Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Uji Kemampuan Beladiri 2


__ADS_3

Pertandingan pertama Arya Pethak langsung menarik perhatian seluruh penonton dan para tamu agung di panggung kehormatan. Bahkan pertandingan 4 arena pertandingan lainnya pun terasa tidak berarti apa-apa meskipun ada murid Istana Atap Langit dan murid Puncak Khayangan.


"Ki Buyut Mangun Tapa,


Darimana kau dapat murid sehebat ini? Ku lihat gerakan tubuhnya berbeda dengan gerakan para murid Perguruan Gunung Ciremai", Detya Prabangkara dari Perguruan Pedang Halilintar membuka omongan.


"Benar, Prabangkara..


Aku lihat ini bukan jurus yang biasa di mainkan oleh para murid Perguruan Gunung Ciremai. Aku saja hampir tidak percaya kalau dia murid Perguruan Gunung Ciremai", Ki Buyut Somala, guru Gandamana langsung menohok dengan pertanyaan yang mungkin di pikirkan oleh semua tamu kehormatan disitu. Linggakancana hanya mendengus dingin sembari menunggu penjelasan Ki Buyut Mangun Tapa.


"Dia memang murid baru Perguruan Gunung Ciremai, asalnya dari negeri wetan.


Kalau dasarnya sedikit berbeda, ya kalian abaikan saja lah. Lagipula usia nya cocok untuk ikut uji kemampuan beladiri ini, aku sengaja menyuruhnya ikut untuk menjadi kejutan bagi kalian semua hahahaha ", Ki Buyut Mangun Tapa tertawa keras saat melihat keterkejutan para tokoh besar dunia persilatan aliran putih ini.


"Apa kau sama sekali tidak khawatir dengan keselamatan murid baru mu itu ha? Dasar sesat!!", maki Resi Bujangga Suci dari Gunung Tangkuban Parahu yang kesal karena Ki Buyut Mangun Tapa sembrono memasukkan murid nya. Sebenarnya dia khawatir dengan keselamatan murid nya yang satu kelompok dengan Arya Pethak.


"Hahahaha..


Buat apa khawatir? Kalah ya kalah, memang ya menang. Kenapa harus pusing dengan hasil akhir? Kehebatan seorang pendekar tidak di tentukan oleh uji kemampuan beladiri ini tapi dari hasil pengabdian kepada masyarakat", ujar Ki Buyut Mangun Tapa sambil tersenyum lebar.


Sorak sorai penonton terdengar riuh rendah saat ada peserta yang kalah. Peserta yang sudah melakukan pertandingan diijinkan untuk ikut menonton pertandingan dari luar pagar.


Tengah hari, Aki Kolot di bantu Klungsur dan Anjani mengantar makanan untuk para anak murid Perguruan Gunung Ciremai karena para peserta tidak diizinkan untuk kembali ke tenda sebelum keseluruhan pertandingan berakhir.


Nay Kemuning yang mendapat urutan ke 11 setelah tengah hari berhasil memenangkan pertandingan melawan seorang pendekar wanita tanpa perguruan. Meski mendapat 2 luka sayat pada punggungnya, perempuan cantik berbaju hijau kekuningan itu berhasil membuat lawannya babak belur.


Sore menjelang tiba. Babak pertama uji kemampuan beladiri berhasil mendapatkan 75 peserta yang akan maju ke babak selanjutnya. Semua peserta pun segera kembali ke tenda masing masing perguruan untuk beristirahat.


Dari sepuluh peserta uji kemampuan beladiri ini, seorang murid Resi Ajimulya dari Perguruan Gunung Ciremai tidak lolos di babak kedua karena kalah melawan Ewangga, murid langsung Linggakancana, sang Raja Istana Atap Langit. Sedangkan yang lain bisa lolos meski ada yang mengalami cidera ringan.


Malam hari turun dengan cepat di wilayah Gunung Pojoktiga. Cuaca dingin bercampur angin dan kabut tipis membuat para peserta uji kemampuan beladiri memilih untuk berdiam diri dalam tenda mereka masing-masing.


Arya Pethak sendiri memilih untuk menyalakan api unggun di dekat pohon rindang. Bersama Klungsur, dia duduk di depan api unggun menghangatkan tubuh dari dingin udara Gunung Pojoktiga yang menusuk tulang.


"Anjani kemana Ndoro?", tanya Klungsur sambil melemparkan kayu kering ke perapian.


"Dia aku tugaskan untuk membantu mengobati luka Nay Kemuning dan saudara yang lain. Kau tahu sendiri kan kalau Anjani pintar buat obat luka juga paling lancar berbahasa Sunda di banding kita. Jadi tidak masalah kalau dia membantu mereka", jawab Arya Pethak yang merentangkan jari jemari tangannya untuk mengusir dingin.


