Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Menuju Ke Kadiri


__ADS_3

Belum sempat Arya Pethak menjawab, Boja Sampil sudah lebih dulu memotong pembicaraan.


"Guru,


Sebaiknya kita bicara di dalam saja. Tempat ini biar di bereskan oleh orang-orang ku dulu. Lagi pula disini ada Gusti Adipati Gajah Panggung. Tidak sopan rasanya", ucap Boja Sampil sembari menghormat pada Dewi Bukit Lanjar.


"Ah aku tidak peduli..


Kau bawa saja Adipati Anjuk Ladang itu masuk ke dalam. Nanti aku menyusul kalian semua dengan Arya Pethak dan Larasati", ujar Nyi Sawitri alias Dewi Bukit Lanjar segera. Boja Sampil yang sudah hafal dengan sifat keras guru nya akhirnya mengalah dan mengajak Adipati Gajah Panggung lebih dulu masuk ke dalam rumah nya. Sementara Nyi Sawitri yang masih penasaran dengan Arya Pethak, menarik Arya Pethak menyingkir ke halaman samping rumah Boja Sampil bersama Rara Larasati.


"Nah sekarang sudah tidak ada orang. Cepat katakan darimana kau belajar Ajian Serat Jiwa itu, Pethak?


Ku lihat kau sudah menguasai sampai tingkat 9", tanya Nyi Sawitri alias Dewi Bukit Lanjar dengan penuh penasaran.


"Waktu pertarungan melawan Kelompok Kelabang Ireng di wilayah Kadipaten Kurawan, aku luka parah Nini Dewi. Waktu itu ada seorang Resi yang menolong ku. Dia bernama Resi Jathayu dari Pertapaan Giri Lawu.


Resi Jathayu lah yang mengajari Ajian Serat Jiwa pada ku Nini", jawab Arya Pethak yang terkenang masa pertarungan nya kemarin dulu.


"Resi Jathayu?


Aku tidak pernah mendengar namanya sebagai kakak seperguruan di Padepokan Padas Putih. Lantas darimana dia bisa menguasai Ajian yang merupakan salah satu ilmu kanuragan andalan Padepokan ku?", Nyi Sawitri mengernyitkan keningnya. Rara Larasati hanya menyimak saja omongan mereka berdua.


"Menurut pengakuannya, ia berasal dari Padepokan Padas Lintang, Nini. Aku tidak tahu darimana dia memperoleh ilmu itu", Arya Pethak memandang wajah sepuh Nyi Sawitri.


"Padepokan Padas Lintang?


Hemmmmmmm...


Aku paham sekarang. Padepokan Padas Lintang merupakan padepokan yang didirikan oleh Pangeran Jayasastra, salah satu keturunan wangsa Isyana dari jaman Prabu Jayabhaya. Padepokan itu adalah tempat pendidikan para keturunan raja Panjalu dan kerabatnya yang tidak mau berguru di Padepokan Padas Putih. Memang Pangeran Jayasastra sendiri pernah berguru pada Mpu Monaguna yang merupakan pemimpin ke 8 Padepokan Padas Putih.


Pasti ilmu Ajian Serat Jiwa di peroleh Padepokan Padas Lintang dari Mpu Monaguna", ujar Dewi Bukit Lanjar sambil tersenyum simpul.


"Nini Dewi,


Sebelumnya aku ingin tanya. Apa tidak ada cara untuk meninggikan tingkat tenaga dalam dengan cepat?


Beberapa hari yang lalu, aku bertarung melawan Begawan Pasopati dari Gunung Wilis. Meskipun aku menang, tapi aku juga luka dalam yang parah sampai pingsan dua hari.


Aku ingin melanjutkan perjalanan ku menjejak dunia persilatan dengan pemahaman ilmu beladiri yang cukup dan tidak perlu takut lagi jika menghadapi tantangan dari orang yang bertenaga dalam lebih tinggi ", Arya Pethak menatap wajah sepuh Nyi Sawitri dengan penuh harap.


