Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Dalang


__ADS_3

"Sebaiknya kalian beristirahat barang semalam di istana Kadipaten Kembang Kuning. Kutuk pasu yang di alami oleh murid mu tak akan merenggut nyawa nya, Nyi Sawitri..


Kekuatan ilmu hitam itu hanya mengunci roh murid mu ke dalam alam bawah sadar, jadi kau tak perlu mencemaskan dirinya", ujar Adipati Wiraprabu sambil menatap ke arah Nyi Sawitri.


Setelah mendengar penuturan Adipati Wiraprabu, Nyi Sawitri menarik nafas lega. Dengan seorang prajurit penjaga sebagai pemandu jalan, rombongan Arya Pethak di antar menuju ke arah balai tamu kehormatan Kadipaten Kembang Kuning. Mereka malam ini akan beristirahat di tempat mewah itu.


"Ndoro,


Mumpung ada di kota Kadipaten Kembang Kuning ayo kita jalan jalan. Biar menambah wawasan kita tentang keadaan kota kota di wilayah kerajaan Singhasari ini", ajak Klungsur pada Arya Pethak.


"Tumben sekali ngomong mu benar Sur..


Kamu salah makan ya?", tanya Anjani yang duduk di sebelah Arya Pethak.


"Aku ngomong benar masih juga kau protes to An... Kita keluar dari kota Kadiri kan memang untuk menambah wawasan.


Kalau urusan makan aku memang belum, mungkin Gusti Adipati masih menyiapkan nya untuk kita.


Tapi aku tadi sudah makan gethuk 2 potong, pisang rebus 6 sama itu makanan dari ketela rambat yang di bikin bulat bulat itu habis 4", jawab Klungsur yang membuat Anjani tertawa terpingkal-pingkal mendengar nya.


"Dasar rakus..


Itu makanan untuk 2 orang kau habiskan sendiri masih bilang belum makan? Dasar perut karet", Anjani sampai keluar air mata karena tertawa.


Mendengar ucapan itu, Klungsur kebingungan. Pria bogel itu langsung memegang perut sambil menggaruk kepalanya. Melihat ulah Klungsur, Arya Pethak bertanya pada pemuda bogel yang usianya kurang lebih sekitar 3 dasawarsa ini.


"Kau kenapa Sur? Kog pegang-pegang perut begitu", Arya Pethak sedikit heran.


"Anjani tadi bilang perut ku perut karet Ndoro Pethak..


Barusan aku memeriksa nya, ini masih kulit dan daging. Tidak ada karet nya Ndoro. Ah Anjani menipu ku Ndoro Pethak", jawab Klungsur yang langsung membuat Arya Pethak menahan tawanya. Sementara Anjani kembali tertawa terpingkal-pingkal mendengar celotehan Klungsur.


Siang itu, di temani oleh Anjani dan Klungsur, Arya Pethak keluar dari istana Kadipaten Kembang Kuning usai mendapat ijin dari Adipati Wiraprabu. Mereka berjalan berkeliling di sekitar istana hingga ke pelabuhan Tanjung Salaka yang merupakan salah satu pelabuhan besar di wilayah Kerajaan Singhasari setelah Hujung Galuh dan Pelabuhan Halong di Kadipaten Kalingga.


Semasa pemerintahan Prabu Wisnu Wardhana atau juga Prabu Seminingrat yang diteruskan oleh Prabu Kertanegara, Singhasari memang menggalakkan pembangunan kota kota pelabuhan yang merupakan sarana perdagangan dengan negara manca seperti Tiongkok di bawah Dinasti Yuan, Kerajaan Champa dan Siam di semenanjung Indochina, Kerajaan Melayu di Suwarnabhumi, Kerajaan Tanjungpura di Pulau Borneo dan kerajaan tetangga mereka, Galuh Pakuan dan Sunda yang ada di barat Tanah Jawadwipa.


