
Klungsur terdiam sejenak sebelum berbicara. Mata pria bertubuh bogel itu menatap pergerakan Arya Pethak yang tengah bertarung melawan makhluk hitam yang ditakuti oleh warga Desa Karangan.
"Ndoro Pethak itu pendekar, Gusti Tumenggung.
Dia datang ke Kepatihan Daha atas perintah ayahnya. Begitu yang hamba tahu. Bukan kali ini saja hamba melihat dia bertarung, Gusti Tumenggung.
Tempo hari sebelum bertemu dengan Gusti Tumenggung dan rombongan, kami sempat bertarung melawan pendekar pendekar yang mengganggu perjalanan kami, dan Ndoro Pethak berhasil mengalahkan mereka", ujar Klungsur dengan gaya bicaranya yang polos.
Hemmmm..
"Jadi anak itu adalah pendekar yang baru turun gunung rupanya.
Kecepatan ilmu meringankan tubuh nya luar biasa. Ini mengingatkan ku pada seorang pendekar yang telah lama menghilang dari dunia persilatan", ujar Tumenggung Jaran Gandi sambil mengelus jambang lebat nya.
Pertarungan antara Arya Pethak dan makhluk hitam itu berlangsung sengit.
Arya Pethak memutar telapak tangan kanannya lalu dengan cepat menghantam dada makhluk hitam itu yang terkejar dengan Ajian Langkah Dewa Angin nya.
Bhuuukkkhhh..
Ooouuugggghhhhh!
Sang makhluk hitam terpelanting lalu menabrak dinding pagar rumah yang terbuat dari kayu.
Bhhruuuaaaakkk!
Dinding kayu hancur berantakan. Makhluk hitam itu segera kibaskan lengan nya. Serangkum angin kencang menerbangkan kayu kayu dinding pagar yang hancur melayang cepat kearah Arya Pethak.
Putra angkat Mpu Prawira itu segera merentangkan kedua tangannya. Lalu ditekuk ke depan dada. Lalu dengan cepat dia merapal mantra Ajian Tapak Brajamusti andalannya.
Sinar biru terang tercipta dari telapak tangan Arya Pethak. Dengan menggunakan sepertiga bagian tenaga dalam nya, Arya Pethak menyongsong serangan makhluk hitam itu dengan hantaman tangan kanannya.
Shhhiiiuuuuuuutttt..
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan dahsyat terdengar dari benturan serangan itu. Asap tebal mengepul melingkupi seluruh tempat itu, menghalangi pandangan mata semua orang.
Saat asap mulai sirna, makhluk hitam itu telah menghilang.
"Ndoro Pethak,
Kemana perginya hantu itu?", tanya Klungsur yang segera mendekati Arya Pethak usai asap tebal menghilang.
"Dia kabur Sur. Sebenarnya dia bukan hantu, tapi hanya manusia biasa yang berpakaian menyeramkan. Sepertinya dia sengaja membuat kekacauan di tempat ini.
Pasti ada maksud tersembunyi di balik kedatangan nya", jawab Arya Pethak sambil membersihkan pakaian nya dari debu yang menempel.
"Kalau begitu, ayo kita kejar Ndoro...", ujar Klungsur yang segera mengambil ancang-ancang untuk bergerak.
"Mau kau kejar kemana Sur?
Kita tidak tahu kemana arah lari nya makhluk hitam itu. Tapi kalau kau memaksa, kejarlah. Aku dan saudara Gajah Wiru akan menunggu mu disini", seloroh Arya Pethak yang disambut senyum oleh Gajah Wiru.
Klungsur seketika ciut nyalinya. Perlahan dia mundur selangkah ke dekat Arya Pethak.
"Kalau begitu, tidak jadi saja. Biarkan dia kabur jauh. Nanti kalau ketemu lagi, kita hajar dia beramai-ramai", senyum kecut Klungsur membuat Arya Pethak dan Gajah Wiru terkekeh geli.
Usai berhasil membuat makhluk hitam itu kabur, Tumenggung Jaran Gandi mengajak semua orang yang meronda malam itu untuk kembali ke kediaman Ki Lurah Tondowongso. Mereka segera meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, jauh di barat Desa Karangan sebuah bayangan hitam berkelebat diantara gelap malam yang dingin. Gerakannya begitu ringan diantara rimbun pepohonan yang ada di kanan kiri jalan penghubung antar wilayah di Pakuwon Binangun.
