Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Pendekar Muda Nomer Satu


__ADS_3

Mendengar wasit pertandingan berkata, Ewangga langsung bergerak cepat menuju ke arah Arya Pethak sambil melancarkan serangan bertubi-tubi.


Whuuutt whuuthhh..


Arya Pethak dengan tenang meladeni permainan silat Ewangga yang menggunakan ilmu silat Perguruan Istana Atap Langit. Seolah setiap bagian tubuh memiliki mata, pergerakan silat Arya Pethak selalu bisa menepis dan menghindari pukulan dan tendangan keras dari Ewangga yang memburunya bagai orang kesetanan.


Puluhan jurus tangan kosong berlalu dan Ewangga belum bisa mendaratkan satu pukulan pun ke tubuh Arya Pethak.


Whuuussshh!!!


Ewangga menghantamkan tangan kanannya pada kepala Arya Pethak, namun pemuda itu segera menggeser posisi kepala nya. Segera serangan tapak Ewangga mengarah ke arah dada, Arya Pethak bergerak cepat ke samping untuk menghindari serangannya.


Dengan cepat Ewangga menghantamkan tapak tangan kanan kiri nya bertubi-tubi sambil memburu Arya Pethak. Murid Perguruan Gunung Ciremai itu langsung menyambut serangan dengan tapak pula.


Plakkkk plllaaakkkkk!!


Ewangga memutar tubuhnya dan melancarkan tendangan melingkar ke arah kepala lawan.


Whuuutt!!


Arya Pethak merendahkan tubuhnya dan membuat gerakan memutar menyapu kaki kiri Ewangga yang menjadi tumpuan gerakan.


Dhaaaasssshhh!


Ewangga terjerembab karena tumpuan kuda-kuda nya di hancurkan oleh Arya Pethak. Murid Mpu Prawira itu langsung melayangkan sepakan keras kearah dada Ewangga yang masih belum sempat berdiri. Murid Istana Atap Langit itu langsung menyilangkan kedua siku tangan nya untuk bertahan.


Bhhhuuuuuuggggh!!


Kerasnya sepakan Arya Pethak membuat Ewangga terlempar beberapa tombak ke belakang.


"Anjeun saleresna hebat. Nanging ulah enggal teuing kanggo reueus kalawan kakiatan anjeun ( Kau memang hebat. Tapi jangan terlalu cepat untuk bangga dengan kekuatan mu )".


Ewwangga bangkit sambil mengusap setetes darah segar yang keluar dari sudut bibirnya.


Hemmmmmmm..


'Dia ngomong apa sih?', batin Arya Pethak sambil menggaruk kepalanya.


"Aku tidak mengerti maksud ucapan mu, Kisanak.. Tapi aku ingin cepat menyelesaikan ini semua.


Majulah!", Arya Pethak menggerakkan jemari tangan kanannya ke arah Ewangga seolah meminta Ewangga untuk maju.


"Belegug sia!


Anjeun ngamomorekeun abdi! ( Keparat kau! Kau meremehkan ku! )", Ewangga marah karena merasa di hina, langsung mencabut pedang dari pinggang nya dan melesat cepat kearah Arya Pethak sambil mengayunkan pedangnya kearah leher Arya Pethak.


Shreeeeettttthhh!!


Murid Mpu Prawira itu segera berkelit ke samping kanan sambil menghantamkan tangan kanannya ke arah Ewangga yang baru saja menebas udara kosong. Angin dingin menderu kencang kearah pemuda bertubuh tegap itu segera.


Whuuussshh..


Ewangga langsung berguling ke tanah menghindari hantaman angin dingin tenaga dalam dari Arya Pethak.


Blllaaaaaarrr!!


Hantaman angin kencang Arya Pethak menciptakan ledakan keras. Ewangga harus melompat menjauh dengan berjumpalitan beberapa kali ke belakang.


"Mau pakai senjata?!


