Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Kisah Masa Silam


__ADS_3

Kartoyudho, pimpinan Karawitan Langen Sari mendengus keras sembari memutar pedang pendek nya.


"Bajingan tua itu menghancurkan kehidupan adik ku. Kalau aku balas dendam, apa lagi yang perlu dibicarakan Boja Sampil?!", teriak Kartoyudho dengan lantang.


Semua orang terkejut mendengar teriakan Kartoyudho.


Kisah masa silam ini terjadi sewaktu muda, Adipati Gajah Panggung terkenal dengan kehidupan nya yang berandalan. Dia terkenal dengan sebutan Pangeran Pemetik Bunga karena kelakuan nya yang sering menodai kesucian para gadis cantik di wilayah Kadipaten Anjuk Ladang.


Sewaktu melakukan kunjungan bersama ayahnya Adipati Gajah Mangir ke Kadipaten Ngrowo yang merupakan bekas wilayah Kadipaten Karang Anom tempo dulu, Gajah Panggung menonton pertunjukan kelompok penari keliling di sebuah desa. Waktu itu kecantikan salah seorang penari nya yang bernama Kartikawati menarik perhatian Gajah Panggung muda.


Dengan menggunakan kekuasaan nya sebagai pangeran mahkota Kadipaten Anjuk Ladang, Gajah Panggung muda berhasil membawa Kartikawati ke ranjang. Namun karena terlalu banyak minum minuman keras, Gajah Panggung muda tertidur di ranjang hingga tidak terjadi apa-apa dengan mereka berdua.


Tapi sebenarnya bukan itu penyebab Kartikawati bunuh diri. Usai malam itu dengan Gajah Panggung muda, Kartikawati di perkosa oleh anak Akuwu Bono hingga akhirnya dia memilih bunuh diri karena tak kuat menahan malu.


Kartoyudho yang baru saja turun gunung dari berguru di Padepokan Pesisir Selatan sangat marah saat mendapati adik kesayangannya telah tewas bunuh diri. Perlahan dia menyelidiki sebab musabab kenekatan Kartikawati hingga berani untuk mengakhiri hidupnya.


Dari para penabuh gamelan penari keliling itu Kartoyudho akhirnya tahu bahwa Kartikawati pernah berhubungan dengan Gajah Panggung muda. Lantas dengan penuh kemarahan, Kartoyudho mencari keberadaan Gajah Panggung di wilayah Anjuk Ladang. Namun usaha untuk membunuh Gajah Panggung muda berakhir saat Kartoyudho yang menyamar sebagai perampok di halangi oleh Jaran Sembrani yang menjadi penolong Gajah Panggung muda kala itu. Akibat pertarungan itu, Kartoyudho luka parah dan nyaris tewas di tangan Jaran Sembrani yang akhirnya diangkat menjadi Tumenggung Anjuk Ladang. Dalam keadaan luka parah, Kartoyudho berhasil melarikan diri.


Meski gagal membunuh Gajah Panggung, bara dendam Kartoyudho tak pernah padam. Dia kembali ke Padepokan Pesisir Selatan dan berhasil memperoleh Ajian Tapak Naga Guntur dari guru nya.


Sambil menunggu waktu untuk membalas dendam, Kartoyudho mendirikan sebuah kelompok kesenian tayub yang menghadirkan penari cantik nan molek sebagai sarana untuk mendekati Gajah Panggung. Seluruh anggota Kelompok Karawitan Langen Sari dia latih dengan ilmu kanuragan tingkat tinggi. Jadi walaupun mereka penari dan penabuh gamelan namun Karawitan Langen Sari lebih mirip perguruan silat dengan topeng kesenian.


Saat Boja Sampil, juragan palawija mengundangnya untuk meramaikan acara hajatan pernikahan putri sulungnya, Kartoyudho senang bukan kepalang. Dia segera menyanggupi permintaan Boja Sampil meski dengan bayaran rendah dengan alasan pertemanan mereka.


Sebelum berangkat ke Anjuk Ladang, Kartoyudho memberi tahu kepada anggota Karawitan Langen Sari bahwa hari mereka untuk balas dendam telah tiba karena Boja Sampil memberi tahukan bahwa Adipati Gajah Panggung akan hadir di tempat acara. Semua anggota Karawitan Langen Sari pun mengerti dan bersiap untuk melakukan pembunuhan terhadap Adipati Gajah Panggung.


Kartoyudho yang menabuh gong sempat kesal saat Dewi Bukit Lanjar terus berada di dekat nya. Saat melihat Rara Larasati mengajak nya menjauh, Kartoyudho melihat itu adalah kesempatan mereka untuk melakukan rencana mereka. Apalagi Adipati Gajah Panggung hanya di kawal 12 prajurit.


