
Mendengar suara Arya Pethak, Anjani buru-buru menghormat pada majikannya itu segera.
"Mohon maaf Ndoro Pethak,
Saya sudah baikan jadi lebih baik saya ikut serta dalam usaha penyelamatan Rara Larasati dan Seta Wahana. Mohon ke depannya Ndoro Pethak tidak meninggalkan saya lagi", ujar Anjani sambil menunduk hormat.
"Aku menitipkan mu di Tamwelang karena khawatir dengan keadaan mu, Anjani.
Sedangkan kau tahu sendiri kalau kita di buru waktu untuk menolong Laras dan Seta", Arya Pethak menghela nafas panjang.
"Sudah bercakap cakap nya?", sebuah suara berat dari sosok lelaki sepuh berjenggot panjang dengan ikat kepala merah menghentikan percakapan Arya Pethak dan Anjani. Kedua orang itu langsung mengalihkan pandangannya pada si lelaki tua.
Dia adalah Banyak Ireng,seorang pendekar sepuh yang cukup memiliki nama di wilayah Kadipaten Bojonegoro. Meski mengaku pendekar golongan putih, tapi pendekar tua itu masih mau menjadi sewaan sebagian pejabat untuk menghadapi masalah mereka demi sekantong kepeng emas sebagai bayaran.
"Huhhhhh...
Tua bangka bau tanah, apa urusanmu mu mengganggu percakapan ku dengan Ndoro Pethak? Kau mau cepat cepat berangkat ke neraka ya?", maki Anjani yang kesal dengan sikap Banyak Ireng yang memotong pembicaraan nya.
"Gadis bau kencur,
Aku tidak ada urusan dengan mu! Minggir kau dari sini kalau tak ingin mati muda", Banyak Ireng geram dengan makian Anjani.
"Biar aku saja yang mengurusi gadis itu Romo", ucap seorang pemuda berbadan tegap dari belakang Banyak Ireng. Dia perlahan maju ke depan.
"Branjang Kali, aku wakilkan kamu untuk memberi pelajaran pada gadis tak tahu sopan santun ini", ujar Banyak Ireng dengan cepat. Pemuda yang bernama Branjang Kali itu segera mengangguk kemudian berbalik badan. Sekali hentak dia melesat cepat kearah Anjani.
Ingin membuktikan pada Arya Pethak kalau dia sudah baikan, Anjani langsung mempersiapkan diri untuk bertarung. Gadis itu langsung menata tenaga dalam nya.
Sebagai murid dari Dewi Ular Siluman dan Sanca Keling, Anjani sudah lama bersentuhan dengan racun. Dari Sanca Keling, dia mendapatkan Pisau Dewa Kematian dan Jarum Penghancur Sukma sedangkan dari Dewi Ular Siluman, Anjani memperoleh Ajian Tapak Ular Siluman dan ilmu silat Tapak Ular. Selama ini Anjani memang jarang mengeluarkan kemampuan beladiri nya meski dia bisa di golongkan sebagai pendekar muda yang berkemampuan tinggi.
Branjang Kali dengan cepat melayangkan pukulan keras kearah Anjani menggunakan ilmu silat andalannya.
Whhhuuuggghhhh!!
Anjani mundur selangkah, menghindar dari hantaman tangan Branjang Kali. Gadis cantik itu lalu menghentak tanah dengan keras dan melakukan serangkaian gerakan gesit mirip ular bergerak menuju ke arah Branjang Kali.
Melihat kedatangan lawan, Branjang Kali mencoba untuk menghadapi serangan Anjani dengan ilmu silat nya.
Dengan gerakan mirip ular mematuk, tangan kanan Anjani mengincar leher Branjang Kali. Pemuda itu segera melakukan gerakan menangkis.
Baakkkkh!
Branjang Kali bisa mematahkan gerakan Anjani namun tangan kiri Anjani yang membuat tapak langsung menghantam perut Branjang Kali.
Bhuuukkkhhh...
Oouugghhhh!!!
Branjang Kali meraung keras sembari terhuyung huyung mundur. Anjani tidak membuang peluang. Dengan cepat murid Dewi Ular Siluman itu melesat cepat bagai ular ke arah Branjang Kali sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi ke arah lawan.
Dhiiieeeessshh..
Auuuuwwhhh!!
Branjang Kali terpelanting jauh dan menghantam tanah di depan Banyak Ireng. Pemuda itu langsung muntah darah segar.
Semua orang terkejut bukan main melihat kemampuan Anjani yang hebat. Kalau kemarin dia tidak di bokong oleh Macan Panuda saat menolong Seta Wahana, petinggi Kelompok Kalajengking Hitam itu mungkin tidak akan bisa menculik Rara Larasati dan Seta Wahana.
