
Blllaaaaaarrr thraakkkk !
Satu belati yang di pantulkan oleh si gembel tua berseruling perak itu hancur berkeping di udara, setelah si lelaki bertubuh gempal itu menahan nya dengan hantaman tenaga dalam tingkat tinggi nya. Sedangkan satu belati lagi terus meluncur ke arah si lelaki bertubuh gempal itu hingga memaksanya berjumpalitan beberapa kali ke belakang menghindari belatinya sendiri.
Chhreepppppph !
Belati itu akhirnya menancap pada batang pohon waru yang ada di belakang si lelaki bertubuh gempal berbaju merah tua itu. Si lelaki bertubuh gempal itu mendengus keras lalu menatap tajam ke arah si gembel tua berseruling perak itu dengan penuh keinginan untuk membantai nya.
Dia adalah Kudha Bhirawa, murid seorang pendekar besar golongan hitam yang bernama Gagak Abang dari pesisir selatan Pulau Jawa tepatnya dari wilayah Karang Popoh. Dua purnama yang lalu, Gagak Abang yang berjuluk Pendekar Guling Bumi terbunuh dalam pertarungan melawan Si Gembel Tua Berseruling Perak di Alas Kaliwungu dekat perbatasan wilayah antara Pakuwon Ngrowo dan Tanah Perdikan Lodaya.
Sebenarnya itu juga bukan salah dari Gembel Tua Berseruling Perak itu karena Gagak Abang alias Pendekar Guling Bumi sendiri yang mencari perkara. Asal tahu saja, Gagak Abang adalah pendekar tua yang cabul. Seringkali dia memperkosa anak gadis yang di jumpai nya tanpa pandang bulu. Bahkan dia pernah membantai serombongan prajurit Pakuwon Ngrowo hanya demi bisa meniduri seorang gadis cantik yang akan di nikahkan dengan putra Akuwu Ngrowo. Para prajurit Pakuwon Ngrowo terbunuh semuanya. Setelah di perkosa oleh Gagak Abang, gadis cantik asal Desa Besole itu akhirnya memutuskan untuk bunuh diri di tempat itu juga. Hal ini yang menyebabkan Gagak Abang begitu di cari oleh orang orang Pakuwon Ngrowo untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Dua purnama sebelumnya, Gagak Abang tertarik untuk memperkosa anak gadis Lurah Desa Kaliwungu yang baru pulang dari sungai usai mencuci. Kebetulan saja Gembel Tua Berseruling Perak yang sedang lewat, menolong gadis cantik itu hingga terjadilah pertarungan sengit antara mereka. Gagak Abang terbunuh dan mayatnya di lemparkan ke dalam rawa rawa yang penuh dengan buaya.
Kudha Bhirawa mendengar berita kematian guru nya, langsung bergerak mengejar Gembel Tua Berseruling Perak itu. Berhari-hari mengejar dan melacak keberadaan Gembel Tua Berseruling Perak itu, akhirnya Kudha Bhirawa berhasil menemukannya di sisi selatan Sungai Brantas.
"Gembel tua!
Hari ini aku pasti akan membalas dendam kematian guru ku Gagak Abang padamu. Bersiaplah untuk menemani guru ku di alam keabadian", teriak Kudha Bhirawa sembari melesat cepat kearah lelaki bertubuh kurus dengan pakaian penuh tambalan itu. Secepat kilat Kudha Bhirawa mencabut sepasang pedang pendek yang tersarung di pinggangnya.
Shreeeeettttthhh !
Thrrriiinnnggggg !!
Satu tebasan pedang pendek Kudha Bhirawa langsung mengarah ke leher. Gembel Tua Berseruling Perak dengan cepat memutar seruling nya dan menangkis sabetan pedang pendek dari tangan kanan Kudha Bhirawa.
