
Tumenggung Jaran Sembrani langsung memotong pergerakan si pemuda bersenjata tombak dengan pedang nya. Sabetan pedang berbilah aneh seperti pedang rusak itu menebarkan hawa dingin yang menakutkan.
Pada masa mudanya, Tumenggung Jaran Sembrani adalah seorang pendekar yang cukup disegani di dunia persilatan. Selain merupakan salah satu dari 7 murid Begawan Pasopati yang disegani, Tumenggung Jaran Sembrani memiliki ilmu kanuragan yang tinggi sebagai andalannya.
Dengan julukan sebagai Pendekar Pedang Rimpil, Tumenggung Jaran Sembrani sempat menyelematkan Adipati Gajah Panggung dari serbuan para perampok yang menghadang perjalanan Adipati Gajah Panggung di wilayah Pakuwon Berbek. Karena jasanya kepada Adipati Anjuk Ladang itu, Jaran Sembrani diajak bergabung dalam keprajuritan Anjuk Ladang dengan pangkat Tumenggung.
Namun sifat serakah kemudian menguasai diri Tumenggung Jaran Sembrani. Dia ingin pangkat yang lebih tinggi hingga membuat nya tega menghabisi nyawa Senopati Gagak Rimang dengan bantuan teluh dan santet dari Ki Bajang Tawing dari wilayah Kadipaten Ngrowo. Meski dia memiliki ilmu kedigdayaan tinggi namun dia tidak mau ambil resiko hingga akhirnya cara keji dia gunakan untuk membunuh Senopati Gagak Rimang.
Si pemuda bersenjata tombak itu dengan cepat melompat menghindari sabetan pedang Tumenggung Jaran Sembrani. Matanya tajam menatap ke arah Tumenggung Jaran Sembrani yang terlihat ingin membunuhnya.
"Tak aku sangka, seorang pejabat istana Kadipaten Anjuk Ladang ingin menghabisi nyawa ku yang hanya seorang rakyat jelata.
Apa kau merasa terancam dengan ikutnya aku di sayembara ini, Tumenggung Jaran Sembrani?", si pemuda bersenjata tombak itu mulai mengumpulkan tenaga dalam tingkat tinggi nya. Dia tidak mau mati konyol di tangan perwira tinggi prajurit Anjuk Ladang itu.
"Aku tau siapa kau, Ranawijaya..
Sebagai murid Resi Janaka dari Alas Kapur, kau pikir aku bisa kau kelabui dengan gaya mu yang sok jagoan itu ha? Kau hanya pendekar pengacau keamanan yang menjadi buronan pemerintah Kadipaten Pandan Alas.
Ikut sayembara disini untuk menjadi perwira prajurit Kadipaten Anjuk Ladang? Phuihhhh...
Kau hanya sedang mencari celah pertahanan istana Anjuk Ladang bukan?", Tumenggung Jaran Sembrani menyeringai lebar menatap ke arah pemuda yang dipanggil nya Ranawijaya itu dengan tajam.
Mendengar penuturan Tumenggung Jaran Sembrani, Ranawijaya terkejut sekejap lalu dengan cepat dia berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
"Hahahaha..
Khayalan mu memang luar biasa, Tumenggung Jaran Sembrani. Aku memang orang Kadipaten Pandan Alas tapi aku bukan seperti yang kau tuduhkan.
Kau hanya mencari alasan untuk menghentikan langkah ku menjadi perwira tinggi prajurit Anjuk Ladang", ujar Ranawijaya sambil tertawa lepas.
"Kalau iya kau bisa apa Ranawijaya?", usai berkata demikian Tumenggung Jaran Sembrani langsung melesat cepat kearah lawan dengan merapal Ajian Bayu Samudra. Gerakan tubuhnya nyaris tak terlihat oleh mata biasa.
Ranawijaya langsung memutar tombak nya ke sekeliling tubuh. Pusaran angin panas berseliweran mengikuti putaran tombak pemuda itu. Dia menciptakan Ajian Perisai Angin Matahari yang merupakan pasangan senjata nya Tombak Awan.
