
Dari balik kegelapan malam muncul sesosok kakek tua yang berjalan pincang ke arah sosok makhluk hitam itu. Wajah nya pucat bagai mayat hidup dengan mata sebelah yang tak terbuka sempurna. Baju putih lusuh yang dia kenakan mirip dengan pakaian seorang pertapa tua, namun kepalanya yang botak dengan sedikit rambut putih di sekeliling ubun ubun nya yang licin semakin menambahkan citra bahwa dia bukan orang baik baik.
"Sebaiknya Gusti jangan terlalu yakin dengan omongan orang itu..
Kelihatannya dia juga mengambil keuntungan dari rencana Gusti untuk membangkitkan Ratu Bulan Darah pada bulan purnama besok malam", ujar si kakek tua bertubuh kurus itu sembari membungkukkan badannya.
"Apa kau sedang mengajariku, Ajar Pamutih?!!!", si sosok makhluk hitam tinggi besar itu mendelik tajam ke arah kakek tua itu. Mata yang merah menyala itu benar benar menakutkan.
"Hamba tidak berani hamba tidak berani", si kakek tua pincang bertubuh kurus itu langsung berlutut di depan si sosok makhluk hitam tinggi besar itu dengan penuh ketakutan.
"Hemmmmmmm...
Kalaupun dia berani mengambil keuntungan dari rencana ku membangkitkan Nyi Ratu Bulan Darah, itu tidak masalah. Karena saat Nyi Ratu Bulan Darah bangkit dari tempat dia di segel Mpu Barada, maka semua hal yang ada di dunia ini akan musnah dalam sekejap hahahaha...
Dan kau Ajar Pamutih,
Sebaiknya persiapkan semuanya dengan cepat karena bulan purnama tinggal dua hari lagi. Kalau sampai bulan purnama besok kita gagal membangkitkan Nyi Ratu Bulan Darah, maka Nyi Ratu Bulan Darah baru bisa di bangkitkan seratus tahun lagi", ujar si sosok makhluk hitam tinggi besar itu sambil mengibaskan tangannya.
"Hamba siap melaksanakan tugas dari Gusti", ucap kakek tua pincang bertubuh kurus yang bernama Ki Ajar Pamutih itu dengan cepat.
Pagi menjelang tiba di lereng Gunung Penanggungan. Suara riuh ayam jantan berkokok bersahutan dengan suara burung burung yang berkicau di ranting pepohonan.
Pagi itu, Arya Pethak terbangun dari tidurnya. Pemuda tampan ini segera bangkit setelah menggeliat beberapa kali.
Klungsur tampak masih tertidur pulas dengan memeluk bantal. Pemuda bogel itu semalam tidur di lantai penginapan dengan alas tikar pandan karena tidak berani tidur satu ranjang dengan Arya Pethak.
Sambil mengucek matanya, Arya Pethak membangunkan Klungsur yang ngiler.
"Sur... Cepat bangun, sudah pagi", ujar Arya Pethak sambil menarik kain selimut Klungsur.
Namun sayangnya pemuda bogel itu sama sekali tidak terpengaruh dengan ajakan Arya Pethak. Dengan kesal, Arya Pethak segera mengambil air kendi dan mengguyur Klungsur.
"Haaauuupppphhh...
Banjir, tolong aku terseret arus banjir!", teriak Klungsur yang segera bangun dari tidurnya. Mata Klungsur segera jelalatan kesana kemari. Saat melihat Arya Pethak membekap mulutnya menahan tawa, juga kendi air minum di tangan nya, Klungsur langsung sadar.
"Ndoro Pethak menyiram ku?", Klungsur menatap wajah Arya Pethak segera.
"Salah mu sendiri, tidur seperti orang mati. Makanya kalau di bangunkan itu cepat bangun", Arya Pethak berdiri sembari meletakkan kendi air minum di atas meja kecil di sudut kamar.
"Aduh Biyung Ndoro...
