
Saudagar Wangsakrama memberikan isyarat kepada para pengikutnya untuk maju.
"Tunggu!!
Kalau kalian ingin mengadu kepandaian ilmu beladiri, di luar saja.. Aku tidak ingin merusak kediaman Mpu Nala", teriak Wide Pitrang sambil melangkah keluar menuju halaman rumah.
Arya Pethak, Raden Wira Ganggeng dan Hayam Abang langsung bergegas menyusul Wide Pitrang. Pun Mpu Nala juga mengikuti langkah mereka.
Sedangkan Saudagar Wangsakrama mendengus keras lalu melangkah keluar menuju ke arah tempat yang diinginkan oleh Wide Pitrang.
"Saudara Pethak,
Kali ini biarkan sengko yang menghajar cecunguk cecunguk tak tahu diri ini. Tangan ku sudah gatal, pengen pukuli orang", ujar Wide Pitrang yang langsung membuat Arya Pethak tersenyum simpul dan mengangguk mengerti.
Seorang pengikut Saudagar Wangsakrama langsung melesat cepat kearah Wide Pitrang sambil mengayunkan kepalan tangannya ke arah kepala utusan dari Kadipaten Songeneb itu.
Whhhuuuggghhhh!!
Wide Pitrang dengan cepat berkelit menghindar, lalu dengan cepat membalas. Si pengikut Saudagar Wangsakrama berkelit ke samping, namun kali ini Wide Pitrang tidak memberikan kesempatan kepada lawan untuk lolos dengan mudah.
Satu langkah kaki ke depan, Wide Pitrang memutar tubuhnya sambil menyapu kaki lawan dengan cepat.
Bhhhaaaakkkk..
Tubuh lawan merendah akibat kaki nya yang menekuk. Satu sikutan keras langsung di layangkan Wide Pitrang kearah mulut pengikut Saudagar Wangsakrama.
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Dua gigi pengikut Saudagar Wangsakrama langsung copot akibat sikutan keras Wide Pitrang. Darah segar segera mengalir dari sudut bibir anak buah Saudagar Wangsakrama sembari terhuyung mundur.
Si pengikut Saudagar Wangsakrama mendelik penuh kemarahan karena dua gigi depan nya ompong. Dia langsung mencabut sepasang golok yang ada di pinggangnya. Kemudian menerjang maju ke arah Wide Pitrang yang langsung berguling menghindari sabetan golok yang mengincar lehernya.
Shreeeeettttthhh!!
Dengan cepat Wide Pitrang mengeluarkan celurit yang tersimpan di balik bajunya. Dengan cepat ia melepaskan senjata tajam itu dari sarungnya yang terbuat dari kulit lembu. Secepat mungkin, dia menangkis sabetan golok lawan saat si pengikut Saudagar Wangsakrama kembali mengayunkan golok di tangan nya.
Thrrriiinnnggggg!!
Begitu sabetan senjata di tangan kanannya di tangkis, si pengikut Saudagar Wangsakrama langsung membabatkan golok di tangan kirinya ke arah perut sang utusan dari Kadipaten Songeneb.
Melihat lawan mengincar perutnya, Wide Pitrang melompat mundur beberapa langkah. Si pengikut Saudagar Wangsakrama langsung melesat cepat kearah Wide Pitrang sambil mengayunkan dua goloknya ke arah leher dan dada pria itu.
Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh!!
Wide Pitrang langsung melesat cepat lalu menekuk lutut hingga sambaran golok lawan menebas angin kosong sejengkal di atas kepala. Dengan cepat, Wide Pitrang langsung mengayunkan celuritnya ke arah perut lawannya.
Chhrrrraaaaaassss!!
Aaarrrghh!!!!
Si pengikut Saudagar Wangsakrama langsung terhuyung-huyung sembari membekap perutnya yang robek besar. Tak berapa lama kemudian dia roboh bersimbah darah dan isi perut nya terburai keluar.
