
Tumenggung Jaran Gandi segera merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Gadis cantik itu segera memeluk tubuh punggawa Kadipaten Kurawan itu.
"Putri kesayangan ku, Anjarwati..
Semakin lama kau semakin bertambah besar saja", ujar Tumenggung Jaran Gandi sambil membelai rambut panjang Rara Anjarwati. Gadis itu adalah putri bungsu Tumenggung Jaran Gandi. Sedari kecil gadis itu di rawat oleh emban nya, Nyi Ramut, karena ibu Rara Anjarwati meninggal setelah melahirkannya. Kedua kakak Rara Anjarwati, Kuda Amerta dan Kuda Seta sangat sayang pada adiknya itu.
"Ahh Romo... Aku setiap hari di beri makan oleh biyung emban, maka nya terus bertambah tinggi seperti ini.
Eh mereka siapa Romo?", Rara Anjarwati menunjuk ke arah Arya Pethak dan kawan-kawan nya.
"Mereka adalah utusan dari Kadiri, Ngger Cah Ayu..
Kebetulan kami bertemu dengan mereka di jalan sewaktu pulang Anjuk Ladang. Kalau tidak ada mereka, mungkin Romo pulang tinggal nama saja", jawab Tumenggung Jaran Gandi sembari tersenyum tipis.
"Arya Pethak, Sekarwangi, Paramita, Gajah Wiru..
Kemarilah", Tumenggung Jaran Gandi memanggil keempat orang itu.
Mereka berempat segera mendekat ke arah Tumenggung Jaran Gandi. Klungsur yang tidak ikut dipanggil mengekor di belakang mereka berempat.
"Perkenalkan ini putri bungsu ku, Rara Anjarwati.
Ngger Cah Ayu,
Yang baju putih ini namanya Arya Pethak. Gadis cantik berbaju merah itu Paramita, kalau yang kuning ini namanya Sekarwangi. Yang pakai baju biru itu namanya Gajah Wiru", ucap Tumenggung Jaran Gandi memperkenalkan mereka pada Rara Anjarwati.
Mereka segera mengangguk penuh hormat pada Rara Anjarwati.
"Kalau yang jelek, bogel dan dekil pakai baju hitam itu siapa Romo?", tunjuk Anjarwati pada Klungsur yang ada di belakang.
'Dasar gadis manja. Seenaknya saja menghina ku jelek dan dekil', gerutu Klungsur yang mendengar ucapan Rara Anjarwati.
"Oh yang itu namanya Klungsur, abdi setia nya Arya Pethak. Romo sampai lupa dengan nya", jawab Tumenggung Jaran Gandi segera.
"Oh hanya seorang abdi toh", ada kesan merendahkan dalam perkataan Rara Anjarwati.
Usai memperkenalkan Arya Pethak dan kawan-kawan nya, Tumenggung Jaran Gandi mengajak mereka untuk beristirahat. Perjalanan mereka yang melelahkan apalagi pertarungan sengit yang mereka alami membutuhkan waktu dan tempat yang nyaman untuk beristirahat.
Langit senja yang kemerahan segera menghilang kala mendung tebal dari selatan bergerak menutupi langit kota Kadipaten Kurawan. Tak berapa lama kemudian hujan deras mengguyur wilayah kota itu di barengi kilat dan guntur bersahutan. Suasana malam menjadi dingin dan mencekam.
Arya Pethak duduk di depan kamar tidur nya melihat tetesan hujan deras yang mengguyur tanpa henti.
Dia terbayang saat masih berusia 1 Warsa, Mpu Prawira dan Nyi Ratih menutupi seluruh tubuhnya dari air hujan yang masuk ke dalam rumah mereka karena atap alang-alang nya bocor.
Arya Pethak merasa rindu pada kedua orang tua angkatnya itu sekarang.
Saat Arya Pethak tengah melamun, sebuah tepukan tangan di pundak kirinya menyadarkan pemuda tampan itu. Saat Arya Pethak menoleh, senyum manis Sekarwangi tersungging di bibir merah putri Patih Pranaraja itu.
"Hujan hujan kog malah melamun Kang? Nanti kesurupan setan loh", gurau Sekarwangi yang ikut duduk di samping Arya Pethak.
"Aku tidak melamun Gusti Putri..
Hanya teringat pada orang tua ku di Bukit Kahayunan. Setiap hujan deras turun begini, entah mengapa aku selalu teringat pada mereka", ucap Arya Pethak sembari tersenyum tipis.
