Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Uji Kemampuan Beladiri 4


__ADS_3

Sukesi terkejut melihat serangan Nay Kemuning yang berhasil membuat nya berpisah dengan Sanuraga. Gadis cantik berbaju putih itu langsung memutar mutar selendang nya hingga menjadi keras seperti tongkat besi. Sukesi menarik tangan kanannya ke belakang lalu secepat kilat menusukkan selendang nya yang berubah menjadi tongkat ke arah sabetan Pedang Cambuk Naga nya Nay Kemuning.


Thrrraaannnnggggg!!


Dua senjata mereka beradu. Nay Kemuning memutar tubuh melancarkan serangan kedua nya. Gadis itu segera membuat gerakan memutar yang indah, sambil menebaskan Pedang Cambuk Naga ke arah selendang Sukesi.


Melihat sinar hijau yang muncul dari Pedang Cambuk Naga, Sukesi langsung hentikan tenaga dalam yang tersalur pada selendang. Seketika selendang kembali menjadi kain biasa, Sukesi dengan cepat menariknya kemudian mengebutkan nya pada Nay Kemuning.


Whuuussshh..!!


Nay Kemuning melompat mundur dengan bersalto menjauh dari kebutan selendang Sukesi yang berhawa dingin menusuk tulang.


Blllaaaaaarrr!!


Di sisi arena yang lain, Arya Pethak kembali mengadu kecepatan tinggi dengan Sanuraga. Memang Sanuraga dan Windusora masih satu kelompok di Istana Atap Langit, yaitu Istana Kilat Guntur yang mengandalkan kecepatan tinggi dalam bertarung melawan musuh.


Namun Sanuraga ini masih di bawah Windusora yang merupakan murid utama Kelompok Istana Kilat Guntur dari Istana Atap Langit.


Mengandalkan sepasang pedang pendek, Sanuraga berusaha keras membongkar pertahanan Arya Pethak yang menggunakan Ajian Lembu Sekilan. Namun usaha itu sia sia belaka. Satu sikutan keras Arya Pethak membuat pedang pendek di tangan kanan Sanuraga terlepas dari genggaman.


Sanuraga terdorong mundur beberapa tombak ke belakang. Kalau tadi dia masih memikirkan Sukesi untuk sama sama maju ke 10 besar, namun kini dia memilih untuk memikirkan nasibnya sendiri.


Sanuraga memejamkan mata sekejap lalu menghantamkan tangan kanannya ke arah Arya Pethak. Selarik sinar biru kemerahan pertanda Ajian Api Langit di lepaskan, menerabas cepat kearah Arya Pethak.


Whhuuuuuuuggggh...


Blllaaammmmmmmm!!


Dengan menggunakan gerakan secepat kilat, Arya Pethak menghindari sinar biru kemerahan itu dengan mudah. Melihat serangan nya mentah, Sanuraga kembali menghantamkan tangan kiri nya dua kali ke arah Arya Pethak sembari terus berusaha menjaga jarak dengan Arya Pethak.


Whuuutt whuuthhh!!


Murid Mpu Prawira dari Bukit Kahayunan itu langsung mengayunkan Pedang Setan nya dua kali untuk menghalau sinar biru kemerahan yang mengarah kepadanya.


Thrrriiinnnggggg thrrriiinnnggggg..


Blllaaammmmmmmm!!


Usai menangkis Ajian Api Langit, Arya Pethak lakukan satu gerak tipu cepat, membuat Sanuraga lengah. Arya Pethak seperti hantu muncul tiba-tiba di depan Sanuraga sambil membabatkan Pedang Setan nya.


Sanuraga yang kaget berusaha menangkis tebasan pedang Arya Pethak.


Thrrriiinnnggggg!


Kuatnya tenaga Arya Pethak yang di salurkan pada Pedang Setan membuat Sanuraga tertekan sampai tubuh nya nyaris berlutut. Tak dinyana, Arya Pethak dengan cepat melayangkan tendangan keras kearah perut Sanuraga.