Melihat kawannya tewas, dua pengikut Saudagar Wangsakrama lainnya langsung melesat cepat kearah Wide Pitrang sembari mengayunkan pedangnya kearah tubuh Wide Pitrang.
Arya Pethak yang waspada, langsung menghantamkan kedua telapak tangan nya yang berwarna putih kebiruan seperti petir kearah dua orang pengikut Saudagar Wangsakrama itu.
Whhhuuuggghhhh whhuuuuuuuggggh!!
Dua orang pengikut Saudagar Wangsakrama itu benar-benar kaget melihat serangan Arya Pethak. Mereka berdua yang tak punya pilihan selain bertahan, menggunakan pedang mereka masing-masing untuk menahan sinar putih kebiruan dari tangan Arya Pethak.
Blllaaammmmmmmm!!
Ledakan dahsyat terdengar. Dua pengikut Saudagar Wangsakrama itu terpental jauh ke belakang dan menabrak pagar kayu rumah Mpu Nala. Mereka langsung muntah darah segar pertanda bahwa mereka menderita luka dalam yang cukup serius.
Semua orang terkejut melihat kejadian yang terjadi tak lebih dari dua kejap mata.
Saudagar Wangsakrama langsung gemetar ketakutan melihat kemampuan ilmu kanuragan orang orang yang di hadapi para pengikutnya. Dia segera berlutut di hadapan Raden Wira Ganggeng untuk meminta pengampunan.
"Ampuni kami Kisanak...
Kami mengaku salah, tidak seharusnya mencoba merebut hak sewa perahu Mpu Nala. Mohon lepaskan kami", ujar Saudagar Wangsakrama dengan cepat.
"Huhhhhh...
Tadi ba'na berlagak seperti orang yang tidak ada lawan. Kamu pikir kami orang yang bisa kau gertak?", Wide Pitrang mendelik tajam ke arah Saudagar Wangsakrama.
"Aku salah aku salah..
Mohon ampuni nyawaku pendekar. Aku mohon", sahut Saudagar Wangsakrama segera.
"Sekarang aku minta kalian cepat pergi dari tempat ini. Cepat sebelum aku berubah pikiran", usir Raden Wira Ganggeng dengan lantang. Mendengar ucapan itu, Saudagar Wangsakrama langsung berdiri dan setengah berlari meninggalkan rumah Mpu Nala bersama para pengikutnya yang masih hidup.
Usai keributan itu selesai, mereka kembali masuk ke dalam rumah Mpu Nala untuk melanjutkan pembicaraan antara mereka yang tertunda. Di sepakati sewa satu perahu penuh sebesar 20 kepeng emas untuk sekali jalan. Urusan pengangkutan barang bawaan ke atas kapal di tanggung Mpu Nala dan anak buah nya.
Setelah selesai, Arya Pethak, Hayam Abang, Raden Wira Ganggeng dan Wide Pitrang kembali ke tempat penginapan milik Hayam Abang, menunggu esok pagi untuk persiapan berlayar ke Pulau Madura.
Pagi hari tiba di wilayah Kadipaten Hujung Galuh. Cahaya matahari pagi perlahan mulai tersembul keluar dari kaki langit timur. Suasana yang gelap berangsur menghilang berganti terang.
Geliat roda kehidupan kembali di kota pelabuhan terbesar di kerajaan Singhasari ini. Lalu lalang orang dengan aneka kepentingan mulai memenuhi jalan raya di sisi Kali Mas yang merupakan salah satu cabang Sungai Brantas sebelum bermuara di Selat Madura.
Pagi itu, kusir kereta kuda dari Kadipaten Kembang Kuning menjalankan kereta nya ke arah pelabuhan. Sebuah perahu bercadik dengan 10 anak buah kapal yang berada di dekat tiang pelabuhan, menurunkan tangga untuk menaikkan barang-barang ke atas perahu ukuran sedang itu. Mereka sibuk memindahkan barang bawaan dari kereta kuda ke dalam kapal.
