Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Rahasia Jati Diri Nay Kemuning


__ADS_3

Dua orang yang naas terlambat menghindar dari bola merah menyala berhawa panas yang dilemparkan Ki Buyut Mangun Tapa. Tubuh mereka hancur menjadi potongan daging dan genangan darah.


Salah satu orang yang berhasil lolos, mendarat sejauh 4 tombak dari depan rombongan murid Perguruan Gunung Ciremai. Dia menatap tajam ke arah Ki Buyut Mangun Tapa. Sebentar kemudian puluhan orang itu satu persatu mulai berkumpul lagi di sekitar orang itu.


"Sekalipun kau memakai penutup wajah, aku tahu kalau itu adalah kau Gandamayit..


Bau busuk mu yang mirip bangkai tikus itu tidak akan pernah bisa kau sembunyikan dari ku hahahahahahaha", Ki Buyut Mangun Tapa tertawa terpingkal-pingkal sambil menunjuk ke arah orang yang berdiri di depan nya.


Mendengar ucapan Ki Buyut Mangun Tapa, Resi Gandamayit alias Sang Panampa dari Perguruan Pulau Nusa Kambangan langsung melepas kain penutup wajah nya dan melemparkannya ke tanah dengan kasar. Begitu juga dengan para penghadang yang lain. Jelas sudah bahwa mereka adalah orang-orang Rajawali Sakti dan Perguruan Pulau Nusa Kambangan.


Melihat mereka, para murid Perguruan Gunung Ciremai langsung mencabut senjata mereka masing-masing. Klungsur langsung menggenggam gagang Gada Galih Asem nya, begitu juga Anjani yang segera meraba gagang Pisau Dewa Kematian yang tersimpan rapi di pinggangnya.


"Mangun Tapa,


Hari ini aku akan membuat perhitungan dengan mu. Dendam lama akan ku hitung dengan dendam baru. Bersiaplah untuk mati..


Elang Lolong, Elang Botak..


Kalian urusi para murid Perguruan Gunung Ciremai. Tua bangka keparat ini akan aku atasi", teriak Resi Gandamayit sambil melesat cepat kearah Ki Buyut Mangun Tapa.


Mendengar perintah Resi Gandamayit, Elang Lolong dan Elang Botak langsung melesat cepat kearah Arya Pethak dan kawan-kawan nya diikuti oleh para murid Padepokan Rajawali Sakti dan Orang-orang Pulau Nusa Kambangan.


Pertarungan sengit segera terjadi di tempat itu.


Ki Buyut Mangun Tapa langsung menghantamkan kedua telapak tangan nya ke arah Resi Gandamayit. Dua pusaran angin dingin menderu kencang kearah Sang Panampa.


Whuuussshh whuuussshh!!


Melihat itu, Resi Gandamayit langsung menjejak tanah dengan keras hingga tubuhnya melenting tinggi ke udara menghindari serangan Ki Buyut Mangun Tapa. Masih di udara, Resi Gandamayit mengibaskan tangan kanannya ke arah Ki Buyut Mangun Tapa.


Whuuuggghh!!!


Selarik sinar kuning kehitaman melesat cepat kearah Ki Buyut Mangun Tapa. Pemimpin tertinggi Perguruan Gunung Ciremai itu langsung mundur selangkah, menguatkan kuda-kuda nya lalu tangan kiri nya lurus berputar cepat di depan dada. Sebuah perisai terbentuk sinar hijau kebiruan menghadang laju sinar kuning kehitaman yang menuju ke arah nya. Itu adalah Ajian Perisai Angin.


Blllaaammmmmmmm!


Satu tangan kanan Ki Buyut Mangun Tapa di tarik ke belakang, kemudian sebentuk sinar memanjang seperti tombak berwarna hijau terang tercipta di tangan Ki Buyut Mangun Tapa. Dengan cepat Ki Buyut Mangun Tapa melemparkan tombak sinar hijau terang itu kearah Resi Gandamayit.


Whhhuuuggghhhh!!!


