Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Perguruan Pedang Perak


__ADS_3

"Aku tidak tahu siapa nama julukan guru ku. Tapi aku memang murid Mpu Prawira dari Bukit Kahayunan", jawab Arya Pethak sambil menatap ke arah Dewi Ular Siluman.


Hemmmmmmm...


'Bocah tengik ini berarti belum lama turun gunung. Tapi ilmu kanuragan nya tidak boleh dianggap enteng, aku tidak boleh gegabah', batin Dewi Ular Siluman sambil menatap tajam ke arah Arya Pethak.


Dewi Ular Siluman segera memutar tongkat kayu berukir ular lalu menancapkan ujung besi nya ke tanah.


Chreeekkkk!


Tiba-tiba asap hitam pekat bergulung gulung muncul dari tanah tempat tongkat menancap. Bau amis darah serta hawa kematian yang pekat menyebar ke seluruh tempat itu.


Arya Pethak yang waspada, langsung merapal mantra Ajian Mata Dewa ajaran Mpu Sunyaluri. Otot sekitar mata nya langsung menonjol dan manik mata pemuda itu berubah dari hitam menjadi merah menyala.


Sesosok ular siluman berbadan besar berwarna hijau kehitaman terlihat muncul dari tongkat kayu milih Dewi Ular Siluman.


"Kutu busuk!


Jangan sesali pertemuan mu dengan ku hari ini. Akan ku antar kau ke neraka mendahului gurumu hehehehe...


Sanca Kembang,


Bunuh dia!!!", teriak Dewi Ular Siluman segera. Sosok ular ghaib itu melesat ke arah kelompok Arya Pethak.


"Waduh bagaimana ini Ndoro Pethak?


Kita melawan setan ini", ujar Klungsur sambil gemetar badan nya. Arya Pethak tersenyum tipis.


"Kau tenang saja Sur, siluman ya lawan dengan siluman lah", jawab Arya Pethak dengan tenang nya.


"Akan ku coba kesetiaan mu wahai kawan baru..


Dawuk Ireng, datanglah!!!", teriak Arya Pethak sambil menjentikkan jarinya dengan keras.


Chetaakkk!!


Di depan Arya Pethak muncul asap hitam tebal berbau harum pandan. Dari asap itu keluar sesosok makhluk hitam besar dengan mata merah menyala seperti bara api. Mahkluk halus itu segera berlutut di depan Arya Pethak. Sekarwangi, Paramita, Klungsur dan perempuan cantik berbaju putih itu terkejut melihat kehadiran Dawuk Ireng yang menakutkan. Mereka segera mundur selangkah ke belakang saking takutnya.


"Ada perintah untuk hamba Ndoro Pethak?", tanya Dawuk Ireng sambil membungkuk hormat.


"Habisi ular busuk itu untukku", perintah Arya Pethak sambil menunjuk ular besar berkulit hijau kehitaman yang melaju ke arah nya.


"Baik Ndoro", jawab Dawuk Ireng yang segera melesat cepat kearah ular yang di tunjuk oleh Arya Pethak. Genderuwo berbadan besar itu segera melayangkan hantaman tangan kanan nya kearah kepala ular siluman.


Dengan gesit, si ular siluman yang bernama Sanca Kembang berkelit lincah menghindari hantaman Dawuk Ireng. Ekor Sanca Kembang langsung mengibas kearah tubuh Dawuk Ireng.


Whuuthhh..


Dawuk Ireng melompat tinggi ke udara lalu dengan cepat menangkap leher Sanca Kembang. Kemudian mahkluk halus itu segera menghantam kepala Sanca Kembang yang meronta-ronta berusaha melepaskan diri.


Usaha Sanca Kembang berhasil, hantaman tangan Dawuk Ireng hanya menghajar udara kosong. Secepat kilat ekor Sanca Kembang mengibas kearah tubuh sang genderuwo.


Whhuuuuuuuggggh!!


Dawuk Ireng melengguh keras saat tubuhnya terhantam kibasan ekor Sanca Kembang. Tubuhnya terbanting keras ke tanah. Melihat itu, ular siluman dari nenek tua berkonde perak itu bergerak cepat sembari membuka mulutnya lebar-lebar untuk melahap Dawuk Ireng.


"Aku makan kau genderuwo jelek!", ucap Sanca Kembang dengan keras.


