
Para prajurit Kadipaten Rajapura itu langsung menghormat pada seorang lelaki bertubuh tegap dengan mengenakan pakaian layaknya seorang perwira. Pria berusia 4 dasawarsa ini memiliki rambut gimbal dengan jambang lebat dan kumis tebal. Seluruh rambut nya berwarna merah bahkan kumis dan jambangnya pun juga merah, hingga mirip dengan seekor singa.
"Mohon ampun Gusti Senopati, kami berempat sedang memeriksa ketiga orang asing ini. Mereka terlihat mencurigakan.
Saat kami hendak menggeledah tubuh mereka, tiga orang ini menolak hingga kami terpaksa menyerangnya ", lapor sang prajurit bertubuh gempal itu dengan membungkukkan badannya.
"Bohong!
Kalau mereka meminta baik baik dan tidak bersikap kasar, kami tentu juga tidak akan menolak pemeriksaan terhadap kami", ujar Anjani yang tidak terima dengan tuduhan itu.
"Kau berani sekali bersikap lancang di depan Gusti Senopati Singa Parna. Apa kau sudah bosan hidup ha?", sahut si prajurit bertubuh gempal itu segera.
"Cukup!
Jangan membuat keributan yang tidak perlu prajurit. Sudah ku bilang kalau bertugas, jangan seenaknya tanpa memperhatikan orang yang kalian tanya.
Kota ini memang sedang ada masalah, tapi tidak semua orang yang lewat itu orang yang kita cari.
Apa kalian mengerti?", pria berambut gimbal merah yang bernama Senopati Singa Parna itu menatap tajam ke arah keempat orang prajurit nya.
"Kami mengerti Gusti Senopati", si prajurit bertubuh gempal itu langsung membungkuk hormat kepada Senopati Singa Parna.
"Dan untuk kalian bertiga, silahkan lanjutkan perjalanan kalian. Aku pribadi minta maaf karena perbuatan tidak menyenangkan dari para prajurit ku", Senopati Singa Parna menoleh ke arah Arya Pethak, Klungsur dan Anjani.
Bukan apa-apa Senopati Singa Parna berbuat baik kepada Arya Pethak dan kawan-kawan, tapi pergerakan mereka bertiga sewaktu menghadapi keempat prajurit Rajapura tadi sudah tidak bisa di anggap remeh. Andai saja ketiga orang ini tadi serius bertarung, keempat orang prajurit itu pasti mampus dalam beberapa gebrakan saja. Dia lebih memilih untuk berhati-hati dalam bertindak.
"Aku mengucapkan terima kasih atas kepercayaan Gusti Senopati.
Sebagai gantinya, bolehkah kami tahu apa yang sedang terjadi di kota ini?", Arya Pethak angkat bicara.
Mendengar pertanyaan Arya Pethak, Senopati Singa Parna menghela nafas berat. Tanggung jawabnya sebagai kepala keamanan Kadipaten Rajapura benar benar membuatnya harus memikul tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.
"Beberapa hari ini, ada pembunuh berkeliaran di dalam kota Kadipaten Rajapura, Kisanak.
Mereka selalu meninggalkan jejak berupa sebuah pisau perak pada korban. Anehnya mereka membunuh para korban yang rata-rata adalah para pejabat baik tinggi maupun rendah yang merupakan pejabat yang dicurigai melakukan tindakan penggelapan pajak maupun pejabat yang memiliki perilaku sewenang-wenang terhadap rakyat.
Masyarakat kota Kadipaten Rajapura menjulukinya sebagai Rajapati Pisau Perak.
Perilaku pembunuhan itu meresahkan para pejabat di lingkungan istana Rajapura karena sudah 8 orang pejabat terbunuh oleh nya. Kami sudah mencoba untuk memburunya dengan segala cara, tapi dia selalu bisa lolos dari sergapan kami.
Aku sampai pusing memikirkannya ", ujar Senopati Singa Parna sambil memijat pelipisnya yang terasa sakit jika teringat perkara pembunuhan ini.
"Oh begitu rupanya. Pantas saja para prajurit Kadipaten Rajapura menjadi sangat waspada terhadap orang asing yang masuk.
Karena kesalahpahaman ini sudah selesai, ijinkan kami untuk melanjutkan perjalanan Gusti Senopati", Arya Pethak membungkukkan badannya. Bersama kedua pengikutnya, Arya Pethak segera melompat ke atas kuda mereka masing-masing kemudian meneruskan perjalanan nya.
'Pendekar muda yang hebat, sangat pantas menjadi penerus masa depan sebuah daerah', batin Senopati Singa Parna yang menatap Arya Pethak dan kawan-kawan nya meninggalkan tempat itu.