Sabetan Pedang Rimpil Tumenggung Jaran Sembrani langsung membabat ke arah Ranawijaya.
Shreeeeettttthhh!!
Mata Tumenggung Jaran Sembrani melotot lebar melihat pedang pusaka nya seperti terhalang sesuatu di udara. Sekejap berikut nya tusukan Tombak Awan mengancam ulu hati Tumenggung Jaran Sembrani.
Dengan cepat Tumenggung Jaran Sembrani menghentak keras melenting tinggi ke udara menghindari tusukan tombak Ranawijaya. Perwira tinggi prajurit Anjuk Ladang itu dengan cepat melesat turun sembari mengayunkan pedangnya.
Thhraaaangggggggg thhraaaangggggggg!!
Sabetan pedang bertubi-tubi Tumenggung Jaran Sembrani mendapat tangkisan Tombak Awan milik Ranawijaya.
Semua orang yang menonton pertandingan itu menahan nafas melihat kehebatan ilmu kanuragan dua orang itu. Meski Tumenggung Jaran Sembrani menyerang dengan cepat dan ganas, namun Ranawijaya mampu mengimbangi permainan pedang perwira Anjuk Ladang itu dengan penuh ketenangan.
Berpuluh jurus telah mereka lewati namun siapa pemenang masih belum kelihatan.
Tumenggung Jaran Sembrani melompat mundur beberapa tombak ke belakang usai menghindari tusukan tombak Ranawijaya. Dia segera menoleh ke arah Begawan Pasopati yang masih duduk di kursi panggung kehormatan. Melihat anggukan kepala halus dari Begawan Pasopati, Tumenggung Jaran Sembrani langsung menyeringai lebar sembari menatap ke arah Ranawijaya.
Kali ini Tumenggung Jaran Sembrani menggunakan Ajian Bayu Samudra di gabungkan dengan Ajian Candra Mawa. Tapak kiri tangan yang dia sembunyikan di balik punggung diliputi oleh sinar merah kehitaman yang berhawa panas.
Dengan gerakan cepat bagai kilat, Tumenggung Jaran Sembrani membabatkan Pedang Rimpil kearah Ranawijaya.
Shrraaaakkkkhhhh!!
Murid Resi Janaka dari Alas Kapur itu dengan cepat memutar Tombak Awan nya untuk menangkis.
Thrrraaannnnggggg!!!
Namun Tumenggung Jaran Sembrani langsung menghantamkan tangan kiri nya yang berwarna merah kehitaman kearah Ranawijaya.
Blllaaammmmmmmm!!!
Ranawijaya menjerit keras. Tubuh pendekar muda itu langsung terpental jauh dan menghantam pagar bambu yang menjadi batas arena pertandingan sayembara. Dia muntah darah kehitaman pertanda dia menderita luka dalam serius.
"Ka-kau curang Tumenggung Jaran Sembrani..
Dasar pejabat busuk", maki Ranawijaya sambil membekap dadanya yang terasa sesak bukan main. Dia kembali muntah darah kehitaman usai berbicara.
"Hahahaha...
Dasar bodoh! Kau jangan terlalu lugu Ranawijaya. Di dunia ini hanya yang pemberani dan punya otak yang akan bertahan.
Apa kau ingin melanjutkan pertarungan ini?", Tumenggung Jaran Sembrani menatap tajam ke arah Ranawijaya yang masih duduk di tanah.
"A-aku mengaku kalah kali ini Tumenggung Jaran Sembrani.. Kau adalah pemenangnya", ujar Ranawijaya sambil berusaha bangkit dari duduknya. Dengan langkah sempoyongan, murid Resi Janaka dari Alas Kapur itu meninggalkan arena pertandingan sayembara.
Usai Ranawijaya pergi, Adipati Gajah Panggung berdiri dari tempat duduknya.
"Ada lagi yang mau menantang Tumenggung Jaran Sembrani? Silakan maju ke depan!
Kalau tidak ada, maka yang akan menjadi Senopati Anjuk Ladang selanjutnya adalah Tumenggung Jaran Sembrani.
Aku akan menghitung satu sampai sepuluh. Jika tidak ada yang maju, jabatan Senopati akan langsung ku berikan.
