
Dengan penuh kewaspadaan, Arya Pethak mengikuti langkah Kebo Anabrang yang menggandeng tangan Raden Wijaya masuk ke dalam rumah kayu reyot.
Melihat sikap waspada Arya Pethak, Anjani langsung mendekati pemuda tampan itu.
"Ada apa Kakang Pethak?
Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal pikiran mu?", tanya Anjani lirih.
"Perempuan tua itu bukan seperti yang terlihat, Anjani. Beritahu yang lain untuk tidak serampangan di dalam rumah. Terutama Klungsur", bisik Arya Pethak yang membuat Anjani mengangguk.
Segera pesan berantai itu menyebar di antara kawan kawan seperjalanan Arya Pethak kecuali Kebo Anabrang dan Raden Wijaya. Mereka semua segera duduk di dipan kayu dan kursi yang ada di dalam rumah terpencil itu dengan penuh kewaspadaan.
Di luar hujan deras terus mengguyur kawasan hutan kecil di Utara tapal batas Kotaraja Singhasari. Suara guntur yang menggelegar ditambah beberapa kali sambaran petir bercampur angin kencang membuat suasana semakin menakutkan.
Suasana gelap langit di tambah kilatan petir itu membuat siapapun bergidik ngeri apalagi di sebuah rumah tua yang seperti mau roboh seperti ini. Klungsur yang sudah tegang karena peringatan Arya Pethak diam diam meraih gagang Gada Galih Asem nya.
'Kalau sampai nenek tua bangka itu macam-macam, akan ku kepruk kepalanya', batin Klungsur sambil menggenggam erat gagang gada.
Dari dalam rumah si gadis muda yang menyertai si nenek tua, kembali dengan membawa nampan berisi sekendi air minum dan beberapa buah buahan segar serta sepiring pisang rebus untuk mereka. Dia segera meletakkan nampan itu di meja kayu lapuk nan berdebu yang ada tengah ruang tamu.
Sebuah senyum manis terukir di bibir si gadis berkulit pucat ini saat mempersilahkan mereka untuk mencicipi hidangan itu.
"Ini hasil kebun sendiri, silahkan di nikmati", ujar si gadis muda berwajah pucat itu sambil berlalu kembali ke arah dalam. Sesaat sebelum sampai di pintu tengah, si gadis berwajah pucat itu menoleh ke arah tamu tamu rumah itu sambil tersenyum sinis.
Pandangan mata Arya Pethak yang menggunakan Ajian Mata Dewa langsung melihat wujud sebenarnya dari buah buahan itu. Di meja tamu itu yang di dalam kendi adalah darah, buah buahan segar itu sebenarnya adalah buah busuk penuh belatung sedangkan pisang rebus itu adalah potongan tubuh ular beracun.
Rupanya sejak masuk ke dalam rumah reyot itu mereka semua sudah masuk dalam ilusi mata yang diciptakan oleh perempuan tua bertubuh bungkuk tadi.
Perempuan tua renta bertubuh bungkuk itu adalah Nyi Lapat. Seorang dukun ilmu hitam yang sering menjebak para pengembara untuk menjadi korban persembahan nya pada Batari Durga. Dia adalah saudara seperguruan Kalayaksa yang tempo hari berurusan dengan Arya Pethak saat kemunculan Ratu Bulan Darah di Gunung Penanggungan. Kalayaksa yang terluka parah, berhasil sampai di rumah reyot itu. Sebelum akhirnya mati, Kalayaksa meminta bantuan Nyi Lapat untuk membalaskan dendam nya pada pemuda tampan berbaju putih yang melukainya. Kalayaksa meninggalkan ingatan nya pada Nyi Lapat sesaat sebelum ajal menjemput nya, hingga akhirnya Nyi Lapat tahu persis siapa orang yang melukai Kalayaksa hingga menyebabkan kematian nya.
Tadi pagi darah dalam kuali milik Nyi Lapat bergolak. Buru buru perempuan tua itu melihat nya dan ternyata rombongan Arya Pethak yang mengawal Kebo Anabrang dan Raden Wijaya yang lewat dekat tempat nya. Nyi Lapat segera memanggil hujan untuk menjerat rombongan itu berteduh di tempat nya agar bisa menghabisi nyawa Arya Pethak sekaligus keturunan Ken Arok yang merupakan musuh bebuyutan nenek gurunya.
Nyi Lapat menoleh ke arah gadis muda berwajah pucat itu ketika masuk ke dalam.
