Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Ratapan Di Tengah Hujan


__ADS_3

Cahaya bulan yang tinggal separuh menggantung di atas langit. Meski angkasa bersih tanpa mendung, hanya beberapa bintang yang berkelap-kelip di langit malam.


Suasana di Desa Karang Kitri benar benar mencekam. Puluhan mayat warga bercampur para perampok Kelompok Kalajengking Hitam bergelimpangan tak tentu arah. Api masih menyala membakar beberapa rumah warga yang beratap daun alang-alang kering dan ijuk aren.


Jagabhaya Desa Karang Kitri, menatap ke arah pertarungan sengit yang terjadi di depan nya. Dia tertegun sejenak sebelum meminta dua bawahannya untuk menolong beberapa warga yang masih hidup.


"Jangan ikut campur dalam pertarungan mereka. Kita awasi mereka baik-baik", ujar Jagabhaya itu sembari matanya tak lepas dari 4 orang yang tengah mengadu nyawa dengan puluhan perampok Kelompok Kelabang Ireng.


Arya Pethak segera memusatkan seluruh tenaga dalam nya. Menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin, Arya Pethak melesat cepat bagai kilat ke arah Pendekar Bulan Sabit Emas yang baru saja turun dari atas rimbun pepohonan.


Pimpinan perampok itu langsung terkejut saat Arya Pethak tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Dasar bangsat!!", maki Pendekar Bulan Sabit Emas sembari mengayunkan pedang aneh nya ke arah lengan Arya Pethak yang mengarah ke dadanya.


Thrrraaannnnggggg!!


Tubuh Arya Pethak berubah menjadi logam keras saat Ajian Lembu Sekilan yang dia rapalkan tadi di babat oleh Pendekar Bulan Sabit Emas. Mata tua pendekar itu melotot lebar saat senjata andalannya tidak mampu menggores kulit tubuh Arya Pethak.


Dhiiieeeessshh!!!


Auuuggghhhhh!!!!


Tubuh tua Pendekar Bulan Sabit Emas terpelanting ke arah pagar rumah warga yang terbuat dari bambu.


Bruuuuaaaakkkkhhh!!


Pendekar tua itu segera berdiri sembari memegangi dadanya yang terasa remuk bagai di hantam kayu besar.


'Bangsat, bocah itu menyembunyikan kemampuannya. Aku tidak boleh gegabah..


Akan ku coba membuat jarak dengan Ilmu Pedang Bukan Sabit ku', batin Pendekar Bulan Sabit Emas sambil mengurut dada nya yang terasa sesak.


Arya Pethak tersenyum penuh arti merasakan kekuatan nya yang meningkat secara drastis.


Melihat lawan tak memperhatikan gerak-gerik nya, Pendekar Bulan Sabit Emas langsung menyalurkan tenaga dalam tingkat tinggi nya pada sepasang pedang aneh nya. Cahaya kuning redup seperti cahaya bulan keluar dari Pedang Bulan Sabit Emas.


"Bulan Sabit Membelah Bumi..


Chiiiiaaaaaaaaaatttttttt....!!"


Pimpinan Kelompok Kalajengking Ireng itu langsung mengayunkan pedangnya kearah Arya Pethak. Dua larik sinar kuning redup melengkung seperti bulan sabit melesat cepat kearah Arya Pethak.


Whuuussshh whuuussshh...!!


Melihat Arya Pethak yang tidak bergerak sama sekali, pimpinan perampok itu menyeringai lebar. Dia yakin Arya Pethak pasti tewas.


Blllaaammmmmmmm!!!


Asap tebal bercampur debu beterbangan terjadi usai ledakan keras akibat hantaman sinar pedang dari Pendekar Bulan Sabit Emas. Wajah kakek tua itu sumringah dan yakin sekali bahwa lawannya tewas terkena ilmu andalannya.


