
Sepanjang sore hingga senja suasana berkabung masih terasa di Perguruan Pedang Perak. Kobaran api penyucian jiwa memang telah padam, menyisakan abu jenazah Lembu Anengah. Beberapa murid Perguruan Pedang Perak mulai mengumpulkan abu jenazah Lembu Anengah saat senja mulai menjelang di tempat itu.
Di balai kediaman utama Perguruan Pedang Perak, Rara Pujawati masih bersimpuh di di depan abu jenazah Lembu Anengah yang sudah di masukkan ke dalam bokor kuningan. Para anggota Perguruan Pedang Perak berkumpul mengelilingi bokor kuningan sambil mengucapkan doa doa kepada Sang Hyang Widhi Wasa di pimpin oleh seorang pandita tua yang di datangkan dari desa yang berdekatan dengan Perguruan Pedang Perak.
Asap putih mengepul dari kemenyan yang di bakar memenuhi tempat itu.
Malam semakin larut. Di depan kediaman Lembu Anengah, beberapa orang anak murid Perguruan Pedang Perak masih berkerumun.
"Kakang Wironegoro,
Langkah apa yang selanjutnya kita lakukan? Kematian guru membuat masa depan perguruan ini tidak jelas. Terlebih lagi, Mahesa Bicak masih hidup. Terus terang aku takut jika suatu saat dia kembali untuk menuntut balas.
Tanpa adanya guru, kekuatan perguruan kita sangatlah lemah", ujar seorang lelaki muda bertubuh gempal dengan kumis tipis nya.
"Benar ucapan Wratsangka, Kakang Wironegoro.
Jika tidak ada yang berilmu sebanding dengan Mahesa Bicak, keberadaan Perguruan Pedang Perak tinggal menghitung hari. Aku tidak mau mati konyol di sini karena berpegangan pada semangat bodoh", ujar seorang lelaki bertubuh kurus dengan mata lebar dan rambut yang nyaris botak.
"Kakang Wironegoro harus cepat mengambil keputusan. Sebagai murid kedua guru, kami akan patuh pada perintah Kakang Wironegoro", timpal Wratsangka sambil menatap ke arah Wironegoro, salah satu dari 4 murid generasi pertama dari Perguruan Pedang Perak.
Wironegoro mendengus dingin. Omongan mereka semua ada benarnya. Tanpa adanya pemimpin yang kuat, Perguruan Pedang Perak tidak akan mampu bertahan jika mendapat serangan dari perguruan lainnya. Pemuda berbadan tegap itu mengelus dagunya perlahan.
"Aku mengerti keresahan di hati kalian.. Dalam sebulan ke depan, Perguruan Gunung Hijau tidak mungkin menyerbu kemari karena luka Mahesa Bicak cukup parah.
Setelah 3 hari kematian guru, akan ku bicarakan masalah ini dengan Kakang Jalak Biru, Adhi Kayuwangi dan Adhi Tunggul Wulung. Juga dengan Nimas Rara Pujawati selaku pewaris sah dari Guru", ujar Wironegoro segera. Wratsangka nampak puas dengan penjelasan Wironegoro, namun lelaki bertubuh kurus itu nampak masih tidak terima.
Malam segera berganti pagi. Suasana dingin yang menyelimuti seluruh kawasan Perguruan Pedang Perak berangsur menghilang, berganti hangat sinar matahari pagi yang nampak mulai menampakkan diri di langit timur.
Pagi itu terjadi kegaduhan di dalam Perguruan Pedang Perak. Si lelaki kurus berkepala nyaris botak menghasut beberapa kawannya. Setidaknya 30 murid Perguruan Pedang Perak memilih mengikuti langkah si lelaki bertubuh kurus yang bernama Alap-alap Kumitir itu.
Jalak Biru segera menemui Wironegoro yang dikenal dekat dengan Alap-alap Kumitir di kediaman nya. Bersama Kayuwangi dan Tunggul Wulung, dia mendatangi rumah Wironegoro. Kedatangan mereka langsung di sambut Wironegoro di serambi kediaman nya. Mereka segera duduk bersila di lantai serambi.
"Wironegoro,
Kami butuh penjelasan mu. Bagaimana bisa Alap-alap Kumitir memilih untuk menyingkir dari tempat ini? Apa yang sebenarnya terjadi?", tanya Jalak Biru sambil menatap ke arah Wironegoro.
"Kumitir sudah berbicara ku semalam Kakang Jalak Biru. Dia khawatir dengan masa depan nya jika terus bersama dengan Perguruan Pedang Perak dengan ketiadaan guru..
