Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Tolong Aku


__ADS_3

Arya Pethak menarik tali kekang kudanya begitu mendengar perkataan Klungsur. Kuda hitam tunggangan nya langsung meringkik dan menghentikan langkahnya.


"Kau lapar Sur?", tanya Arya Pethak ke arah Klungsur yang ikut menghentikan kuda nya di samping kanan.


"Hufttt Ndoro ini pertanyaan nya kelewatan deh..


Tuh lihat sudah hampir siang", Klungsur menunjuk ke arah langit biru dimana matahari memang sudah lebih tinggi dari sepenggal naik. Muka melas Klungsur membuat Arya Pethak tak tega untuk memaksa nya melanjutkan perjalanan.


Murid Mpu Prawira itu segera melompat turun dari kudanya diikuti oleh Anjani dan Klungsur. Mereka bertiga segera masuk ke dalam halaman warung makan untuk mengisi perut.


****


Nun jauh di barat, di kaki Gunung Ciremai.


Sepasang gadis ayu sedang bertarung dengan sengit. Satu memakai pakaian berwarna biru langit sedangkan satu nya memakai baju hijau muda.


Dua gadis cantik ini masing-masing melompat mundur beberapa langkah ke belakang usai mengadu ilmu kanuragan.


"Sok atuh Teh,


Kita harus cepat meningkatkan kemampuan beladiri, sebelum guru turun dari pertapaan nya. Lamun urang teu aya kamajuan, guru tangtos ambek atuh", ujar si gadis muda berwajah bulat telur dengan baju hijau muda itu sembari mengusap peluh di dahinya.


"Abdi teurang adi. Urang henteu kenging nguciwakeun guru. Sok atuh kita lanjutkan latihan kita.


Kali ini abdi teh bakal serius adi. Bersiaplah ", balas si gadis cantik berhidung mancung dengan pakaian biru langit yang memindahkan pedang nya di depan dada.


Usai berkata demikian, si gadis muda berbaju biru langit melesat cepat kearah gadis berbaju hijau muda sambil mengayunkan pedangnya.


Shreeeeettttthhh!!


Dengan sigap, gadis cantik berbaju hijau muda langsung menyambut serangan kakak seperguruan nya itu dengan gerakan memutar yang indah. Satu tebasan pedang nya menangkis sabetan pedang gadis berbaju biru langit.


Thhraaaangggggggg...


Blllaaaaaarrr!!!


Ledakan keras terdengar hingga ke ujung hutan yang menutupi sebagian daerah itu. Burung burung yang terkejut dengan suara keras langsung berhamburan dari ranting mereka tempat mereka berpijak.


Seorang pemuda bertubuh tegap yang tengah mengincar ayam hutan menggerutu kesal melihat mangsa incarannya kabur usai bunyi ledakan keras tadi.


"Dasar kampret!!


Tiasa tiasa na mereka duaan latihan kalawan tanagi caos. Akan abdi marahi eta mojang karena membuat ayam hutan buruan ku kabur", si pemuda tegap itu langsung melesat cepat kearah sumber suara pertarungan.


Hanya dalam beberapa tarikan nafas, si pemuda bertubuh tegap itu sudah sampai di tempat pertarungan dua gadis cantik itu.


"Hai belegug sia..


Kenapa mesti berlatih dengan tenaga dalam tingkat tinggi? Apa tidak bisa kalian berlatih tanpa mengacaukan perburuan ku?", ujar si pemuda tegap itu dengan melotot lebar ke arah dua gadis cantik yang tengah bertarung.


Mendengar teriakan keras itu, dua gadis cantik itu langsung menghentikan gerakannya. Kemudian berlari mendekati si pemuda tegap itu.


"Hampura atuh Akang,


Kami mah tidak tahu ya kalau si akang berburu. Maafkan kami ya akang", ujar si gadis berbaju biru langit itu dengan cepat.


"Huhhhhh..


Kalian ini memang pintar bikin masalah. Untuk apa sih kalian berlatih keras seperti itu? Bukankah guru sudah bilang jika ujian perebutan gelar pendekar muda di Istana Atap Langit masih akan di adakan 1 purnama lagi?", si pemuda tegap itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Eleuh si akang mah gampang pisan ngomongnya..


Kalau kita kalah dalam ujian itu, guru pasti kecewa atuh Akang. Makanya kita teh harus semangat berlatih nya", sahut si gadis berbaju hijau muda dengan cepat.


Mereka bertiga adalah murid Ki Buyut Mangun Tapa, yang di sebut Si Sesat Tua oleh Resi Jati Waluyo tempo hari. Si pemuda tegap itu adalah murid pertama Ki Buyut Mangun Tapa yang bernama Limbur Wisesa. Sedangkan dua gadis cantik ini, yang berbaju biru langit bernama Mayangsari sedangkan yang berbaju hijau muda bernama Nay Kemuning.