"Appaaaaa??


Kau kau mengalahkan Begawan Pasopati? Bocah tengik, kau tidak membual kan?", Nyi Sawitri kaget mendengar ucapan Arya Pethak. Dia menatap wajah tampan Arya Pethak seakan tak percaya.


"Iya Nini.. Hampir semua orang yang melihat sayembara di alun alun Kadipaten Anjuk Ladang melihat nya. Jika sekarang aku bersama dengan Adipati Gajah Panggung, itu berarti aku kenal dekat dengan nya bukan?", Arya Pethak tersenyum simpul.


Hemmmmmmm..


"Kalau di lihat dari kedekatan mu dengan Adipati Anjuk Ladang itu, kau tidak berbohong.


Untuk mencapai tenaga dalam tertinggi, aku punya cara nya. Kau harus bertapa di Gunung Penanggungan untuk mendapatkan batu mustika yang bernama Batu Inti Naga. Menurut guru ku, Batu Inti Naga dapat meningkatkan kekuatan tubuh dan ajian kedigdayaan.


Kalau kau benar-benar ingin meningkatkan kekuatan mu, ikut lah dengan ku ke Padepokan Padas Lintang. Setelah itu kau akan ku antar bertapa di Gua Selomangleng di lereng Gunung Penanggungan", ucap Nyi Sawitri sembari tersenyum tipis.


"Tapi aku harus menyelesaikan tugas dari Gusti Patih Pranaraja lebih dulu Nini.


Setelah mengantar pulang Gusti Putri Sekarwangi dan nawala balasan dari Adipati Lembu Panoleh dari Kadipaten Kurawan, aku akan menyusul Nini Dewi ke Padepokan Padas Putih.


Apakah bisa begitu Nini Dewi?", tanya Arya Pethak penuh harap.


"Harus, kau harus menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawab mu.


Aku akan menunggu mu di Padepokan Padas Putih", jawab Nyi Sawitri alias Dewi Bukit Lanjar sambil tersenyum tipis.


"Terimakasih atas bantuan mu Nini Dewi", ujar Arya Pethak sambil menghormat pada Dewi Bukit Lanjar.


Usai mereka berbincang, mereka bertiga segera masuk ke dalam kediaman keluarga Boja Sampil dimana Adipati Gajah Panggung dan Boja Sampil telah menunggu.


"Gusti Adipati,


Hamba sungguh mohon ampun beribu ampun karena kejadian ini. Hamba benar benar tidak menyangka bahwa akan terjadi upaya untuk membunuh Gusti Adipati Gajah Panggung oleh Kartoyudho.


Sebagai ucapan permohonan maaf hamba, Boja Sampil akan memberikan 4 pedati penuh palawija. Mohon Gusti Adipati menerima nya", ujar Boja Sampil sembari menghormat pada Adipati Gajah Panggung.


"Sudahlah Juragan Boja,


Semuanya memang di luar kendali kita semua. Kartoyudho memang menyimpan dendam pribadi kepada ku. Kau yang tidak tahu menahu tentang ini malah ketiban sial karena mengundang nya.


Untung saja, Pendekar Pedang Setan ini mengulurkan bantuan mengatasi Kartoyudho. Kau harus berterima kasih kepada nya", ucap Adipati Gajah Panggung sambil tersenyum tipis.


"Pendekar muda,


Aku mengucapkan terima kasih atas bantuan mu. Andai saja kau tak membantu, mungkin yang terjadi akan sangat mengerikan ", Boja Sampil membungkukkan badannya pertanda dia hormat kepada Arya Pethak.


"Paman Boja,


Menurut Nini Dewi Bukit Lanjar, kau adalah murid nya. Sedangkan Nini Dewi sendiri adalah saudara seperguruan ayah ku Mpu Prawira. Bisa di bilang kita masih bersaudara.


