Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Delapan Setan Pencabut Nyawa


__ADS_3

Klungsur langsung garuk-garuk kepala mendengar jawaban ketiga perempuan cantik itu. Dengan malu-malu dia ikut mengintip pergerakan prajurit Anjuk Ladang yang tengah mengepung Penginapan Kembang Sore.


Di lain kamar, Baung Sekati mendengus keras. Tak dia duga bahwa rencana pelarian nya terendus oleh Bekel Regol dan Simo Bogang.


"Brengsek!


Rupanya orang-orang Anjuk Ladang itu cepat juga. Mau tidak mau kita harus mencari celah dari pengepungan dan kabur dari tempat ini", umpat Baung Sekati. Tangannya menggebrak pegangan kursi hingga hancur.


"Rukmono,


Ilmu meringankan tubuh mu yang paling tinggi. Naiklah ke atas atap bangunan ini, lihat dan perhatikan bagian mana yang bisa kita terobos", Baung Sekati menoleh ke Rukmono yang merupakan orang kepercayaannya.


Rukmono mengangguk mengerti dan dengan cepat keluar dari kamar menuju ke taman yang ada di tengah penginapan. Satu hentakan keras dan tubuh kekar Rukmono melenting tinggi ke udara lalu mendarat di atap penginapan yang terbuat dari daun alang-alang kering.


Dari atas bangunan, Rukmono melihat Nyi Arum Dalu dan Ki Panggih sedang bersimpuh di hadapan Bekel Regol. Sepertinya teriakan Regol membuat Nyi Arum Dalu panik karena takut di tuduh bersekongkol dengan orang yang di maksud bekel prajurit Anjuk Ladang itu.


"Benar kau tidak tahu apa apa, Nyi?", tanya Bekel Regol sambil mendelik tajam pada wanita paruh baya yang bersimpuh di atas tanah becek itu dengan keras.


"Benar Gusti Bekel,


Hamba benar benar tidak tahu dengan siapa orang yang Gusti Bekel maksud. 28 kamar penginapan kami ada orang nya semua", jawab Nyi Arum Dalu dengan penuh ketakutan.


"Setidaknya ada 7 sampai 8 orang yang berombongan masuk ke penginapan mu. Coba kau ingat ingat lagi Nyi..", kembali Bekel Regol menatap tajam ke arah Nyi Arum Dalu.


Perempuan paruh baya itu nampak berpikir keras. Ki Panggih yang berada di dekatnya pun tiba tiba teringat rombongan yang sudah dua hari menginap di tempat mereka.


"Maaf Gusti Bekel,


Sepertinya hamba ingat bahwa dua hari yang lalu, ada rombongan berkuda sejumlah 8 orang menginap di penginapan kami. Sampai saat ini mereka masih menempati 8 kamar paling ujung timur penginapan ini", ujar Ki Panggih sambil menghormat pada Bekel Regol. Mendengar omongan Ki Panggih, Bekel Regol langsung menarik kesimpulan bahwa kelompok pembunuh Tumenggung Kebo Biru itu memang sudah merencanakan nya beberapa hari sebelumnya.


Dia pun tak bisa menyalahkan sepenuhnya para prajurit pengawal pribadi Tumenggung Kebo Biru karena adik ipar Adipati Gajah Panggung itu memang susah di atur. Pun dari sini juga terbukti bahwa Nyi Arum Dalu dan Ki Panggih tidak terlibat dalam pembunuhan itu, hanya ketiban sial saja karena 8 Setan Pencabut Nyawa itu bermalam di penginapan mereka.


Rukmono terus memperhatikan gerak-gerik mereka. Dia menoleh ke arah sisi selatan penginapan adalah sisi yang paling mudah mereka tembus untuk melarikan diri. Segera dia melompat turun dari atap bangunan penginapan dan segera menemui Baung Sekati.