Ini juga yang di rasakan oleh semua murid Perguruan Pedang Perak ini Kakang", jawab Wironegoro sembari menghela nafas berat.
"Tapi seharusnya kau bisa mencegah kepergiannya, Wironegoro..
Api pembakaran masih belum hilang panasnya, mereka malah seenaknya sendiri main pergi saja", ujar Jalak Biru dengan geram. Kayuwangi dan Tunggul Wulung hanya terdiam mencermati perkembangan yang terjadi.
"Aku bukannya diam saja Kakang Jalak Biru. Aku sudah berusaha mencegah terjadinya hal ini. Tapi kita juga tidak bisa memaksa Alap-alap Kumitir dan kawan-kawan nya untuk bertahan disini.
Keadaan kita juga seperti ini. Masa depan Perguruan Pedang Perak sudah tidak ada lagi", Wironegoro kesal dengan omongan Jalak Biru.
"Apa kau bilang?
Jaga mulutmu Wironegoro. Sampai kapan pun Perguruan Pedang Perak akan tetap berdiri", Jalak Biru langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Aku hanya bicara kenyataan Kakang. Dengan tidak adanya guru, siapa yang pantas menjadi pemimpin kita? Kau? Kepandaian ilmu mu tidak lebih baik dari ku", Wironegoro ikut berdiri tegak dengan penuh kesiapan. Dia tersinggung dengan omongan Jalak Biru.
"Kurang ajar!
Mulut mu pantas mendapat pelajaran Wironegoro", usai berkata demikian Jalak Biru langsung melesat ke arah Wironegoro, namun pemuda itu lebih dulu melompat keluar ke halaman rumah. Jalak Biru segera memburu nya.
Begitu sampai di halaman rumah, Jalak Biru segera melayangkan hantaman ke arah Wironegoro. Pemuda itu segera berkelit menghindari sembari melakukan gerakan berputar. Satu tendangan keras kaki kanan di layangkan pada Jalak Biru.
Whhhuuuggghhhh..
Dengan sigap Jalak Biru menghindari tendangan keras Wironegoro dengan bersalto menjauh. Murid tertua Perguruan Pedang Perak itu langsung mencabut pedang yang tersarung di punggungnya. Kemudian melesat cepat kearah Wironegoro sembari membabatkan pedang nya.
Shreeeeettttthhh...
Wironegoro pun tak mau kalah. Segera dia mencabut sebilah pedang di pinggangnya. Kemudian menangkis sabetan pedang Jalak Biru dengan cepat.
Thhraaaangggggggg!!
Mereka terus bertarung dengan sengit. Masing-masing mengandalkan kecepatan dari jurus pedang yang mereka pelajari. Meski tenaga dalam mereka berimbang, tapi pengalaman bertarung Jalak Biru jauh diatas Wironegoro yang jarang turun gunung.
Kayuwangi dan Tunggul Wulung yang melesat menyusul mereka pun tidak berani melerai karena ilmu beladiri mereka jauh di bawah Jalak Biru dan Wironegoro. Keributan antara Jalak Biru dengan Wironegoro memancing perhatian para murid Perguruan Pedang Perak yang lain.
__ADS_1
Wironegoro mendengus keras sambil melompat mundur beberapa tombak ke belakang. Rupanya dia ingin mengerahkan seluruh tenaga dalam nya untuk mengakhiri pertarungan.
Pedang di tangan kanannya dialiri tenaga dalam tingkat tinggi hingga berwarna putih keperakan. Itu adalah Ilmu Pedang Perak Membelah Rembulan yang diajarkan oleh Lembu Anengah. Meski belum sempurna hingga tingkat ke 6, tapi ilmu pedang itu cukup merepotkan.
Melihat itu, Jalak Biru pun segera merapal Ilmu Pedang Perak Membelah Rembulan tingkat 7 yang di kuasainya. Cahaya putih keperakan dari pedang nya lebih menyilaukan mata di banding milik Wironegoro.
Jalak Biru segera melesat ke arah Wironegoro begitu pula dengan adik seperguruan nya itu. Jalak Biru segera membabatkan pedang nya ke Wironegoro.
Shhhrreeeetttthhhh..!!
Saat itu, sebuah bayangan putih dengan cepat muncul di tengah pertarungan. Baik Wironegoro maupun Jalak Biru sudah tidak bisa menarik pedang mereka yang membabat tubuh bayangan putih dengan sekuat tenaga.