"Sudah kau berikan pada mereka, Rukmini?", tanya Nyi Lapat dengan tatapan mata tajam.
"Sudah Nyi..
Pasti sebentar lagi mereka akan memakan umpan jebakan kita hihihihi", jawab si gadis muda berwajah pucat itu seraya tertawa kecil yang menakutkan.
"Aku cukup khawatir dengan pemuda berbaju putih itu. Dia lah yang berhasil mengalahkan Kakang Kalayaksa, kakak seperguruan ku..
Kita tidak boleh gegabah dalam bertindak", ujar Nyi Lapat. Perempuan tua renta segera duduk bersila di depan kuali besar berisi darah. Mulut perempuan tua itu komat kamit membaca mantra.
Darah dalam kuali besar bergolak lalu muncul wajah orang orang di ruang tamu. Nyi Lapat terus memperhatikan gerak-gerik mereka.
Klungsur yang sedikit lapar hendak meraih buah segar yang tertata rapi di atas nampan namun tangan Arya Pethak dengan cepat mencekal nya.
"Jangan sentuh buah itu!
Itu buah buahan sihir yang beracun", ucap Arya Pethak segera. Semua orang terkejut mendengar perkataan Arya Pethak. Meski mereka percaya sepenuhnya kepada Arya Pethak namun yang tersaji di depan mereka terlihat buah-buahan segar nan ranum.
"Ndoro Pethak,
Apa kau tidak salah lihat? Ini buah segar yang baru di petik loh. Masak buah seperti ini beracun? Mana mungkin Ndoro?", Klungsur sedikit meragukan omongan Arya Pethak.
Rata rata mereka yang di tempat itu memang tak bisa melihatnya. Mereka meragukan ucapan Arya Pethak namun tidak berani membantah nya. Arya Pethak tersenyum mendengar omongan Klungsur. Memang tanpa kemampuan Ajian Mata Dewa tak seorangpun yang bisa melihat ilusi Nyi Lapat.
Arya Pethak memejamkan mata sekejap lalu komat kamit membaca mantra pengayaan ilusi yang diajarkan oleh Resi Sunyaluri dari Pertapaan Giri Lawu padanya. Tangan kanannya kemudian bergerak cepat diatas nampan. Dan benar saja, buah buahan yang nampak segar itu kembali ke bentuk aslinya yang busuk dan berulat. Potongan pisan rebus itu berubah menjadi potongan tubuh ular beracun.
Mata semua orang terbelalak melihat itu semua.
"I-itu itu potongan tubuh ular weling..
Kakang Pethak benar. Ini sihir. Ini ilusi yang di ciptakan untuk mengelabuhi kita semua ", teriak Anjani sambil menunjuk potongan daging ular di piring.
"Ayo semuanya..
Kita keluar dari tempat ini!", ajak Kebo Anabrang sambil menggendong Raden Wijaya sembari bergegas menuju ke arah pintu rumah. Klungsur, Anjani, Nay Kemuning dan Nirmala bergegas mengikuti langkah Kebo Anabrang, namun...
Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh...
Brraaakkkk!!!
__ADS_1
Tiba tiba pintu rumah menutup dengan sendirinya. Semua orang nampak kebingungan bercampur takut dengan ini semua kecuali Arya Pethak.
"Mau kemana kalian? Di luar masih hujan deras, sebaiknya berteduh di sini saja hehehehe", suara Nyi Lapat langsung membuka mata semua orang terarah pada pintu tengah. Nenek tua renta bertubuh bungkuk itu menyeringai lebar bersama gadis berwajah pucat.
"Penyihir busuk!
Cepat ba'na buka pintu ini. Kalau tidak tak celurit sampeyan", Nirmala merogoh sebilah celurit yang tersimpan di balik bajunya.
Hihihihi Hihihihihi...
"Wah kau galak sekali gadis manis, tapi sayang aku tidak takut sekali padamu hihihihihi...
Hari ini akan ku jadikan kalian semua sebagai persembahan untuk Batari Durga!!", teriak Nyi Lapat sambil mengibaskan tongkat kayu yang memiliki bonggol tengkorak manusia.
Whuuussshh!!
Angin kencang berhawa dingin menderu kencang kearah Arya Pethak dan kawan-kawan nya.
Arya Pethak diam diam merapal mantra Rajah Kala Cakra Buana yang dia dapatkan saat berburu Batu Inti Naga di Goa Selomangleng kemarin. Punggung kanan pendekar muda itu bersinar kuning keemasan dan membentuk perisai ghaib bundar dari huruf huruf suci sansekerta yang berwarna kuning keemasan.