Bhuuukkkhhh..


AAAUUUUGGGGGHHHHH!!


Sanuraga terpental ke belakang. Seisi organ dalam tubuh nya terasa berpindah tempat hingga menyebabkan perutnya sakit bukan kepalang. Dengan satu gerakan cepat, Arya Pethak melesat dan menempelkan pedangnya di leher Sanuraga.


"Abdi angken eleh, abdi angken eleh. Ulah patos abdi ( Aku mengaku kalah, aku mengaku kalah. Jangan bunuh aku)", ujar Sanuraga sambil melemparkan pedang pendek nya dan mengangkat kedua tangannya.


Arya Pethak menoleh ke arah wasit yang memimpin pertandingan. Melihat sang wasit mengangguk, Arya Pethak segera melepaskan bilah Pedang Setan dari leher Sanuraga yang sudah gemetar ketakutan.


Sementara itu, Nay Kemuning yang bertarung melawan Sukesi mulai menemukan cara untuk mengalahkan lawan nya itu. Sukesi kembali m melontarkan selendang nya kearah Nay Kemuning. Gadis cantik itu merendahkan tubuhnya dengan menekuk lutut menghindari serangan selendang Sukesi. Satu kali berguling ke tanah, Nay Kemuning menusukkan Pedang Cambuk Naga ke atas.


Kreeekkk!!


Bilah tajam pedang itu langsung merobek kain selendang. Sambil berlari cepat kearah Sukesi, Pedang Cambuk Naga membelah selendang Sukesi menjadi dua bagian.


Sukesi marah melihat selendang biru senjatanya terbelah dua. Gadis itu buru buru menghantamkan tangan kiri nya yang berwarna putih kebiruan yang merupakan Ajian Awan Beku ke arah Nay Kemuning. Murid Perguruan Gunung Ciremai itu menyambut serangan Sukesi dengan Tapak Bayu Gunung nya.


Blllaaammmmmmmm!!


Sukesi terpental mundur beberapa tombak ke belakang. Murid ketiga Dewi Puncak Khayangan itu muntah darah segar lalu roboh pingsan. Nay Kemuning pun tak jauh berbeda, meski muntah darah dia masih sanggup berdiri.


Wasit mengangkat bendera merah tanda pertandingan berakhir. Dengan lantang dua mengumumkan bahwa Arya Pethak dan Nay Kemuning masuk 10 besar pendekar muda.


Riuh rendah suara penonton menyambut kemenangan mereka. Para murid Perguruan Gunung Ciremai yang tidak lolos sebelumnya dan menjadi penonton ikut bersuka cita bersama Klungsur dan Anjani.


Hasil akhir pertandingan babak ketiga menciptakan suasana heboh yang luar biasa di panggung kehormatan. Bagaimana tidak, 3 murid Perguruan Gunung Ciremai lolos ke 10 besar untuk pertama kalinya setelah hampir sewindu lebih, mereka tidak pernah lolos hingga babak ketiga.


Arya Pethak, Nay Kemuning dan Limbur Wisesa menjadi tiga orang yang mencetak sejarah. Mayangsari harus mengakui keunggulan murid Puncak Khayangan, hingga gagal masuk 10 besar.Dua murid Istana Atap Langit, Ewangga dan Ambetkasih juga lolos ke 10 besar, disusul Puncak Khayangan dengan dua murid. 3 tempat lainnya diisi oleh murid Perguruan Pedang Halilintar, murid Padepokan Pesisir Selatan dan seorang pendekar tanpa perguruan yang bernama Bratasena.


Sore menjelang tiba di wilayah itu. Cahaya matahari perlahan memerah di langit barat pertanda malam akan segera tiba.


Para perguruan yang lolos 10 besar langsung mengadakan makan besar. Aki Kolot dan Anjani langsung membeli 10 ekor ayam untuk menjadi lauk makan mereka. Semuanya bergembira menyambut kemenangan Arya Pethak, Nay Kemuning dan Limbur Wisesa.