Thrrriiinnnggggg..
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan dahsyat terdengar. Jalak Biru dan Wironegoro yang masih ternganga melihat kedatangan orang itu semakin terkejut karena pedang mereka seperti menghantam batang logam keras.
Belum hilang rasa keterkejutan mereka, Wironegoro dan Jalak Biru sama sekali tidak bisa menghindar saat dada mereka berdua di hantam tapak tangan si bayangan putih.
Blllaaaaaarrr!!!
Jalak Biru dan Wironegoro terlempar jauh ke arah yang berlawanan. Tubuh mereka berdua menghantam tanah dengan keras.
Huuuuooogggghhh!!
Jalak Biru muntah darah kehitaman. Begitu juga dengan Wironegoro. Untung saja si bayangan putih yang tak lain adalah Arya Pethak hanya menggunakan separuh tenaga dalam nya hingga luka dalam yang mereka derita tidak terlalu parah.
Kayuwangi segera melesat ke arah Jalak Biru sedangkan Tunggul Wulung ke arah Wironegoro. Mereka berdua membantu kakak seperguruan mereka untuk berdiri.
"Apa kalian masih ingin melanjutkan pertarungan? Apa seperti ini cara kalian menghormati guru kalian yang telah mati?", Arya Pethak mengedarkan pandangannya pada Jalak Biru dan Wironegoro.
Dengan tertatih-tatih, Jalak Biru mendekati Arya Pethak di bantu oleh Kayuwangi. Begitu juga dengan Wironegoro yang mendekat dengan bantuan Tunggul Wulung.
"Maafkan aku, Pendekar Pedang Setan..
Aku terpancing emosi sesaat. Seharusnya aku lebih bijak sebagai kakak seperguruan tertua di perguruan ini", ujar Jalak Biru sembari menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
"Aku juga begitu, Pendekar Muda.
"Sudahlah, karena kalian sudah menyadari kesalahan masing-masing, ini tidak perlu di perpanjang.
Duduklah, aku akan membantu mengobati luka dalam kalian", mendengar ucapan Arya Pethak, Jalak Biru dan Wironegoro segera duduk bersila di tanah. Arya Pethak lebih dulu menyalurkan tenaga dalam nya untuk Jalak Biru. Wajah murid pertama Perguruan Pedang Perak yang semula pucat berangsur pulih seperti sedia kala. Meski pernafasan nya masih sedikit sesak, namun sudah jauh lebih lega di banding tadi.
Usai Jalak Biru, Arya Pethak segera mengobati Wironegoro. Setelah beres, Arya Pethak segera berdiri.
"Kalian ikuti aku ke serambi utama. Ada yang perlu aku bicarakan dengan kalian berempat", ajak Arya Pethak sambil melangkah menuju ke arah serambi kediaman pimpinan Perguruan Pedang Perak. Jalak Biru, Wironegoro, Kayuwangi dan Tunggul Wulung saling berpandangan sejenak mendengar ucapan Arya Pethak. Meski otak mereka penuh dengan pertanyaan, mereka memilih untuk mengikuti langkah Arya Pethak.
Di serambi kediaman pimpinan, Rara Pujawati telah menunggu kedatangan mereka bersama Sekarwangi dan Paramita juga Klungsur.
Begitu mereka telah duduk bersila di lantai serambi, Arya Pethak segera membuka percakapan.
"Aku ingin kalian mendengar apa yang ku katakan. Jangan menyela omongan ku sebelum aku selesai.
Ada sebuah ilmu rahasia yang tersimpan di dalam Pedang Perak dan Pedang Setan. Aku yakin selama ini, Lembu Anengah pun tidak mengetahui hal ini. Dengan ini aku meminta ijin kalian selaku ahli waris Lembu Anengah untuk mematahkan bilah Pedang Perak", mendengar ucapan itu, seluruh orang yang ada di tempat itu terkejut bukan main. Jalak Biru segera mengangkat tangan kanannya untuk meminta ijin bertanya. Arya Pethak mengangguk perlahan.
"Maaf Pendekar,
Kalau boleh tau bagaimana cara pendekar mematahkan bilah Pedang Perak? Sebagaimana diketahui bahwa Pedang Perak adalah pedang terkeras yang ada di dunia persilatan", tanya Jalak Biru segera.
"Akan ku hantamkan dengan Pedang Setan. Bilah kedua pedang akan patah. Itu sudah di isyaratkan oleh pembuat nya.