Akan ku layani", ujar Arya Pethak sambil mencabut Pedang Setan dari punggungnya. Pedang berbilah hitam dengan pamor aneh itu mengeluarkan semacam bau busuk yang mirip dengan bau bangkai manusia. Orang orang di Kadipaten Kurawan dulu menyebutnya sebagai aroma setan dari neraka.


Semua orang yang menonton pertandingan itu menahan nafas melihat dua petarung saling mengeluarkan senjata mereka masing-masing. Nay Kemuning yang keluar dari tempat para peserta langsung mendekati Klungsur dan Anjani yang nampak tegang melihat pertarungan Arya Pethak dan Ewangga. Timbul niat iseng nya untuk mengerjai mereka.


"Apa pertarungan nya seru?".


Klungsur langsung terlonjak kaget mendengar suara Nay Kemuning yang tiba-tiba.


"Setan alas demit komat kamit!!!


Duh Nay Nay.. Kau ini hampir membuat jantung ku copot! Untung kau kawan ku, kalau tidak tak hiiiihhhhh", Klungsur mengepalkan tangannya kuat-kuat seperti meremas sesuatu.


"Hahahaha...


Salahnya Akang juga lah, kenapa atuh menonton pertandingan setegang itu?", Nay Kemuning terkekeh geli melihat reaksi Klungsur. Anjani langsung berdehem.


"Ehemmm..


Tentu saja kami tegang Nay, karena kemenangan Ndoro Pethak menentukan nasib kawan kami di Bukit Tunggul. Kau ingat kan perjanjian Ndoro Pethak dengan guru mu?", Anjani menatap ke arah Nay Kemuning.


"Ingat abdi teh, cuma...", belum sempat Nay Kemuning menyelesaikan omongannya, Klungsur sudah lebih dulu memotong pembicaraan.


"Cukup ngobrol nya..


Lihat pertandingan nya mulai lagi!", Klungsur menunjuk ke tengah arena pertandingan. Ketiga pasang mata itu langsung menuju ke arah pertarungan sengit antara Arya Pethak dan Ewangga yang kini menggunakan pedang.


Thhhrriinnngggggg...


Thriiiinnngggggg!!


Bunyi nyaring denting pedang beradu terdengar. Ewangga terus membabatkan pedang dengan cepat kearah Arya Pethak dengan gerakan ilmu silat pedang yang luwes dan mematikan. Arya Pethak menghadapi nya dengan jurus pedang yang sempat dia pelajari dari Nyi Sawitri dulu sewaktu mereka bertemu pertama kali di Bukit Kahayunan.


Meski tak sehebat Nyi Sawitri alias Dewi Bukit Lanjar, namun gerakan pedang Arya Pethak perlahan mulai menyudutkan Ewangga.

__ADS_1


Murid Istana Atap Langit itu langsung membabatkan pedang nya ke arah punggung Arya Pethak. Namun murid Mpu Prawira itu segera memutar tubuhnya dan menebas pedang Ewangga dari bawah dengan cepat.


Thrrraaannnnggggg!!


Pedang Ewangga terlepas dari tangan dan melesat cepat ke langit. Saat yang bersamaan, Arya Pethak memajukan kaki kanan untuk membuat tumpuan dan memutar tubuhnya cepat sembari melayangkan tendangan melingkar ke arah pinggang Ewangga.


Bhhhuuuuuuggggh..


Ouuuuggghhhh!!!


Ewangga terhuyung huyung mundur sambil memegang pinggang nya yang sakit seperti di hantam balok kayu besar.


Jllleeeeeppppphhh!!


Pedang Ewangga meluncur turun dan menancap di depan pagar pembatas arena pertandingan. Ewangga mendengus keras sambil menata nafas. Dia berniat mengadu ilmu kesaktian dengan Arya Pethak. Mulut murid Perguruan Istana Atap Langit itu langsung komat kamit membaca mantra Ajian Api Langit nya. Seberkas sinar biru kemerahan tercipta di kedua tangan Ewangga.