"Ya namanya anak pasti merindukan rumah orang tua saat ada kejadian khusus yang membuat mereka nyaman.
Aku juga kadang merindukan Kanjeng Romo Patih, namun aku juga ingin melihat luasnya dunia. Saat aku merasa puas nanti, aku pasti kembali ke rumah Kanjeng Romo", kata Sekarwangi sambil tersenyum memandangi hujan deras yang mengguyur kota Kurawan. Semilir angin yang berhembus mengibarkan rambut panjang putri Patih Pranaraja itu menambah kecantikannya.
Mereka berdua bercakap cakap berbagi cerita tentang banyak hal. Hingga tak menyadari bahwa Klungsur yang kelaparan, mendekati mereka berdua.
"Wah enak ya hujan hujan pacaran", ujar Klungsur yang segera membuat Arya Pethak dan Sekarwangi segera menoleh ke arah Klungsur. Merasa tertangkap basah oleh Klungsur, Sekarwangi alias Si Ragil Kuning memerah wajahnya.
"Si-siapa yang pacaran? Sembarangan saja kalau ngomong", sangkal Sekarwangi yang berusaha menyembunyikan rasa malunya karena seloroh Klungsur.
"Lha kalau tidak pacaran, kenapa malam malam hujan begini duduk berdua? Menunggu bekicot merayap Ndoro Putri?", sergah Klungsur tak mau kalah.
"Kau ini bisa tidak suaramu pelan sedikit Sur?
Kita itu bertamu disini, jangan seenak perut mu sendiri dong", Arya Pethak sedikit melotot pada Klungsur yang segera membuat pemuda bogel itu mengkerut nyalinya.
"Maaf Ndoro maaf, Klungsur hanya bercanda", ucap Klungsur dengan nada takut takut. Jarang Arya Pethak bersuara keras pada nya. Kalau pun sampai bersuara keras itu tandanya Arya Pethak tidak main-main.
"Kau sendiri kenapa malam malam begini keluyuran? Nanti kalau kau di tuduh mau maling, mau kau Sur?", Arya Pethak balik bertanya kepada Klungsur.
"Saya lapar Ndoro Pethak..
Tadi mau makan banyak tidak jadi karena sebel dengan omongan putri tumenggung yang menjengkelkan itu. Makanya hanya makan sedikit.
Lah ini baru saja perut bunyi terus Ndoro, terus saya keluar cari makan", jawab Klungsur sambil meraba perut nya yang berbunyi lagi.
Sekarwangi hanya tersenyum simpul.
"Kau tunggu disini sebentar, Sur", ujar Sekarwangi yang segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah kamarnya.
Tak berapa lama kemudian Sekarwangi kembali seraya membawa satu nampan berisi pisang raja rebus kemudian meletakkannya di dekat Klungsur.
__ADS_1
"Nih kamu makan. Lumayan buat ganjal perut mu yang berbunyi itu", mendengar itu, Klungsur langsung menyambar dua potong pisang raja rebus lalu memakannya dengan lahap.
Arya Pethak dan Sekarwangi hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Klungsur yang makan seperti kesurupan.
"Selepas nawala kita haturkan kepada Adipati Lembu Panoleh, apa rencana kita selanjutnya Kakang?", tanya Sekarwangi setelah menatap wajah tampan Arya Pethak.
"Aku tidak tahu Ndoro Putri,
Kita harus mengetahui dulu apa balasan Gusti Adipati Lembu Panoleh usai membaca surat dari Gusti Patih. Baru kita tentukan langkah selanjutnya.
Tapi yang jelas, aku ingin mencari pucuk pimpinan Kelompok Kelabang Ireng yang sudah membunuh kedua orang tua ku", jawab Arya Pethak segera.
"Aku akan tetap mengikuti Kakang Pethak kemanapun Kakang pergi", ujar Sekarwangi sambil tersenyum tipis. Wajah cantik perempuan itu langsung menunduk saat mata Arya Pethak mengarah kepadanya.
"Klungsur juga ikut Ndoro, kemanapun ikut pokoknya", kata Klungsur dengan mulut yang penuh pisang rebus.
Arya Pethak tersenyum mendengar ucapan mereka berdua.
Malam semakin larut. Hujan deras yang mengguyur kota Kurawan sudah berhenti sejak tadi. Angin semilir yang berhembus membuat udara begitu dingin menyentuh kulit.