Tombak sinar hijau terang meluncur cepat kearah Resi Gandamayit yang baru saja turun menjejak tanah. Sesepuh Pulau Nusa Kambangan itu langsung bersalto ke belakang dengan cepat untuk menghindar serangan Ki Buyut Mangun Tapa.


Dhuuaaaaaaarrrrrr!!


Tanah bergetar hebat saat tombak sinar hijau terang menghantam tanah bekas pijakan Resi Gandamayit. Lobang sebesar lembu tercipta bersamaan dengan debu yang beterbangan.


'Tua bangka ini semakin hebat. Tapi aku tidak akan mundur sejengkal pun', batin Resi Gandamayit sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.


Asap hitam legam bercampur bau busuk menyengat dan anyir darah manusia keluar dari tubuh Resi Gandamayit. Dia berniat mengeluarkan ilmu pamungkas nya.


Di sisi lain, Arya Pethak dengan cepat melancarkan serangan cepat nya ke arah Elang Lolong. Pria bermata satu itu mulai kerepotan dengan serangan Arya Pethak.


Melihat Arya Pethak membuat saudara nya keteteran, Elang Botak segera melepaskan serangan cakar nya kearah Aki Kolot yang menghadapi nya.


Shrraaaakkkkhhhh!!


Lima larik cahaya hitam kemerahan menerabas cepat kearah Aki Kolot. Dengan cepat Aki Kolot melompat mundur beberapa tombak ke belakang menghindari serangan Elang Botak.


Blllaaaaaarrr!!


Usai Aki Kolot mundur, Elang Botak langsung melompat tinggi ke udara dan mengayunkan cakar tangan kanan dan kiri nya yang berwarna hitam ke arah Arya Pethak yang memburu Elang Lolong yang baru menerima hantaman Ajian Guntur Saketi.


Chrrraaaaaaakkk crakkk!!!


Ekor mata Arya Pethak langsung melirik ke arah samping kanan nya saat merasakan angin dingin berdesir kencang kearah nya.


'Bajingan tengik!


Mau membokong ku saat saudaranya terdesak. Tidak semudah itu', batin Arya Pethak sambil memutar telapak tangan kanannya kemudian menghantamkannya ke arah sinar hitam kemerahan tanpa merubah arah geraknya. Sinar biru terang Ajian Tapak Brajamusti melesat cepat menyongsong Ilmu Cakar Rajawali Membelah Bumi dari Elang Botak.


Blllaaammmmmmmm!!!!!


Elang Botak terpelanting jauh ke belakang akibat benturan tenaga dalam tingkat tinggi itu. Arya Pethak yang tangan kiri nya bersinar putih kebiruan seperti petir menggunakan tahap kedua Ajian Guntur Saketi yaitu Guntur Pedang yang menciptakan cahaya pipih seperti bilah pedang. Satu hentakan keras, telapak tangan kiri Arya Pethak menembus perut Elang Lolong seperti pedang menusuk daging.


Jllleeeeeppppphhh!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Elang Lolong menjerit keras saat tangan kiri Arya Pethak menghujam perutnya hingga tembus pinggang. Salah satu murid Resi Barmawijaya itu roboh dengan perut bolong tembus pinggang. Dia tewas bersimbah darah.


Melihat saudara seperguruan nya tewas, Elang Botak berniat untuk kabur. Lelaki berkepala botak itu melesat ke arah semak belukar.

__ADS_1


Belum genap lima langkah, satu jarum sebesar lidi berwarna hijau kehitaman melesat cepat kearah tengkuk Elang Lolong.


Shrrriinnnggg...


Crreepppphhh!!!


Elang Botak langsung terjungkal ke dalam semak belukar. Setelah ada gerakan sebentar di dalam semak belukar, selanjutnya tenang. Elang Botak tewas dengan mulut berbusa putih, terbunuh oleh Jarum Penghancur Sukma milik Anjani.


Klungsur yang baru mengepruk kepala seorang murid Padepokan Rajawali Sakti, mengacungkan jempol nya pada Anjani.


"Kau hebat, perempuan racun!", Klungsur langsung berlari saat Anjani melotot ke arah nya.


"Apa kau bilang? Coba ulangi kalau berani. Dasar bogel keparat!!", maki Anjani dengan keras.


