
Mendengar pertanyaan Nyi Ratih, Nay Kemuning dan Anjani langsung mengangguk cepat. Sepertinya mereka yakin sekali dengan jawaban yang mereka berikan. Melihat itu, Nyi Ratih tersenyum simpul sementara itu Mpu Prawira menyikut punggung Arya Pethak.
"Dasar bocah nakal!
Pakai cara kau menggaet dua perempuan cantik itu, Pethak?", tanya Mpu Prawira sembari tersenyum tipis.
"Aku tidak menggunakan cara apapun untuk mendapatkan hati mereka Romo. Mereka sendiri yang datang kepada ku", jawab Arya Pethak segera.
"Ndoro Pethak itu punya pesona yang luuuuuuuar biasa loh, Resi..
Itu baru dua. Lah yang lainnya belum di hi.... Waaaddddaaaawwwwhhh...", Klungsur yang tiba-tiba nyerocos di samping Arya Pethak dan Mpu Prawira, langsung menghentikan omongan saat jempol kaki nya di injak keras oleh Arya Pethak. Klungsur hendak protes tapi melihat Arya Pethak mendelik tajam ke arah nya, nyalinya langsung mengkerut.
"Lainnya belum di apa Klungsur? Coba bilang saja terus terang", tanya Mpu Prawira menoleh ke arah Klungsur.
Dengan cepat Klungsur menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Bukan apa apa Resi..
Klungsur salah ngomong. Maksud nya belum di kasih tau mengenai kapan rencana Ndoro Pethak menikah maksudnya", kata Klungsur dengan cepat.
Hemmmmmmm...
"Nyi.... Bawa calon calon mantu mu masuk ke dalam rumah. Masak mau kau suruh berdiam diri di sini saja?"
Mendengar perkataan Mpu Prawira, Nyi Ratih langsung menepuk jidatnya sendiri.
"Ya ampun, dasar sudah tua..
Eh ayo semua nya kita masuk ke dalam rumah. Bukan rumah mewah layaknya sebuah tempat tinggal para bangsawan loh, tapi masih bisa untuk berteduh dari hujan dan panas", ajak Nyi Ratih yang langsung menggelandang tangan Anjani dan Nay Kemuning masuk ke dalam rumah.
Begitu sampai di depan pintu, Nyi Ratih kembali menoleh ke arah Arya Pethak, Klungsur dan Mpu Prawira yang ada di belakang.
"Ki tolong kau masukkan jagung jagung itu ya..
Mumpung hujan belum turun. Lihat lah mendung tebal menggantung di langit ", ucap Nyi Ratih sesaat sebelum masuk ke dalam rumah. Nay Kemuning dan Anjani langsung mengekor di belakang Nyi Ratih sedangkan Nirmala ikut mereka.
Sementara itu Arya Pethak, Mpu Prawira dan Klungsur bekerja sama membawa tongkol jagung setengah kering hasil panen ladang mereka itu masuk ke dalam rumah.
Dan benar saja, sesaat setelah jagung jagung itu di masukkan, hujan deras mengguyur kawasan Bukit Kahayunan dengan derasnya.
Nay Kemuning dan Anjani langsung membantu calon mertua mereka menyiapkan makanan untuk para lelaki di dapur. Nirmala, Klungsur, Arya Pethak dan Mpu Prawira berbincang tentang banyak hal di ruang tengah.
Melihat kesigapan dan kerjasama mereka berdua, Nyi Ratih tersenyum penuh arti.
"Sepertinya kalian sudah terbiasa bekerja sama ya? Kompak sekali dalam bekerja", ujar Nyi Ratih yang justru tidak kebagian tempat untuk melakukan pekerjaan rumah tangga siang itu.
"Saya sudah bersama dengan Kakang Pethak cukup lama, Biyung..