__ADS_1


Ada yang bersukacita dan ada pula yang bermuram durja.


Di tenda Perguruan Rajawali Sakti, Elang Lolong dan Elang Botak marah besar. Mereka benar-benar kecewa dengan kegagalan anak murid Padepokan Rajawali Sakti menembus 10 besar uji kemampuan beladiri ini.


"Kalian benar-benar bikin aku malu..


Menghadapi para cecunguk seperti mereka saja kalian keok tak berdaya. Padepokan Rajawali Sakti itu perguruan silat besar di wilayah tengah Tatar Pasundan, bagaimana bisa tak bisa menembus 10 besar pendekar muda berbakat? Apa kata orang orang nanti ha? Melawan anak murid Perguruan Gunung Ciremai saja kalian kalah", Elang Lolong mendelik tajam ke arah para murid Padepokan Rajawali Sakti yang berlutut di hadapan nya.


"Ampuni kami Guru...


Murid murid Gunung Ciremai memang tidak bisa dianggap enteng. Yang membuat ku cacat ini saja tingkatan nya seimbang di atas ku, apa lagi yang bernama Arya Pethak itu sungguh mengerikan. Dia bukan manusia", ujar Somakarta sambil membungkuk.


"Kalau bukan manusia lantas apa? Setan? Malaikat? Atau dewa?


Dia itu masih manusia biasa tolol. Punya daging dan tulang. Bisa tua bisa juga mati", Elang Botak menimpali omongan Somakarta.


"Omongan Pendekar Elang Botak memang benar".


Sang Panampa dari Perguruan Pulau Nusa Kambangan tiba tiba muncul dari kegelapan malam. Elang Lolong dan Elang Botak terkejut melihat kedatangan sesepuh perguruan yang terkenal misterius itu.


"Apa maksud perkataan mu itu, Resi Gandamayit?", Elang Lolong menatap tajam ke arah Sang Panampa alias Resi Gandamayit yang berjalan mendekat ke arah tenda besar Padepokan Rajawali Sakti yang sedikit terpisah dari kerumunan tenda besar lainnya.


"Kita punya dendam yang sama. Ki Buyut Mangun Tapa pernah membunuh salah satu sesepuh Perguruan Pulau Nusa Kambangan. Hari ini murid mereka yang bernama Limbur Wisesa membuat murid ku sekarat.


Ingat Elang Lolong,


Musuhnya musuh adalah teman. Aku ingin membuat perhitungan dengan mereka selepas turun dari Istana Atap Langit ini. Apa kalian bersedia bekerja sama dengan ku?", Sang Panampa tersenyum menakutkan. Elang Lolong dan Elang Botak saling berpandangan sejenak. Melihat Elang Botak mengangguk, Elang Lolong segera berbicara.


"Kami bersedia bekerjasama dengan mu, Resi Gandamayit. Akan ku balas penghinaan terhadap ku tempo hari.


Tapi bagaimana dengan Istana Atap Langit? Apa mereka tidak akan ikut campur? Di tempat itu masih wilayah kekuasaan Istana Atap Langit", Elang Lolong menunggu jawaban Sang Panampa.


"Kalian tidak usah khawatir, aku sudah bicara dengan pimpinan Istana Wajra Siwa. Mereka tidak akan membantu kita tapi juga akan pura pura tidak tahu apa yang kita lakukan", ucapan Sang Panampa langsung membuat Elang Lolong dan Elang Botak tersenyum lebar.


Malam itu rencana penyergapan di tata sedemikian rupa oleh mereka.


Malam segera berganti pagi yang cerah. Hari keempat ini tidak ada pertarungan agar kesepuluh pendekar muda yang akan berlaga di puncak gelar bisa memulihkan tenaga usai melakukan pertarungan 3 hari berturut-turut.