Kelompok Kalajengking Hitam memang satu kelompok dengan Kelompok Kelabang Ireng. Di dalam kelompok Kelabang Ireng sendiri, terdiri dari beberapa kelompok. Yang terbesar adalah Kelompok Kelabang Ireng kemudian Kalajengking Hitam yang bermarkas di selatan Sungai Wulayu, lalu ada beberapa kelompok lain yang juga bernaung di bawah bendera Kelompok Kelabang Ireng. Ada satu lagi kelompok penyamun yang cukup merepotkan, yang menciptakan ketakutan di wilayah barat Singhasari tepatnya di wilayah Kadipaten Kalingga yang masih ada hubungan dengan Kelabang Ireng yaitu Bajing Ireng.


Saat asap menghilang, sesosok bayangan berdiri tegak menatap tajam ke arah Pendekar Bulan Sabit Emas. Pimpinan Kelompok Kalajengking Hitam itu mendelik tak percaya melihat apa yang terjadi di depan matanya.


'Kurang ajar!!


Bocah ini benar-benar berilmu tinggi. Aku tidak boleh sembrono lagi', batin Pendekar Bulan Sabit Emas sembari memutar kedua pedang aneh nya. Sambil mengerahkan seluruh tenaga dalam nya, dia menyatukan gagang kedua pedang hingga Pedang Bulan Sabit nya menyatu hingga memiliki dua ujung tajam sekaligus. Lalu dengan cepat dia memutar senjata di tangan kanannya kemudian melemparkannya ke arah Arya Pethak.


Shrrriinnnggg!!!


Kilatan cahaya kuning redup berputar cepat sembari melesat ke arah Arya Pethak. Dengan tenang, Arya Pethak melenting tinggi ke udara menghindari rangkaian Pedang Bulan Sabit. Hebatnya pedang kembali berbalik arah menyerang ke arah Arya Pethak lagi yang baru saja turun dari lompatan nya.


Sekali hentakan, Arya Pethak kembali melenting tinggi ke udara menghindari serangan Pedang Bulan Sabit. Namun kali ini, dia mengerahkan sepertiga tenaga dalamnya untuk mengeluarkan Ajian Guntur Saketi.


Sinar putih kebiruan seperti petir terkumpul di tangan kanannya, lalu dengan cepat Arya Pethak menghantamkan tangan kanannya ke arah Pedang Bulan Sabit yang kembali meluncur ke arah nya.


Whhhuuuusssssshhhhhh...


Blllaaammmmmmmm!!!!


Pedang Bulan Sabit langsung hancur berkeping keping. Melihat senjata andalannya hancur, pimpinan perampok Kalajengking Hitam itu langsung ciut nyalinya. Dengan cepat ia melompat untuk kabur.


Tapi Arya Pethak yang melihat gelagat mencurigakan itu, langsung mengumpulkan tenaga dalam nya pada ujung jari telunjuknya. Kilatan petir kecil berwarna putih kebiruan langsung dia tembakkan pada sosok Pendekar Bulan Sabit Emas.


Cllaaaassss...


Secepat kilat bergerak, sinar putih kebiruan itu melesat cepat menembus punggung hingga tembus ke dada kiri Pendekar Bulan Sabit Emas. Dia langsung roboh bersimbah darah karena serangan Arya Pethak membolongi jantung.


'Kini aku tidak perlu was-was lagi jika berhadapan dengan tokoh golongan hitam lagi.


Sepertiga tenaga dalam saja mampu menghabisi nyawa perampok keparat ini', batin Arya Pethak sembari tersenyum tipis. Namun sesuatu yang ganjil langsung membuat Arya Pethak waspada.


Arya Pethak menatap ke arah pucuk daun yang bergerak perlahan seperti tertiup angin. Sesosok bayangan hitam berjongkok di atas dedaunan pohon.

__ADS_1


"Apa kau masih tidak ingin turun tangan?", ucap Arya Pethak dengan nada dingin. Tambahan tenaga dalam dari peleburan Batu Inti Naga benar benar menambah daya penglihatan nya.


"Hehehehe...


Mata mu tajam juga anak muda. Belum saatnya untuk kita mengadu ilmu kanuragan. Tapi suatu saat akan ku balas kematian saudara seperguruan ku", ujar si bayangan hitam yang kemudian melesat menghilang di balik kegelapan malam.


