Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Resi Candramaya


__ADS_3

Nay Kemuning yang duduk di belakang Arya Pethak perlahan berdiri.


"Selendang biru itu punya ibu ku, Resi. Namanya Dewi Windradi".


Terkejut Resi Candramaya mendengar jawaban Nay Kemuning. Bekas penguasa Tanah Wengker ini menatap wajah cantik Nay Kemuning. Wajahnya yang bulat telur dengan bibir mungil dan mata yang indah langsung mengingatkan Resi Candramaya dengan sosok putrinya yang sudah lama pergi ke Tanah Sunda.


Perlahan mata pria tua ini basah oleh genangan air mata yang keluar dari sudut mata tua itu. Resi Candramaya langsung bergegas menuju ke arah Nay Kemuning dan memeluk tubuh istri kedua Arya Pethak ini segera. Segala rindu yang dia pendam selama puluhan tahun pada Dewi Windradi dia curahkan kepada Nay Kemuning.


"Cucu ku.. Kau adalah cucu ku", ucap Resi Candramaya di sela sela tangisan nya.


Nay Kemuning pun langsung ikut menangis. Puluhan tahun dia kehilangan keluarganya kini dia bertemu dengan sosok kakek yang selama bertahun-tahun hanya menjadi cerita dari mulut ibunya. Nay Kemuning seakan terlupa dengan adanya Arya Pethak.


Setelah reda rasa haru yang menyelimuti hati dan pikiran nya, Resi Candramaya melepaskan pelukannya dan menatap wajah cantik Nay Kemuning.


"Cucu ku, eyang sampai lupa menanyakan nama mu.


Siapa namamu Ngger Cah Ayu?", ucap Resi Candramaya segera.


"Kemuning Eyang, nama ku Nay Kemuning. Kata ibu ku nama ku adalah karena dia menyukai bunga matahari yang berkelopak kuning di sekitar taman sari istana tempat tinggalnya dulu.


Ia ingin mengingat selalu tempat dimana dia di lahirkan dengan memberikan nama Kemuning pada ku", sahut Nay Kemuning sembari tersenyum bahagia.


"Ah Windradi putri ku..


Kau selalu menjadi pelita hati ku selamanya. Bagaimana kabar ibu mu Ngger Cah Ayu? Apa dia baik baik saja?"


Mendengar pertanyaan Resi Candramaya, wajah cantik Nay Kemuning langsung murung, " Ambu sudah tidak ada lagi di dunia ini Eyang, dia terbunuh oleh pembunuh bayaran yang di kirim seseorang dari Timur bersama Ayahanda saat kami baru pulang dari Istana Galuh Pakuan"


APAAAAAAA???


Kaget Resi Candramaya mendengar jawaban Nay Kemuning. Saking kagetnya kakek tua itu nyaris terjatuh ke belakang andai Galungan tidak cepat menahan tubuhnya. Jawaban Nay Kemuning benar benar menghantam jiwanya.


"Oh Windradi, kenapa cepat sekali kau meninggalkan aku di dunia ini?


Ini semua adalah kesalahan ku dengan menyetujui permintaan Pangeran Ranawijaya untuk memperistri mu. Aku sudah mencelakai mu, Windradi. Maafkan aku putri ku", ratap Resi Candramaya dengan berlinang air mata. Dia begitu terpukul atas kepergian sang putri yang sangat dia sayangi.


"Sudahlah Eyang..


Tidak perlu di sesali perpisahan dengan ambu. Nay Kemuning sudah merelakan nya. Mungkin takdir ayahanda dan ambu memang seperti ini.


Sekarang teh yang terpenting adalah mencari pelaku pembunuhan terhadap Ayahanda dan Ibu. Abdi mah masih ingat wajah para pembunuh bayaran itu. Seorang diantara nya memiliki bekas luka memanjang di dahi hingga pipi. Mata kanannya berwarna putih dan rambutnya merah", ujar Nay Kemuning sambil mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya. Matanya berkilat menyimpan dendam kepada orang yang telah mencelakai kedua orang tua nya.


"Kau benar, Kemuning. Mungkin ini sudah menjadi ketetapan Sang Hyang Akarya Jagat untuk ibu dan ayah mu. Kita harus merelakan mereka.


Tapi tunggu Kemuning


Kau bilang salah seorang pembunuh bayaran itu punya luka memanjang di wajah nya sebelah kanan dan mata nya putih. Benar begitu?", tanya Resi Candramaya mencoba memastikan pendengarannya.


"Benar Eyang,

__ADS_1


Orang itulah yang membunuh Ambu dengan sebilah keris berwarna hitam", ucap Nay Kemuning segera.


"Surenggono.. Ya itu adalah Surenggono, kepala prajurit Istana Wengker saat itu. Jadi rupanya bajingan picak keparat itu yang sudah membunuh putri ku.