"Kakang Baung,


Sisi selatan adalah yang paling lemah. Kita bisa kabur lewat sana", lapor Rukmono sambil menghormat pada pimpinan 8 Setan Pencabut Nyawa itu.


"Bagus,


Tapi sebelum kita keluar dari tempat ini, kita bantai dulu orang orang di tempat ini agar tidak menjadi saksi mata keberadaan kita. Ingat kata pelindung besar untuk menghilangkan jejak sebisa mungkin ", perintah Baung Sekati sambil menghunus pedang di tangan kanannya juga sebuah senjata genggam berupa cakar berujung 4 pada tangan kirinya.


Para anggota 8 Setan Pencabut Nyawa segera menyeringai lebar kemudian mencabut senjata mereka masing-masing begitu mendengar perintah Baung Sekati. Mereka dengan cepat bergerak menyebar ke seluruh Penginapan Kembang Sore untuk menghabisi nyawa para tamu penginapan itu.


Rukmono langsung bergerak cepat ke kamar sebelah tempat mereka berkumpul. Dengan cepat ia menendang pintu kamar tidur.


Brrruuuaaaaakkkkh!!!


Rukmono langsung membabatkan sabitnya ke arah ranjang. Sabetan sabit panjang nya ternyata hanya membabat bantal tidur yang di tutupi selimut.


"Bangsat!


Kamar ini kosong! Pasti mereka yang mencuri dengar tentang kegiatan kami. Kurang ajar!", umpat Rukmono yang segera melompat keluar dari kamar tidur itu.


"Kakang, kamar ini kosong!", teriak Paksi Biru yang baru saja keluar dari kamar sebelahnya.


"Disini juga Kakang Rukmono", sahut Bajul Putih sambil menenteng gada di tangan kanannya. Dia baru saja mendobrak pintu kamar Anjani.


Pandangan Rukmono langsung tertuju pada salah satu kamar tidur yang ada di sudut. Lampu sentir minyak jarak nya menyala dan sepertinya tidak ada pergerakan sama sekali. Dengan perlahan, Rukmono mendekati kamar itu sambil memberikan isyarat tangan kepada Bajul Putih dan Paksi Biru untuk mengikuti nya.


Di dalam kamar itu, Arya Pethak dan kawan-kawan nya sudah bersiap menyambut kedatangan serangan yang sewaktu waktu mungkin terjadi. Klungsur sendiri sudah memegang kursi kayu yang akan di gunakan untuk membela diri.


Begitu Rukmono sudah mendekati pintu kamar, dia segera memberi isyarat kepada Bajul Putih untuk mendobrak pintu kamar pojokan. Tanpa berpikir panjang, Bajul Putih langsung menendang pintu kamar tidur pojokan itu sekuat tenaga.


Brrraaaakkkkkkkk!!!


Pintu kamar tidur pojokan langsung terbuka lebar karena palang pintu tidak mampu menahan kuatnya tenaga tendangan Bajul Putih. Namun saat Bajul Putih melesat masuk, Klungsur yang sedari tadi sudah bersiap langsung mengepruk kepala Bajul Putih dengan kursi kayu jati yang ada di tangan nya.


Brrruuuaaaaakkkkh!!!


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Bajul Putih melengguh keras dan terjengkang ke belakang. Kepalanya pecah berlumuran darah. Meski masih hidup, luka akibat keprukan kursi kayu jati Klungsur cukup parah untuk membuat anggota 8 Setan Pencabut Nyawa itu tewas.


"Bangsat!


Ku bunuh kau keparat!", teriak Paksi Biru yang merupakan kawan dekat Bajul Putih. Dia sangat geram melihat kematian sahabat karibnya itu. Segera dia melesat cepat kedalam kamar. Namun kali ini Anjani yang maju. Dengan cepat, murid Dewi Ular Siluman itu langsung merogoh senjata rahasia berupa pisau pisau kecil yang tersimpan rapi di balik bajunya.


Dengan satu gerakan cepat, Anjani melemparkan 8 pisau kecil ke arah Paksi Biru.