"Apa maksud mu Kartoyudho?


Memang salah apa Gusti Adipati pada adik mu ha?", hardik Boja Sampil sebelum meraih gagang keris di pinggangnya.


"Adipati keparat itu yang menyebabkan adik ku bunuh diri setelah dia tiduri.


Hari ini akan ku antar dia ke neraka untuk menemani adik ku!!


Kalian semua maju", teriak Kartoyudho memberi perintah kepada anggota Karawitan Langen Sari. 30 orang anggota Kelompok Karawitan Langen Sari langsung melompat maju ke arah pasukan Bekel Simo Bogang yang melindungi Adipati Gajah Panggung.


Pertarungan sengit segera terjadi. Berbekal ilmu beladiri yang di latih bertahun-tahun, anggota Kelompok Karawitan Langen Sari dengan cepat membantai para prajurit Anjuk Ladang.


Melihat para prajurit Anjuk Ladang terbunuh satu persatu, 8 centeng anak buah Boja Sampil melesat maju menghadang. Kepandaian mereka diatas rata-rata mampu mengimbangi permainan silat anggota Kelompok Karawitan Langen Sari.


Dewi Bukit Lanjar dan muridnya Rara Larasati langsung melesat cepat menghambur ke arah pertarungan.


Dalam 3 jurus Dewi Bukit Lanjar dan Rara Larasati berhasil menumbangkan 2 anggota Kelompok Karawitan Langen Sari.


Melihat itu, seorang tangan kanan Kartoyudho yang bernama Banyak Putih langsung melesat cepat kearah Rara Larasati. Dengan penuh amarah, dia menyabetkan pedang pendek ke arah perut Rara Larasati.


Breeeetttth....


Angin dingin berdesir kencang mengiringi sabetan pedang Banyak Putih. Satu hentakan kaki membuat Rara Larasati mundur beberapa langkah ke belakang menghindari sabetan pedang pendek Banyak Putih.


Memakai Ajian Sepi Angin yang merupakan warisan turun temurun dari Padepokan Padas Putih, Rara Larasati melesat cepat kearah Banyak Putih.


Kecepatan tinggi nya di barengi dengan hantaman tangan kanan ke arah perut Banyak Putih yang langsung menebaskan pedangnya kearah tangan Rara Larasati.


Whuuthhh...


Rara Larasati tarik serangan tangan kanannya dengan cepat lalu memutar tubuhnya sembari melayangkan tendangan keras kearah pinggang kanan Banyak Putih yang rapuh pertahanan nya.


Bhuuukkkhhh...


Ougghhh!!!


Banyak Putih terhuyung huyung kesamping. Belum sempat dia berdiri tegak, tiba-tiba Rara Larasati muncul di samping kiri nya dan langsung menghantam dada kiri penabuh gender Karawitan Langen Sari itu dengan pukulan keras yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi.


Dhiiieeeessshh...


Krreeeeekkkkkk...


Aaaarrrgggggghhhhh!!!!


Banyak Putih mencelat ke samping kanan dan menghantam tiang panggung kesenian dengan keras. Lelaki berusia 4 Warsa itu langsung muntah darah segar. Tulang iganya hancur akibat kerasnya hantaman tangan kanan Rara Larasati yang memakai ilmu silat Padas Putih yang terkenal. Sesaat kemudian dia masih bergerak kemudian diam tak bergerak lagi.


Kartoyudho terus melesat cepat kearah Adipati Gajah Panggung yang tinggal di kawal oleh Bekel Simo Bogang yang sudah terluka.


"Mampus kau bajingan tua!", teriak Kartoyudho sembari membabatkan pedang pendek nya. Bekel Simo Bogang yang terluka dan kehabisan tenaga berusaha untuk bangkit namun dia oleng dan jatuh.

__ADS_1


Arya Pethak yang baru saja membabat perut seorang anggota Kelompok Karawitan Langen Sari dengan cepat menyabetkan Pedang Setan ke arah Kartoyudho yang semakin mendekati Adipati Gajah Panggung.


Selarik sinar hitam berbau busuk menerabas cepat kearah Kartoyudho. Hawa pedang menakutkan itu diiringi angin dingin yang menderu-deru. Kartoyudho yang hampir sampai kearah Adipati Gajah Panggung langsung menjatuhkan diri ke lantai menghindari sinar pedang yang mengancam nyawa.


Sinar hitam akhirnya menghajar tiang serambi kediaman Boja Sampil.


Blllaaaaaarrr!!


