Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Malaikat Maut Mu


__ADS_3

Ratusan anggota Padepokan Gunung Hijau langsung bergerak mengikuti langkah sang pemimpin menuju ke arah Perguruan Pedang Perak. Mereka beranggapan bahwa kematian para anggota mereka akibat ulah dari anggota Perguruan Pedang Perak. Niat balas dendam memenuhi kepala mereka.


Di pimpin oleh Mahesa Bicak, mereka bergerak menuju ke arah timur tempat markas Perguruan Pedang Perak yang terletak di tepi hutan kecil sebelah barat Pakuwon Pajaran yang merupakan wilayah perbatasan dengan Kadipaten Anjuk Ladang.


Sebelum mencapai tujuan, mereka bermalam di tepi rawa Shraddha yang merupakan wilayah yang penuh dengan buaya.


"Guru,


Besok pagi kita melintasi rawa ini atau mengambil jalan memutar?", tanya murid Padepokan Gunung Hijau yang bernama Gagak Klawu pada Mahesa Bicak yang tengah berdiang di depan api unggun.


"Aku tidak mau mengambil resiko dengan melewati tempat penuh buaya itu, Klawu..


Besok kita memutar saja. Paling tengah hari juga sudah sampai di markas Perguruan Pedang Perak", jawab Mahesa Bicak sambil menatap nyala api yang berkobar-kobar di depan nya.


Malam semakin larut. Suasana dingin mulai berganti kehangatan saat mentari pagi mulai bersinar di langit timur hingga langit berubah warna menjadi jingga. Suara ayam hutan bersahutan menandakan sebentar lagi sang Surya akan muncul.


Pagi itu di tepi rawa Shraddha, ratusan anak murid Padepokan Gunung Hijau bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke arah Perguruan Pedang Perak untuk membalas dendam. Mahesa Bicak sendiri berkuda paling depan. Debu beterbangan mengiringi perjalanan mereka.


Arya Pethak baru saja membersihkan diri di tepi sungai kecil di belakang Perguruan Pedang Perak. Klungsur yang mengekor di belakangnya, nampak sedang memeras baju yang baru dia cuci sambil berjalan.


"Ndoro Pethak,


Nanti siang jadi kita melanjutkan perjalanan?", tanya Klungsur sambil terus memeras baju nya yang basah.


"Ya jadi Sur..


Aku ingin cepat pulang ke Kadiri, menyelesaikan tugas dari Gusti Patih Pranaraja setelah itu aku akan memburu sisa sisa Kelompok Kelabang Ireng untuk menyelesaikan dendam orang tua kandung ku", ujar Arya Pethak sambil menepuk kembang waru yang jatuh ke arahnya.


"Wah saya setuju dengan omongan mu Ndoro..


Mengajak dua perempuan itu cukup merepotkan kita. Apalagi Ndoro Putri itu galaknya behhhh...", Klungsur tak meneruskan omongannya.


"Seperti apa Sur?", tanya Arya Pethak sambil menatap ke arah Klungsur.


"Ya seperti macan beranak Ndoro..


Sedikit sedikit ngamuk seenaknya saja, main omel sembarangan. Sudah persis seperti Mac....", belum sempat Klungsur menyelesaikan omongannya, sebuah suara lembut terdengar.


"Kau sedang mengatai ku Sur?", mendengar penuturan itu, Klungsur langsung menoleh ke arah sumber suara. Sekarwangi sedang tersenyum kaku kearah Klungsur yang menurut Klungsur itu adalah senyum manis dari seorang dewi kematian yang hendak mencabut nyawanya. Klungsur langsung pucat seketika.


"Ee-eehh ada Ndoro Putri...


Eh itu enggak Ndoro Putri, tadi Klungsur sedang membicarakan anu itu anak pemimpin Perguruan Pedang Perak yang cantik itu Ndoro Putri, ya kan Ndoro Pethak?", Klungsur memandang wajah Arya Pethak seakan meminta pertolongan.


Sambil mendengus dingin, Arya Pethak segera menjawab pertanyaan Klungsur. Mau tidak mau dia harus sedikit berbohong pada Sekarwangi agar Klungsur tidak mendapat masalah.


"Itu benar Gusti Putri. Mohon tidak ribut di tempat ini", Arya Pethak memandang wajah cantik Sekarwangi sembari tersenyum manis.


"Kalau Kakang Pethak sudah bilang begitu, aku percaya sepenuhnya..


Tapi kalau sampai Klungsur berani menggunjing aku di belakang, nihhh", Sekarwangi menarik ujung telunjuk tangan kanannya di depan lehernya yang jenjang dengan gerakan memotong. Klungsur langsung pucat seketika melihat ancaman Sekarwangi.