Dawuk Ireng langsung menahan rahang mulut Sanca Kembang dengan tangan kiri dan kakinya. Sebuah pedang dengan ghaib muncul di tangan Dawuk Ireng dan genderuwo itu dengan cepat menusuk langit langit mulut Sanca Kembang.


Chraaaaakkk!!


Hooooaaaarrrrggghhh!!!


Kuatnya tusukan pedang Dawuk Ireng membuat senjata itu mampu menembus langit langit mulut nya tembus atas kepala. Sanca Kembang langsung tewas lalu berubah menjadi abu hitam yang pekat.


Bersamaan dengan tewasnya Sanca Kembang, tongkat kayu berukir ular milik Dewi Ular Siluman juga hancur berkeping-keping. Karena sesungguhnya Sanca Kembang bersemayam dalam tongkat kayu nya.


"Kutu busuk keparat!!!


Kau tak akan ku ampuni!!", maki Dewi Ular Siluman yang marah besar melihat senjata andalannya hancur oleh ulah Arya Pethak.


Usai mengalahkan Sanca Kembang, Dawuk Ireng segera mendekat ke arah Arya Pethak.


"Tugasmu selesai, Dawuk Ireng.


Kau boleh beristirahat", ujar Arya Pethak sambil tersenyum.


"Dawuk Ireng patuh pada perintah Ndoro", Dawuk Ireng menyembah pada Arya Pethak. Tubuh genderuwo itu kemudian menghilang dari pandangan.


Dewi Ular Siluman langsung merentangkan kedua tangannya. Lalu menangkup di depan dada. Mulut perempuan tua itu segera komat kamit membaca mantra. Dengan cepat, perempuan tua itu mengibaskan kedua tangan nya. Puluhan ular siluman melesat cepat dari kedua tangan Dewi Ular Siluman ke arah Arya Pethak.


Whhuuuuuuuggggh...

__ADS_1


Anak angkat Mpu Prawira itu segera merapal mantra Ajian Tapak Brajamusti. Kedua telapak tangan Arya Pethak berubah warna menjadi biru terang karena sinar yang muncul dari tengah telapak tangan.


Tanpa menunggu lama, Arya Pethak segera hantamkan tapak tangan nya kearah puluhan ular siluman yang menuju ke arah nya.


Shiiiuuuuuuuuttttt...


Blllaaammmmmmmm!!!


Warung makan itu kembali bergetar hebat saat sinar biru terang Ajian Tapak Brajamusti menghantam ular siluman. Dewi Ular Siluman terpelanting jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Perempuan tua berkonde perak itu langsung muntah darah kehitaman.


Gadis muda yang bersama dengan Dewi Ular Siluman dengan cepat mendekati perempuan tua itu. Melihat Dewi Ular Siluman muntah darah kehitaman, dia tahu bahwa perempuan tua itu tengah luka dalam serius.


Segera dia menghantamkan tangan kanannya yang mengeluarkan dua ekor ular siluman kearah Arya Pethak.


Whhhuuuggghhhh..


Arya Pethak dengan cepat menghantamkan tangan kiri nya memapak serangan gadis muda itu.


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan keras kembali terdengar. Benturan dua ilmu kanuragan itu menciptakan asap putih yang mengepul. Saat asap menghilang, Dewi Ular Siluman dan gadis muda itu sudah tidak ada di tempat itu. Rupanya serangan gadis muda itu hanya untuk pengalih perhatian agar dia bisa membawa Dewi Ular Siluman pergi meninggalkan tempat itu.


"Brengsek!


Mereka kabur Kakang Pethak. Ayo kita kejar mereka", ujar Paramita sambil bersiap untuk bergerak.


"Tidak perlu Mita..


Biarkan saja mereka pergi. Kita tidak perlu memperpanjang masalah dengan mereka", ucap Arya Pethak sambil membenarkan bajunya. Mendengar penuturan Arya Pethak, Paramita mengangguk mengerti dan urungkan niatnya untuk mengejar Dewi Ular Siluman.


"Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini, Kakang Pethak!


Keributan yang kita buat pasti ada yang akan membuat nya jadi masalah", Sekarwangi angkat bicara.


"Kau benar, Gusti Putri. Sebaiknya kita segera pergi", jawab Arya Pethak sambil melangkah keluar dari warung makan yang hancur berantakan akibat pertarungan mereka.


"Tunggu dulu Pendekar!", ujar si perempuan cantik berbaju putih itu segera.


Arya Pethak, Paramita, Klungsur dan Sekarwangi segera menoleh ke perempuan cantik itu.