Menjelang tengah hari, Ki Buyut Mangun Tapa datang mengunjungi tenda besar para murid Perguruan Gunung Ciremai. Kedatangan sang guru membuat Arya Pethak, Nay Kemuning dan Limbur Wisesa seperti mendapat suntikan semangat untuk bertarung esok hari.


"Kalian benar-benar membuat ku bangga, hahahaha...


Untuk kalian yang gagal, masih ada kesempatan untuk maju setengah windu lagi. Berlatihlah keras agar mampu mengejar pencapaian tiga saudara kalian ini.


Dan untuk yang berhasil, kalian tidak boleh sombong. Jalan ke depan masih sangat panjang", ujar Ki Buyut Mangun Tapa sambil menatap ke arah para murid Perguruan Gunung Ciremai di depannya.


"Kami mengerti guru", ujar seluruh murid Perguruan Gunung Ciremai bersamaan.


"Pethak, Nay dan Wisesa..


Kalian besok akan menghadapi ujian akhir. Aku tidak meminta kalian untuk menduduki peringkat 1, 2 dan 3. Tapi aku minta kalian tetap bekerja keras untuk menggapainya. Namun saat kalian sampai pada batasnya, jangan memaksakan diri", Ki Buyut Mangun Tapa memandang ke arah Arya Pethak, Nay Kemuning dan Limbur Wisesa sambil tersenyum simpul.


"Kami patuh pada perintah Guru ", ujar Arya Pethak, Nay Kemuning dan Limbur Wisesa segera. Mendengar itu Ki Buyut Mangun Tapa tersenyum puas. Semilir angin dingin bercampur kabut tipis segera menutupi tempat itu dan Ki Buyut Mangun Tapa menghilang dari pandangan mata semua orang.


Keesokan harinya, lima pertandingan besar di gelar untuk memilih peringkat 5 besar. Kali ini undian nomor peserta di lakukan di depan panggung kehormatan dengan para tamu agung yang membacakan nomor nya.


Arena pertandingan nomor 1, Ambetkasih melawan Nay Kemuning. Arena pertandingan kedua, Ewangga berhadapan dengan Bratasena. Arena pertandingan ketiga, Limbur Wisesa menantang Kentring Manik dari Puncak Khayangan. Arena pertandingan keempat, Arya Pethak akan menghadapi Jayadarma dari Perguruan Pedang Halilintar. Kadita Dewi dari Puncak Khayangan akan menghadapi Jajang Pariseta dari Perguruan Pesisir Selatan di arena pertandingan kelima.


Jayadarma segera mencabut pedangnya. Pedang pusaka ini memancarkan kilat kecil seperti halilintar pada seluruh bilah pedang nya. Dia menatap tajam ke arah Arya Pethak.


"Anjeun jawara nagari wetan nya? Anu sanes kenging ngamomorekeun anjeun, nanging abdi moal watir ka anjeun. Sok atuh urang mimiti ( Kau pendekar negeri timur ya? Yang lain boleh meremehkan kau, tapi aku tidak akan kasihan ke kamu. Ayo kita mulai )", ujar Jayadarma sambil memutar pedangnya.


"Meski aku tidak begitu mengerti apa yang kau ucapkan, tapi satu hal yang pasti. Aku tidak akan kalah dari mu", Arya Pethak menghunus Pedang Setan dari punggungnya.


Melihat lawan sudah mencabut senjata, Jayadarma segera melesat ke arah Arya Pethak sambil menebaskan pedangnya. Sambil tersenyum tipis, Arya Pethak segera mengayunkan pedangnya kearah serangan Jayadarma.


Thrrriiinnnggggg!!!


Pusat perhatian penonton sebagian besar tertuju pada arena pertandingan keempat. Melihat kehebatan lawan Arya Pethak, Klungsur yang melihat pertandingan itu sedikit khawatir.


"Anjani, Ndoro Pethak bisa tidak kira kira mengalahkan orang itu?", Klungsur butuh jawaban Anjani.