"Hamba tidak berani Ndoro Putri, tidak berani", ujar Klungsur sembari membungkukkan badannya pertanda dia hormat kepada Sekarwangi.


Usai drama saling ancam itu, Sekarwangi segera berlalu menuju ke arah sungai kecil tempat membersihkan diri. Klungsur menarik nafas lega usai melihat kepergian sang Putri Patih Pranaraja, sedangkan Arya Pethak tersenyum simpul.


Dari arah depan, mereka berjumpa dengan Rara Pujawati yang baru saja dari dapur. Di tangan perempuan cantik itu sebuah nampan berisi pisang raja rebus yang sudah siap di santap. Asap putih tipis masih mengepul dari pisang rebus yang nampaknya baru di angkat dari periuk masak.


"Kakang Pethak...


Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Ayo kang kita sarapan dulu, mumpung masih hangat", ujar Rara Pujawati sambil melangkah menuju ke arah sebuah tempat duduk di bawah pohon rambutan yang berdaun rimbun.


Mendengar ajakan Rara Pujawati, Arya Pethak segera mengekor langkah sang putri pemimpin Perguruan Pedang Perak. Klungsur yang melihat ada makanan langsung bergegas menuju ke tempat jemuran pakaian, menjemur pakaian nya dengan terburu-buru lalu menyusul Arya Pethak ke bawah pohon rambutan.


Mereka bertiga segera sarapan pagi dengan pisang raja matang yang direbus serta secangkir kopi hitam yang merupakan budidaya dari kebun sendiri. Mereka terus berbincang tentang banyak hal sembari menikmati sarapan mereka. Tak berapa lama kemudian Paramita ikut bergabung bersama mereka, di susul Sekarwangi yang baru saja selesai dari sungai kecil tempat membersihkan diri.


Saat matahari telah lebih dari sepenggal naik, tiba tiba saja terdengar suara kentongan di tabuh bertalu-talu tanda adanya bahaya.


Arya Pethak, Sekarwangi, Paramita, Klungsur dan Rara Pujawati saling berpandangan sejenak sebelum mereka berlari menuju ke arah pintu gerbang perguruan. Sesampainya disana, para anak murid Perguruan Pedang Perak telah bersiaga penuh dengan senjata terhunus.


"Ada apa, Kang Jalak Biru? Kenapa pintu gerbang perguruan kita di tutup?", tanya Rara Pujawati pada seorang lelaki bertubuh kekar dengan wajah yang memiliki dua bekas luka di pipi kanannya.


"Orang orang Padepokan Gunung Hijau mengepung tempat ini, Pujawati.


Sepertinya mereka mengerahkan seluruh anak murid mereka untuk menyerbu kemari", jawab Jalak Biru dengan cepat.


Mendengar jawaban itu, Rara Pujawati langsung pucat seketika. Anggota Perguruan Pedang Perak hanya sekitar 150 orang, sedangkan anak murid Padepokan Gunung Hijau lebih dari 250 orang. Jika mereka menyerbu ke tempat itu, sudah bisa dipastikan bahwa Perguruan Pedang Perak akan kalah jumlah jika melawan Padepokan Gunung Hijau.


"Lembu Anengah,


Cepat keluar! Jangan cuma bersembunyi di balik tingginya pagar kayu perguruan mu!", teriak Mahesa Bicak sambil berkacak pinggang di depan gerbang perguruan.

__ADS_1


Mendengar tantangan itu, Lembu Anengah yang hendak melompat ke atas pagar kayu Perguruan Pedang Perak langsung di halangi oleh Rara Pujawati.


"Romo tidak perlu kesana, jangan terpancing oleh omongan Mahesa Bicak", ujar Rara Pujawati sambil mencekal lengan kiri Lembu Anengah.


"Nyawa ku tak lebih berharga dari Perguruan Pedang Perak ini, Ngger Cah Ayu..


Sekarang kau tetap tinggal di sini saja apapun yang terjadi", Lembu Anengah melepaskan pegangan tangan Rara Pujawati sambil melompat tinggi ke udara, melewati pagar kayu perguruan. Melihat kepergian ayahnya, Rara Pujawati segera menoleh ke arah Arya Pethak.


"Kakang Pethak,


Tolong bantu ayah ku hiks hiks hiks...


Mereka pasti ingin menuntut balas kematian murid-murid yang terbunuh di rumah makan itu", pinta Rara Pujawati sambil mulai meneteskan air matanya.


"Baiklah, Nimas Pujawati..