"Hehehe iya ya Ndoro,


Kalau kita yang membantu pasti juga akan kerepotan karena kita belum bisa bahasa Sunda.. Untung saja gadis beracun itu pintar berbahasa Sunda, kita benar benar tertolong dengan kehadiran nya", Klungsur sambil membenarkan jarit lompong kali yang melindungi dirinya dari hawa dingin Gunung Pojoktiga.


Malam segera berganti pagi. Riuh kokok ayam jantan bersahutan menyambut pagi hari yang sebentar lagi datang. Para peserta uji kemampuan beladiri yang lolos ke babak kedua buru buru membersihkan diri. Untung saja pembagian tempat mandi dan buang air besar sudah di tata sedemikian rupa hingga tidak ada keributan antara masing masing kelompok perguruan.


Karena Klungsur bukan peserta uji kemampuan beladiri, maka dia berhak masuk ke tempat mandi paling akhir. Naas nya, pagi itu dia kebelet buang air kecil karena semalam kebanyakan minum tuak penghangat tubuh bersama Arya Pethak. Untung saja tidak mabuk.


Karena terlalu lama menunggu, diam diam Klungsur beringsut menuju ke tepi tebing yang tak jauh dari tempat tenda besar murid Perguruan Gunung Ciremai. Di sebelah batu besar, Klungsur melepaskan panggilan alam nya.


Seorang murid Istana Atap Langit yang tengah menggoda seorang pendekar wanita tanpa perguruan sedang melancarkan aksinya saat tiba-tiba saja ada air yang jatuh dari atas.


"Loh kog tiba tiba hujan? Bukankah matahari sedang cerah ya?", gumam si murid Istana Atap Langit sambil melihat sekeliling nya.


"Iya Akang. Langit sedang cerah, kog muncul air. Air ini sedikit bau. Air apa ini? ", si pendekar wanita muda juga mengendus aroma air yang membasahi kepalanya.


"Ini seperti air kencing ya?", ujar si lelaki murid Istana Atap Langit yang turut menjilat air yang jatuh dari atas.


Saat si murid Istana Atap Langit mendongak ke atas, terlibat seorang lelaki yang sedang buang air kecil. Hanya saja wajahnya tidak terlihat jelas karena terhalang oleh semak belukar. Sontak saja si lelaki murid Istana Atap Langit langsung marah.


"Hai siapa yang kencing sembarangan di atas?!", teriak sang lelaki murid Istana Atap Langit dengan lantang.


Mendengar ada suara dari bawah, Klungsur buru buru menata celananya dan berlari meninggalkan tempat itu.


"Keparat!


Bajingan itu kabur. Awas kalau ketemu dia!", gerutu si murid Istana Atap Langit sambil mengibaskan rambut dan kepala nya yang kena air kencing Klungsur. Dia segera mengajak pendekar wanita muda itu menuju ke tempat mandi untuk membersihkan diri.


Arya Pethak yang baru selesai sarapan sudah bersiap untuk bertanding bersama Nay Kemuning saat Klungsur datang dengan nafas ngos-ngosan.


"Kau kenapa Sur? Seperti baru di kejar macan saja", tanya Arya Pethak sambil membenarkan ikatan pelindung tangan kiri nya.


"Bu-bukan hoff huhh bukan macan Ndoro..


Huff haahh hahh aku takut hoff huhh gak kebagian sarapan", jawab Klungsur yang berusaha menata napas nya sambil bicara.

__ADS_1


"Dasar otak makanan!


Yang ada di otak mu cuma makan, makan dan makan terus. Mbok sekali kali mikir teman nya seperti apa keadaan nya", omel Anjani sambil mengumpul bekas wadah sarapan pagi Arya Pethak dan Nay Kemuning. Perempuan cantik itu segera membawa bekas wadah sarapan mereka untuk di cuci.


"Loh sarapannya sudah habis ya? Terus nasib ku bagaimana Ndoro?", rengek Klungsur pada Arya Pethak yang beranjak dari tempat duduknya bersama Nay Kemuning.


"Kau tanyakan saja nasib mu pada Anjani hehehehe", ujar Arya Pethak sambil terkekeh kecil kemudian berjalan menuju ke arah arena pertandingan kelompok kedua bersama Nay Kemuning. Klungsur langsung lemas mendengar ucapan Arya Pethak.


"Nasib apes, gak kebagian sarapan pagi"


Begitu sampai di dalam arena kelompok kedua, pimpinan juri kelompok kedua langsung mengundi nomor peserta uji kemampuan beladiri. Kali ini Nay Kemuning mendapat jatah pertandingan pertama. Lawan nya adalah Somakarta dari Perguruan Rajawali Sakti yang juga lolos babak pertama. Seorang murid Puncak Khayangan lolos ke babak selanjutnya karena mendapat nomor urut 8.