Ilmu yang ada di dalam Pedang Perak akan menjadi hak Perguruan Pedang Perak, sedangkan yang di dalam Pedang Setan akan menjadi milik ku.
Aku yakin dengan ilmu rahasia itu, padepokan sekelas Padepokan Gunung Hijau pun bukan menjadi masalah jika kalian menguasainya", Arya Pethak mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Meski Kayuwangi dan Tunggul Wulung keberatan, tapi mereka tidak berani untuk bicara karena gabungan kekuatan mereka pun tidak akan sanggup mengalahkan Arya Pethak.
Setelah semua setuju, Arya Pethak segera menghunus Pedang Perak yang dia pegang di tangan kirinya. Kemudian dia mencabut Pedang Setan dari sarungnya.
Semua orang mengamati jarak dari Arya Pethak.
Dengan sepenuh tenaga, Arya Pethak membabatkan Pedang Setan pada Pedang Perak.
Thhraaaangggggggg trakkk thaakkkk!!
__ADS_1
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan keras terdengar. Asap mengepul menandai patahnya Pedang Perak dan Pedang Setan. Usai asap mereda, Rara Pujawati, Sekarwangi dan Paramita langsung mendekati Arya Pethak. Pun begitu juga dengan Jalak Biru, Wironegoro, Kayuwangi dan Tunggul Wulung.
Dari tengah patahan bilah pedang, muncul dua lontar yang bersinar terang. Dari bilah Pedang Perak bersinar kemerahan sedang dari Pedang Setan bersinar biru terang.
Arya Pethak segera meraih kedua lontar yang terbuat dari lempengan kuningan. Pada bagian atas tertera tulisan "Ajian Surya Pamungkas". Arya Pethak segera mendekati Rara Pujawati dan kawan-kawan nya.
"Siapa yang akan mempelajari ilmu ini?", tanya Arya Pethak sambil menatap ke arah Rara Pujawati, Jalak Biru, Wironegoro, Kayuwangi dan Tunggul Wulung bergantian.
"Sebagai putri guru, aku rasa Nimas Rara Pujawati lebih berhak atas ilmu itu, Pendekar muda", ujar Wironegoro segera.
"Tidak Kakang Wironegoro.
Kita semua berhak mempelajari ilmu itu bersama-sama. Aku ingin kita berlima menopang Perguruan Pedang Perak ini ke depannya", ucap Rara Pujawati sambil tersenyum simpul. Mendengar penuturan itu, keempat murid Perguruan Pedang Perak mengangguk mengerti.
Arya Pethak kemudian mengulurkan lempeng lontar kuningan itu pada Rara Pujawati. Dia puas mendengar jawaban dari Rara Pujawati yang ikut memikirkan masa depan Perguruan Pedang Perak selepas kemangkatan ayahnya.
"Pelajari lah dengan baik. Nasib perguruan ini bergantung pada kalian ke depannya.
Untuk Pedang Perak, kalian bisa menyambung kembali pedang itu dengan bantuan pandai besi. Jadikan Pedang Perak sebagai lambang persatuan di antara kalian berlima", nasehat Arya Pethak sambil tersenyum simpul.
"Kami mengerti Pendekar Muda..
Selanjutnya nama Perguruan Pedang Perak akan kembali harum di dunia persilatan Tanah Jawadwipa", ujar Jalak Biru mewakili ketiga saudara seperguruan nya dan juga Rara Pujawati.
Usai mendengar jawaban itu, Arya Pethak segera melangkah ke arah patahan Pedang Setan yang berserakan di lantai serambi kediaman utama Perguruan Pedang Perak. Dengan cepat ia mengumpulkan kepingan besi hitam yang merupakan bagian dari Pedang Setan.
Klungsur yang membawakan keranjang bambu langsung mendekati Arya Pethak sambil bertanya,
"Ndoro Pethak,
Memang ilmu apa yang Ndoro Pethak dapat dari dalam Pedang Setan?", Klungsur rupanya sangat penasaran. Arya Pethak tidak menjawab pertanyaan Klungsur, namun membuka telapak tangan kiri nya yang menggenggam erat lempeng lontar kuningan dari Pedang Setan. Di larik huruf disana tertera sebuah tulisan.
"Ajian Guntur Saketi"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih atas doa dan dukungannya kakak semuanya 🙏🙏
__ADS_1
Alhamdulillah meski belum sepenuhnya sembuh, tapi author sudah bisa pelan-pelan kembali menulis. Mohon doanya semoga segera pulih agar bisa update setiap hari seperti di novel author yang lama 🙏🙏