"Kau jangan bodoh Sur. Ndoro Pethak itu pendekar pilih tanding. Lawan yang sebanding dengan nya bukan orang itu, tapi para tamu agung di panggung kehormatan sana. Aku yakin dalam 20 jurus, orang itu pasti kalah ", ucapan Anjani bagai air dingin yang mendinginkan api kekhawatiran Klungsur. Pemuda bogel itu langsung tersenyum lebar.


Di atas panggung kehormatan, Dewi Puncak Khayangan langsung menyindir Detya Prabangkara dari Perguruan Pedang Halilintar begitu melihat senjata pusaka di tangan Jayadarma.


"Prabangkara,


Kau begitu murah hati hingga meminjamkan Pedang Taring Halilintar pada murid mu itu. Apa kau benar benar takut murid mu kalah ya?", ejek Dewi Puncak Khayangan sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


"Eh itu tidak begitu Dewi..


Hanya saja Jayadarma adalah murid ku yang paling berbakat. Aku hanya ingin melihat kehebatan Pedang Taring Halilintar saat ada di tangan nya. Iya hanya begitu saja hehehe ", ujar Detya Prabangkara sambil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.


Arya Pethak dan Jayadarma masing-masing melompat mundur beberapa tombak setelah benturan keras mereka yang kesekian kalinya.


'Sudah cukup main mainnya. Kali ini akan ku gunakan setengah kekuatan tenaga dalam ku untuk menghadapi orang itu ', batin Arya Pethak yang segera memejamkan mata beberapa saat.


Jayadarma segera melompat tinggi ke udara dan membabat Pedang Taring Halilintar dengan cepat.


Shreeeeettttthhh!!


Sinar putih kebiruan seperti petir menyambar melesat cepat kearah Arya Pethak. Pemuda itu segera melesat cepat ke samping kanan untuk menghindari sabetan hawa pedang yang berunsur petir.


Blllaaammmmmmmm!!!


Lobang besar tercipta di arena pertandingan saat hawa panas Pedang Taring Halilintar menghantam. Arya Pethak segera menyalurkan tenaga dalam nya pada Pedang Setan lalu menyabetkan pedang itu kearah Jayadarma sebanyak dua kali.


Whuuutt whuuthhh!!!


Dua larik sinar hitam berbau busuk menerabas cepat kearah Jayadarma yang baru menjejak tanah. Murid Perguruan Pedang Halilintar itu dengan cepat mengayunkan pedangnya.


Sinar putih kebiruan langsung melesat cepat kearah dua larik sinar hitam dari Pedang Setan.


Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!


Satu larik sinar hitam tertahan oleh sinar putih kebiruan dari Pedang Taring Halilintar. Namun satu larik sinar hitam terus meluncur cepat kearah Jayadarma. Murid Perguruan Pedang Halilintar itu mengumpat keras sembari melompat menghindar.


Bhhuuuuummmmmmhh!!


Pagar pembatas arena pertandingan di belakang Jayadarma hancur berantakan. Namun itu bukan akhirnya. Saat Jayadarma melompat, Arya Pethak menggunakan Ajian Halimun untuk berpindah tempat.


Betapa terkejutnya Jayadarma saat melihat kabut putih tipis muncul di samping kanan nya. Yang lebih mengagetkan nya, Arya Pethak menyeringai lebar sambil membabatkan Pedang Setan kearah Jayadarma.


Karena tidak siap, Jayadarma hanya mampu menahan tebasan pedang Arya Pethak dengan Pedang Taring Halilintar nya.


Thrrraaannnnggggg!!!


Pedang Taring Halilintar terlepas dari tangan Jayadarma dan mencelat jauh. Pedang berhawa panas itu langsung menancap di tanah. Arya Pethak dengan cepat mengayunkan Pedang Setan ke leher Jayadarma.


"Kau sudah kalah".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Pasukan begadang mana suaranya? Hehehe..


Ayo ronda malam kawan, sahur sahur 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2