Melihat lawan menggunakan ajian, Arya Pethak dengan cepat menyarungkan kembali Pedang Setan ke punggungnya dan merapal Ajian Guntur Saketi. Sinar putih kebiruan seperti petir menyambar muncul di tangan kanannya.


Sekali hentakan, kaki Ewangga melompat tinggi ke udara dan meluncur cepat kearah Arya Pethak.


"Ajian Api Langit...


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat!!"


Arya Pethak memantapkan kuda-kuda nya dan menyambut serangan Ewangga dengan Ajian Guntur Saketi.


Blllaaammmmmmmm!!!


Arya Pethak terdorong mundur dua langkah sementara Ewangga terpental ke belakang sejauh 2 tombak. Tangan kanannya seperti gosong akibat benturan keras dengan Ajian Guntur Saketi. Meski Arya Pethak hanya separuh menggunakan tenaga dalam nya, namun akibat yang timbul dari Ajian Guntur Saketi sungguh merusak. Tangan kanan Ewangga gemetar dan sakit luar biasa.


'Bangsat!


Aku tidak boleh kalah! Aku tidak mau kalah!', batin Ewangga.


Dengan cepat Ewangga merogoh kantong baju nya dengan tangan kiri dan mengeluarkan Darah Iblis. Dia dengan cepat menggigit benda itu. Rasa panas menyengat menyebar ke seluruh tubuh Ewangga. Otot dan tenaga berkembang melebihi batas kemampuan nya.


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!


Ewangga menjerit keras. Perlahan tubuh nya mengeluarkan aura merah darah yang menakutkan. Semua orang terkejut melihat perubahan pada diri Ewangga.


"I-itu Darah Iblis. Dia menggunakan Darah Iblis!", teriak Ki Buyut Somala sambil menunjuk ke arah Ewangga yang di kelilingi kabut darah dan aura merah yang mengerikan.


Darah Iblis adalah pusaka golongan hitam yang muncul di pesisir selatan Tatar Pasundan tepatnya di sekitar Pantai Karang Bolong. Konon katanya, Darah Iblis di bawa dari neraka oleh seorang penyihir golongan hitam sebagai tanda dukungan raja neraka untuk golongan hitam. Benda terkutuk itu sempat menjadi incaran para pendekar golongan hitam untuk meningkatkan kekuatan tenaga dalam nya. Namun setelah pertempuran di pantai Karang Bolong dulu, benda terkutuk itu menghilang dari dunia persilatan tanpa tahu kemana rimbanya.


Melihat kemunculan benda itu setelah menghilang hampir sepuluh tahun di murid Istana Atap Langit, semua orang tamu agung langsung menatap ke arah Linggakancana.


"A-aku tidak tahu menahu soal ini. Kalian tidak perlu menuduh ku bersekutu dengan golongan hitam bukan?


Aku pasti akan menghukum Ewangga saat pertandingan ini selesai", ujar Linggakancana dengan cepat.


Arya Pethak sedikit terkejut melihat perubahan Ewangga. Dia tidak menyangka jika Ewangga masih memiliki senjata pamungkas untuk melawannya. Dengan cepat, Arya Pethak merapal Ajian Lembu Sekilan di padukan dengan Ajian Halimun dan Tapak Brajamusti.


Ewangga yang berubah wujud menjadi makhluk mengerikan, nampak menyeringai lebar menatap ke arah Arya Pethak.


"Abdi bade maehan anjeun!", ujar Ewangga sembari menyapukan lidahnya ke bibir.


Sekali hentak, Ewangga melesat cepat bagai terbang ke arah Arya Pethak sambil menghantamkan tangan kanannya. Dengan tenaga dalam yang berlipat ganda, Ajian Api Langit telak menghajar dada Arya Pethak.


Whhhuuuggghhhh...


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan dahsyat terdengar. Asap tebal bercampur debu beterbangan membuat pandangan mata semua orang terganggu. Di tengah arena pertandingan terdengar suara tawa menggema dari mulut Ewangga.


