
Klungsur plonga plongo mendengar bahasa Sunda yang di ucapkan si gadis cantik berbaju hijau kekuningan itu. Gadis itu mengucapkan kata 'hai urang sejen, eureun maraneh', membuat Klungsur garuk-garuk kepala karena bingung.
'Urang sajen? Maksudnya apa? Disini musim sesajen di kasih urang (udang) ya?', batin Klungsur yang semakin tak mengerti apa yang di omongkan.
Anjani yang berkuda di samping Arya Pethak langsung menyahut omongan si gadis cantik berbaju hijau kekuningan.
"Aya naon Eneng geulis ngeureunkeun urang di dieu? Naon aya masalah? ( Ada apa gadis cantik menghentikan kami disini? Apa ada masalah?)", Anjani menatap ke arah si gadis cantik ini dengan tajam.
"Teu aya nanaon. Abdi tingal maraneh jalmi sejen. Tangtos ka dieu aya tujuan. Naon anu maraneh pilari di dieu? ( Tidak ada apa apa. Aku lihat kalian orang asing. Tentu kesini ada tujuan. Apa yang kalian cari disini?)", si gadis cantik berbaju hijau kekuningan yang tak lain adalah Nay Kemuning menatap ke arah mereka.
"Kalian ngomong apa sih? Ayak ayak? Maksudnya mau mengayak tepung?", Klungsur tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Kau bisa tidak diam sejenak Sur?", Arya Pethak melotot ke arah Klungsur. Pemuda bogel itu langsung mengkerut melihat kekesalan Arya Pethak.
"Anjani, jawab saja kita kemari mencari Ki Buyut Mangun Tapa. Setelah itu tanyakan padanya, apa dia tahu? Kalau tahu, minta dia tunjukkan jalan ke tempat nya", Arya Pethak mengalihkan pandangannya pada Anjani. Belum sempat Anjani membuka mulut, Nay Kemuning berdehem sebelum membuka mulut.
Ehemmm ehemmm..
"Oh kalian teh urang luar wilayah Sunda nya? Eneng kira dari Sunda juga. Hampura ya..
Kalian kesini untuk mencari Ki Buyut Mangun Tapa?", ujar Nay Kemuning yang rupanya juga mengerti bahasa Jawa.
Mendengar itu Klungsur, Anjani dan Arya Pethak langsung saling berpandangan sejenak sebelum kembali menatap ke arah gadis cantik yang ada di depannya.
"Kau bisa bahasa kami?", Arya Pethak seolah menegaskan kemampuan bahasa Nay Kemuning.
"Sedikit atuh Akang..
Tidak terlalu lancar, masih campur campur dengan bahasa di dieu atuh", jawab Nay Kemuning sambil tersenyum simpul. Ketampanan pemuda yang bertanya kepada nya itu membuat hatinya bergetar sejak pertama kali bertemu.
"Wah akhirnya aku bisa ngomong dengan orang sini pakai bahasa yang aku mengerti.
Eh Nimas cantik, di sini ada warung makan tidak? Aku lapar", sahut Klungsur dengan cepat.
"Teu aya warung neda di dieu Akang.. Kunaon oge atuh pilari warung, antos di imah aya leeutan kanggo maraneh ( Tidak ada warung makan di sini Akang.. Kenapa oge mencari warung, nanti di rumah ada makanan buat kalian)", jawab Nay Kemuning yang langsung membuat Anjani tertawa cekikikan, sedangkan Klungsur langsung sebal setengah mati karena Nay Kemuning menjawab pakai bahasa Sunda.
"Aaahhh wes emboh lah, sebel aku sama kau Nimas ayu", Klungsur melengos kesal.
"Sekarang tolong tunjukkan jalan ke arah kediaman Ki Buyut Mangun Tapa, Nisanak..", pinta Arya Pethak dengan sopan.
Belum sempat Nay Kemuning menjawab, dari arah barat seorang gadis cantik berbaju biru muda melesat cepat kearah mereka. Gadis itu yang tak lain adalah Mayangsari, kakak seperguruan Nay Kemuning langsung berdiri menjajari Nay Kemuning.
"Siapa mereka Kemuning? Apa mereka mengganggu mu?", tanya Mayangsari dalam bahasa Sunda.
"Eh sabar atuh Teh. Sepertinya mereka adalah orang-orang yang di tunggu oleh guru. Kau jangan salah sangka dulu", jawab Nay Kemuning segera. Mendengar jawaban itu, Mayangsari langsung diam.
"Mari atuh Akang. Aku antar ke tempat Ki Buyut Mangun Tapa. Tolong ikuti langkah ku", usai berkata demikian Nay Kemuning segera melesat cepat kearah barat diikuti oleh Mayangsari. Arya Pethak, Klungsur dan Anjani langsung menggebrak kudanya mengikuti jalan yang di tunjukkan oleh dua orang gadis itu.