Ketiga orang murid Ki Buyut Mangun Tapa ini sebenarnya memiliki latar belakang yang berbeda. Limbur Wisesa adalah putra seorang pejabat tinggi di istana Saunggalah yang merupakan ibukota Kerajaan Galuh Pakuan selepas di pindah oleh Prabu Jayagiri. Mayangsari adalah putri dari seorang saudagar kaya raya yang tinggal di wilayah kota Kadipaten Gunatiga. Hanya Nay Kemuning saja yang latar belakangnya masih di rahasiakan oleh Ki Buyut Mangun Tapa saat membawa nya ke Perguruan Gunung Ciremai, setengah dasawarsa yang lalu.


Meski murid termuda dari Ki Buyut Mangun Tapa, akan tetapi Nay Kemuning memiliki bakat dan kecerdasan yang tinggi hingga dalam waktu 2 warsa sudah mampu melampaui kedua kakak seperguruan nya dalam ilmu kanuragan.


Perguruan Gunung Ciremai sendiri memiliki tiga cabang yang masing-masing di pimpin oleh seorang guru. Ki Buyut Mangun Tapa sendiri adalah pemimpin tertinggi Perguruan Gunung Ciremai namun paling sedikit memiliki murid.


Salah satu cabang yang dipimpin oleh Resi Ajimulya memiliki 40 murid, sedangkan cabang lainnya yang dipimpin Aki Buyut Ragasuci memiliki 18 murid.


Perguruan Gunung Ciremai menempati 3 bukit di lereng Gunung Ciremai dan masing masing murid cabang di larang saling mengganggu.


Saat ketiga murid Ki Buyut Mangun Tapa ini tengah berbincang, angin dingin berdesir kencang membuat ketiga orang murid Perguruan Gunung Ciremai ini langsung tahu bahwa guru mereka datang.


Dari hembusan angin dingin bercampur daun kering yang beterbangan, seorang lelaki sepuh berjenggot putih panjang dengan pakaian pertapa muncul. Aura kewibawaan yang tinggi di tambah lagi langkah nya yang seolah-olah tidak menapak tanah membuat tiga murid Ki Buyut Mangun Tapa itu langsung berlutut di hadapan sang kakek tua.

__ADS_1


"Salam hormat kami Guru", ujar ketiga orang itu bersamaan sambil meletakkan satu tangan kanan di depan dada.


Hemmmmmmm...


"Bangunlah kalian...", ujar si kakek tua bertubuh kekar ini dengan lembut. Ketiga orang itu langsung berdiri dari tempat berlutut nya.


"Terimakasih Guru".


"Limbur Wisesa,


Hari apa ini?", Ki Buyut Mangun Tapa menatap ke arah murid sulungnya itu segera.


"Maaf Guru, hari ini hari Anggara Kasih. Ada apa guru? Tumben sekali menanyakan hal seperti ini?", Limbur Wisesa kebingungan dengan sikap sang guru.


"Berarti aku sudah bertapa selama 40 hari.


Hemmmmmmm...


Dua pekan lagi akan datang seorang pendekar muda dengan dua pengiringnya. Aku minta pada kalian untuk bersikap sopan kepada nya, terutama kau Nay Kemuning. Dia adalah tamu agung yang datang untuk mencari ku.


Kalian bertiga pandu mereka dari Desa Karang Mulya agar sampai ke tempat kita. Apa kalian mengerti?", Ki Buyut Mangun Tapa menatap ketiga murid nya.


"Kami mengerti guru", ujar Limbur Wisesa, Mayangsari dan Nay Kemuning bersamaan.


"Bagus, teruskan latihan kalian..


Aku akan kembali bertapa dan akan kemari saat pendekar muda itu datang", usai Ki Buyut Mangun Tapa berkata demikian angin kencang menderu layaknya badai menerjang. Kakek tua itu melangkah ke dalam putaran angin dan menghilang dari pandangan mata tiga orang muridnya.


Setelah kepergian Ki Buyut Mangun Tapa, Nay Kemuning segera berbisik pada Mayangsari.


"Teh Mayang,


Pendekar muda seperti apa yang Guru maksudkan?", tanya Nay Kemuning segera.


"Abdi mah juga tidak tahu atuh Nay..


Tapi dari ciri-ciri nya tadi kita teh sudah bisa tahu kalau yang datang adalah 3 orang. Tinggal kita mengenali nya bagaimana, abdi teh masih bingung", jawab Mayangsari sambil mengerutkan keningnya.