Satu...
__ADS_1
Dua...
Tiga....", Adipati Gajah Panggung menghitung dengan perlahan. Dia sangat berharap agar ada seorang pendekar yang mampu mengalahkan Tumenggung Jaran Sembrani agar jabatan Senopati Anjuk Ladang tidak di berikan pada Jaran Sembrani.
Para penonton sayembara mulai riuh. Bahkan putri Adipati Gajah Panggung yang bernama Dewi Retno Wulan ikut tegang sembari menatap ke sekeliling mereka.
Saat Adipati Gajah Panggung menghitung pada angka ke tujuh, Bekel Regol dengan sengaja mendorong tubuh Arya Pethak dengan keras. Murid Mpu Prawira itu langsung terdorong ke depan dan nyaris jatuh tengkurap andai saja tidak menggunakan tenaga dalam nya untuk memutar tubuhnya dan berdiri tegak.
Melihat kemunculan Arya Pethak, semua pandangan mata langsung tertuju padanya. Tak terkecuali Dewi Retno Wulan, Adipati Gajah Panggung dan Pangeran Gajah Lembono.
Tanpa basa-basi, begitu melihat Arya Pethak berdiri di arena pertandingan, Tumenggung Jaran Sembrani langsung melesat cepat kearah Arya Pethak sambil menyabetkan pedang nya.
Whhhuuuggghhhh...
Dengan kecepatan tinggi, Arya Pethak langsung melompat mundur ke belakang.
Zaaaapppppph zaaaapppppph!!
"Hei tunggu Gusti Tumenggung, ini semua salah paham.
Aku tidak berniat untuk ikut sayembara ini", ucap Arya Pethak mencoba memberi penjelasan. Namun sayangnya Tumenggung Jaran Sembrani tanpa mau mendengar langsung saja menyerang.
"Peduli setan dengan omongan mu!
Kau sudah berdiri di arena pertandingan maka kau harus bertarung melawan ku", teriak Tumenggung Jaran Sembrani sambil membabatkan pedang nya.
Shhhrreeeetttthhhh!!!
Meski Ajian Bayu Samudra membuat Tumenggung Jaran Sembrani bergerak cepat namun Ajian Langkah Dewa Angin yang digunakan Arya Pethak masih lebih cepat. Meskipun serangan mematikan terus di lancarkan oleh murid Begawan Pasopati itu namun tak satupun yang berhasil mengenai sasaran.
Penonton sayembara mulai riuh. Beberapa orang bahkan mulai bertaruh tentang hasil akhir sayembara.
Begawan Pasopati diam diam menggeram pelan, melihat pertarungan antara Arya Pethak yang selalu berhasil lolos dari sergapan Tumenggung Jaran Sembrani.
Sedangkan Dewi Retno Wulan nampak tersenyum tipis melihat kejar-kejaran antara Arya Pethak dan Jaran Sembrani.
'Pemuda tampan itu hebat. Dia pantas untuk menjadi suami ku', batin Dewi Retno Wulan.
Di tengah arena pertandingan, nafas Tumenggung Jaran Sembrani ngos-ngosan usai Arya Pethak melompat menjauhi nya.
"Bangsat!
Sampai kapan kau mau lari terus ha? Uh.. uhh..
Kalau kau pendekar ayo kita adu ilmu kanuragan uhh uhhhh...", Tumenggung Jaran Sembrani sampai tersengal-sengal nafasnya.
Ada teman ku yang mendorong hingga masuk ke arena pertandingan. Kenapa kau masih tidak percaya?", Arya Pethak mulai kesal dengan sifat keras kepala Tumenggung Jaran Sembrani.
"Aku tidak peduli. Kau sudah masuk ke arena pertandingan sayembara. Kau harus bertarung dengan ku, bocah tengik!
Kalau kau tidak mau, akan ku kejar kau di seluruh wilayah Kadipaten Anjuk Ladang. Bila perlu ku bunuh semua kawan dan keluarga mu agar kau mau bertarung melawan ku", Tumenggung Jaran Sembrani mengacungkan pedangnya ke arah Arya Pethak.