Arya Pethak tak mengejar si bayangan hitam itu. Dia segera bergerak menuju ke pertarungan antara sisa anggota Kelompok Kalajengking Hitam yang masih bertarung dengan Nyi Sawitri, Randu Para dan Klungsur juga Jagabhaya Desa Karang Kitri.


3 orang berhasil melarikan diri sedangkan lainnya terbunuh oleh kawan kawan Arya Pethak.


Malam itu para penduduk Desa Karang Kitri bahu membahu membersihkan mayat mayat yang bergelimpangan untuk mencegah penyakit. Sedangkan para warga yang selamat dan kehilangan tempat tinggal di tampung di rumah Lurah Karang Kitri, Banyak Awu.


Setelah membantu keamanan desa, Arya Pethak, Randu Para, Nyi Sawitri dan Klungsur kembali ke tempat tinggal Randu Para.


Namun alangkah terkejutnya mereka saat melihat keadaan rumah Randu Para. Ratnawati terbunuh di halaman sedangkan Anjani pingsan di sebelah nya. Terlihat bekas pertarungan sengit di tempat itu.


Randu Para langsung berteriak histeris.


"Istri ku...


Huuaaaaa... Apa yang sudah terjadi? Siapa yang melakukan ini semua?!!!", raungan Randu Para langsung terdengar sembari menangis tersedu-sedu. Dia tak menyangka bahwa kepergian nya kali ini merupakan kali terakhir dia melihat istrinya.


Arya Pethak langsung mendekati Anjani yang tergeletak dengan wajah pucat. Mulut gadis itu masih mengeluarkan darah segar. Dengan cepat Arya Pethak melihat nadi dan nafas Anjani. Arya Pethak menarik nafas lega setelah tahu bahwa Anjani tengah pingsan dan luka dalam serius.


Di bantu Klungsur, Arya Pethak mendudukkan Anjani dan menotok beberapa jalan darah nya. Kemudian pemuda tampan itu segera menyalurkan tenaga dalam nya untuk mengobati luka dalam Anjani.


"Laras... Laras...


Dimana kau?", suara Nyi Sawitri yang celingukan mencari muridnya Rara Larasati langsung membuat semua orang menoleh. Rara Larasati tidak ada meski Nyi Sawitri mencari nya di sekeliling rumah Randu Para.


Teriakan Nyi Sawitri juga langsung menyadarkan Randu Para. Dia segera meletakkan jasad Ratnawati dan bergegas masuk ke dalam rumah untuk mencari putra semata wayangnya, Seta Wahana. Namun bocah berusia sewindu itu menghilang.


"Seta... Seta Wahana juga tidak ada Nyi. Putra ku hilang dan istri ku terbunuh.


Bajingan!!!


Aku akan balas dendam!!!!", teriak Randu Para dengan lantang.


"Tenang Randu Para..


Satu satunya petunjuk hanya Anjani. Kita harus tenang menunggu dia sadar", hibur Nyi Sawitri yang langsung membuat Randu Para kembali menangis tersedu-sedu. Kehilangan kedua orang yang sangat disayanginya membuat lelaki bertubuh kekar itu mengabaikan harga diri nya dan terus bercucuran air mata.


Malam itu juga, Randu Para memakamkan jasad Ratnawati istrinya di bantu Klungsur dan Arya Pethak. Sedangkan Nyi Sawitri terus berupaya keras menyadarkan Anjani. Hujan deras yang tiba-tiba mengguyur membuat Randu Para yang menangis di pusara makam sang istri tercinta, meratap dengan memilukan hati.


Aku berjanji pada mu. Akan ku bawa kembali Seta Wahana putra kita. Kau tenang lah di sisi Hyang Tunggal.


Kelak akan ku balas kematian mu ini", ujar Randu Para sambil bersimpuh di depan gundukan tanah yang masih merah. Sebuah batu di tancapkan sebagai tanda makam Ratnawati.