"Sudah lah, jangan terlalu di pikirkan. Toh masih dua pekan lagi kan?


Sekarang sebaiknya kalian menyiapkan sesuatu untuk dimakan. Ini perut ku sudah minta diisi", sahut Limbur Wisesa. Mereka bertiga segera berjalan menuju ke sebuah rumah kayu yang menjadi tempat tinggal mereka bertiga selama ini.


****


Haaatttcchiihhhh!!!


Arya Pethak segera menggosok hidungnya usai bersin dua kali. Anjani yang duduk di dekat nya menatap wajah tampan Arya Pethak sambil menyelidik.


"Ndoro Pethak gak enak badan ya?", Anjani terlihat khawatir.


"Aku tidak apa-apa. Tiba tiba saja hidungku terasa gatal hingga bersin tadi", jawab Arya Pethak sambil tersenyum tipis.


"Kata orang, kalau tiba-tiba hidung gatal dan bersin bersin itu ada orang yang sedang membicarakan kita loh...


Itu kata bapak ku dulu", Klungsur ikut bicara.


"Huuuuu... Sok tahu kamu Sur..


Orang bersin biasanya itu lagi gak enak badan. Bukan karena di omongkan orang", sergah Anjani memotong omongan Klungsur.


"Percaya atau tidak, itu bukan urusan ku. Aku hanya mengatakan yang di omongkan bapak ku kog, kenapa kau yang sewot?", Klungsur mencibir kearah Anjani.


"Sudah sudah, kalian kenapa senang sekali ribut sih?


Ayo kita lanjutkan perjalanan, sepertinya kuda kuda kita sudah cukup mengisi perut mereka", Arya Pethak berdiri dari tempat duduknya di bawah pohon rindang yang tumbuh di tepi jalan raya menuju ke arah Kota Kadipaten Kalingga. Mereka memang beristirahat di tempat itu usai melihat kuda mereka yang tampak kelelahan.


Setelah cukup lama memberikan kesempatan kuda mereka mereka makan rumput dan minum air di sungai kecil dekat jalan raya, mereka bertiga memacu kuda mereka masing-masing menuju ke arah kota Kadipaten Kalingga.


Matahari sudah mulai tergelincir di langit barat saat Arya Pethak, Klungsur dan Anjani memasuki tapal batas kota.


Suasana sore di Kota Kadipaten Kalingga begitu ramai. Ratusan orang lalu lalang di jalan raya kota. Bangunan megah dan indah tampak berjajar rapi di kanan kiri jalan raya.


Seperti Kota Kembang Kuning, kota Kadipaten ini juga memiliki pelabuhan laut yang terkenal yaitu Pelabuhan Halong. Dari sejak jaman Kerajaan Kalingga, Mataram Kuno, Medang, Kahuripan, Panjalu hingga Singhasari, Pelabuhan Halong selalu menjadi bandar pelabuhan yang ramai. Meskipun jaman berganti namun tempat itu selalu menjadi pilihan bagi para pelaut mancanegara untuk menurunkan jangkar kapal mereka.


Para penguasa Kadipaten Kalingga dari masa ke masa selalu memberikan kemudahan bagi para pedagang maupun pelancong mancanegara yang datang ke wilayah ini. Dan bisa di katakan bahwa tempat ini adalah pintu laut barat bagi kerajaan Singhasari sekarang.


Penguasa Kadipaten Kalingga sekarang, Adipati Yudhonegoro adalah penguasa yang bijaksana. Kebijakan ini terlihat dari merata nya pembangunan dan berdiri nya tempat tempat peribadatan untuk masyarakat umum yang menganut agama Hindu aliran Siwa dan Buddha aliran Tantrayana dan Mahayana yang berkembang di wilayah itu.


Tiba tiba dari arah Utara, serombongan prajurit datang dan berhenti di tepi sebuah pasar.

__ADS_1


Dhieengggghh!!


Suara bende di tabuh membuat perhatian semua orang tertuju pada beberapa prajurit yang berdiri di depan halaman pasar. Mereka segera berkerumun di sekitar para prajurit karena tahu bahwa setiap bende di tabuh pasti akan ada berita penting.


"Woro woro...


Titah Gusti Adipati Yudhonegoro dengarkanlah!


Barangsiapa yang memberikan keterangan atau tahu dimana Gusti Putri Dewi Dyah Widowati akan mendapat hadiah besar dari Gusti Adipati Yudhonegoro.