Kenapa kau kejam sekali? Padahal aku masih asyik bermimpi indah dengan para wanita cantik. Ahhh Ndoro Pethak mengacaukan mimpi indah ku", gerutu Klungsur yang segera berdiri sambil mengusap sisa air yang membasahi wajahnya.
Sambil terus mengusap wajahnya, Klungsur segera berlari menyusul Arya Pethak yang sudah melangkah keluar dari kamar tidur. Usai membersihkan diri, dua orang itu berjalan jalan di sekitar penginapan Ki Murdoyo untuk melepaskan kebosanan sembari menghirup udara pagi yang segar.
Arya Pethak dan Klungsur berjalan menuju ke arah pasar yang berada tak jauh dari tempat penginapan mereka. Kedua nya menuju ke arah seorang perempuan paruh pedagang makanan yang terbuat dari pati ketela.
"Silahkan Ndoro,
Ini makanan kesukaan saya sewaktu di Kadiri. Namanya cenil. Lumayan buat mengganjal perut sebelum sarapan Ki Murdoyo matang", ujar Klungsur dengan gaya sok nya.
"Memang kau punya duit? Pakai menawarkan makanan pada ku lagi", tanya Arya Pethak segera.
"Lah Ndoro Pethak pakai tanya lagi. Ya jelas to Ndoro..
Gak punya", jawab Klungsur lirih takut di dengar oleh perempuan paruh baya penjual cenil itu.
"Huuuhhh...
Dasar kau ini. Ya sudah pesan sana. Jangan banyak banyak", perintah Arya Pethak sambil tersenyum tipis.
Klungsur segera memesan jajan basah yang dialasi daun jati itu segera. Dia minta 2 porsi banyak. Perempuan paruh baya itu segera membuatkan pesanan Klungsur dengan cekatan. Tak mahal, cukup dengan 4 kepeng perunggu dua porsi cenil di terima Klungsur. Klungsur segera mengulurkannya satu pincuk daun jati cenil pada Arya Pethak.
Mereka berdua jalan jalan ke seputar pasar sembari menikmati cenil yang mereka beli.
Sepasang mata menatap tajam ke Arya Pethak dan Klungsur. Sang pemilik mata itu segera menoleh ke arah seorang lelaki bertubuh gempal di sampingnya.
"Itu orangnya, Kakang Brojo..
Dia yang menantang Gusti Mahesa Danu tadi malam", tunjuk si lelaki bertubuh sedang yang semalam menemani Mahesa Danu di penginapan Ki Murdoyo.
"Hemmm seperti nya mereka tidak begitu hebat. Kita cegat mereka di luar pasar, kita beri pelajaran mereka. Gusti Mahesa Danu pasti memberikan hadiah besar untuk kita", ujar Brojo seraya mengepalkan tangannya.
Si lelaki bertubuh sedang itu mengangguk mengerti. Mereka berdua segera bergegas menuju ke pintu keluar pasar.
Begitu Arya Pethak dan Klungsur keluar dari pintu pasar, dua orang itu menghadang mereka.
"Kalian berdua, serahkan uang kalian sebagai pajak melewati daerah kekuasaan ku. Cepat!", hardik Brojo sambil mengulurkan tangannya ke arah Arya Pethak dan Klungsur.
"Sejak kapan ada pajak jalan? Tadi kami lewat tidak ada apa apa ", Arya Pethak menatap tajam ke arah dua orang di depannya itu.
"Tadi tidak ada tapi sekarang ada. Cepat serahkan duit kalian. Kalau tidak kalian kami hajar sampai babak belur baru tahu rasa", sahut si lelaki bertubuh sedang dengan cepat.
"Ohh rupanya kalian cari gara gara dengan kami.
Ndoro Pethak, 2 kroco ini biar aku kasih pelajaran biar belajar menghargai orang ", ucap Klungsur yang membuat Arya Pethak mengangguk mengerti.
"Berani sekali kau rupanya. Jangan salahkan aku atas nasib sial mu", teriak Brojo yang segera melesat ke arah Klungsur dengan melayangkan hantaman tangan kanan nya. Klungsur sama sekali tidak menghindar. Dia ingin mencoba kemampuan Jimat Lulang Kebo Landoh pemberian Arya Pethak.