Shriingg shriingg!!


Desiran angin dingin yang tajam dirasakan oleh Paksi Biru. Lelaki itu segera menghentikan langkahnya dan mundur sembari memutar pedang pendek nya untuk menangkis pisau pisau kecil yang melesat cepat kearah nya.

__ADS_1


Thrrriiinnnggggg thrrriiinnnggggg!


6 pisau kecil berhasil di tangkis. Satu pisau menancap pada bahu kiri Paksi Biru dan satu lagi berhasil menyayat lengan kanannya. Sambil memegangi pisau kecil yang menancap di bahu kiri nya, Paksi Biru yang berhasil mundur nampak meringis menahan sakit.


Melihat keadaan Paksi Biru, Rukmono langsung berteriak marah.


"Bangsat!!


Kalau pendekar keluar lah dari tempat persembunyian mu!", Rukmono mendelik tajam ke arah pintu kamar saat Arya Pethak, Klungsur, Anjani, Sekarwangi dan Paramita menampakkan diri.


"Sebenarnya kami malas untuk ikut campur dalam urusan kalian tapi kalian sendiri yang cari gara gara dengan mengganggu kami", ujar Arya Pethak sambil menatap ke arah Rukmono. Sisa anggota Setan Pencabut Nyawa langsung berkumpul di sana termasuk Baung Sekati begitu Rukmono berteriak. Melihat mayat Bajul Putih, mereka langsung mendidih darah nya.


"Rukmono,


Siapa yang berani membunuh Bajul Putih?", tanya Baung Sekati segera. Rukmono langsung menunjuk ke arah Arya Pethak.


"Dia orangnya Kakang", jawab Rukmono sambil menyeringai lebar ke arah Arya Pethak. Baung Sekati langsung menoleh ke arah seorang pemuda tampan berbaju putih dengan ikat kepala biru yang nampak tenang menatap anggota Setan Pencabut Nyawa di depannya.


Cahaya bulan purnama yang mengintip dari sela sela awan yang menutupi langit, membuat pandangan Baung Saketi menjadi jelas. Di tambah lampu sentir yang masih menyala semakin menambah suasana terang malam itu.


"Bocah tengik,


Siapa kau? Kenapa kau ingin ikut campur urusan ku?", hardik Baung Saketi sambil mencoba mengingat wajah Arya Pethak.


"Aku Arya Pethak, hanya membela diri. Salah sendiri kenapa mendobrak pintu kamar tidur ku", ujar Arya Pethak dengan tenang.


"Kurang ajar!


Rupanya kau ingin mampus dengan mengenaskan. Ku cincang tubuh mu bangsat!", usai berkata demikian, Baung Saketi melesat cepat kearah Arya Pethak sembari membabatkan pedang nya.


Arya Pethak langsung mencabut Pedang Setan di punggungnya. Dengan sepenuh tenaga, dia mengayunkan pedangnya kearah pedang Baung Saketi.


Thhraaaangggggggg!!


Melihat serangannya di tangkis, cakar serigala di tangan kiri Baung Saketi mengarah ke perut Arya Pethak.


Dengan cepat, Arya Pethak berkelit sembari melompat menjauh. Baung Saketi terus memburu dengan cepat. Pertarungan sengit tak terelakkan lagi.


Sementara Baung Saketi menghadapi Arya Pethak, Rukmono langsung mencabut golok di pinggangnya dan melesat ke arah Sekarwangi. Putri Patih Pranaraja itu pun langsung bersiap untuk menghadapi sabetan golok dari Rukmono. Seorang anggota Setan Pencabut Nyawa lainnya, Paksi Biru ikut melesat membantu Rukmono mengeroyok Sekarwangi.


Mereka segera beradu ilmu beladiri dengan cepat.