"Saudara Randu Para..


Aku turut berdukacita sedalam dalamnya atas meninggalnya istri mu. Aku berjanji akan membantu mu menemukan Seta Wahana dan juga pembunuh istri mu.


Sekarang mari kita pulang. Siapa tahu Anjani sudah sadar dan bisa memberi petunjuk tentang Seta Wahana", ujar Arya Pethak yang membuat Randu Para mengangguk mengerti. Mereka segera meninggalkan tanah pemakaman itu. Sesekali Randu Para menoleh ke arah makam sang istri tercinta yang kini tenang di alam keabadian.


Hari menjelang pagi saat Arya Pethak, Randu Para dan Klungsur sampai di rumah. Di ruang tengah rumah Randu Para, Anjani telah membuka mata nya. Dia sudah sadar dari pingsannya.


"Nini Sawitri,


Anjani sudah mengatakan sesuatu pada mu?", tanya Randu Para begitu ia melihat Anjani sudah membuka mata.


"Keadaan nya masih sangat lemah. Tunggu keadaan nya membaik, Randu Para.


Kita harus bersabar sejenak", jawab Nyi Sawitri segera. Mendengar penuturan Nyi Sawitri, Randu Para mengangguk mengerti.


Kokok ayam jantan bersahutan menyambut kedatangan sang mentari pagi. Langit timur mulai terang menandakan bahwa sebentar lagi pagi akan segera tiba.


Klungsur masih mendengkur di ranjang yang ada di teras rumah Randu Para. Semalaman begadang membuat pria bogel itu pulas dalam tidur nya. Arya Pethak pun memaklumi. Meski tadi sempat ketiduran sebentar, tapi Arya Pethak yang menggantikan Nyi Sawitri menjaga Anjani berusaha untuk tetap terjaga.


Nyi Sawitri memasak bubur untuk sarapan mereka di samping untuk Anjani yang tengah sakit. Dengan telaten Arya Pethak menyuapi Anjani yang mulai sedikit baikan. Mata perempuan cantik itu berkaca-kaca saat dirinya mendapat perhatian dari Arya Pethak.


Usai habis setengah piring, Anjani menggerakkan tubuhnya.


"Kau mau duduk?", tanya Arya Pethak begitu melihat perubahan yang terjadi pada Anjani.


"I-iya Ndo....ro", jawab Anjani lirih. Mendengar itu, Arya Pethak tersenyum tipis dan membantu Anjani duduk. Perlahan Anjani menggerakkan tangan nya ke balik bajunya dan mengeluarkan sebuah liontin kalung bergambar kalajengking.


"O-Orang itu yang menculik Seta dan Laras", ujar Anjani sambil mengangguk perlahan. Randu Para dan Nyi Sawitri langsung mendekati Anjani yang sudah mulai bicara. Mereka terkejut bukan main mendengar penuturan gadis cantik itu.


"Jadi Larasati di culik oleh Kelompok Kalajengking Hitam? Seta Wahana juga, Anjani?", tanya Nyi Sawitri segera. Anjani tak menjawab namun dia mengangguk.


"Kurang ajar!!


Jadi mereka benar-benar ingin cari gara gara dengan ku. Dendam baru ini akan di hitung dengan dendam lama kita, hai Orang-orang Kalajengking Hitam", ujar Randu Para sambil menggeram keras.

__ADS_1


Nyi Sawitri langsung menoleh ke arah Randu Para karena merasa janggal dengan omongan Randu Para baru saja.


"Dendam baru dan dendam lama?


Apa maksud ucapan mu Randu Para?", Nyi Sawitri menatap ke arah Randu Para seakan meminta penjelasan.


Randu Para menghela nafas panjang sebelum berbicara.


"Dulu aku adalah prajurit Kadipaten Matahun dengan pangkat Bekel, Nini..


Saat aku bertugas untuk memberantas gerombolan perusuh di perbatasan barat Matahun, aku dan kakak ku berhadapan dengan kelompok Kalajengking Hitam. Kakak ku terbunuh. Sesaat sebelum tewas, dia meminta ku untuk mundur dari dunia keprajuritan untuk menjaga orang tua kami.


