
Semua orang yang ada di tempat itu terkejut mendengar ucapan Lembu Bungkul. Saat mereka masih tak bisa berkata apa-apa, serombongan prajurit Kadipaten Matahun datang di pimpin oleh seorang perwira berpangkat Demung.
Pria bertubuh gempal dengan mata sipit namun berkulit hitam itu langsung bergegas mendekati putra sulung Patih Lembu Yodha. Pandangan nya nanar menatap kearah mayat mayat anggota Delapan Malaikat Pembunuh yang tersohor itu. Kemudian dia melihat Gagak Bumi yang tidak berdaya, berlutut di hadapan Lembu Bungkul.
"Raden Lembu Bungkul,
Apa yang sebenarnya terjadi di sini?", tanya sang perwira tinggi prajurit Matahun yang bernama Demung Gajah Lamuri itu segera.
"Gusti Demung,
Sepertinya kau bisa melihat sendiri bahwa para pembunuh bayaran ini telah menyatroni Kepatihan Matahun saat ayah ku sedang bertugas di luar Kadipaten.
Bukankah keamanan ibukota Kadipaten Matahun ini adalah tanggung jawab mu? Bagaimana kalau sampai berita ini tersebar? Bukankah ini akan membuat nama baik mu turun?", Lembu Bungkul melirik ke arah Demung Gajah Lamuri.
"Ini....", Demung Gajah Lamuri kehilangan kata-kata nya.
Tadi dia mendapatkan laporan dari seorang prajurit penjaga Kepatihan tentang keributan yang terjadi di dalam Kepatihan, tepatnya di sekitar kediaman pribadi Lembu Bungkul. Dia bermaksud untuk mencari muka dengan mendatangi tempat itu, tak di nyana Lembu Bungkul malah menohok dengan pertanyaan yang membuat nya tak berkutik.
Melihat Demung Gajah Lamuri kehabisan kata-kata, Lembu Bungkul langsung tersenyum tipis. Dia bisa memanfaatkan kesempatan ini.
"Jika tidak ingin ada yang tahu sekaligus ini menjadi jasa mu, sebaiknya kau bantu aku untuk menangkap dalang dari semua kejadian ini.
Sudah pasti Gusti Adipati Arya Permada akan memberikan hadiah besar kepada siapa pun yang bisa menangkap 8 Malaikat Pembunuh. Kalau kau keberatan aku juga tidak memaksa mu", ujar Lembu Bungkul sambil tersenyum tipis.
Lembu Bungkul sangat memahami sifat Gajah Lamuri yang sedikit serakah dan haus akan pujian. Iming iming hadiah besar di tambah pujian dari Adipati Arya Permada pasti hal yang tidak mungkin dia tolak.
"Tentu... tentu saja aku akan membantu mu menangkap dalang dari tindakan percobaan pembunuhan ini. Asal kau tidak meminta bagian hadiah dari Gusti Adipati Arya Permada hehehehe...
Sekarang biarkan aku sedikit memberi pelajaran pada bangsat ini agar tangan ku ikut kotor", ucap Demung Gajah Lamuri yang langsung mendapat anggukan kepala dari Lembu Bungkul.
Pria bertubuh gempal itu segera melayangkan tendangan keras kearah dada Gagak Bumi.
Dhiesshhhhhhh..
Auuuggghhhhh!!
Jerit kesakitan terdengar dari mulut Gagak Bumi yang masih belum pulih tenaga nya. Tak sampai di situ saja, Demung Gajah Lamuri langsung melayangkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi kearah Gagak Bumi yang masih tak berdaya.
Bhuuukkkhhh dhiesshhhhhhh..
Aughh aarrrggghhhhhhhhh!!
Hanya dalam beberapa tarikan nafas, Gagak Bumi sudah babak belur di pukuli oleh Demung Gajah Lamuri. Wajah nya lebam, dua gigi nya tanggal dan beberapa benjolan menghiasi kepalanya.
"Ampun ampun...
Aku kapok, aku tobat..", teriak Gagak Bumi yang benar benar disiksa oleh Demung Gajah Lamuri habis-habisan. Saat perwira tinggi prajurit Matahun itu hendak meneruskan tindakan nya, Lembu Bungkul segera menghentikannya.
"Cukup Gusti Demung..
Aku rasa dia sudah cukup mendapat pelajaran".
Demung Gajah Lamuri langsung menoleh ke arah Lembu Bungkul. Pria ini melangkah mendekati Lembu Bungkul sambil mengibaskan tangannya.
