
Perlahan kapal penyeberangan milik Mpu Nala merapat ke Pelabuhan Hujung Galuh. Dengan bantuan dua kapal kecil, perlahan kapal besar itu di tarik ke tepi dermaga sebelum tambang besar mengikat kapal di tiang pancang pelabuhan.
Satu persatu penumpang kapal penyeberangan itu bergegas turun dari atas kapal dengan melewati tangga yang sudah di siapkan. Dua orang anak buah Mpu Nala bergegas menuju ke tempat penitipan kereta kuda yang ada di samping rumah Syahbandar pelabuhan Hujung Galuh.
Sambil menunggu barang bawaan mereka di turunkan, Arya Pethak mengajak kawan kawan nya untuk berteduh di bawah pohon rindang yang tak jauh dari dermaga.
Nirmala menatap laut lepas seakan menatap Pulau Madura dari sana. Anjani bergegas mendekati nya.
"Apa kau bimbang dengan keputusan mu, Nirmala?", Anjani tersenyum tipis sembari melirik ke arah gadis cantik berkulit hitam manis itu.
"Sengko tidak pernah menyesali keputusan, tretan..
Aku hanya ingin menatap tanah kelahiran ku sebelum pergi untuk selamanya", ujar Nirmala sambil matanya terus menatap ke laut lepas. Bulir air mata menetes dari sudut mata bening nya.
"Kalau begitu kau tak perlu bersedih hati lagi, Nirmala. Sekarang kami adalah keluarga baru mu.
Ayo kita berkumpul bersama mereka", Anjani langsung menarik tangan Nirmala dan mereka segera berkumpul bersama dengan Arya Pethak, Klungsur dan Nay Kemuning di bawah pohon rindang.
Setelah semua barang bawaan mereka di turunkan, Raden Wira Ganggeng segera mengajak rombongan itu segera meninggalkan pelabuhan Hujung Galuh usai berterima kasih kepada Mpu Nala. Mereka segera bergegas menuju ke sebuah rumah makan besar yang ada di Kota Kadipaten Hujung Galuh untuk sarapan.
Sambil menyantap makanan mereka, Arya Pethak mengutarakan niatnya untuk kembali ke Kadiri.
"Sebelumnya saya mohon maaf, Raden.
Setelah ini ijinkan saya dan kawan-kawan untuk pulang ke Kadiri. Sudah lama sekali saya ingin menjenguk kedua orang tua saya di Bukit Kahayunan.
Karena ini mohon maaf jika kami tidak bisa mengantar Raden Wira Ganggeng pulang ke Kadipaten Kembang Kuning", ujar Arya Pethak sambil menatap wajah Raden Wira Ganggeng.
Hemmmmmmm..
"Aku mengerti apa yang tengah kau rasakan, Saudara Pethak. Aku juga sudah cukup berterima kasih atas semua bantuan yang kau berikan selama ini pada ku.
Jika suatu saat melewati Kadipaten Kembang Kuning, mampirlah ke istana. Pintu istana Kadipaten Kembang Kuning selalu terbuka lebar untuk mu.
Aku memberikan ini bukan upah atas apa yang sudah kau lakukan, Saudara Pethak. Mohon kau menerima nya untuk bekal perjalanan pulang mu ke Kadiri", ucap Raden Wira Ganggeng sambil mengulurkan dua kantong kepeng perak dan emas pada Arya Pethak.
"Terimakasih Raden Wira Ganggeng. Kalau begitu kami mohon undur diri. Sampai jumpa lagi di lain hari", ujar Arya Pethak sembari menerima kantong kain berisi kepeng perak dan emas itu lalu menyerahkan sebagian uang itu pada Anjani yang selama ini memegang keuangan Arya Pethak. Murid Mpu Prawira itu membungkuk hormat kepada Raden Wira Ganggeng sebelum bergegas keluar dari rumah makan diikuti oleh Nay Kemuning, Anjani, Klungsur dan kawan baru perjalanan mereka, Nirmala yang mendapat hadiah kuda dari sang pangeran Kembang Kuning.
Raden Wira Ganggeng menatap ke arah perginya Arya Pethak dan kawan-kawan nya yang menggebrak kuda mereka menuju ke arah selatan.
Debu beterbangan mengiringi langkah kaki kuda mereka.