Banyak sekali orang asing yang masuk ke wilayah Singhasari dengan bermacam-macam tujuan. Sebagian besar adalah para peziarah dan mahasiswa yang menuntut ilmu di lembaga pendidikan keagamaan Budha yang banyak tersebar di seluruh wilayah Kerajaan Singhasari. Sebagian kecil merupakan pedagang dari negeri Arab, India dan Gujarat yang menginginkan hasil bumi dari Kerajaan Singhasari seperti lada, merica, emas dan kapas yang merupakan bahan dagangan laris di dunia.


Meski Prabu Kertanegara menganut agama Buddha aliran Tantrayana, namun raja muda itu begitu menghormati agama lain yang lebih dulu masuk ke Tanah Jawadwipa yaitu Agama Hindu dengan berbagai macam aliran nya. Sehingga bisa di katakan bahwa wilayah Singhasari aman tentram meski memiliki dua agama yang dianut para penduduk nya.


"Ndoro Pethak,


Rupanya banyak orang asing yang dat ke negeri kita ini ya? Di kota Kadiri tidak sebanyak ini", ujar Klungsur sembari menatap ke arah seorang lelaki bermata sipit yang tengah asyik menghitung jumlah dagangan dengan sempoa nya.


"Kota pelabuhan ya seperti ini Sur, banyak pedagang dari negeri asing yang datang untuk berdagang dengan kita.


Mereka membeli barang dagangan dari kita dan menjual nya lagi di daerah mereka. Nah mereka membeli dengan harga murah dan menjualnya lagi dengan harga tinggi. Dari keuntungan itu mereka bisa menjadi kaya raya", Arya Pethak terus melangkah diikuti oleh Klungsur dan Anjani.


"Wah mereka menipu kita dong Ndoro..


Beli murah, jual mahal. Mereka tidak boleh dibiarkan begitu saja Ndoro", Klungsur hendak bergerak langsung di cekal oleh Arya Pethak.


"Kau jangan bodoh, pedagang memang seperti itu. Apa kau pikir mereka tidak memiliki resiko dalam pekerjaannya?


Dari sini ke negara mereka setidaknya butuh waktu 6 purnama. Mereka harus meninggalkan keluarga dan sanak saudara, mengarungi lautan luas juga masih beresiko di rampok orang di tengah jalan.


Belum lagi mereka harus mengeluarkan uang banyak untuk membeli barang dagangan dari masyarakat pribumi. Coba kalau kau yang seperti itu, apa kau masih sanggup?", Arya Pethak tersenyum tipis.


"Ah gak deh Ndoro, ampun..


Saya pilih ikut Ndoro Pethak saja. Jadi pendekar untuk membasmi kejahatan. Kalau jadi pedagang seperti itu, pusing aku", jawab Klungsur sambil menggaruk kepalanya.


Mereka bertiga terus berkeliling di sekitar istana Kadipaten Kembang Kuning, menunggu sore sembari menikmati keindahan kota.


****


Huhuhuhuhuhuu...


Tangis seorang perempuan terdengar dari sudut istana Kadipaten Kembang Kuning. Seorang perempuan cantik tapi sudah berumur nampak menangis sesenggukan di pojok taman sari istana.


"Sudah hentikan tangisan mu, Kanjeng Biyung..

__ADS_1


Nanti kalau Kanjeng Romo sampai tahu, akan jadi masalah besar", ucap seorang pemuda tampan dengan pakaian mewah layaknya seorang bangsawan, namun sayangnya pemuda ini lemah yang bisa di lihat dari wajahnya yang pucat. Di kepala pemuda tampan itu terdapat sebuah mahkota yang merupakan lambang resmi putra mahkota Kadipaten Kembang Kuning.


"Tutup mulut mu, Wirajaya. Kau tidak mengerti apa yang tengah aku rasakan.


Kangmas mu di bunuh oleh orang suruhan Wira Ganggeng. Apa kau tidak merasakan apa-apa sama sekali ha? Huuu huuuu... huuu huuuu...", tangis perempuan itu kembali terdengar sembari memarahi anak nya. Dia adalah Dewi Sekar Rinonce, ibu Raden Margapati yang baru saja tewas di tangan Arya Pethak.