HAHAHAHA HAHAHAHA!!!!


Perlahan asap tebal menghilang. Tawa keras Ewangga langsung terhenti saat melihat Arya Pethak masih berdiri tegak tanpa cidera sama sekali. Pemuda itu tersenyum lebar.


Semua orang yang melihat kejadian itu terkejut bukan main. Mata mereka melotot seakan hendak keluar dari lobang mata mereka masing-masing.


"Mustahil, ini mustahil!!!


Dasar keparat! Mati saja kau!!!", Ewangga kembali melesat cepat kearah Arya Pethak sambil menghantamkan tangan kanannya.


Puluhan sinar biru kemerahan langsung menghujani tubuh Arya Pethak yang bersinar kuning keemasan.


Blllaaammmmmmmm blammmmm..


Bhhuuuuummmmmmhh!!


Kali ini Arya Pethak tidak tinggal diam. Menggunakan Ajian Halimun, tubuh Arya Pethak mendadak lenyap bersama angin dan kabut tipis. Saat Ewangga tidak mendapatkan sasaran nya, mata Ewangga yang merah darah melihat ke sekelilingnya.


Tiba-tiba saja, Arya Pethak muncul di hadapan Ewangga dan dengan cepat menghantamkan tapak tangan kanannya yang berwarna biru terang Ajian Tapak Brajamusti. Ewangga menghantamkan tangan kanannya menyambut kedatangan serangan Arya Pethak dengan Ajian Api Langit nya.


Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!


Ledakan dahsyat terdengar. Gelombang kejut besar membuat semua orang harus cepat berlindung karena debu beterbangan dan angin kencang menderu-deru.


Saat pandangan semua orang kembali ke arena pertandingan, mereka melihat Arya Pethak berdiri tegak sambil menatap ke arah Ewangga yang tersungkur di sudut pagar pembatas. Dari mulut, hidung dan telinga Ewangga keluar darah.


Wasit yang baru saja terlempar karena gelombang kejut besar itu, langsung berlari ke tengah arena pertandingan dan mengangkat bendera merah serta mengangkat tangan kiri Arya Pethak.


"Puncak uji kemampuan beladiri tahun ini, di menangkan oleh Arya Pethak dari Perguruan Gunung Ciremai..

__ADS_1


Sekarang Arya Pethak adalah pendekar muda pendatang baru nomor satu di dunia persilatan Tatar Pasundan", ujar sang wasit yang disambut gemuruh suara penonton dan tepuk tangan yang meriah.


"Ndoro Pethak memang jagoan nomer satu. Aku sebagai abdi setia sekaligus kawan karibnya merasa bangga", ujar Klungsur sembari menyeka air mata yang membasahi pipinya.


"Kau menangis Sur? Cengeng sekali kau", ejek Anjani sambil tersenyum simpul.


"Biarin cengeng tapi Ndoro Pethak menang. Kau sendiri kenapa air mata mu keluar?", Klungsur langsung menunjuk ke arah air mata Anjani yang menetes.


"Kemasukan debu tadi", jawab Anjani singkat sambil terus bertepuk tangan.


"Kau pintar cari alasan", omel Klungsur sambil terus menatap ke arah tengah arena pertandingan. Nay Kemuning hanya bisa geleng-geleng kepala melihat dua kawan Arya Pethak itu beradu mulut.


Usai pertandingan, Arya Pethak berhak atas hadiah berupa 200 kepeng emas dan sebuah batu mulia berwarna hijau. Tanpa basa-basi, Arya Pethak menyerahkan semua hadiah itu pada Ki Buyut Mangun Tapa di depan semua orang dari panggung kehormatan.


Malam itu diadakan jamuan makan di tenda besar Perguruan Gunung Ciremai. Meski hanya Puncak Khayangan, Perguruan Pedang Halilintar, Padepokan Sapta Arga, dan Perguruan Pesisir Selatan yang menghadiri, suasana tetap berlangsung meriah.