Klungsur sudah menguap lebar beberapa kali. Rasa kantuk yang menyerangnya tiba-tiba begitu hebat hingga dia tertidur dengan posisi duduk. Sekarwangi pun demikian. Putri Patih Pranaraja itu hampir terjatuh dari tempat duduknya karena kantuk yang datang tiba-tiba.
Arya Pethak yang sadar ada sesuatu yang tidak beres langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.
'Ada yang memakai ajian sirep rupanya. Pasti punya maksud tidak baik', batin Arya Pethak sambil terus menajamkan penglihatan nya.
Saat ekor matanya menangkap sesosok bayangan hitam tengah berkelebat cepat, pendekar dari Bukit Kahayunan itu segera melesat mengejarnya. Membuat kursi kayu itu menjungkit dan Sekarwangi jatuh ke lantai dengan keras.
Sekarwangi langsung tersadar dari kantuknya. Melihat Arya Pethak melesat ke arah lorong pintu di selatan, putri Patih Pranaraja itu buru-buru mengejar Arya Pethak.
Si bayangan hitam terus berlari cepat saat melihat Arya Pethak mengejarnya. Dia begitu kaget melihat kecepatan Arya Pethak yang menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin.
Merasa tidak akan bisa lolos, si bayangan hitam itu segera melemparkan dua pisau kecil kearah Arya Pethak.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!
Dengan cepat Arya Pethak mengibaskan tangannya hingga pisau kecil itu berbelok arah dan menancap di dinding kayu rumah itu.
Creep creep!
Dengan satu pijakan kaki kanan yang kuat pada halaman, Arya Pethak melenting tinggi ke udara dan mendarat di hadapan bayangan hitam itu.
Whuuuuuutttthhhh..
Jleeggg!!
"Siapa kau?
Ada urusan apa di tempat ini?", tanya Arya Pethak sambil terus mengawasi gerak-gerik si bayangan hitam yang menutup wajahnya dengan sepotong kain berwarna merah. Dari bentuk tubuhnya, si bayangan hitam itu seorang wanita. Tahi lalat kecil di sudut kiri matanya adalah ciri ciri orang itu.
Bayangan hitam itu diam tak menjawab. Ekor matanya melihat Sekarwangi tengah berlari menuju kearah nya dari belakang.
Satu sentakan halus di tangan kanannya mengeluarkan dua bola kecil sebesar telur burung. Sedangkan di tangan kirinya 8 biji senjata rahasia berbentuk burung walet.
Melihat Sekarwangi yang semakin dekat, si bayangan hitam itu segera melemparkan bola kecil berwarna hitam kearah Arya Pethak. Bola meluncur cepat dari tangan si bayangan hitam yang berbarengan lemparan senjata rahasia berbentuk burung walet sebanyak 3 biji.
Whhhuuuuuttttthhhh whuuthhh..
Arya Pethak segera hantamkan tangan kanannya. Serangkum angin dingin tenaga dalam langsung menerabas cepat kearah si bayangan hitam.
Auuuggghhhhh!!
Terdengar jerit kecil dari si bayangan hitam saat angin dingin tenaga dalam Arya Pethak mendera pundak kiri nya sebelah depan.
Dharr dhaarrr!
Bola kecil itu meledak di depan Arya Pethak, menciptakan kabut asap yang pekat. Arya Pethak berhasil menangkap satu senjata rahasia dan menghindari dua lainnya.
Saat yang bersamaan, si bayangan hitam juga melemparkan 5 senjata rahasia ke arah Sekarwangi.
Shriingg shriingg!!
Putri Patih Pranaraja itu terkejut dan dengan cepat menghindari serangan itu.
Usai kabut pekat menghilang, si bayangan hitam itu turut menghilang. Rupanya bola kecil yang meledak tadi merupakan alat untuk melarikan diri.
Arya Pethak segera menghampiri Sekarwangi yang baru saja sampai.
"Kau tidak apa-apa, Ndoro Putri?", tanya Arya Pethak segera.
"Aku tidak apa-apa Kakang. Orang itu melemparkan sesuatu seperti senjata rahasia kearah ku, namun dia menghilang usai melakukan nya", jawab Sekarwangi dengan cepat.
Hemmmmmmm..
"Kalau begitu, ayo kita kembali ke rumah Tumenggung Jaran Gandi. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk", ajak Arya Pethak pada Sekarwangi yang membuat perempuan cantik itu mengangguk mengerti.
__ADS_1
Baru saja hendak bergerak, tiba terdengar suara kentongan di tabuh bertalu-talu.
Thoongg thongg thoonggg!!