Raaaakkkk Brrruuuaaaaakkkkh!!!!


Teras rumah Boja Sampil hancur berantakan terkena hawa pedang yang di lepaskan Arya Pethak. Kartoyudho mendengus keras sebelum akhirnya kembali melesat ke arah Adipati Gajah Panggung. Namun mata Kartoyudho melebar ketika di depannya Arya Pethak menghadang pergerakan nya.


Seketika Kartoyudho menghentikan langkahnya.


"Minggir kau anak muda!


Aku tidak ada urusan dengan mu", teriak Kartoyudho sembari menatap tajam ke arah Arya Pethak.


"Kau tidak boleh sembarangan membunuh Adipati Gajah Panggung. Bagaimanapun dia adalah pemimpin tertinggi Kadipaten Anjuk Ladang.


Kalau sampai kau membunuh Adipati Gajah Panggung hanya karena dendam mu yang tak jelas ujung pangkalnya, bagaimana nasib rakyat Anjuk Ladang?", ujar Arya Pethak dengan cepat.


"Arya Pethak, aku bersumpah tidak berbuat apa-apa dengan Kartikawati. Malam itu aku mabuk terlalu banyak minum, hanya tertidur pulas di ranjang.


Sumpah demi Hyang Tunggal, malam itu aku tidak melakukan apapun dengan penari tayub itu", sahut Adipati Gajah Panggung yang ketakutan dengan Kartoyudho.


Phuihhhh...


"Siapa yang percaya dengan omongan mu, bajingan tua?


Gara gara kau adik ku bunuh diri. Hari ini akan ku balas dendam kematian adik. Bersiaplah menemui Dewa Kematian, Gajah Panggung!", teriak Kartoyudho sembari melesat cepat kearah Adipati Gajah Panggung gemetar badan nya.


Namun lagi lagi Arya Pethak menghadang pergerakan Kartoyudho. Satu sabetan pedang pendek nya langsung di tangkis dengan Pedang Setan di tangan Arya Pethak.


Thrrraaannnnggggg!!


Dengan cepat Kartoyudho merubah gerakan tubuhnya dan kembali membabatkan pedang pendek nya bertubi-tubi kearah Arya Pethak.


Thhhrriinnngggggg thriiiinnngggggg!!


Whhhuuuggghhhh..


Dengan tenang Arya Pethak memapak serangan Kartoyudho dengan tapak tangan kiri.


Blllaaaaaarrr!!!


Kartoyudho terdorong mundur beberapa tombak. Tangannya kebas dan ngilu. Dia melirik ke sekeliling nya. Satu persatu anggota Kelompok Karawitan Langen Sari berjatuhan di bantai Dewi Bukit Lanjar dan Rara Larasati. Tinggal 8 orang anak buah nya yang tersisa.


'Aku tidak boleh membuang waktu lagi. Pemuda ini harus aku singkirkan dengan cepat', batin Kartoyudho sembari menyarungkan kembali pedang pendek nya.


Kedua tangan Kartoyudho membuka ke samping kiri dan kanan. Kemudian dia memutar kedua telapak tangan nya yang dengan cepat menangkup di depan dada. Kilatan petir kecil perlahan muncul di tangan Kartoyudho. Itulah Ajian Tapak Naga Guntur dari Padepokan Pesisir Selatan yang tersohor di dunia persilatan. Semakin lama semakin banyak kilat petir yang tercipta.


Arya Pethak tidak gegabah. Meski baru saja sembuh akibat pertarungan dengan Begawan Pasopati, dia tidak mau kalah. Dengan menggunakan Ajian Lembu Sekilan, Arya Pethak merapalkan Ajian Serat Jiwa yang bisa di gunakan dengan tenaga dalam biasa. Karena menggunakan dua Ajian sekaligus sangat menguras tenaga dalam nya. Seluruh tubuhnya diliputi oleh sinar kuning keemasan yang di barengi dengan sinar hijau terang dari Ajian Serat Jiwa.


Usai masuk tahap puncak Ajian Tapak Naga Guntur, Kartoyudho melesat cepat kearah Arya Pethak. Selarik sinar putih kebiruan seperti petir terkumpul di tangan Kartoyudho.


"Matilah kau!!


Tapak Naga Guntur..


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt!!!!!"


Saat tangan kanan Kartoyudho menghantam tubuh Arya Pethak, ledakan dahsyat terdengar.


Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!!


Semua orang menahan nafas melihat benturan dua ilmu kanuragan tingkat tinggi itu. Asap tebal mengepul menutupi badan Arya Pethak dan Kartoyudho.