Satu pedang pendek di tangan kiri Kudha Bhirawa langsung mengarah ke perut Gembel Tua Berseruling Perak itu. Melihat itu, Gembel Tua Berseruling Perak langsung menjejak tanah dengan keras hingga tubuhnya melenting tinggi ke udara untuk menghindari sabetan pedang pendek ke arah perut dan mendarat sejauh dua tombak di belakang Kuda Bhirawa.
Secepat kilat, Kudha Bhirawa berguling ke tanah lalu menebas kaki kanan kiri dengan serangan beruntun.
Shhretttt ! Shhretttt !!
Dengan lincah, Gembel Tua Berseruling Perak itu menghindari sabetan pedang pendek milik pria bertubuh gempal itu lalu dengan cepat ia bergerak cepat ke atas tubuh Kudha Bhirawa sembari menghantam bahu kanan sang lawan.
Bhhhuuuuuuggggh!
Kudha Bhirawa terguling ke depan begitu merasakan sesuatu kekuatan besar yang menghajar bahu kanan nya seperti sebuah balok kayu besar menghantam. Pria bertubuh gempal itu segera berjongkok sambil memegang bahunya yang sakit luar biasa. Dari sudut bibirnya ada darah segar keluar.
Dengan cepat, Kudha Bhirawa memasukkan sepasang pedang pendek nya ke pinggang lalu segera kedua tangan tangan menangkup di depan dada. Selarik sinar merah berkumpul di kedua telapak tangan pria bertubuh gempal itu dengan berselimut hawa panas menyengat.
"Ajian Segoro Geni..
Kau memang murid si bejat Gagak Abang!", gumam Si Gembel Tua Berseruling Perak itu sembari menempelkan seruling perak ke bibirnya.
Suara seruling mengalun indah bersamaan dengan hawa aneh yang seperti mampu merusak gendang telinga dan menghancurkan jiwa. Seolah-olah itu adalah bunyi dari neraka yang penuh dengan hawa kematian.
Arya Pethak yang melihat pertarungan itu dari balik batu besar di samping pohon beringin yang cukup jauh dari tempat pertarungan itu harus mengeluarkan tenaga dalam nya agar tidak terpengaruh oleh suara seruling perak. Anjani, Sekarwangi dan Nay Kemuning langsung menutup kedua telinga mereka rapat-rapat agar suara seruling yang mirip seperti suara malaikat pencabut nyawa itu masuk dalam otak mereka. Klungsur dan Nirmala yang tenaga dalam nya paling rendah sampai harus menggunakan baju mereka untuk menambah tangan yang menempel di telinga.
__ADS_1
Kudha Bhirawa yang hendak maju pun akhirnya buyar rapalan nya ketika suara seruling perak dari pria berpakaian penuh tambalan dan compang camping itu mengalun. Dia pun ikut membekap kedua telinga nya untuk menahan serangan suara seruling. Dari hidung, mulut dan telinga nya perlahan darah merembes keluar.
Begitu Gembel Tua Berseruling Perak menghentikan tiupan seruling perak nya, Kudha Bhirawa langsung terjatuh ke tanah.
Sedangkan Si Gembel Tua Berseruling Perak yang berdiri tak jauh dari nya mengangkat sedikit caping bambu nya yang berlubang sembari tersenyum tipis.
"Kau belum waktunya melawan ku, anak muda!
Kembali lah berlatih lagi jika ingin bertarung dengan ku. Aku pasti bersedia kapan pun kau siap", ucap Si Gembel Tua Berseruling Perak segera.
"Kali ini aku kalah dengan mu, Gembel Tua.
Suatu saat akan ku balas kematian guru ku", ucap Kudha Bhirawa sembari berdiri dan berjalan sempoyongan meninggalkan tepi Sungai Brantas.
Setelah Kudha Bhirawa tak terlihat lagi, Gembel Tua Berseruling Perak mengalihkan pandangannya ke sebuah batu besar.