Resi Gandamayit mendengung keras melihat kematian Elang Lolong dan Elang Botak. Dia segera menurunkan kedua tangan nya. Asap hitam tebal berbau busuk dan matanya yang berubah warna menjadi merah darah membuat penampilan Resi Gandamayit begitu mengerikan.


Hemmmmmmm..


"Ajian Jalma Mayat,


Kau mau menakut-nakuti bocah kemarin sore ya Gandamayit? Hahahaha..


Guru mu saja mampus di tangan ku saat menggunakan ilmu terkutuk itu. Akan aku antar kau menemui guru mu sekarang", teriak Ki Buyut Mangun Tapa yang melesat cepat kearah Resi Gandamayit yang juga berlari cepat kearah nya.


Tubuh Ki Buyut Mangun Tapa di liputi angin dingin dan kabut tebal karena Ajian Raga Bayu. Ajian tingkat tinggi ini membuat pemilik nya tidak bisa mati meski berwujud, karena seluruh bagian tubuh nya berubah menjadi angin. Dewi Puncak Khayangan saja tidak sanggup mengalahkan Ki Buyut Mangun Tapa karena Ajian yang satu ini. Konon katanya, ilmu ini langsung di berikan oleh Dewa Bayu sang penguasa angin dan cuaca sebagai anugerah kepada Ki Buyut Mangun Tapa setelah bertapa keras di puncak Gunung Ciremai selama 1 dasawarsa.


Resi Gandamayit langsung menghantam dada Ki Buyut Mangun Tapa. Namun pukulan nya menembus raga itu seperti menembus angin. Mata merah Resi Gandamayit melotot lebar melihat itu.


Kembali Resi Gandamayit mencoba untuk menyerang kepala Ki Buyut Mangun Tapa dengan hantaman tangan kiri, namun dia tetap saja tidak mampu menyentuh tubuh Sang pemimpin Perguruan Gunung Ciremai.


Ki Buyut Mangun Tapa menyeringai lebar. Dengan cepat ia mencekal kedua lengan tangan Resi Gandamayit. Meski sekuat tenaga Resi Gandamayit berusaha untuk melepaskan diri, namun usahanya sia sia belaka. Semakin meronta, semakin erat cekalan tangan Ki Buyut Mangun Tapa.


"Lepaskan aku, tua bangka!


Lepaskan aku!", teriak Resi Gandamayit sambil terus berupaya keras untuk melepaskan diri.


"Sudah cukup kau menebar keangkaramurkaan di muka bumi ini, Gandamayit..


Kau sudah membunuh ratusan orang untuk menyempurnakan ajian terkutuk ini. Sekarang waktunya kau menyusul guru mu ke neraka", usai berkata demikian, Ki Buyut Mangun Tapa menghembuskan napas dingin ke hidung Resi Gandamayit.


Udara dingin dengan cepat merasuki tubuh Sang Panampa dari Perguruan Pulau Nusa Kambangan. Satu persatu bagian tubuh Resi Gandamayit membeku karena hawa dingin dari Ki Buyut Mangun Tapa. Setelah tubuh Resi Gandamayit membeku seluruh nya, Ki Buyut Mangun Tapa melepaskan cekalan tangan nya.


"Waktunya bagi mu untuk mati", ujar Ki Buyut Mangun Tapa sambil menghantam dada Resi Gandamayit.


Blllaaammmmmmmm!!!


"Ilmu yang mengerikan", gumam Arya Pethak sambil menatap ke arah Ki Buyut Mangun Tapa yang mengibaskan baju nya yang terkena serpihan tubuh Resi Gandamayit.


Melihat mati nya Resi Gandamayit, sisa anggota Padepokan Rajawali Sakti dan Orang-orang Pulau Nusa Kambangan langsung kabur menyelamatkan diri. Setidaknya 20 orang terbunuh termasuk Resi Gandamayit, Elang Lolong dan Elang Botak.


"Tak usah dikejar. Mereka tidak akan berani untuk macam macam lagi", perintah Ki Buyut Mangun Tapa begitu melihat para murid Perguruan Gunung Ciremai berniat untuk melakukan pengejaran.