Bhuuukkkhhh!
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
__ADS_1
Brojo menjerit keras saat pukulan keras nya menghantam Klungsur. Tangan kanannya seperti menghantam batu besar.
"Segitu kemampuan mu? Ah seperti di hinggapi lalat.
Sekarang giliran ku memukul", ujar Klungsur sembari melayangkan pukulan kearah wajah Brojo.
Bhhhaaaakkkk..
Auuuggghhhhh!!!
Brojo yang berbadan besar langsung terhuyung huyung menerima pukulan Klungsur. Dengan cepat Klungsur kembali melayangkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi kearah Brojo
Plakkk bhhuuggghh dhiesshhhhhhh..
Aughh aarrrggghhhhhhhhh!!
Tak berapa lama kemudian Brojo sudah babak belur di pukuli Klungsur. Melihat Brojo kalah, si pria bertubuh sedang itu langsung kabur menyelamatkan diri.
"Ampuni aku pendekar. Ampun aku kapok tidak akan memeras orang lagi", pinta Brojo yang berlutut di hadapan Klungsur.
Bhhhuuuuuuggggh!!!
Brojo langsung terjungkal ke tanah. Wajah nya bengkak dan dua benjolan sebesar telur ayam menghiasi kepalanya.
Phuihhhh
"Kalau sampai aku melihat wajah mu yang menjijikkan itu lagi, akan ku buat kau lebih menderita", ancam Klungsur yang segera membuat Brojo berjalan tertatih menjauhi tempat itu.
"Hehehehe, bagaimana Ndoro Pethak? Aku cukup hebat kan?", tanya Klungsur sambil menggaruk kepalanya.
"Lumayan, kau cukup bisa diandalkan", jawab Arya Pethak sambil tersenyum tipis dan berjalan menuju ke arah penginapan Ki Murdoyo. Klungsur mengekor di belakang.
Sesampainya di rumah makan penginapan Ki Murdoyo, suasana telah ramai. Para tamu yang rata rata adalah pendekar tengah menikmati sarapan pagi mereka. Anjani melambaikan tangannya ke arah Arya Pethak dan Klungsur dari meja makan yang sudah diisi oleh Nyi Sawitri dan Rara Larasati.
"Darimana kalian pagi pagi begini, bocah bagus?", tanya Nyi Sawitri begitu Arya Pethak dan Klungsur duduk.
"Dari pasar Nini Dewi.. Ya pengen jalan-jalan saja sambil menikmati suasana di kota Pakuwon Bandar ini", jawab Arya Pethak sambil tersenyum tipis.
"Hemmmmmmm..
Aku dengar dari obrolan para tamu penginapan ini, mereka nanti malam akan bergerak ke Pertapaan Gunung Penanggungan karena di kabarkan bahwa makhluk pembawa batu pusaka itu muncul setiap malam bulan purnama", ujar Nyi Sawitri alias Dewi Bukit Lanjar dengan perlahan namun masih di dengar jelas oleh Arya Pethak.
"Lantas menurut Nini Dewi kita harus bagaimana?
Apa kita akan ikut dalam perburuan Batu Inti Naga ini?", Arya Pethak menanti jawaban Nyi Sawitri. Pun juga Anjani, Rara Larasati dan Klungsur.
"Apa salahnya jika kita ikut? Tapi sebaiknya kita mengamati situasi baru bertindak.
Aku takut ini hanya jebakan untuk mendapatkan sesuatu", Nyi Sawitri menghela nafas berat. Arya Pethak, Anjani, Klungsur dan Rara Larasati mengangguk mengerti.
Siang segera berganti malam.
Selepas senja menghilang di telan kegelapan malam, puluhan orang pendekar dari golongan hitam maupun putih bergerak cepat menuju ke Pertapaan Gunung Penanggungan. Meski jalan yang menanjak tak menyurutkan niat mereka untuk mencapai lereng Gunung Penanggungan secepat mungkin.