Di sisi lain, dua orang anggota Setan Pencabut Nyawa langsung mengepung Paramita. Anjani pun tak luput dari serangan salah seorang pembunuh. Klungsur pun di buru oleh seorang anggota Setan Pencabut Nyawa yang tersisa. Mereka segera bertarung dengan sengit.


Melihat kawan-kawannya di keroyok, konsentrasi Arya Pethak pecah. Saat Pedang Setan di tangan kanannya berhasil menghadang sabetan pedang dan cakar serigala dari Baung Saketi, mata Arya Pethak melirik Sekarwangi yang keteteran menghadapi Rukmono dan Paksi Biru.


Bhhhuuuuuuggggh..


Saking kerasnya tendangan Baung Saketi, Arya Pethak terpental beberapa tombak hingga menabrak tiang penyangga di depan kamar tidur nya.


Darah menetes dari sudut bibir Arya Pethak. Dengan gusar, pemuda tampan itu mengusap nya dan segera bangkit berdiri. Dia segera merapal mantra Ajian Lembu Sekilan. Selarik sinar kuning keemasan terpancar dari tubuh nya.


Melihat lawan bangkit, Baung Saketi segera melompat ke arah Arya Pethak sambil membabatkan pedang nya ke arah leher lawan. Namun kali ini pemuda tampan itu tidak menghindar.


"Mampus kau keparat!", senyum seringai lebar terukir di wajah Baung Saketi.


Thrrraaannnnggggg!!!


Mata Baung Saketi langsung melebar ketika melihat pedangnya seperti membentur logam keras. Lebih terkejut lagi saat Pedang Setan yang di lapisi tenaga dalam tingkat tinggi terayun ke arah dadanya.


Dengan cepat ia menyilangkan cakar serigala di depan dada nya.


Thrrriiinnnggggg...


Blllaaammmmmmmm!!!


Baung Saketi terlempar jauh dan jatuh pada tanaman bunga di tengah taman penginapan. Seteguk darah segar dia muntahkan.


Sementara Baung Saketi terlempar, Arya Pethak dengan bantuan Ajian Langkah Dewa Angin melesat cepat kearah Sekarwangi yang di keroyok oleh Paksi Biru dan Rukmono.


Sabetan Pedang Setan langsung terarah pada Rukmono yang menyadari kalau ada serangan yang mengancam nyawa nya. Angin dingin berbau busuk menerabas cepat kearah mereka.


Shreeeeettttthhh..


Rukmono langsung menjatuhkan diri menghindari sambaran angin dari Pedang Setan. Dia lolos dari maut tapi tidak dengan Paksi Biru.


Blllaaaaaarrr!!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!!!


Paksi Biru menjerit keras saat angin tajam Pedang Setan merobek punggungnya. Darah segar langsung memancar keluar dari luka yang di alami oleh Paksi Biru. Anggota Setan Pencabut Nyawa itu tewas bersimbah darah.


Arya Pethak tidak berhenti sampai disitu saja. Ia langsung menghantamkan tangan kiri nya yang sudah berwarna biru terang. Ajian Tapak Brajamusti menerabas cepat kearah dua orang yang mengeroyok Paramita.

__ADS_1


Blllaaammmmmmmm!!!


Dua orang anggota Kelompok Setan Pencabut Nyawa itu tak menduga ada serangan, hanya bisa pasrah saat tubuh mereka berdua di tembus oleh sinar biru terang Ajian Tapak Brajamusti. Mereka tewas dengan separuh tubuh hancur berantakan.


Melihat anak buah nya berjatuhan, Baung Saketi langsung melempar pedang nya. Kemudian dia merapal mantra Ajian Cakar Iblis Pencabut Nyawa andalannya. Seluruh jari jemari Baung Saketi berubah warna menjadi biru kemerahan karena sinar biru yang keluar dari telapak tangan nya. Kemudian Baung Saketi langsung melompat tinggi ke udara sambil mengayunkan cakar nya kearah dada Arya Pethak yang tak sempat menghindar lagi.


Shrraaaakkkkhhhh..