"Dasar pejabat tengik!
Kau malah berani mengancam ku menggunakan nyawa teman-teman ku? Baik, akan ku hajar kau sampai setengah mampus biar surut kesombongan mu..
Majulah!! ", teriak Arya Pethak yang kesal dengan sikap Tumenggung Jaran Sembrani.
Mendengar ucapan Arya Pethak, Tumenggung Jaran Sembrani langsung melesat cepat kearah Arya Pethak sambil membabatkan Pedang Rimpil nya.
Dengan Ajian Lembu Sekilan, Arya Pethak berdiri tegak tak bergeming sedikitpun dari tempat nya.
Semua orang terkejut melihat keputusan Arya Pethak yang tidak bergerak saat Tumenggung Jaran Sembrani menyerangnya.
"Bocah itu pasti mampus", ujar seorang penonton sembari menunjuk pada Arya Pethak.
"Belum tentu. Dari tadi dia sudah membuat Tumenggung Jaran Sembrani sampai kehabisan nafas karena mengejar nya", balas seorang penonton lain yang berada di dekat nya.
Suasana riuh penonton sayembara terus terdengar. Mereka terus menatap ke arah arena pertandingan sayembara sambil menahan nafas saat melihat sabetan Pedang Rimpil Tumenggung Jaran Sembrani menebas leher Arya Pethak.
Thrrraaannnnggggg!!
Tumenggung Jaran Sembrani terkejut melihat sabetan Pedang Rimpil nya seperti membentur logam keras. Saat ia hendak melompat mundur, satu hantaman tangan Arya Pethak mengincar perutnya. Dengan cepat ia memapak serangan Arya Pethak dengan tapak tangan kiri nya.
Blllaaaaaarrr!!!
Tumenggung Jaran Sembrani terpelanting ke belakang dan jatuh ke tanah dengan keras.
Uhukk uhuukkkk hooooeeegggghhh!!
Perwira tinggi prajurit Anjuk Ladang itu muntah darah segar. Benturan dengan Arya Pethak tadi membuat Tumenggung Jaran Sembrani terluka dalam meski hanya luka ringan. Semua orang terkejut melihat hal itu. Dewi Retno Wulan langsung tersenyum lebar sembari menunjuk ke tengah arena pertandingan sayembara.
"Lihat Romo Adipati,
Pendekar muda itu kuat sekali. Bahkan Tumenggung Jaran Sembrani pun di jatuhkan dengan sekali pukulan", ujar Retno Wulan dengan cepat.
"Kau jangan bodoh, Ngger Cah Ayu..
Itu tadi karena Tumenggung Jaran Sembrani sedang lengah saja. Perhatikan benar benar baru kau paham", jawab Adipati Gajah Panggung sambil melirik ke arah Begawan Pasopati yang nampak mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil terus melihat Tumenggung Jaran Sembrani yang terduduk di tanah.
__ADS_1
'Hahahahahahaha...
Rasakan itu Jaran Sembrani. Aku sudah tau kau pelaku pembunuhan Tumenggung Kebo Biru. Namun karena kau murid Begawan Pasopati keparat ini aku tidak bisa menindak mu sesuai hukum yang berlaku.
Ayo pendekar muda, hajar terus keparat itu!", batin Adipati Gajah Panggung yang bersorak kegirangan melihat Tumenggung Jaran Sembrani terkapar.
"Bocah edan,
Kalau kau sampai kalah dari pemuda tengik itu jangan harap aku akan sudi mengakui mu sebagai murid ku lagi", teriak Begawan Pasopati yang berdiri dari tempat duduknya.
Mendengar teriakan guru nya, Tumenggung Jaran Sembrani langsung menabok tanah dengan keras dan dia segera berdiri tegak.
Dia segera melemparkan senjata nya ke tanah. Kedua tangan nya langsung bersedekap di depan dada. Seluruh tubuhnya langsung di liputi oleh sinar merah kehitaman berhawa panas menyengat. Dia hendak mengeluarkan Ajian Panglegur Sukmo yang merupakan ilmu pamungkas nya. Ajian ini jauh lebih mengerikan di banding dengan Ajian Candra Mawa yang dia gunakan tadi.
