seakan tak percaya dengan apa yang terjadi.


Di hadapan mereka, berdiri sesosok pria bertubuh tegap dengan pakaian serba putih dengan tubuh di liputi oleh sinar kuning keemasan.


Pada saat yang genting tadi, Arya Pethak yang baru menghabisi nyawa Jalak Awu melihat Sepasang Pedang Gunung Kawi terpental keluar dari dalam warung makan. Lalu dia melihat Gorawangsa melompat tinggi melepaskan Ajian Cadas Ngampar andalannya ke arah Sepasang Pedang Gunung Kawi yang masih terduduk di tanah.


Melihat itu Arya Pethak langsung melesat cepat, menghadang sinar merah kehitaman Ajian Cadas Ngampar dengan Ajian Lembu Sekilan nya.


"Kalian tidak apa-apa?", tanya Arya Pethak sambil sedikit menoleh ke arah Walang Sungsang dan Niken Satyawati yang masih terduduk di belakangnya.


"Aku tidak apa-apa, Saudara Pethak", ujar Walang Sungsang segera.


"Selanjutnya biar aku yang menghadapi si tua bangka itu..


Beristirahatlah, obati luka dalam kalian", usai berkata demikian, Arya Pethak menatap ke arah Gorawangsa yang masih terkejut melihat ajian Cadas Ngampar andalannya tidak mampu menggores kulit tubuh Arya Pethak.


'Pantas saja dia mampu melukai Kakang Mahesa Rangkah. Dia punya Ajian Lembu Sekilan.


Bajingan,


Aku tidak boleh kalah dari pemuda tengik ini", batin Gorawangsa.


"Darimana kau dapat Ajian Lembu Sekilan itu, bocah tengik? Apa hubungan mu dengan Patih Pranaraja?", Gorawangsa menatap tajam ke arah Arya Pethak.


"Apa hubungan ku dengan Gusti Patih Pranaraja, itu bukan urusan mu kakek tua.


Aku beri kesempatan terakhir pada mu. Pergilah, aku anggap masalah ini selesai. Tapi jika kau masih memaksa untuk berkelahi, jangan salahkan aku jika aku kejam pada orang tua seperti mu", ujar Arya Pethak sambil menatap ke arah Gorawangsa.


Phhuuuiiiiiihhhhh..


"Kau pikir aku takut menghadapi Ajian Lembu Sekilan mu ha?


Aku masih punya ilmu kedigdayaan yang bisa menghancurkan kesombongan mu pemuda tengik. Bersiaplah untuk mati!", teriak Gorawangsa sembari tangannya membentuk cakar. Dengan cepat ia memutar kedua cakar tangan nya lalu bersilangan di depan dada. Dia merapal Ajian Cakar Geni, suatu ajian yang mampu digunakan untuk merobek apapun bahkan lempengan besi sekalipun. Sinar merah kekuningan tercipta di tangan Gorawangsa. Kemudian kakek tua itu segera melesat cepat kearah Arya Pethak


Setelah menghirup udara sebanyak mungkin, Arya Pethak bersiap untuk menerima Ajian Cakar Geni. Tubuhnya di liputi oleh sinar kuning keemasan. Namun pemuda tampan itu juga mempersiapkan Ajian Serat Jiwa ajaran Resi Jathayu dari Pertapaan Giri Lawu.


Shrraaaakkkkhhhh!!


Cakar tangan Gorawangsa yang berwarna merah kekuningan langsung di tancapkan ke dada Arya Pethak, membentur Ajian Lembu Sekilan sang pemuda. Meski Gorawangsa mengerahkan seluruh tenaga dalam nya, namun dia tidak mampu merobek tubuh Arya Pethak.


Arya Pethak membuka mulutnya. Selarik sinar hijau kebiruan terlontar dari mulut dan dengan cepat membelit tubuh Gorawangsa.


Perlahan tapi pasti, tenaga dalam dan daya hidup Gorawangsa di hisap oleh Ajian Serat Jiwa milik Arya Pethak.


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!


Gorawangsa menjerit kesakitan tatkala rasa sakit menyerang seluruh sendi-sendi tubuh bahkan hingga ke tulang. Dari mulut nya perlahan keluar darah segar. Mata, hidung dan telinga nya pun perlahan mengeluarkan darah.


Kakek tua itu terus menjerit keras kesakitan.


Perlahan tubuhnya mulai menghitam dan menjadi kurus kering tinggal tulang. Saat Ajian Serat Jiwa sampai pada puncaknya, tubuh Gorawangsa terbakar. Arya Pethak segera melepaskan nya dan menjauh dari Gorawangsa yang terbakar api.


Tak berapa lama kemudian, Gorawangsa tewas dengan tubuh hangus terbakar.


Sisa anggota Padepokan Gunung Arjuna yang masih hidup langsung berhamburan menyelamatkan diri masing-masing.


Klungsur yang masih memegang Gada Galih Asem berlumuran darah, mendekati Arya Pethak sambil menatap ke arah Gorawangsa yang menghitam.

__ADS_1


"Mirip ikan bakar buatan Nirmala ya Ndoro"


__ADS_2