Aku bersumpah akan mencari tahu keberadaan keparat picak itu sampai dapat lalu akan ku buat perhitungan dengan nya ", maki Resi Candramaya dengan keras. Emosi penuh dendam kesumat atas kejadian yang menimpa Dewi Windradi benar benar membuatnya hilang kendali. Apalagi setelah tahu bahwa orang yang mencelakai Dewi Windradi adalah Surenggono, bekas anak buah nya sendiri.


Percakapan antara cucu dan kakak yang baru pertama kali bertemu itu sampai melupakan semua orang yang ada di tempat itu. Arya Pethak sama sekali tidak keberatan namun Klungsur yang sedari tadi kesal karena menahan lapar karena berkuda nyaris seharian tanpa henti langsung mendehem keras.


"Ehemmm ehemmm!!"


Suara deheman Klungsur langsung membuat Resi Candramaya dan Nay Kemuning memalingkan wajahnya ke arah Arya Pethak dan kawan-kawan nya yang masih duduk bersila di lantai pendopo kediaman Resi Candramaya. Mereka tersadar dari perasaan mereka masing-masing.


"Eh iya Eyang, sampai lupa aku.. Ini adalah suami ku, Arya Pethak dari Bukit Kahayunan di wilayah Daha. Yang lain adalah kawan dan juga istri nya", ujar Nay Kemuning sambil tersenyum malu-malu.


Hemmmmmmm..


"Jadi kau sudah menikah Kemuning? Ini cucu menantu ku?", Resi Candramaya menatap ke arah Arya Pethak.


"Benar Eyang.. Akang Pethak teh yang sudah membawa Nay pulang kemari setelah bertahun-tahun lamanya tinggal di Gunung Ciremai bersama guru Nay, Ki Buyut Mangun Tapa. Dia juga salah satu murid Perguruan Gunung Ciremai", ujar Nay Kemuning sambil tersenyum penuh arti.


"Murid Ki Buyut Mangun Tapa ya? Kalau begitu aku harus mengujinya sendiri. Apakah dia pantas menjadi suami mu atau tidak.


Arya Pethak,


Berdiri lah. Biarkan orang tua ini menjajal kemampuan beladiri yang kau miliki", Resi Candramaya segera melangkah ke halaman Pertapaan Sapta Arga.


Semua orang terkejut mendengar perkataan Resi Candramaya. Tak terkecuali Anjani dan Sekarwangi. Putri Patih Pranaraja itu bahkan kesal dan segera berdiri dari tempat duduknya.


"Kemuning,


"Bukan begitu maksud abdi, Teh ..


Abdi teh juga tidak tahu kenapa Eyang Resi ingin mengadu kesaktian dengan Akang Pethak ", jawab Nay Kemuning segera.


"Sudah cukup, kalian jangan ribut.. Aku yakin masih bisa menghadapi Eyang Resi Candramaya dengan kemampuan beladiri ku".


Setelah berkata seperti itu, Arya Pethak segera berdiri dari tempat duduknya ke arah halaman Padepokan Sapta Arga. Meski terlihat khawatir, Sekarwangi tak berani membantah perkataan suami nya. Dia hanya mendengus kesal sembari melirik tajam ke arah Nay Kemuning.


"Kalau sampai terjadi apa apa dengan Kakang Pethak, awas saja kau Kemuning!"


Di halaman Pertapaan Sapta Arga, Arya Pethak berdiri berhadapan dengan Resi Candramaya. Pemuda tampan dari Bukit Kahayunan itu mempersiapkan diri dengan sebaik baiknya untuk menghadapi bekas penguasa Tanah Wengker itu dengan sepenuh hati. Dia tidak mau di remehkan begitu saja oleh orang lain, meskipun itu adalah kakek mertuanya sendiri.


Resi Candramaya segera menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat kearah Arya Pethak. Kakek tua itu dengan cepat mengayunkan tangan nya bertubi-tubi kearah suami Nay Kemuning cucu nya.


Whuuthhh whuuthhh!!


Plllaaakkkkk plaakk !


Pertarungan sengit tangan kosong berlangsung cepat dan mematikan. Resi Candramaya terus memburu Arya Pethak seolah menghadapi lawan sesungguhnya di medan laga. Namun Arya Pethak dengan tenang melayani serangan serangan cepat yang di arahkan oleh Resi Candramaya.

__ADS_1


Puluhan jurus telah terlewati.


Tanpa menahan sedikitpun kemampuan beladiri nya, Resi Candramaya melompat tinggi ke udara lalu meluncur turun ke arah Arya Pethak sambil menghantamkan kedua telapak tangan nya beruntun ke arah murid Mpu Prawira itu.


Whuuthhh !


Dashh dhasshhh !