Bayangan hitam itu menghentikan langkahnya di sebuah rumah yang terlindung diantara pepohonan hutan yang ada. Sebuah rumah kayu yang menampakkan kesan angker dari luar karena tak pernah di rawat dan di bersihkan.
Si bayangan hitam yang tak lain adalah makhluk hitam yang di sebut sebagai hantu desa karangan langsung membuka pintu rumah.
Kedatangan nya mengejutkan beberapa orang yang ada disana. Mereka segera berdiri dan melangkah mendekati makhluk hitam itu segera.
"Kau kenapa, Jurang Grawah??", tanya seorang lelaki bertubuh gempal dengan perut buncit seperti kebanyakan makan. Raut muka lelaki itu sungguh buruk dengan dua bekas luka di pipi kiri nya. Di tambah kumis tebal dan jenggot lebat nya semakin membuat penampilan lelaki itu terlihat menyeramkan.
Dia adalah Kebo Gunung, salah satu dari 12 sesepuh Kelompok Kelabang Ireng yang di takuti di wilayah Kadipaten Kurawan. Liontin kalung dari emas berukir kelabang di lehernya menjadi bukti bahwa dia adalah sesepuh dari kelompok itu. Hanya pemimpin tertinggi dan 12 sesepuh saja yang mengenakan kalung berliontin emas. Tingkatan di bawahnya memakai liontin perak dan yang terendah memakai liontin perunggu.
Si makhluk hitam itu segera melepaskan topeng berwarna hitam yang menutupi wajahnya. Tersembul keluar wajah seorang lelaki muda berkumis tipis. Dia cukup tampan hanya saja sebuah tahi lalat besar di pipi kanannya membuat nya jadi tidak menarik lagi.
Lelaki muda itu mengenakan kalung berliontin perak, tanda dia adalah bawahan Kebo Gunung.
Jurang Grawah segera mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Rupanya dia sedang terluka dalam.
Kebo Gunung segera memapah Jurang Grawah di bantu oleh seorang lelaki berumur ke dipan kayu yang ada di salah satu sudut rumah tua itu. Usai Jurang Grawah duduk bersila pada dipan kayu, Kebo Gunung segera menyalurkan tenaga dalam nya untuk mengobati luka dalam Jurang Grawah.
Setelah beberapa saat lamanya, Jurang Grawah membuka mata nya perlahan. Rasa sesak yang menyumbat jalan nafas nya sudah jauh menghilang. Meski masih sakit, Jurang Grawah sudah bisa bernafas lega.
"Sekarang jawab pertanyaan ku Jurang Grawah. Siapa yang membuat mu hingga seperti ini?", tanya Kebo Gunung usai melihat keadaan Jurang Grawah yang membaik.
"Ada seorang pendekar sakti yang menghadang ku saat menyatroni Desa Karangan, Kakang.
Ilmu meringankan tubuh nya sangat hebat, mampu mengungguli Ajian Sampar Mendung ku", jawab Jurang Grawah sambil batuk batuk kecil karena sakit pada dadanya masih terasa.
__ADS_1
"Bagaimana bisa?
Ilmu meringankan tubuh mu lebih baik dari ku meski dalam ilmu kedigdayaan kau masih kalah dengan ku. Mampu membuat mu luka dalam parah begini pasti dia tidak bisa dianggap enteng", tanya si lelaki berumur yang rambut mulai bercampur uban putih yang bernama Manyar Abu-abu.
"Aku tidak berdusta Kakang Manyar,
Kemampuan beladiri nya memang jauh di atas ku. Satu yang pasti dia bersama rombongan pasukan Kadipaten Kurawan di desa itu", ujar Jurang Grawah sambil berusaha bangkit dari tempat duduknya. Dia lalu berjalan menuju ke arah kendi air minum yang ada di atas meja rusak di sudut ruangan.
"Kalau dia bersama rombongan pasukan Kadipaten Kurawan, berarti dia adalah prajurit Kurawan. Begitu maksud mu Jurang Grawah?", tanya seorang lelaki bertubuh kurus yang sedari tadi hanya asyik menikmati singkong bakar. Pria kurus itu bernama Bango Ireng, salah satu anggota kelompok Kelabang Ireng yang di segani dibawah pimpinan Kebo Gunung.
"Aku yakin bukan Kakang Bango..
Pakaian nya bukan seragam seperti layaknya seorang prajurit atau perwira", jawab Jurang Grawah usai meneguk air kendi untuk menghilangkan dahaganya.
