
"Saya tanya Cung,
Mana itu Den Raden Wira Ganggeng? Ini sudah siang, waktunya berangkat taiye", ujar si lelaki bertubuh kekar itu dengan logat bahasa yang berbeda dengan orang orang Kadipaten Kembang Kuning lainnya.
"Cang cung Cang cung..
Kau pikir aku ini pucung (keluwak) bumbu masakan? Yang sopan sedikit dong", omel Klungsur sambil mendengus keras. Arya Pethak hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala mendengar obrolan mereka berdua.
"Yeh sampeyan tak boleh marah taiye.. Di Kadipaten Songeneb, cung itu sebutan untuk anak muda..
Karena aku lebih tua dari kamu, boleh aku panggil kamu cung", ujar si lelaki berkumis tebal itu sambil merenges.
"Eh bapak pucung,
Lain ladang lain belalang. Jangan bawa adat di daerah mu di tempat orang lain. Bisa jadi salah paham, ngerti kau?", Klungsur mereda emosi nya.
"Bo' abo'... Nama ku bukan bapak pucung, orang tua ku kasih nama aku bagus, Wide Pitrang..
da' remma' bana neh ( bagaimana kau ini )", ujar si lelaki bertubuh kekar dengan kumis tebal itu sambil memelintir kumisnya.
"Haesshhh mboh lah..
Endok remek endok remek ( telur remuk) apa aku gak paham. Kalau mau cari Raden Wira Ganggeng sana di belakang. Jangan ganggu persiapan kami", sahut Klungsur sambil mengangkat pelana kuda kemudian menaruhnya di atas punggung kuda tunggangan nya.
"Galak banget kau ini Cung.. Sedikit sedikit marah.. Heran sengko (aku )", omel si utusan dari Kadipaten Songeneb itu sambil berlalu menuju belakang mencari keberadaan Raden Wira Ganggeng.
Begitu persiapan selesai, rombongan dari Kembang Kuning itu mulai bergerak ke arah timur.
Satu kereta kuda di naiki oleh Raden Wira Ganggeng dan utusan dari Kadipaten Songeneb yang bernama Wide Pitrang itu sementara mereka di belakang berisi barang bawaan mereka dengan dua kusir yang menjalankan kereta kuda bergantian.
Nay Kemuning dan Anjani memilih untuk mendampingi Arya Pethak yang lebih suka naik kuda di depan bersama Klungsur dan satu orang penunjuk jalan.
Sementara 4 orang pengawal Raden Wira Ganggeng berada di belakang kereta kuda yang membawa barang bawaan. Setelah keluar dari tapal batas kota, rombongan itu terus bergerak ke timur melintasi jalan raya yang menghubungkan wilayah Kadipaten Kembang Kuning dan Kadipaten Lasem.
"Den Raden, kenapa dua perempuan cantik itu ndak naik kereta? Apa ndak boleh naik kereta ini?", tanya Wide Pitrang pada Raden Wira Ganggeng setelah melihat kereta kuda ini hanya di tempati mereka berdua.
"Mereka lebih suka berkuda, Saudara Wide..
Aku juga tidak bisa memaksakan kehendak untuk mengikuti keinginan ku. Lagi pula mereka berdua itu teman dekat saudara Arya Pethak, lebih baik tidak mengganggunya", Raden Wira Ganggeng tersenyum lebar.
"Dua duanya itu pacarnya Si Arya itu?
Bo' abo', lelaki sejati dia. Bisa menggaet dua perempuan cantik sekaligus. Nanti aku tak minta ajar ilmu nya gaet perempuan cantik seperti itu sama dia hehehe..
Eh kalau tambah orang lagi di dalam kereta ndak apa apa ya Den Raden Wira Ganggeng?", tanya Wide Pitrang yang langsung mendapat anggukan kepala dari Raden Wira Ganggeng.
Wide Pitrang langsung menjulurkan kepalanya dari jendela kereta kuda sambil berteriak lantang.
"Cung Klungsur!
Disini masih longgar. Kau mau ndak naik kereta kuda? Daripada kau kepanasan naik kuda, bisa tambah celleng (hitam) kau nanti", Wide Pitrang tersenyum simpul.
"Eh bapak pucung,
Lebih baik aku naik kuda dari naik satu kereta kuda dengan mu. Bisa bisa aku naik darah terus terusan karena dengar omongan mu", sahut Klungsur sambil menepuk kudanya agar menjauh dari kereta kuda.