Selepas dari Desa Karang Mulya, mereka memasuki jalan setapak yang membelah hutan lebat di kaki Gunung Ciremai. Semakin lama jalan semakin menanjak. Semak belukar tumbuh lebat di kanan kiri jalan setapak. Mereka terus bergerak menuju ke arah puncak.
Saat matahari telah tergelincir ke barat, mereka sampai di sebuah rumah yang cukup besar yang terbuat dari kayu dan beratap ijuk aren. Meski rumah di tengah hutan itu sederhana namun terlihat cukup bersih dan rapi. Ada tanah lapang yang cukup luas sebagai halaman, juga kebun kecil berpagar bambu yang di tanami aneka sayur. Di belakang nampak beberapa ekor kambing ada di kandang, lengkap dengan kandang ayam di sebelahnya.
Begitu sampai di sana, Nay Kemuning mengajak Arya Pethak dan kawan-kawan nya masuk ke beranda rumah.
"Selamat datang di kediaman Ki Buyut Mangun Tapa, Akang akang dan Eneng geulis.
Mohon maaf Ki Buyut teh masih bertapa, tapi beliau mah sudah berpesan ke kami, nanti bila ada tamu tiga orang dari luar negeri Pasundan datang mencari nya, langsung di suruh menunggu disini", tutur Nay Kemuning sambil tersenyum tipis.
"Kalian berdua ini murid Ki Buyut Mangun Tapa?", tanya Anjani dengan cepat.
"Betul kami berdua adalah murid Ki Buyut Mangun Tapa. Aku Nay Kemuning dan ini kakak seperguruan ku, Mayangsari. Masih ada lagi satu saudara ku yang belum datang, namanya Limbur Wisesa", Nay Kemuning memperkenalkan diri nya dan Mayangsari.
"Aku Arya Pethak, ini Anjani yang bisa bahasa Sunda dan si bogel itu namanya Klungsur.
Kami pengelana dari jauh, tepatnya dari Kadiri. Datang kemari memang ada perlu dengan Ki Buyut Mangun Tapa yang mempunyai nama besar hingga wilayah Tanah Jawadwipa", Arya Pethak menyambut baik perkenalan Nay Kemuning dengan memperkenalkan dirinya dan kawan-kawan nya.
"Karena hari sudah semakin sore, sebaiknya kalian segera mandi. Tempat mandi nya ada di curug di bawah pohon beringin itu. Kami akan menyiapkan makanan untuk kalian", ujar Nay Kemuning sambil tersenyum manis.
Mendengar itu, Arya Pethak segera beranjak dari tempat duduknya menuju ke arah yang ditunjukkan oleh Nay Kemuning bersama Klungsur. Setelah membersihkan diri, mereka berdua berganti baju lalu kembali ke kediaman Ki Buyut Mangun Tapa.
Anjani yang kebagian giliran mandi setelah mereka, langsung bergegas melepaskan baju dan mulai menyiramkan air ke tubuhnya. Air dingin dari mata air Gunung Ciremai benar benar menyegarkan tubuh Anjani yang letih setelah melakukan perjalanan jauh.
Limbur Wisesa yang baru pulang dari berburu tanpa ke rumah langsung menuju ke arah sendang kecil di bawah pohon beringin.
Tanpa sengaja dia yang tidak memperhatikan suasana langsung hendak melepas bajunya, namun pemuda itu kaget setengah mati mendengar teriakan seorang gadis.
__ADS_1
"Aaaaahhhh laki laki mesum kurang ajar!!"
Anjani langsung menyambar jarit untuk menutupi bagian tubuh nya. Begitu tertutup, perempuan cantik itu langsung menghantamkan tangan kanannya yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi.
Whuuussshh!!
Limbur Wisesa terkejut bukan main dan langsung melompat tinggi ke udara menghindari angin hantaman tangan kanan Anjani yang menerabas cepat kearah nya.
Blllaaaaaarrr!!!!
Anjani hanya dengan pakaian seadanya langsung melesat cepat kearah Limbur Wisesa yang baru mendarat usai menghindari angin tenaga dalam tingkat tinggi dari Anjani.
Murid Dewi Ular Siluman itu langsung melayangkan serangan bertubi-tubi kearah Limbur Wisesa.
Selepas 5 jurus, Anjani menyapu kaki Limbur Wisesa. Pemuda itu segera mengangkat satu kaki menghindari sapuan kaki Anjani, tapi perempuan cantik itu segera menghantamkan tapak tangan kiri nya kearah dada Limbur Wisesa.
Murid Ki Buyut Mangun Tapa segera silangkan kedua siku tangan untuk menahan hantaman tapak tangan kiri Anjani.
