Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Pengemis Tapak Darah


__ADS_3

Raden Sindupati langsung pucat seketika saat Klungsur berkata demikian. Meskipun dia adalah anak dari seorang Akuwu tapi dia yang manja sama sekali tidak pernah belajar ilmu kanuragan.


Selama ini dia menindas orang lain hanya mengandalkan kekuatan uang dan pangkat ayahnya saja. Tiga orang pengawal pribadi nya telah di jatuhkan. Karena itu dia gemetar ketakutan mendengar ancaman Klungsur.


"Ka-kau jangan macam-macam. Ayah ku a-adalah Akuwu Berbek. Kalau berani menyakiti ku, ayah ku pasti menghukum mati kalian", ujar Raden Sindupati yang perlahan mundur selangkah demi selangkah. Dia bermaksud untuk melarikan diri.


"Sudah ketakutan masih berani mengancam juga kau rupanya!


Ndoro,


Biar aku pukuli orang itu sampai kapok. Tangan ku gatal ingin menghajarnya ", ujar Klungsur sembari menekan jari jemari tangan nya hingga muncul bunyi 'kreekkk krekkkhh'. Mendengar itu, Raden Sindupati dengan cepat berbalik arah menuju ke arah pintu warung makan.


Arya Pethak yang sudah menggenggam sepotong tulang ayam dengan cepat melemparkan tulang itu ke arah paha Raden Sindupati.


Plaaakkk..


Raden Sindupati langsung terjatuh tengkurap di lantai warung makan. Klungsur yang kesal langsung melompat ke atas pinggang Raden Sindupati.


"Mau coba kabur ya? Rasakan ini dulu", ucap Klungsur sambil melayangkan pukulan keras kearah kepala Raden Sindupati.


Plakkkk bhuukk bhhhuuukkkkkhhh..


Auuuggghhhhh!!!


"Aduh ampun...!!


Tolong lepaskan aku!!!", teriak Raden Sindupati di sela Klungsur yang terus memukuli kepala dan wajahnya.


"Minta ampun ya? Enak sekali kau bilang..


Nih makan bogem mentah ku bangsat!!", jawab Klungsur sembari terus menghajar Raden Sindupati. Meskipun Klungsur hanya memiliki tenaga dalam yang rendah, tapi Arya Pethak sering mengajari nya beberapa jurus silat untuk mempertahankan diri. Di samping itu, dia yang melihat pertarungan Arya Pethak beberapa kali juga mempelajari gerakan gerakan Arya Pethak. Meski tidak seluwes Arya Pethak, namun sudah cukup mampu untuk melawan seorang prajurit biasa.


Arya Pethak, Anjani, Paramita dan Sekarwangi terus menonton Klungsur memukuli Raden Sindupati sambil mengunyah sisa makanan yang ada di meja.


Bhuuukkkhhh dhiesshhhhhhh!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!


"Ampun, aku salah aku kapok!!


Tolong ampuni aku!!", teriak Raden Sindupati yang sudah tidak karuan dandanan nya. Klungsur yang baru saja memukul mata kanan Raden Sindupati bersiap untuk melanjutkan kegiatan nya menghajar Raden Sindupati.


"Sur,


Cukup! Kau sudah memberinya pelajaran berharga hari ini", ujar Arya Pethak yang membuat Klungsur mengangguk.


"Ini hadiah terakhir dari ku untuk orang yang sewenang-wenang terhadap orang lain", ucap Klungsur sambil menghantamkan tangan kanannya ke kepala Raden Sindupati.


Bhhhuuuuuuggggh..


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!


Raden Sindupati langsung terjungkal ke arah pintu. Matanya lebam dan beberapa memar terlihat di beberapa bagian tubuhnya. Dahinya benjol benjol sebesar telur ayam kampung. Klungsur benar benar menghajar nya tanpa ampun.


Melihat keadaan Raden Sindupati yang setengah mati di lantai warung makan, Klungsur masih sempat menendang bokongnya sebelum akhirnya mendekati Arya Pethak.