Arya Pethak, Anjani dan Nay Kemuning terkekeh geli mendengar gerutu Klungsur.
"Si utusan dari Songeneb itu rupanya lawan yang pas buat Klungsur ya Kang? Hehehehe", Anjani terkekeh kecil.
"Iya Anjani. Satu nya tukang ngeyel satu nya suka bunyi seenaknya. Seperti perjalanan ini akan lebih seru di banding sebelumnya", Arya Pethak tersenyum simpul sambil terus memacu kudanya di samping Nay Kemuning.
Rombongan itu menghentikan pergerakan nya di pinggir Kali Serang saat matahari telah sampai di atas kepala.
Beberapa pengawal sibuk memandikan kuda mereka di tepi sungai sedangkan kusir mengikat kuda pada semak perdu yang ada diantara pasang rumput yang tumbuh subur di tepi Kali Serang untuk memberi waktu kuda mereka makan.
Nay Kemuning dan Anjani menyiapkan perbekalan mereka untuk makan siang di bantu Klungsur.
"Uh enak banget bapak pucung itu..
Yang lain sibuk bekerja, dia enak enakan ngobrol dengan Raden Wira Ganggeng", gerutu Klungsur sambil melirik ke arah Wide Pitrang dan Raden Wira Ganggeng yang sedang bercakap cakap di bawah pohon rindang.
"Akang Klungsur teh tidak boleh iri atuh..
Dia teh duta Akang. Sepatutnya kita menghormati mereka. Kita teh mengantar Raden Wira Ganggeng juga ada kaitannya dengan eta utusan bukan?", sahut Nay Kemuning sambil menata makanan bekal perjalanan di atas tikar pandan.
__ADS_1
"Hah kalau tau orang nya seperti itu aku juga malas, Nay..
Lebih baik aku tidur di Pertapaan Bukit Tunggul sambil menghirup udara segar. Sumpek aku lihat muka nya", ujar Klungsur sembari terus mengeluarkan beberapa alas makan ke atas tikar pandan.
"Iya kau malas karena kau kalah berdebat dengan dia. Juga kau iri karena dia lebih di hormati daripada kamu kan?", sergah Anjani sambil menjulurkan lidahnya ke arah Klungsur.
"Kau ini kawan nya siapa sih An? Kenapa terus membela nya?", Klungsur semakin dongkol.
"Aku itu kawan mu Sur, cuma pas kau lagi benar. Kalau salah ya bukan kawan ku", ujar Anjani dengan entengnya.
Klungsur tidak menyahut omongan Anjani karena melihat Raden Wira Ganggeng, Wide Pitrang, Arya Pethak dan yang lain datang ke tikar pandan untuk makan siang.
Setelah cukup beristirahat, rombongan itu segera melanjutkan perjalanan menuju ke arah timur. Melewati Pakuwon Semanding, pada sore hari mereka telah melewati perbatasan antara Kadipaten Kembang Kuning dan Lasem tepat nya masuk kawasan Desa Randublatung.
Semburat jingga menghias langit barat saat mereka memasuki gapura Desa Randublatung.
Tak seperti kebanyakan desa desa yang mereka lewati, Desa Randublatung ini terkesan sunyi bahkan nyaris seperti desa mati. Tak ada yang menyalakan lampu sentir seperti kebanyakan desa umumnya jika malam mulai menjelang. Semua pintu rumah terlihat tertutup, tak seorang pun yang nampak di luar rumah.
Meski sedikit keheranan melihat kondisi desa yang berada di wilayah Kadipaten Lasem selatan ini, rombongan orang-orang Kadipaten Kembang Kuning terus bergerak melintasi jalan yang membelah desa aneh ini.
Arya Pethak menyadari, beberapa pasang mata penduduk mengintip pergerakan mereka dari balik jendela dan celah dinding kayu rumah.
Hemmmmmmm
'Ada yang aneh dengan desa ini. Kenapa mereka seperti ketakutan begitu saat malam begini?', batin Arya Pethak sambil terus menjalankan kuda nya.
Seorang lelaki nampak buru buru mengikat sapi nya di kandang. Melihat itu, Arya Pethak langsung melompat tinggi dan mendarat di dekat sang lelaki paruh baya yang hendak masuk ke dalam rumah. Buru buru Arya Pethak mencekal lengan tangannya.