Sebaiknya kalian tetap disini sampai aku kembali", Arya Pethak segera menoleh ke arah Sekarwangi, Paramita dan Klungsur. Mereka bertiga segera mengangguk mengerti.


Setelah menarik nafas panjang, Arya Pethak segera melesat cepat kearah atas pagar kayu perguruan yang menjadi benteng perlindungan Perguruan Pedang Perak yang terletak di apit dua bukit kecil di tepi hutan. Gerakan Arya Pethak yang ringan seperti terbang membuat kaget Mahesa Bicak saat melihat pemuda tampan itu mendarat di samping Lembu Anengah.


'Sepertinya pemuda ini bukan orang sembarangan. Aku tidak boleh gegabah', batin Mahesa Bicak sambil mengamati situasi.


"Pendekar muda,


Kenapa kau kemari? Ini urusan Perguruan Pedang Perak", tanya Lembu Anengah sambil menatap ke arah Arya Pethak.


"Aku tahu Paman Anengah.


Tapi ini pasti akibat peristiwa di warung makan tempo hari. Sedikit banyak aku terlibat dalam permasalahan ini", jawab Arya Pethak sambil tersenyum tipis.


"Kenapa kau senyum-senyum seperti orang gila ha? Apa aku Mahesa Bicak terlihat lucu di matamu?", bentak Mahesa Bicak yang merasa tidak senang melihat ketenangan Arya Pethak. Murid Mpu Prawira itu segera menoleh ke arah Mahesa Bicak.


"Dengarkan aku, Mahesa Bicak..


Aku akan meluruskan sesuatu di sini. Anak murid mu di bunuh oleh Dewi Ular Siluman. Bukan oleh ku atau anak murid Perguruan Pedang Perak. Sebelum mereka dibunuh, mereka memang sempat beradu mulut dengan orang-orang Perguruan Pedang Perak. Tapi tidak terjadi apa-apa lagi selain itu", ujar Arya Pethak sembari menatap ke arah Mahesa Bicak yang tengah mengelus jenggotnya.


Phuihhhh..


"Kau pikir aku akan mudah percaya dengan omongan mu, anak muda?


Ada saksi mata yang mengatakan murid murid ku bertengkar dengan orang-orang Perguruan Pedang Perak. Kau jangan coba coba untuk mengalihkan pokok permasalahan ini", Mahesa Bicak mendengus keras.


Aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Kalau kau ingin menuntut balas atas kematian murid-murid mu, sana kejar Dewi Ular Siluman bukan kau mencari masalah dengan menekan Perguruan Pedang Perak yang juga menjadi korban", Arya Pethak mulai gusar karena Mahesa Bicak tidak bisa di ajak bicara.


"Pokoknya aku tidak terima!


Kalau Perguruan Pedang Perak ingin masalah ini selesai, sebaiknya serahkan 200 kepeng emas sebagai ganti rugi kepada Padepokan Gunung Hijau. Jika tidak jangan harap Perguruan Pedang Perak akan berdiri lagi esok hari", ujar Mahesa Bicak sambil menatap tajam ke arah Lembu Anengah.


"Bangsat!


Mau menekan kami dengan jumlah kalian yang banyak? Apa kau pikir aku takut dengan mu Mahesa Bicak?", Lembu Anengah meraba gagang pedang di punggungnya.


"Dasar tidak tahu diri!


Akan ku cabut nyawamu Lembu Anengah!", teriak Mahesa Bicak sambil melesat ke arah Lembu Anengah.


Saat Lembu Anengah hendak maju, tangan kanan Arya Pethak menghalangi niat nya.


"Biar aku yang hadapi dia Paman. Sekarang paman perhatikan pergerakan anak murid Padepokan Gunung Hijau", ujar Arya Pethak sambil bersiap untuk bertarung.


Dengan menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin, kecepatan gerak Arya Pethak bagai kilat yang menyambar. Sekedip mata, dia sudah berada di depan Mahesa Bicak. Pemimpin Padepokan Gunung Hijau itu terkejut bukan main melihat kemunculan Arya Pethak yang tiba-tiba. Dia segera mengayunkan tangan kanannya ke arah dada lawan.


Whhhuuuggghhhh...


Dengan mudah Arya Pethak menghindari hantaman Mahesa Bicak sambil melayangkan sambaran pada leher pemimpin Padepokan Gunung Hijau itu.


Mahesa Bicak terkesiap melihat serangan cepat Arya Pethak. Buru buru dia menjatuhkan diri ke tanah dan berguling cepat sembari menyapu kaki Arya Pethak.