"Kemuning, bersemangat lah!", ucap Arya Pethak sambil tersenyum manis saat Nay Kemuning melangkah menuju ke arena pertandingan. Mendengar itu, Nay Kemuning langsung mengacungkan jempol tangan kanannya kearah Arya Pethak sambil tersenyum simpul.


Wasit mengangkat bendera merah tanda mereka bisa mulai bertanding.


Somakarta menatap tajam ke arah Nay Kemuning sambil tersenyum sinis.


"Huhhhhh gadis sial!


Kemarin kalian lolos karena bantuan Dewi Puncak Khayangan. Kali ini tidak ada lagi orang yang bisa menolong mu. Aku akan menyiksa mu sampai sekarat", ujar Somakarta yang memutar pedangnya.


"Omongan mu besar sekali. Coba perlihatkan kemampuan mu agar orang tidak menganggap kau tukang membual", Nay Kemuning mencabut pedang yang sedikit aneh bentuknya. Bilah pedang itu patah patah seperti patahan besi yang disusun. Saat Nay Kemuning mengalirkan tenaga dalam ke pedangnya, pedang itu langsung memanjang dengan patahan bilah yang terpisah. Itulah keistimewaan dari Pedang Cambuk Naga.


Somakarta sedikit kaget melihat senjata di tangan Nay Kemuning.


"Senjata hebat, tapi tidak ada gunanya melawan ku!", Somakarta langsung melesat cepat kearah Nay Kemuning sambil mengayunkan cakar tangan kanannya.


Whhuuuuuuuggggh...


Nay Kemuning mundur selangkah lalu melenting tinggi ke udara untuk menghindari serangan Somakarta sambil mengayunkan Pedang Cambuk Naga nya ke arah punggung lawan nya.


Shreeeeettttthhh!!!


Somakarta langsung berguling ke tanah lalu menghentak tanah dengan keras. Tubuh kekar Somakarta melesat tinggi ke udara, bersalto sekali kemudian melesat cepat kearah Nay Kemuning sambil mengayunkan cakar tangan kanannya yang seperti burung rajawali mengejar mangsa.


Nay Kemuning dengan cekatan berkelit ke samping menghindari serangan lawan, dan gadis cantik itu kembali mengayunkan Pedang Cambuk Naga ke arah Somakarta yang baru mendarat usai serangan nya gagal.


Shrraaaakkkkhhhh!!


Somakarta menyeringai lebar melihat itu semua.


"Menyerah saja!


Kau tak mungkin melawan ku gadis cantik hahahaha", ujar Somakarta sambil tertawa lepas.


"Menyerah? Tidak ada kata menyerah dalam hidup ku untuk lelaki tak tahu malu seperti mu", Nay Kemuning merobek baju nya kemudian mengikat luka nya agar darah berhenti mengalir. Usai merawat luka nya, Nay Kemuning merapal Ajian Tapak Bayu Gunung ajaran Ki Buyut Mangun Tapa. Di tangan kirinya angin dingin berdesir lembut.


Nay Kemuning langsung melesat cepat kearah Somakarta yang juga sudah menyiapkan jurus pamungkas Ilmu Rajawali Sakti yang bernama Cakar Rajawali Membelah Bumi. Meski tidak setingkat milik Elang Lolong dan Elang Botak, namun ilmu itu masih sangat berbahaya.


Whuuutt whuuthhh!!


Sepuluh larik cahaya hitam melesat cepat kearah Nay Kemuning. Murid Ki Buyut Mangun Tapa itu langsung membabatkan Pedang Cambuk Naga nya untuk menangkis Ilmu Cakar Rajawali Membelah Bumi dari Somakarta.


Thrrriiinnnggggg thrrriiinnnggggg!!


Blllaaammmmmmmm!!!


Nay Kemuning dengan cepat bersalto di udara sembari menghantamkan tapak tangan kiri nya kearah Somakarta yang baru saja melepaskan ilmu andalannya.


Angin dingin berdesir kencang menderu kencang kearah Somakarta. Murid Padepokan Rajawali Sakti itu mengumpat keras sembari melompat menghindar.


Whuuussshh...


Blllaaaaaarrr!!!


Bersama itu, Nay Kemuning melesat cepat kearah Somakarta yang baru menjejak tanah. Satu sabetan Pedang Cambuk Naga langsung membabat kearah bahu kiri Somakarta. Murid Perguruan Rajawali Sakti itu terkejut bukan main dan sedapat mungkin menghindar. Namun dia terlambat beberapa saat.