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Terdengar suara teriakan kesakitan. Saat asap mulai menghilang, sinar hijau terang mengikat tubuh Kartoyudho. Rupanya Kartoyudho di sedot daya hidup dan tenaga dalam nya oleh Ajian Serat Jiwa. Rasa sakit yang menyerang seluruh urat nadi dan persendian membuat Kartoyudho terus menjerit keras. Darah mulai mengalir dari mulut dan lobang hidung Kartoyudho.


Dewi Bukit Lanjar takjub melihat kemampuan Ajian Serat Jiwa tingkat 9 yang di kuasai oleh Arya Pethak.


"Bocah ini mengerikan", gumam Dewi Bukit Lanjar yang baru saja memuntir leher seorang anggota Kelompok Karawitan Langen Sari.


Tak ingin membunuh Kartoyudho, Arya Pethak menendang perut lelaki paruh baya itu hingga mencelat menabrak pohon mangga di depan rumah Boja Sampil.

__ADS_1


Bhuuukkkhhh..


Kartoyudho terus muntah darah. Melihat itu, anggota Kelompok Karawitan Langen Sari langsung memburu ke arah Kartoyudho.


Arya Pethak menghela nafas panjang sebelum berjalan mendekati Adipati Gajah Panggung.


"Sebaiknya Gusti Adipati menjelaskan secara rinci tentang kejadian malam itu. Jika tidak seumur hidup, orang itu akan mendendam pada Gusti Adipati", ujar Arya Pethak yang segera membuat Adipati Gajah Panggung berdiri. Dengan di temani oleh Arya Pethak dan Boja Sampil serta Nyi Sawitri juga Rara Larasati, Adipati Gajah Panggung mendekati Kartoyudho yang masih terduduk di tanah.


"Dengarkan aku baik baik, Kartoyudho..


Malam itu aku tidak meniduri adikmu. Pesta yang diadakan oleh Akuwu Bono, aku hanya mabuk minuman keras yang di sediakan.


Pagi hari aku terbangun, aku tidak bersama adik mu. Aku dengar dari para dayang, adik mu malam itu di bawa anak Akuwu Bono ke kamarnya. Terserah padamu percaya atau tidak, tapi begitulah kenyataannya.


Masa muda ku memang penuh kebejatan, tapi aku Gajah Panggung bukan pengecut yang lari dari tanggung jawab. Semoga kau mengerti", ujar Adipati Gajah Panggung mengakhiri omongannya.


"Ja-jadi selama ini aku di tipu oleh Wirakrama?


Bangsat, aku benar benar bodoh! Benar benar bodoh!", rutuk Kartoyudho sembari memukul kepala nya sendiri.


"Ki-kita masih bisa balas dendam Ki..


Sekarang sebaiknya kita pergi dari tempat ini", ujar salah seorang anggota Kelompok Karawitan Langen Sari yang masih hidup. Di bantu seorang kawannya mereka memapah Kartoyudho meninggalkan halaman rumah Boja Sampil di temani 5 orang anggota Kelompok Karawitan Langen Sari yang masih hidup.


Ke delapan orang itu berjalan tertatih kemudian menghilang di kegelapan malam.


Arya Pethak menatap kepergian mereka dengan penuh keprihatinan. Saat dia membalik badannya, di hadapannya Rara Larasati sudah berdiri.


"Kyyaaaaaa...


Kau mau mengageti ku ya? Kenapa tiba-tiba muncul di belakang ku?", teriak Arya Pethak sambil bersungut-sungut.


"Kau tidak lupa dengan ku kan Arya Pethak?", tanya Rara Larasati dengan cepat.


"Siapa juga yang bisa melupakan gadis tengil yang suka merebut makanan ku di bukit Kahayunan?


Apa kabar mu Larasati?", Arya Pethak tersenyum simpul. Selintas kenangan indah Bukit Kahayunan tergambar jelas di kepala Arya Pethak.


"Oh syukurlah kau masih ingat aku.. Kabar ku baik, Arya Pethak. Kau tidak lupa dengan guru bukan?", Rara Larasati melangkah ke samping dan wajah Nyi Sawitri alias Dewi Bukit Lanjar tersembul keluar.


"Salam hormat saya, Nini Dewi..


Angin apa yang membawa Nini Dewi dan Larasati sampai disini?", tanya Arya Pethak dengan sopan. Nyi Sawitri alias Dewi Bukit Lanjar menatap wajah tampan Arya Pethak sejenak sebelum berbicara,


"Darimana kau belajar Ajian Serat Jiwa, Arya Pethak?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Berbahagialah dengan apa yang kamu miliki hari ini, karena tak semua orang memiliki apa yang kamu miliki sekarang.


Salam dari author 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2