"Apa sudah cukup puas kalian melihat pertunjukan tadi?"
Mendengar perkataan itu, Arya Pethak dan ketiga istrinya bersama Klungsur dan Nirmala keluar dari balik batu besar di samping pohon beringin.
"Maafkan kami, Pendekar..
Kami hanya tidak ingin mengganggu pertarungan kalian jadi kami memilih untuk tidak ikut campur", ucap Arya Pethak dengan sopan. Dia tahu bahwa lelaki bertubuh kurus dengan pakaian compang camping di hadapannya bukan lelaki sembarangan.
"Jangan terlalu merendah, pendekar muda.
Huuuuooogggghhh !
Si Gembel Tua Berseruling Perak itu muntah darah kehitaman pertanda dia sedang mengalami cedera dalam yang serius. Arya Pethak dengan cepat menyambar tubuh tua yang hendak roboh itu.
"Kakek tua, kau kenapa?", tanya Arya Pethak segera.
"Uhukk uhuukkkk...
Dua purnama yang lalu aku bertarung melawan guru lelaki yang bertarung dengan ku tadi. Aku sebenarnya terluka parah meski berhasil membunuh bajingan cabul keparat itu. Aku sudah mencoba berbagai cara untuk mengobati luka dalam ku, tapi sepertinya Ajian Segoro Geni berhasil melukai ku dengan parah", jawab Gembel Tua Berseruling Perak seraya menyingkap bajunya yang menutupi sebagian dadanya.
Separuh dada kanan Gembel Tua Berseruling Perak itu terlihat hangus seperti terbakar api. Selepas itu, Gembel Tua Berseruling Perak itu pingsan tak sadarkan diri.
"Wah luka pengemis ini parah sekali Ndoro Pethak", celetuk Klungsur yang ikut melihat keadaan Si Gembel Tua Berseruling Perak.
"Klungsur, kalau bicara soal paman ini yang sopan", hardik Sekarwangi sembari mendelik ke arah abdi setia Arya Pethak itu.
"Oh eh iya Gusti Putri. Maaf ya", balas Klungsur dengan cepat.
"Sudah jangan ribut. Sebaiknya kita cari tempat untuk membantu paman ini", potong Arya Pethak sambil menatap ke arah Gembel Tua Berseruling Perak yang sedang pingsan.
"Kakang Pethak,
__ADS_1
Sepertinya disana ada sebuah rumah. Kita sebaiknya kesana Kakang", ujar Anjani sambil menunjuk ke arah selatan dari tempat itu dimana sebuah bangunan terlihat menyembah diantara rimbun pepohonan yang tumbuh subur.
Mendengar perkataan Anjani, Arya Pethak di bantu Klungsur segera menggotong tubuh Gembel Tua Berseruling Perak itu ke arah yang ditunjukkan oleh Anjani. Sementara itu para perempuan mengurusi barang bawaan dan kuda kuda mereka.
Begitu sampai di tempat yang di maksud, ternyata itu adalah sebuah rumah yang di tinggalkan oleh pemiliknya. Mereka segera berbagi tugas. Klungsur bersama Nay Kemuning dan Nirmala berjalan ke arah kampung terdekat untuk membeli beberapa bahan makanan dan Sekarwangi merebus air menggunakan kuali bekas yang masih bisa digunakan. Sedangkan Anjani mencari beberapa bahan obat di sekitar tempat itu, meski bukan tabib sungguhan tapi pengalaman Anjani ketika mengikuti Dewi Ular Siluman sungguh berguna. Dari gurunya itu dia mengenal aneka dedaunan, akar dan rimpang tumbuhan yang bisa di gunakan sebagai racun juga bisa pula sebagai obat.
Arya Pethak sendiri menotok beberapa titik nadi dan jalan darah Si Gembel Tua Berseruling Perak setelah berhasil di sadarkan dari pingsannya. Dia segera menyalurkan tenaga dalam nya.