Dengan di temani Ki Buyut Mangun Tapa, rombongan murid Perguruan Gunung Ciremai melanjutkan perjalanan ke arah Kawadoan Lingga yang merupakan salah satu kota besar di wilayah Mandala Saunggalah.


Setelah di arahkan ke rumah Aki Kolot, para murid Perguruan Gunung Ciremai berkumpul di serambi kediaman Aki Kolot.


"Guru Resi,


Sebagaimana janji kita tempo hari, aku ingin Guru memberikan Air Mata Suci Bidadari kepada ku. Setelah dari sini, aku akan segera ke Kembang Kuning untuk menyelamatkan nyawa Rara Larasati", ujar Arya Pethak sambil menghormat pada Ki Buyut Mangun Tapa yang duduk bersila di hadapan nya.


Haeeehhhhh...


"Aku tidak akan ingkar janji, budak tengik. Ini terimalah", Ki Buyut Mangun Tapa merogoh balik bajunya dan mengeluarkan sebuah botol keramik kecil yang ditutup oleh sumbat kayu randu.


"Terimakasih banyak Resi Guru. Jika suatu saat nanti aku ada kesempatan, pasti akan menemui guru lagi", ujar Arya Pethak sambil menerima uluran tangan dari Ki Buyut Mangun Tapa. Dia segera menyimpan benda itu ke balik bajunya.


"Menemui aku lagi? Ada niat licik apa lagi kau?


Ohh aku tahu. Pasti kau ingin aku menurunkan Ajian Raga Bayu ku kan? Bocah licik, kau jangan terlalu bermimpi", Ki Buyut Mangun Tapa melempar wajah nya ke arah lain.


"Guru paling mengerti aku hehehehe...", Arya Pethak terkekeh kecil mendengar gerutu Ki Buyut Mangun Tapa.


"Hari ini juga kami ingin berpamitan pada...", belum selesai Arya Pethak bicara, Aki Kolot langsung memotong pembicaraan nya.


"Tidak boleh ada yang pergi sebelum kita melakukan jamuan perpisahan.


Arya Pethak, ijinkan aku memberikan ucapan terimakasih pada mu atas usaha mu mengharumkan nama Perguruan Gunung Ciremai. Aku dulu tidak sanggup melakukan nya. Sudah selayaknya kau sebagai adik seperguruan ku, menerima permintaan ini", ujar Aki Kolot dengan penuh harap.


Mendengar ucapan itu, Arya Pethak terpaksa mengiyakan ucapan Aki Kolot.


Malam itu diadakan jamuan makan malam yang cukup mewah. Aki Kolot menyembelih ayam dan domba untuk syukuran keberhasilan Arya Pethak. Semua orang makan sepuasnya hingga larut malam.

__ADS_1


Ki Buyut Mangun Tapa yang duduk bersila di lantai serambi kediaman Aki Kolot langsung membuka mata saat mendengar suara langkah kaki mendekat.


"Ada apa kau kemari Nay Kemuning? Bukankah mereka masih asyik makan? Sudah kenyang kau?", tanya Ki Buyut Mangun Tapa sambil menatap ke arah Nay Kemuning yang langsung bersujud di hadapan nya.


"Guru, murid punya permintaan mohon guru mengabulkan", ujar Nay Kemuning yang bersujud di depan Ki Buyut Mangun Tapa.


"Apa yang kau minta? Jangan bertele-tele begitu", Ki Buyut Mangun Tapa menatap ke arah Nay Kemuning.


"Nay ingin ikut Kakang Pethak bertualang ke tanah Jawa guru. Mohon guru mengijinkan Nay", ucap Nay Kemuning sambil terus bersujud.


"Haishhh sudah ku duga kau akan melakukan nya.


Bangunlah, jangan mengotori dahi mu. Sebelum aku menjawab mu, panggil budak tengik itu kesini", perintah Ki Buyut Mangun Tapa yang membuat Nay Kemuning langsung bergegas ke arah halaman rumah Aki Kolot dimana semua orang berpesta makan daging kambing guling.