Arya Pethak dan Sekarwangi saling berpandangan sejenak sebelum melesat cepat kearah bunyi kentongan yang ada di dekat pintu halaman Katumenggungan.
Di halaman Katumenggungan, sudah ada 4 orang prajurit dan Rara Anjarwati serta Kuda Amerta yang berkumpul saat Arya Pethak datang bersama Sekarwangi.
" Ada apa prajurit? Kenapa kau titir kentongan seperti itu?", tanya Sekarwangi segera.
"Katiwasan Nisanak,
Katumenggungan di bobol maling. Maling sakti. Dia mengambil sejumlah uang dan perhiasan yang tersimpan di lemari Gusti Putri Anjarwati", jawab sang prajurit penjaga Katumenggungan begitu melihat kedatangan mereka berdua. Mereka mengenali nya sebagai tamu yang di bawa oleh Tumenggung Jaran Gandi.
Hemmmmmmm..
"Jadi yang kita kejar tadi maling, Kakang Pethak?", tanya Sekarwangi yang segera menoleh ke arah Arya Pethak.
"Sepertinya begitu Sekarwangi..
Orang itu punya ilmu meringankan tubuh yang hebat", jawab Arya Pethak sambil mengeluarkan sebuah senjata rahasia berbentuk burung walet yang berhasil di tangkap nya dan menunjukkannya pada Kuda Amerta.
"Darimana kau dapat benda ini kisanak?", tanya Kuda Amerta sambil menatap ke arah Arya Pethak.
"Ini di lemparkan oleh bayangan hitam yang aku kejar. Sebelumnya dia menggunakan ilmu sirep di Katumenggungan, hingga membuat kami sempat mengantuk", jawab Arya Pethak menjelaskan semuanya pada Kuda Amerta.
"Walet Merah. Ya pasti dia. Senjata rahasia ini adalah bukti nya.
Kurang ajar!
Berani sekali dia menyatroni Katumenggungan", maki Kuda Amerta dengan penuh amarah.
"Siapa itu Walet Merah, Gusti Perwira? Saya baru dengar?", Arya Pethak menatap ke arah Kuda Amerta yang tengah menggenggam senjata rahasia itu dengan erat.
Belum sempat Kuda Amerta menjawab, Tumenggung Jaran Gandi yang baru sampai langsung memotong pembicaraan.
"Walet Merah adalah seorang maling yang sakti mandraguna. Dia sudah lama menjadi buronan Kadipaten Kurawan, juga beberapa kadipaten sekitar.
Rumah orang kaya dan para pejabat adalah incaran nya. Sudah lama dia menghilang tak ada beritanya. Sepekan ini dari laporan para prajurit, ada beberapa kejadian pencurian di kota Kurawan ini.
Tak ku sangka, dia malah berani mencuri di rumah ku. Dasar kurang ajar!", umpat Tumenggung Jaran Gandi dengan geram.
"Romo,
Tangkap maling itu. Perhiasan peninggalan Kanjeng Ibu di bawa dia Romo hik hik hik...", isak tangis Rara Anjarwati langsung pecah. Kalung emas bermata berlian biru adalah peninggalan ibunya yang selalu dia rawat.
"Kau tenang saja Ngger Cah Ayu, besok Romo kerahkan para prajurit Kurawan untuk memburu maling busuk itu sampai ketemu", hibur Tumenggung Jaran Gandi sambil mengusap-usap kepala Rara Anjarwati.
Rara Anjarwati terus terisak sedih saat Tumenggung Jaran Gandi mengajak nya masuk ke dalam istana Katumenggungan.
Malam hampir beranjak pagi.
Bayangan hitam yang berhasil lolos dari kejaran Arya Pethak terus bergerak lincah diantara pepohonan.
Di sebuah rumah yang ada di tepi tapal batas kota Kadipaten Kurawan, bayangan hitam itu melompat turun ke sebuah rumah yang terlindung diantara pepohonan.
Begitu masuk rumah, bayangan hitam itu segera melepas kain merah yang menutupi wajahnya. Dan benar saja, dia adalah seorang wanita cantik. Dia segera melemparkan buntalan kain yang berisi kepeng perak dan emas serta perhiasan yang baru dia ambil dari Katumenggungan.
Perlahan dia membuka baju hitam nya dan melihat pundak kirinya sebelah depan berwarna merah kehitaman, pertanda bahwa dia menderita luka dalam. Si wanita cantik itu menggeram marah.
"Pemuda itu,
Akan ku balas suatu saat nanti"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁😁
Selamat membaca