Diantara mereka, rombongan Arya Pethak bergerak paling belakang. Tak kurang 50 orang yang berlomba untuk sampai di Pertapaan Gunung Penanggungan. Sinar bulan purnama sangat membantu langkah mereka menembus malam yang dingin.
Begitu sampai di Pertapaan Gunung Penanggungan, suasana mencekam terasa di lubuk hati masing masing pendekar maupun pemburu harta karun yang datang. Mereka segera menghunus senjata masing-masing. Salah seorang diantara mereka adalah seorang tokoh golongan putih yang cukup disegani, Pendekar Tombak Suci.
Perlahan, setapak demi setapak mereka mendekati pelataran Pertapaan Gunung Penanggungan yang banyak di tumbuhi rumput liar dan semak belukar.
Tiba tiba saja lolongan serigala malam terdengar bersahutan seperti menandakan ada sesuatu yang ganjil di tempat itu.
Aaaauuuuuuuuuuuww..
Auuuuwwhhh...
Semua orang menggenggam erat gagang senjata masing-masing sambil terus mendekati pelataran Pertapaan Gunung Penanggungan.
Krreeeeekkkkkk kreeekkk!!
Terdengar suara langkah kaki yang seperti nya menginjak ranting kering. Semua orang waspada terhadap segala sesuatu yang mungkin terjadi.
Tanpa di duga, satu bayangan hitam berkelebat cepat kearah para pendekar yang mengepung tempat itu. Gerakan tubuhnya sungguh cepat hingga seorang lelaki naas yang berada paling depan hanya bisa menjerit saat tubuhnya di robek kuku bayangan hitam itu.
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Lelaki naas itu roboh dengan bersimbah darah. Sekejap berikut nya, jeritan yang sama kembali terdengar. Bayangan hitam itu terus membantai para pendekar dan pemburu harta karun yang datang ke tempat itu dengan buas. Satu persatu mereka mulai berjatuhan tanpa sempat membela diri. Dari sekitar 50 pendekar, hanya tersisa sembilan orang saja.
Bau anyir darah segera memenuhi tempat itu.
Si bayangan hitam berkelebat cepat kearah Pendekar Tombak Suci. Saat cakar nya terayun cepat kearah lelaki bertubuh kekar itu, Pendekar Tombak Suci dengan cepat menahannya dengan gagang tombaknya.
Bhhhuuuuuuggggh!!
Lalu dia segera melayangkan tendangan keras kearah perut si bayangan hitam. Namun sayangnya, si bayangan hitam lebih dulu menghindar dari pada menerima serangan kemudian melompat menjauh dari Pendekar Tombak Suci.
"Kalian berlima,
Apa masih menunggu untuk bergerak? Kalau makhluk hitam itu berhasil membunuh ku, giliran kalian tidak akan lama lagi", ujar Pendekar Tombak Suci sembari melirik ke arah samping kanan nya.
Dari rimbun semak belukar, 5 orang yang tidak lain adalah rombongan Arya Pethak segera mendekati Pendekar Tombak Suci.
Saat yang bersamaan di samping bayangan hitam, muncul Ki Ajar Pamutih dan satu lagi bayangan hitam.
__ADS_1
"Kita harus cepat, masa titik balik bulan purnama akan segera tiba", ujar mahluk hitam tinggi besar itu segera. Tiga orang itu segera mengangguk dan berpencar. Ki Ajar Pamutih mengumpulkan mayat mayat para pendekar dan menumpuk nya di sekeliling sebuah arca Dewa Siwa di tengah halaman Pertapaan sementara dua bayangan hitam itu segera melesat cepat kearah kelompok Arya Pethak.
Dengan ganas dua bayangan hitam itu menyerang ke arah kelompok Arya Pethak. Nyi Sawitri, Pendekar Tombak Suci dan Arya Pethak segera menghadang mereka dengan senjata mereka masing-masing.
Sedangkan Anjani, Rara Larasati, Klungsur dan ketiga kawan Pendekar Tombak Suci membentuk lingkaran untuk mempertahankan diri.