Blllaaammmmmmmm!!!
Baik Limbur Wisesa maupun Anjani terdorong mundur masing masing dua tombak ke belakang. Saat Anjani hendak melesat maju, tangan kanan nya langsung di cekal oleh Arya Pethak. Setelah ledakan keras terdengar tadi, Arya Pethak, Klungsur, Nay Kemuning dan Mayangsari langsung melesat menuju sendang.
"Tunggu Anjani, ada apa ini?", ucap Arya Pethak sambil menatap ke arah Anjani.
"Laki laki itu mengintip ku mandi Ndoro, akan ku hajar dia", jawab Anjani dengan keras.
"Tahan dulu amarah mu. Biar Nay Kemuning yang bertanya kepada laki laki itu. Sepertinya ini tidak seperti yang kau kira", Arya Pethak mencoba meredam emosi Anjani.
"Akang Wisesa, anjeun ieu cucungah nya. Wantun kalintang anjeun ngintip awewe ibak ( Akang Wisesa, kau ini kurang ajar ya. Berani sekali kau mengintip wanita mandi)", ujar Nay Kemuning sambil menunjuk ke arah Limbur Wisesa.
"Aih lepat ngartos itu Nay, salah paham. Aku tidak sengaja tadi kesana karena aku pikir kau dan Mayangsari sudah mandi. Makanya aku langsung ke sendang untuk mandi, eh malah ketemu dengan perempuan itu.
Sumpah aku tidak punya niat mengintip", Limbur Wisesa berkata jujur. Mendekati penjelasan ini, Nay Kemuning segera mendekati Arya Pethak dan Anjani.
"Sepertinya ini salah paham atuh Akang, Eneng..
Saya teh tahu Akang Limbur Wisesa tidak pernah berbohong. Mohon di maafkan nya untuk kecerobohan Akang Wisesa", Nay Kemuning membungkukkan badannya pertanda dia meminta maaf kepada Anjani.
"Bilang padanya, kalau lain kali dia berbuat seperti ini lagi, akan ku congkel kedua biji mata nya ", usai berkata demikian, Anjani langsung kembali ke sendang kecil tempat mandi. Semua orang menarik nafas lega karena permasalahan itu telah selesai.
Senja dengan cepat berganti malam yang gelap . Udara di lereng Gunung Ciremai begitu dingin menusuk tulang. Kabut tipis semakin membuat suhu udara di tempat itu semakin dingin saja.
Arya Pethak memutuskan untuk membuat perapian di halaman rumah itu. Klungsur mengikuti sang majikan. Satu persatu orang yang ada di dalam rumah berkumpul di halaman rumah untuk ikut berdiang menghangatkan tubuh.
Tiba tiba saja kabut tebal muncul di tempat itu bersama hembusan angin yang membekukan tubuh. Dari tengah kabut, muncul sesosok tubuh lelaki sepuh berjenggot panjang putih dengan rambut menutupi sebagian wajah nya yang keriput. Pakaian pertapa yang berwarna putih semakin menambah kesan berwibawa pada sang lelaki sepuh bertubuh tegap itu.
Limbur Wisesa, Nay Kemuning dan Mayangsari langsung berjongkok di depan lelaki sepuh itu segera.
"Hormat kami Guru", ujar ketiga orang itu sembari meletakan tapak tangan di depan dada dan membungkuk. Itu adalah salam penghormatan yang berlaku di Tatar Pasundan.
"Bangunlah kalian", Ki Buyut Mangun Tapa mengangkat tangan kanannya. Ketiga orang muridnya itu segera berdiri.
"Salam Resi Buyut Mangun Tapa", Arya Pethak langsung meletakkan tangan kanannya ke depan dada dan membungkuk pada lelaki sepuh yang merupakan salah satu tokoh besar dunia persilatan Tatar Pasundan yang sangat di hormati ini. Meski dia kadang seenaknya sendiri, tapi baik golongan hitam maupun putih sangat menghormatinya. Bahkan separuh tokoh persilatan kerajaan Singhasari sebelah barat pun mengenalnya.
"Yang aku tunggu ternyata benar benar seorang pemuda yang tampan dan hebat. Apa kau benar benar murid Si Resi Jathayu dari Pertapaan Giri Lawu itu, anak muda?", tanya Ki Buyut Mangun Tapa sambil berjalan mendekati Arya Pethak.
"Saya hanya beruntung karena Resi Jathayu bersedia menurunkan ilmu kanuragan nya pada saya, Resi Buyut", Arya Pethak hanya tersenyum tipis mendengar pujian Ki Buyut Mangun Tapa.