"Tempat ini adalah daerah kekuasaan Padepokan Gunung Hijau. Jika sampai mereka melihat kalian yang terlibat masalah dengan mereka berkeliaran bebas di sini, mereka pasti mengepung kalian.


Sebaiknya kita ke Perguruan Pedang Perak. Ayahku pasti akan memberikan jaminan perlindungan kepada kalian semua hingga keluar dari wilayah ini", imbuh gadis cantik itu segera.


"Kami terima tawaran mu, nisanak. Sekarang cepat tunjukkan arah jalan pada kami ke Perguruan Pedang Perak sebelum mereka sampai ke tempat ini", ucap Arya Pethak sambil menatap wajah cantik perempuan itu.


Perempuan muda itu segera melompat ke atas kuda nya dan menggebrak kuda tunggangan nya kearah Utara. Arya Pethak dan kawan-kawan nya segera mengikuti langkah sang perempuan cantik itu dengan mengekor di belakangnya.


Setelah cukup lama mereka berkuda, akhirnya mereka memasuki sebuah pemukiman yang terletak di kaki bukit berhutan lebat. Pemukiman itu di pagari dengan batang kayu sebesar betis orang dewasa. Sebuah papan kayu bertuliskan Perguruan Pedang Perak tergantung di atas gapura pemukiman. Dua orang penjaga gerbang berpakaian serba putih langsung menghormat pada perempuan cantik berbaju putih begitu mereka memasuki pintu gerbang perguruan.


Mereka terus menjalankan kuda mereka menuju ke sebuah rumah besar yang terletak di tengah perguruan silat.


Perempuan cantik berbaju putih itu segera turun dari kudanya. Seorang perawat kuda langsung menerima tali kekang kudanya. Sedangkan si perempuan itu langsung berlari ke arah dalam rumah besar.


Tak berapa lama kemudian, ia kembali bersama seorang lelaki bertubuh tegap. Meski telah berumur lebih dari 4 warsa, lelaki itu nampak berwibawa dengan rambut yang mulai memutih. Dia adalah Lembu Anengah, pemimpin tertinggi Perguruan Pedang Perak. Bersama nya, seorang lelaki muda berwajah tampan dengan rambut panjang yang di kuncir mengikuti langkah Lembu Anengah.


Arya Pethak yang baru saja mengikat tali kekang kuda pada geladakan yang ada di halaman samping, melangkah ke arah Lembu Anengah diikuti oleh Paramita, Sekarwangi dan Klungsur.


"Jadi pendekar muda ini yang menolong mu, Pujawati?", tanya Lembu Anengah sembari menatap ke arah Arya Pethak.


"Benar Kanjeng Romo. Dia yang menolong saya dari Dewi Ular Siluman yang sudah membunuh Kakang Wondo dan Kakang Jaran Dawuk.


Kalau saja tidak ada dia, mungkin saya sudah di bunuh oleh Dewi Ular Siluman", tutur Rara Pujawati segera.


"Pendekar muda,


Mewakili Perguruan Pedang Perak aku berterima kasih kepada mu atas bantuan mu sudah menolong putri bungsu ku. Dengan apa aku harus membalas kebaikan hati mu pada kami?


Perkenalkan aku Lembu Anengah, pemimpin Perguruan Pedang Perak", Lembu Anengah membungkukkan badannya pada Arya Pethak.


"Sudah lah kisanak,


Sesama pendekar sudah sewajarnya kita saling tolong menolong jika dalam masalah. Aku sendiri juga mengharapkan bantuan mu untuk menunjukkan jalan menuju ke arah wilayah Kadipaten Anjuk Ladang.


Bukankah itu sudah saling membantu antara kita?", ujar Arya Pethak sambil tersenyum tipis.


"Pendekar muda sungguh bijaksana.


Mari kita beristirahat sejenak. Aku minta menginaplah barang semalam di tempat kami biar aku bisa menunjukkan balas jasa yang kau berikan padaku.


Oh iya pendekar muda, kalau boleh tau siapa namamu dan dari mana kau berasal?", tanya Lembu Anengah dengan santun. Dia tahu menghadapi Dewi Ular Siluman bukan perkara mudah. Dia sebagai pemimpin tertinggi Perguruan Pedang Perak mesti harus mati-matian berusaha jika menghadapi nenek tua berkonde perak itu. Dari situ saja Lembu Anengah sudah tau kalau kepandaian ilmu kanuragan Arya Pethak pasti lebih tinggi karena ia tadi mendengar ucapan Rara Pujawati bahwa Dewi Ular Siluman harus kabur setelah terluka dalam di pertarungan melawan Arya Pethak. Dia lebih suka berhati-hati dalam bertindak.