__ADS_1
Saat matahari sepenggal naik di langit, mereka sudah menyelesaikan tugas memindahkan barang bawaan orang-orang Kadipaten Kembang Kuning ke kapal. Mpu Nala yang memantau langsung pemindahan barang, bergegas menuju ke arah penginapan milik Hayam Abang begitu anak buah nya selesai.
Satu persatu anggota rombongan Kadipaten Kembang Kuning mulai naik ke atas kapal penyeberangan yang di nahkodai oleh Mpu Nala. Klungsur yang ketakutan, harus berpegangan pada tangga naik ke atas perahu.
Perlahan kapal penyeberangan milik Mpu Nala meninggalkan pelabuhan Hujung Galuh.
Hari itu adalah musim angin selatan yang cukup kencang berhembus sebagai pertanda sebentar lagi musim penghujan akan segera tiba. Ombak yang lumayan besar membuat kapal penyeberangan Mpu Nala bergoyang mengikuti irama ombak.
Klungsur yang mabuk laut muntah muntah saat kapal oleng ke kiri dan ke kanan.
"Kau kenapa Sur?
Mabuk laut ya?", tanya Arya Pethak sambil menatap Klungsur yang berpegangan pada geladak kapal penyeberangan.
"Saya gak apa apa Ndoro Pethak, hanya pusing saja hooeeeggghh", Klungsur terus memuntahkan isi perutnya.
"Bo' abo', eh tretan sengko..
Lain kali kalau gampang mabuk laut, coba ba'na ikat jempol kaki. Kata orang tua dulu, itu berguna", ujar Wide Pitrang sambil tersenyum tipis.
"Berguna untuk apa?", Klungsur ketus bertanya.
"Ya berguna untuk mengikat jempol kaki Cong..
Kalau masalah menyembuhkan mabuk laut, itu hanya urusan ketahanan tubuh saja hehehehe", Wide Pitrang terkekeh kecil.
"Eh bapak pucung,
Kalau omongan mu tidak ada gunanya mending kau diam. Bikin orang tambah pusing saja", Klungsur mendengus kesal.
Saat mereka masih adu mulut, seorang anak buah kapal Mpu Nala berteriak lantang.
"Ada asap tebal di arah depan!"
Mendengar teriakan itu, perhatian semua orang langsung tertuju pada asap tebal yang membubung tinggi ke langit. Raden Wira Ganggeng langsung mendekati Mpu Nala yang memegang kemudi kapal.
"Ada apa itu Mpu?
Sepertinya itu asap kebakaran", ujar Raden Wira Ganggeng sambil menatap ke arah Utara.
"Sepertinya begitu Raden. Tapi kita juga tidak boleh lengah sedikit saja.
Bisa jadi itu adalah pengalih perhatian dari para bajak laut yang merompak para penyeberang", Mpu Nala menatap ke arah asap tebal yang mulai terlihat jelas karena kapal mereka mulai mendekati sumber asap.
"Semuanya bersiap!
Jangan lengah sedikit pun!", teriak Mpu Nala yang membuat suasana menjadi tegang. Nay Kemuning dan Anjani yang baru dari buritan kapal langsung mendekati Arya Pethak.
"Bersiaplah untuk menghadapi segala kemungkinan, Nay..
Sepertinya ada yang tidak beres dengan asap tebal itu", jawab Arya Pethak sambil menunjuk ke arah asap tebal. Anjani menajamkan penglihatan nya ke arah sumber asap.
Sebuah kapal penyeberangan nampak terbakar api. Asap tebal membumbung tinggi ke udara. Saat semua orang di atas kapal penyeberangan milik Mpu Nala mengedarkan pandangannya ke sekeliling, nampak dua orang wanita muda dan seorang lelaki paruh baya tengah berpegangan pada perahu kecil yang tengah terbalik di laut lepas.