"Semuanya!!
Berdiri di belakang ku. Cepat!!".
Mendengar perintah Arya Pethak, Kebo Anabrang yang menggendong Raden Wijaya, Klungsur, Anjani, Nay Kemuning dan Nirmala langsung berlindung di belakang Arya Pethak.
Nyi Lapat menggeram keras penuh kemarahan melihat kemampuan Arya Pethak yang mampu menangkis angin kematian yang dia lepaskan.
"Kurang ajar!!
Rukmini, majulah sekarang!", Nyi Lapat segera menoleh ke arah Rukmini. Gadis muda berwajah pucat itu segera mendengus keras sambil memutar kepalanya.
Tiba-tiba saja gigi Rukmini memanjang seperti gigi ular, lidah panjang menjulur keluar. Tubuhnya membesar dengan kulit putih, matanya seperti mata naga yang menonjol. Kukunya memanjang laksana kuku serigala. Dua tanduk muncul di kepala nya dan ekor pun terlihat bergerak gerak seperti ekor ular.
Hooooaaaarrrrggghhh!!
Lengkingan suara mahkluk penjelmaan Rukmini itu terdengar memekakkan gendang telinga.
Bunuh mereka semua!"
Mendengar perintah Nyi Lapat, makhluk mengerikan yang di sebut Demit Putih itu langsung melesat cepat kearah Arya Pethak.
Dengan cepat ia menghantam perisai ghaib Rajah Kala Cakra Buana.
Bhhuuuuummmmmmhh!!
Demit Putih terlempar saat tangan kanan nya menghantam perisai Rajah Kala Cakra Buana. Namun dia segera bangkit dan segera melesat kembali sembari menghantamkan tangan nya.
Blammmmm blammmmm blammmmm!!
Ledakan keras beruntun kembali terdengar. Demit Putih kembali terpental ke belakang namun dia bangkit lagi dan kembali menyerang Arya Pethak yang terus bertahan dengan Rajah Kala Cakra Buana nya.
Rumah tua itu sampai bergetar hebat saat ledakan dahsyat kembali terdengar. Namun kali ini, Arya Pethak tidak tinggal diam lagi. Dia segera menjentikkan jari tangan kanannya.
Sesosok makhluk hitam tinggi besar langsung berdiri di hadapan Arya Pethak sembari menyembah pada pemuda tampan itu.
"Raden memanggil hamba?", tanya makhluk hitam tinggi besar yang tidak lain adalah Dawuk Ireng.
"Iya, Dawuk Ireng..
Bantu aku mengatasi makhluk itu. Cepatlah!", perintah Arya Pethak yang membuat Dawuk Ireng langsung menoleh ke arah Demit Putih. Dawuk Ireng langsung melesat cepat kearah Demit Putih dan pertarungan antara siluman pun segera dimulai.
Munculnya gandarwa itu membuat semua orang terkejut kecuali Klungsur yang pernah melihat nya saat Arya Pethak menyelamatkan nya di Lembah Seribu Bunga tempo hari. Nay Kemuning langsung menoleh ke arah Klungsur yang terlihat seperti seorang yang sudah terbiasa melihat wujud Dawuk Ireng yang menakutkan.
"Anu Akang Klungsur teh pernah nya melihat eta jurig?", tanya Nay Kemuning segera.
"Kamu gak ingat ya sama makhluk itu? Kan dia yang membantu Ndoro Pethak waktu di Lembah Seribu Bunga itu, Nay.
Jangan khawatir, dia kawan Ndoro Pethak", jawab Klungsur sembari terus melihat pergulatan Demit Putih melawan Dawuk Ireng.
Nay Kemuning langsung manggut-manggut mengerti.
Sementara Dawuk Ireng bertarung melawan Demit Putih dengan cepat. Dia berhasil membanting tubuh Demit Putih ke tanah dengan keras.
__ADS_1
Bhhhuuuuuuggggh..
Hooooaaaarrrrggghhh!!
Demit Putih menjerit keras. Belum sempat dia bangkit, Dawuk Ireng langsung menyambar pergelangan kaki nya. Dan membanting berulang kali.
Jerit kesakitan terdengar dari mulut Demit Putih yang di hajar Dawuk Ireng habis-habisan.