"Saya Arya Pethak, Paman Anengah. Saya berasal dari lereng Bukit Kahayunan di selatan Gunung Kelud.

__ADS_1


Kami hendak ke Kadiri, usai melaksanakan tugas yang diberikan oleh Gusti Patih Pranaraja", jawab Arya Pethak segera.


Mendengar jawaban itu, Lembu Anengah dan pemuda berambut panjang itu saling berpandangan sejenak. Mereka tahu bahwa kedudukan Patih Pranaraja sebagai warangka praja Kadiri begitu di perhitungkan oleh semua kalangan pejabat tinggi wilayah Singhasari. Jika pemuda ini adalah utusan dari Patih Pranaraja sudah barang tentu dia adalah orang dekat sang patih.


"Sungguh suatu keberuntungan bagi kami bisa menjamu utusan Gusti Patih Pranaraja.


Mari pendekar muda,


Kita beristirahat sejenak. Malam ini kalian harus bermalam di tempat kami. Aku tidak ingin ada penolakan dari pendekar muda", ujar Lembu Anengah sambil tersenyum simpul.


Arya Pethak pun memilih untuk tidak menolak tawaran Lembu Anengah. Mereka berbincang tentang banyak hal sembari menunggu kedatangan para pelayan mempersiapkan hidangan untuk mereka.


Pujawati yang ikut menyiapkan makanan langsung di dekati oleh Lembu Anengah.


"Pujawati,


Seberapa dekat kau dengan pendekar muda itu?", bisik Lembu Anengah sambil melirik ke arah Arya Pethak yang tengah berbincang dengan lelaki muda yang tadi bersama Lembu Anengah.


"Aku kan baru saja bertemu dengan nya Romo, mana bisa di bilang dekat.


Memang kenapa dengan Arya Pethak, Kanjeng Romo?", tanya Arya Pethak dengan perlahan takut suara nya di dengar orang.


"Kau baik-baik lah dengan nya. Utusan dari Gusti Patih Pranaraja masa depan nya pasti cerah..


Nanti kau bisa ikut mukti jika bisa menjadi istrinya", jawab Lembu Anengah sembari tersenyum tipis.


"Kanjeng Romo ini ada ada saja..


Soal jodoh, aku belum berpikir sejauh itu Kanjeng Romo. Aku masih ingin melanjutkan pembelajaran ku untuk menjadi pendekar wanita yang bisa meneruskan Perguruan Pedang Perak ini kedepannya", ucap Rara Pujawati sambil berlalu menuju ke arah meja Arya Pethak dan kawan-kawan nya.


"Bocah ini selalu punya pendapat sendiri jika di nasehati orang tua", gerutu Lembu Anengah sembari melangkahkan kakinya menuju ke serambi balai kediaman nya.


****


Pimpinan Padepokan Gunung Hijau langsung mendelik tajam melihat keadaan warung makan yang porak poranda akibat pertarungan Arya Pethak dan Dewi Ular Siluman.


Apalagi melihat kedelapan anak murid nya tewas bergelimpangan dimana-mana. Diantara mereka ada dua murid Perguruan Pedang Perak.


"Apa mereka terlibat pertikaian dengan Perguruan Pedang Perak, Kapi Anggada?", tanya pemimpin tertinggi Padepokan Gunung Hijau sembari menoleh ke arah murid nya yang tadi melaporkan kejadian itu padanya.


"Benar Guru Besar..


Tadi Kakang Macan Wungu memang sempat bentrok dengan para murid Perguruan Pedang Perak. Karena itu saya segera melapor pada Guru Besar", ucap Kapi Anggada, bertubuh kurus pendek yang wajahnya mirip kera karena bulu wajah nya yang tebal. Mendengar penuturan Kapi Anggada, Mahesa Bicak pemimpin tertinggi Padepokan Gunung Hijau langsung menggeram keras.


"Bangsat kau Lembu Anengah,


Kau harus membayar semua ini!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Update episode selanjutnya lama ya?


Maaf author lagi sibuk kerja juga lagi repot dengan urusan pernikahan keponakan.

__ADS_1


Yang mau berteman dengan author bisa follow IG author : ebez 2812


__ADS_2