"Tapi Kanjeng Biyung, Kangmas Margapati memberontak..


Andai saja pendekar muda teman Wira Ganggeng tak menghentikan nya, pasti dia sudah menyerbu kemari. Bahkan mungkin dia akan membunuh ku jika berhasil masuk ke istana ini.


Kanjeng Biyung tidak boleh pilih kasih begitu ", ujar Raden Wirajaya dengan cepat.


"Tutup mulut mu, anak bodoh...


Aku benar benar menyesal karena punya anak tak berguna seperti dirimu. Pergi kau dari sini ", usir Dewi Sekar Rinonce dengan mata sembab karena tangisannya. Tak mau memperpanjang masalah, Raden Wirajaya segera meninggalkan taman sari istana.


Dewi Sekar Rinonce dengan cepat menghapus sisa air mata yang membasahi pipinya.


'Margapati, ibu akan membalaskan dendam mu nak.. Kau tenang saja', batin Dewi Sekar Rinonce sembari bergegas masuk ke dalam kamar tidur nya. Permaisuri Adipati Wiraprabu itu segera meraih daun lontar dan menulis beberapa kata diatasnya kemudian memasukkan nya ke dalam kain merah pembungkus nawala.


Dengan bergegas, dia segera memanggil dayang istana kepercayaan nya untuk datang.


"Padmi,


Antarkan surat ini pada Juragan Bandil.. Bilang kalau dia bisa melaksanakan tugas dengan baik, istana Kembang Kuning akan berterima kasih", perintah Dewi Sekar Rinonce sembari mengulurkan kantong kain merah pada abdi setia nya itu.


"Baik Kanjeng Ratu", ujar dayang istana yang bernama Padmi itu segera. Perempuan berkulit sawo matang itu segera melangkah keluar dari istana Kadipaten Kembang Kuning menuju ke sebuah tempat pelacuran yang ada di dekat pelabuhan Tanjung Salaka.


Selama ini, ada hubungan tersembunyi yang menghubungkan antara Dewi Sekar Rinonce dengan kelompok yang tidak suka dengan pemerintahan Adipati Wiraprabu. Melalui Juragan Bandil, Dewi Sekar Rinonce mengatur pergerakan bawah tanah dari balik tembok istana Kadipaten Kembang Kuning. Meski dia telah mempunyai dua anak dari Adipati Wiraprabu dan mendapat kedudukan sebagai permaisuri, Dewi Sekar Rinonce masih memiliki hasrat untuk melenyapkan Adipati Wiraprabu yang sudah membunuh Janggan Manoreh, lelaki yang sangat dicintainya. Namun dia ingin agar kematian Wiraprabu di lakukan oleh orang lain, agar saat dia mengambil alih istana semua orang akan melihat nya sebagai janda mendiang Adipati, bukan sebagai pemberontak. Jika di telusuri sebenarnya, Dewi Sekar Rinonce lah dalang sesungguhnya di balik pemberontakan Raden Margapati.


Pergerakan Raden Margapati sendiri sebenarnya mendapat sumbangan dana dari rumah pelacuran Nyi Pangkur yang di kendalikan oleh Dewi Sekar Rinonce sebagai tambang keuangan untuk mendanai semua kegiatan bawah tanah nya. Kematian Raden Margapati adalah pukulan terbesar dalam pergerakan bawah tanah Dewi Sekar Rinonce.


Padmi dengan cepat berjalan tergesa-gesa menuju ke arah rumah pelacuran Nyi Pangkur sambil sesekali menoleh ke belakang. Dia merasa ada yang sedang mengikuti nya.


Dua penjaga berbadan besar langsung membuka pintu gerbang rumah itu saat Padmi membuka kerudung hitam yang menutupi sebagian wajah nya. Perempuan itu segera masuk ke dalam rumah pelacuran Nyi Pangkur.