"Mpu Nala,
Ada orang di laut!", teriak seorang anak buah kapal Mpu Nala sembari menunjuk ke arah laut.
Mpu Nala segera bergegas menuju ke arah tepi kapal bersama Arya Pethak, Raden Wira Ganggeng dan Wide Pitrang sementara kemudi kapal di pegang seorang anak buah nya. Usai berpikir sejenak, Mpu Nala segera memerintahkan kepada para anak buah nya untuk menolong ketiga orang itu.
Dua orang anak buah Mpu Nala segera melemparkan tali tambang kearah perahu kecil. Lelaki paruh baya yang ada disana langsung menyambut uluran tali dari anak buah Mpu Nala.
Dengan bantuan para anak buah kapal, ketiga orang itu naik ke atas kapal penyeberangan milik Mpu Nala.
"Terimakasih atas bantuannya, Kisanak..
Kalau kalian tidak membantu kami entah bagaimana nasib kami selanjutnya", ujar si lelaki paruh baya itu dengan cepat.
"Kami hanya kebetulan lewat saja, Kisanak..
Sekarang ceritakan pada kami bagaimana kalian bisa tercebur ke laut seperti ini?", tanya Raden Wira Ganggeng segera.
" Perahu kami di serang bajak laut. Mereka membakar perahu kami. Untung nya kami berhasil kabur dengan melompat ke air", jawab si lelaki paruh baya sambil melihat sekeliling perahu.
Kapal penyeberangan milik Mpu Nala semakin mendekati asap tebal yang membakar sebuah perahu penyeberangan yang cukup besar. Tiba tiba sebuah perahu muncul dari balik asap tebal. Sebuah bendera hitam dengan gambar tengkorak manusia ada di tiang utama layar kapal itu.
"Bajak laut! Ada bajak laut!!!"
Teriakan keras terdengar dari seorang anak buah kapal Mpu Nala. Semua orang langsung panik mendengar suara itu.
Si lelaki paruh baya itu langsung mencabut sebilah belati yang tersimpan di balik bajunya kemudian melompat ke arah Raden Wira Ganggeng.
Tapi belum sempat dia sampai di dekat Raden Wira Ganggeng, sebuah bayangan berkelebat cepat menghadang laju pergerakan si pria paruh baya itu sembari melayangkan pukulan keras nya yang di lambari sinar putih kebiruan seperti petir.
Blllaaammmmmmmm!!!
Si kakek paruh baya itu langsung terpental jauh dan jatuh ke dalam laut. Dia segera mengambang di air pertanda bahwa dia sudah tewas terkena Ajian Guntur Saketi dari Arya Pethak.
Dua orang gadis yang turut bersama si lelaki paruh baya itu pun melakukan hal yang sama seperti si kakek tua tadi. Namun sayangnya yang menjadi lawan mereka adalah Nay Kemuning dan Anjani yang bermaksud untuk membantu dua orang perempuan itu. Mereka tewas dengan bersimbah darah.
Tak berapa lama kemudian kapal bajak laut mendekat ke arah kapal Mpu Nala. Beberapa orang dari mereka langsung melemparkan ratusan kait bertali untuk membuat pergerakan kapal penyeberangan milik Mpu Nala tidak bisa bergerak. Puluhan orang berperawakan sangar dan tatapan mata menakutkan berayun di antara kedua kapal dan mendarat di lantai kapal penyeberangan milik Mpu Nala.
__ADS_1
Diantara mereka ada seorang lelaki bertubuh gempal dengan sebelah mata tertutup kulit lembu berwarna hitam. Jenggotnya hitam dengan ikat kepala berwarna hitam dengan kain hitam lusuh. Dua buah pedang tersarung di pinggangnya.