Tak berapa lama kemudian, Nay Kemuning kembali bersama Arya Pethak, Klungsur dan Anjani. Mereka segera duduk bersila dengan rapi di depan Ki Buyut Mangun Tapa.


"Sebelum nya aku ingin memberitahukan sebuah rahasia untukmu Nay..


Sewaktu aku membawamu ke Perguruan Gunung Ciremai, kau adalah seorang yatim piatu karena ayah ibu mu di bunuh oleh sekumpulan pembunuh. Ayahmu adalah seorang pangeran Manggala Galuh Pakuan, yang bernama Pangeran Ranawijaya yang menikah dengan putri dari negeri timur, tepatnya wilayah Kadipaten Wengker yang bernama Dewi Windradi.


Mereka di bunuh oleh orang orang utusan paman tiri mu yang ingin hak tahta Kadipaten Wengker jatuh padanya.


Kau jangan khawatir, orang orang yang membunuh ayah ibu mu sudah mati di tangan ku sewaktu aku menyelamatkan mu. Tapi dalangnya masih hidup dan kini berkuasa di Kadipaten Wengker dengan nama Adipati Warok Singo Ludro.


Kalau kau ingin bertualang ke tanah Jawa, aku minta datanglah ke Wengker. Aku dengar kakek mu masih hidup, dan menjadi pertapa di pesisir pantai selatan. Ini barang bukti bahwa kau adalah anak Dewi Windradi", Ki Buyut Mangun Tapa mengulurkan sebuah selendang biru bersulam gambar seekor burung merak dari benang emas.


Betapa terkejutnya semua orang mendengar kata kata Ki Buyut Mangun Tapa yang mengungkap rahasia jati diri Nay Kemuning. Air mata Nay Kemuning langsung menetes membasahi pipinya saat menerima selendang biru. Semua ingatan tentang ibu bapaknya terbayang di benak Nay Kemuning.


"Ini berarti Guru mengijinkan aku untuk ikut serta ke Tanah Jawadwipa?", Nay Kemuning berusaha meyakinkan diri bahwa guru nya tidak keberatan. Ki Buyut Mangun Tapa mengangguk mendengar penuturan Nay Kemuning. Air mata haru langsung menetes dari sudut mata Nay Kemuning.


"Terimakasih banyak Guru, semua budi baik guru akan Nay Kemuning ingat seumur hidup", Nay Kemuning kembali bersujud di kaki Ki Buyut Mangun Tapa.


"Sudah cukup, jangan bersikap seperti kau mau berperang saja..


Dan kau budak tengik,


Aku titipkan Nay Kemuning pada mu. Kalau kau tidak menjaganya dengan baik, kau tahu sendiri bukan kalau aku hanya perlu berkedip untuk sampai di depan mu dan menghajar mu sampai mampus. Ingat itu!", ujar Ki Buyut Mangun Tapa yang membuat Arya Pethak langsung menghormat pada gurunya.


"Aku ingat Guru", jawab Arya Pethak segera.


"Haehh aku benci perpisahan..


Aku tidak akan mengantar kalian, jaga baik-baik keselamatan diri kalian. Ingat ini", tiba-tiba angin dingin berdesir lembut bersama kabut putih tipis yang membuat Ki Buyut Mangun Tapa menghilang dari pandangan. Pimpinan Perguruan Gunung Ciremai itu telah pergi.


Pagi menjelang tiba di kawasan kediaman Aki Kolot di Kawadoan Lingga. Pagi itu Arya Pethak yang sudah mempersiapkan diri sejak kemarin, langsung melompat ke atas kuda nya. Dengan diiringi tatapan sendu Limbur Wisesa, Mayangsari dan para murid Perguruan Gunung Ciremai, rombongan Arya Pethak yang kini bertambah dengan ikutnya Nay Kemuning, menggebrak kuda mereka kearah Utara.


Dari atas pohon beringin besar, Ki Buyut Mangun Tapa menatap kepergian mereka berempat dengan penuh rasa sedih.


"Aku akan merindukan kalian".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Nitip pesan nih author, yang suka dengan Arya Pethak dan kawan-kawan nya, kasih dukungannya ya? Terimakasih banyak sebelumnya.🙏🙏✌️✌️


__ADS_2