Si makhluk hitam tinggi besar langsung mengayunkan cakar nya kearah Arya Pethak. Dengan cepat Arya Pethak mengayunkan Pedang Setan nya menyambut serangan itu.
Thrrriiinnnggggg!!
'Hem cakar besi rupanya', batin Arya Pethak sambil mengayunkan tapak tangan kiri nya yang sudah di lapisi Ajian Tapak Brajamusti kearah perut mahkluk hitam itu.
Whhhuuuggghhhh!!
Makhluk hitam tinggi besar itu berkelit ke samping hingga sinar biru terang Ajian Tapak Brajamusti menghantam tanah di belakangnya.
Blllaaammmmmmmm!!
Meski lolos, namun sambaran angin panas nan tajam Ajian Tapak Brajamusti masih merobek kulit makhluk hitam tinggi besar itu. Rupanya kulit berbulu itu hanya penutup tubuh si makhluk hitam. Luka berdarah yang di deritanya terlihat oleh mata Arya Pethak yang menggunakan Ajian Mata Dewa.
Mereka berdua segera melompat mundur beberapa tombak.
"Jadi rupanya kau manusia yang menyamar memakai kulit binatang ya?
Dasar makhluk keji", ujar Arya Pethak sambil menatap tajam ke arah makhluk hitam tinggi besar itu.
"Hahahaha..
Mata mu tajam juga melihat ku, pendekar tengik! Namun ini akan menjadi yang terakhir kau melihat bulan", jawab makhluk hitam itu yang segera bersiap untuk bergerak lagi. Namun teriakan Ki Ajar Pamutih membuat si makhluk hitam tinggi besar itu berhenti.
"Gusti Kalayaksa,
Korban nya sudah 41 orang. Sudah cukup untuk memulai pembangkitan Nyi Ratu. Orang itu biar aku yang urus.
Cepatlah, titik balik bulan purnama sudah hampir tiba", teriak Ki Ajar Pamutih dengan lantang.
Makhluk hitam tinggi besar yang di panggil Kalayaksa itu langsung menyeringai lebar. Dia segera melesat cepat kearah arca Dewa Siwa di tengah halaman Pertapaan Gunung Penanggungan yang sudah di tumpuki mayat mayat yang bersimbah darah.
Arya Pethak melesat cepat bermaksud untuk menghentikan langkah Kalayaksa, namun Ki Ajar Pamutih langsung mengayunkan tongkatnya menghadang pergerakan Arya Pethak.
Whhhuuuusssssshhhhhh!!
Arya Pethak urungkan niatnya saat selarik sinar hijau kehitaman melabrak ke arahnya. Pemuda tampan itu langsung melompat mundur menghindari serangan Ki Ajar Pamutih.
Sementara itu, Kalayaksa merapal mantra pembuka segel pengunci Nyi Ratu Bulan Darah di depan arca Dewa Siwa.
"Oh kematian yang abadi. Oh sang penguasa dunia bawah. Oh ratu dari segala penguasa kehidupan.
Bangkitlah dan tundukkan manusia dengan kuasa mu!", teriak Kalayaksa mengakhiri mantra pembuka segel.
Seketika petir menyambar ke arah arca Dewa Siwa yang langsung meledak hancur berkeping keping. Kemudian sinar merah darah berbentuk lingkaran tercipta dari retakan tanah yang mengelilingi arca Dewa Siwa. Sinar merah darah langsung membumbung tinggi ke langit dan menutupi bulan purnama yang selanjutnya terlihat berwarna merah darah.
Dari kaki arca yang hancur muncul sesosok wanita berkulit merah darah dengan mata tertutup. Kalayaksa segera bersujud kepada perempuan itu.
"Sembah sujud hamba untuk sang penguasa sejati.
Nyi Ratu Bulan Darah".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Alhamdulillah akhirnya bisa up juga.
Sekali kali ya up 2 chapter sehari hehehehe
__ADS_1
Selamat membaca 😁🙏😁