Aku akhirnya mundur dari jabatan ku dan memilih untuk menyingkir dari kota Kadipaten Matahun ke daerah terpencil ini untuk memulai kehidupan baru. Tak di sangka, mereka justru akhirnya menghancurkan kehidupan baru yang aku buat.


Aku bersumpah atas nama istri ku akan menuntut balas kematian nya. Kalajengking Hitam, kalian sudah sangat keterlaluan", Randu Para mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Hemmmmmmm...


Kita tidak mungkin bergerak ke tempat mereka sebelum Anjani sembuh, Saudara Randu Para..


Aku tidak mungkin meninggalkan nya sendiri disini.


Kita tunggu Anjani sembuh baru kita selamatkan Larasati dan Seta Wahana", ujar Arya Pethak yang segera membuat Randu Para dan Nyi Sawitri mengangguk mengerti.


Tiga hari kemudian, kesehatan Anjani sudah berangsur membaik meskipun belum sepenuhnya namun Anjani telah mampu berkuda.


Selepas mereka meninggalkan Desa Karang Kitri, rombongan itu bergerak menuju ke arah Utara. Tujuan mereka adalah tepi Sungai Wulayu, di barat Hutan Lamong yang terkenal sebagai sarang begal dan perampok Kelompok Kalajengking Hitam.


Saat senja tiba, Arya Pethak menghentikan langkah kaki kuda tunggangan nya karena mereka telah sampai Kota Tamwelang yang dulu merupakan bekas wilayah Pakuwon yang kini di lebur menjadi satu dengan Pakuwon Watugaluh.


Randu Para mengajak mereka untuk mengunjungi bekas rekan seperjuangan nya yang kini menetap di Kota Tamwelang untuk bermalam.


****


"Gadis ini cantik. Kakang Gagak Segara, berikan saja dia pada ku. Akan ku beri kau 100 kepeng perak sebagai gantinya", ujar seorang lelaki berewok dengan gigi ompong satu menatap ke arah dalam tahanan dimana seorang gadis muda berwajah cantik tengah duduk bersandar pada dinding tahanan.


Di pangkuan gadis cantik itu, seorang bocah berusia sewindu tengah tertidur pulas.


Mereka berdua adalah Rara Larasati dan Seta Wahana yang di culik oleh Kelompok Kalajengking Hitam.


"Enak saja mulut mu bicara, Jalak Kuning. Kalau aku sendiri yang menangkapnya, tentu aku tidak keberatan.


Tapi ini adalah tangkapan Macan Panuda, sesepuh kelompok kita. Kau mau di tebas leher mu oleh beliau ha?", hardik seorang lelaki bertubuh gempal dengan kulit gelap sambil mendelik tajam ke arah lelaki yang bernama Jalak Kuning itu.


"Ya tentu saja tidak mau to Kang.. Lagi pula apa hebatnya gadis ini hingga Ki Macan Panuda sampai menculik nya?


Di bandingkan gadis cantik kota Kadipaten Matahun, dia masih rata rata saja wajah nya", sahut Jalak Kuning sembari mendekati Gagak Segara yang tengah meneguk secangkir tuak dari air nira aren.


"Aku dengar Ki Macan Panuda ingin mempersembahkan gadis ini untuk menguatkan ilmu Raden Margapati yang mempelajari Ajian Iblis Neraka", jawab Gagak Segara sembari meletakkan cangkir tuak ke atas meja kecil di hadapannya.


"Gadis ini memiliki tubuh Julung Kembang".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mulai besok author ada kesibukan di rumah ya kakak reader semua nya. Kakak tertua author berhajat menikahkan putrinya, jadi pasti repot sampai tgl 25. Tetep author usahakan untuk up episode selanjutnya, cuma waktunya tak tentu. Kalaupun tidak sempat mohon di maklumi.


🙏🙏🙏✌️✌️✌️

__ADS_1


__ADS_2