Arya Pethak terus menjalankan kuda tunggangan nya kearah barat. Melihat hari telah semakin sore dan sebentar lagi senja tiba, dia memutuskan untuk bermalam di kota Kadipaten Rajapura.
Karena kebingungan mencari tempat penginapan, Arya Pethak akhirnya menghentikan langkah kaki kuda mereka untuk bertanya kepada penduduk sekitar. Kebetulan ada sepasang lelaki perempuan yang nampak berjalan melewati mereka.
"Kisanak, mohon tunggu sebentar..", ujar Arya Pethak yang segera melompat turun dari kudanya. Sepasang lelaki perempuan itu langsung menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Arya Pethak yang mendekati mereka.
Ada sesuatu yang berusaha di sembunyikan oleh sepasang lelaki perempuan itu, dan ini di rasakan oleh Arya Pethak. Hawa membunuh yang pekat.
"Maaf Kisanak dan Nisanak,
Kami pengelana dari jauh tidak tahu tempat ini. Boleh kami tahu, dimana letak penginapan terdekat?", tanya Arya Pethak dengan sopan.
"Lurus saja, dua ratus depa di sebelah kanan jalan, ada penginapan", jawab si lelaki yang mengenakan pakaian hitam lusuh, dengan penutup kepala yang nyaris menyembunyikan wajahnya. Sorot mata lelaki berusia paruh baya itu dingin dan menakutkan. Dia memanggul kotak persegi panjang sepanjang setengah depa yang mirip dengan tempat menyimpan baju. Di lihat sekilas, itu adalah sebuah kotak kayu tua.
"Terimakasih atas bantuan mu Kisanak, kami permisi", ujar Arya Pethak sambil membungkukkan badannya lalu segera melompat ke atas kuda nya. Mereka bertiga segera meninggalkan sepasang lelaki perempuan itu menuju arah yang ditunjukkan.
Begitu Arya Pethak menjauh bersama Klungsur dan Anjani, si wanita segera mendekati si lelaki berumur 4 dasawarsa berpakaian hitam lusuh itu.
"Pedang di punggung pemuda itu sepertinya senjata pusaka, Kakang.
Dia seorang pendekar", ujar si wanita yang menemaninya.
"Kau benar Nyi..
__ADS_1
Asal tidak ikut campur urusan kita, maka kita tidak perlu mengusiknya. Aku merasakan ada kekuatan besar pada diri pemuda itu", jawab si lelaki bertubuh kekar itu segera. Mendengar jawaban itu, si perempuan segera mengangguk mengerti. Mereka berdua segera melangkahkan kaki menuju ke arah Utara, tepat nya ke sebuah rumah kosong tak berpenghuni di samping kediaman seorang pejabat menengah Kadipaten Rajapura yang berpangkat Juru.
Begitu tidak ada orang yang memperhatikan, mereka cepat cepat masuk ke dalam rumah kosong itu. Mereka berdua segera membongkar sebuah kotak kayu yang di panggul si lelaki itu dari tadi. Di dalamnya terdapat puluhan pisau berwarna keperakan dan sepasang pedang pendek bergagang kayu dengan ukiran kepala ular.
Mereka berdua lah yang mendapat julukan sebagai Rajapati Pisau Perak, pasangan pembunuh bayaran yang terkenal kejam dan tidak kenal ampun. Belakangan, mereka menakuti warga Kota Kadipaten Rajapura dengan aksi pembunuhan yang mereka lakukan.
Si lelaki memiliki nama Ki Jayasatru dan si perempuan yang menjadi pasangan Nyi Manikmaya. Asal mereka sebenarnya dari pesisir selatan, wilayah Kadipaten Paguhan. Mereka datang ke Rajapura atas panggilan seorang yang berkuasa di daerah Rajapura. Orang tersebut merasa sakit hati kepada beberapa pejabat di wilayah Rajapura yang dianggap nya telah bersekongkol untuk menjatuhkannya di hadapan Adipati Tejo Lelono.
Sepasang pembunuh bayaran itu terus bersembunyi di dalam rumah kosong menunggu malam datang.
Arya Pethak usai membersihkan diri dan berganti pakaian, memilih untuk duduk di depan penginapan untuk melihat suasana malam di kota Rajapura. Di temani Anjani, mereka melihat ramainya orang berlalu lalang di jalan raya depan penginapan. Klungsur memilih untuk tidur karena mengeluh badannya capek.
Saat hari semakin gelap, Arya Pethak memutuskan untuk masuk ke dalam penginapan demi menghindari dingin malam hari yang mulai menyerang. Saat dia dan Anjani hendak melangkah masuk, bunyi kentongan bertalu-talu tanda adanya peristiwa pembunuhan.