"Sekarang katakan padaku, Raden Lembu Bungkul.
Siapa dalang dari upaya pembunuhan mu? Bajingan itu sudah mengatakannya belum?", Demung Gajah Lamuri menatap wajah Lembu Bungkul.
"Dia bilang bahwa Nyi Runting, abdi setia Dewi Kawiswari ibu tiri ku adalah orang yang menyuruhnya sedangkan Nyi Runting juga di suruh majikannya.
Sebaiknya kau tangkap dulu Nyi Runting untuk mengusut tuntas permasalahan ini," ujar Lembu Bungkul sambil tersenyum tipis.
"Serahkan saja pada ku, Raden..
Prajurit bawa si keparat ini ke penjara. Jangan sampai ada kesalahan.
Kau, kau dan kau..
Ikut aku. Kita tangkap dalang percobaan pembunuhan terhadap Raden Lembu Bungkul sekarang!", perintah Demung Gajah Lamuri dengan cepat.
2 orang prajurit segera mengikat tubuh Gagak Bumi dengan tali tambang kemudian 6 orang prajurit mengawal Gagak Bumi ke arah penjara Kota Kadipaten Matahun. Sementara itu Demung Gajah Lamuri membawa 10 prajurit memasuki Kepatihan.
Malam itu juga, Nyi Runting di gelandang ke penjara oleh Demung Gajah Lamuri. Meski sempat terjadi keributan karena Dewi Kawiswari ikut campur dan berupaya menggagalkan penangkapan Nyi Runting, namun Demung Gajah Lamuri menggunakan lencana khusus dari Adipati Arya Permada hingga Dewi Kawiswari pun tak bisa berbuat apa-apa.
Arya Pethak yang sedari tadi hanya menonton drama ini, hanya geleng-geleng kepala saja sambil tersenyum tipis.
"Kau cerdas juga rupanya Saudara Lembu Bungkul.
Dengan begini, ibu tiri mu itu juga tidak bisa lolos dari jerat hukum Kadipaten Matahun", ujar Arya Pethak segera.
"Selama ini aku sudah cukup berdiam diri, Saudara Pethak.
Aku tidak akan membiarkan siapapun bisa menindas ku seenak jidatnya lagi", jawab Lembu Bungkul sembari tersenyum simpul.
Malam panjang itu berakhir dengan di tangkapnya Nyi Runting dan Gagak Bumi, sang pemimpin Delapan Malaikat Pembunuh yang tersisa.
__ADS_1
Pagi menjelang tiba.
Usai sarapan pagi bersama, rombongan orang orang Kadipaten Kembang Kuning berpamitan kepada Lembu Bungkul dan Rara Maheswari. Resi Mpu Soma yang sudah lebih sehat dari kemarin ikut menemani mereka hingga pintu gerbang Kepatihan Matahun.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Saudara Bungkul..
Semoga di lain waktu kita masih bisa bertemu kembali", ujar Raden Wira Ganggeng dengan penuh hormat.
"Aku juga berharap agar kelak akan berjumpa lagi dengan kalian, Raden Wira Ganggeng", jawab Lembu Bungkul segera.
Rombongan itu bergerak meninggalkan Kepatihan Matahun menuju ke arah timur, tepatnya ke wilayah Kadipaten Hujung Galuh untuk menyeberang ke wilayah Kadipaten Songeneb di pulau Madura.
Setelah melewati beberapa desa dan perkampungan kecil, mereka bergerak menyusuri jalan di tepi sungai menuju ke arah timur.
Wide Pitrang yang semalaman tertidur pulas karena kecapekan, begitu kaget saat mendengar cerita Raden Wira Ganggeng mengenai upaya pembunuhan terhadap Lembu Bungkul semalam.
"Wah, kog ndak ada yang bangunin saya semalam. Kalau tahu ada yang mau nyoddhu ( menusuk) teman ku, pasti tak celurit lehernya", ujar Wide Pitrang segera.
"Aku juga tidak tahu apa dan bagaimana peristiwa itu terjadi, Saudara Wide..
Untung saja ada Saudara Pethak dan kawan-kawan nya yang membantu hingga Raden Lembu Bungkul selamat. Aku beruntung sekali mereka mau mengawal ku hingga ke Kadipaten Songeneb", Raden Wira Ganggeng tersenyum tipis.
"Itu sengko setuju dengan Den Raden Wira Ganggeng.
Kemampuan beladiri mereka memang jauh diatas rata-rata pendekar biasa", timpal Wide Pitrang dengan cepat.