Usai membayar biaya makan dan ganti rugi akibat ulah Raden Sindupati, rombongan Arya Pethak meninggalkan rumah makan itu. Mereka menuntun kuda mereka masing-masing menuju ke sebuah perahu penyeberangan.


Tak berapa lama setelah kepergian Arya Pethak dan kawan-kawan nya, dua orang prajurit Pakuwon Berbek datang dan membawa Raden Sindupati yang babak belur pergi. Mereka menuju ke arah istana Pakuwon Berbek.


Dengan membayar biaya 5 kepeng perak dan 10 kepeng perunggu, rombongan Arya Pethak menyeberangi Sungai Brantas dengan perahu yang mereka bayar. Riak air sungai yang berwarna kecokelatan menandakan bahwa musim penghujan belum berakhir.


Sesampainya di seberang sungai, Rombongan itu segera melompat ke atas punggung kuda mereka masing-masing kemudian menggebrak hewan pelari itu menuju ke arah Kota Kadiri.


Kota Kadiri menjadi kota besar usai bergabung dengan kota Dahanapura ketika menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu pada era kejayaan Prabu Maharaja Jayabhaya. Walaupun sekarang pusat pemerintahan berpindah ke Singhasari yang terletak di wilayah pegunungan namun posisi kota Kadiri sebagai bandar pelabuhan sungai tak tergantikan. Kota itu tetap ramai oleh pedagang dan para pelancong dari berbagai daerah di Nusantara.


Arya Pethak dan kawan-kawan nya terus memacu kuda mereka ke arah timur. Matahari telah tergelincir ke barat, dan sebentar lagi senja akan turun.


Di depan Kepatihan, Arya Pethak menghentikan langkah kaki kuda tunggangan nya. 4 prajurit yang berjaga langsung mengenali Arya Pethak.


Apalagi melihat Sekarwangi alias Si Ragil Kuning ada diantara mereka, para penjaga gerbang Kepatihan langsung memberi jalan kepada rombongan itu.


Patih Pranaraja sedang duduk di kursi kayu jati nya. Di hadapannya Tumenggung Macan Jinada nampak duduk bersila dengan tenang. Mereka berdua tengah membahas tentang ada nya laporan telik sandi.


Hemmmmmmm...


Terdengar dengusan nafas panjang dari Patih Pranaraja. Lelaki sepuh itu mengusap kumisnya yang memutih sebelum berbicara.


"Kita tidak boleh gegabah, Macan Jinada.


Masalah ini harus di selidiki benar-benar sebelum melapor ke Singhasari. Jangan sampai kita berbuat bodoh dan rencana mereka tercium oleh kita", ujar Patih Pranaraja sambil menatap langit selatan yang berwarna biru dengan mendung tebal menggantung disana.


"Hamba mengerti Gusti Patih..


Orang-orang yang hamba kirim akan terus mengawasi gerak-gerik mereka", jawab Tumenggung Macan Jinada dengan menghaturkan sembah pada Patih Pranaraja.

__ADS_1


"Kanjeng Romo, Sekarwangi pulang!!", Sekarwangi yang berlari ke arah serambi Kepatihan mengagetkan Patih Pranaraja dan Tumenggung Macan Jinada yang tengah berbincang.


Gadis cantik itu langsung menubruk tubuh Patih Pranaraja yang berdiri dari tempat duduknya. Di belakangnya Sekarwangi, Arya Pethak dan lawan nya menyusul.


"Gadis nakal,


Kau ini putri Kepatihan. Tolong jaga martabat mu dengan sikap yang lemah lembut. Kau ini seperti gadis yang baru turun gunung saja", gerutu Patih Pranaraja sembari tersenyum simpul melihat kepulangan Sekarwangi.


"Aku tidak peduli!


Aku kangen sekali dengan Kanjeng Romo", balas Sekarwangi dengan cuek nya. Patih Pranaraja menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putri bungsunya itu.