Keluar dari Kota Kadipaten Hujung Galuh, rombongan itu terus bergerak menuju ke arah selatan. Setengah hari perjalanan mereka sampai di kota Kahuripan. Kota besar yang pernah menjadi ibukota sebuah kerajaan besar ini terlihat masih ramai meski mungkin tak seramai dulu ketika masih menjadi ibukota kerajaan Jenggala.
Puluhan orang berlalu lalang di jalan raya yang membelah kota Kahuripan menjadi dua bagian. Ratusan bangunan besar bekas rumah para pejabat masih berdiri kokoh di sela sela bangunan baru yang bermunculan. Meski banyak orang sudah banyak yang berpindah ke ibukota Kerajaan Singhasari, namun penduduk kota ini masih terhitung ramai, bahkan tidak kalah dengan Kota Kadipaten seperti Matahun dan Bojonegoro.
"Selanjutnya kita kemana Ndoro Pethak? Langsung pulang ke Kadiri atau masih mau ke tempat lain?", tanya Klungsur sambil mengunyah daging ayam bakar yang di pesan nya setelah Arya Pethak menghentikan perjalanan mereka di sebuah warung makan.
"Kalau aku sih pengen tau keramaian Ibukota Kerajaan Singhasari, Sur..
Kan kita tinggal lurus saja ke selatan. Biar wawasan kita menjadi luas. Mumpung kita masih muda kita harus banyak pengalaman", jawab Arya Pethak yang bicara sambil menikmati ikan lele bakar kesukaannya.
"Setuju Kakang..
Aku dengar ibukota Kerajaan Singhasari sangat ramai. Tidak ada salahnya jika kita melihat nya", Anjani langsung senang. Dia punya tujuan lain ke Singhasari namun tidak berani mengatakannya.
"Nay Kemuning, Nirmala..
Apa pendapat kalian?", Arya Pethak mengalihkan pandangannya pada dua sosok gadis cantik yang tengah asyik bersantap siang bersama dengan nya.
"Abdi teh ngikut kata Akang Pethak..
Pokok na teh hidup mati Nay ikut dengan Akang", sahut Nay Kemuning segera.
"Kalau sengko juga ikut saja, Den Arya. Karena kan yang punya pese' Den Arya hehehehe", Nirmala bicara dengan logat khas Madura nya sembari terkekeh kecil.
"Huh dasar mata duitan..
__ADS_1
Sama lelaki yang punya duit, perempuan itu selalu takluk", gumam Klungsur lirih tapi masih di dengar jelas oleh Nirmala.
"Ehh, itu mulut kalau ngomong di jaga ya..
Memang kalau tidak ada duit, ba'na bisa makan enak disini? Makanya kalau pengen di dekati perempuan, itu kantong baju isinya jangan cuma kue kering tapi kepeng perak. Syukur syukur kepeng emas, jadi perempuan itu gak khawatir kelaparan jika ikut ba'na.
Lama lama bikin aku naik darah tak celurit sampeyan", hardik Nirmala sambil melotot ke arah Klungsur.
"Iya iya.. Gak usah naik juga nada suaranya. Malu di lihat orang..
Jadi orang itu jangan sedikit sedikit marah marah. Bisa jadi perawan tua karena tidak ada orang yang mau dekat-dekat ", Klungsur menggeser tempat duduknya menjauhi Nirmala.
"Ba'na sedang mengutuk ku ya?
Berani sekali lagi menjauh, tak celurit beneran sampeyan", Nirmala semakin mendelik ke arah Klungsur. Takut dengan ancaman Nirmala, Klungsur menggeser kembali tempat duduknya ke arah Nirmala.
Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning sakit perut karena menahan tawa melihat Klungsur yang tak berdaya menghadapi Nirmala.
"Ah akhirnya Klungsur ada pawang nya juga ya Kang", ujar Anjani sambil matanya melirik ke arah Arya Pethak yang langsung manggut-manggut saja sembari menahan tawa.
Demi harga diri Klungsur, Arya Pethak memberikan satu kantong kepeng perak kecil kepada Klungsur saat mereka membayar biaya makan siang mereka sedangkan para gadis sudah keluar lebih dulu.
"Jangan boros. Ingat kata Nirmala tadi. Kau harus bisa menunjukkan bahwa kau adalah lelaki sejati yang punya duit dan kemampuan Sur", bisik Arya Pethak yang membuat Klungsur mengangguk mengerti.
"Terimakasih banyak Ndoro Pethak", ujar Klungsur sembari tersenyum lebar.