Arya Pethak segera melesat cepat kearah suara kentongan bertalu-talu yang berasal dari arah Utara bersama Anjani. Gerakan tubuh mereka berdua seperti melayang di udara karena menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Dalam beberapa tarikan nafas, Arya Pethak dan Anjani sudah sampai di tempat orang yang menabuh kentongan. Bersamaan dia, Senopati Singa Parna juga datang.
"Mereka baru saja kabur ke arah selatan, para pembunuh itu kabur ke selatan", teriak sang pengawal pribadi pejabat yang terbunuh sambil menunjuk arah selatan.
Tanpa basa-basi, Senopati Singa Parna, Arya Pethak dan Anjani langsung melesat cepat kearah yang di tunjukkan oleh sang pengawal. Mereka bertiga segera melompat tinggi ke udara dan mendarat di atap bangunan tinggi untuk melihat keberadaan sang pembunuh. Menggunakan Ajian Mata Dewa, Arya Pethak melihat jelas dua orang tengah melompat naik turun di antara atap bangunan yang ada di kota Kadipaten Rajapura.
"Mereka kesana", ujar Arya Pethak yang segera melesat cepat kearah para pembunuh bayaran itu kabur.
Anjani dengan cepat mengekor langkah Arya Pethak begitu pula Senopati Singa Parna. Menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka masing-masing, mereka berupaya untuk mengejar pelarian sepasang pembunuh yang bergerak cepat di kegelapan malam.
"Kakang, ada yang membuntuti pergerakan kita", teriak Nyi Manikmaya yang merasakan hawa dingin yang memburu di belakangnya. Ki Jayasatru menghentikan gerakannya di atas atap sebuah bangunan, menoleh ke belakang dan melihat tiga bayangan hitam bergerak cepat kearah mereka.
"Kita cegat mereka di tepi kota Nyi, ayo cepat", Ki Jayasatru langsung melesat cepat di atas atap bangunan rumah penduduk kota Rajapura bersama Nyi Manikmaya.
Adegan kejar-kejaran antara mereka terus terjadi hingga Nyi Manikmaya dan Ki Jayasatru sampai di tepi kota Kadipaten Rajapura di sebelah selatan. Ki Jayasatru menghentikan gerakannya di tanah lapang yang ada disana bersama Nyi Manikmaya, sekejap mata kemudian Arya Pethak datang di susul Senopati Singa Parna dan Anjani.
"Siapa kalian? Mengapa ikut campur urusan kami?", Ki Jayasatru menatap tajam ke arah tiga orang yang kini ada di hadapannya.
"Kalian pembunuh bayaran laknat, berani sekali mengacau ketenangan warga Kota Kadipaten Rajapura.
Kalian harus aku tangkap", teriak Senopati Singa Parna sembari mencabut pedangnya.
Kalau kau bisa menangkap kami, bukankah sudah dari kemarin kau berhasil ha? Dasar pejabat busuk, mulut mu pintar omong kosong", maki Ki Jayasatru sambil tertawa terbahak bahak.
"Kurang ajar!
Kau pantas untuk mati", usai berkata demikian, Senopati Singa Parna langsung melesat cepat kearah Ki Jayasatru sembari membabatkan pedang nya.
Dengan cepat Ki Jayasatru memutar dua pedang pendek yang di pegang kedua tangan nya. Satu tarikan nafas, Ki Jayasatru menyongsong serangan Senopati Singa Parna menggunakan sepasang pedang pendek di tangan nya.
Saat Arya Pethak hendak beranjak, tangan Anjani mencekal nya.
"Ndoro Pethak, ijinkan saya untuk menghadapi perempuan itu", ujar Anjani sambil tersenyum tipis. Mendengar itu, Arya Pethak mengangguk mengerti. Setelah mendapat persetujuan Arya Pethak, Anjani langsung merogoh kantong baju nya kemudian melompat tinggi ke udara sambil melemparkan 2 jarum sebesar lidi ke arah Nyi Manikmaya yang masih mengamati pertarungan antara Senopati Singa Parna dan Ki Jayasatru.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!!
Dua jarum berwarna hijau kehitaman yang merupakan warna racun penghancur sukma melesat cepat kearah Nyi Manikmaya. Perempuan yang memiliki tahi lalat di atas bibir nya itu merasakan sesuatu yang bergerak cepat menuju ke arah nya dengan cepat, ia segera mencabut sepasang pisau perak di pinggangnya. Kemudian membabatkan nya ke arah dua jarum penghancur sukma Anjani.
Thrrraaannnnggggg thrrraaannnnggggg!!
Jarum penghancur sukma bermentalan saat di tangkis oleh sepasang pisau perak Nyi Manikmaya. Saat yang hampir bersamaan, Anjani melesat turun sembari mengayunkan Pisau Dewa Kematian di tangan kanannya.