Sudah terbiasa menyiapkan semua kebutuhan nya dari makanan hingga cuci baju. Setelah bertemu dengan Nay Kemuning, dia banyak membantu saya merawat Kakang Pethak. Jadi kami terbiasa untuk saling melengkapi satu sama lain", jawab Anjani sambil membuka dandang panas yang berisi nasi putih. Diatasnya sudah ada beberapa bungkus bothok lamtoro dan beluntas yang sudah di kumpulkan oleh Nyi Ratih tadi pagi.
"Leres atuh Ambu..
Abdi teh memang belum bisa masak masakan Tanah Jawadwipa dengan baik, mesti banyak belajar dari Teh Anjani soal kegemaran Akang Pethak", sambung Nay Kemuning sambil mengulek bumbu yang di persiapkan untuk membuat sayur.
"Kalau tahu anak ku pulang hari ini, akan ku minta Kakang Prawira memotong ayam untuk kita makan. Untuk kali ini kita makan seadanya saja ya", Nyi Ratih tersenyum simpul.
__ADS_1
"Kami sudah terbiasa hidup seadanya Biyung..
Tidak pernah memaksa untuk hidup enak. Kakang Pethak adalah panutan kami, jadi dia selalu bersikap sederhana meski kadang memiliki banyak uang", jawab Anjani sambil tersenyum manis.
Nyi Ratih manggut-manggut senang mendengar ucapan Anjani.
Siang itu mereka berkumpul bersama di ruang tengah rumah untuk makan siang bersama. Suasana hangat tercipta dari kebersamaan mereka.
"Romo kepulangan ku kali ini, selain melepas rindu dengan kalian, aku juga ada hal lain yang ingin aku bicarakan", ujar Arya Pethak sambil menghela nafas panjang.
"Katakan saja, anak ku..
Kau tidak perlu sungkan untuk bicara. Aku dan biyung mu akan mendengarkan", Mpu Prawira tersenyum simpul. Dia sudah menduga kalau kepulangan Arya Pethak bukan hanya sekedar kangen rumah saja.
"Anjani dan Nay Kemuning sudah mengikuti selama ini. Mereka berbagi suka dan duka selama perjalanan kemari.
Tujuan ku pulang ini ingin meminta Romo untuk menikahkan aku dengan mereka", sambung Arya Pethak dengan cepat.
Mendengar perkataan Arya Pethak, Nay Kemuning dan Anjani langsung tersenyum manis. Hal yang di janjikan kepada mereka oleh Arya Pethak tempo hari sewaktu di Kadipaten Kembang Kuning benar benar di tepati hari ini.
"Masalah pernikahan itu mudah sekali..
Asal mereka bersedia tentu saja aku dan biyung mu tidak keberatan. Toh kau sudah cukup dewasa untuk berumah tangga.
Bukan begitu Nyi?", Mpu Prawira menoleh ke arah Nyi Ratih.
"Iya Kakang Prawira..
Anak ku sudah cukup umur, sudah selayaknya kau menikah dan hidup berbahagia", Nyi Ratih memberikan persetujuan nya.
Persiapan di gelar dengan Mpu Prawira menghitung hari dan tanggal untuk melangsungkan pernikahan mereka. Di sepakati bersama bahwa pernikahan itu di lakukan 2 pekan kemudian.
Meski Arya Pethak melarang Mpu Prawira mengadakan acara tapi ayah angkat Arya Pethak itu tetap mengundang beberapa teman dan kawan lamanya untuk menghadiri pesta pernikahan putra angkat nya lewat merpati surat yang di kirimkan.
Sebagai pemimpin upacara pernikahan, Mpu Prawira mengundang Resi Jnanabajra dari Siwatantra Palah. Nyi Ratih juga meminta Mpu Prawira mengundang saudara, Akuwu Watugaluh untuk hadir di tempat itu.
