Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Anak Buah Raden Ronggo


__ADS_3

Seorang lelaki bertubuh gempal dengan baju gombrong warna hitam yang menutupi hingga ke bawah pantat, menatap tajam ke arah Arya Pethak dan kawan-kawan nya. Matanya nanar menatap ke arah rombongan itu seakan ingin menelanjangi mereka untuk mengetahui siapa jati diri mereka yang sebenarnya.


Kumis nya yang tebal nampak bergerak-gerak seperti kumis seekor kucing yang mengendus aroma ikan dari kejauhan. Ikat kepala hitam nya khas Tanah Wengker nampak hampir menutupi seluruh kepalanya yang berambut ikal dan gondrong.


Dia adalah Suro Handoko, Lurah Desa Pulung yang merupakan tangan kanan Raden Ronggo. Lelaki paruh baya yang rambutnya mulai di tumbuhi uban itu bukanlah pria sembarangan. Namanya sangat terkenal di wilayah Wengker karena selain menjabat sebagai Lurah Desa Pulung, dia juga orang yang di tunjuk sebagai penasehat Akuwu Tapan, Kebo Mlati.


"Siapa kalian? Mau apa masuk ke wilayah Wengker hem?


Tidak sembarang orang di ijinkan masuk ke wilayah Wengker tanpa ijin dari Raden Ronggo", ujar Suro Handoko dengan angkuh.


"Sejak kapan Raden Ronggo yang menjadi penguasa Tanah Wengker, Kisanak?


Setahu ku Raden Ronggo hanya putra selir yang tidak punya hak apapun di Istana Wengker. Seorang keturunan penari tledek yang gatal merayu lelaki tidak pantas memerintah negeri", sahut Ki Simo Biru sembari menatap ke arah Suro Handoko. Mendengar jawaban itu, Suro Handoko dan orang orang nya langsung menatap ke wajah tua Ki Simo Biru yang tak begitu jelas karena tertutup oleh caping bambu.


"Siapa kau? Kenapa kau sok tahu dengan kehidupan istana Wengker?", Suro Handoko penasaran dengan omongan Ki Simo Biru. Mata pria bertubuh gempal itu segera terbelalak lebar saat melihat Ki Simo Biru mengangkat ujung caping bambu nya hingga wajahnya terlihat jelas.


"Bedebah tua!


Rupanya kau masih hidup. Kali ini jangan harap kau bisa kabur lagi. Lurah e, dia adalah Simo Biru anak buah Tumenggung Gunosentiko yang kemarin bisa lolos dari sergapan kita. Saatnya kita menuntaskan tugas dari Raden Ronggo", ujar salah seorang diantara pengikut Suro Handoko yang ikut dalam pembunuhan Tumenggung Gunosentiko.


"Hehehe...


Rupanya cecunguk dari Gunosentiko ya? Baguslah, aku tidak perlu repot-repot mencari mu lagi. Hari ini akan ku antar nyawa mu ke neraka.


Kalian semua, bunuh orang orang ini. Yang bisa membunuh lawan paling banyak akan dapat hadiah kepeng emas dari ku!"


Mendengar perkataan Suro Handoko, wajah para pengikutnya menjadi beringas. Mereka segera mengepung rombongan Arya Pethak dengan senjata terhunus. Suro Handoko tersenyum tipis lalu menggerakkan tangan kanannya ke depan. Itu adalah isyarat untuk menyerang bagi para pengikutnya.


Dua puluh orang berpakaian serba gelap itu langsung menerjang maju.


Arya Pethak yang tidak ingin berlama-lama di tempat itu, langsung menggunakan pelana kuda nya sebagai tumpuan lalu melenting tinggi ke udara sembari merapal Ajian Tapak Brajamusti nya. Sinar biru terang bergulung gulung di kedua tangan nya hingga membuat kedua tapak tangan nya berwarna biru terang dengan hawa panas yang menakutkan.


Dengan cepat putra angkat Mpu Prawira itu segera menghantamkan kedua telapak tangan nya bertubi-tubi kearah para pengepung.


Whuuthhh !


Whuuthhh !


Empat larik sinar biru terang yang berhawa panas di selimuti angin menderu kencang langsung menerabas cepat kearah para pengepung. Mereka yang tidak punya ruang untuk menghindar, hanya bisa mengumpat keras sembari berupaya menahan ilmu kesaktian tingkat tinggi yang di lepaskan oleh Arya Pethak sembari menatap dengan penuh kengerian.


Blllaaammmmmmmm ! blllaammm !


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr !


Tiga orang berbaju hitam langsung hancur tubuhnya saat Ajian Tapak Brajamusti telak menghajar tubuh mereka. Satu lagi bernasib tragis karena sinar biru terang Ajian Tapak Brajamusti membuka lengan kanannya sempal dan tubuhnya terpelanting ke belakang sejauh hampir 3 tombak. Meski masih bernafas tapi keadaan nya benar benar mengenaskan.


Ki Simo Biru yang melihat kejadian itu benar-benar tak menyangka bahwa pemuda yang terlihat kalem ini ternyata adalah seorang pendekar yang berilmu tinggi.


'Hebat sekali dia', gumam Ki Simo Biru sembari melirik ke arah lawan yang dihadapi nya.


Klungsur dengan cepat mengayunkan Gada Galih Asem nya ke arah lawan. Dengan cerdik, lawannya yang bertubuh gempal itu berkelit dan membabatkan golok ke arah punggung Klungsur.


"Mampus kau bogel!", maki si lelaki bertubuh gempal itu sembari membabatkan goloknya.


Bhhhuuuuuuggggh !

__ADS_1


Mata si gempal langsung melotot lebar saat melihat goloknya yang tajam tak mampu merobek kulit punggung Klungsur. Hanya baju hitam nya ya robek terkena tebasan golok.


Klungsur langsung menoleh ke arah lawannya sambil tersenyum lebar.


"Hahahaha, golok mainan anak-anak mu mana bisa melukai ku, kumis pagar kabupaten!


Ayo pilih lagi bagian tubuh mana yang ingin kau bacok?", tantang Klungsur sembari membuka tangannya lebar-lebar. Si lelaki bertubuh gempal anak buah Raden Ronggo itu pun dengan sekuat tenaga membacokkan golok nya ke arah leher Klungsur.


Dhhaaaassshhh !


Golok itu tetap saja tidak mampu menggores kulit tubuh Klungsur. Klungsur terkekeh geli melihat kekagetan lawan nya dan dengan cepat menyambar kerah baju lawan lalu mencekal nya dengan erat.


"Sekarang giliran ku!"


Secepat mungkin, Klungsur mengayunkan Gada Galih Asem nya sekuat tenaga ke arah kepala lawan yang sudah tidak bisa bergerak lagi.


"Modar kowe bajingan!"


Bruuuuaaaakkkkhhh !


Aaaarrrgggggghhhhh !


Lawan Klungsur langsung menjerit keras saat Gada Galih Asem mengepruk kepala nya. Dia mengejang hebat sebentar karena kepalanya pecah dan isi kepala nya berantakan. Dia tewas dengan kepala hancur.


Di sisi lain, Anjani dengan cepat melemparkan 4 jarum berwarna hitam nya ke arah empat pria bertubuh kekar yang merangsek ke arah nya.


Shrrriinnnggg ! Shrrriinnnggg !


Shrrriinnnggg ! shhhrriinggg !


Nay Kemuning langsung mencabut pedang nya dan melesat cepat kearah lawan. Dengan menggunakan ilmu pedang Perguruan Gunung Ciremai, istri Arya Pethak yang mengenakan baju berwarna kuning kehijauan itu mengamuk.


Sekali tebas, pedangnya langsung memotong leher salah satu pengepung yang merupakan anak buah Raden Ronggo.


Nirmala dan Sekarwangi dengan cepat mencabut senjata mereka masing-masing, dan langsung melesat ke arah dua orang yang berupaya membokong Subrata yang nampak belum begitu mahir dalam olah beladiri.


Dengan cepat, dua orang lelaki berpakaian hitam yang mereka hadapi terjungkal dengan bersimbah darah.


Suro Handoko terkejut bukan main anak buah nya terkapar bersimbah darah menghadapi rombongan Arya Pethak. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa orang yang dia hadang adalah pendekar pendekar muda yang memiliki kemampuan beladiri di atas rata-rata.


Dengan cepat, lelaki bertubuh gempal itu segera meloloskan tali tambang berwarna merah sebesar lengan bocah cilik yang membelit leher hingga ke perutnya. Setelah memutar-mutar tali tambang itu, dengan cepat ia melesat maju ke arah Arya Pethak.


Satu sabetan ujung tali tambang mengincar kepala Arya Pethak.


Merasakan hawa dingin yang berhembus kencang dari belakang, Arya Pethak dengan cepat berguling ke tanah menghindari sabetan tali tambang berwarna merah Suro Handoko hingga tali tambang sebesar lengan bayi itu menghantam tanah.


Blllaaaaaarrr !