Whuuutt!!
Nyi Manikmaya dengan cepat melompat mundur menghindari sabetan senjata Anjani. Dengan penuh semangat, Anjani memburu Nyi Manikmaya dengan Pisau Dewa Kematian dan Tapak Ular Siluman andalan nya. Pertarungan sesama pemakai pisau berlangsung sengit.
Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!
Senopati Singa Parna terdorong mundur beberapa tombak akibat benturan tenaga dalam dengan Ki Jayasatru. Perwira tinggi prajurit Kadipaten Rajapura itu muntah darah segar. Dia segera bangkit dan mengusap sisa darah yang ada di sudut bibirnya.
"Bangsat!
Aku lengah sedikit saja, keparat ini berhasil melukai ku", maki Senopati Singa Parna sambil memijat dada nya yang sesak.
"Biar saya yang maju. Gusti Senopati beristirahat saja sambil memulihkan tenaga", ujar Arya Pethak sambil melangkah maju.
__ADS_1
"Aku tidak keberatan, pendekar muda.
Satu aku minta, hajar pembunuh keparat itu sampai babak belur", Senopati Singa Parna segera duduk bersila dan mengatur nafasnya untuk mengobati luka dalam nya.
Arya Pethak langsung melesat cepat kearah Ki Jayasatru dengan menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin. Kecepatan tinggi Arya Pethak membuat Ki Jayasatru terkejut bukan main.
Buru buru Ki Jayasatru memutar dua pedang pendek nya dan mengayunkan pedang ke leher Arya Pethak. Pedang pendek di tangan kanannya langsung menyambar cepat.
Whhuuuuuuuggggh
Melihat itu Arya Pethak merubah gerakan tubuhnya dan menyapu kaki Ki Jayasatru. Pria berbaju hitam lusuh itu melompat ke atas, kemudian memutar tubuhnya dan berputar cepat kearah Arya Pethak dengan dua pedang pendek mengincar nyawa Arya Pethak.
Arya Pethak dengan cepat menjejak tanah hingga tubuhnya melesat ke belakang. Pendekar muda itu langsung melesat maju sambil mencabut Pedang Setan di punggungnya. Satu tebasan Pedang Setan terayun kearah Ki Jayasatru yang baru menjejak tanah.
Selarik angin dingin berbau busuk menerabas cepat kearah Ki Jayasatru. Pria itu langsung menyilangkan kedua pedang pendek nya untuk menahan angin dingin dari tebasan Pedang Setan karena sudah tidak ada ruang untuk menghindar.
Blllaaammmmmmmm!!!
Ki Jayasatru terdorong mundur beberapa tombak sambil muntah darah segar. Arya Pethak yang tidak mau membuang waktu langsung melesat cepat kearah Ki Jayasatru yang masih terdorong mundur. Ajian Langkah Dewa Angin membuatnya mampu bergerak cepat seperti kilat.
Satu sabetan Pedang Setan, membuat Ki Jayasatru yang baru berhenti setelah adu tenaga dalam tingkat tinggi dengan Arya Pethak, terkejut bukan main. Pembunuh bayaran itu berusaha untuk menghindari sabetan Pedang Setan yang sudah melukai nya.
Shreeeeettttthhh!!
Ki Jayasatru merunduk sedikit menghindari sabetan Pedang Setan di tangan kanan Arya Pethak. Tapi tangan kiri sang pendekar muda dari Kadiri itu yang telah berwarna putih kebiruan seperti petir menghantam dada kanan Ki Jayasatru dengan telak.
Blllaaammmmmmmm!!!!
Ki Jayasatru terpelanting jauh ke belakang. Dada kanan nya bolong tembus punggung. Dia tewas bersimbah darah setelah beberapa saat mengejang hebat.
Nyi Manikmaya mendelik lebar melihat Ki Jayasatru terbunuh di depan matanya. Perempuan itu langsung melesat cepat kearah Arya Pethak sembari mengayunkan pisau perak nya. Anjani tidak tinggal diam. Perempuan cantik berkulit sawo matang itu segera memotong serangan Nyi Manikmaya dengan sabetan Pisau Dewa Kematian di tangan kanannya.
Thrrraaannnnggggg!!
Blllaaaaaarrr!!
Nyi Manikmaya melompat mundur beberapa tombak ke belakang setelah senjata andalannya berbenturan dengan Pisau Dewa Kematian milik Anjani. Dengan dingin Anjani mengacungkan Pisau Dewa Kematian ke arah Nyi Manikmaya.
"Lawan mu aku, perempuan tua"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sambil menunggu waktu berbuka puasa, akhirnya selesai juga chapter ini 😁😁
__ADS_1
Selamat membaca kawan kawan, semoga terhibur selalu