Kembali mata Baung Saketi melebar. Ajian Cakar Iblis Pencabut Nyawa yang bahkan mampu merobek lempengan besi bahkan dengan mudah menghancurkan batu besar nyatanya tidak mampu menembus kulit Arya Pethak. Hanya baju putih yang koyak terkena cakar maut nya.


Arya Pethak mendengus keras. Tangan kiri nya dengan cepat menyambar leher Baung Saketi dan mencekik nya dengan keras.


Baung Saketi meronta berusaha untuk melepaskan diri. Namun satu tusukan Pedang Setan membuat Baung Saketi langsung diam.


Jleeeeppppph!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Pimpinan Setan Pencabut Nyawa itu merasakan dingin pedang menembus perutnya. Saat Arya Pethak mencabut pedangnya, darah segar langsung menyembur dari luka yang di derita Baung Saketi. Dengan cepat Arya Pethak membanting tubuh Baung Saketi ke tanah. Sekejap kemudian dia menggelepar lalu diam tak bergerak lagi.


Melihat pimpinan mereka tewas, Rukmono langsung melesat cepat kearah atap bangunan penginapan. Kepandaian ilmu meringankan tubuh nya benar benar membuat dia bisa menyelamatkan diri.


Sisa anggota Setan Pencabut Nyawa yang masih hidup tinggal yang di hajar Klungsur habis-habisan, juga yang terluka parah akibat pisau pisau Anjani.


Dari arah luar, pasukan Anjuk Ladang menyerbu masuk. Mereka segera menghunuskan senjata mereka kearah Arya Pethak dan kawan-kawan nya.


"Menyerahlah!


Lepaskan senjata kalian!", teriak Simo Bogang segera. Arya Pethak segera mengangkat tangan nya usai melemparkan Pedang Setan ke tanah. Begitu pula dengan Sekarwangi, Paramita, Anjani dan Klungsur.


Dari arah luar, Nyi Arum Dalu dan Ki Panggih berjalan masuk mendekati Arya Pethak dan kawan-kawan nya.


"Gusti Bekel, mohon lepaskan mereka..


Gusti Bekel salah tangkap. Mereka berlima bukan rombongan orang yang datang dua hari yang lalu. Mereka baru datang tadi sore.


Nah kalau yang itu, adalah orang yang datang dua hari yang lalu", ujar Ki Panggih sembari menunjuk ke arah mayat Baung Saketi.


Seorang prajurit Anjuk Ladang yang sempat melihat Baung Saketi langsung mendekati Bekel Regol.


"Gusti Bekel,


Orang yang kabur dari kamar Gusti Tumenggung adalah orang yang berbaju hitam itu. Sepertinya orang baju putih ini sudah membantu kita untuk menumpas pembunuh ini", bisik si prajurit bertubuh gempal itu perlahan. Bekel Regol mengangguk mengerti. Segera dia mendekati Arya Pethak.


"Kalian lepaskan pendekar muda ini, dia tidak bersalah..


Pendekar muda terimakasih atas bantuan mu menumpas pembunuh bayaran ini. Mewakili istana Anjuk Ladang aku berterimakasih kepada mu", ujar Bekel Regol sembari membungkukkan badannya. Para prajurit Anjuk Ladang segera menyimpan senjata mereka. Di pimpin Simo Bogang, mereka segera membereskan mayat mayat Setan Pencabut Nyawa. Simo Bogang bahkan memenggal kepala Baung Saketi untuk di haturkan kepada Adipati Gajah Panggung.


Bekel Regol nampak asyik berbincang dengan Arya Pethak di warung makan depan penginapan sembari menunggu para prajurit menyelesaikan tugas mereka.


"Pendekar muda,


Kalau boleh tau, kalian ini hendak kemana?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Apapun yang terjadi pada mu hari ini, tersenyumlah..

__ADS_1


Itu akan menjadi sebuah cerita di masa depan.


Ig author : ebez2812


__ADS_2