"Kalau begitu, biar aku lihat seberapa besar bakat murid Resi Jathayu ini", setelah berkata seperti itu, Ki Buyut Mangun Tapa langsung melesat cepat kearah Arya Pethak sambil mengayunkan tapak tangan kanan nya.
Semua orang terkejut bukan main melihat Ki Buyut Mangun Tapa tiba-tiba menyerang Arya Pethak.
Klungsur langsung menggenggam gagang Gada Galih Asem nya yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi. Pria bertubuh bogel itu hendak berlari ke arah Ki Buyut Mangun Tapa namun Anjani langsung mencegahnya.
"Kau jangan sembarangan. Ki Buyut Mangun Tapa itu bukan lawan mu. Lagipula aku yakin dia hanya ingin menguji kemampuan beladiri Ndoro Pethak ", ujar Anjani setengah berbisik di telinga Klungsur.
"Tapi An, dia...", belum sampai Klungsur menyelesaikan omongannya, Anjani sudah memotong nya.
"Tidak ada tapi-tapian. Diam dan lihat apa yang terjadi ", mendengar itu, Klungsur akhirnya memilih untuk mengikuti omongan Anjani.
Gerakan tubuh Ki Buyut Mangun Tapa benar benar cepat dan berbahaya. Berulang kali hantaman tangan kanan nya berhasil mengenai tubuh Arya Pethak. Untung saja Arya Pethak menggunakan Ajian Lembu Sekilan hingga serangan mematikan Ki Buyut Mangun Tapa tak membuat murid Mpu Prawira ini terluka.
Pertarungan mereka telah berlangsung 15 jurus.
Ki Buyut Mangun Tapa menyapu kaki Arya Pethak. Pemuda tampan itu dengan cepat menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara, bersalto dua kali kemudian melesat turun sembari menghantam tapak tangan nya bertubi-tubi kearah Ki Buyut Mangun Tapa.
__ADS_1
Plak plak plllaaakkkkk!!!
Arya Pethak melompat menjauh dari Ki Buyut Mangun Tapa, usai mendarat Arya Pethak kembali melesat cepat kearah Ki Buyut Mangun Tapa sambil menghantamkan tangan kanannya. Ki Buyut Mangun Tapa menyambut serangan Arya Pethak dengan tapak tangan kanan nya.
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan dahsyat terdengar. Ki Buyut Mangun Tapa terdorong 4 langkah ke belakang sedangkan Arya Pethak terseret gelombang kejut ledakan dahsyat tadi sejauh 5 langkah.
"Hahahaha bagus bagus..
Murid Si Tua Jathayu itu memang pantas di sebut pendekar pilih tanding", Ki Buyut Mangun Tapa tertawa lepas sambil berjalan mendekati Arya Pethak yang terlihat menata nafas nya.
Semua orang merasa lega setelah melihat pertarungan mereka berakhir.
"Sekarang katakan, mau apa kau kemari anak muda?", Ki Buyut Mangun Tapa tersenyum penuh arti.
"Tujuan saya kemari adalah untuk meminta bantuan dari Resi Buyut Mangun Tapa untuk memberikan Air Mata Suci Bidadari. Seorang kawan saya terkena kutuk pasu dari Raja Iblis Gunung Damalung.
Menurut Resi Jati Waluyo dari Bukit Tunggul, hanya Air Mata Suci Bidadari saja yang mampu membebaskan kawan saya dari belenggu kutuk pasu itu, Resi", jawab Arya Pethak dengan cepat.
Hemmmmmmm..
"Gendrawana keparat!
Sudah tua tapi masih saja bikin ulah. Dasar sial!
Baiklah, akan ku berikan Air Mata Suci Bidadari untuk mu tapi aku punya satu syarat untuk mu", ujar Ki Buyut Mangun Tapa sambil tersenyum tipis.
"Apa syarat nya Resi?", Arya Pethak menatap ke arah Ki Buyut Mangun Tapa dengan penuh harap.
"Kau ikut dalam uji kemampuan beladiri di Istana Atap Langit sebagai wakil Perguruan Gunung Ciremai sepekan lagi.
Kalau kau bisa menjadi pemenangnya, Air Mata Suci Bidadari akan ku berikan pada mu", Ki Buyut Mangun Tapa mengelus jenggot panjang nya.
"Kalau begitu, aku bersedia untuk menjadi perwakilan dari Perguruan Gunung Ciremai tapi dengan satu syarat pula Resi Buyut..", Arya Pethak menggaruk kepalanya.
"Belegug sia!
Apa syaratnya??", Ki Buyut Mangun Tapa menatap ke arah Arya Pethak yang senyum senyum sebelum bicara.
"Ajari aku Ajian Halimun"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bonus chapter ya untuk reader setia semuanya.
Selamat malam Minggu. 🙏🙏🙏