Menjelang tengah hari, mereka sampai di tepi sungai Tambakberas. Di tepi sungai kecil itu rombongan berhenti untuk mengistirahatkan kuda mereka.
Para kusir segera melepaskan kuda penarik kereta untuk makan rumput yang tumbuh subur di tepi sungai kecil itu. Di semak belukar yang tumbuh di sana, kuda kuda di ikat. Para pengawal pribadi Raden Wira Ganggeng pun memandikan kuda kuda mereka untuk memberikan kesegaran pada hewan tunggangan mereka agar kuda mereka segar kembali sebelum melanjutkan perjalanan.
Mereka menikmati makanan kering yang sudah disiapkan sebagai pengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan kembali.
Setelah cukup beristirahat, rombongan orang orang Kadipaten Kembang Kuning menggebrak kudanya menuju ke arah timur.
Ketika sore hari tiba, rombongan itu sampai di tapal batas kota Hujung Galuh yang merupakan kota pelabuhan besar di kerajaan Singhasari. Kota ini sangat ramai dengan hilir mudik pedagang dari luar pulau Jawadwipa maupun para pedagang asing yang masuk ke wilayah Kerajaan Singhasari dari mancanegara.
Wide Pitrang yang hapal betul daerah ini langsung mengarahkan rombongan ke arah sebuah penginapan besar yang ada di barat Sungai Brantas yang merupakan urat nadi perdagangan Kerajaan Singhasari di wilayah timur.
Seorang lelaki bertubuh pendek dengan pakaian bagus langsung menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang di penginapan kami, Saudara Wide Pitrang..
Kau lama sekali tidak berkunjung kemari", ujar si lelaki bertubuh pendek itu sembari tersenyum tipis.
Mau tak laporkan sama Gusti Adipati kamu?", Wide Pitrang berbisik pada si lelaki bertubuh pendek itu.
"Aku hanya bercanda, Saudara Wide..
Apa malam ini kalian akan menginap di tempat kami? Karena saudara Pitrang sudah lama tidak menyapa ku, akan ku beri potongan harga", ucap si lelaki bertubuh pendek yang merupakan pemilik penginapan besar itu dengan cepat.
"Nah itu baru namanya tretan (kawan) ku..
Eh, nanti coba ba'na (kamu) panggil si tukang perahu itu kemari, Hayam Abang. Kami akan menyewa perahu nya untuk menyeberang ke Kadipaten Songeneb besok pagi", perintah Wide Pitrang pada lelaki bertubuh pendek yang di panggilnya Hayam Abang.
"Kalau itu masalah gampang, Saudara Wide..
Sebaiknya ba'na beristirahat dulu. Biar nanti aku suruh orang untuk mengabari si tukang perahu itu segera", Hayam Abang mengangguk sambil mempersilahkan rombongan Arya Pethak dan kawan-kawan nya untuk beristirahat.
Malam menjelang tiba di wilayah Kadipaten Hujung Galuh.
Setelah mendapat pemberitahuan dari Hayam Abang bahwa si tukang perahu, Mpu Nala tidak bisa menemui mereka maka malam itu Wide Pitrang mengajak Raden Wira Ganggeng, Arya Pethak dan Hayam Abang menemui Mpu Nala di kediaman nya yang terletak di sebelah Pelabuhan Hujung Galuh.
Mereka berempat berkuda kearah Utara. Di depan sebuah rumah besar yang di kelilingi oleh pagar pohon beluntas, rombongan itu menghentikan langkahnya. Hayam Abang turun dari kudanya diikuti oleh Arya Pethak, Raden Wira Ganggeng dan Wide Pitrang.
Seorang lelaki bertubuh gempal dengan kulit sedikit kehitaman akibat terbakar sinar matahari dengan mata teduh dan senyum yang ramah menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang di gubuk ku, Saudara Wide Pitrang..
Maaf aku tidak bisa datang memenuhi undangan mu karena ada urusan. Mari silahkan duduk", sambut sang empunya rumah dengan cepat. Wide Pitrang, Arya Pethak, Raden Wira Ganggeng dan Hayam Abang pun langsung duduk bersila di kursi kayu yang disediakan.
"Mpu Nala,
Aku tidak ingin basa basi lagi. Kami ingin menyewa perahu mu. Tentu saja dengan orang orang mu untuk menyeberang ke wilayah Kadipaten Songeneb.
Berapa pesse' (duit) biayanya?", ujar Wide Pitrang dengan dialek khas nya.
"Untuk kalian berempat atau masih ada orang lagi?", tanya Mpu Nala segera.