Karena itu sudah sewajarnya jika kita saling membantu saat saudara kita tertimpa masalah. Mohon Paman Boja jangan terlalu membesar-besarkan pertolongan ku yang tidak seberapa ini", ujar Arya Pethak yang segera disambut senyum oleh Boja Sampil, Dewi Bukit Lanjar, Rara Larasati dan Adipati Gajah Panggung.

__ADS_1


Setelah berbincang beberapa waktu, Adipati Gajah Panggung kembali ke Istana Kadipaten Anjuk Ladang dengan kawalan anak buah Boja Sampil dan Arya Pethak. Simo Bogang dan 2 prajurit yang terluka di rawat oleh Boja Sampil.


Keesokan paginya, Arya Pethak mohon ijin untuk kembali ke Kadiri. Dewi Retno Wulan dan Adipati Gajah Panggung mengantar mereka hingga ke pintu gerbang istana.


"Kakang Pethak,


Aku menunggu mu untuk memenuhi janji mu", ujar Dewi Retno Wulan dengan mata berkaca-kaca saat Arya Pethak dan kawan-kawan nya mulai melompat ke atas kuda mereka masing-masing.


"Aku bukan seseorang yang suka ingkar janji, Gusti Putri. Aku mohon diri", ujar Arya Pethak sambil mengangguk halus. Setelah itu, dengan sekali hentak kuda hitam tunggangan Arya Pethak melesat cepat kearah selatan. Anjani, Klungsur, Sekarwangi dan Paramita mengikuti langkah Arya Pethak dengan menggebrak kuda mereka masing-masing. Debu beterbangan mengiringi langkah kaki kuda mereka membelah jalanan kota Kadipaten Anjuk Ladang.


Setelah melewati tapal batas kota, rombongan Arya Pethak terus memacu kudanya menuju ke selatan. Melewati beberapa Pakuwon di selatan wilayah Kadipaten Anjuk Ladang, rombongan itu menyusuri jalan raya yang menjadi penghubung antar wilayah Kadipaten Anjuk Ladang.


Begitu memasuki kota Pakuwon Berbek, mereka berbelok ke timur menuju dermaga penyeberangan yang menghubungkan wilayah Kadipaten Anjuk Ladang dan Kadiri.


Tepat tengah hari, rombongan Arya Pethak telah sampai di tepi Sungai Brantas. Mereka segera menghentikan kuda mereka di depan sebuah warung makan yang ada di dekat dermaga penyeberangan untuk mengisi perut.


Di warung makan itu, Klungsur langsung memesan ayam bakar separuh, ikan bakar 2 potong, lodeh nangka muda, sambal tomat dan sebakul nasi putih. Tak lupa dia minta irisan mentimun dan kemangi untuk menemani nya makan.


Kawan kawan Arya Pethak terbelalak melihat banyaknya pesanan Klungsur di atas meja.


"Kau doyan apa lapar Sur? Mirip orang kesurupan setan begitu pesan makanan", ucap Anjani yang hanya memesan sepiring nasi putih dan ikan bakar.


"Aku lapar Anjani.. Tadi di kadipaten Anjuk Ladang terburu-buru berangkat jadi cuma makan sedikit.


Ndoro Pethak sudah tak kasih isyarat di Pakuwon Berbek tadi eh masih juga terus menggebrak si hitam. Makanya aku mau puas-puas makan sekarang", jawab Klungsur sembari meraih ikan lele bakar nya yang masih mengeluarkan uap panas. Dengan sekali gigit, pemuda bogel itu langsung mengunyah daging lele bakar yang masih panas. Meski sedikit kepanasan, Klungsur yang kelaparan memaksakan kehendak untuk makan siang.


"Pelan pelan Sur,


Kita hampir sampai kog", ujar Arya Pethak yang melihat Klungsur makan terburu-buru.


"Ndoro Pethak tenang saja,


Aah aku sudah biasa kog", Klungsur meniup sebentar ikan bakar nya dan dengan cepat menyuapkan nya ke mulut.