Melihat muridnya mengeluarkan ilmu ajarannya, Begawan Pasopati tersenyum sinis. Semua orang yang hadir di tempat itu terlihat khawatir dengan keadaan yang akan di hadapi oleh Arya Pethak. Namun lain halnya dengan Sekarwangi, Paramita, Anjani dan Klungsur yang ikut menonton pertarungan hidup mati itu.
"Menurut mu Kakang Pethak akan menang atau kalah, Sur?", tanya Sekarwangi sambil menatap ke arah Klungsur. Anjani dan Paramita juga menatap ke arah Klungsur. Nyali Klungsur langsung ciut melihat tatapan ketiga perempuan cantik itu.
"Hamba sudah mengikuti Ndoro Pethak sudah lama, sudah tahu kekuatan nya seperti apa. Pasti dia menang", ujar Klungsur dengan cepat. Ketiga gadis cantik itu langsung tersenyum lebar mendengar jawaban Klungsur.
'Slamet slamet slameettt...
Salah ngomong bisa di cincang aku sama tiga perempuan ini', batin Klungsur sembari menarik nafas lega.
Di tengah arena pertandingan, Arya Pethak yang melihat lawan tidak main-main lagi langsung menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. Dia ingin menjajal kemampuan ilmu kedigdayaan yang di turunkan oleh Resi Jathayu dari Pertapaan Giri Lawu, Ajian Serat Jiwa.
Perlahan seluruh tubuh pemuda tampan itu di liputi sinar hijau kebiruan yang berhawa dingin.
Tumenggung Jaran Sembrani yang sudah pada titik puncak Ajian Panglegur Sukmo langsung melesat cepat kearah Arya Pethak sambil menghantamkan tangan kanannya.
"Panglegur Sukmo..
Mati kau keparat!! Hiyyyyaaaaaaaatttttt...."
Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!!!
Ledakan dahsyat terdengar. Asap tebal menutupi seluruh arena pertandingan. Begawan Pasopati tersenyum lebar, mengira kalau Arya Pethak sudah pasti tewas di tangan Tumenggung Jaran Sembrani.
Aaaarrrgggggghhhhh!!!!
Saat terdengar suara jerit kesakitan, semua orang langsung menajamkan matanya ke arena pertandingan sayembara yang berasap tebal. Samar samar terlihat seorang tengah memegang tubuh orang lain yang meronta-ronta berusaha untuk melepaskan diri.
Saat kabut asap mulai menghilang, semua mata penonton sayembara itu melotot lebar. Bagaimana tidak, Tumenggung Jaran Sembrani tengah meronta karena sinar hijau kebiruan dari tubuh Arya Pethak menyedot daya hidup dan tenaga dalam nya.
Darah keluar dari mulut, lubang hidung dan telinga Tumenggung Jaran Sembrani. Tubuhnya mulai menghitam.
Melihat itu, Begawan Pasopati melesat cepat kearah arena pertandingan sambil menghantamkan tangan kanannya yang berwarna merah kehitaman.
Shiiiuuuuuuuuttttt...
"Kakang Pethak, awaaaassss!!!!", teriak Paramita yang melihat serangan cepat dari Begawan Pasopati. Mendengar teriakan Paramita, Arya Pethak langsung melepaskan Tumenggung Jaran Sembrani dan melompat mundur beberapa tombak ke belakang.
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan akibat hantaman Begawan Pasopati menciptakan lobang besar di tanah. Dengan cepat, Begawan Pasopati menyambar tubuh Tumenggung Jaran Sembrani yang gosong separuh. Beberapa titik nadi dan urat tubuh Tumenggung Jaran Sembrani hancur. Bisa dipastikan bahwa dia akan cacat seumur hidup.
Melihat keadaan muridnya yang menyedihkan, Begawan Pasopati langsung menunjuk pada Arya Pethak sambil berteriak lantang.
"Bocah keparat!
Kau berani mencelakai murid ku. Hari ini kau pasti mati!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pasukan begadang mana suaranya?
Hehehehe 🤣🤣🤣🤣
__ADS_1