Sepasang mata terus menatap ke arah rumah pelacuran itu tatapan penuh selidik.


Setelah Padmi pergi, Juragan Bandil segera keluar dari rumah Nyi Pangkur di temani oleh seorang centeng berbadan gempal. Mereka berdua dengan cepat memacu kuda mereka menuju ke arah Utara dekat pelabuhan Tanjung Salaka.


Sepasang mata itu terus mengikuti pergerakan Juragan Bandil dari kejauhan.


Di depan sebuah penginapan yang penuh dengan orang-orang asing, Juragan Bandil melompat turun dari kudanya diikuti oleh sang centeng. Mereka segera masuk ke dalam penginapan yang memang menjadi tempat para pedagang asing bermukim sambil menunggu angin tenggara yang akan membawa mereka pulang ke negerinya.


"Oi oi oi..


Haiya Juragan Bandil, we olang ada urusan kemari wo? Ada pekerjaan untuk kami ya?", sambut seorang lelaki bertubuh kekar dengan mata sipit dan kulit kuning nya. Dia adalah Liu Shing, kepala keamanan Saudagar Hong Yi dari daratan Tiongkok. Dia terkenal karena kepandaian ilmu kungfu nya yang membuat semua pengawal dari Tiongkok segan kepada nya hingga mendapat panggilan tetua dari para pengawal lain yang ada di Pelabuhan Tanjung Salaka. Liu Shing beberapa kali di bayar Juragan Bandil untuk melakukan pekerjaan kotor.


Melihat kedatangan Juragan Bandil, Liu Shing segera memberikan isyarat kepada kawan kawan nya untuk meninggalkan tempat itu.


"Saudara Liu Shing sungguh cerdas melihat situasi.


Begini saudara Liu Shing, majikan ku ingin kau menghabisi nyawa seseorang. Apa kau bisa membantu ku?", Juragan Bandil menatap wajah Liu Shing segera. Pria paruh baya berkumis tipis itu segera duduk di kursi depan kamar peristirahatan Liu Shing.


"Juragan Bandil adalah kawan baik Liu Shing. Urusan itu bisa owe tangani dengan cepat asal bayaran nya cocok", Liu Shing tersenyum licik.


Tanpa banyak bicara, Juragan Bandil langsung mengeluarkan sekantong kepeng emas dari balik baju dan meletakkannya di atas meja. Dengan cepat Liu Shing menyambar kantong kain di atas meja. Mata sipit Liu Shing langsung melebar ketika melihat puluhan kepeng emas ada di dalam kantong kain itu.


"Juragan Bandil,


Bunuh satu olang saja kenapa bayaran nya banyak sekali? Owe jadi curiga ini", Liu Shing segera menatap ke arah Juragan Bandil.


"Orang yang ingin di bunuh ada dalam istana Kadipaten Kembang Kuning, saudara Liu Shing.


Tapi kau tenang saja, mereka bukan kerabat dekat istana. Dia hanya seorang tamu yang tinggal di balai tamu kehormatan saja. Namanya Arya Pethak", ujar Juragan Bandil dengan cepat.


"Hemmmmmmm olang yang tinggal dalam balai tamu kehormatan pasti olang penting. Dia pasti punya ilmu kungfu tinggi.


Owe minta bantuan saudara owe untuk tugas ini, jadi owe minta tambahan uang bayaran", Liu Shing segera mengulurkan tangannya ke arah Juragan Bandil. Meski terlihat kesal dengan ulah Liu Shing, Juragan Bandil kembali merogoh kantong baju nya dan mengeluarkan sekantong kepeng perak pada Liu Shing.


Melihat itu, Liu Shing tersenyum lebar. Dia sangat senang mendapatkan uang dengan cara mudah. Lagipula selama ini dia tidak pernah gagal membunuh orang.

__ADS_1


Usai urusan dengan Liu Shing selesai, Juragan Bandil segera kembali ke tempat pelacuran Nyi Pangkur untuk meneruskan acara nya yang terganggu dengan kedatangan Padmi tadi.