"Sembah bakti hamba Gusti Patih", ujar Arya Pethak sembari menyembah pada Patih Pranaraja. Suara Arya Pethak langsung membuat Patih Pranaraja mengalihkan pandangannya pada sang pemuda tampan yang duduk bersila di lantai serambi Kepatihan.


"Bocah bagus?!


Ah aku sampai lupa dengan kedatangan mu gara gara si centil ini berulah. Duduklah dengan tenang.


Macan Jinada,


Aku masih ada urusan penting dengan putri ku dan kawan-kawan nya ini. Tetap lanjutkan tugas mu dan kau boleh pergi sekarang", titah Patih Pranaraja yang membuat Macan Jinada segera menghormat pada Patih Pranaraja sebelum mundur dari serambi Kepatihan.


Setelah Tumenggung Macan Jinada pergi dan Sekarwangi duduk di sebelah kursi kayu, Patih Pranaraja segera menanyai Arya Pethak.


"Bocah bagus,


Bagaimana tugas yang aku berikan kepada mu?", tanya Patih Pranaraja segera. Mendengar pertanyaan itu, Arya Pethak segera merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan kantong kain berwarna merah yang merupakan pembungkus nawala dari Adipati Kurawan. Dengan kedua tangan nya, Arya Pethak segera menghaturkan kantong kain itu pada Patih Pranaraja.


Warangka praja Kadiri itu pun segera meraih kantong nawala dari tangan Arya Pethak. Segera dia membuka lembaran daun lontar yang berisi tulisan Adipati Lembu Panoleh. Sebuah senyum terukir di wajah sepuh Patih Pranaraja usai membaca surat itu.


"Adipati Lembu Panoleh rupanya pemimpin yang bijaksana.


Arya Pethak,


Ajak kawan kawan mu untuk beristirahat di tempat mu yang dulu. Kalian pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Lagipula ini sudah senja", perintah Patih Pranaraja segera.


"Sendiko dawuh Gusti Patih", jawab Arya Pethak sambil menghormat pada Patih Pranaraja. Di temani Klungsur, Paramita dan Anjani, putra angkat Mpu Prawira itu segera mundur dari serambi Kepatihan.


Malam segera menjelang di kawasan Kota Kadiri. Cahaya bulan temaram di sela sela mendung yang menyelimuti seluruh tempat itu.


Arya menata nafas dan pikirannya. Malam itu dia ingin meningkatkan tenaga dalam nya dengan bersemedi. Aura kuning keemasan terpendar dari tubuh sang pemuda tampan yang kini mendapat julukan sebagai Pendekar Pedang Setan. Tak lama kemudian dia tenggelam dalam semedi dalam kasih Sang Hyang Tunggal.


Pagi menjelang tiba di wilayah Kota Kadiri. Suara kokok ayam jantan bersahutan menandakan bahwa sebentar lagi sang Surya akan terbit di ufuk timur. Burung berkicau riang di ranting pohon nangka yang tumbuh subur di samping balai tempat tinggal Arya Pethak.


Suara ketukan pintu kamar membangunkan Arya Pethak dari semedi. Pemuda tampan itu segera bergegas menuju ke arah pintu.


Saat pintu kamar terbuka, Paramita berdiri di sana dengan wajah kuyu. Sepertinya ada yang tengah membuat perempuan cantik cucu Begawan Tirta Wening itu resah.


"Kau kenapa Paramita? Kog seperti sedang gelisah begitu? Lagi ada masalah?", tanya Arya Pethak.


"Hiks semalam aku mimpi buruk Kakang..


Dalam mimpi ku, aku kehilangan satu gigi ku. Itu pertanda bahwa ada kerabat ku yang meninggal. Aku ingin pulang ke Gunung Kidul untuk melihat keadaan kakek ku Kakang", jawab Paramita sembari terisak.


"Ya sudah nanti kau pulang ke tempat tinggal Dewa Obat dari Selatan. Akan ku minta Gusti Patih Pranaraja untuk mengantar mu dengan pengawalan.