Hemmmmmmm
"Kalau begitu kita tidak boleh tinggal diam. Pimpinan kita sudah mempercayakan kepada kita untuk mengamankan jalur menuju ke Kadipaten Anjuk Ladang.
Manyar Abu-abu,
Kumpulkan semua anggota kelompok kita. Besok kita serbu Desa Karangan", perintah Kebo Gunung pada Manyar Abu-abu yang memang orang kedua di kelompok itu.
"Baik Kakang, aku mengerti", jawab Manyar Abu-abu yang segera berkelebat cepat meninggalkan rumah itu untuk mengumpulkan para bawahannya.
Sementara itu di Desa Karangan, keberhasilan mereka dalam mengusir hantu yang meresahkan masyarakat Desa Karangan itu menjadi kebahagiaan tersendiri. Malam itu mereka beristirahat dengan tenang.
Pagi menjelang tiba di wilayah Desa Karangan. Sinar matahari pagi mulai menampakkan diri malu-malu di langit timur, terhalang awan tebal pertanda bahwa musim penghujan akan segera tiba. Angin semilir berhembus membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Arya Pethak yang tengah tertidur pulas tiba tiba di bangunkan oleh suara kokok ayam jantan yang kandang nya bersebelahan dengan tempat tidur nya.
Pemuda tampan itu segera beringsut dari tempat tidur nya dan berjalan menuju ke arah sebuah sumber mata air yang menjadi tempat membersihkan diri di belakang rumah Ki Lurah Tondowongso.
Tak sengaja dia berpapasan dengan Rara Saraswati yang baru selesai mencuci pakaian nya.
Arya Pethak hanya mengangguk saja kemudian meneruskan perjalanan nya menuju sumber mata air.
"Sombong sekali pemuda itu. Mentang mentang tampan seenaknya saja mengacuhkan ku", gerutu Rara Saraswati sambil melirik punggung Arya Pethak yang sekejap kemudian menghilang di jalan menurun.
Arya segera membersihkan diri. Begitu selesai, dia segera kembali. Saat dia kembali Paramita dan Sekarwangi berpapasan dengan Arya Pethak.
"Kau sudah selesai mandi Kakang Pethak?", tanya Paramita yang membawa beberapa potong pakaian yang hendak di cuci sekalian. Sekarwangi mengekor di belakangnya.
"Sudah Mita..
Cepat sana cuci pakaian mu. Aku rasa kita segera berangkat ke Kadipaten Kurawan setelah sarapan pagi di tempat ini", jawab Arya Pethak sambil tersenyum tipis.
"Kog Kakang mikirnya seperti itu? Darimana Kakang Pethak tahu?", sahut Sekarwangi seraya berdiri menjajari langkah Paramita.
Pagi itu Ki Lurah Tondowongso menyiapkan hidangan sarapan untuk para tamu agung dari Kadipaten Kurawan dengan baik. Saat mereka tengah asyik makan pagi, tiba tiba kebersamaan mereka di kacau karena teriakan seorang anak buah Jagabaya Desa Karangan yang datang dengan berlari terengah-engah.
"Katiwasan Ki Lurah katiwasan..
Puluhan orang menyerang desa. Mereka mengamuk menghancurkan rumah warga desa di sisi barat", lapor sang anak buah Jagabaya.
Mendengar laporan itu, Tumenggung Jaran Gandi beserta para prajurit Kadipaten Kurawan segera berdiri. Tanpa banyak bicara mereka segera meninggalkan rumah Ki Lurah Tondowongso beserta Arya Pethak dan kawan-kawan nya.
Tak berapa lama kemudian, rombongan prajurit Kadipaten Kurawan bertemu para pengacau keamanan di wilayah barat Desa Karangan.
"Kurang ajar!
Hentikan perbuatan kalian, orang-orang biadab!", teriak Tumenggung Jaran Gandi yang marah melihat kerusakan yang terjadi. Beberapa mayat warga Desa Karangan tampak tergeletak di tanah. Beberapa rumah nampak sengaja di bakar. Asap tebal membubung tinggi ke langit.
"Jadi kau rupanya pemimpin prajurit Kurawan yang ada di sini.
Phuihhhh...
Aku sengaja membakar tempat ini agar kau keluar hahahaha", tawa Kebo Gunung terdengar menggelegar.
"Manusia bejat!