'Ternyata Anjani hebat juga. Kepandaian ilmu silat nya bahkan jauh diatas Randu Para', batin Arya Pethak sambil terus menatap ke Banyak Ireng yang terlihat geram melihat Branjang Kali di kalahkan oleh Anjani.
"Dasar tidak berguna! Kau mempermalukan aku saja, Branjang Kali.
Tapi kau tak perlu khawatir, akan ku buat hadiah bau kencur itu membayar semua yang sudah dia perbuat", usai berbicara demikian, Banyak Ireng melesat cepat kearah Anjani sambil menghantamkan tangan kanannya. Dia menggunakan Ajian Candra Mawa.
Selarik sinar merah redup menerabas cepat kearah Anjani. Angin panas berseliweran mengikuti sinar merah redup yang mengarah ke Anjani yang ternyata sudah bersiap dengan Ajian Tapak Ular Siluman nya.
Anjani menghirup udara sebanyak mungkin lalu menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna hijau kehitaman, menyongsong sinar merah redup yang menyambar ke arahnya.
Whhuuuuunggg..
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan dahsyat terdengar saat dua sinar ajian ini beradu. Gelombang kejut yang tercipta mendorong tubuh Anjani mundur beberapa langkah ke belakang. Untung saja kuda-kuda Anjani sangat kokoh hingga mampu bertahan.
Di sisi lain, Banyak Ireng pun terlempar ke belakang. Namun dengan sekali hentak, tubuh Banyak Ireng bersalto di udara dan mendarat dengan sempurna di depan para anak buah Janayasa dan Ranu Broto yang mengawal nya malam itu.
Senja sebentar lagi menghilang dari langit. Cakrawala langit barat memerah pertanda sebentar lagi malam akan segera tiba.
__ADS_1
"Banyak Ireng,
Aku tidak membayar mu untuk membunuh gadis itu tapi untuk Arya Pethak. Jangan buang waktu lagi", teriak Janayasa yang berdiri di belakang dengan kawalan ketat para prajurit Pakuwon Purwo.
Mendengar perintah Janayasa, Banyak Ireng segera mengalihkan pandangan nya ke arah Arya Pethak.
"Gadis tengik, ku urus kau nanti!", ujar Banyak Ireng sembari menunjuk ke arah Anjani.
Tangan kakek tua itu segera merentang lebar ke samping badan nya dengan mengepal erat. Mulut Banyak Ireng berkomat kamit merapal mantra Ajian Candra Mawa andalannya. Selarik sinar merah redup bergulung gulung di kedua lengan Banyak Ireng. Kalau tadi dia hanya menggunakan separuh tenaga dalam nya untuk menghadapi Anjani, kali ini dia menggunakan semuanya untuk melawan Arya Pethak.
Kedua tangan Banyak Ireng bersatu di depan dada, pertanda Ajian Candra Mawa siap digunakan.
Arya Pethak memejamkan matanya sejenak. Selarik sinar kuning keemasan melingkupi seluruh tubuh putra angkat Mpu Prawira itu segera. Ilmu pertahanan tubuh nya, Ajian Lembu Sekilan sudah bersatu dengan badannya.
Dengan cepat, Banyak Ireng menghantamkan tangan kanannya ke arah Arya Pethak. Selarik sinar merah redup meluncur cepat kearah Arya Pethak di barengi angin panas berseliweran.
Shiiiuuuuuuuuttttt!!!
Blllaaammmmmmmm!!!!
Ledakan keras terdengar. Asap tebal menutupi seluruh tubuh Arya Pethak. Terkecuali Klungsur, Nyi Sawitri, Randu Para, dan Anjani, semua orang berpikir bahwa Arya Pethak telah binasa.
Anjani yang sedari tadi diam, mulai merapal Ajian Tapak Ular Siluman sembari mencabut Pisau Dewa Kematian dengan tangan kanan nya saat Arya Pethak dan Banyak Ireng beradu ilmu. Sinar hijau kehitaman bergulung gulung di telapak tangan kiri nya.
Usai terjadi ledakan keras, Anjani melesat cepat kearah Banyak Ireng yang masih tersenyum lebar ketika melihat asap tebal menutupi seluruh tubuh Arya Pethak.
Secepat kilat, Anjani menghantamkan tangan kiri yang di lambari Ajian Tapak Ular Siluman.
Whuuussshh..
Banyak Ireng yang terkejut setengah mati melihat serangan cepat Anjani berusaha untuk menghindar. Usahanya berhasil hingga sinar hijau kehitaman itu hanya sejengkal melewati tubuhnya.
Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Mata Banyak Ireng melotot lebar mendengar teriakan keras di belakangnya. Kakek tua itu benar benar tidak menyangka bahwa serangan Anjani bukan hanya sekedar mengincarnya tapi juga Branjang Kali yang masih duduk bersila mengobati luka dalam nya.
Sambil mendengus keras, Banyak Ireng kembali menghantamkan Ajian Candra Mawa ke arah Anjani.
Gerakan tubuh Anjani yang lincah bagai ular dengan mudah menghindari serangan Banyak Ireng. Satu sabetan Pisau Dewa Kematian mengincar dada Banyak Ireng. Kakek tua itu sedikit terlambat menyadari hingga Pisau Dewa Kematian menggores baju Banyak Ireng yang juga melukainya.
Banyak Ireng mencoba untuk menjauhi Anjani sambil melihat ke arah Arya Pethak yang ternyata hanya tersenyum menatap ke arah nya. Pemuda tampan itu sama sekali tidak terluka.
Rasa panas menyengat terasa dari luka Banyak Ireng. Mata kakek tua itu melebar karena sadar ada racun yang masuk ke dalam tubuh nya.
"Bajingan kau gadis beracun!", teriak Banyak Ireng sembari berusaha menotok jalan darah nya untuk menghentikan laju racun di dalam tubuhnya.
Pisau Dewa Kematian memang senjata beracun karena saat penempaan nya, Sanca Keling merendam besi baja bahan pembuat Pisau Dewa Kematian ke dalam racun ular api yang mematikan. Racun ular api adalah salah satu racun paling di takuti oleh para pendekar dunia persilatan karena tidak ada yang bisa menawarkan nya.
Rasa panas itu terus menjalar ke seluruh tubuh Banyak Ireng. Lelaki sepuh itu sampai berguling ke tanah karena rasa sakit yang teramat sangat. Tak berapa lama kemudian, Banyak Ireng diam dengan mulut berbusa putih. Dia tewas keracunan.
Melihat jagoannya tewas, Janayasa dan Ranu Broto berusaha untuk kabur namun tiba-tiba saja muncul Arya Pethak di depan pintu kereta kuda nya.
"Kau mau kemana ha?", bentak Arya Pethak sambil menatap tajam ke arah dua anak Akuwu Purwo itu.
Kemunculan Arya Pethak di depan Janayasa dan Ranu Broto membuat para pengawal pribadi kedua orang itu terkejut bukan main.
15 orang pengawal Janayasa dan Ranu Broto segera mengepung Arya Pethak sambil menghunus pedang mereka masing-masing.
Belum sempat mereka bergerak, tiga bayangan berkelebat cepat dan berdiri di samping Arya Pethak dengan senjata mereka masing-masing, siap untuk bertarung.
"Apa kalian sudah bosan hidup? Kau ingin mati seperti kakek tua itu?", ancam salah satu bayangan yang tidak lain adalah Anjani. Kematian Banyak Ireng dan Branjang Kali di tangan Anjani memang membuat nyali para pengawal menciut seketika karena Banyak Ireng dan Branjang Kali adalah orang yang paling tinggi ilmu kanuragan nya di banding mereka. Menantang orang yang bisa menghabisi nyawa Banyak Ireng dan Branjang Kali sama dengan bosan hidup.
Janayasa dan Ranu Broto pun sadar bahwa mereka tidak mungkin bisa melawan Arya Pethak dan kawan-kawan nya hanya dengan para pengawal pribadi mereka. Dua orang putra Akuwu Purwo itu langsung berlutut di depan Arya Pethak.
"Ampuni nyawa ku, pendekar. Aku berjanji tidak akan menindas orang lagi.
Mohon ampuni aku", ujar Janayasa dengan wajah penuh ketakutan.
"Kalau kau bersedia melepaskan kami, akan kami berikan ganti rugi kepada mu pendekar", imbuh Ranu Broto segera.
Hemmmmmmm...
Terdengar dengusan nafas dingin dari Arya Pethak hingga membuat dua orang putra Akuwu Purwo itu semakin ketakutan. Tanpa sadar mereka sampai terkencing di celana mereka.
"Aku bersedia untuk melepaskan mu, tapi dengan syarat", ujar Arya Pethak sambil menatap tajam ke arah Janayasa.
__ADS_1
"Apa saja syarat nya pendekar? Akan aku penuhi", ada binar lega di mata Janayasa dan Ranu Broto.