Meski geleng geleng melihat ulah Klungsur, Arya Pethak hanya tersenyum simpul saja. Mereka berlima menikmati hidangan itu dengan penuh kegembiraan.


Dari arah pintu warung, 4 orang lelaki masuk. Satu diantaranya berpakaian mewah layaknya seorang bangsawan atau orang kaya. Sepertinya mereka adalah seorang anak muda kaya dengan 3 pengawal pribadi nya.


Pandangan pemuda berpakaian bagus itu menyapu sekeliling ruangan tempat makan itu. Begitu melihat Sekarwangi dan Paramita yang jelita, senyum lebar terkembang di bibir sang pemuda. Dia segera melangkah menuju ke arah meja tempat Arya Pethak dan kawan-kawan nya bersantap.


"Nisanak,


Bolehkah aku ikut bergabung dengan kalian disini?", tanya si lelaki muda itu sembari tersenyum manis.


Anjani, Paramita dan Sekarwangi langsung saling berpandangan mendengar ucapan si lelaki tadi. Sekarwangi yang merasa tidak senang langsung angkat bicara.


"Kau ini siapa?


"Cantik cantik kenapa galak sekali??


Aku Raden Sindupati, putra Akuwu Berbek yang di tugaskan untuk memeriksa keadaan wilayah Pakuwon Berbek. Semua orang di sini kenal dengan ku. Kalau sampai tidak mengetahui aku, akan ku hajar sampai mampus.


Apa kau orang luar Pakuwon Berbek?", senyum si lelaki berpakaian bagus yang mengaku bernama Raden Sindupati itu terkembang lebar.


Si pelayan warung makan yang melihat Sindupati mengganggu para pelanggan warung makan nya langsung mendekati putra bangsawan itu.


"Maaf Raden,


Mohon ampun sebelumnya. Hamba mohon agar Gusti Sindupati tidak menggangu kenyamanan para pelanggan hamba. Silahkan Raden Sindupati pilih menu makanan yang kami sediakan. Tidak perlu membayar", ujar si pelayan warung makan itu dengan ketakutan. Sindupati selain terkenal suka mengganggu, dia juga tidak segan segan untuk menghajar orang hanya karena urusan sepele.


"Dasar lancang!


Kau berani menasehati Raden Sindupati. Apa nyawa mu lipat sepuluh ha? Ingin kau aku hajar?", teriak seorang pengawal pribadi Raden Sindupati yang berperawakan tinggi besar dengan wajah menyeramkan sambil melotot ke arah si pelayan warung makan. Kumisnya yang tebal bergerak-gerak menakuti orang.


"Kebo Taruna,


Sudahlah jangan menakuti orang lagi. Nisanak cantik ini akan takut mendengar ucapan mu.


Pelayan warung makan,


Kau sudah bosan berdagang di tempat ini ya? Berani sekali kau menceramahi ku dengan menawarkan makanan sampah mu kepada ku. Minggir sana, ini bukan urusan mu!", hardik Sindupati yang langsung membuat nyali si pelayan warung makan itu menciut seketika. Dia langsung menjauh dari sebelah meja Arya Pethak dan kawan-kawan nya.


"Nah nisanak...


Kalau boleh tau, siapa namamu? Wanita secantik dirimu pasti punya nama yang indah bukan?", Sindupati mengalihkan pandangannya pada Sekarwangi.


"Aku tidak butuh berkenalan dengan mu. Pergi kau dari sini sekarang!", usir Sekarwangi yang berdiri dari tempat duduknya sembari menunjuk ke arah pintu warung makan.


"Dasar tidak tahu diri!


Ku tampar mulut mu perempuan sundal", pengawal pribadi Raden Sindupati yang bernama Kebo Taruna mengayunkan tangan kanannya hendak menampar pipi Sekarwangi. Belum sempat dia sampai, Klungsur yang paling dekat dengan Kebo Taruna dengan cepat menyambar kursi kayu di meja makan sebelahnya dan mengepruk kepala Kebo Taruna.