Maaf aku tidak bisa ikut. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan di Padepokan Padas Putih. Kelak jika kita berjodoh, pasti kita bertemu lagi.


Kau mengerti bukan?", Arya Pethak tersenyum simpul. Paramita mengangguk mengerti.


Hari itu juga Paramita berangkat ke Gunung Kidul tempat tinggal Begawan Tirta Wening dengan di kawal 10 orang prajurit Kepatihan.


Setelah 3 hari tinggal di Kepatihan, Arya Pethak memutuskan untuk menyusul Dewi Bukit Lanjar di Padepokan Padas Putih. Meski Sekarwangi ingin ikut namun Patih Pranaraja tidak mengijinkan anak perempuan nya untuk berpetualang bersama Arya Pethak karena ada situasi berbahaya yang tengah melingkupi seluruh kawasan Kerajaan Singhasari. Dengan berat hati, Sekarwangi menuruti kemauan Patih Pranaraja untuk tinggal di Kepatihan.


Kini Arya Pethak hanya di temani Anjani dan Klungsur. Mereka bertiga menggebrak kudanya menuju ke arah Padepokan Padas Putih yang berada di Bukit Lanjar. Melihat kawannya yang tinggal sedikit, Arya Pethak memberikan Jimat Lulang Kebo Landoh kepada Klungsur sebagai pegangan jika sewaktu-waktu mereka dalam bahaya. Setidaknya dia bisa tenang dengan keselamatan Klungsur yang merupakan abdi setia nya selama ini.


Usai melintasi jalan raya, mereka berbelok ke arah timur dimana Bukit Lanjar berada.


Di Desa Watugede, Arya Pethak dan kedua kawannya berhenti. Desa Watugede merupakan desa terakhir sebelum memasuki Bukit Lanjar yang berada di lereng Gunung Kelud sebelah barat.


Saat memasuki tapal batas desa, rombongan Arya Pethak di hentikan oleh seorang kakek tua bertubuh kurus dengan tongkat kayu. Pakaian kakek tua itu compang camping seperti seorang pengemis.


"Berhenti Kisanak..!!", ujar kakek tua itu dengan berdiri di tengah jalan. Arya Pethak segera menghentikan langkah kaki kuda nya begitu juga dengan Klungsur dan Anjani.


"He kakek tua..


Kenapa kau menghadang kami? Sudah bosan hidup kau ya? Kalau kena tubruk kuda bagaimana? ", tanya Klungsur yang segera melompat turun dari kudanya begitu pula dengan Arya Pethak dan Anjani.


"Maafkan aku Pendekar..


Kalian ini mau kemana kalau boleh aku tahu?", tanya si kakek tua berbaju compang camping itu segera.


"Kami mau ke Padepokan Padas Putih untuk menemui Dewi Bukit Lanjar, Ki..


Ada apa kau menghalangi niat kami?", Arya Pethak menatap ke arah si kakek tua itu dengan waspada. Ada sesuatu yang di sembunyikan oleh kakek tua itu. Meski terasa samar namun Arya Pethak tidak ingin berprasangka buruk lebih dulu.

__ADS_1


"Ke Padepokan Padas Putih ya?


Kalau begitu bolehkah aku ikut menumpang di kuda kalian? Kaki tua ku sudah lelah menempuh perjalanan untuk kesana", pinta kakek tua itu dengan penuh harap.


"Ada tujuan apa kau kesana Ki?", tanya Anjani dengan sopan.


"Aku ingin mengunjungi kawan lama ku di Padepokan Padas Putih. Sudah lama sekali aku tidak tahu bagaimana kabarnya.


Aku mohon beri aku tumpangan untuk kesana", si kakek tua itu terlihat sangat berharap Arya Pethak mengijinkan nya. Mendengar penuturan itu, Anjani dan Klungsur langsung mendekati Arya Pethak.