Meski berhasil mengeluarkan darah kehitaman yang merupakan akibat hantaman Ajian Segoro Geni, nyatanya keadaan Gembel Tua Berseruling Perak itu belum sepenuhnya pulih. Luka kakek tua itu benar-benar parah.
Anjani dan Sekarwangi yang sudah berhasil membuat obat dari rebusan dedaunan dan akar tumbuhan, berjalan mendekati Arya Pethak dan Si Gembel Tua Berseruling Perak.
"Kakang Pethak,
Aku sudah membuat obat untuk mencegah luka dalam kakek tua ini semakin parah. Minumkan ini padanya", ujar Anjani sambil membawa secangkir obat yang masih hangat bersama Sekarwangi.
"Uhukk uhuukkkk..
Tidak perlu repot-repot lagi kalian mengobati ku. Aku tahu luka dalam ku sangat parah jadi percuma kalian berupaya untuk menolong ku", jawab Gembel Tua Berseruling Perak sembari terbatuk-batuk sembari tergolek tak berdaya. Bibirnya yang pucat tersenyum kecut.
"Kau jangan keras kepala, kakek tua. Oh iya aku belum tahu siapa namamu sebenarnya?", Arya Pethak mencoba membujuknya untuk minum obat buatan Anjani.
"Uhuukkkk Uhuukkkk...
Sebelum aku mati, aku akan memberi tahu kalian nama ku yang sebenarnya. Namaku Kertawahana. Asal ku dari Wengker. Jika kalian ada waktu, tolong berikan ini pada Nyi Suminten di Padukuhan Pulung", ujar Gembel Tua Berseruling Perak itu sembari merogoh kantong baju nya dan mengulurkan sebuah liontin kalung perak dan sebuah surat dari daun lontar yang di bungkus kain merah.
"Sebagai upah perjalanan kalian, uhuk uhuukkkk aku hanya punya seruling perak dan Kitab Ilmu Seruling Neraka ini.
Mohon sampaikan salam ku untuk Nyi Suminten. Bilang padanya bahwa aku sangat mencintainya", usai berkata demikian kepala Gembel Tua Berseruling atau yang bernama asli Kertawahana itu langsung jatuh terkulai. Anjani segera meraba pergelangan tangan Gembel Tua Berseruling Perak itu untuk melihat denyut nadi nya. Begitu sudah tidak ada denyut nadi, Anjani segera menoleh ke arah Arya Pethak sambil menggelengkan kepalanya.
Klungsur, Nirmala dan Nay Kemuning yang baru datang pun tak bisa berkata apa-apa lagi.
Siang itu juga mereka menguburkan mayat Gembel Tua Berseruling Perak di belakang bangunan kosong itu. Arya Pethak menancapkan sebuah batu sebagai pusara terakhir sang pendekar.
"Beristirahatlah dengan tenang, Ki Kertawahana..
Kami pasti akan menyampaikan pesan mu pada Nyi Suminten di Padukuhan Pulung", ucap Arya Pethak sambil menaburkan bunga di atas gundukan tanah yang masih basah. Selanjutnya Arya Pethak berdiri dari samping kuburan Gembel Tua Berseruling Perak lalu berjalan menuju ke arah kudanya karena siang itu juga mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan seperti niat awal.
"Kakang Pethak,
Terus buat apa seruling perak dan Kitab Ilmu Seruling Neraka dan ini?", tanya Sekarwangi sembari mengulurkan dua benda peninggalan Kertawahana itu pada sang suami.
"Itu untuk mu, Sekarwangi..
Sebaiknya kau yang mempelajari nya karena ilmu itu cocok untuk mu", ucap Arya Pethak sambil melompat ke atas kuda nya. Sekarwangi menggaruk kepalanya sebelum memasukkan seruling perak itu ke dalam buntalan kain miliknya.
Mereka bergerak menuju ke arah Wengker.
__ADS_1