Hari semakin gelap. Senja yang turun mulai digantikan oleh malam yang gelap.


Arya Pethak tengah berbincang dengan Klungsur di beranda balai tamu kehormatan bersama Anjani. Nyi Sawitri sendiri sejak ada Rara Larasati yang sedang terkena kutuk pasu jarang mau berkumpul bersama mereka. Dia lebih suka menghabiskan waktu menemani Rara Larasati. Pun juga dengan Randu Para yang sangat susah berpisah dengan Seta Wahana.


Enam orang berpakaian serba hitam, menutupi separuh wajah nya dengan kain merah bergerak cepat dari arah utara Kota Kadipaten Kembang Kuning. Gerakan tubuh mereka begitu lincah menggunakan kegelapan malam untuk menyembunyikan diri.


Tak berapa lama enam orang itu bergerak cepat menuju ke arah istana Kadipaten Kembang Kuning. Begitu sampai di dekat tembok istana Kadipaten Kembang Kuning, salah seorang dari kelompok orang itu yang ternyata adalah Liu Shing memperhatikan keadaan penjagaan istana yang longgar. Terlihat hanya dua orang prajurit penjaga pintu gerbang istana bagian barat sedang duduk bersantai sambil menikmati makanan.


'Kenapa penjaga nya sepi sekali? Apa mereka terlalu percaya diri dengan keamanan istana ini? Ini sedikit aneh..


Tapi sudahlah, dasar orang orang bodoh. Kalau sampai tamu kehormatan mereka terbunuh,biar tahu rasa hehehe', batin Liu Shing sembari memberikan isyarat kepada kawan kawan nya untuk melompat ke atas tembok istana.


Dari atas tembok istana, mereka melihat 3 orang tengah berbincang di serambi. Salah seorang kawan Liu Shing yang bernama Ma Huang langsung memasang tiga anak panah pada senapan busur panah yang sedang terkenal di Tiongkok kala itu.


Dengan cepat Ma Huang menembakkan anak panah nya ke arah Arya Pethak, Klungsur dan Anjani.


Shhhrriinggg shriingg shriingg!!!


Anak panah melesat ke arah Arya Pethak. Bersamaan dengan itu, Liu Shing, Ma Huang, Guo Feng dan ketiga kawan mereka melesat cepat kearah Arya Pethak dan kawan-kawan di serambi balai tamu kehormatan dengan senjata terhunus.


Arya Pethak dengan cepat mengibaskan tangan kanan nya saat mendengar desir angin kencang kearah mereka. Serangkum angin kencang berhawa panas menderu kencang menghantam 3 anak panah Ma Huang.


Traaakkkkkkk thaakkkk!!


Tiga anak panah itu langsung hancur berantakan di udara. Setelah menghirup udara, Arya Pethak langsung menghantamkan tangan kiri nya kearah Liu Shing dan kawan kawan nya dengan Ajian Guntur Saketi.


Shiiiuuuuuuuuttttt!!


"Cepat kita olang menghindar!" teriak Liu Shing yang membuat kelima kawannya berpencar menghindari sinar putih kebiruan seperti petir menyambar ke arah mereka.


Blllaaammmmmmmm!!!


Ratusan prajurit Kadipaten Kembang Kuning langsung mengepung tempat itu bersamaan saat ledakan dahsyat Ajian Gunung Saketi itu terdengar. Rupanya kedatangan Liu Shing dan kawan-kawan nya memang sengaja di biarkan agar keenam orang itu masuk ke dalam tembok istana lebih dulu.


Ma Huang yang paling dulu melihat pergerakan prajurit Kembang Kuning langsung berteriak lantang pada Liu Shing.


"Tetua Shing, kita di kepung!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tetap semangat jangan mudah menyerah. Apapun yang terjadi hari ini adalah berkah bagi kehidupan kita hari esok.

__ADS_1


__ADS_2