"Bagaimanapun ini Ndoro? Kita bantu tidak kakek tua itu? Kan kasihan Ndoro", ujar Klungsur sembari menatap wajah Arya Pethak.


"Benar Ndoro Pethak, kasihan dia. Kita beri tumpangan saja ya", timpal Anjani segera. Mendengar desakan dua kawannya, Arya Pethak walau sedikit ragu akhirnya mengangguk.


Klungsur akhirnya berkuda bersama si kakek tua yang mengaku bernama Ki Waseso itu. Mereka berhenti sebentar di pasar Desa Watugede untuk membeli kebutuhan sebelum naik ke Bukit Lanjar.


Mereka berempat segera memacu kuda menuju ke Padepokan Padas Putih. Usai melintasi jalan selebar satu tombak yang membelah kawasan hutan di kaki Bukit Lanjar, mereka akhirnya sampai di pintu gerbang padepokan. Beberapa orang anak murid Padepokan Padas Putih yang tengah berlatih langsung menoleh ke arah pintu gerbang padepokan saat Arya Pethak, Anjani, Klungsur dan kakek tua itu turun dari kuda.


Seorang anak murid Padepokan Padas Putih langsung mendekati mereka.


"Mau apa kalian kemari?", tanya si murid Padepokan Padas Putih dengan pandangan penuh selidik.


"Kami ingin bertemu dengan Dewi Bukit Lanjar", jawab Arya Pethak dengan sopan. Si murid tanpa banyak bicara langsung berbalik arah menuju ke arah bangunan Padepokan Padas Putih.


Tak berapa lama kemudian dia kembali bersama Nyi Sawitri alias Dewi Bukit Lanjar dan Rara Larasati juga kepala Padepokan Padas Putih yang bernama Kebo Kenanga. Mereka terkejut bukan main melihat wajah kakek tua itu segera.


"Arya Pethak,


Kenapa kau kemari dengan orang tua itu?", tanya Nyi Sawitri dengan penuh kewaspadaan.


"Memang kenapa Nini? Kami bertemu dengan nya di kaki Bukit Lanjar ini. Dia bilang ingin menumpang kuda kami hingga sampai kemari", ujar Arya Pethak yang kebingungan dengan pertanyaan Nyi Sawitri.


"Hahahaha...


Sawitri, kau bukan Dewi Bukit Lanjar. Mana nenek peyot itu? Aku kemari untuk balas dendam kematian kakak seperguruan ku", ucapan kakek tua yang mengaku bernama Ki Waseso itu langsung mengagetkan Arya Pethak dan kawan-kawan nya. Mereka dengan cepat menjauhkan diri dari Ki Waseso.


Phuihhhh..


"Aku memakai gelar Dewi Bukit Lanjar sebagai penghormatan kepada Guru ku. Agar orang orang yang masih memiliki masalah dengan dia bisa aku hadapi.


Jadi tujuan mu kemari mencari guru ku, Gubar Waseso? Guru ku sudah meninggal. Aku sebagai Dewi Bukit Lanjar yang baru siap menghadapi mu", ujar Nyi Sawitri yang segera mencabut pedangnya.


"Hahahaha..


Nenek peyot itu sudah mampus rupanya. Kalau begitu aku akan antar kau menyusul nenek peyot itu ke neraka", teriak kakek tua berpakaian compang camping itu dengan lantang.


"Tunggu Nini Dewi,


Kakek tua ini siap sebenarnya?", tanya Arya Pethak yang kebingungan dengan omongan mereka berdua. Nyi Sawitri mendengus keras sebelum berbicara.


"Dengar Arya Pethak,


Kakek tua bau tanah ini adalah musuh guru ku Dewi Bukit Lanjar yang sudah meninggal. Sedari dulu dia tak sekalipun mampu mengalahkan nya. Di dunia persilatan kakek tua bangka ini di kenal sebagai pendekar golongan hitam.


Pengemis Tapak Darah".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Pasukan begadang mana suaranya? Siapkan kopi agar semakin bening penglihatannya hehehe..


__ADS_2