Rombongan itu segera menggebrak kuda tunggangan mereka ke arah selatan. Hingga hampir senja, rombongan itu masih belum mencapai wilayah perkampungan terdekat hingga Arya Pethak memutuskan untuk bermalam di tepi hutan sisi jalan raya yang menuju ke arah Kotaraja Singhasari.
Arya Pethak segera melesat ke dalam hutan untuk mencari sesuatu yang bisa di makan. Klungsur mencari ikan di sungai yang mengalir dekat tempat itu. Anjani mengumpulkan kayu bakar untuk api unggun sedangkan Nay Kemuning dan Nirmala sibuk menata tempat untuk beristirahat.
Karena sudah terlalu sore, Arya Pethak hanya bisa menangkap tiga ekor ayam hutan dan juga membawa setandan pisang yang sudah matang. Klungsur pulang membawa beberapa ekor belut sawah besar yang sudah dia bersihkan sekalian.
Api unggun menyala saat senja mulai berganti malam. Arya Pethak sibuk memanggang ayam hutan nya begitu juga Klungsur yang terus membolak-balik belut sawah yang sudah di tusuk bambu pada api unggun. Setelah matang, mereka berlima menikmati makanan yang mereka masak secara sederhana.
Hutan lebat di kaki gunung Penanggungan sebelah timur itu begitu dingin. Apalagi kabut perlahan mulai turun menutupi seluruh wilayah tempat itu.
"Anjani, cepat bangun..
Ada yang mendekat kemari", bisik Arya Pethak yang langsung membuat Anjani terjaga. Perempuan cantik itu segera mengucek matanya sambil beringsut membangunkan Nirmala.
Nay Kemuning menggeliat dari tempat tidur nya sembari menatap wajah Arya Pethak.
"Ayeu naon atuh Akang?", tanya Nay Kemuning sembari menggeliat.
"Sssssttttttttt...
Ada suara beberapa langkah kuda menuju kemari. Bersiaplah Nay", jawab Arya Pethak sambil meraih sarung Pedang Setan nya yang di letakkan di samping bantalan kepalanya.
Toprakk toprakk toprakk!!
Suara kaki kuda semakin lama semakin terdengar jelas.
Klungsur yang masih tertidur lelap langsung di sepak kaki nya oleh Nirmala. Pria bertubuh bogel itu segera terbangun dari tidurnya dan melihat kawan seperjalanan nya telah bersiap untuk menghadapi segala sesuatu yang mungkin terjadi. Klungsur langsung meraih gagang Gada Galih Asem nya yang di bungkus kain hitam.
Dari arah utara nampak seekor kuda yang di gebrak cepat menuju ke arah Arya Pethak dan kawan-kawan yang memang bermalam di tepi hutan dekat jalan besar yang menuju ke arah Kotaraja Singhasari. Si penunggang kuda melihat kobaran api unggun langsung memacu kudanya menuju ke arah api. Cahaya bulan yang mendekati purnama membuat bayangan hitam itu mampu berkuda di tengah malam meski tanpa membawa obor.
Dua ratus depa di belakang sang penunggang kuda, nampak beberapa ekor kuda turut bergerak. Sepertinya mereka tengah memburu si penunggang kuda itu.
Si penunggang kuda itu langsung menarik tali kekang kudanya begitu sampai di dekat tempat Arya Pethak dan kawan-kawan nya bermalam. Rupanya dia tidak sendiri. Ada orang lain yang turut berkuda bersama nya. Tanpa basa-basi dia langsung melompat ke atas kudanya dan membopong tubuh seorang bocah kecil dan menuju ke arah Arya Pethak yang langsung berdiri begitu kuda tunggangan nya berhenti.
"Kisanak..
Aku mohon tolong jaga anak junjungan ku. Aku akan menghadapi para bajingan itu", ujar si penunggang kuda yang ternyata adalah seorang lelaki gagah yang memakai baju ala prajurit sembari meletakkan bocah kecil itu ke dekat Arya Pethak. Anjani yang berdiri paling dekat langsung menerima bocah kecil yang berpakaian layaknya seorang putra bangsawan.
Arya Pethak mengangguk mengerti dan si penunggang kuda itu langsung mengucapkan terima kasih. Dia segera berbalik badan dan mencabut sebuah pedang yang tersarung di pinggangnya sembari menatap ke arah Utara.
Tak berapa lama kemudian, dari arah Utara muncul 4 orang berkuda yang berperawakan kekar mendekati si penunggang kuda dan mereka segera menghentikan kuda mereka.