Mata lelaki bertubuh gempal itu nanar menatap mayat dua orang wanita muda yang tergeletak di lantai kapal penyeberangan Mpu Nala. Sambil mendesis keras, dia segera mencabut pedangnya dan berteriak lantang.
"Bunuh mereka semua!!!"
Para anggota bajak laut langsung melompat menerjang ke arah Arya Pethak dan kawan-kawan nya yang sudah bersiap untuk menghadapi mereka. Pertandingan sengit antara mereka pecah.
.
Diatas perahu penyeberangan yang masih berlayar ke arah Pulau Nusa, puluhan orang mengadu nyawa. Jerit kesakitan terdengar bersamaan hilangnya anggota tubuh dan nyawa yang melayang.
Klungsur dengan cepat melayangkan Gada Galih Asem nya kearah seorang anggota bajak laut yang mengepung Nay Kemuning.
Praaakkkk!!!
Lawannya langsung terjungkal ke lantai kapal dengan kepala pecah. Di sisi lain, Wide Pitrang langsung mengayunkan celuritnya ke leher seorang anggota bajak laut yang berusaha membokong nya.
Chrraaasssshhh!!
Kepala anggota bajak laut itu langsung menggelinding ke lantai kapal sementara itu tubuh nya roboh dan terjatuh ke laut.
Nay Kemuning segera menusukkan Pedang Cambuk Naga kearah perut anggota kelompok bajak laut yang merompak mereka.
Chhreepppppph!
Aaaarrrgggggghhhhh!!
Si anggota bajak laut itu sama sekali tidak menduga bahwa bahwa wanita yang terlihat seperti gadis manja itu justru mampu mencabut nyawanya dengan cepat. Dia roboh ke lantai kapal dengan bersimbah darah.
Anjani langsung melemparkan Jarum Penghancur Sukma milik nya ke arah seorang anggota bajak laut yang berniat membokong Raden Wira Ganggeng.
Shrrriinnnggg ..
Chhreepppppph!!!
Jarum Penghancur Sukma langsung menembus leher si anggota bajak laut. Dia langsung ambruk ke lantai kapal penyeberangan dengan mulut berbusa. Raden Wira Ganggeng yang baru saja menghabisi nyawa seorang anggota bajak laut memegang sebilah keris berlumuran darah langsung tersenyum tipis sembari mengangguk ke arah Anjani sebagai tanda terima kasih.
Satu persatu anggota bajak laut itu mulai berjatuhan di bantai Arya Pethak dan kawan-kawan nya.
Sang pemimpin bajak laut benar benar geram melihat Arya Pethak dan kawan-kawan yang begitu mudahnya membantai para pengikutnya. Dia langsung melesat cepat kearah Arya Pethak yang baru saja menebas leher seorang anggota bajak laut dengan Pedang Setan nya.
Whuuutt...
Thrrriiinnnggggg!!!
Arya Pethak dengan cepat menangkis sabetan pedang pimpinan bajak laut itu. Melihat serangan nya mentah, pimpinan bajak laut itu segera mengayunkan pedang di tangan kirinya.
Kembali terdengar bunyi nyaring saat Arya Pethak kembali menangkis tebasan pedang dari tangan kiri si pimpinan kelompok bajak laut.
Mundur selangkah, pimpinan kelompok bajak laut itu segera mengayunkan pedangnya kearah kaki Arya Pethak.
Whuuussshh..
Arya Pethak langsung melenting tinggi ke udara menghindari sabetan pedang si pimpinan kelompok bajak laut, bersalto sekali dan mendarat di tepi geladak kapal dengan ringannya. Melihat itu, si pimpinan kelompok bajak laut langsung melesat cepat kearah Arya Pethak sambil berteriak lantang.
"Ku cincang kau keparat!!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author mengucapkan minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin..
Jika ada kesalahan dalam tutur bahasa maupun penulisan novel PPP ini, author mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Selamat lebaran bagi semua umat Islam..
🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1