Dengan memijak tanah sekeras mungkin, tubuh Arya Pethak melenting tinggi ke udara, kemudian bersalto turun dengan kaki di atas. Dengan cepat ia menghantamkan tapak tangan nya bertubi-tubi kearah Mahesa Bicak.


Pemimpin Padepokan Gunung Hijau itu segera menyongsong serangan tapak Arya Pethak dengan cepat.


Plakk plaaaakkkk!!


Arya Pethak kemudian melompat menjauh dari tempat itu dan mendarat beberapa tombak dari Mahesa Bicak. Pertemuan serangan mereka sudah bisa menjajaki tenaga dalam lawan mereka masing-masing. Tenaga dalam Arya Pethak setingkat lebih tinggi dari Mahesa Bicak.


Sambil mengibaskan tangannya yang kesemutan, Mahesa Bicak segera bangkit dari tempat berguling nya.


Segera dia meloloskan sebuah cemeti berwarna hitam kehijauan yang dia lingkarkan pada bahu kiri hingga pinggang nya. Dia mengeluarkan senjata andalannya, Cemeti Angin Kematian. Dengan cepat ia mulai memutar-mutar cemeti di tangan kanannya.


Angin dingin berbau amis darah seperti bau kematian menderu kencang dari putaran cemeti di tangan kanan Mahesa Bicak.

__ADS_1


"Pendekar muda,


Hati hati dengan ujung Cemeti itu. Ujung besi nya mengandung racun keji", teriak Lembu Anengah dari pinggir arena pertarungan. Mendengar penuturan itu, Arya Pethak segera mengangguk mengerti. Dia meloloskan Pedang Setan yang tersandang di punggungnya.


Hawa dingin bercampur aduk dengan bau busuk menyengat hidung keluar dari Pedang Setan di tangan Arya Pethak. Mahesa Bicak melotot lebar melihat senjata di tangan Arya Pethak.


"Bedebah!


Dari mana kau dapat Pedang Setan itu ha? Apa kau mencuri nya dari Soca Birawa?", Mahesa Bicak menatap tajam ke arah Arya Pethak sambil terus memutar Cemeti Angin Kematian di tangan kanannya.


Chuuiiiiiiihhhh...


"Aku bukan maling. Aku juga bukan perampok. Pedang ini aku dapat setelah membunuh orang yang menguasainya", Arya Pethak tersenyum lebar. Senyuman itu tidak mendatangkan kebahagiaan untuk semua orang yang melihat, tapi membuat ciut nyali Mahesa Bicak maupun Lembu Anengah.


Mereka berdua tahu bahwa Soca Birawa bukan pendekar kacangan yang mudah untuk di bunuh.


Mahesa Bicak dengan cepat menyentakkan Cemeti Angin Kematian ke arah Arya Pethak.


Ceeettthhhhhaaaarrrrr!!


Lecutan cepat ujung Cemeti Angin Kematian melesat cepat kearah Arya Pethak. Pemuda tampan itu langsung melompat tinggi ke udara menghindari ujung cemeti yang mengincar nyawanya.


Melihat serangan nya gagal, Mahesa Bicak kembali melecut Cemeti Angin Kematian kearah Arya Pethak sambil menyalurkan tenaga dalam tingkat tinggi.


Cetttthhhhhaaarrr!!


Kali ini serangkum angin dingin yang tajam melesat cepat kearah Arya Pethak mengikuti lecutan cepat Cemeti Angin Kematian. Arya Pethak yang baru saja mendarat di tanah, langsung melompat lagi kearah yang berlawanan. Namun sayangnya angin tajam Cemeti Angin Kematian masih merobek baju putih nya.


Shrraaaakkkkhhhh!!


Mata Mahesa Bicak melotot lebar saat melihat angin tajam dari lecutan Cemeti Angin Kematian hanya mampu merobek baju tanpa melukai kulit Arya Pethak. Seberkas sinar kuning keemasan terlihat melindungi tubuh Arya Pethak, dan Mahesa Bicak melihat itu semua.


"Ajian Lembu Sekilan..??!!


Bocah tengik, siapa kau sebenarnya?", maki Mahesa Bicak sambil menatap tajam ke arah Arya Pethak. Murid tiga Resi Pertapaan Giri Lawu itu segera melesat cepat kearah Mahesa Bicak yang mulai ketakutan. Dengan tenang dis menjawab,


"Aku adalah malaikat maut mu!".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hai semuanya, apa kabarnya?


Masihkah ada yang merindukan kelanjutan cerita ini? 😁😁


Kalau masih mana suaranya?


🙏🙏🙏😁😁😁✌️✌️✌️🙏🙏🙏


Yuk berteman dengan author di IG author : ebez2812

__ADS_1


__ADS_2