Brrruuuaaaaakkkkh!!!


Kebo Taruna menjerit keras. Kepala pria bertubuh besar itu langsung mengucurkan darah segar akibat terkena hantaman kursi kayu dari Klungsur.


Raden Sindupati langsung mundur beberapa langkah ke belakang dan menatap tajam ke arah Arya Pethak dan kawan-kawan nya.


"Kalian kurang ajar!

__ADS_1


Berani sekali melukai orang ku.


Gubar, Sempana!!!


Hajar mereka. Biar tahu siapa Raden Sindupati sebenarnya", teriak Raden Sindupati yang membuat dua orang pengawal pribadi nya langsung melesat cepat kearah Arya Pethak dan Klungsur yang langsung berdiri dari tempat duduknya.


Melihat keributan itu, para pengunjung warung makan lainnya langsung berhamburan keluar dari tempat itu karena tidak ingin terlibat dalam pertikaian antara mereka.


Arya Pethak dengan cepat melemparkan piring makan siang nya yang berisi tulang ayam bakar ke arah salah seorang pengawal pribadi Raden Sindupati yang melesat cepat kearah nya.


Lemparan piring yang di lambari tenaga dalam itu langsung menghantam kepala sang pengawal pribadi.


Brrruuuaaaaakkkkh!!


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Si pengawal pribadi itu langsung terjungkal dan menabrak meja makan di belakangnya. Dia meraung kesakitan namun dengan cepat berdiri sembari memegangi kepalanya yang benjol sebesar telur ayam kampung.


"Bangsat!


Ku bunuh kau!", teriak si pengawal pribadi Raden Sindupati dengan wajah merah padam karena malu. Baru kali ini dia di jatuhkan dengan lemparan piring bekas makan.


Dengan cepat ia mencabut golok di pinggangnya dan melompat ke arah Arya Pethak sambil membabatkan goloknya ke arah kepala lawan.


Whuuthhh...


Dengan tenang, Arya Pethak menghindari sabetan golok pengawal pribadi Raden Sindupati dan segera melayangkan hantaman keras kearah perut lawannya.


Bhuuukkkhhh..


Aaauuuuggggghhhhh!!


Si pengawal pribadi langsung terpelanting ke lantai warung makan. Dia muntah darah segar.


Di sisi lain, seorang pengawal pribadi Raden Sindupati menyerang Klungsur. Satu sabetan golok nya di hindari Klungsur dengan gaya sok jago nya.


Whuuussshh..


Berulang kali tebasan golok si pengawal pribadi itu selalu di hindari Klungsur hingga membuat si pengawal naik pitam dan ngos-ngosan mengatur nafasnya.


"Ayo sini maju, centeng bego!


Biar tak kepruk kepala mu sekarang", ujar Klungsur sembari menggerakkan telunjuk nya menantang sang pengawal pribadi Raden Sindupati.


Dengan cepat, si pengawal yang marah melompat tinggi dan membacokkan golok nya ke arah Klungsur. Pemuda bogel itu segera menghindar dari bacokan lawan dan dengan cepat menyambar kursi kayu tempat duduknya tadi. Kemudian sekuat tenaga dia menghantam kepala lawan dengan kursi kayu nya.


Brraaakkkk!!!


Si lawan langsung terjungkal ke lantai warung makan dan tak bergerak lagi. Rupanya dia pingsan. Klungsur dengan pongah melempar kursi kayu yang tinggal separuh ke sudut ruangan. Dia menepuk-nepuk kedua telapak tangan nya.


"Huh cuma kroco sok jagoan", gerutu Klungsur sembari mendekati Arya Pethak. Dia segera menunjuk ke arah Raden Sindupati yang masih kaget melihat anak buah nya di kalahkan.


"Ndoro Pethak,


Selanjutnya kita hajar dia!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Siapkan kopi, malam ini kita begadang lagi hehehe..

__ADS_1


Yang mau berteman dengan author bisa follow IG author : ebez 2812


__ADS_2