Arya Pethak menyambut serangan itu dengan tangkisan yang tepat. Dua orang itu sama sama terdorong mundur setelah melancarkan serangannya.


Resi Candramaya segera menurunkan kedua telapak tangan sejajar pinggang lalu kedua telapak tangan membentuk semacam rongga di depan dada. Kilatan cahaya biru putih seperti petir menyambar menggulung dan berpilin di rongga telapak tangan itu. Rupanya Resi Candramaya ingin mengeluarkan Ajian Gelap Ngampar andalannya.


Semua orang terkejut melihat itu semua, termasuk Galungan. Dia tahu bahwa Resi Candramaya tidak main main lagi.


'Ini gawat kalau sampai Guru melepaskan Ajian Gelap Ngampar '


Tak seorangpun yang pernah menerima Ajian Gelap Ngampar akan selamat. Mereka akan tewas dengan tubuh hancur dan gosong seperti tersambar petir. Ini yang sangat di takutkan oleh Galungan. Sedangkan yang lain melihat itu sembari menahan nafas kecuali Klungsur yang masih terlihat tenang.


Ki Simo Biru sedikit heran melihat sikap Klungsur yang biasa saja, " Apa kau tidak takut dengan nasib Pendekar Pethak, sobat?.


"Apa yang perlu di takutkan? Aku yakin Ndoro Pethak mampu mengatasinya Ki", balas Klungsur sambil tersenyum tipis. Meski masih sedikit tak percaya, Ki Simo Biru memilih diam sembari terus menatap ke arah halaman Pertapaan Sapta Arga.


Arya Pethak segera memejamkan matanya. Selarik sinar kuning keemasan dengan cepat menutupi seluruh tubuhnya, menciptakan semacam pelindung tipis dari cahaya yang menyilaukan mata. Dia merapal Ajian Lembu Sekilan ajaran Patih Pranaraja.


Resi Candramaya melompat tinggi ke udara dan menghantamkan tangan kanannya dengan bola petir yang menyambar tubuh Arya Pethak.


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr !


Ledakan dahsyat terdengar saat Ajian Gelap Ngampar menghantam tubuh Arya Pethak. Asap tebal menutupi seluruh tubuh Arya Pethak. Resi Candramaya yang mengeluarkan hampir separuh lebih tenaga dalam nya ngos-ngosan sembari menatap ke tubuh Arya Pethak yang masih tertutup oleh asap putih tebal.


Saat asap menghilang, tubuh Arya Pethak masih berdiri kokoh di tempat nya sambil tersenyum tipis. Melihat itu , Resi Candramaya terkejut bukan main. Namun kakek tua itu segera tahu bahwa cucu menantu nya ini adalah pendekar pilih tanding. Setelah menata nafasnya, dia berjalan mendekati Arya Pethak yang berdiri di depan nya.


"Kau luar biasa, cucu mantu ku..


Aku tenang cucu ku dalam perlindungan mu. Kau lolos dari ujian ini", ujar Resi Candramaya segera.


"Terimakasih Eyang Resi..


Kemuning adalah amanat yang di berikan oleh Guru Ki Buyut Mangun Tapa. Tentu saja aku akan menjaga nya dengan seluruh jiwa dan raga ku", balas Arya Pethak sembari menghormat pada Resi Candramaya.


"Kau memang pantas diandalkan..", Resi Candramaya tersenyum penuh arti.


Setelah adu kemampuan beladiri itu, selanjutnya Arya Pethak dan kawan-kawan mendapat tempat di Pertapaan Sapta Arga. Arya Pethak dan para istri nya mendapatkan tempat tinggal di sebuah bangunan yang menjadi bekas rumah tinggal seorang resi yang sudah meninggal. Nay Kemuning pun merasakan kebahagiaan dari pertemuan dengan satu satunya anggota keluarga nya yang masih hidup di Pertapaan Sapta Arga.


Setelah hampir 2 pekan mereka tinggal di Pertapaan Sapta Arga, Resi Candramaya memanggil Arya Pethak dan kawan-kawan nya ke pendopo Pertapaan setelah turun gunung selama 2 hari. Katanya ada sesuatu yang ingin di bicarakan. Setelah semuanya berkumpul di pendopo, Resi Candramaya menghela nafas berat sebelum berbicara.


"Kemuning,


Ada sesuatu yang penting untuk ku beritahu kan pada mu. Kau adalah putri dari anak permaisuri ku, jadi secara tradisi kau adalah pewaris sah tahta Wengker. Itu terserah padamu bagaimana menyikapi nya.

__ADS_1


Yang kedua, aku sudah tahu dimana Surenggono berada. Kau harus menemuinya untuk menanyakan perihal siapa dalang di balik pembunuhan terhadap ibu mu.


Apa kau bersedia?"


__ADS_2