Menggunakan uang pemberian Dyah Lembu Tal, Arya Pethak dan Klungsur berbelanja di pasar Pakuwon Ganter sebagai persiapan mereka untuk menyambut kedatangan para tamu. Ratusan ikat padi di angkut dengan kuda hingga sampai ke titik terdekat dengan kediaman Mpu Prawira yang ada di lereng Bukit Kahayunan. Di bantu oleh para pedagang, mereka mengangkut ratusan gedeng ( ikat ) padi ke kediaman Mpu Prawira dan Nyi Ratih.
Sepekan setelah undangan, serombongan orang datang dari Pakuwon Watugaluh yang merupakan utusan sang Akuwu yang masih saudara Nyi Ratih. Keesokan harinya beberapa murid Padepokan Padas Putih juga hadir untuk membantu pelaksanaan acara. Bukit Kahayunan menjadi ramai dikunjungi oleh para sanak saudara dan kerabat dari Mpu Prawira dan Nyi Ratih. Mereka membangun beberapa pemondokan sementara untuk tinggal di tempat itu, menunggu waktu acara pernikahan Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning.
Seekor kerbau di sembelih sebagai lauk pauk acara yang berlangsung 3 hari lagi.
Para sanak kerabat dekat dan keluarga memasang tarub sebagai pertanda di mulainya perayaan pernikahan. Satu persatu bagian rumah mulai di hias untuk menghadapi hari bahagia. Resi Jnanabajra yang menjadi pemimpin acara pernikahan memasang aneka sesajen di keempat sudut rumah juga di sanggar pamujan yang terletak di timur pekarangan. Bau wangi dupa dan kemenyan menyebar ke seluruh udara tempat itu dari anglo tanah liat yang di taruh Resi Jnanabajra di depan sanggar pamujan.
Para calon pengantin baik pria maupun wanita dilarang untuk ikut membantu semua kegiatan.
Suasana Bukit Kahayunan semakin ramai dengan banyaknya tamu yang berdatangan.
"Kau tidak ingin di nikahkan sekalian Sur?", tanya Arya Pethak sambil tersenyum simpul pada Klungsur yang sedang merajut janur kuning untuk hiasan.
"Yo pengen Ndoro..
Tapi pengen nya di rumah bapak ku di Kadiri sana Ndoro. Nirmala sudah tak kasih tahu dan dia setuju", balas Klungsur dengan terus merangkai lembaran daun kelapa muda itu.
"Memang sebaiknya pernikahan itu di temani oleh orang tua Sur..
__ADS_1
Kau masih beruntung karena kedua orang tua mu masih hidup. Sedangkan aku hanya bisa mengandalkan kedua orang tua angkat ku untuk menikahkan ku", ujar Arya Pethak sambil menatap ke arah Mpu Prawira yang sedang berbincang dengan Resi Jnanabajra.
"Mereka juga orang baik Ndoro sekalipun hanya orang tua angkat.
Ndoro Pethak sebaiknya tidak terlalu memikirkannya. Mikir saja besok malam Ndoro Pethak mau sama siapa dulu begitu hehehehe", Klungsur cengengesan sambil tersenyum penuh arti pada Arya Pethak.
"Aku yang mau menikah kenapa otak mu yang mesum?
Jangan jangan kau iri hati ya karena tidak ikut menikah?", goda Arya Pethak sembari tersenyum mengejek ke arah Klungsur.
Pemuda bertubuh bogel itu tidak menjawab omongan Arya Pethak, tapi terlihat sedang memikirkan sesuatu.
'Apa iya aku iri dengan kebahagiaan Ndoro Pethak?'
Keesokan harinya puluhan orang sudah memadati kediaman Mpu Prawira dan Nyi Ratih. Dari dalam rumah, Resi Jnanabajra mengalungkan selendang berwarna putih panjang yang menarik tubuh Anjani, Arya Pethak dan Nay Kemuning ke atas panggung yang sudah di siapkan. Arya Pethak menggunakan pakaian serba putih dengan sumping bunga di telinga kanan dan kiri. Ikat kepala berwarna putih turut menghiasi wajah tampan sang pendekar. Sedangkan di samping kanan dan kiri nya Anjani dan Nay Kemuning nampak cantik dengan baju putih dengan rambut di gelung berhias bunga melati yang di tata memanjang hingga ke bahu. Empat cunduk emas nampak menghiasi gelung rambut Anjani dan Nay Kemuning. Semua mata benar benar terpukau dengan kecantikan mereka berdua.