"Kami ingin menyewa satu perahu penuh Kisanak. Soalnya selain kami, masih banyak teman kami yang juga akan berangkat ke Kadipaten Songeneb ", sahut Raden Wira Ganggeng dengan cepat.
"Wah kalau satu perahu penuh, biayanya cukup mahal Kisanak. Bisa jelaskan berapa orang yang berangkat? Perahu kami cukup menampung 30 orang dengan barang muatan yang banyak. Itu di luar anak buah ku loh", Mpu Nala tersenyum tipis.
"Tidak masalah dengan harga nya. Yang pasti kami ingin satu perahu penuh tanpa ada orang lain selain orang-orang kami dan juga anak buah mu, Kisanak..
Bagaimana jawaban mu?", Raden Wira Ganggeng menatap wajah Mpu Nala.
__ADS_1
Belum sempat Mpu Nala menjawab, 4 orang berpakaian bagus masuk ke dalam rumah itu.
"Selamat malam, Mpu Nala..
Wah masih ada tamu rupanya", ujar seorang diantara mereka yang sepertinya merupakan pemimpin dari kelompok ini.
"Selamat malam Saudagar Wangsakrama.
Tumben malam malam begini kemari. Ada yang bisa aku bantu?", Mpu Nala menyambut dengan ramah.
"Aku ingin menyewa perahu mu untuk mengangkut barang dagangan ku ke Pulau Madura. Berapa harga sewanya?", tanya Saudagar Wangsakrama tanpa basa-basi.
"Maaf Juragan..
Para tamu ku ini sudah memesan sewa perahu ku lebih dulu. Aku tidak bisa menyewakan nya kepada mu", jawab Mpu Nala dengan sopan. Mendengar itu, Saudagar Wangsakrama langsung menatap ke arah Arya Pethak dan kawan-kawan nya dengan sinis.
'Huhhhhh...
Orang orang ini kelihatannya tidak punya banyak duit. Akan ku naikkan harga sewanya pasti mereka tidak bisa berbuat apa-apa ', batin Saudagar Wangsakrama.
"Mpu Nala,
Aku naikkan harga sewa nya dua kali lipat dari biasanya. Kau sewakan perahu mu pada ku", ujar Saudagar Wangsakrama sembari tersenyum mengejek ke arah Raden Wira Ganggeng dan kawan-kawan nya.
"Ini...", Mpu Nala terlihat ragu dengan keputusan nya.
"Hai Mpu Nala, jadi orang jangan plin-plan.. Sudah jelas kami yang datang lebih dulu, maka kami yang berhak mendapatkan pelayanan mu lebih dulu.
Kalau hanya harga dua kali lipat dari biasanya, kami juga saguh membayar nya", sahut Wide Pitrang yang mulai gusar.
"Kalau benar punya uang, tunjukkan pada kami. Jangan banyak membual", ujar Saudagar Wangsakrama sembari tersenyum penuh hinaan.
Mendengar itu, Raden Wira Ganggeng langsung melemparkan sekantong kepeng emas ke atas meja Mpu Nala. Setidaknya ada ratusan kepeng emas di dalamnya.
Mata Saudagar Wangsakrama dan para pengikutnya melotot lebar melihat itu semua begitu pula Mpu Nala. Mereka tak menduga bahwa orang-orang itu memiliki duit yang banyak.
Saudagar Wangsakrama yang harus mendapatkan perahu untuk mengangkut barang dagangan berpikir keras. Kalau sampai tidak ada perahu yang mengangkut barang dagangan nya, bisa jadi dia merugi besar karena banyak dagangan nya rusak. Dia menggunakan cara terakhir nya untuk mendapatkan perahu Mpu Nala.
"Aku tidak peduli kalian punya uang atau tidak, pokoknya perahu Mpu Nala harus aku yang sewa.
Kalau kalian masih memaksa berebut perahu penyeberangan dengan kami, jangan salahkan aku jika aku memberi kalian pelajaran", ujar Saudagar Wangsakrama yang langsung membuat keempat orang di belakangnya melangkah maju.
"Patik Celleng (Anjing hitam),
Rupanya ba'na mau main kekerasan ya?", Wide Pitrang langsung berdiri dari tempat duduknya, begitu pula Raden Wira Ganggeng dan Arya Pethak.
"Kalian salah pilih lawan"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Update nya lambat ya? Kemarin author baru dapat musibah meski tidak sampai luka-luka..
Selamat pagi semuanya 🙏🙏
__ADS_1