"Tunggu dulu Kisanak!
Aku mau tanya dimana rumah kepala desa?", tanya Arya Pethak dengan cepat. Orang itu langsung menoleh ke kanan dan kiri sebelum berbicara.
"Kau lurus saja. Kanan jalan ada rumah besar dengan pohon sawo di halaman. Sekarang lepaskan aku, aku tidak mau mati konyol", ujar si lelaki paruh baya itu sambil merosot dari cekalan tangan Arya Pethak.
Lelaki itu buru-buru masuk ke dalam rumah nya dan segera mengunci pintu dengan palang kayu.
Usai mendapat petunjuk, Arya Pethak beserta rombongan Kadipaten Kembang Kuning langsung menuju ke arah yang di tunjukkan oleh warga desa tadi.
Kedatangan Arya Pethak dan rombongan membuat satu satunya rumah yang masih buka di desa Randublatung ini terkejut. Mereka tidak menduga ada yang berani memasuki wilayah desa mereka saat malam mulai menjelang.
"Mohon maaf jika kedatangan kami tidak di inginkan, Ki Lurah..
Kami rombongan dari Istana Kembang Kuning ingin menuju ke Ujung Galuh. Mohon ijin untuk bermalam disini", ujar Bekel Taruna yang merupakan salah satu dari keempat pengawal pribadi Raden Wira Ganggeng.
"Suatu kehormatan bagi kami bisa menyediakan tempat untuk para bangsawan kota Kadipaten. Mari silahkan masuk", ujar Mpu Paniti dengan ramah.
Begitu memperoleh ijin, mereka segera menuntun kuda mereka kearah kandang di bantu pekatik atau juru rawat kuda Mpu Paniti. Para emban kediaman Ki Lurah Mpu Paniti juga langsung membersihkan beberapa kamar kosong sebagai tempat peristirahatan para tamu agung yang menginap.
Karena hanya ada tiga kamar kosong, maka itu di tempati oleh Raden Wira Ganggeng, Wide Pitrang dan satu kamar tidur lagi di tempati oleh Nay Kemuning bersama Anjani.
Yang lain digelarkan tikar daun pandan untuk beristirahat di bale bale rumah termasuk Arya Pethak, Klungsur, Bekel Taruna dan para pengawal pribadi Raden Wira Ganggeng sedangkan para kusir memilih tidur di kereta kuda mereka sembari untuk berjaga-jaga.
Di beranda rumah Ki Lurah Mpu Paniti, Arya Pethak dan Klungsur yang masih belum mengantuk ikut bergabung dengan Ki Lurah Mpu Paniti dan para anggota keamanan yang tengah berjaga.
"Mohon maaf jika saya lancang Ki Lurah..
Saya hanya ingin tahu mengapa desa ini sepi sekali waktu sore hari? Saya tadi bertanya kepada salah satu penduduk, tapi kelihatannya dia sangat ketakutan", Arya Pethak mengungkapkan rasa penasaran nya.
Mpu Paniti menghela nafas panjang sebelum mulai menceritakan tentang kisah desa ini.
"Desa Randublatung ini terletak di sisi selatan Pakuwon Kunting yang berada di wilayah paling selatan dari Kadipaten Lasem, kisanak.
Dulu nya desa ini tidak seperti ini Kisanak, tapi merupakan wilayah yang ramai meski malam hari datang sampai suatu ketika sekitar satu purnama yang lalu, seorang brahmana tua lewat di tempat ini. Karena dia meminta sedekah dari Ki Damarmoyo tapi tidak mendapat sesuai keinginan nya, dia mengelus sumpah serapah dan mengutuk desa ini akan di datangi dedemit gunung yang akan menghabisi nyawa setiap orang yang berada di luar rumah saat malam hari.
Awalnya kami juga tidak percaya dan menganggap dirinya orang yang kurang waras. Tapi malam berikutnya, dua orang warga desa ini tewas di cabik-cabik oleh makhluk aneh saat memberi makan ternak di malam hari.
Keadaan ini terus berlanjut hingga hampir seperempat warga Desa Randublatung menjadi korban keganasan oleh makhluk misterius yang di sebut warga sebagai Dedemit Desa Randublatung.