Melihat lawan berhasil menghindar, Suro Handoko terus memburu Arya Pethak dengan senjata tali tambang berwarna merah milik nya.


Blllaaaaaarrr ! Blllaaaaaarrr !


Arya Pethak harus berguling ke tanah beberapa kali untuk menghindar dari sabetan maut tali tambang merah milik Suro Handoko. Saat ada kesempatan, Arya Pethak segera menjauh dari Suro Handoko sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna biru terang.


Whhhhuuuuggghhh !

__ADS_1


Selarik sinar biru terang meluncur cepat kearah Suro Handoko. Lurah Desa Pulung itu segera mengayunkan tali tambang merah nya untuk menghentikan sinar biru terang Ajian Tapak Brajamusti yang di lepaskan oleh Arya Pethak.


Blllaaammmmmmmm !


Ujung tali tambang berwarna merah yang mampu menahan Ajian Tapak Brajamusti itu terpental dan membuat Suro Handoko terjengkang ke belakang. Namun Lurah Desa Pulung itu segera berdiri dan memutar tali tambang merah nya.


'Brengsek!


Pemuda ini tak bisa di remehkan. Aku harus cepat mengalahkan nya jika tidak aku akan kehilangan muka di hadapan Raden Ronggo', batin Suro Handoko.


Segera dia menyalurkan seluruh tenaga dalam nya pada tali tambang berwarna merah nya. Seketika tali tambang berwarna merah itu mengeluarkan cahaya merah redup yang berhawa panas.


Secepat kilat, Suro Handoko melecutkan ujung tali tambang merah nya seperti melecutkan cambuk ke arah Arya Pethak.


Whhhuuutthh !


Arya Pethak dengan cepat melompat ke udara menghindari serangan tali itu.


Blllaaaaaarrr !


Pohon di tepi jalan tempat mereka bertarung meledak saat tali tambang berwarna merah itu menghantam batang. Arya Pethak yang menyadari bahwa lawan sudah menggunakan ilmu kedigdayaan tinggi nya langsung merapal Ajian Langkah Dewa Angin andalannya. Dia bergerak cepat melesat ke arah Suro Handoko.


Whuuussshh..!


Anak buah Raden Ronggo itu gelagapan juga melihat kecepatan Arya Pethak yang luar biasa. Dia segera memutar tali tambang merah nya seperti tengah menggulung sesuatu. Angin panas berseliweran tercipta dari putaran tali tambang.


Namun Arya Pethak dengan cepat merubah gerakan tubuhnya dan muncul di samping kiri Suro Handoko.


Putra angkat Mpu Prawira itu dengan cepat menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna biru terang Ajian Tapak Brajamusti ke dada Suro Handoko. Kecepatan tinggi Arya Pethak nyatanya bukan lawan ilmu kanuragan Suro Handoko.


Blllaaammmmmmmm !


AAAARRRGGGGGGHHHHH !


Suro Handoko meraung keras saat tapak tangan kanan Arya Pethak menghajar telak dada kiri. Tubuhnya terpelanting jauh ke belakang dan menyusruk tanah sejauh 2 tombak. Lurah Desa Pulung yang juga merupakan tangan kanan Raden Ronggo itu langsung tewas dengan dada hancur gosong seperti tersambar petir.


Sisa gerombolan baju hitam ini langsung berhamburan menyelamatkan diri masing-masing setelah melihat kematian jagoan mereka di tangan Panji Tejo Laksono. Mereka takut menjadi korban selanjutnya.


Ki Simo Biru langsung menghormat pada Arya Pethak setelah lawan yang menghadang laju pergerakan mereka melarikan diri.


"Pendekar Arya Pethak benar benar hebat. Aku merasa kagum", ujar Ki Simo Biru sembari menghormat.


"Aku terpaksa membunuh orang tua itu, Ki..


Dia berupaya membunuh ku dengan tali tambang berwarna merah di tangan nya", ucap Arya Pethak segera.


"Penjahat seperti dia layak mendapatkan nya, Pendekar..


Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini sebelum anak buah Raden Ronggo yang lain datang kemari", pinta Ki Simo Biru dengan cepat.


"Aku setuju dengan pendapat mu, Ki Simo..


Tapi kemana tujuan kita setelah ini?", tanya Arya Pethak segera. Ki Simo Biru tersenyum tipis sembari menatap wajah tampan Arya Pethak sebelum berbicara.


"Pantai Selatan, Pendekar Arya Pethak..

__ADS_1


Ke tempat Resi Candramaya".


__ADS_2