__ADS_1
"Hahahaha...
Kebo Anabrang rupa nya kau sudah lelah berlari juga. Cepat kembalikan Raden Wijaya padaku kalau tidak akan ku buat kau menderita sebelum mati", ujar si lelaki penunggang kuda itu dengan lantang.
"Sawung Alas,
Sampai mati pun aku tidak akan menyerahkan putra junjungan ku pada mu bangsat. Penculik keji, pemerintah Kerajaan Singhasari pasti tidak akan melepaskan mu begitu saja", balas si penunggang kuda yang tak lain adalah Kebo Anabrang, seorang perwira muda Kerajaan Singhasari yang bertugas untuk menjaga kediaman Dyah Lembu Tal, salah seorang kerabat dekat istana yang merupakan putra bungsu Mahesa Campaka Sang Narasinghamurti.
Seperti di ketahui oleh khalayak ramai bahwa Raja Seminingrat atau juga dikenal sebagai Prabu Wisnu Wardhana berkuasa di Singhasari bersama dengan sepupu nya yang merupakan keturunan langsung Ken Arok Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi dengan Ken Dedes. Putra mereka yang bernama Mahesa Wongateleng merupakan kakek Dyah Lembu Tal.
Raden Wijaya atau juga dikenal sebagai Dyah Sanggramawija adalah orang yang di gadang-gadang sebagai penerus tahta Kerajaan Singhasari setelah Maharaja Kertanegara hanya memiliki 4 anak perempuan tanpa memiliki seorang putra pun dari rahim permaisuri. Raden Wijaya sendiri telah di jodohkan dengan mereka berempat sejak kelahirannya oleh Maharaja Kertanegara dan Dyah Lembu Tal sebagai ikatan politik untuk menyatukan dua keturunan utama Dinasti Rajasa.
Sawung Alas adalah bekas saudara seperguruan Kebo Anabrang. Dia di tugaskan oleh sebuah kelompok yang menginginkan Singhasari tidak memiliki penerus tahta untuk menculik Raden Wijaya dari Puri Agung Dyah Lembu Tal di barat Kotaraja Singhasari saat pengawasan terhadap penjagaan ketat di Puri Agung tengah longgar. Dia berhasil membawa kabur Raden Wijaya kecil ke arah Kota Kahuripan namun Bekel Prajurit yang bernama Kebo Anabrang itu berhasil menyelamatkannya meski harus mengorbankan nyawa kawan kawan Kebo Anabrang.
"Rupanya kau ingin cepat mampus menyusul kawan kawan mu, Kebo Anabrang. Baik, akan ku kabulkan keinginan mu.
Kawan kawan,
Bunuh bekel keparat itu!", teriak Sawung Alas yang segera melompat dari atas kuda nya, menerjang maju ke arah Kebo Anabrang. 4 kawan Sawung Alas turut melesat ke arah Kebo Anabrang.
Pertarungan tak seimbang antara satu orang di keroyok oleh 5 orang itu tak berlangsung lama. Lima tebasan pedang di tangkis oleh Kebo Anabrang dengan pedang nya.
Thrrriiinnnggggg!!
Kalah tenaga, Kebo Anabrang sampai berlutut menerima tekanan tenaga dalam dari kelima musuhnya. Sawung Alas menyeringai lebar lalu melayangkan tendangan keras kearah dada sang perwira prajurit.
Bhhhuuuuuuggggh..
Aaauuuuggggghhhhh!!
Kebo Anabrang jatuh terjengkang ke belakang dan terduduk di tanah. Saat Sawung Alas dan kawan-kawan hendak maju, sebuah sinar putih kebiruan seperti petir menyambar ke arah mereka. Sawung Alas yang melihat bahaya langsung melompat mundur bersama kawan-kawan nya.
"Awas ada pembokong!"
Blllaaammmmmmmm!!!
Satu orang kawan Sawung Alas yang tak sempat menghindar, terpental ke samping dan tewas dengan dada hangus seperti terbakar. Sebuah kabut putih tipis muncul di hadapan Kebo Anabrang kemudian sesosok lelaki bertubuh tegap dengan pakaian serba putih berdiri di sana dengan memegang sebuah pedang berbilah hitam legam.
"Hanya pengecut yang main keroyokan!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ada yang masih terjaga dengan secangkir kopi dan cemilan? Yuk sini join dengan author 😁😁
__ADS_1