Mpu Jnanabajra mulai memimpin upacara pernikahan itu dengan mengucapkan mantra dan doa kepada Sang Hyang Akarya Jagat dengan khusus. Di tangan kirinya sebuah kendil kecil berisi air suci dan setangkai daun yang sudah di berkati nampak di siapkan sebelumnya.
Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning nampak khusuk mendengar suara Resi Jnanabajra yang terus mengucapkan mantra penyatuan jiwa untuk mereka bertiga.
Asap putih wangi dari setanggi dan kemenyan yang di bakar semakin membuat suasana pernikahan itu terasa semakin sakral.
Mpu Prawira menatap ke arah Arya Pethak yang tengah menjadi pusat perhatian para tamu undangan dan sanak saudara mereka. Tak terasa air mata nya menetes.
"Kau kenapa Kakang Prawira? Kog jadi cengeng begitu?", tanya Nyi Ratih yang tersenyum tipis di sampingnya.
"Rasanya baru kemarin Arya Pethak aku bawa ke tempat kita ini ya Nyi..
Masih terasa dia mengompol di pelukan ku saat tidur bersama dengan mu. Sekarang bocah itu sudah akan menjadi kepala keluarga yang baru. Aku benar benar merasa sudah tua sekarang", jawab Mpu Prawira sembari menyeka air matanya.
"Kau benar Kakang..
Rasanya baru kemarin dia minta suap ayam hutan bakar yang kau tangkap. Tapi sekarang dia sudah dewasa dan akan menjadi orang tua.
Ah aku ingin secepatnya dia memberikan cucu untuk kita Kang", bulir bening air mata menggenang di pelupuk mata Nyi Ratih.
"Iya Nyi..
Semoga Hyang Widhi Wasa selalu melindungi dan memberkahi rumah tangga nya dengan kebahagiaan yang berlimpah ya Nyi. Aku tidak sabar menunggu kedatangan cucu kita", Mpu Prawira kembali mengusap pipi tua nya yang keriput.
Semua mata terus tertuju pada tengah panggung berhias janur kuning yang menjadi tempat penyatuan Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning menjadi sebuah keluarga.
Resi Jnanabajra memutari mereka bertiga sembari menyipratkan air suci yang sudah di berkati pada Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning. Senyum bahagia terukir di wajah ketiga orang itu. Sebentar lagi mereka akan sah menjadi suami istri.
Dengan menghela nafas lega, Mpu Jnanabajra menatap ke arah Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning yang masih dengan khidmat mengikuti upacara pernikahan ini.
"Sekarang kalian berdua sudah sah menjadi suami istri. Mulai saat ini kalian menjadi satu yang saling mengisi dan melengkapi. Berbahagialah selalu. Semoga Hyang Widhi Wasa selalu merahmati pernikahan kalian ini.
Sekarang berilah hormat kepada orang tua kalian selaku tanda bakti pada mereka", ujar Resi Jnanabajra sembari tersenyum simpul. Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning memberikan hormat kepada Resi Jnanabajra sebelum berbalik badan pada Mpu Prawira dan Nyi Ratih.
Mereka bertiga segera bersujud kepada Mpu Prawira dan Nyi Ratih. Dua orang tua itu langsung mengelus kepala ketiga orang itu dan mengangkat mereka untuk berdiri.
"Kini mereka sah menjadi suami istri. Ada yang keberatan?", Resi Jnanabajra mengedarkan pandangannya ke seluruh hadirin yang hadir di tempat itu. Dari arah jalan masuk ke kediaman Mpu Prawira, sebuah suara dari seorang perempuan terdengar lantang.
"Aku keberatan!"
__ADS_1