Dan barangsiapa yang sengaja menyembunyikan, menculik, menyekap, dan atau mengetahui keberadaan Gusti Putri Dyah Widowati tapi tidak melaporkan nya ke Istana Kadipaten Kalingga, maka akan mendapatkan hukuman berat", ujar seorang prajurit Kadipaten Kalingga dengan lantang. Setelah berbicara demikian, si prajurit segera melipat lagi daun lontar yang baru saja dia baca.


Kasak kusuk mulai terdengar dari mulut para warga Kota Kalingga. Kejadian ini bukan yang pertama kalinya. Dyah Widowati sudah kabur dari istana untuk kali kedua dalam satu purnama ini.


"Hah, putri Adipati ini kenapa kabur lagi sih?", bisik seorang warga yang ikut mendengarkan pengumuman itu.


"Iya merepotkan orang saja. Bukankah hidup di istana itu enak, tidak perlu kerja keras seperti kita?", sahut seorang lelaki yang duduk di sebelahnya.


"Lha iya, dasar putri bangsawan manja. Kalau kabur begini, bukankah merepotkan semua orang?", timpal seorang lelaki bertubuh gemuk yang datang dari samping.


"Eh mulut mu kalau bicara hati-hati. Kalau sampai menyinggung kerabat dekat istana bisa-bisa di penggal leher mu. Mau kau?


Aku dengar dari kerabat ku yang bekerja di dalam istana, Gusti Putri itu kabur karena ada masalah dengan Gusti Adipati Yudhonegoro ", sahut seorang lelaki berkumis tipis yang ikut nimbrung di obrolan mereka.


"Hah? Masalah apa?", sahut si gemuk yang penasaran dengan cerita si lelaki berkumis tipis.


"Aku dengar nih, katanya Gusti Putri Dyah Widowati itu di jodohkan dengan putra Adipati Bhumi Sambara. Cuma dengar dengar nih, Gusti Putri tidak suka dengan perjodohan ini karena putra Adipati Bhumi Sambara ini terkenal suka gonta-ganti wanita. Kalau dia kabur berarti cerita itu benar.


Itu yang ku dengar dari saudara ku", jawab si kumis tipis dengan sedikit congkak.


"Kasihan sekali kalau begitu Gusti Putri.


Ah sudahlah itu bukan urusan kita. Ayo kita meneruskan pekerjaan kita", sergah seorang yang cukup berumur sembari melangkah meninggalkan tempat itu.


Semua pembicaraan penduduk Kota Kalingga terdengar oleh Arya Pethak, Klungsur dan Anjani. Namun mereka bertiga tidak ambil pusing dengan itu semua dan meneruskan perjalanan ke arah barat. Sebelum sampai di tapal batas kota Kalingga, Arya Pethak memutuskan untuk bermalam di sebuah penginapan kecil yang terletak tak jauh dari tapal batas kota.


Senja berganti malam. Suara burung malam bersahutan dari ranting-ranting pohon besar yang membuat suasana menjadi sepi dan mencekam.


Arya Pethak yang tak bisa tidur, memutuskan untuk naik ke atas atap bangunan penginapan untuk melihat bintang yang berkelap-kelip di malam yang cerah ini. Bulan sabit menggantung di langit barat, menandakan bulan baru telah di mulai.


Telinga Arya Pethak yang tajam menangkap bunyi aneh dari kegelapan malam. Suara langkah kaki yang sebentar berlari sebentar berhenti, membuat Arya Pethak segera memusatkan Ajian Mata Dewa yang mampu menembus kegelapan malam.


Dari situ, Arya Pethak melihat seorang gadis muda tengah diikuti oleh 3 orang lelaki berpakaian serba hitam. Terlihat nafas sang gadis sudah ngos-ngosan sembari terus berusaha untuk melepaskan diri dari kejaran tiga orang berpakaian hitam-hitam itu.


Sebagai pendekar aliran putih, jiwa Arya Pethak tergerak untuk menolong sang gadis cantik. Sekali hentakan, tubuh Arya Pethak melenting tinggi ke udara dan mendarat tepat di depan sang gadis.


Jleeggg!


Kedatangan Arya Pethak yang tiba-tiba muncul di hadapan nya membuat si gadis muda terkejut bukan main. Tapi melihat dandanan Arya Pethak yang berbeda, si gadis ini langsung tahu bahwa Arya Pethak bukan bagian dari mereka. Dengan memelas wajah nya, gadis itu langsung berkata.


"Pendekar, tolong aku"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Masih semangat puasanya? Ini ada sedikit bahasa Sunda nya ya, kalau masih ada kekeliruan mohon di maafkan. Author masih belajar bahasa Sunda nya 🙏🙏🙏


Semoga kehadiran Arya Pethak dan kawan-kawan bisa menjadi penghibur di waktu sore ini.


__ADS_2