Akibatnya saat malam hari tiba, tak satu pun warga desa yang berani keluar rumah malam hari", ujar Ki Lurah Mpu Paniti mengakhiri ceritanya.
"Menurut seorang warga yang pernah melihat, dedemit itu muncul dengan di tandai oleh asap tebal dan bau kemenyan yang menyengat.
Aku sendiri belum sempat melihatnya, tapi ku harap aku tidak pernah bertemu dengan siluman itu", sambung jagabhaya sambil mengelus kumis tipis nya.
Malam semakin larut, cuaca begitu dingin menusuk tulang.
__ADS_1
Tiba tiba saja terdengar suara lolongan serigala yang bersahutan dari hutan yang ada di Utara desa Randublatung.
Auuuuwww...!!!!
Aauuw!!!!
Semua orang terkejut mendengar lolongan serigala terutama para warga Desa Randublatung karena mereka tahu bahwa itu adalah salah satu tanda munculnya sang dedemit. Jagabhaya langsung mencabut keris yang ada di pinggangnya, begitu juga dengan Mpu Paniti sang Lurah Desa Randublatung.
Ketiga orang pembantu jagabhaya pun gemetar ketakutan, begitu juga Klungsur langsung berlari menuju ke arah Gada Galih Asem nya yang dia sandarkan pada sudut bale bale rumah kepala desa. Tak sengaja Klungsur menyandung kaki seorang pengawal yang sedang tertidur pulas. Si pengawal langsung terbangun dari tidurnya.
"Ada apa Pendekar Klungsur?
Kenapa kau terlihat gugup begitu?", tanya si pengawal Raden Wira Ganggeng.
"Anu itu kita dalam bahaya..
Sebaiknya kau bangunkan yang lain", jawab Klungsur sambil menyambar Pedang Setan yang ada di sebelah Gada Galih Asem dan berlari keluar. Mendengar jawaban itu, dengan cepat ia membangunkan kawan kawan nya. Mereka berempat segera berlari keluar sambil menggenggam gagang senjata mereka masing-masing.
Semua nampak tegang sambil terus menatap tajam ke arah jalan yang membentang di depan kediaman Lurah Mpu Paniti kecuali Arya Pethak yang langsung menjentikkan jari tangan kanannya. Diatas pohon sawo besar, Dawuk Ireng menganggukkan kepalanya ke arah Arya Pethak.
Tenggg!!! Theeenggg!!
Suara lonceng berdentang dari arah barat. Kabut tebal tiba-tiba turun menutupi jalan bersamaan dengan bau kemenyan yang di menyebar ke seluruh tempat itu. Suara lolongan serigala di tambah denting lonceng kematian membuat suasana semakin terasa mencekam.
Dari arah barat serombongan sosok berpakaian serba dengan tudung kepala yang nyaris menutupi seluruh wajah muncul mendorong gerobak dengan sebuah kotak kayu yang berbentuk persegi panjang.
Kreeekkk kreeekkk!!
Klungsur mencoba menguatkan hati agar tidak pingsan melihat penampakan hantu di depan matanya. Seorang wakil jagabhaya sudah pingsan duluan, sedangkan dua lainnya ngompol karena ketakutan. Perlahan rombongan yang mendorong gerobak kayu itu semakin lama semakin mendekati mereka. Bekel Taruna sudah pucat wajah nya sementara tiga bawahannya kesulitan menelan ludah sendiri.
Arya Pethak mendengus keras sebelum melesat cepat kearah rombongan makhluk hitam itu. Tangan kanannya sudah berubah warna menjadi biru terang karena dia menggunakan Ajian Tapak Brajamusti yang bisa melukai tubuh siluman.
"Disini bukan tempat mu!", teriak Arya Pethak sambil menghantamkan telapak tangan nya. Selarik sinar biru terang melesat cepat kearah gerobak kayu yang di dorong oleh empat sosok makhluk hitam bertudung itu.
Whhhuuuggghhhh...
Blllaaammmmmmmm!!!!
Gerobak kayu itu langsung meledak saat sinar biru terang menghantam. Sebuah bayangan merah melompat tinggi ke udara dan terbang dengan kedua sayapnya. Mata makhluk merah dengan sayap mirip kelelawar itu mendelik tajam ke arah Arya Pethak.
"Manusia laknat!
Kau berani melawan ku??!!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat pagi selamat beraktivitas.
Jaga kesehatan agar lancar puasanya.
__ADS_1