Chrraaasssshhh!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!!!


Lengan kiri Somakarta langsung terputus karena sabetan pedang Nay Kemuning. Somakarta meraung keras dan tersungkur ke tanah. Nay Kemuning segera mengacungkan senjata nya ke arah leher Somakarta.

__ADS_1


"A-aku mengaku kalah", ujar Somakarta sambil meringis menahan rasa sakit yang teramat sangat pada lengan kiri nya yang buntung.


Mendengar itu, wasit mengangkat bendera merah tanda pertarungan berakhir dan Nay Kemuning di nyatakan sebagai pemenang.


Sorak sorai penonton terdengar riuh. Klungsur bahkan bersuit keras membuat Anjani di dekatnya langsung melotot geram karena suitan Klungsur membuat telinga berdenging.


Di panggung kehormatan, Elang Botak geram bukan main. Somakarta adalah murid nya dan sekarang menjadi cacat seumur hidup. Namun dia hanya bisa menahan diri untuk tidak menggangu jalannya uji kemampuan beladiri. Di samping itu dia juga takut Ki Buyut Mangun Tapa akan menghabisi nyawa nya jika dia berani menyerang murid Perguruan Gunung Ciremai itu.


'Suatu saat dendam ini akan ku balas', batin Elang Botak.


Pertandingan lainnya juga berlangsung seru. Limbur Wisesa berhasil mengalahkan murid Pulau Nusa Kambangan. Ambetkasih dari Istana Atap Langit juga maju ke babak selanjutnya setelah mengalahkan murid dari Puncak Khayangan.


Matahari sudah bergeser ke arah barat saat giliran Arya Pethak untuk maju ke pertandingan. Lawan nya kali ini adalah murid Istana Atap Langit dari Kelompok Istana Kilat Guntur yang bernama Windusora.


Lelaki bertubuh tegap dengan tatapan mata tajam ini adalah murid utama dari Kelompok Istana Kilat Guntur. Dia terkenal karena ilmu meringankan tubuh nya yang tinggi karena mewarisi Ajian Kilat Buana.


Wasit mengangkat bendera merah tanda pertandingan di mulai. Windusora langsung melesat cepat hingga tubuhnya menghilang dari pandangan. Semua orang terkejut melihat kemampuan Windusora, pun para tamu agung yang duduk di panggung kehormatan.


Ki Buyut Somala langsung tersenyum lebar sambil melirik ke arah Ki Buyut Mangun Tapa sambil berkata pelan.


"Sungguh di sayangkan. Murid andalan Gunung Ciremai akan di kalahkan oleh murid Istana Atap Langit secepat ini", Ki Buyut Somala seolah mengasihani Arya Pethak.


"Jangan terburu buru membuat pernyataan, Somala.. Hasil akhir pertandingan yang akan menentukan", sahut Dewi Puncak Khayangan sambil menatap ke arah arena pertandingan kelompok kedua.


Arya Pethak tersenyum simpul sambil merapal Ajian Lembu Sekilan. Ajian Mata Dewa nya dengan jelas mampu melihat pergerakan Windusora yang bergerak cepat mengitari nya untuk mencari celah pertahanan Arya Pethak.


Sinar kuning keemasan segera menutupi seluruh tubuh Arya Pethak.


Windusora menyeringai lebar sambil melesat cepat kearah sisi kanan Arya Pethak yang menurutnya lemah. Dengan kecepatan tinggi yang sukar di lihat dengan mata biasa, Windusora langsung menghantam punggung kanan Arya Pethak.


Blllaaammmmmmmm!!!


Arya Pethak terlempar ke depan, namun pemuda tampan itu segera memutar tubuhnya dan terdorong mundur beberapa tombak ke belakang sambil tersenyum lebar.


"Lumayan juga", ujar Arya Pethak sambil berdiri tegak sambil menepuk lengan bahu nya. Windusora terkejut melihat Arya Pethak masih berdiri tegak setelah menerima hantaman kerasnya.


"Kumaha tiasa anjeun henteu tatu sami kalintang? ( Bagaimana bisa kau tidak terluka sama sekali? )", Windusora tergagap sambil menunjuk ke arah Arya Pethak.


"Aku tidak begitu paham apa yang kau ucapkan, tapi pertandingan sebenarnya baru akan dimulai", ujar Arya Pethak sembari tersenyum tipis. Murid Mpu Prawira itu langsung melesat cepat kearah Windusora sambil menghantamkan tangan kanannya.


"Sekarang giliran ku menyerang!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bonus chapter ya untuk reader setia semuanya.

__ADS_1


Jaga kesehatan terus agar ibadah puasa nya lancar bagi yang menjalankan.


__ADS_2