"Kau lihat sendiri dengan matamu, apakah itu tanda kau menyerah?", Arya Pethak menunjuk ke arah para pengawal pribadi Janayasa dan Ranu Broto yang masih mengepung tempat itu dengan senjata terhunus. Sadar dengan omongan Arya Pethak, Janayasa langsung berteriak lantang.
"Hai kalian semua!
Cepat buang senjata kalian dan berlutut. Kalau tidak, akan ku pancung leher kalian dan keluarga mu karena membuat pendekar muda ini tidak senang. Cepat lakukan!", ancam Janayasa yang segera membuat para pengawal pribadi nya segera berlutut dan membuang senjata mereka masing-masing. Melihat itu, Janayasa segera menoleh ke arah Arya Pethak dengan senyum yang dipaksakan.
"Pendekar muda,
Mereka sudah menuruti perintah mu. Apa lagi yang kau inginkan?", Janayasa menggosokkan kedua telapak tangannya sambil membungkuk ke arah Arya Pethak.
"Hentikan senyum palsu mu itu, membuat ku ingin muntah saja.
Hemmmmmmm..
Halaman rumah ini jadi kacau karena ulah mu. Kau ganti rugi 15 kepeng emas. Kau mengganggu waktu istirahat ku, denda 20 kepeng emas. Aku sedang lapar, untuk biaya makan ku kau harus bayar 15 kepeng emas.
Jadi semua nya, 50 kepeng emas. Tak boleh kurang sebagai ganti ruginya", ujar Arya Pethak sambil menyeringai lebar menatap ke arah Janayasa dan Ranu Broto.
Dua orang putra Akuwu Purwo itu terkejut mendengar ucapan Arya Pethak. Jumlah itu sangat banyak, bisa cukup untuk makan selama 2 purnama untuk 5 orang. Mereka memang membawa uang sebanyak itu, tapi nanti mereka harus meminta lagi ke ayah mereka dan itu pasti akan jadi masalah.
"Pendekar muda, tidak bisa kah jumlahnya di kurangi sedikit?", Janayasa mencoba untuk menawar denda yang di minta Arya Pethak.
"Boleh saja kalau mau di kurangi, tapi tinggalkan satu lengan atau kaki kalian setiap 5 kepeng emas yang kalian kurangi", Arya Pethak mendelik tajam ke arah dua putra Akuwu Purwo itu.
Mendengar itu, Janayasa dan Ranu Broto langsung ketakutan setengah mati. Mereka segera mengeluarkan sekantong kain berisi kepeng emas dari balik baju mereka masing-masing dan menyerahkan ke arah Arya Pethak. Pemuda tampan itu langsung menerima dua kantong kepeng emas itu dan menyerahkan nya pada Anjani.
"Satu lagi, jika di kemudian hari kalian berani mengganggu dua putri Lurah Desa Lwaram ini, maka tidak ada ampun lagi untuk kalian.
Apa kalian mengerti?", ucap Arya Pethak dengan keras. Dua orang putra Akuwu Purwo itu langsung manggut-manggut dengan cepat.
"Sekarang pergi dari tempat ini, cepat!", mendengar perintah Arya Pethak itu, Janayasa dan Ranu Broto segera bergegas masuk ke kereta kuda dan pergi dengan diikuti oleh para pengawal pribadi nya.
Mpu Naya, Lurah Desa Lwaram dan dua putri nya Sekar Rahina dan Puspa Dewi beserta Klungsur langsung mendekati Arya Pethak usai Janayasa dan Ranu Broto meninggalkan tempat itu.
"Pendekar muda,
Terimakasih atas bantuan yang kau berikan. Tanpa bantuan mu, dua pemuda bejat itu pasti akan terus mengganggu dua putri ku ini.
Mari kita teruskan perbincangan di dalam serambi saja. Ini sudah mau malam", ajak Mpu Naya yang mendapat anggukan kepala dari Arya Pethak. Di temani oleh keempat rekannya, Arya Pethak melangkah menuju ke arah serambi kediaman Lurah Desa Lwaram itu bersama dengan Mpu Naya.
Sekar Rahina dan Puspa Dewi langsung bergegas menuju ke arah dapur untuk menyiapkan makan malam bagi mereka.
Setelah semuanya duduk bersila di serambi kediaman pemimpin desa itu, Mpu Naya langsung bertanya kepada Arya Pethak.
"Pendekar muda,
Selepas ini kemana tujuan mu?", Mpu Naya menatap wajah tampan Arya Pethak. Putra angkat Mpu Prawira itu menghembuskan nafas panjang sebelum berbicara.
"Kadipaten Kembang Kuning"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat bermalam minggu kawan semua..
Semoga selalu bahagia.
__ADS_1