Para sesepuh perguruan tinggi itu sadar bahwa kedepannya, nama Perguruan Gunung Ciremai akan menjadi terkenal karena tiga murid nya menjadi sepuluh besar uji kemampuan beladiri kali ini. Suatu prestasi yang sulit untuk di raih oleh perguruan manapun di Tatar Pasundan.


Malam semakin larut, upacara jamuan makan malam telah berakhir. Para tamu telah membubarkan diri dan kembali ke tempat mereka masing-masing. Udara dingin Gunung Pojoktiga semakin membuat suasana menjadi hening dan sepi.


Mentari pagi bersinar cerah di balik mendung di ufuk timur. Burung burung berkicau riang gembira seolah menyiratkan kegembiraan tak terhingga pada setiap hati murid Perguruan Gunung Ciremai yang melangkah turun dari Istana Atap Langit.


Usai berpamitan kepada para sesepuh Istana Atap Langit dan para sesepuh perguruan yang masih ada, mereka bergegas turun dari tempat itu. Arya Pethak, Klungsur dan Anjani seakan tak sabar untuk segera turun dari tempat itu agar bisa pulang ke Bukit Tunggul demi menyelamatkan nyawa Rara Larasati.


Saat memasuki kaki Gunung Pojoktiga, tiba-tiba Ki Buyut Mangun Tapa yang menyertai perjalanan mereka langsung mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat untuk berhenti. Pendekar sepuh yang juga merupakan pemimpin Perguruan Gunung Ciremai itu mendengus dingin. Sejak tadi malam dia sudah memiliki firasat sesuatu akan terjadi.


Aki Kolot langsung mendekati Ki Buyut Mangun Tapa.


"Ada apa Guru? Kenapa berhenti di sini?", tanya Aki Kolot dengan sopan. Ki Buyut Mangun Tapa langsung mendekatkan mulutnya ke telinga Aki Kolot.


"Beritahu para murid,


Ada beberapa cecunguk yang ingin cari mati. Cepat", bisik Ki Buyut Mangun Tapa. Aki Kolot tersentak dan langsung mengangguk mengerti. Dia dengan cepat memberitahu para murid Perguruan Gunung Ciremai untuk bersiap-siap.


Suasana langsung berubah tegang.


Dua ratus depa dari tempat mereka berhenti, sekitar 25 orang mengenakan penutup wajah menghadang langkah kaki mereka.


"Oh rupanya kalian sudah tidak sabar untuk segera berangkat ke neraka ya?


Cepat menyingkir atau aku tidak akan sungkan lagi", hardik Ki Buyut Mangun Tapa sambil mendelik tajam ke orang-orang itu.


Phhuuuiiiiiihhhhh!!


"Kami berani menghadang tentu saja sudah siap dengan segala resikonya. Kami tidak takut pada mu, tua bangka!", teriak seorang lelaki bertubuh gempal yang sepertinya merupakan pemimpin mereka.


Hahahahahahaha....


"Cukup punya nyali juga kau, manusia bau mayat!!


Aku sudah memperingatkan kalian baik-baik, tapi tetap saja kau tak mengindahkan. Jangan salahkan aku bertindak tegas.


Mampus kalian", teriak Ki Buyut Mangun Tapa sambil menghantamkan kedua telapak tangannya ke arah para penghadang. Dua bola sinar merah menyala seperti api menerabas cepat kearah para penghadang.


Whuuussshh whuuussshh!!


Blllaaammmmmmmm blammmmm!!!


Asap tebal tercipta dari ledakan dua bola besar berwarna merah menyala itu saat menghantam tanah. Ki Buyut Mangun Tapa mendengus dingin sembari berkata,


"Kalian cari perkara pada orang yang salah"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bonus chapter yang author janjikan ya😁😁✌️✌️

__ADS_1


Btw, ada daerah nya yang masih hujan? Disini dari pagi hujan terus..


__ADS_2