Kau layak mendapat hukuman mati jahanam.
Para prajurit Kadipaten Kurawan, serang mereka!", perintah Tumenggung Jaran Gandi yang serta merta membuat para prajurit Kadipaten Kurawan termasuk Bekel Menjangan Kalung melompat maju menerjang ke arah orang orang dari Kelompok Kelabang Ireng.
Pertarungan sengit antara mereka segera pecah di pagi hari itu.
15 orang prajurit Kurawan di tambah dengan Arya Pethak dan kawan-kawan nya menghadapi 30 orang anggota Kelompok Kelabang Ireng. Mereka segera mengadu ilmu kesaktian.
Jurang Grawah yang melihat kehadiran Arya Pethak langsung melesat cepat kearah pemuda tampan itu seraya menyabetkan pedang pendek nya.
Shreeeeettttthhh...
Arya Pethak langsung berkelit mundur selangkah hingga sabetan pedang pendek hanya menyambar udara kosong berjarak 2 ruas jari dari tubuh Arya Pethak.
Lalu dengan cepat dia melayangkan tendangan keras kearah pinggang Jurang Grawah.
Whuuthhh..
Dengan lincah Jurang Grawah menghindari tendangan keras Arya Pethak. Pemuda bertahi lalat besar di pipi kiri itu lantas merubah gerakan tubuhnya dan pedang pendek nya kearah paha Arya Pethak.
__ADS_1
Putra angkat Mpu Prawira untungnya memiliki Ajian Langkah Dewa Angin. Hanya dengan sedikit hentakan kaki kiri keras, tubuhnya melesat cepat menjauhi sabetan pedang pendek Jurang Grawah.
Anak buah Kebo Gunung itu mengejar gerakan Arya Pethak sambil menyabetkan pedang nya.
Whuuussshh..
Arya Pethak segera melenting tinggi ke udara sambil bersalto di udara. Sebuah serangan tapak tangan kanan dari Arya Pethak dengan cepat menghantam pundak kanan Jurang Grawah.
Dhiiieeeessshh..
Anggota Kelompok Kelabang Ireng itu terjengkang ke belakang. Pundak kanan nya terasa bagai ditimpa batu besar. Dari sudut bibirnya menetes darah segar.
"Kurang ajar!
Akan ku bunuh kau", teriak Jurang Grawah dengan geram. Tangan kiri pemuda berkumis tipis itu lantas menangkup di depan dada. Sebuah sinar hijau kebiruan segera melingkupi seluruh tangan kiri Jurang Grawah. Rupanya dia mengerahkan Ajian Malaikat Maut andalannya.
Arya Pethak tak mau kalah. Segera dia merapal mantra Ajian Tapak Brajamusti andalannya. Sinar biru terang melingkupi seluruh tubuh nya lalu terkumpul pada kedua telapak tangannya.
Jurang Grawah lantas menghantamkan tangan kanannya dengan cepat kearah Arya Pethak.
"Mati kau bangsat...
Chiiiiaaaaaaaaaatttttttt...."
Sinar hijau kebiruan menerabas cepat kearah Arya Pethak. Pemuda tampan dari Bukit Kahayunan itu segera menyongsong serangan Jurang Grawah dengan hantaman tapak tangan kanannya.
Whhhuuuggghhhh...
Ajian Malaikat Maut tak mampu menahan Tapak Brajamusti yang terus menerabas cepat kearah Jurang Grawah.
Blaaarrrhhh!!!
Ledakan dahsyat terdengar saat Ajian Tapak Brajamusti menghajar telak tubuh Jurang Grawah hingga Jurang Grawah terpental jauh ke belakang dan menghantam dinding kayu rumah penduduk.
Bhhruuuaaaakkk!!
Dinding kayu rumah penduduk langsung hancur berantakan. Jurang Grawah muntah darah segar. Dari telinga dan hidung nya juga mengalir darah. Mata Jurang Grawah mendelik sekejap kemudian ia diam. Jurang Grawah tewas dengan luka dalam parah akibat Ajian Tapak Brajamusti andalan Arya Pethak.
Melihat lawan sudah tak bernyawa, Arya Pethak sebentar menoleh ke arah mayat Jurang Grawah dan berucap pelan sebelum melesat cepat ke medan pertarungan.
"Selamat jalan Hantu Desa Karangan"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis cerita ini selanjutnya 😁
__ADS_1
Selamat membaca 🙏🙏🙏