Telapak tangan kanan Arya Pethak yang sejajar lurus dengan paha nya di liputi oleh sinar biru terang yang berhawa panas menakutkan. Sedangkan tapak tangan kiri masih menahan menghadap ke depan mempertahankan perisai ghaib Rajah Kala Cakra Buana.
Melihat majikannya sudah mengeluarkan Ajian Tapak Brajamusti, Dawuk Ireng mengerti. Dengan cepat ia melemparkan tubuh Demit Putih ke arah Arya Pethak.
"Genderuwo goblok!
Kenapa siluman itu di lemparkan kemari?", maki Klungsur yang panik melihat tindakan Dawuk Ireng.
Tubuh Demit Putih melayang cepat kearah Arya Pethak. Begitu tubuh nya dekat, Arya Pethak menarik tangan kiri nya ke belakang dan menghantam punggung Demit Putih dengan Ajian Tapak Brajamusti nya.
Blllaaammmmmmmm!!!
Tubuh Demit Putih langsung hancur berkeping keping. Potongan dagingnya berserakan di sekitar tempat itu. Perlahan tubuhnya hancur menjadi debu hitam yang lantas menghilang di tiup angin.
Nyi Lapat marah besar. Meski awalnya dia kaget melihat kedatangan sosok Dawuk Ireng, namun dia tak menyangka bahwa Arya Pethak mampu menghabisi Demit Putih. Bagaimanapun, Rukmini atau Si Demit Putih adalah pengikutnya selama puluhan tahun.
"Bocah licik!
Kalau hari ini aku tidak mencabut nyawa mu, namaku bukan Nyi Lapat!"
Setelah berteriak lantang, Nyi Lapat komat kamit membaca mantra. Dua bola api sebesar buah kelapa tercipta di tangan Nyi Lapat. Perempuan tua itu dengan cepat melemparkan bola bola api itu kearah Arya Pethak.
Dawuk Ireng bermaksud menghadang serangan Nyi Lapat, namun Arya Pethak berteriak keras.
"Dawuk Ireng, minggir kau!"
Segera Dawuk Ireng menyingkir dan bola bola api itu menghantam ke arah Arya Pethak yang sudah bersiap dengan perisai ghaib Rajah Kala Cakra Buana nya.
Blammmmm blammmmm!!
Bola bola api itu meledak saat menghantam perisai ghaib Rajah Kala Cakra Buana. Rumah tua itu berderak hebat akibat ledakan dahsyat itu.
"Dawuk Ireng,
Bawa mereka semua keluar dari tempat ini! Aku akan menahan penyihir tua itu. Cepatlah!", perintah Arya Pethak yang membuat Dawuk Ireng langsung mengangguk. Satu kali kejapan mata, kawan kawan Arya Pethak telah hilang dari dalam rumah tua itu.
Nyi Lapat terus melemparkan bola bola api itu kearah Arya Pethak. Rumah tua itu terus bergetar hebat seperti gempa bumi dahsyat.
"Akan ku akhiri keangkaramurkaan mu, penyihir tua!
Ajian Tapak Brajamusti...
Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt!!!!"
Whhuuuuunggg....
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!!!
Ledakan dahsyat terdengar. Rumah tua itu berderak hebat dan seperti terkena gempa bumi yang hebat. Perlahan rumah tua itu amblas ke dalam tanah.
Kawan kawan Arya Pethak yang berada di luar rumah terkejut bukan main melihat kejadian mengerikan ini.
"Kakang Pethak..
Kakang Pethak masih di dalam Klungsur. Kita harus menolong nya. Ayo cepat kita kesana untuk menyelamatkan nya", teriak Anjani sambil hendak melesat ke arah rumah tua yang amblas di telan bumi. Namun Klungsur langsung mencekal lengan Anjani dengan cepat.
"Jangan bodoh Anjani..
Lawan Ndoro Pethak bukan pendekar biasa. Jika kita kesana, kita hanya jadi bebannya", ujar Klungsur sembari berkaca-kaca matanya. Hujan lebat terus mengguyur tempat itu.
"Tapi tapi Kakang Pethak...", tumpah air mata Anjani. Begitu juga dengan Nay Kemuning yang tidak sanggup bicara lagi. Gadis cantik itu menangis sesenggukan di bawah guyuran hujan yang terus turun dengan lebatnya.
Saat semua orang berpikir bahwa Arya Pethak telah ikut tewas dalam pertarungan melawan Nyi Lapat, sebuah suara yang sangat mereka kenal terdengar dari belakang.
"Apa kalian merindukan ku?"
__ADS_1